Disclaimer: Sunrise

Maaf kadang-kadang masih kepikiran sama cerita ini hehehe. Yang udah bosen mah skip aja gapapa XD


3. Fever

"Kau benar-benar tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa. Aku cuma perlu istirahat."

"Tapi kau sendirian di sana kan?"

"Aku cuma demam kok, aku masih bisa bergerak," Athrun, dengan suaranya yang sedikit serak, membalas.

"Kau sudah makan siang kan?"

"Kau tidak perlu mencemaskan itu," ia menjawab tanpa memberikan jawaban dari apa yang kutanyakan.

Pasti belum, aku menggumam dalam hati mendengar Athrun mengelak dari pertanyaanku.

Waktu sarapan tadi aku mencuri dengar dari Kira kalau Athrun titip pesan untuk guru wali, kalau dia hari ini tidak bisa masuk karena sakit, dan bahwa di kelasnya memang ada beberapa yang sakit juga selain Athrun. Untuk sesaat aku lupa kalau sekarang Athrun sama sepertiku dan yang lainnya, bahwa dia juga seorang Natural di kehidupan yang sekarang. Dulu aku sering menemaninya di bangsal rawat, tapi biasanya karena dia terluka setelah turun perang. Aku tidak pernah melihat Coordinator yang sakit karena penyebab alamiah. Kira dulu memberitahuku kalau Coordinator tidak mudah sakit, bahkan mereka tidak akan kena penyakit berat yang berbahaya, tidak seperti kami.

Jadi Athrun yang bisa kena demam musiman sama seperti aku di kehidupan sekarang ini terdengar asing buatku. Dan aku juga khawatir dia tidak terbiasa karena dulunya ia hampir tidak pernah sakit. Apalagi keluarganya tidak ada di rumah. Terbaring lemah dalam kondisi sakit dan tidak ada siapa-siapa di rumah itu benar-benar menyedihkan rasanya. Makanya aku meneleponnya di sela istirahat siangku setelah selesai makan bersama Mayura dan Asagi. Masih ada 2 mata pelajaran lagi sebelum sekolah selesai, jadi baru sore nanti aku bisa mampir menemuinya.

"Apa aku boleh menjenguk—aah, tapi nanti kau harus turun untuk membukakan pintu ya?" aku bergumam, mengurungkan niatku karena ingat Athrun pasti sekarang ada di kamarnya di lantai atas. Aku khawatir dengan kondisinya, tapi kalau aku malah membuatnya susah-susah turun ke bawah hanya untuk menyambut kedatanganku, malah jadi tidak ada artinya. Lebih baik aku tidak usah datang kalau cuma bakal mengganggu.

"Tidak apa-apa…" Aku mendengar Athrun menjawab dengan suara pelan.

"Mmm… tapi…" Bagaimanapun aku tetap khawatir. Tapi aku tidak bisa—

"Aku ada di bawah, kalau kau datang aku pasti tahu kok. Aku bisa bukakan pintunya kalau kau datang," Athrun menambahkan.

Aku mengerjap.

Rasanya tidak seperti Athrun yang biasanya. Dia selalu berlagak kuat, tidak mau menunjukkan kelemahannya sama sekali di depan orang, bahkan ketika tubuhnya penuh luka pun dia selalu berkeras kalau dia tidak apa-apa.

Apa jangan-jangan demamnya tinggi sampai-sampai dia ngelindur?

"Kalau begitu, nanti aku datang pulang sekolah, ya. Maaf kalau agak sore," aku malah jadi terlalu khawatir dan memutuskan untuk datang saja memastikan kondisinya. Biarlah kalaupun dia tertidur ketika aku datang aku akan langsung pulang supaya tidak mengganggu.

"Tidak apa-apa. Aku senang kau mau datang." Aku berpesan lagi padanya supaya banyak istirahat dan banyak minum air supaya tidak dehidrasi. Nanti di perjalanan aku harus membeli sesuatu untuk buah tangan.


"Maaf menggang—Waaah, mukamu merah sekali!" Aku berseru begitu melihat wajah Athrun yang membukakan pintu untukku. Refleks aku langsung maju untuk menopang badannya, sebab dia kelihatan begitu lemas.

