Chapter 10: Enemies or Companies


Senyum di wajah Hermione lenyap. Wajahnya terlihat begitu serius saat mulai berbicara. "Aku sudah memperingatimu. Dia sudah punya pacar, kau tidak bisa seenaknya mengganggunya."

Draco mengangguk namun tidak sepenuhnya peduli. Ia jelas sangat mengerti akan posisi Harry yang berkencan dengan orang lain. Dan karena itulah ia tidak bisa bertindak lebih leluasa. Sekalipun dirinya adalah seorang Malfoy, Draco tidak akan bermain licik dengan mencuri kekasih orang lain.

Ron yang masih belum bisa sepenuhnya menerima informasi baru ini bersuara. "Apa yang kau inginkan dari Harry?" tanyanya pada Draco.

"Yang aku inginkan?" Draco balik bertanya karena tidak mengangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari Ron. "Aku menyukainya. Tentu saja aku ingin dia juga menyukaiku. Aku ingin bersamanya."

"Hanya itu?" Ron menyipiktkan matanya menatap Draco penuh curiga.

"Well, kalian mungkin akan membunuhku jika kubilang aku juga menginginkan tubuhnya." Dan benar saja, Hermione dan Ron langsung memelototinya.

Hermione kemudian bicara. "Kau boleh menyukai Harry. Tentu saja, itu perasaanmu. Tapi jangan pernah melupakan fakta bahwa Harry—"

"Punya pacar," sela Draco melengkapi perkataan Hermione. Ia memutar mata malas karena bosan mendengar peringatan yang sama lagi dan lagi. "Aku memang bukan orang yang baik. Tapi aku bukan bajingan yang akan bermain kotor untuk merebut seseorang dari kekasihnya."

"Benarkah?" timpal Ron. "Jadi, saat kau mentekel Cedric dan membuatnya cedera itu tidak ada hubungannya dengan Harry?"

"Tentu saja. Untuk apa aku membuat orang cedera hanya karena dia pacar orang yang kusuka?" Draco tidak berbohong sama sekali dalam perkataannya. "Aku memang benci padanya. Dan itu bahkan sebelum mereka berkencan. Hari itu aku mengincarnya karena sedang kesal."

Ron dan Hermione saling pandang. Anehnya, mereka bisa mendengar kejujuran dalam suara Draco.

"Lalu kenapa kau masih mendekati Harry seolah-olah dia lajang?" tanya Hermione.

Draco mengedikkan bahu. "Karena aku menyukainya dan ingin menjauhkannya dari si berengsek itu."

Lagi, Ron dan Hermione saling pandang. Mereka seolah bisa membaca pikiran masing-masing dan kembali bertanya. Hermione kembali bertanya. "Kenapa kau menyebut Cedric berengsek? Kau tidak lebih baik darinya."

Sepertinya Draco mulai mengerti apa yang dicoba lakukan oleh Hermione dan Ron. "Kalian sendiri juga tahu betapa berengseknya dia."

"Kenapa kau yakin sekali?" balas Ron.

Sebuah seringai percaya diri terlukis di wajah Draco. "Kau secara tidak langsung mengatakannya padaku," jawabnya. "Kau bertanya apa yang aku inginkan setelah tahu jika aku menyukainya. Kau tidak mungkin hanya sekadar bertanya karena orang yang menyukai temanmu adalah aku. Kau terdengar sudah jengah. Seolah-olah ini bukan kali pertama kau bertanya hal yang sama."

Mendengar penjelasan Draco membuat Ron sedikit terkejut. Ia sepertinya lupa jika kepintaran Draco hanya satu tingkat di bawah Hermione. "Kau detektif yang hebat."

"Thanks," Draco sama sekali tidak terdengar tersanjung.

"Jadi kau tahu bagaimana sifat Cedric yang sebenarnya," Hermione bersuara, "dan menggunakan hal itu untuk mendapatkan Harry. Kau akan memberitahu Harry semua hal buruk tentang Cedric, dan kemudian mereka akan putus, lalu kau bisa bersama Harry. Kau harus membuat rencana baru."

"Bahkan hal itu tidak pernah terpikirkan olehku."

