"Terima kasih, Ino," balas Gaara seraya tersenyum tipis ke arah Ino.

Perlahan Gaara menyingkirkan tangannya dari pipi Ino. Namun, pemuda itu tidak sedikit pun mengambil jarak. Gaara malah makin mendekat dan langsung menarik Ino ke dalam pelukannya. Pemuda bertato 'Ai' itu mendekap Sang Gadis dengan sangat erat. Bukan karena ia merasa bahagia, tetapi karena pemuda itu ingin meluapkan perasaan bersalah setelah melakukan kebohongan besar terhadap Ino.

Andai saja lamaran itu berasal dari lubuk hati Gaara yang paling dalam, seharusnya malam ini ia menjadi laki-laki paling bahagia karena lamarannya baru saja diterima oleh gadis secantik Ino. Sayangnya semua omongan manis yang keluar dari mulut pemuda itu adalah kebohongan. Jadi, tidak ada sedikit pun perasaan bahagia di hati Gaara.

Sekarang pemuda itu tidak se-dingin dahulu. Setelah mengenal Naruto, ia bisa sedikit lebih bijaksana dan apa yang telah ia lalui sampai sekarang menjadi pelajaran baginya sehingga ia bisa tumbuh menjadi laki-laki yang berperasaan –bukan lagi monster yang penuh kebencian. Karena itulah saat ini Gaara merasa sangat bersalah sampai ia tidak mau melihat wajah Ino. Tenang, itu bukan karena Ino jelek! Akan tetapi, setiap kali Gaara melihat wajah Ino yang merona hebat, pemuda itu akan semakin merasa bersalah. Pasti gadis itu merasa dicintai olehnya, padahal... tidak ada cinta sama sekali di hati Gaara.

Semua murni karena Gaara ingin menyelamatkan Hakuto dan juga hidup Ino. Hanya dengan itu Gaara bisa membebaskan dua gadis tak bersalah dari ketamakan para tetua.

Setelah cinta pertamanya gagal, Gaara tidak berniat untuk menjalin hubungan lagi, apalagi hubungan yang sangat serius seperti pernikahan. Masih terlalu cepat bagi Gaara untuk memilih gadis lain dan melupakan Hakuto. Hatinya terlanjur jatuh kepada Hakuto, jadi bukan perkara mudah untuk menyingkirkan gadis itu dari pikirannya. Gadis dari clan Houki itu memiliki pesona tersendiri yang mampu memikat hati Sang Kazekage. Fisik dan kecantikannya, tutur kata dan sikapnya... semua tampak sesuai dan sempurna di mata Gaara.

"Aku berhutang padamu," batin Gaara.

Pelukan Gaara belum terlepas, bahkan masih se-erat tadi sampai Ino terkejut dan sedikit kesulitan bernapas karena sesak. Akan tetapi, gadis itu tidak menolak sama sekali. Ia malah membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya di punggung tegap Gaara.

"Aku mungkin tidak se-sempurna dirimu ataupun gadis lain yang pernah kau kenal, tapi aku harap... aku bisa menjadi alasanmu bahagia, Kazekage-sama," ucap Ino pelan.

Seolah tahu apa yang dipikirkan Gaara, Ino mengatakan kalimat yang membuat rasa bersalahnya semakin besar. Selain cantik, gadis Yamanaka itu juga baik. Pantas saja Shikamaru betah menjalin persahabatan dengan gadis itu. Setiap kali Shikamaru berkunjung di desanya, pemuda berambut nanas itu selalu meluangkan waktunya untuk mengobrol santai di luar urusan politik. Tanpa Gaara sadari, selama ini Shikamaru selalu memuji Ino. Hanya pujian sederhana, jadi wajar jika Gaara tidak menyadari itu.

'Desa kami perlahan bisa pulih, begitu juga denganku. Kedua sahabatku selalu ada...' ucap Shikamaru waktu itu.

Setelah selesai dengan urusan rapat dua negara, Gaara mengajak Shikamaru untuk minum di gedung kage. Itu adalah bentuk penyambutan khusus dari Gaara untuk Shikamaru yang diam-diam disukai oleh Temari. Saat itu Gaara menyinggung tentang keadaan desa Konoha setelah perang usai sekaligus ucapan belasungkawanya atas kematian Shikaku Nara. Sahabat yang dimaksud oleh Shikamaru adalah Chouji dan Ino. Pemuda yang selalu mengatakan jargon andalannya, yaitu mendokusai, tidak pernah sedikit pun merasa bosan setiap kali membicarakan kedua sahabatnya yang berharga itu.

'... Itulah alasannya mengapa aku bisa terlihat tegar selepas kepergian ayahku. Khususnya Ino. Gadis itu benar-benar melaksanakan pesan terakhir dari guru kami untuk menjagaku dan Chouji. Gadis itu selalu menyempatkan waktunya untuk mengajak pergi ke Yakiniku-Q dan menghibur kami dengan senyumnya...'

