"Wah~ ada yang akan pergi kencan ya"

Halilintar mengurut pangkal hidungnya karena kepalanya terasa pening. Mungkin sudah kali ke lima Aba menggoda cucunya ini dengan jahil, menikmati respons kesal pemuda itu.

"Cuma pergi nonton film, tok" sahut Halilintar sembari memakai sepatu, kedua tangannya sibuk menyimpul tali.

Aba mencoba sup buatannya dengan raut wajah puas, kemudian mengaduknya kembali dengan telaten untuk menyelesaikan masakannya.

"Jangan pulang terlalu malam, kalau sempat, makanlah di sini. Atok masak banyak" ujar sang kakek dengan lembut sembari menuangkan isi panci ke dalam mangkuk.

Aroma yang mengguar dari sana sempat membuat Halilintar tergugah untuk mencicip, tapi ia mengurungkan niatnya karena sudah ada seseorang yang menunggunya di luar.

"Kalau kalian makan di luar, kamu yang bayar ya. Jangan sampai perempuan yang bayar"

Halilintar mendengus mendengar wejangan sang Kakek. "Iya. Aku pergi dulu. Assalamualaikum." Pemuda itu mengecup punggung tangan Aba kemudian berlalu pergi setelah menutup pintu.

"..waalaikumsalam" sahutnya dengan lembut.

"Hihi cucuku sudah besar.."

.

.

.

Boboiboy Monsta Studios

Story by Drazillagirl

Rate T / Angst, Drama

WARNING(S): AU, Terdapat Pairing dan karakter tambahan di cerita ini, Italic untuk Flashback, dan (mungkin) OOC. Bahasa campur aduk.

.

.

.

Tin! Tin!

Halilintar memusatkan pandangannya pada sebuah mobil berwarna kuning yang terparkir di pinggir jalan, tepat di depan rumah sang kakek. Seorang gadis yang menyembul dari kaca mobil sedang melambaikan tangannya ke arah Halilintar dengan semangat.

Pemuda itu mendengus. Tidak apa Halilintar. Hanya hari ini. Batinnya berbisik menguatkan diri.

Ia kemudian berjalan ke arah pintu penumpang, membukanya, lalu segera duduk dan memakai sabuk pengaman seperti sebuah robot yang sudah terprogram, tanpa berkata apa-apa.

Melihat Halilintar yang sudah duduk tenang di sampingnya, Ying menstater mobil dan menancap gas.

Satu menit ..

Dua menit ..

Tiga menit ..

Hening masih setia menemani keduanya, baik Ying dan (apalagi) Halilintar tidak membuka suara sama sekali. Padahal hampir setiap hari gadis itu akan datang ke kedai untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar membeli minuman dan mengobrol dengannya (baca : mengganggu Halilintar). Tapi sekarang, Ying tidak bisa berkutik.

Ying memiliki banyak teman karena memiliki sifat yang ramah dan mudah berbaur, hal itu menjadi semacam magnet yang membuat orang-orang sekitar tertarik. Ia bisa berbincang-bincang dengan lawan bicaranya dengan lugas dan selalu bisa menemukan topik yang menyenangkan hingga obrolan pun mengalir.

Tapi untuk sekarang, bakatnya itu seakan lenyap. Ying tidak bisa membuka percakapan dengan mudah jika lawan bicaranya adalah Halilintar.

Dan setelah mengecek peta di ponselnya, masih ada sekitar delapan belas kilometer lagi jarak yang akan mereka tempuh, itu artinya Ying harus bisa menenangkan jantungnya yang heboh sepanjang perjalanan karena duduk berdua dengan Halilintar dalam jarak sedekat ini.

Tangannya jadi sedikit gemetar dan kehilangan fokus hingga beberapa kali harus mengerem secara mendadak.

"Baru belajar nyetir?" celetuk Halilintar.

"Enggak kok-" Ying gelagapan, hampir saja keceplosan bicara kalau ia sedang nervous! Bisa-bisa Halilintar minta turun nanti.

Sesekali ia mencuri pandang ke arah laki-laki yang ada di sebelahnya dengan kagum, tapi enggan membiarkan Halilintar tahu kalau ia sedang memperhatikannya.

Halilintar menggunakan kaos putih dan kemeja berwarna senada yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Sneakers putih dan jam tangan yang ia gunakan juga menjadi pelengkap penampilannya hari ini.