Hermione menatap Draco tanpa mengalihkan sedetik pun pandangannya. Ia bisa melihat kepercayaan diri di wajah Draco. Itu membuatnya tidak bisa lagi membalas. Hermione yakin jika Draco tidak akan menyerah, apa pun yang akan dikatakannya. "Kau pantang menyerah."

"Thanks." Sekali lagi, Draco tidak terdengar tersanjung.

Hermione sekarang merasa lelah. Tidak ada gunanya lagi berbicara. "Pokoknya, jangan bertindak berlebihan." Hermione akan menjadikan itu kata-kata perpisahan mereka dengan Draco. Namun sebelum ia dan Ron sempat pergi, Draco kembali bicara.

"Kalian tahu bagaimana Diggory memperlakukan dia. Kenapa kalian membiarkan teman kalian dengan orang seperti itu?" tanya Draco dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada sedikit pun keangkuhan dalam suaranya. "Kenapa kalian tidak memberitahunya?"

"Karena dia tahu," jawab Hermione tanpa menyembunyikan satu hal pun.

Ron yang awalnya mencegah Hermione untuk menjawab pada akhirnya menghela napas. Ia juga sudah lelah tutup mulut. "Ya, Harry tahu jika Cedric mengambil keuntungan dari hubungan mereka."

Draco tetap diam, menunggu Ron dan Hermione untuk melanjutkan. Namun sepertinya mereka tidak lagi ingin bicara. Hal itu membuat Draco harus bertanya lagi. "Dan?"

"Dan?" beo Hermione dan Ron.

"Dan apa kalian tidak mau mengatakan hal lainnya?" Draco mencoba untuk membuat Ron dan Hermione bicara lebih banyak. Tapi pada akhirnya dialah yang berbicara karena tidak satu pun dari mereka berdua buka suara. "Bukan hanya memanfaatkannya. Si berengsek itu juga mempermainkannya. Dia tidak benar-benar menyukai Har... Potter, kalian tahu itu."

Kening Hermione berkerut karena tidak setuju. Namun itu bukan berarti Hermione menyangkal. "Apa kau mencoba membuat Cedric makin terlihat lebih buruk di depan kami agar kami berpikir jika kau lebih baik darinya?"

Sungguh, sampai kapan Draco harus dibuat lelah oleh mereka. "Saat Potter berkali-kali menghubunginya dan dia tidak menjawab panggilannya. Tidak tahukah kalian jika dia sengaja melakukannya?"

"Kau tahu dari mana?" tanya Ron. Meskipun Ron sudah pernah menduga hal itu, tapi ia tidak menyangka jika itu benar.

"Well, aku hanya tidak sengaja mencuri dengar pembicaraannya dengan teman-temannya," balas Draco.

Hermione berpikir panjang. Ia diam cukup lama. "Apa kau serius dengan perkataanmu?"

Draco mengangguk dengan yakin.

"Kubilang juga apa," sembur Ron yang tiba-tiba marah, "seharusnya kita tidak mengizinkan Harry berkencan dengannya."

Hermione menyikut Ron. "Kau tidak pantas marah. Kau juga yang mengatakan pada Harry jika Cedric cukup baik."

Ron terlihat jengkel. Tapi sekarang ia juga kesal pada dirinya sendiri.

Melihat Hermione dan Ron yang sudah mempercayainya, Draco kembali bertanya. "Kenapa kalian tidak bicara saja dengan Potter? Beritahu dia semua hal yang tidak kalian suka dari Diggory."

Hermione menatap Draco dengan sinis. Ia sangat tidak suka dengan nada suara Draco yang seolah mengatakan bahwa sekarang ia dan Ron lah yang salah. "Lalu kenapa kau juga tidak mencoba untuk bicara dengan Harry? Lagi pula, kau yang mengetahui jika Cedric tidak benar-benar menyukainya."

"Dan kau pikir dia akan percaya?"

Tentu saja tidak. Hermione merasa bodoh karena sudah mengatakan hal itu.

"Dia tahu jika dia dimanfaatkan," Draco kembali bicara, "kenapa teman kalian itu bodoh sekali? Apa dia tidak merasa perlu mengakhiri hubunganya?"

