Susanoo itu menghilang setelah si pemilik jutsu merasa tidak ada ancaman lain yang akan datang melukai Si Gadis. Kedua orang yang tadi sama-sama melindungi Ino sempat terdiam di tempatnya masing-masing. Tidak ada yang bergerak sedikit pun, tetapi sepasang mata mereka kompak diedarkan ke segala arah untuk mencari dalang di balik penyerangan itu. Gaara tidak menemukan apapun, karena pada dasarnya kemampuan sensorik pemuda itu tidak aktif setiap saat. Hanya jika Gaara mau, ia dapat mengenali chakra di sekelilingnya. Akan tetapi, ketika ia sedang tidak ingin mengaktifkannya, ia tidak akan menyadari chakra orang lain di dekatnya. Sedangkan Sasuke, pemuda itu sempat merasakan chakra seseorang, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Jika Sasuke bisa menebaknya, orang yang diduga sebagai dalang dari penyerangan itu bukan orang yang berbahaya sebab jumlah chakra-nya tidak terlalu besar –setidaknya tidak seperti miliknya atau Naruto. Serangannya pun hanya berupa kunai, bukan jutsu dengan tingkat penguasaan yang tinggi.

"Apa di Konoha sedang terjadi keributan, Sasuke?" tanya Gaara memecah keheningan.

Saat bertanya, pasir miliknya masih bertahan diposisi yang sama. Pemuda bertato 'Ai' itu masih belum sepenuhnya percaya jika tidak akan ada lagi serangan berikutnya. Sama halnya dengan Gaara, meskipun Susanoo milik Sasuke tidak lagi diaktifkan, pemuda itu masih waspada. Jikalau ada serangan lagi, ia bisa menggunakan pedangnya untuk menangkis apa saja yang berani melukai Ino.

"Kau bukan orang bodoh, 'kan? Kau pasti tahu jika penyerangan itu sengaja ditargetkan untuk Ino. Dia telah mengincarnya," balas Sasuke dengan nada dingin seperti biasanya.

Ino yang masih berdiri di belakang pasir Gaara tidak bisa melihat apapun. Ia hanya bisa mendengarkan suara Gaara dan Sasuke yang sedang berbicara. Tidak seperti biasanya, kali ini Ino tidak begitu peduli. Penyebabnya karena tubuhnya sedikit lemas. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari tubuhnya. Sepertinya kunai yang tadi melukai kulit Ino telah dilumuri racun. Meski hanya tusukan kecil, racun itu berhasil masuk ke pembuluh darahnya.

Ino segera meletakkan telapak tangan kirinya di atas luka tusukan itu. Dengan kemampuan Shōsen Jutsu-nya, Ino berusaha untuk meminimalisir risiko bahaya dari racun yang telah masuk ke tubuhnya. Sebelum Ino melakukan observasi lebih lanjut, ia tidak akan tahu jenis racun apa yang telah mengontaminasi darahnya dan seberapa parah bahaya yang dapat disebabkan oleh racun itu.

Chakra berwarna kehijauan memancar dari telapak tangan Ino. Sebenarnya tindakan itu tidak begitu berarti, sebab Shōsen Jutsu yang ia gunakan hanya dapat mengobati luka tusuk, sobekan pada tubuh bagian luar, ataupun penyakit dalam tertentu. Tindakan tepat yang harus dilakukan oleh Ino adalah menggunakan Saikan Chushutsu no Jutsu, yaitu teknik ninja medis yang dapat digunakan untuk mengeluarkan racun dari tubuh. Sayangnya, sampai detik ini Ino belum menguasai jutsu itu. Bahkan bagi kalangan ninja medis ahli lainnya, teknik itu masih menjadi teknik yang paling sulit untuk dikuasai sebab membutuhkan ketelitian dan keahlian dalam mengontrol chakra. Walaupun tindakan Ino tidak terlalu berguna, ia tetap melakukannya. Setidaknya itu lebih baik daripada Ino tidak melakukan apapun.