Rambutnya rapi, jangan lupakan wangi parfum yang tercium dari tubuhnya. Meski memang sehari-hari saja Halilintar selalu wangi, tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda.

Para pembaca yang budiman, tolong ingatkan Ying untuk tidak nekat loncat dari dalam mobil-

..karena Halilintar sangat tampan!! TwT

It's me, hi, I'm the problem, it's me

At tea time, everybody agrees

Ying bersenandung pelan mengikuti alunan musik, menunggu lampu merah yang baru saja menyala menghadang mobilnya-mencoba untuk mengalihkan kegugupannya dan meredakan detak jantung yang tidak karuan.

I'll stare directly at the sun but never in the mirror

It must be exhausting always rooting for the anti-hero

(Taylor Swift - Anti Hero)

Lagi-lagi ia mencuri pandang ke arah Halilintar yang tengah mengamati jalanan dari kaca mobil penumpang dengan raut wajah yang tenang.

"Hali"

"Hm"

"Lihat apa?"

Halilintar tidak langsung menjawab, ia masih fokus mengamati jalanan.

Sebenarnya tidak ada hal yang menarik matanya di luar sana, hanya saja Halilintar lebih memilih untuk memalingkan wajahnya agar tidak bertemu tatap dengan gadis itu. Situasi mereka sekarang sudah terasa canggung, ia tidak ingin memperparahnya.

"Langitnya gelap" ujarnya pelan, akhirnya memiliki objek untuk dijadikan alasan.

Langit memang sudah menggelap, padahal jam baru saja menunjukkan pukul satu siang, waktu di mana seharusnya matahari tengah menyorot bumi dengan terik. Tapi kali ini sosoknya sudah tidak terlihat, sepertinya tertutup awan.

Angin berhembus cukup kencang, memberikan rasa cemas kepada manusia-manusia yang tengah sibuk beraktivitas di luar ruangan. Ying yakin akan ada badai sore nanti, atau bahkan sebentar lagi.

"Iya.. kemarin hujan deras. Sepertinya hari ini juga" sahut Ying. Lampu merah telah berganti warna, Ying melepas rem dan kembali menekan pedal gas perlahan.

"Padahal seru kalau main di pantai. Tapi tidak bisa karena ombaknya sedang tinggi" ocehnya.

"Kapan-kapan kita harus main di di sana~" Ying antusias membayangkan bagaimana asyiknya jika mereka menghabiskan waktu bersama di pantai, banyak yang bisa mereka lakukan. Mulai dari berenang, membuat istana pasir, bermain dengan ombak..

Namun seperti biasa, hanya ada hening tanpa respons. Ia lupa bahwa Halilintar adalah jenis manusia yang senang membuat lawan bicaranya bermonolog.

Tapi tak apa, Ying sepertinya mulai terbiasa dengan sikap Halilintar yang hanya bicara seperlunya. Ia setuju untuk ikut dengannya, meluangkan waktu, dan bersedia duduk di sebelahnya saja sudah merupakan sebuah keajaiban 'kan?

Ying mencoba kembali fokus menyusuri jalan melalui kendali setirnya.

"Anu, Hali.." Ying terdiam sebentar, menimbang pantas atau tidaknya pertanyaan yang akan ia lontarkan, jangan sampai Halilintar merasa tidak nyaman-itu yang dikatakan oleh salah satu artikel website yang ia selami tadi pagi;7 Tips Sukses Kencan Pertama.

"Kamu betah tinggal di sini?" Ying bertanya dengan ragu.

Meski Halilintar baru lima bulan tinggal dengan kakeknya, tapi gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-setidaknya agar ia tidak terjebak dalam perjalanan yang hening nan canggung ini.

Halilintar terlihat berpikir, ia sedikit mengerutkan alisnya.

"..lumayan" ujarnya asal.

Mendengar pertanyaan Ying, Halilintar jadi memikirkan jawabannya tadi. Mungkin karena daerah ini dekat dengan laut, ia bisa memanjakan matanya untuk menikmati keindahan alam kapan saja. Ia juga bisa jauh dari kepenatan dan tekanan rumah karena tidak harus berurusan dengan mereka.

Meski tentu saja minusnya adalah- ia harus bertemu dengan Ying, udara yang panas, dan harus rela pikirannya terserang oleh rasa khawatir setiap hari karena tidak bisa menjaga adik-adiknya secara langsung.

