-WARNING ADULT CONTENT-

It's explicite content! If you're underage, please skip this chapter! I warn all of you. Thank you.

Anbu itu bergegas melaksanakan perintah dari Takeo. Sesaat setelah ia menerima benda itu, ia segera pergi dari ruangan para tetua untuk menuju ruangan yang lainnya. Ia harus bergerak cepat karena ia tidak tahu kapan targetnya kembali ke ruangan pribadinya –yang hendak dituju anbu itu. Ia harus tiba lebih dulu sebelum targetnya datang.

Tugas anbu itu cukup mudah, yaitu menuangkan isi dari benda kecil pemberian Takeo ke cangkir minuman Gaara.

"Maafkan saya, Kazekage-sama," ucap anbu itu saat ia menuangkan cairan dari dalam botol kaca yang ia sendiri tak tahu apa itu.

Anbu itu tahu jika perbuatan yang dilakukannya adalah salah. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Ia segera meninggalkan ruangan Kazekage setelah menuntaskan perintah dari Takeo.

Tak lama setelah kepergian anbu itu dari ruangan pribadi Kazekage, Gaara dan Temari datang. Pemuda berambut auburn itu mengambil tempat duduk di depan meja kerjanya. Wajahnya tampak frustasi, padahal Gaara bukan tipikal pemimpin yang sering dilanda kebimbangan saat memutuskan sesuatu. Rencana pernikahannya-lah yang membuat pemuda bertato 'Ai' itu terlihat sangat kacau.

"Aku tidak bisa melakukannya, Temari," ucap Gaara.

"Aku tidak bisa menyakiti salah satu dari dua gadis itu. Mereka tidak bersalah," lanjutnya.

Temari menghela napasnya dengan pasrah. Ia adalah pihak nonblok dalam urusan ini, tetapi sebenarnya ia tidak benar-benar netral dalam masalah itu. Ia mendukung rencana pernikahan Gaara, tetapi ia juga merasa bersalah jika satu dari dua gadis itu dirugikan atau bahkan keduanya.

"Kita tidak ada pilihan lain, Gaara. Pernikahan ini harus tetap dilaksanakan agar tidak ada nyawa yang harus direnggut. Terlalu berisiko jika kau memilih untuk membebaskan Ino karena bukan hanya satu nyawa yang akan dilenyapkan, tetapi keduanya. Dua gadis itu akan sama-sama dirugikan," usul Temari memberikan pendapatnya.

Temari berusaha memberikan usulan secara objektif dari permasalahan ini. Mungkin Ino memanglah pihak yang akan dirugikan jika pernikahan dilangsungkan, tetapi setidaknya gadis itu tidak harus mati sia-sia bersama dengan Hakuto. Jika keduanya bisa selamat? Mengapa tidak mengambil keputusan itu?

"Aku tidak bisa terus-menerus berbohong di depannya. Gadis itu… dia… terlihat sangat baik dan tak tahu apa-apa," balas Gaara.

Gaara menyesap teh hijau hangat dari cangkirnya. Minuman itu adalah buatan kakak perempuannya. Setiap pagi Temari memang menyiapkan minuman untuk Gaara. Setiap kali perasaan yang mengganggu singgah di diri Gaara, ia akan menetralkannya dengan meminum matcha tea buatan kakak perempuannya itu.

"Aku tahu itu, tetapi kau juga tidak bisa membiarkan Hakuto mati. Gadis Houki itu juga berhak bahagia dengan kehidupannya, 'kan?" tanya Temari.

Kini giliran Gaara yang menghela napasnya dengan kasar. Kakak perempuannya itu benar. Ia memang tidak memiliki pilihan. Daripada harus melihat nyawa Hakuto dan Ino direnggut, lebih baik ia melanjutkan pernikahanya, dengan begitu... tidak akan ada yang namanya kematian.

"So... tunggu apalagi, Gaara? Kau tidak mempunyai banyak waktu, cepat temui Ino dan yakinkan gadis itu jika kau akan memberikannya kebahagiaan yang berlimpah. Kau tahu, Takeo-san tidak pernah mau menunggu meskipun hanya sebentar!" perintah Temari.

Gaara beranjak dari kursinya. Meskipun tidak mengatakannya, tindakan Gaara menunjukkan jika pemuda itu setuju dengan usulan kakak perempuannya itu. Ia bergegas meninggalkan gedung kage untuk menemui Ino di kediamannya.