Setelah mengarahkan Shōsen Jutsu pada lukanya, Ino mengarahkan tangannya itu ke dada untuk menjaga ritme jantung yang sedikit kacau akibat reaksi dari racun.

"Mengapa?" tanya Gaara.

"Aku rasa kau lebih tau alasannya. Jauh sebelum hari ini, dia tidak memiliki musuh. Tidakkah kau berpikir jika orang itu adalah musuhmu?" tanya Sasuke setengah mencibir.

"Selama Ino tinggal di Suna, penyerangan seperti ini tidak terjadi," bantah Gaara.

"Bukan tidak, tetapi belum. Saat ada celah, orang itu bisa melancarkan rencananya," balas Sasuke.

Kini Sasuke tengah berdiri tegap di depan pasir Gaara yang berfungsi sebagai benteng bagi Ino. Seperti biasanya, pemuda itu mengenakan setelan dan jubah berwarna hitam. Ia juga membawa katana miliknya yang dinamai Kusanagi. Sedikit pun Sasuke tidak menoleh ke arah Gaara.

"Jika kau mengabari Kakashi lebih dulu, penyerangan ini tidak akan terjadi," lanjut pemuda Uchiha itu.

Mendengar semua ucapan dingin dari Sasuke, Ino memutuskan untuk keluar dari benteng pasir itu. Sebelum ia menampakkan diri, gadis itu memastikan jika ia terlihat baik-baik saja. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Gaara ataupun Sasuke.

Perlahan Ino muncul di balik benteng pasir Gaara. Gadis itu memilih untuk berjalan ke kanan untuk menghampiri Gaara daripada mendekati Sasuke. Lalu, ia berdiri tepat di samping pemuda berambut auburn itu, hanya saja ia memutuskan untuk tidak berdiri terlalu dekat dengannya.

"Sasuke-kun, ini ideku. Aku hanya ingin membuat kejutan untuk Shikamaru, Chouji, dan ibuku...," kata Ino meluruskan.

"... tapi sepertinya kami tidak beruntung hari ini," sambungnya.

Semua ucapan dingin Sasuke terdengar seolah-olah pemuda itu sedang menyalahkan Gaara atas penyerangan itu. Entah kenapa Ino merasa demikian. Gadis itu tidak mau Gaara dicap jelek oleh Sasuke ataupun teman-temannya, jadi ia perlu meluruskan kesalahpahaman itu.

"Tch," decak Sasuke pelan.

Hening.

Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Mereka berdiri saling berhadapan di tengah jalan utama yang terhubung langsung dengan gerbang Konoha.

"Ah! Bukankah lebih baik kita pergi ke desa sekarang?" tanya Ino setelah beberapa detik sempat hening.

Ino sebenarnya sedang berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja. Racun di dalam tubuhnya mulai bereaksi. Ia mulai merasakan mual di perutnya. Keringat dingin perlahan menetes melewati pelipis dan kini telapak tangan gadis itu sudah dingin sepenuhnya. Meskipun semakin lama tubuhnya semakin lemah, Ino masih berusaha tersenyum dan bersikap se-normal mungkin. Jangan sampai Gaara dan Sasuke khawatir. Nanti setelah ia berpisah dengan kedua pemuda itu, ia bisa langsung menunjukkan kelemahannya itu. Ia hanya perlu datang ke rumah sakit dan meminta bantuan sahabat pink-nya –Sakura– untuk mengobatinya.

"Sasuke-kun, ayo kembali ke desa bersama kami. Kau juga ingin pulang, 'kan? Atau memang kau kebetulan sudah singgah di desa?" tanya Ino berbasa-basi.

Ketika Ino bertanya kepada Sasuke, pandangan mata pemuda berambut raven itu langsung tertuju ke arahnya. Sangat berbeda ketika tadi Gaara yang bertanya. Sasuke tidak terlihat tertarik untuk menanggapi Gaara meskipun lawan bicaranya itu memiliki peringkat yang jauh di atasnya. Kali ini Ino, jadi Sasuke menoleh untuk memperhatikan gadis itu.

