Chapter 6: Girls are Scary
Ini masih pagi, tapi Draco sudah merasa lelah. Sejak kemarin ia terlalu banyak berpikir. Alasannya hanya satu, Harry semakin menghindarinya lebih dari sebelumnya. Biasanya, kalau bertemu, mereka akan saling mengejek hingga ada orang yang memisahkan. Bahkan setelah apa yang terjadi di antara keduanya, setidaknya Draco masih punya kesempatan untuk menyapa—walau tidak menyapa dengan ramah. Tapi belakangan ini benar-benar tidak ada interaksi sama sekali di antara mereka.
Jelas sekali jika Harry lah yang menjauhinya. Sekilas saja mata mereka bertemu, Harry langsung mengalihkan pandangannya dan pergi. Bahkan Harry terkadang terang-terangan menghindarinya. Saat mereka tidak sengaja berpapasan, ia akan langsung berbalik tanpa memedulikan Draco.
Kalau seperti ini terus, Draco sudah dipastikan akan kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan Harry. Mendekati seseorang yang sedang punya pacar saja sudah sangat sulit. Apalagi jika orang yang didekati terus menghindar.
Draco bertekad, kalau ia bertemu dengan Harry, tidak akan dibiarkannya pemuda itu pergi lagi. Sekalipun Harry sedang bersama Cedric, Draco akan tetap menghampirinya. Lagi pula, Draco masih belum merasa cukup hanya dengan memberi luka kecil pada Cedric. Ingin sekali Draco membuatnya babak belur.
Tapi, kali ini Draco akan melupakan sebentar tentang rencananya menghajar Cedric dan membuat jengkel Harry. Ia harus mengurus dirinya terlebih dahulu. Draco harus mengurus orang-orang yang sedang membicarakannya ini. Sebenarnya bukan Draco yang menjadi topik utama mereka, namun Draco tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak merasa.
"Kau sudah dengar? Granger menjadi Face of University lagi tahun ini." Salah satu dari kedua pria itu mengobrol tidak jauh dari tempat duduk Draco sekarang. Mereka bicara dengan suara yang cukup keras sehingga orang lain bisa dengan mudah mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Untuk apa terkejut? Itu sudah biasa," balas temannya. Ia tampak tidak peduli pada awalnya, tapi kemudian ia mendengus geli. "Dan bersiaplah, tahun depan akan menjadi miliknya lagi. Jangan lupa kalau dia dekat dengan anak pemilik universitas ini. Jika Granger menginginkan sesuatu, dia hanya perlu meminta pada Potter. Lalu kemudian Potter akan bicara dengan ayahnya, dan gadis itu akan mendapatkan apa yang dia mau."
Temannya tertawa, setuju. "Enak sekali dia. Rasanya seperti orang kaya yang hanya perlu uang untuk masuk dan keluar dari tempat ini. Hanya saja, dia tidak perlu menggunakan uang. Potter terlalu baik untuk mengabulkan permintaannya. Coba saja kalau Granger sekaya Malfoy, sudah pasti dia akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari ini."
Mereka berdua terus bicara tanpa tahu jika nama orang yang mereka sebut berada di dekat mereka. Betapa mereka terkejut begitu Draco tiba-tiba bergabung.
"Kalian benar, Granger terlalu beruntung," ucap Draco mengejutkan kedua pemuda di depannya. Ia tidak menatap tajam ke arah mereka, malah ia terlihat santai. "Tapi, kalau aku boleh berpendapat, sepertinya salah jika mengatakan bahwa ini semua berkat koneksi. Lebih masuk akal jika mengatakan bahwa dia selalu menjadi yang terbaik karena otak cerdasnya. Dan aku berani bertaruh bahwa gabungan otak kelian berdua bahkan tidak sampai seperempat dari pintarnya dia."
Merasa sangat tersinggung, salah seorang pemuda mendengus. "Ini dia, uang yang berbicara," cemoohnya. "Baiklah, Granger memang pintar, tapi bagaimana denganmu? Apa kau yakin jika kau tidak memberikan sedikit dari banyaknya uangmu pada setiap profesor yang kau temui?"
Draco tidak tersulut emosi, malah terlihat makin santai. Ia bersiual. "Ooh, jadi kita bisa melakukan hal seperti itu ya. Hm, kalau begitu akan kucoba," ucap Draco penuh percaya diri membuat kedua pemuda itu makin kesal. "Tapi, daripada memberi uang untuk menaikkan nilaiku yang sudah bagus, apa mungkin aku bisa memberi uang untuk menurunkan nilai kalian?"
Wajah keduanya memerah. Mereka kompak mendecih pada Draco. Dengan beberapa umpatan, keduanya pergi meninggalkan Draco yang tersenyum puas.