Sementara itu...

Setibanya di Suna, Ino sibuk menata barang bawaannya ke lemari. Ia memutuskan untuk menempati kamar Temari yang ada di lantai dua, dekat tangga. Meskipun ruangan itu milik perempuan, tetapi desainnya cukup simple. Tidak seperti kamarnya yang didominasi benda-benda berwarna ungu. Temari adalah gadis yang sederhana dan mungkin sedikit tomboy kelihatannya.

"Aish! Rasa kebas ini menyiksaku," keluh Ino.

Ternyata cukup sulit bekerja dengan tangan kanan yang belum pulih sepenuhnya. Meskipun tangannya sudah bisa digerakkan, tetapi tak jarang rasa kebas muncul selama beberapa menit. Karena itulah, Ino sampai menghentikan kegiatannya tadi.

Entah kenapa, kesulitannya itu membuat Ino tiba-tiba teringat dengan Sasuke. Uchiha terakhir itu menolak permintaan Tsunade untuk membuat tangan tiruan dari sel Hashirama dan memilih hidup dengan satu tangan. Meskipun begitu, sejauh ini Sasuke tidak pernah terlihat kesulitan bekerja dengan satu tangannya. Tidak seperti Ino yang benar-benar payah menggunakan tangan kirinya.

"Apa semua keturunan Uchiha se-hebat itu?" gumam Ino.

"Aku jadi penasaran... apa besok... keturunan Sasuke juga sama hebatnya, ya." Ino bermonolog tanpa sadar.

"Itu pasti, lagipula apa yang kau pikirkan Ino!" lanjut Ino tak habis pikir dengan pikiran random-nya itu.

Pekerjaannya tinggal sedikit. Ia hanya perlu memasukkan beberapa pakaiannya yang telah dilipat ke dalam lemari. Namun, saat hendak mengangkat pakaiannya itu, tiba-tiba saja terdengar suara gedoran pintu utama yang dilakukan berulang kali. Suaranya sangat mengganggu dan tidak sopan. Seharusnya seorang tamu tidak seperti itu.

"Astaga, siapa orang yang tidak sabaran itu?" Ino menggerutu.

Sesuai dengan pesan Gaara, Ino diminta untuk mengunci pintu rumah saat pemuda itu tidak ada. Katanya untuk mencegah hal yang tidak-tidak terjadi. Padahal... kalau pun ada orang jahat, siapa saja bisa menerobos lewat jendela. Ingat, mereka hidup di dunia shinobi.

Ino berjalan cepat menuju ruang tamu untuk membukakan orang yang tak sabaran itu. Ia sendiri tidak memiliki petunjuk siapakah tamunya. Ino sangat yakin jika itu bukan Gaara karena pemuda itu memiliki kunci duplikat rumahnya sendiri. Kalau itu Gaara, seharusnya tidak usah menggedor-gedor.

"Shit! Ino!" panggil tamunya dengan setengah berteriak.

Saat Ino mendengar suara tamunya itu, seketika ia tersentak kaget. Itu suara Gaara –tidak salah lagi. Akan tetapi, sangat mengherankan jika itu adalah Gaara. Pemuda itu baru saja mengumpat dan berteriak memanggil namanya.

"Shit! Buka pintunya, Ino!"

Gaara hampir saja menghancurkan pintu rumahnya sendiri. Untung saja Ino tepat waktu membukakan pintu untuk pemuda itu.

"Kazekage-sama?" Ino terkejut saat ia melihat penampilan Gaara yang cukup berantakan –tidak seperti Gaara yang biasa ia lihat.

"Minggir!" Gaara langsung masuk dan ia mendorong Ino agar gadis itu menyingkir dari hadapannya.

"Augh!" Ino hampir saja terjatuh karena ia tidak pernah menduga jika Gaara akan mendorongnya dengan kasar.

"Hei!" panggil Ino saat ia melihat Gaara berlari menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Pemuda itu terlihat kacau dan tidak sabaran. Ia berlari dengan tergesa-gesa sampai beberapa kali ia hampir tersungkur ke depan. Melihat pemandangan itu, Ino menjadi sangat khawatir. Ia tidak pernah melihat Kazekage se-kacau itu.

"Kazekage-sama!" panggil Ino.

Gadis itu menyusul Gaara menuju kamarnya. Karena Gaara hampir beberapa kali terjatuh, Ino berhasil menyusul ke kamar sebelum pintunya tertutup rapat.