Shikamaru kira Ino baik-baik saja, padahal tidak demikian. Pemuda berambut nanas itu tidak tahu jika Ino sama terpuruknya. Gadis itu belum bisa menerima kepergian ayahnya, bahkan sering kali ia mengalihkan pembicaraannya dengan sengaja ketika orang lain menyinggung tragedi waktu perang kala itu.

'... Meskipun merepotkan, aku sangat bersyukur bisa mengenal Ino.'

Itulah akhir dari obrolan Gaara dan Shikamaru waktu itu.

"Ugh, K-Kazekage-s-sama," panggil Ino sambil bergerak gelisah di pelukan Gaara.

Rupanya pelukan Gaara semakin erat. Ino tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi untuk diam dan pasrah saat Gaara mendekapnya dengan sangat erat. Lama-lama ia kesulitan bernapas. Gaara langsung melepaskan pelukannya itu. Ia sedikit mengambil jarak sebelum ia menatap Ino lagi. Samar-sama Gaara melihat pipi gadis itu masih saja merona. Gaara hanya diam sambil menatap wajah Ino dari samping sebab gadis itu sedang mengalihkan pandangannya.

"Setelah kita menemui ibumu, aku ingin membicarakan tanggal pernikahan kita. Kau tidak keberatan, 'kan, jika pernikahan ini dipercepat?" tanya Gaara langsung to the point kepada Ino.

Mendengar itu Ino sedikit terkejut. Ia tidak menyangka jika Gaara ingin mempercepat pernikahannya. Dengan alasan apa? Mengapa tiba-tiba? Apa Gaara sesuka ini dengannya sampai pemuda itu ingin segera menikah? Begitu pikir Ino.

"Lebih cepat lebih baik. Aku akan menjelaskan semuanya kepada ibumu. Tenang saja," lanjut Gaara sambil tersenyum tipis.

Ino mengangguk setuju. Setelah itu tidak ada obrolan lain lagi. Gaara menyuruh Ino untuk beristirahat di kamar sebab pemuda itu berdalih jika ia lelah dan tidak bisa terjaga lebih lama lagi. Semua itu bohong sebab sejatinya Gaara tidak biasa tidur. Selelah apapun Gaara, ia tidak akan tidur ataupun mengatakan jika ia kelelahan. Sebab tak mau Gaara sakit, Ino akhirnya menuruti perintah dari Sang Kazekage dan ia tidak jadi menanyakan soal pria misterius yang ditangkap beberapa waktu lalu.

Sekarang tibalah hari di mana Ino dan Gaara berkunjung ke Konoha. Mereka sepakat untuk pergi berdua tanpa pengawalan. Ini semua permintaan Ino karena gadis itu ingin mengenal Gaara lebih dekat lagi. Jika ada Kankurou ataupun shinobi lain, Ino merasa kurang nyaman untuk mengobrol dengan Gaara.

Jarak tempuh tinggal 500 meter lagi untuk sampai di Konoha. Ketika sudah hampir dekat, Ino meminta Gaara untuk menurunkan pasirnya dengan sedikit malu-malu karena takut ditolak. Ternyata Gaara tidak keberatan dan langsung mengiakan keinginan Ino. Keduanya lalu berjalan sejajar dengan santai sambil menikmati suasana siang yang menjelang sore itu.

Sebenarnya untuk tiba dari Suna ke Konoha itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, berkat pasir Gaara, keduanya bisa tiba dengan cepat –tak sampai memakan waktu selama 3 hari.

"Ibuku mungkin sedikit kaku, jadi aku harap kau tidak keberatan," ucap Ino memecah keheningan.

Meski Gaara tidak se-dingin Sasuke, pemuda itu tetap memiliki kesamaan, yaitu lebih banyak diam. Namun, masih sedikit lebih baik dibanding Uchiha terakhir itu, sebab Gaara sesekali bertanya kepada Ino. Ya, walaupun pertanyaannya masih berhubungan dengan urusan politik, setidaknya itu lebih baik daripada saling diam.

"Tidak masalah," jawab Gaara.

Ino yang tadinya melihat Gaara kini beralih menatap ke depan lagi. Ia sempat mengangguk sekilas untuk menanggapi jawaban singkat dari Gaara. Saat Ino berada disituasi se-canggung ini, terkadang Ino bertanya-tanya soal keputusannya. Setelah menerima lamaran dari Gaara, pemuda itu sedikit berubah. Gaara yang menurut Ino manis, kini menjadi kaku dan semakin asing.

"Aku tidak salah, 'kan?" batin Ino.

Akhirnya sisa perjalanan mereka diisi dengan keheningan. Sekarang Ino menyesal memilih untuk pergi berdua saja jika ujungnya mereka hanya diam.

"Kita sudah sampai, Kazekage-sama. Selamat datang di Ko–!"

Ino baru saja ingin memberikan kalimat sambutan ketika gerbang Konoha sudah terlihat dari jarak pandang mereka. Namun, perkataan itu terpotong sebab tiba-tiba saja tiga buah kemuridama dilempar ke arah nya.