Suasana hatinya yang sudah buruk dari tadi menjadi semakin buruk. Berlama-lama di tempat ini hanya akan membuat Draco jengah. Ia pun langsung melangkah pergi. Namun sebelum Draco benar-benar pergi, ia terkejut karena kemunculan seseorang.
"Thanks!"
"Aw—shit!" maki Draco pada Hermione yang entah datang dari mana. Jantungnya hampir saja copot karena kedatangan Hermione benar-benar tidak terduga.
Sementara itu Hermione hanya tertawa. Ia tidak berniat untuk mengejutkan Draco. Karena itulah, lucu mendapatkan reaksi terkejut Draco yang terlihat sangat konyol ini.
"Well, sorry," ucap Hermione meminta maaf tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Draco memutar mata malas. "Apa yang tadi itu? Kau berterima kasih untuk apa?"
"Kau pura-pura tidak tahu atau hanya ingin aku mengatakannya langsung?" Hermione malah balik bertanya.
Kening Draco berkerut. Tentu saja ia tidak tahu, makanya ia bertanya.
Melihat raut wajah Draco, sekarang Hermione tahu jika Draco tidak bertanya karena sekadar iseng. "Well, kau tadi membalas perkataan mereka yang menjelek-jelekkanku."
Draco tercengang. "I did what?" Ia tidak bisa menahan gelaknya. "Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Mereka menyebutku—secara tidak langsung—membayar untuk mendapatkan tempatku di sini."
"Memangnya tidak?"
"Kau menyebalkan."
Hermione tertawa kecil. "Yah, pokoknya terima kasih," gumamnya. "Apa kau mau minum seuatu? Aku yang traktir."
"Nope," balas Draco lugas. Ia bahkan tidak berpikir dua kali untuk menolak.
Ini adalah pertama kalinya Hermione dengan baik hati menawarkan minuman. Ini juga pertama kalinya Hermione dengan tulus berterima kasih pada Draco yang sudah ia anggap sebagai manusia paling menyebalkan sejak mereka bertemu. Lalu manusia menyebalkan itu dengan mudahnya menolak tawarannya? Hermione bisa melampiaskan rasa kesalnya dengan memukul Draco tepat di wajahnya sekarang. Tapi Hermioen menahan dirinya. Ia harus bersabar jika ingin mendapatkan waktu untuk bicara dengan Draco. Ya, dia harus mendapatkan kesempatan untuk bicara berdua dengan Draco.
"Kenapa?" tanya Hermione yang berusaha keras mempertahankan senyumnya.
"Aku tidak mau orang-orang mengira kalau kita dekat."
Jawaban penuh kejujuran itu makin membuat Hermione kesal. Tapi Hermione masih bisa bersikap sabar. Hanya saja Hermione tidak bisa menunggu hingga Draco menerima tawarannya. Karena itulah Hermione langsung saja menarik Draco bersamanya.
Tentu saja penarikan paksa ini tidak berjalan dengan mudah. Draco berkali-kali melepaskan tangannya dan mencoba kabur. Namun Hermione cukup gesit untuk menangkapnya kembali. Lalu Draco mencoba untuk berjalan berlawanan arah dengan Hermione. Tapi ia tidak bisa mengeluarkan terlalu banyak tenaga, karena meskipun Hermione sangat menyebalkan, Draco pantang untuk menyakiti perempuan. Dan itulah mengapa ia berakhir berada di kantin dengan Hermione. Sungguh sebuah keajaiban.
"Kau benar-benar keras kepala, sama seperti temanmu," gumam Draco yang bisa didengar oleh Hermione.
"Hm? Siapa? Harry?"
"Lupakan saja," balas Draco setelah menerima minumannya. Ia pun segera pergi karena merasa tidak ada urusan lagi di sini. Hermione menyeretnya ke sini karena ingin mentraktirnya, dan gadis itu sudah melakukannya. Tapi Hermione masih manahannya.
"Tunggu, aku mau bicara denganmu."
Draco menghela napas. "Apa lagi?"
"Apa kau menyukai Harry?"
Cough!
Draco yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak mendengar ucapan Hermione dengan suara santainya. Ia terbatuk berkali-kali karena tenggorokannya yang gatal. Hal itu membuat Hermione tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengambil ponsel. Ia mengabadikan momen langka ini. Kapan lagi ia punya foto konyol Draco Malfoy yang tersedak kopi begini.
"What the hell are you talking about?" Draco langsung balik bertanya. Tentu saja ia tidak bisa langsung menyangkal perkataan Hermione karena masih terkejut.
"Jawab saja, kau menyukainya atau tidak?"
"That's rubbish." Draco bicara dengan sangat meyakinkan. Tapi sayang, kejadian konyol sebelumnya tidak bisa memperkuat pernyataannya.