"Kazekage-sama!" Ino menahan tangan Gaara dengan erat dan ia sengaja berdiri di depannya.

"Kenapa kau menyusul?! Pergi!" bentak Gaara sambil menyentak tangan Ino yang menahannya.

Kedua mata Ino membulat lebar setelah mendapatkan perlakuan buruk dari Gaara. Sebelumnya pemuda itu tidak pernah membentaknya. Selama 15 hari mengenal Gaara, ini pertama kalinya Ino melihat pemuda itu bersikap sangat kasar. Bahkan Ino baru tahu jika Gaara bisa mengumpat seperti Kiba.

"Aku tidak akan pergi! Apa yang terjadi denganmu?!" Ino merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi Gaara agar pemuda itu tidak pergi dari hadapannya.

"Shit! Tidak bisakah kau mengerti?! Pergi atau aku tidak bisa menjamin kau aman!" Gaara masih berbicara dengan nada bicara yang ditinggikan.

Ino meneliti Gaara. Ia mengamati Gaara dari atas hingga bawah. Pemuda itu sangat berantakan dan sangat bukan Gaara yang ia kenal.

"Shit! Shit! Shit!" Gaara mengacak rambutnya sendiri sebelum ia mencengkeram lengan atas Ino dengan kedua tangannya.

Di tengah perjalanan pulang ke rumahnya, Gaara merasakan hal aneh di tubuhnya. Ia merasakan desakan untuk memuaskan dirinya yang terlewat luar biasa. Rasanya sangat panas –hampir di sekujur tubuhnya. Ia tidak bisa menjelaskan rasanya dengan pasti karena ia baru pertama kali mengalaminya. Itulah kenapa ia terlihat tergesa-gesa untuk sampai ke rumah sebelum ia melakukan hal yang tidak-tidak di pusat kota. Bagaimana jika penduduk desanya melihat? Sangat tidak etis!

Rasa di tubuhnya membuat Gaara hampir hilang akal sampai ia tak sengaja menjatuhkan kunci duplikat di semak dekat pintu utama rumahnya. Ia tidak bisa mencari kunci duplikatnya itu atau lebih tepatnya ia memang tidak mau karena tubuhnya benar-benar terasa panas, terutama pada bagian bawah tubuhnya.

"Aw!" pekik Ino saat punggungnya membentur dinding kamar.

Gaara tak hanya mendorong gadis itu, tetapi ia tanpa sengaja seperti sedang membanting tubuh mungil itu ke dinding dan menghimpitnya dengan tubuhnya sendiri.

"Kau–!" saat Ino hendak protes dengan tindakan Gaara, pemuda itu lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman yang kasar, agresif, dan menuntut.

Rasa panas di tubuhnya sedikit teralihkan saat Gaara berhasil mencari pelampiasan dengan mencium bibir ranum milik Ino. Bibir indah itu terlalu memabukkan. Gaara sangat menikmatinya.

Tangan kiri Gaara masih mencengkeram lengan Ino, sementara tangan lainnya yang bebas tidak tinggal diam. Pemuda itu dengan berani menangkup dada Ino di balik kaos rumahnya dan memberikan remasan yang cukup kuat.

"Ugh?!" Tubuh Ino menegang karena terkejut dengan tindakan Gaara yang sangat berani itu.

Ino berusaha mendorong dada Gaara, tetapi tampaknya pemuda itu benar-benar telah menghimpit dan mengunci pergerakannya.

Selain itu, ciuman kali ini berbeda dari dua ciuman sebelumnya. Gaara sangat kasar dan sedikit tak sabaran. Pemuda itu mencium, mengigit, dan mengulum bibir gadis itu hingga ia merasakan perih di bibirnya.

Sekarang Ino tahu kenapa Gaara tiba-tiba se-kacau itu. Ia mulai menilai jika Gaara tanpa sengaja mengonsumsi obat perangsang. Itulah alasan kenapa pemuda itu tidak bisa mengontrol desakan nafsunya sendiri.

"S-sto— Mph!"

Gaara menggunakan kesempatan itu untuk menyusupkan lidah ketika Ino membuka mulutnya saat hendak memintanya untuk berhenti.

Bukankah ini tindakan pelecehan? Ino sama sekali tidak menyukainya. Gadis itu menangis. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi mulusnya itu.