"Ayo, pulang, Sasuke-kun," ajak Ino.

Itu adalah ajakan pulang kesekian kalinya yang Sasuke dengar dari mulut temannya. Namun, ketika yang berbicara adalah Ino... ajakan itu terasa sedikit berbeda.

Sasuke lantas memejamkan kedua matanya sejenak, kemudian ia sedikit menganggukkan kepalanya untuk menanggapi Ino.

"Ayo, Kazekage-sama," ajak Ino yang ditanggapi dengan respons yang sama oleh Gaara, yaitu anggukkan kepala singkat.

Setelah ketiganya sepakat untuk kembali ke desa yang sama –Konoha– mereka berjalan beriringan. Sasuke di sebelah kiri, Ino di tengah, dan Gaara berjalan santai di samping kanannya.

Baru beberapa langkah. Sekitar tiga langkah dari tempat mereka berdiri tadi, tiba-tiba...

Bush!

Blash!

Seorang musuh bertopeng tiba-tiba muncul di hadapan ketiganya sambil melemparkan beberapa kemuridama. Dari postur tubuhnya terlihat jika musuh mereka adalah seorang laki-laki. Seorang laki-laki berperawakan mirip Gaara hanya saja rambutnya berwarna hitam.

Kini bom itu bukan hanya mengeluarkan asap saja, tetapi benda tersebut menyebabkan ledakan ketika menyentuh tanah. Ledakannya memang tidak seberapa, tetapi cukup mengkhawatirkan jika sampai mengenai tubuh manusia.

Beruntung, yang sedang menjadi sasaran dari bom itu adalah shinobi-shinobi yang hebat. Seorang pahlawan shinobi, kazekage, dan kunoichi terbaik di bidang sensorik. Bom itu bukan ancaman besar bagi kedua pemuda itu, tetapi tidak dengan Ino sebab kondisi gadis itu sedang terkena racun.

Tadi, tepat saat musuh bertopeng itu muncul, Gaara langsung melesatkan pasirnya untuk menyerang ke arahnya. Pemuda bertato 'Ai' itu telat menyadari jika musuhnya telah melemparkan beberapa kemuridama ke arahnya. Sementara Gaara menyerang musuh, Sasuke segera meraih pinggang Ino dengan tangan kanannya dan melompat ke belakang untuk mengambil jarak aman dari ledakan bom itu.

"!"

Ino sempat terkejut dengan keputusan Sasuke yang mendadak itu. Namun, ia tidak menolaknya. Ia paham jika mereka sedang terjebak dalam kondisi yang genting.

Sebenarnya, tanpa harus melompat ke belakang, pasir Gaara secara otomatis akan membentuk tameng untuk membendung ledakan. Hanya saja, tindakan itu merupakan bentuk perlindungan dari Sasuke kepada Ino.

Musuh itu berlari dan melompat sesekali untuk menghindari pasir Gaara yang terus mengejarnya. Saat berhadapan langsung dengan musuhnya itu, Gaara menyadari sesuatu. Pergerakan musuhnya itu… sama seperti seseorang yang pernah ia lawan beberapa waktu lalu. Gaara bahkan ingat dengan perawakan itu. Mereka memang sedikit mirip.

"Tidak mungkin…." Gaara membatin.

Serangan musuh bertopeng itu memang bukan ancaman besar. Akan tetapi, jika dilihat dari kemampuan melarikan dirinya, musuh mereka patut diacungi jempol. Musuh yang tengah mereka hadapi sekelas seorang jounin. Ia mampu berlari dengan gesit saat menghindari pasir-pasir Gaara.