"Aku tidak apa-apa," dia berkata begitu tapi aku bisa merasakan sedikit berat tubuhnya, bahwa topangan kakinya sedikit limbung. Aku langsung berdiri sejajar dengannya dan mengalungkan lengannya di leherku.

"Ayo, kuantar kau kembali ke kamarmu. Tapi bagaimana caranya tadi kau bisa cepat membukakan pintu?" Tidak ada lima menit setelah aku membunyikan bel pintunya sebelum dia membukakan pintu untukku. Dengan kondisi begini harusnya dia akan makan waktu lebih lama jalan dari kamarnya.

"Aku turun ke bawah dan tiduran di sofa begitu sudah jam bubaran sekolahmu, karena mungkin kau akan datang langsung dari sekolah," suara seraknya menjawab dengan pelan.

"Maaf ya, jadi merepotkan saat kau harusnya istirahat. Hati-hati kakimu," aku menambahkan begitu menuntunnya menaiki tangga.

Aku merebahkannya lagi di tempat tidurnya begitu kami sampai ke kamarnya. Athrun berusaha supaya tidak terlalu bertumpu padaku selama perjalanan kami ke kamar. Kelihatan sekali ia merasa lega begitu bisa berbaring lagi. Aku duduk di tepi tempat tidurnya setelah menutupinya lagi dengan selimut. Kuperhatikan wajahnya yang merah karena demam—di dahinya ada patch demam tertempel rapi.

"Cek lagi suhumu ya," aku memberikan termometer yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Di meja yang sama ada bekas bubur telur yang porsinya sedikit, dan hanya dimakan setengah. "Kau mau makan lagi tidak? Sepertinya tadi kau tidak makan banyak."

"Tidak usah, aku tidak begitu nafsu makan," Athrun membalas dengan suara pelan sambil mengepit termometer yang kuberikan.

"Kalau sakit memang begitu. Harus dipaksakan supaya perutmu tidak kosong dan bisa cepat sembuh."

"Aku sudah minum obat kok tadi," ia masih mengelak.

"Minum obat tidak cukup. Kau terlalu lama jadi Coordinator jadi tidak tahu triknya kalau sedang sakit," aku berkata. Kalau menjadi Natural, jelas aku lebih ahli dibanding Athrun. Dia pasti tidak pernah sakit sepanjang kehidupan lamanya, bahkan setelah aku pergi. Jadi dia pasti masih belum terbiasa menjadi sakit seperti ini.

Tapi kalau sedang sakit memang apa yang kita makan tidak terasa apa-apa, makanya nafsu makan pasti menurun. Dia pasti ingin makanan dengan rasa kuat, tapi tidak boleh sampai mengganggu perutnya.

"Mau aku kupaskan persik?" Aku berkata sambil menunjukkan kantong belanja berisi persik yang kubeli di perjalanan menuju kemari. Bersamaan dengan itu, terdengar suara termometer yang sudah selesai mengecek suhunya.

Athrun mengambil termometer dari ketiaknya. "Persik? Di musim ini?" Karena sekarang sudah mulai masuk musim gugur, persik sudah jarang ditemukan di toko-toko. Hanya saja masih ada beberapa dari pohon yang memang berbuahnya terbilang lambat, jadi masih ada beberapa tempat yang menjual.

Aku mengambil pengukur suhu dari tangannya karena Athrun sepertinya tidak mau memberikannya padaku. Dahiku mengkerut—39.3 derajat. Pantas saja mukanya semerah itu.

"Kebetulan tadi aku menemukan beberapa persik di toko buah. Katanya ini persik terakhir, setelah ini mungkin tidak ada lagi. Persik putih juga ada sih, tapi kalau sedang sakit mungkin lebih baik yang biasa ya. Lebih lembut dan manis. Aku pinjam dapurmu sebentar ya, kau tunggu saja di sini." Aku meninggalkan kamarnya sambil membawa persik yang kubeli. Di dapur sambil berbisik dalam hati meminta izin pada ibunya Athrun, aku mencari-cari pisau. Dari empat buah persik yang aku beli, aku mengupas dua buah dan menyimpan dua lagi di dalam kulkas, memotongnya menjadi ukuran yang pas untuk langsung dimakan.

