"Bodoh... Lalu sekarang apa? Apa yang kamu harapkan dari pria itu, hah? Dia akan sangat mencintaimu setelah tidur bersama? Tidak mungkin, Bodoh! Jangan mimpi!" Ino bermonolog dan mulai terisak.

Setelah cukup lama menangis, isakan Ino mulai reda. Meskipun begitu, wajah wanita itu masih memperlihatkan ekspresi sedihnya. Bibirnya melengkung ke bawah dan kedua matanya sangat sembab.

Ino sempat melihat ke arah jam weker di meja nakas Gaara. Rupanya jarum jam sudah menunjuk ke arah enam sore, bahkan sudah lewat.

"Aw..." Ino meringis saat ia mencoba bangun dari posisinya.

Tubuh bagian bawahnya masih terasa sedikit perih. Tanpa sadar Ino tersenyum miris. Bahkan rasa sakit di tubuhnya masih belum hilang, tetapi pria yang menyebabkan ini semua malah lebih dulu pergi –entah ke mana.

Meskipun Ino tidak memiliki agenda apapun di sana, tetapi ia tetap harus membersihkan diri dan pergi dari kamar itu. Setelah Ino berdiri, ia tertegun ketika melihat betapa berantakan dan kotornya kasur Gaara.

"I-Ini memalukan."

Perasaan Ino memang sedang sedih dan kesal, tetapi saat melihat kasur Gaara yang sangat berantakan itu, ia menjadi sangat malu. Ino ingat di saat ia terus-menerus mendesahkan nama Gaara ketika pria itu bergerak di atasnya. Seharusnya ia malu, 'kan? Minimal sedikit jaim. Yah, mau bagaimana lagi? Nafsu sudah mengalahkan akal sehatnya.

Ino segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia harap dengan begitu ia bisa menyingkirkan ingatan tentang kegiatan panas mereka tadi siang. Penggalan memori itu masih teringat jelas di benaknya. Ia sedang tidak mabuk, jadi mana mungkin ia bisa lupa? Ia ingat bagaimana Gaara menyentuhnya. Pria itu sangat manis di awal, tetapi sedikit tidak sabaran di akhir.

Ino beberapa kali masih menunjukkan ekspresi ringisan menahan perih ketika sedang menarik selimut dan bedcover milik Gaara. Ia harus bertanggung jawab membereskan kekacauan yang telah ia buat. Lagipula Gaara tidak mungkin melakukannya, 'kan? Apalagi ia menyuruhnya. Itu tidak mungkin.

Sebelum keluar dari kamar itu, Ino terlebih dahulu mengunakan pakaiannya yang teronggok di lantai. Tanpa merapikan rambut yang masih awut-awutan, Ino melangkah keluar kamar sambil memeluk kain kotor itu di dadanya. Rencananya setelah ia mandi, ia akan mencuci kain-kain itu, lalu mencari udara segar untuk melupakan penggalan ingatan tadi siang.

Ceklek!

"Eh?!" Ino membulatkan kedua matanya karena kaget.

Pintu baru saja terbuka dan ia sudah dikejutkan dengan kedatangan salah satu pemilik lama rumah besar itu.

"Hei, Ino," sapa orang itu.

Kedua pipi orang itu sedikit memerah. Ia hampir saja salah tingkah ketika melihat keadaan Ino yang berantakan dan beberapa bekas kemerahan di sepanjang leher wanita itu.

"T-Temari-san?" Ino gelagapan.

Ino langsung berusaha merapikan rambutnya dan menggunakan selimut Gaara untuk dijadikan jubah yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, kecuali kepala.

"Aku tidak bermaksud mengejutkanmu," ucap Temari.

Temari baru saja ingin mengetuk pintu kamar itu, tetapi Ino sudah lebih dulu muncul di hadapannya.

"Gaara menyuruhku untuk datang melihat kondisimu," aku Temari yang sebenarnya adalah akal-akalanya sendiri.

Sebenarnya Temari sudah tahu dengan apa yang terjadi. Setelah Ino tertidur, Gaara memang langsung kembali ke gedung kage –tentunya ia sudah mandi. Setibanya di ruang kage, Gaara marah dan membentak Temari. Ia pikir Temari ikut bersekongkol dengan para tetua dengan mencampur obat perangsang di tehnya, jadi ia menuduh kakak perempuannya itu.

Tentu saja Temari mengelak jika ia tidak tahu apa-apa. Ia memang yang menyiapkan teh, tetapi ia bersumpah tidak menaruh apapun di minuman adik bungsunya itu. Setelah itu Temari memaksa Gaara menceritakan apa yang terjadi dan dengan polosnya Gaara mengaku jika ia telah 'tidur' dengan Ino. Karena itulah Temari jadi tahu jika Gaara dan Ino sudah melakukan hubungan layaknya pasangan yang telah legal.