Kemuridama merupakan salah satu peralatan ninja yang umum digunakan dalam misi. Peralatan ninja itu bebas dimiliki oleh seorang shinobi meskipun peringkatnya masih genin. Benda itu disebut juga bom asap. Bentuknya seperti bola kecil yang dibungkus dengan kertas. Jika dilempar, benda itu akan meledak dan mengeluarkan kepulan asap tebal yang dapat digunakan untuk membutakan lawan sehingga lebih mudah diserang.

Bussshhh!

Asap hitam seketika langsung mengepung Gaara dan Ino dalam hitungan detik. Pada saat seperti ini pasir Gaara tidak dapat diandalkan sebab bom itu bekerja dengan sangat cepat –hanya hitungan detik. Lagipula benda itu tidak menyerang Gaara langsung ke fisiknya, melainkan hanya sebagai pengalihan sebelum serangan selanjutnya.

Saat asap itu mengepul, Ino dan Gaara melompat bersamaan untuk keluar dari sana. Untuk sekelas kazekage, hal semacam itu mudah dilakukan. Begitu juga dengan Ino. Seharusnya... itu mudah. Namun...

Srat! Sebuah kunai melesat dengan cepat ke arah Ino yang sedang melompat keluar dari kepulan asap itu. Seolah orang yang melempar kunai itu bisa memprediksi ke mana Ino akan muncul setelah aksi penyerangan menggunakan bom asap itu. Untuk menghindari benda itu, Ino menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.

Slash!

Kunai itu memang tidak mengenai wajah Ino seperti yang seharusnya direncanakan. Akan tetapi, tetap saja... sisi tajam dari kunai itu berhasil menggoreng tangan Ino yang tadi disilangkan di depan wajahnya.

Sekarang tibalah serangan selanjutnya. Jika tadinya hanya satu kunai, kini jumlahnya meningkat. Lima buah kunai melesat cepat ke arah Ino setelah kedua kaki gadis itu kembali menginjak tanah.

Sret!

Bussshhh!

Diwaktu yang bersamaan dengan kunai itu, pasir Gaara bekerja sebagai tameng di depan tubuh Ino.

Trang!

Namun, sebelum kunai itu berhasil mengenai pasir-pasir Gaara yang bekerja sebagai tameng, benda itu terlebih dulu menabrak sesuatu yang muncul di depannya. Di depan pasir Gaara yang membentengi tubuh Ino, muncul salah satu bagian anggota gerak dari makhluk humanoid raksasa yang terbuat dari chakra berwarna biru gelap dan keunguan. Itu adalah kemampuan terkuat yang dihasilkan oleh pemilik Mangekyō Sharingan dan menjadi teknik yang paling langka dikuasai. Itu adalah lengan kanan dari teknik yang dinamai Susanoo.

-to be continued-

Halo hai! Sebelumnya aku mau mengucapkan maaf karena chapter kali ini lebih pendek dari chapter sebelumnya. Aku harap kalian semua tidak kecewa. Dan lagi, terima kasih telah menjawab pertanyaanku yang kemarin, ya. Aku sudah ganti rate-nya menjadi M untuk konflik yang menurutku nantinya tidak bisa dibilang ringan.

Sudah dulu, ya! Selamat membaca!

~Sesi ngorbol~

Mikalunachan: Sepertinya panda yang satu ini bakalan menjadi makhluk paling berbahaya buat Ino, deh. Tenang-tenang, semoga aja akan tiba masa itu, tapi sebelumnya Ino akan melalui berbagai kisah yang menguras emosi. Yup, bener banget! Karya ini bakalan lebih panjang dari karya yang pernah aku tulis di fanfiction. Terima kasih, Mika!

zielavienaz96: Langsung keluar kata-kata mutiaranya, ya, ahahaha Xd. Gaara emang brengsek dan nyebelin!

Kchi77327: Perlu kita amin, 'kan, enggak nih? xD. Terima kasih sudah mendukungku selama ini!

Guest: Semoga Gaara bisa jatuh hati sama Ino, ya! Terima kasih banyak atas pengertiannya!

Azzura yamanaka: Aduh, gomen-gomen TwT. Semoga kali ini Kakak tidak kecewa, ya! Terima kasih banyak~

BngJy: Terima kasih atas pengertiannya. Semoga aku tidak mengecewakan karena chapter kali ini lebih pendek TwT. It's okay, terima kasih sekali lagi, ya~

Sayumi takahashi: Gaara emang separah itu. Terima kasih banyak, ya~

Evil Smirk of the Black Swan: Sankyu! Tau nih, tukang tipu-tipu dia xD. Semoga Kakak akan tetap menunggu saat waktu itu tiba. Sekali lagi, terima kasih banyak!

komachiiiiiiiiiiiiiiii: Mungkin enggak, ya? Bisa jadi... bisa tidak. Semoga Kakak bersedia menunggu sampai waktu itu tiba. Terima kasih banyak~

See you nect chapter~