Sementara itu, sesaat setelah Sasuke mendarat di tanah bersama dengan Ino, ia langsung mengaktifkan kembali Susanoo-nya untuk melindungi gadis itu. Sama seperti tadi, Sasuke memperlihatkan wujud tulang rusuk hingga tengkorak bagian atas dari Susanoo-nya itu. Masih dengan tangan yang melingkari pinggang Ino, Sasuke mencoba mengaktifkan mata Mangekyō Sharingan-nya untuk melancarkan jurus Amaterasu.

Bush

Setelah mengunci target dengan hanya melihatnya, muncul api hitam di tubuh musuh bertopeng itu. Dengan kemampuan hebat matanya, Sasuke bisa membaca pergerakan lawan, sehingga ia dapat dengan mudah menargetkan jutsu-nya itu –tanpa meleset sedikit pun.

Bussshhh!

Baru terbakar satu detik, musuh bertopeng itu menghilang menjadi kepulan asap. Rupanya itu hanya bunshin, hanya saja bunshin itu memilih konsentrasi chakra yang cukup besar sehingga tidak mudah hilang. Hanya ninja terampil yang mampu menguasai bunshin seperti itu.

"Akh!"

Efek samping dari Amaterasu mulai dirasakan oleh Sasuke. Setelah menggunakan jutsu itu, mata kanan Sasuke mengeluarkan darah. Meskipun sudah cukup lama ia mendapatkan mata Mangekyō Sharingan-nya, risiko menggunakan jurus api hitam masih dirasakan oleh pemuda itu.

Pelukan Sasuke pada pinggang Ino terlepas. Pemuda itu merosot ke bawah dan ia langsung bertumpu dengan lutut kirinya agar tubuhnya tidak jatuh sepenuhnya ke tanah.

"Sasuke-kun!" pekik Ino.

Ino langsung memposisikan tubuhnya sama seperti Sasuke. Ia bertumpu dengan lutut kanannya dan langsung menghadap ke arah pemuda Uchiha itu.

Melihat temannya terluka, rasa sakit di tubuhnya seolah tidak ia rasakan lagi. Sejak Asuma dan ayahnya mati, Ino mengubah prinsip hidupnya. Sebagai seorang ninja medis, keselamatan rekan adalah yang utama –bagaimana pun kondisinya. Prinsip itu sebenarnya salah. Seorang ninja medis harus bertahan sampai akhir karena hanya mereka yang bisa menyelamatkan orang-orang. Hanya saja, luka dan trauma kehilangan membuat pemikiran Ino berubah. Yang ia utamakan adalah temannya, sebab ia tidak mau merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya.

Slap!

Ino menepuk pelan pipi Sasuke. Sedetik kemudian, tangannya itu sedikit naik ke atas dan segera menyingkirkan tangan Sasuke yang menutupi matanya sendiri. Kini Ino memposisikan telapak tangan kirinya di depan mata kanan Sasuke. Untuk pertama kalinya Ino menyentuh pipi dan berada sedekat itu dengan Sasuke Uchiha.

Saat Ino mengobati matanya, Sasuke tidak menolak. Pemuda itu terdiam sambil mengamati wajah Ino yang penuh dengan peluh. Sekarang Sasuke baru menyadari jika Ino tumbuh lebih baik dibanding waktu genin dulu. Saat mereka masih genin, Sasuke tidak menyukai Ino karena gadis itu terlalu berisik dan genit. Namun, gambaran kekesalannya waktu itu tidak ada lagi. Detik ini Ino tumbuh menjadi kunoichi yang sama hebatnya seperti rekan satu timnya, yaitu Sakura.

Dari kejauhan, Gaara memperhatikan Ino dan Sasuke. Ia memutuskan untuk tidak mendekat dan membiarkannya, setidaknya sampai Ino selesai mengobati Sasuke dengan Shōsen Jutsu-nya.

Saat Ino sedang fokus memulihkan kondisi Sasuke, tiba-tiba….

Grab! –Sasuke memegangi tangan kiri Ino yang sedang mengobatinya.

"Eh?" Ino terkejut.