Bagaimana respons Temari? Tentu saja ia sangat terkejut dan langsung menyuruh Gaara kembali ke rumah sebelum Ino bangun. Sebagai sesama perempuan ia tahu perasaan Putri Yamanaka itu. Jika Ino adalah Temari, ia akan saat marah kepada pria yang telah menidurinya bila main pergi begitu saja. Sayangnya Gaara menolak meskipun Temari sudah memaksanya terus-menerus. Keadaan menjadi semakin rumit dan Temari harus memikirkan cara agar hubungan Ino dan Gaara membaik. Ia akan berpura-pura seperti yang sudah beberapa kali ia lakukan.

"Maaf, seharusnya saya tidak menyambut anda dengan penampilan seperti ini." Ino sedikit membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

Ino sangat malu sampai ia ingin menghilang dari tempatnya itu. Sudah jelas jika wajahnya sangat memerah saat ini.

"Tidak usah malu. Ini wajar karena kalian adalah pasangan yang sedang kasmaran. Dan satu hal lagi, berhenti bicara formal denganku karena sebentar lagi kau akan menjadi adik iparku," kata Temari.

Kasmaran dari mana? Mereka melakukannya karena Ino saja yang bodoh. Ia kalah dengan nafsu dan Gaara sedang dalam pengaruh obat sialan itu. Tidak ada yang namanya kasmaran karena itu hanya berlaku bagi pasangan yang saling jatuh cinta. Sedangkan mereka? Hanya perasaan sepihak, sedangkan Gaara? Ino sendiri jadi tidak yakin dengan Gaara karena pria itu main pergi begitu saja.

"Aku mengerti, Temari-s an," balas Ino sambil memaksakan senyuman.

"Bagaimana jika Temari-nee? Meskipun aku memiliki dua adik, tetapi mereka tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin karena mereka laki-laki dan terlalu malu menyebutnya," ujar Temari.

Kedatangan Temari tidaklah buruk. Ternyata setelah mengenalnya, Temari bisa bersikap hangat. Semua yang ditampilkan di publik bisa jadi tidak seperti apa yang ditunjukkan di keseharian. Orang yang punya wajah garang, belum tentu ketus selamanya. Begitu sebaliknya, orang yang lembut bisa jadi serigala berbulu domba. Dunia memang menyeramkan dan sulit ditebak.

"Ah, ya... Temari-nee. Ngomong-ngomong, apa yang Temari-nee lakukan di sini? Apa ada sesuatu yang harus aku lakukan?" tanya Ino.

Ino mencuri kesempatan untuk sedikit mengintip apa yang ada di belakang Temari, barangkali Sulung Kazekage itu tidak datang sendirian. Namun ternyata tidak ada siapapun selain mereka berdua di rumah besar itu.

"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Gaara mencemaskanmu, jadi dia memintaku untuk datang melihatmu," jawab Temari.

"Kenapa tidak tinggal lebih lama jika mencemaskanku? Malah pergi begitu saja," batin Ino kesal.

Mendengar jawaban itu, Ino hanya bisa tersenyum palsu sambil membatin kesal. Dan sialnya Temari menyadari ekspresi itu.

"Kau marah dengan Gaara?" tanya Temari.

"Tidak. Aku paham. Seorang pemimpin tidak akan pernah punya waktu pribadi. Dia bekerja untuk penduduk desa, bukan untuk kehidupannya." Ino pastikan sindiran itu tidak begitu kentara, sebab ia mengatakannya dengan nada bicara yang normal dan senyuman di akhir kalimat.

Temari tak menanggapi, tetapi tangannya meraih sesuatu yang sejak tadi ia letakkan di meja depan kamar Gaara. Sebuah goodie bag berukuran kecil.

"Ini dari Gaara, untukmu," kata Temari sambil menyerahkan goodie bag itu kepada Ino.

Bukan. Itu juga bohong. Gaara tidak tahu caranya memberikan kejutan kepada Ino. Goodie bag itu dari para tetua dan Temari diperintahkan untuk memberikannya kepada Ino. Ia awalnya tidak mau, tetapi pada akhirnya ia tidak dapat menolak karena para tetua mengancamnya. Para tetua bilang ia akan melukai perasaan Gaara dan memprovokasi jika Temari ikut menyetujui rencana untuk melenyapkan Hakuto. Karena itulah Temari tidak punya pilihan selain melaksanakan perintah para tetua, lebih tepatnya Takeo. Ia terpaksa memberikan goodie bag itu kepada Ino. Goodie bag itu berisi beberapa jenis teh dan satu botol vitamin. Temari sendiri tak tahu pasti untuk apa vitamin itu. Ia harap itu bukan racun yang memperpendek umur Ino.