Entah apa maksudnya, tapi Ying bisa mengerti kalau Halilintar cukup senang berada di sini. Gadis itu terkekeh pelan, senang hanya dengan mendengar jawabannya yang super pendek itu.

.

.

.

Mereka akhirnya sampai di Rintis Mall, sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar tapi menjadi destinasi utama masyarakat untuk berbelanja atau sekedar mencari hiburan.

Ying ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada jantungnya yang sudah bekerja keras-tidak membiarkannya tewas di tengah jalan karena berhenti berdetak.

Jantungnya berhasil menyelamatkan nyawanya dari ketampanan Halilintar.

Oke cukup, itu berlebihan.

Setelah memarkirkan mobil, mereka kemudian masuk melalui lift basement.

"Masih ada waktu satu jam.. kayaknya kita terlalu cepat datang" ujar Ying-yang sebenarnya tersenyum senang dalam hati karena itu artinya masih ada banyak waktu untuk mereka habiskan bersama!

Gadis itu tentu saja memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Ying membawa Halilintar berkeliling menyusuri isi mall untuk mengikis waktu.

"Mau ke mana sekarang?" Halilintar mengehela nafas, disana terlalu banyak orang. Hari minggu membuat pengunjung memenuhi tempat ini.

Ying terlihat berpikir, ia menelusuri deretan toko yang ada di sana. Matanya tertumbuk pada sebuah toko yang menjual pernak-pernik lucu.

"Ke sana yuk!" ia menunjuk toko itu dengan mata berbinar. Halilintar mau tak mau harus mengikutinya.

"Waah, lucunya" Ying masuk ke lorong bagian aksesoris, banyak pernak-pernik menggemaskan yang terpajang di etalase. Ia sampai bingung dan heboh sendiri.

"Hali, bagus ini atau.. ini?" ia menunjukkan dua jepit rambut pilihannya kepada Halilintar yang sepertinya tidak peduli.

"Bagus semua" jawabnya asal.

"Pilih satu Hali" bujuk Ying-sedikit memaksa, dengan mata yang berkilauan.

Oke, ia menyerah. Halilintar akhirnya memperhatikan kedua benda itu dengan baik. Jepit pertama berbentuk bunga matahari, sedangkan yang satunya lagi berbentuk daun.

Sepertinya Ying akan sangat cantik jika menggunakan jepit bunga matahari itu, selaras dengan pribadinya yang ceria dan bersinar seperti matahari. Tapi jepit berbentuk daun itu juga bisa membuat penampilannya menjadi elegan jika Ying menghadiri acara formal menggunakan dress atau setelan resmi.

Jujur saja Halilintar sedikit kesulitan untuk menentukan jepit mana yang harus Ying beli karena keduanya sama-sama bagus. Tapi pada akhirnya ia harus menentukan pilihan.

"Ini," Pemuda itu menunjuk jepit yang ada di tangan kiri Ying, jepit berbentuk bunga matahari yang menjadi pemenangnya.

Ying mengerutkan keningnya, membuat kedua matanya semakin minimalis, "Hm.. ini bagus. Tapi aku juga suka yang ini" Kelihatannya Ying belum terbantu oleh pertimbangan Halilintar.

"Ah aku beli dua-duanya deh" gadis itu mengulum senyum dan memasang jepit pilihan Halilintar terlebih dahulu di rambutnya.

Sebuah perempatan imajiner lahir di dahi Halilintar.

"Terus ngapain tanya?"

Pemuda itu mencoba sabar, ia menghela nafasnya dalam. Sepertinya ini akan jadi hari yang cukup berat.

Ying dengan polosnya tidak menyadari 'kemurkaan' Halilintar dan memilih untuk mengecek penampilannya pada sebuah cermin yang tergantung di deretan rak, sebuah cermin khusus yang disediakan oleh pihak toko agar pembeli bisa melihat aksesorinya secara langsung ketika digunakan di tubuh mereka.

Ia berjinjit, mencoba untuk berkaca tapi posisinya cukup tinggi.

"Tinggi banget sih pasang kacanya" ia mengomel, sebal.

"Kamunya yang pendek" celetuk Halilintar, wajah Ying berubah masam.

Apakah Yang Mulia Paduka Halilintar ini tidak tahu bahwa topik mengenai berat badan dan tinggi badan perempuan bisa menjadi alasan pecahnya perang dunia??

Sepertinya tidak.

Atau, sengaja.

"Iya, aku memang pendek. Kamu ketinggian. Dasar serakah."