Hermione memutar mata malas. Radarnya mengatakan bahwa perkataan Draco adalah kebohongan. "Lalu kenapa kau mendekatinya?" tanya Hermione seolah-olah ia sudah mendengar kebohongan yang sama terus menerus. "Belakangan ini aku sering melihatmu menghampiri Harry lebih sering dari biasanya. Lalu untuk apa kau mengantarkan Harry? Walaupun Harry bilang itu bukan kalian, aku tidak percaya. Dan, yang tadi itu. Kau membelaku agar aku menganggap bahwa kau ternyata tak seburuk itu, sehingga aku bisa memberikan Harry padamu."
Draco tidak akan menyangkal beberapa hal yang disebutkan oleh Hermione. Tapi untuk yang terakhir itu, Draco sangat keberatan. "Aku membelamu hanya untuk mendekati Potter?" Hermione mengangguk. "Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Bukankah semua orang begitu? Dapatkan dulu hati orang tuanya, baru anaknya."
"Tapi kau temannya."
"Sama saja, semua orang yang akan menjadi pacar Harry harus lolos seleksiku."
Draco menggelengkan kepalanya. Jarang-jarang ia berbuat baik, dan sekarang malah dituduh ia melakukannya karena ada tujuan tertentu. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Jangan lupa kalau aku bahkan tidak tahu kalau kau ada di sana. Aku tidak mengatakan itu semua hanya untuk mendapatkan restumu." Draco menjawab sejujur-jujurnya, meskipun ia tidak begitu mau mengakuinya. "Lagi pula, aku tidak pernah berpikir untuk mendekati kalian untuk mendapatkan dia."
Dari nada bicara Draco, Hermione bisa tahu jika dia mengatakan kebenaran. Hermione senang mendengarnya, itulah kenapa ia tersenyum. Alasan lain Hermione tersenyum, karena Draco masuk ke perangkapnya. "Jadi kau mengakui kalau kau memang mendekati Harry?"
Draco bingung pada kesimpulan Hermione, tapi kemudian ia sadar. Perkataannya sebelumnya secara tidak langsung mengakui itu semua. "Jika. Hanya jika aku memang mendekatinya, aku bahkan tidak terpikirkan untuk mendekati kalian."
Hermione mengangguk-anggukkan kepalanya. Jelas ia tidak peduli sama sekali pada konfirmasi dadakan Draco. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, Malfoy. Dia sudah punya pacar. Kau bisa memberikan masalah padanya."
Draco tidak membalas. Tentu saja ia tahu hal itu dari awal. Karena itulah Draco tidak bisa mendekati Harry secara bebas. Harry tidak dalam posisi bisa menjadi miliknya kapan saja.
"Apa Diggory lolos seleksimu?" tanya Draco tiba-tiba.
Hermione sedikit bingung mendapatkan pertanyaan ini. Ia mengangguk, tapi hanya sekali. "Memangnya kenapa? Kau ingin tahu bagaimana caranya bisa lolos seleksiku?"
Draco menggeleng. Baginya lolos seleksi Hermione atau tidak bukanlah perkara besar. Yang Draco suka itu Harry, maka pendapat Harry lah yang paling penting. "Aku hanya ingin tahu, apa kau benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk temanmu. Kau tahu, beberapa orang sangat pintar bermain peran."
Draco tidak bermaksud menjelek-jelekkan Cedric di depan Hermione. Hanya saja, Draco yang dari awal tidak pernah menyukai Cedric makin tidak menyukainya sejak ia mencuri dengar perkataan Cedric beberapa hari yang lalu. Draco juga tidak akan mengatakan apa yang ia dengar pada Hermione. Gadis itu bisa saja menganggapnya berbohong agar bisa menyingkirkan Cedric.
Hermione hanya diam, tidak membalas. Setelah hening sesaat, barulah ia kembali bicara. "Hm, pokoknya jangan lupakan fakta bahwa dia punya pacar. Kau tidak seharusnya berkencan dengan orang yang punya pacar."
Draco hanya memasang raut tidak peduli. Tidak tahu saja Hermione kalau Draco dan Harry sudah melakukan hal yang lebih dari sekadar berkencan.
"I'll go," ucap Hermione dan kemudian pergi.
Draco menggeleng-gelengkan kepalanya setelah kepergian Hermione. "Perempuan memang menyeramkan. Aku harus lebih berhati-hati sekarang."
Draco masih berdiri di tempatnya. Meskipun ia tidak peduli pada Hermione, tapi beberapa perkataannya tertinggal di pikiran Draco. Tentu saja akan menjadi masalah jika mendekati seseorang yang punya pacar. Dan Draco juga tahu bahwa orang-orang akan berbicara jika mereka sampai tahu. Kalau saja Draco bergerak lebih dahulu dari Cedric, mungkin semuanya tidak akan sesulit ini.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Yuhuuuuuu~ Chapter 6 di sini~ Gimana? Masih ada yang nungguin cerita ini lanjut? Kalau memang ada, thank you~
See you!
Virgo