Begitu aku kembali, aku mendapati Athrun sedang berbaring dengan mata mengatup. Sesaat aku ragu apa sebaiknya aku membangunkannya atau membiarkannya istirahat. Namun tak berapa lama, matanya kembali terbuka dan menatap ke arahku. Ia mencoba bangun, jadi aku bergegas menghampirinya untuk membantu supaya dia duduk bersandar—setelah meletakkan piring dengan potongan persik di mejanya.

Tangannya terulur hendak mengambil piring berisi persik, tetapi aku mendahuluinya. "Kau diam saja di situ." Aku menusuk persiknya dengan garpu lalu menyodorkannya pada Athrun, "Nah, buka mulutmu."

Athrun hanya terpaku menatap persik di depannya selama beberapa saat. Tadinya kukira dia akan menolak, sebab setahuku dia paling tidak suka diurus oleh orang lain. Tapi dia dengan patuh membuka mulutnya dan mengunyah pelan persik yang lembut itu—yang memang tidak perlu lama dikunyah pun sudah bisa ditelan dengan mudah.

Sesuap demi sesuap Athrun melahap buahnya. Begitu Athrun menghabiskan potongan yang terakhir, ia tiba-tiba bergumam, "Cagalli, tanganmu wangi." Suaranya pelan tapi terdengar cukup jelas di telingaku.

"Hmm? Ah, mungkin karena tadi aku habis mengupas persik, wanginya menempel di tanganku." Buah persik memang sangat wangi, siapapun bisa mencium baunya kalau ada didekatnya—dan juga mudah menempel. "Nah, sekarang berbaringlah lagi," Aku menyuruhnya sambil membetulkan selimut. Begitu kepalanya menyentuh bantal lagi, sambil duduk di samping tempat tidur, aku tidak bisa menahan untuk tidak mengelus kepalanya. "Cepat sembuh ya," karena ia jarang sakit, aku tidak biasa dan tidak tega melihat wajahnya yang kepayahan begini karena demam.

Dengan mata tertutup, Athrun menyurukkan wajahnya ke tanganku. Aku bisa merasakannya menarik nafas, menghirup tanganku. "Wangi persik, dan juga wangimu."

Apa aku perlu mengukur suhunya lagi ya? Jangan-jangan suhunya naik lagi sampai-sampai dia mengatakan hal yang tidak biasa. Lalu begitu aku hendak menarik tanganku, tangannya lebih dulu meraih punggung tanganku, menempelkannya di pipi.

"Hangat… Jauh berbeda dengan terakhir kali aku memegang tanganmu," Athrun bergumam lagi, alis matanya berkerut seperti sedih.

"Terakhir kali?" Terakhir kali aku memegang tangannya mungkin beberapa minggu lalu, waktu Athrun main dengan Kira ke rumah. Kira turun sebentar ke bawah karena ada telepon dari Flay, dan Athrun mencuri waktu untuk mengobrol denganku di kamar. Kami tidak lama karena Kira bisa kembali kapanpun, tapi sebelum keluar dari kamarku, Athrun memegang dan mengecup punggung tanganku.

Waktu itu karena kami sama-sama sehat, harusnya suhu tanganku sama saja dengannya. Aku bingung apa maksud—

"Tanganmu dulu pucat, dingin dan kaku…" Athrun meneruskan, matanya yang sayu menerawang sambil menatap ke arah wajahku. "Wajahmu tidak sepucat itu, tapi tetap dingin… Tapi kau tetap cantik… Bahkan di saat terakhir, kau begitu cantik… dengan hiasan bunga putih di sekelilingmu."

Mataku melebar mendengar kata-kata yang mungkin datang dari bawah sadarnya. Athrun tidak pernah mau cerita apa yang terjadi ketika aku mati. Aku penasaran karena tidak ada yang bisa aku tanyai selain dia. Shinn juga hanya tahu apa yang diberitakan media saja, jadi tidak banyak yang aku tahu darinya. Dan setiap kali aku menanyakan hal itu pada Athrun, wajahnya selalu berkerut sedih, jadi aku menyerah bertanya karena tidak sampai hati membuatnya mengingat hal yang tidak disukainya.

Tangannya beralih ke wajahku, dan membelainya lembut, "'Maafkan aku… Aku mencintaimu…' Berkali-kali aku memberitahumu, tapi kau tidak pernah menjawab dan terus tertidur. Padahal aku rindu warna matamu yang hangat dan lembut. Akhirnya… aku bisa melihatnya lagi." Satu jarinya mengusap tepat di bawah mataku.