Apa yang bisa dilakukan manusia berukuran 156 sentimeter saat diolok-olok oleh manusia yang tingginya mencapai angka 178 sentimeter?

Tentu saja berserah diri.

Pemuda itu menahan senyumnya, menikmati raut wajah kesal Ying yang tidak bisa ia sembunyikan.

Oho, seru juga ya jahili orang, apalagi perempuan ini sangat ekspresif. Sekarang ia bisa mengerti kenapa Taufan sangat menikmati kegiatan ini jika sedang kumat bengalnya.

Ying cemberut, gagal melihat jepit yang terpasang di rambutnya. Ia jadi ingin melemparkan protes kepada dewa, kenapa ia harus dilahirkan kembali dalam tubuh yang mungil ini? Apakah dirinya di masa lalu telah berbuat dosa pada manusia kerdil?

"Nih, bagus" Halilintar menjulurkan ponsel yang ada di tangannya, menunjukkan sebuah foto pada Ying.

Halilintar memotret Ying secara candid agar gadis itu bisa melihat aksesoris yang terpasang di rambutnya. Ia kelihatan manis.

Air wajahnya seketika berubah cerah, "Uwahh iya bagus" Ying tertegun kagum melihat hasil jepretan Halilintar.

"Kamu jago potret ya!" Matanya berbinar, perempuan ini seakan lupa bahwa tiga menit yang lalu Halilintar baru saja menistakan tinggi badannya.

Halilintar menahan senyum, menarik kembali ponselnya, "Enggak juga".

Tidak, Halilintar tidak sedang merendah. Dia memang tidak memiliki keahlian di bidang itu.

Karena jika yang ia potret adalah lalat, maka hasilnya adalah lalat. Tapi jika ia memotret bunga, rembulan, dan kupu-kupu, maka keindahan mereka juga yang akan terabadikan di dalamnya 'kan?

"Nanti kirim fotonya ya!"

Pemuda itu tidak menggubris, tapi Ying tahu kalau jawabannya adalah iya.

Setelah itu Ying masih sibuk mengitari isi toko, ia melihat-lihat banyak barang yang terpajang. Mulai dari aksesoris, boneka, hingga mainan. Halilintar hanya bisa membuntutinya di belakang dengan pasrah. Rasanya seperti sedang mengasuh seorang balita yang hyperaktif.

Setelah puas melihat, Ying pergi menuju kasir, mereka lalu keluar dari sana saaat Ying tiba-tiba mendapatkan ide untuk menyeret Halilintar ke bagian arcade.

Halilintar memperhatikan sekitar, ini kan tempat kesukaan Taufan jika pergi ke mall. Tempat yang lebih berisik dibanding bagian mana pun karena banyak suara dari mesin game dan orang-orang yang berteriak termakan euforia.

Omong-omong soal adiknya, apa dia sudah sembuh? Sudah lewat tiga hari tapi Gempa maupun Taufan belum memberikannya lagi kabar.

Ying baru saja selesai mengisi ulang kartunya dan kembali menghampiri Halilintar.

"Hali, main itu yuk!" ia menunjuk sebuah mesin arcade yang dilengkapi oleh senapan mainan di setiap sisinya.

Tanpa menunggu persetujuan Halilintar, Ying berlari menghampiri permainan itu.

"Apaan ini?"

"Lawan zombie, pakai ini" Ia memberikannya sebuah senapan untuk Halilintar gunakan nanti.

"Aku pernah tembus skor 5000 lohh!" ujarnya dengan bangga. Ying tersenyum senang, ia kemudian menggesek bagian mesin Halilintar dan bagiannya, lalu mulai bersiap.

Sepertinya Halilintar tertarik, ia mulai mengikuti permainan.

Mereka berdua menikmati permainan, di dalamnya terdapat dua tokoh yang berperan sebagai survivor , mereka memiliki misi untuk bertahan hidup dari kejaran para mayat hidup yang memburu mereka. Ying dengan heboh selalu memperingati Halilintar jika ada zombie yang belum mati dan kembali menyerang, ia juga sering kali mendapatkan back up dari Halilintar.

Ying sempat menoleh, pemuda itu terlihat sangat fokus. Ia mengulum senyum melihat Halilintar yang semakin tampan karena sedang memberikan semua atensinya pada permainan.

"Ying, awas!"