Chakra kehijauan tidak lagi memancar dari telapak tangan gadis itu. Beberapa saat sempat hening dan keduanya hanya saling memandang. Sasuke tidak benar-benar diam sebab mulut pemuda itu menggumamkan satu kata yang tidak pernah diucapkan olehnya untuk Ino.

'Arigatou.'

Ino sempat membaca pergerakan mulut Sasuke sebelum pemuda itu bangun dari posisinya. Sesaat setelahnya, Susanoo milik Sasuke menghilang.

"Maa, kita harus kembali ke desa dan melaporkan ini kepada Kakashi," putus Sasuke.

Sasuke berjalan lebih dulu ke arah gerbang Konoha. Saat melewati Gaara, pemuda itu mengabaikannya.

Sesuai dengan keputusan Sasuke, Gaara dan Ino setuju untuk melaporkan kejadian itu kepada Rokudaime. Keduanya berjalan menyusul pemuda Uchiha itu.

Meskipun tadinya Sasuke berjalan lebih dulu, kenyataannya pemuda itu berjalan lambat. Secara tersirat ia menunggu Ino dan Gaara untuk bergabung. Mereka tidak membicarakannya, tetapi ketiganya sama-sama sepakat berjalan santai menuju gedung hokage –bukan melompat selayaknya ninja.

"Oi, Teme! Kau kembali!"

Di tengah perjalanan ketiganya berpapasan dengan Naruto yang sedang berkencan dengan Hinata. Kebetulan keduanya ingin pergi ke Ichiraku Ramen sesuai permintaan Si Gadis.

"G-Gaara?! K-Kau juga datang, HEH?! Mengapa kau tidak mengabari kami?!" teriak Naruto sambil menunjuk-nunjuk ke arah Gaara.

Naruto meninggikan suaranya sebab ia terkejut dengan kedatangan Gaara yang begitu mendadak. Jika Gaara mengabari Kakashi terlebih dahulu lewat sebuah surat, tentu akan ada penyambutan sederhana. Setidaknya Kakashi bisa menunggu di depan gerbang saat Gaara dan rombongannya tiba. Begitupun dengan Naruto. Ia akan sangat senang menyambut kedatangan teman baiknya itu.

"Ini permintaan Ino, jadi aku tidak bisa menolaknya," jawab Gaara.

"Woah…. Ini sangat mengejutkan. Senang bertemu denganmu lagi, Gaara!" sambut Naruto.

"Yo, Ino!" Sebelum Naruto kembali terfokus kepada Gaara, pemuda itu sempat menyapa Ino.

Tidak seperti biasanya, Ino hanya menanggapi sapaan itu dengan senyuman tipis yang penuh paksaan. Tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama lagi. Ia kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri akibat racun di tubuhnya.

Setelah Naruto dan Gaara saling berjabat tangan, pemuda berambut jabrik itu mengenalkan Hinata kepada Gaara. Dengan bangga Naruto memperkenalkan Hinata sebagai kekasihnya. Sungguh laki-laki yang baik, bukan?

"Kebetulan kau datang. Lima hari lagi kami akan mengadakan pesta kembang api. Kau bisa datang dengan Ino," kata Naruto.

Saat Naruto dan Gaara sedang mengobrol, Ino hanya diam saja. Bahkan ia sudah tidak lagi fokus sebab tubuhnya sebentar lagi mencapai batas. Rasa mual di perutnya semakin mengganggu dan ritme jantungnya kian melemah. Kini gadis itu sedikit menunduk sambil menautkan jemari tangan di depan tubuhnya.

Akhirnya setelah sekian lama menahan diri, tubuh Ino mencapai batasnya. Ia tidak bisa berbohong lagi jika tubuhnya baik-baik saja. Semakin ditahan maka Ino semakin tidak kuat. Perlahan tubuh Ino limbung ke belakang. Ia bahkan tidak peduli lagi jika tubuhnya akan terjatuh dengan kepala yang berakhir membentur jalanan yang keras di bawahnya. Saat ini gadis itu tidak dapat berpikir dengan jernih lagi.