Kalau saja pasokan oksigen tidak menuntut untuk dipenuhi, Gaara tak mau sedikit pun melepaskan ciumannya itu. Dengan terpaksa Gaara menghentikan ciumannya, tetapi pemuda itu tidak berniat melepaskan Ino dari kungkungannya.

Saat Gaara sedikit menjauhkan kepalanya, ia mulai menyadari jika saat ini gadis yang ada di bawah kendalinya itu sedang menangis. Namun, ia tidak dapat menghentikan hasrat dalam dirinya. Ia hanya ingin menuntaskan keinginannya untuk memuaskan diri akibat obat sialan itu.

"Hentikan, Brengsek! Kau Banjingan Gila!" teriak Ino dengan suara gemetarnya.

Ino berhasil memukul dada bidang Gaara berulang kali. Akan tetapi, tindakannya itu sama sekali tidak mempengaruhi Gaara.

"Beraninya kau, Dasar Banjingan..."

Gadis itu menangis sesenggukan. Ia sangat takut. Tubuhnya bahkan gemetar hebat karena ketakutan.

Baru setelah Gaara berhasil sedikit menguasai dirinya, pemuda itu terkejut. Ia memaksakan fungsi akal untuk bekerja dan sejenak berusaha menahan nafsunya meskipun tubuh pemuda itu masih terasa sangat panas. Saat ini ia sangat tersiksa, tetapi ia tidak mau memperburuk keadaan.

"Maaf. Aku... tidak bisa menahannya. Ugh!" Gaara melepaskan cengkeraman tangannya dari kedua lengan Ino.

Pemuda itu memundurkan tubuhnya. Ia tidak bisa menunggu tanggapan Ino karena tubuhnya benar-benar butuh pelampiasan untuk mengurangi rasa panas, terutama di area selangkangannya. Ia segera berlari ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya itu.

Blam!

Gaara membanting pintu kamar mandi dengan kasar dan langsung menguncinya.

Ino bisa mendengar suara lenguhan Gaara saat pemuda itu memuaskan dirinya. Pemuda itu benar-benar seperti bukan Gaara dan ia terdengar sangat tersiksa.

"Ahh!"

Ino tidak mau mendengarnya, jadi gadis itu segera bergegas keluar dari kamar Gaara.

Gadis itu menutup pintu kamar Gaara, tetapi ia tidak segera beralih dari sana. Ia bersandar di pintu kayu itu sambil memegangi bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Gaara. Degup jantungnya sangat tidak karuan. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Karena ulah Gaara, Ino semakin yakin jika semua laki-laki itu bisa sama brengseknya. Namun, setelah diingat-ingat... Bukankah Gaara tidak sepenuhnya salah?

Setibanya di rumah, Gaara tidak menargetkan dirinya sebagai pemuas nafsu, tetapi Ino yang menghalanginya. Pemuda itu hanya ingin pergi ke kamar mandi untuk memuaskan diri, tetapi Ino tidak paham dan ia begitu menjengkelkan dengan berlagak sok ingin tahu tanpa memikirkan risiko. Ia bahkan bodoh karena tidak menyadari ada yang salah dari diri Gaara. Seharusnya ia bisa menyadarinya lebih awal.

Ino tak mau memikirkannya. Gadis itu segera pergi dari depan kamar Gaara.

Sudah dua jam berlalu, tetapi Gaara tidak kunjung keluar dari kamarnya. Di lantai utama, Ino sering mengintip ke arah kamar Gaara. Akan tetapi, sampai hampir 120 menit lebih, Gaara tidak menampakkan batang hidungnya.

"Bagaimana dengan kondisinya..." Ino bermonolog.

Ino baru saja selesai menyiapkan teh chamomile dan cupcakes cokelat buatan sendiri untuk Gaara. Meskipun ia takut dengan sikap Gaara beberapa waktu lalu, Ino tetap mempedulikan pemuda itu. Gaara memang sudah bersikap brengsek, tetapi pemuda itu berhasil mengendalikan diri dan mengucapkan permintaan maaf kepadanya.

"Mungkin aku terlalu kasar. Dia tidak sepenuhnya salah," gumam Ino saat ia teringat dengan kata-kata kasar yang ia tujukan untuk Gaara.

Ino memainkan jari tangannya dengan gelisah. Ia saat ini sedang berdiri di anak tangga paling bawah sambil memandangi pintu kamar Gaara yang masih tertutup.