Gadis itu mengalihkan kembali perhatiannya pada monitor, di sana ada zombie yang menyerangnya tanpa ia sadari-menghabiskan sisa darahnya yang tinggal sepuluh persen.

dan game over.

"Ehe, maaf" Ying terkekeh, game akhirnya berakhir karena ia kehilangan fokus. Tapi Halilintar tidak merisaukannya.

"Katanya bisa sampe 5000" sindirnya, Ying melihat papan skor miliknya dan tertera angka 3889 di sana.

"Ih itu cuma kurang 1111 poin!"

"Tetep aja gak sampe 5000"

Ying memutar matanya, kemudian melihat papan skor Halilintar yang menunjukkan angka 6578.

"Ahh kok bisa?!"

Ying bahkan harus bersusah payah dan berdarah-darah saat dulu mendapatkan skor yang sangat dibanggakannya itu. Tapi pemuda ini bisa mendapatkannya dengan mudah.. dalam sekali coba?!

"Makanya, fokus" Halilintar menunjuk pelipisnya sendiri dengan senyum mengejek. Ying mengerutkan bibirnya, sebal.

"Dua puluh menit lagi" Halilintar mengecek jam yang ada di tangan kirinya, mengingatkan Ying agar tidak kebablasan.

Mereka akhirnya memutuskan untuk jalan menuju teater dan akan menunggu di sana hingga film dimulai.

"Waahh matchaa!" gadis berkacamata itu berlari dengan antusias menuju sebuah stand es krim yang menyediakan berbagai menu pencuci mulut. Mulai dari es krim dengan rasa basic-coklat hingga es krim rasa matcha dan sebagainya.

"Kamu mau?"

Pemuda itu menggeleng, "Gak suka"

"Eh kenapa? Enak tahu, maniss.. dingin"

"Iya karena manis" sahutnya sembari sibuk dengan ponsel-entah bicara dengan siapa.

Oke Halilintar tidak suka makanan manis, ia harus mencatatnya nanti!

Ying menerima es krim dari si penjual dengan girang, lalu melanjutkan perjalanan menuju eskalator untuk mencapai bioskop.

"Enak bangett" Ying berseri-seri.

Halilintar menoleh ke arahnya sekilas, "Rumput kok dibilang enak" celetuknya.

"Ih enak tahu!"

Manusia mana yang mengatakan bahwa matcha tidak enak?! Dan rasanya seperti rumput??

Oh, manusia itu adalah Halilintar.

"Cobain deh-"

"Gak, aku benci banget rasa ijo itu"

Halilintar teringat minuman rasa matcha yang dibeli Taufan. Karena penasaran ia mencobanya. Bisa kau tebak, minuman itu berakhir di tempat sampah dan menjadi tersangka yang membuatnya diare selama tiga hari.

"Terserah deh, pokoknya ini enak banget" Ying masih dengan pendiriannya.

"Aneh. Kayak biri-biri aja suka makan rumput" ejeknya.

"Enak aja disamain sama kambing!" protes Ying.

"Biri-biri itu bukan kambing, pintar"

"Kan masih satu keluarga!" sahutnya tidak mau mengalah.

"Terserah deh, pokoknya matcha itu enak!"

Dan perjalanan mereka menuju bioskop dihabiskan dengan berdebat mengenai rasa es krim yang tidak bersalah itu.

.

.

.

"Sudah sehat?"

Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar ponsel milik Taufan yang ia simpan di atas meja. Tentu saja pesan itu berasal dari kakaknya, Halilintar.

Taufan ingin memeriksanya, tapi tubuhnya masih enggan diajak bekerja sama, tenaganya belum pulih, jadi ia hanya meringkuk di bawah selimut dan membiarkan benda persegi itu bergetar tanpa balasan. Ia hanya mampu melirik jam yang ada di dinding depan ranjangnya.

Pukul tiga sore..

Ia sempat mendengar suara samar-samar Gempa yang membangunkannya tadi pagi..mungkin? Saudaranya itu memintanya untuk bangun dan minum obat sebelum makan, tapi sepertinya ia tidak berhasil membangunkannya. Tubuhnya terlalu lemas. Tapi Taufan tahu Gempa sudah menyiapkan obat dan segelas air putih di meja samping tempat tidurnya sebelum berangkat ke rumah Hanna, lengkap dengan semangkuk bubur yang sekarang pasti sudah dingin.