Grab!

Sebelum tubuh Ino terjatuh ke belakang, Sasuke lebih dulu menahannya. Dengan sigap pemuda itu menggeser sedikit tubuhnya ke samping kanan untuk mencegah agar Ino tidak terjatuh ke belakang. Ia menahan Ino dengan setengah tubuhnya, sementara tangan kanannya langsung memegangi lengan Ino seperti sedang merangkul gadis itu.

"Ino?"

"Ino-san!"

Naruto dan Hinata terkejut. Mereka beradu spontan memanggil nama Ino saat gadis Yamanaka itu hampir terjatuh ke belakang.

Kesadaran Ino masih terjaga, tetapi gadis itu tidak memiliki banyak tenaga untuk berdiri. Jadi, dengan perasaan yang tidak enak hati, Ino bersandar di tubuh Sasuke dan membiarkan pemuda itu merangkul lengannya.

"Gaara, apa yang kau lakukan?! Cepat bawa Ino ke rumah sakit!" teriak Naruto saat Gaara tidak merespons apapun ketika melihat Ino yang tidak berdaya itu.

"Aku tidak apa-apa. Aku bisa sendiri," lirih Ino.

Ino memaksakan dirinya. Ia segera menyingkir dari dekat tubuh Sasuke sebelum kesalahpahaman muncul. Saat Ino sudah tidak lagi bersandar di tubuh Sasuke, Gaara langsung menarik tangan gadis itu dan membopongnya ala bridal style.

"Kazekage—"

"Diamlah," potong Gaara.

Sesaat setelah itu, pasir Gaara keluar dari labu kecil yang terikat di samping kirinya. Pasir itu membawa Gaara melayang sambil membopong Ino. Dengan laju yang cepat, pasir itu membawa Gaara menuju rumah sakit Konoha seperti yang diminta Naruto.

Selama perjalanan, Ino hanya diam. Dengan lemah, gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Gaara. Dari jarak yang lumayan dekat, Gaara bisa mendengar deru napas Ino yang memburu. Seluruh wajah gadis itu dipenuhi peluh dan napasnya sedikit berat.

"Tetaplah terjaga!" perintah Gaara saat ia melihat mata Ino perlahan terpejam dan kini benar-benar sudah menutup sepenuhnya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Gaara memang sengaja mengambil jarak dengan Ino saat Sasuke hadir di tengah-tengah mereka. Yang Gaara tahu, Ino pernah menyukai Sasuke. Jadi, ia berpikir jika Ino lebih suka berada di dekat pemuda Uchiha itu dibanding dengannya. Ini sama seperti dirinya yang lebih suka berada di dekat Hakuto jika ia dipilih memilih antara gadis itu atau Ino. Pemikiran itu kembali didukung saat Gaara melihat Ino tampak nyaman berada di jarak yang sangat dekat dengan pemuda Uchiha itu, terutama saat gadis itu memulihkan matanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke?" tanya Naruto setelah Gaara tidak lagi terlihat.

Sasuke menceritakan sedikit soal penyerangan yang terjadi pada Ino. Ia berasumsi jika ketidakberdayaan dari tubuh Ino disebabkan oleh racun yang ada di kunai yang melukai gadis itu.

Karena tak mau membuang waktunya sia-sia, Sasuke pamit dan segera bergegas menuju gedung kage untuk melaporkan kejadian itu kepada Rokudaime.

Sementara itu….

Di rumah sakit, Ino langsung mendapatkan penanganan dari Tsunade yang kebetulan sedang melakukan kunjungan untuk memantau kinerja ninja medis di Konoha. Butuh sekitar 35 menit bagi Tsunade untuk melakukan observasi dan mengeluarkan racun dari tubuh Ino.