"Setelah kau pergi, aku tidak tahu harus hidup untuk apa. Ketika pergi ke Plant meskipun kita berpisah aku bertahan karena aku yakin kita akan bertemu lagi. Tapi setelah kepergianmu, membayangkan kalau aku tidak bisa mendengar suaramu lagi, tidak bisa bicara denganmu lagi… meskipun Kira dan yang lainnya ada di dekatku… aku merasa kesepian…"

"Maaf…" aku menjawab dengan suara tercekat, menahan tangannya dekat denganku. "Maaf karena meninggalkanmu sendirian. Maaf membuatmu sedih dan kesepian…" Entah apa jadinya kalau situasinya di balik di masa itu. Aku bisa melepaskannya pergi ke Plant karena aku cukup puas asalkan dia bisa hidup bahagia. Tapi seandainya dia meninggalkanku lebih dulu… aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup seperti biasanya. Athrun orang yang kuat, tapi aku tidak sekuat dia.

"Karena itu aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi kali ini. Aku sudah tahu bagaimana rasanya hidup di dunia di mana kau tidak ada. Aku tidak mau mengulang kehidupan itu lagi."

"Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak punya alasan untuk meninggalkanmu lagi," aku sudah lepas dari semua kewajibanku sebagai representatif yang menghalangi hubungan kami. "Aku bisa terus bersamamu sekarang. Jadi kau jangan khawatir. Besok dan hari berikutnya dan seterusnya, aku masih akan tetap bersama denganmu."

Aku bisa melihatnya tersenyum lega, lalu Athrun menutup matanya. Tidak berapa lama aku bisa mendengar suara nafas yang teratur. Athrun sudah kembali tidur. Aku bisa saja langsung pulang supaya tidak mengganggu istirahatnya, tapi aku masih ingin bersamanya sebentar saja. Sambil memandangi wajah tidurnya, aku menelusuri garis wajahnya dengan jariku, berhati-hati supaya tidak membangunkannya.

Padahal tangan kami berdua sudah kotor dengan darah. Aku sempat berpikir dosa-dosaku di masa itu harus aku tebus di kehidupanku yang sekarang. Tapi entah kenapa Haumea masih memberi kami kesempatan untuk bahagia bersama.

Aku teringat kembali saat-saat di mana aku mencoba menjauh dari Athrun. Aku tidak menyadari sudah membuatnya sedih di kehidupan lamaku hanya dengan meninggalkannya, dan aku merasa bersalah sudah membuatnya khawatir. Kalau bukan karena sifat keras kepalanya yang terus mengejarku, mungkin kami akan saling berselisih jalan seperti dulu lagi.

Aku mendengar nada dering pemberitahuan pesan masuk dari ponselku. Begitu kucek, ternyata Kira yang menanyakan kapan aku pulang, bahwa sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Aku juga yakin Athrun tidak cerita apa-apa pada keluarganya kalau aku akan datang. Kalau mereka datang selagi aku masih di sini, aku pun masih belum tahu bagaimana menjelaskan alasan kedatanganku yang masih bukan siapa-siapa bagi Athrun untuk saat ini.

Kami berdua sudah menunggu terlalu lama untuk bisa bersama, sampai rasanya aku ingin berhenti peduli dengan pendapat orang dan terus terang terhadap hubungan kami. Tapi aku takut ada beberapa orang yang akan kesusahan karena itu, seperti keluarga atau teman-teman kami. Apalagi Athrun yang melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya meninggalkannya. Aku yakin Athrun pasti ingin menjaga kedua orang tuanya baik-baik, dan salah satunya adalah dengan menjaga perasaan mereka, tidak berbuat hal yang bisa menyusahkan mereka.

Seandainya usiaku sedikit lebih dekat lagi dengannya…

Aku mengenyahkan pikiran itu. Tidak ada gunanya mengharapkan hal yang tidak bisa diubah. Aku harus segera pulang—ibu pasti menantiku di rumah. Aku mengambil tasku, mencari kertas dan pulpen, dan menulis memo untuk Athrun. Aku tidak mau dia bangun dan menyangka aku meninggalkannya sendirian lagi seperti ketakutan yang baru saja diutarakannya sebelum ia tertidur.