"Apa aku antar saja camilannya ke atas, ya? Tapi... Ah!" Ino merasa frustasi.

Setelah menimang keputusan dengan cukup lama dan pertimbangan, akhirnya Ino memberanikan diri untuk menapaki satu per satu anak tangga sambil membawa nampan berisi secangkir teh chamomile dan beberapa cupcakes buatannya.

Sesampainya di depan pintu kamar Gaara, Ino lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan.

"Kazekage-sama," panggil Ino.

"Ya?" sahut Gaara.

Setelah mendengar sahutan dari Gaara, Ino merasa sangat lega. Artinya tidak ada hal buruk yang terjadi. Ia bisa bernapas dengan lega.

"Maukah kau... mencoba cupcakes buatanku?" tanya Ino takut-takut.

Alasan itu hanya akal-akalannya. Sebenarnya Ino hanya ingin melihat keadaan Gaara setelah kejadian dua jam yang lalu.

"Maaf, Ino. Aku sedang tidak ingin makan," jawab Gaara dari dalam kamar.

Bahkan Gaara tidak mempersilakannya untuk masuk.

"Oh... baiklah," balas Ino pelan.

Bukan hal semacam ini yang Ino harapkan. Bukankah keduanya sudah sepakat ingin menikah, tetapi kenapa hubungan mereka menjadi semakin canggung seperti ini?

"Letakkan saja di meja samping pintu. Aku akan mengambilnya nanti," perintah Gaara.

Cengkeraman Ino pada nampannya itu mengerat. Ia hanya ingin sedikit mengintip kondisi Gaara, tetapi pemuda itu tidak mengizinkannya masuk.

Hening. Tidak ada yang bersuara setelahnya. Mungkin Gaara mengira jika Ino sudah melaksanakan perintahnya dan gadis itu telah pergi. Namun, kenyataannya Ino masih berdiri di depan pintu kamar Gaara dengan posisi yang sama.

"..."

Ino mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Gadis itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Sudah hampir 10 menit berlalu, tetapi Ino masih betah berdiam diri di depan pintu kamar Gaara.

Ceklek!

Tanpa terduga pintu kamar itu terbuka. Gaara yang melihat Ino langsung terkejut, tetapi sedetik kemudian ia berhasil mengendalikan dirinya.

Sama halnya seperti Gaara, Ino pun terkejut dengan kemunculan Gaara yang mendadak itu. Ia tidak menyangka Gaara akan keluar, terlebih lagi pemuda itu kini sedang bertelanjang dada.

-to be continued-

Halo hai! Happy New Year, Teman-teman! Meskipun telat, tapi tidak apa-apa, ya. Semoga di tahun 2024 ini kita bisa menemukan kebahagiaan di setiap kita melangkah!

Tidak lupa aku ingin meminta maaf kepada kalian semua karena tiba-tiba menghilang. Maaf karena aku sering melakukan kesalahan yang sama. Semoga kalian memaafkan aku, ya~

~Sesi ngobrol~

zielavienaz96: Emang bowleh seharus ini xD

ren: Ditunggu saja ya, Kak. Aku warn dulu deh, bakalan ada sedih-sedihnya karena aku suka hahahaha~

Evil Smirk of the Black Swan: Pukul aja, Kak kalau bikin emosi xD. Biasalah, waktu ada kesempatan ya diambil aja ye kan? Lumayan bisa cium-cium cewek cantik kayak Ino TwT. Kira-kira gimana ya~ Nanti bakalan terkuak siapa yang nyerang Ino xD.

Proxy57: I'm glad to see your feedback on my story. I also enjoy dramas ehehehe. When I put Ino in a complicated situation, that's my favorite part. Gaara will regret his actions, and everything will be too late when he realizes it. Thank you. Long live GaaraIno fandom.

Mikalunachan: Aku enggak tahu, ini memuaskan atau tidak. Semoga kamu suka, ya TwT. Takut mengecewakan.

Ai Moriuchi: Pasti saat itu akan datang, untuk Si Panda Brengsek yang egois XD. And Happy New Year! Terima kasih sudah setia menunggu!

Azzura yamanaka: Gomenasai TwT. Ada nih, melakukan 'itu', 'kan? xD.

Pc man: Semua pada sayang Ino, jadi enggak mau kalau Ino kenapa-kenapa xD. Si Panda memang ngeselin!

See you next chapter~