Ino awalnya ragu menerima goodie bag itu, tetapi Temari semakin menyodorkan benda itu ke arahnya. Setelah menerima goodie bag itu, Ino mengintip isinya.

"Teh dan...?" tanya Ino.

"Vitamin untuk kesehatan. Untuk orang yang baru merasakan tinggal di tempat se-ekstrem ini, tentu akan sulit untuk menjadi kesehatan. Aku yakin ini akan membantumu menjaga kesehatan," tutur Temari seadanya –ia hanya mengarangnya.

"Oh... Terima kasih banyak, Temari-nee. Dan tehnya? Sebenarnya aku tidak terbiasa minum teh."

Daripada minum teh, Ino lebih suka meminum jus buah dan sayur. Ia pun mengatur gulanya agar tidak kemanisan. Dan di pagi hari, Ino lebih sering meminum susu rendah lemak daripada teh atau kopi. Sayangnya minuman itu memang tidak Ino bawa.

"Itu red raspberry tea. Cobalah dulu. Itu sangat enak. Dan yang chamomile itu kesukaan Gaara. Kalau kau mau mencobanya juga boleh. Teh itu untuk kalian," kata Temari.

Ino tersenyum senang. Temari banyak membantunya saat di Suna. Rupanya tinggal di desa gersang itu tidaklah terlalu buruk. Tampaknya yang Ino butuhkan adalah teman mengobrol. Mungkin mulai hari ini dan seterusnya Ino bisa mengajak bicara Temari agar ia tidak kesepian.

"Aku akan meminumnya. Terima kasih," kata Ino.

Temari tak menanggapi lagi, tetapi ia membalasnya dengan senyuman.

"Ada pesan yang ingin kau titipkan untuk Gaara? Aku bisa menyampaikannya karena setelah ini aku akan kembali ke gedung kage," tanya Temari.

Karena Ino diam, sejenak Temari melambaikan tangan kanannya di depan wajah Ino untuk membuyarkan lamunan calon adik iparnya itu.

"Eh?" Ino sedikit tersentak.

"Ada pesan yang ingin kau sampaikan pada Gaara?" ulang Temari.

Ino sempat berpikir sejenak.

"Mungkin... Beristirahatlah saat kau lelah?" kata Ino agak ragu karena ia sendiri tidak yakin.

"Baiklah kalau begitu aku pamit. Dan kau Ino, jangan lupa gunakan syal saat keluar, ya. Tanda ulah Gaara memenuhi lehermu," kata Temari sebelum ia berbalik dan meninggalkan Ino.

Tentunya Temari sempat melambaikan tangan kirinya sebelum ia benar-benar melangkah menjauh dari Ino. Sementara itu Ino malah makin bersembunyi di balik selimut tebalnya itu. Malu sekali! Kalau tahu jika Temari datang, ia pasti akan menutupi kissmark sialan itu.

Kini hanya tinggal Ino saja di rumah besar itu. Wanita itu segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dan sebelum ia mencari udara segar di luar, ia lebih dulu mencuci bersih kain kotor itu dan mengganti bedcover Gaara dengan yang baru.

Ino lebih dulu mengeratkan syalnya sebelum ia keluar dari rumah dan mengunci pintunya. Ia melihat-lihat ke sekelilingnya. Kompleks itu sepi, padahal baru pukul delapan malam. Jika di Konoha, jam-jam seperti sekarang ini masih banyak orang di luar. Bahkan anak kecil masih sering berlari-larian dengan temannya.

"Tak ada objek menarik di sini. Semuanya hanya pasir," keluh Ino.

Ino tidak bermaksud menghina desa itu, tetapi kenyataanya memang Suna tidak seindah Konoha. Dulu ketika Ino di Konoha, ia bisa mengunjungi banyak tempat di malam hari ketika ia bosan.

Putri Yamanaka itu hanya berjalan tanpa tujuan. Ia membiarkan kakinya melangkah ke mana saja. Sampai akhirnya, ia berhenti di deretan kios yang terletak di dekat gerbang sebelah Timur. Itu bisa dinamakan kompleks perbelanjaan, tetapi tidak banyak pengunjung yang datang. Cukup sepi dan hanya ada kios-kios yang menjual barang-barang, bukan makanan.

"Selamat datang. Oh, aku baru melihatmu di sini, Nak. Kau pendatang baru?" tanya pemilik kios saat Ino berhenti di depan kiosnya.

"Iya, Oba-san," jawab Ino.

Tampaknya kabar Sang Kazekage akan menikah belum tersebar sampai ke pinggiran desa. Ino bahkan sudah diklaim menjadi calon istri Gaara, tetapi tidak banyak yang tahu.