Sejak terakhir ia pulang sekolah di hari rabu yang lalu, demamnya belum juga hilang, tapi datang dan pergi setiap hari. Halilintar memang sudah memberikannya obat dari resep dokter, tapi sepertinya belum cukup untuk menghapus rasa sakit di kepala dan demam yang dirasakannya hingga hari ini.

Taufan meringis, padahal waktu lomba sudah dekat, tapi ia malah tumbang. Beruntung guru pelatihnya bisa mengerti keadaan Taufan dan memintanya untuk tidak memaksakan diri. Ia bahkan menawarkannya untuk beristirahat lebih lama.

Anak laki-laki itu mendesah, ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Kesempatan untuk mengikuti lomba dan memenangkannya, agar piala yang ia peroleh itu bisa ia berikan pada Amanda, agar sang ibu mengakui dan memujinya dengan tulus. Bukan dengan kepalsuan.

Taufan menutup matanya dan mencoba untuk kembali tidur. Mungkin setidaknya ia bisa meringankan rasa sakit di perut yang sekarang mendominasi dan tubuhnya bisa segera pulih.

"Nak Taufan.."

Sebuah suara dari balik pintu memecah konsentrasinya untuk tidur. Ia mendengar suara familier yang belakangan ini jarang ia dengar. Suara Bibi Anna.

"Saya masuk ya"

Taufan ingin sekali merespons, tapi rasa sakit di perutnya menghalanginya untuk bersuara.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

"Ya ampun.. maafkan bibi ya.. satu minggu kemarin anak bibi sakit.." Ia masuk dan membawa nampan yang berisikan makanan hangat serta kompresan, sirat khawatir tercetak di wajahnya yang mulai terhias keriput itu.

Tanpa penjelasan lebih lanjut pun Taufan sudah memakluminya, jadi ia hanya mengangguk lemah.

Wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang, menyimpan nampan dan mempersiapkan kain untuk mengompres dahi Taufan. "Sudah ke dokter?"

Anak laki-laki itu menggeleng, "Kemarin.. dibelikan obat oleh kak Hali" ujarnya dengan suara yang sangat pelan-terdengar seperti menahan sesuatu.

Bibi itu memandangnya dengan tatapan khawatir dan iba.. jika saja Gempa tidak memberi pesan soal kondisi Taufan, ia tidak akan tahu. Karena Amanda juga tidak bicara soal Taufan yang sedang sakit.

Setelah mengompres dahinya, wanita itu bisa melihat wajah Taufan yang semakin pucat. Tidak ada senyum jahil atau keramahan yang terpancar di wajahnya, hanya ada raut wajah yang tersiksa.

"Astaga.. tinggi sekali demamnya" ia menarik termometer yang sempat dijepit di ketiak Taufan selama beberapa detik, dan angka di benda persegi itu mencapai 38 derajat celsius.

Dengan instingnya sebagai seorang ibu, wanita itu segera berlari keluar kamar menuju kamar majikannya di lantai satu. Tapi tak lama kemudian ia kembali seorang diri dengan panik,

"Aduh, nyonya sedang ada urusan di luar rumah.."

Ia mondar-mandir dengan gelisah. Suatu kebiasaan yang tidak bisa hilang jika bibi sedang panik atau tertekan. Taufan ingin sekali tertawa dan menenangkannya. Tapi tidak bisa, perutnya semakin sakit, kulitnya terasa seperti terbakar. Taufan sadar bahwa memang ada yang salah dengan tubuhnya dan ia butuh pertolongan.

Anna akhirnya menelepon seseorang dengan panik, mengundang seorang laki-laki yang ia tahu sebagai sopir pribadi keluarga Fang-baru saja tiba setelah lari terbirit-birit dari lantai bawah, masuk ke kamarnya tanpa permisi.

"Nak Taufan harus dibawa ke rumah sakit!"

Tubuhnya terasa semakin melemah, berbanding balik dengan rasa sakit di perutnya yang sangat menyiksa. Sepertinya ia tidak bisa lagi bertahan karena pandangannya mulai memburam dan kepalanya terasa berputar. Perutnya yang kosong itu juga seakan ingin mengeluarkan isinya.

Dan yang ia tahu, pandangannya menggelap beriringan dengan suara panik dari bibi Anna dan pak Qually.

.

.

.

"Oke amunisi aman!" Ying tersenyum puas melihat sebuah box popcorn berukuran besar di tangannya dan dua minuman bergula di tangan Halilintar.