Sebenarnya kasus Ino bisa terbilang kasus yang telat mendapatkan penanganan. Seharusnya ketika Ino merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya, gadis itu bisa segera dilarikan ke rumah sakit. Karena telat dalam hal penanganan, racun yang ada di tubuh Ino menyebabkan beberapa komplikasi, salah satunya adalah kelumpuhan sementara pada tangan kanannya.

"Selalu seperti itu. Ino terlalu keras pada dirinya sendiri," ucap Tsunade.

"Anak ini semakin susah diatur dan tindakannya sangat sulit ditebak sejak kematian Inoichi. Terlebih lagi dia selalu memaksakan diri," lanjut Tsunade sambil menatap nanar ke arah Ino.

Ino sudah dipindahkan di ruang rawat biasa. Saat ini, Tsunade dan Gaara sama-sama memperhatikan Ino yang sedang terbaring lemah di ranjangnya.

"Kau ceroboh dan lambat menyadarinya. Jika Ino benar-benar terlambat ditangani, maka gadis itu tidak akan bisa bertahan," ujar Godaime itu.

"Bolotinum Toxin. Meskipun beberapa kasus zat ini digunakan di bidang medis dan kecantikan, zat ini termasuk racun saraf yang berbahaya jika disalahgunakan. Efek yang disebabkan oleh racun ini adalah bolutisme," jelas Tsunade pada Gaara yang tengah mendengarkan dengan seksama.

"Apa itu bolutisme?" tanya Gaara.

Gaara tidak ahli dalam hal seperti ini. Selain itu, di desanya juga sangat minim pengetahuan soal dunia medis. Ia bahkan sering meminta bantuan kepada Konoha untuk mengirimkan ninja medis ke desanya. Semua usaha itu ia lakukan untuk mengembangkan pengetahuan dan skill ninja medis di desanya.

"Bolutisme adalah kelumpuhan otot. Jika racun itu berhasil menyebar ke seluruh tubuh, tidak menutup kemungkinan jika kelumpuhan juga bisa terjadi pada sistem pernapasanmya. Jika itu terjadi, maka Ino tidak akan selamat. Beruntung, racun itu tidak cepat menyebar, sepertinya diam-diam Ino menyembuhkan lukanya sendiri. Apa kau tidak menyadarinya?" tanya Tsunade tak habis pikir dengan Gaara.

Tsunade sedikit menggeser tubuhnya agar ia bisa melihat ke arah Gaara dengan bebas.

"Aku sudah mendengar kabar tentangmu dan Ino dari Kakashi Hatake. Kau ingin menikahi Ino, benar begitu?" tanya Tsunade.

Gaara menanggapi pertanyaan itu dengan anggukan kepala.

"Apa aku bisa menjamin jika pernikahan ini bukan karena politik?" tanya Tsunade penuh selidik

-to be continued-

Halo hai! Jumpa lagi denganku! Dah balik panjang lagi chapter-nya ya~ Semoga kalian suka. Maaf semisal ada kesalahan soal riset racun di chapter ini, itu bukan bidangku tapi aku berusaha memberikan yang terbaik.

Jangan risau ya kalau ada banyak scene SasuIno di sini. Tenang-tenang, itu bagian dari plot demi development character Panda kita yang satu itu xD. Pair-nya enggak ganti, kok!

~Sesi ngobrol~

zielavienaz96: Kebiasaan nih, ngadu ke Sasuke xD.

Evil Smirk of the Black Swan: Maaf, ya! Sekarang udah enggak pendek lagi kok~ Darimana hayo, coba tebak xD. Sasuke tebar-tebar pesona dia Kak. Terima kasih, Black Swan sudah mendukungku selalu!

Mikalunachan: Waktunya Sasuke bersinar xD.

Azzura yamanaka: Terima kasih banyak!

Guest: Kata Sasuke, "It's time to shine."

Ai Moriuchi: Ahahah, harusnya Gaara waspada nih. Sasuke gercep soalnya.

BngJy: Terima kasih banyak! Semoga suka chapter hari ini.

See you next chapter~