"Pantas saja. Kamu tampak seperti boneka hidup," kata pemilik kios itu.

Ino tersenyum kikuk. Ia suka dengan pujian itu, tetapi tak tahu harus merespons bagaimana. Bibi itu terlalu asing bagi Ino.

Pandangan Ino ditujukan ke arah berbagai gantungan kunci yang ada pada wire grid wall di depannya. Banyak sekali macamnya, mulai dari yang berbentuk bunga, benda langit, hingga hewan lucu. Bahannya juga bermacam-macam. Ada yang dari kayu yang diukir, plastik dan akrilik yang dicetak, hingga karet.

Awalnya Ino hanya bermaksud untuk melihat-lihat, tetapi direksinya jatuh pada gantungan kunci berbentuk kipas yang berwarna putih dan merah. Gantungan itu mengingatkannya dengan Sasuke. Meskipun tidak seperti lambang Uchiha, tetapi warna dan konsepnya mirip –kipas kertas berwarna merah dan putih.

"Aku hanya membuat satu, jika kau tidak membelinya maka kau tidak akan menemukan lagi yang sama." Sang Bibi pemilik kios itu tengah berdiri di belakang Ino.

Ino tidak terlalu membutuhkannya dan tidak mungkin memakainya. Namun, ia tertarik dan ingin membelinya. Mungkin ia bisa memberikannya bersamaan dengan kado yang akan ia berikan kepada Sakura di hari pernikahan sahabatnya itu dengan Sasuke.

Sebelum Ino mengambil gantungan kunci itu, ia kembali mengedarkan pandangannya lagi. Pilihan keduanya jatuh pada gantungan kunci berbentuk Tanuki atau rakun. Mirip seperti Shukaku yang dulu ada di tubuh Gaara.

"Itu saja?" tanya bibi itu.

"Ya," jawab Ino singkat.

Bibi itu menyebutkan total belanja yang dibeli Ino. Ia sengaja memberi tarif yang tidak biasa karena ia menganggap Ino sebagai seorang turis asing yang singgah sementara di Suna. Biasanya Ino akan berdebat dengan penjual jika mereka membeli tarif yang ugal-ugalan, tetapi karena ia sedang tidak berada di kampung halamannya, Ino hanya pasrah saja sambil menyerahkan uang senilai 1040 yen untuk membayar dua gantungan kunci pilihannya.

Setelah Ino keluar dari kios itu, barulah ia mengumpat dan menggerutu kesal.

"Mahal sekali. Dengan uang sebanyak itu aku bisa menyewa sebuah kamar penginapan untuk tidur dan menikmati pemandian air hangatnya," gerutu Ino.

Niat hati ingin menghibur diri, Ino malah jatuh miskin dalam semalam.

Karena tidak mau khilaf untuk kedua kalinya, Ino memilih untuk duduk sambil melihat suasana malam di salah satu atap gedung. Ino bahkan tak tahu gedung apa itu. Ia hanya asal memilih saja.

Ino menggerak-gerakkan kakinya yang sedang menggantung bebas sambil menikmati udara malam di Suna. Entah mengapa sejak tadi Ino merasa ada yang mengikutinya, jadi ia memutuskan untuk menggunakan kemampuan sensornya.

Beberapa detik berlalu dan Ino dibuat kaget setelahnya. Ia terlonjak kaget dan langsung berdiri sambil memutar tubuhnya ke arah belakang. Sensornya mengenali chakra seseorang yang ia kenal.

"Sasuke—aa!"

Tubuhnya tak terlalu siap ditambah lagi Ino terkejut dengan kehadiran Sasuke di Suna. Kaki yang seharusnya menapak tepian atap gedung malah tergelincir oleh beberapa butiran pasir yang membuat sepatu ninjanya licin.

-to be continued-

JJajang! Bonus chapter minggu ini. Aku sebut bonus karena tidak ada konflik berat di chapter ini, cuma buat bacaan ringan di minggu malam kalian. Happy reading~

~Sesi ngobrol~

Evil Smirk of the Black Swan: Iya, dong xD. Udah ketahuan kalau mau nagih lewat apa soalnya xD. Ampun, emang rada brutal aku di chapter ini TwT. Tapi tenang, aku bakalan kasih warning kalau ada ketikan yang mengarah ke Rate M. Akhirnya udah bobol juga, ya xD. Tau nih, perlu kasih pelajaran deh. Aku kasih pelajaran nanti di chapter 22. See you~ Author 'kan maha membolak-balikan hati karakternya xD.

Inzaghi: Halo, Kak Inzaghi! Long time not see, ehehehe. Gimana, Kak? Apa yang Kakak ragukan? Jadi overthinking aku TwT.

See you next chapter~