Sambil membelai wajahnya sekali lagi, aku mempersiapkan hatiku untuk pergi. Wajahnya yang terlihat kelelahan karena sakit mengingatkanku pada saat ia dirawat di bangsal kesehatan Archangel. Waktu itu aku meninggalkannya yang sedang tidur dan bertemu lagi ketika rapat kru Archangel, dan tidak sempat mengatakan apapun sampai ia berangkat. Kisaka juga selalu bersamaku, jadi aku tidak bisa apa-apa.

Athrun memiliki prinsip yang teguh, sekali memutuskan dia tidak akan melanggarnya. Sejak kami akhirnya bersama dia selalu berhati-hati menyentuhku, mungkin karena aku masih di bawah umur. Terkadang ia mengecup dahiku, pipiku, tangan atau puncak kepalaku. Tapi tidak pernah di bibir seperti dulu.

Asal hanya aku saja yang tahu, tidak apa-apa kan?

Pelan-pelan supaya tidak mengganggu tidurnya, aku mendekatkan wajahku padanya, lalu diam-diam menyentuhkan bibirku ringan ke bibirnya.

"Aku akan menemuimu lagi nanti. Jadi cepatlah sembuh," aku berbisik pelan. "Aku pulang dulu ya."

Untungnya pintu rumah Athrun punya sistem pengunci otomatis. Kalau aku keluar pintunya akan langsung terkunci. Jadi aku bisa tenang meninggalkannya. Setelah memandangi jendela kamarnya sekali lagi, aku berjalan pulang ke rumah.


"Maaf, harusnya aku melarangmu datang waktu itu," Athrun berkata dengan wajah menyesal.

"Tidak apa-apa, aku senang kok, bisa datang. Kau sendiri, padahal baru sembuh tapi nanti kau bisa tertular lagi kalau ke sini," aku membalas. Aku mengambil masker di dekat mejaku, dan mengulurkannya padanya. "Pakai ini, kau juga baru sembuh kan."

Tangannya nampak ragu, tapi akhirnya dia mengambil masker dari tanganku dan mengenakannya. "Bukannya kalau sudah sakit aku tidak akan kena lagi?"

"Untuk jaga-jaga saja. Aku tidak mau kau sakit lagi," aku mengambil satu lagi, bermaksud mengenakannya juga. Tapi Athrun kemudian menunjukkan apel yang sudah dibentuk jadi seperti kelinci di atas piring.

"Aku mengupas apel dengan Kira di bawah tadi. Aku suapi ya," Athrun berkata sambil tersenyum, mengambil garpu dan menusuk apelnya.

"Aku bisa makan sendiri!" Aku berkata—demamku tidak separah Athrun, aku masih sadar dan masih kuat makan sendiri.

"Aku cuma mau membalas yang waktu itu saja. Tidak boleh? Aku juga merasa bersalah karena membuatmu tertular," wajahnya mengkerut sedih. Dia kelihatan seperti anjing kecil yang sedih karena tidak jadi diajak jalan-jalan. "Sekali saja, ya?" Mata hijaunya menatap lurus padaku, memohon, bukan, memelas.

Sepertinya aku salah, mungkin demamku lebih tinggi dari yang kukira, karena aku akhirnya mengiyakannya dan membuka mulutku, menggigit apel yang diberikannya. Aku mengunyah sambil mengerling ke arahnya, sementara Athrun kelihatan senang.

"Padahal aku tertular karena perbuatanku sendiri waktu itu," aku bergumam sendiri.

"Kau bilang apa?"

"Tidak, tidak apa-apa kok!" Aku cepat-cepat menukasnya. "Aku mau lagi!" Aku berkata untuk mengalihkan perhatiannya supaya ia tidak bertanya lagi, dan Athrun pun menurut dan menyuapiku apel lagi.

Itu rahasia kecilku saja. Athrun tidak perlu tahu.

Setidaknya untuk saat ini.


Pingin bikin cerita Cagalli- Touya (tapi tetep asucaga hehe)

Main trailer suda keluar, akhirnya ada asucaga lagi meskipun cuma sekelebat. Hope for the best aja, malah jadi kasian sama kiraraku ini hahaha
Kalau masih ada yang baca, thanks so much~
Cheers