"Tepat sekali," imbuh Hermione. Raut wajahnya sekarang berhenti sedih. Ia bahkan menghela napas berat. "Dia tidak merasa perlu untuk mengakhiri hubungannya. Dia selalu berkata, 'Kami akan baik-baik saja selama salah satu dari kami mengalah.'"

"Tapi dia selalu menjadi orang yang mengalah." Draco tidak bicara dengan keras, tapi itu cukup untuk di dengar oleh Hermione dan Ron.

Sekali lagi menghela napas, Hermione melirik Draco. "Apa kau benar-benar menyukainya?"

Draco mengangguk. "Aku tidak akan bicara dengan kalian jika aku hanya bercanda."

Hermione terlihat ragu-ragu. Ia kemudian beralih pada Ron. Sekali lagi, mereka bicara tanpa bersuara. Ron pun langsung mengerti arti anggukan yang diberikan Hermione padanya. Namun Ron tidak balas mengangguk, ia malah mengacak-acak rambutnya. Terlihat jelas jika Ron tidak bisa memutuskan akan melakukan apa.

Sedang Draco dibuat bingung dengan tingkah dua orang di depannya. "Ada apa dengan kalian?" tanyanya penasaran.

Hermione kembali menghadap Draco. Ia menarik napas dalam dan mulai bicara. "Aku tidak bilang jika kami memberikan restu padamu untuk mendekati Harry."

Draco mengernyit, bingung. Ia membiarkan Hermione menyelesaikan perkataannya.

"Aku hanya ingin bilang jika kau bisa ikut membantu kami untuk membuat Harry sadar betapa bodohnya dia." Hermione menghembuskan napas panjang seolah-olah baru saja mengatakan rahasia besar pada orang lain.

Sementara itu, di sampingnya, Ron hanya melipat tangan di dada. Ron sebisa mungkin tidak bertemu pandang dengan Draco. Ia merasa kalah—entah dalam hal apa—jika sampai memperlihatkan persetujuannya.

Meskipun pintar dan cepat berpikir, Draco tetap akan dibuat kebingungan jika situasinya seperti ini. Sahabat terdekat dari orang yang disukainya, yang setahunya tidak begitu menyukainya, mengatakn sesuatu tentang kerja sama. Dan yang lebih parah lagi, kerja sama ini tentang menghancurkan hubungan sahabat mereka sendiri.

"Kenapa kau diam saja?" Hermione tiba-tiba membentak Draco. Sepertinya kesal karena Draco tidak memberi reaksi apa-apa, padahal ia sudah membuang sedikit harga dirinya untuk meminta bantuan.

"Kau ingin aku mengatakan apa?" Draco tidak berniat untuk membuat Hermione dan Ron makin kesal. Tapi ia benar-benar bingung harus bicara apa.

Hermione tidak tahan lagi. Ia langsung mengaitkan lengannya pada lengan Ron. "Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja jika kami hanya bercanda. Lagi pula, kami tidak punya alasan untuk serius," katanya dan langsung pergi dengan Ron.

Mereka berjalan begitu cepat hingga Draco tidak punya kesempatan untuk mengejar. Draco bahkan sudah tidak bisa menemukan di mana Hermione dan Ron. Saat ia ingin mencari ke mana keduanya pergi, satu mobil baru saja keluar dari parkiran. Jelas jika itu adalah mobil Ron.

Draco masih berdiri di tempatnya. Ia terdiam memikirkan perkataan Hermione padanya. Draco sama sekali tidak merasa menyesal karena telah melewatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan sahabat terdekat Harry itu. Yang Draco inginkan adalah Harry. Ia tidak mau dianggap menggunakan Hermione dan Ron sebagai kartu pas untuk mendapatkan Harry. Meskipun, jujur saja, tawaran itu terdengar cukup menggiurkan.

.

.

TBC

.

.

.


.

A/N

Waaah, cerita ini udah sampe aja di chapter 10. Gimana? Masih ada yang nungguin cerita ini buat lanjut tiap minggunya? Thanks biat semua yang menyempatkan diri mampir :)

See you!

Virgo