"Gak salah?" Laki-laki itu tertegun-bukan, lebih tepatnya heran karena Ying memilih camilan sebesar itu untuk durasi film yang berlangsung selama dua jam. Tapi Halilintar mendapat anggukan mantap dari Ying.

Oh iya, lupakan soal amanat kakeknya tadi karena Ying adalah perempuan yang keras kepala. Ia bersikeras membayar semuanya sendiri dengan alasan bahwa acara jalan-jalan ini adalah idenya, jadi dia yang harus menafkahi Halilintar. Terdengar lucu, tapi pemuda itu akhirnya mengalah.

Ada lima menit waktu yang tersisa sebelum pintu teater dibuka, orang-orang yang sudah mengantre di kursi sedang menunggu petugas untuk mempersilahkan mereka masuk.

Halilintar melihat sekeliling. Ini hari minggu, pantas saja sejak tadi mereka melangkahkan kakinya ke dalam ruangan ia disambut oleh banyak pasangan yang tengah mengantre, menghabiskan waktu kencan dengan cara menonton film.

..eh, kencan?

Ying duduk di sebelahnya, terlihat berseri-seri dengan wajah yang polos. Ia memeluk wadah popcornyang ukurannya seakan lebih besar daripada tubuhnya. Sesekali ia mencuri satu atau dua butir berondong jagung itu untuk mengisi perut.

"Kamu mau?" Ying meraup beberapa butir popcorn itu, menunggu Halilintar merespon.

Diluar dugaan, pemuda itu membuka mulutnya. Memberi instruksi kepada Ying untuk menyuapinya beberapa butir karena tangannya penuh oleh gelas minuman berukuran jumbo.

Ying sempat mengerjap, sekuatnya ia menahan diri untuk menyembunyikan rona merah yang memberontak ingin keluar di kedua pipinya.

IA AKAN MENYUAPI HALILINTAR?!?!

Oke Ying, jadilah gadis yang berkelas. Jadilah gadis yang elegan, jangan biarkan Halilintar menutup kembali mulutnya karena tingkah mu yang memalukan!

Detik itu juga Ying bersumpah akan mencintai berondong jagung seumur hidupnya.

Dengan segera, Ying mengisi mulut pemuda itu dengan beberapa butir popcorn. Ujung jarinya hampir saja menyentuh bibir ranum Halilintar jika saja ia telah kehilangan akal dan rasa malu.

Semoga saja Halilintar tidak menyadari gerak-geriknya yang seperti kesetanan itu.

"Tumben beli yang asin, tadi kan mau beli rasa karamel?" tanya Halilintar memastikan.

Ying bisa menarik nafas lega. Ternyata laki-laki ini tidak peka.

"Tadi kan kamu bilang gak suka manis, jadi aku pesan rasa jagung bakar" jelasnya, kembali mencomot camilan itu untuk menenangkan debar jantungnya.

Halilintar sempat menghentikan kunyahan di mulutnya. Geli rasanya saat tahu bahwa gadis penggila gula ini sampai rela mengganti rasa popcorn kesukaannya untuk dirinya. Dasar konyol.

"Gak ada yang bilang aku suka rasa jagung bakar"

Blush! Wajah Ying merah padam.

"Aku beli bukan buat kamu, kok!" Jelas sekali terlihat bahwa Ying sedang salah tingkah. Kedua pipinya memerah bak terpoles makeup.

Halilintar mengulum-menahan senyum, sepertinya ia sudah memiliki hobi baru.

Menjahili Ying.

Suara petugas baru saja terdengar bersamaan dengan suara ponsel Halilintar yang bergetar di saku celananya. Ia berniat untuk mengaktifkan mode hening jika saja nama yang tertera di layar bukanlah nama Gempa.

Ia mengangkatnya dengan segera, "Halo Gempa? Ada apa?"

Terdengar suara serak dengan tangis yang tertahan.

"..kak Hali, Taufan masuk IGD"

.

.

.

Jarum jam dinding malam ini mengarah pada angka delapan. Halilintar menghela nafas, kedua tangannya dengan telaten memeras kuat kain basah itu, dan menempelkannya pada dahi sang adik setelah sudah setengah kering.

Demam Gempa belum juga reda, padahal siang tadi ia sudah memberikannya parasetamol. Halilintar memandang wajah adik tersayangnya itu dengan tatapan sedih.

"Kak, Gempa belum sembuh ya?" Di sebelahnya ada Taufan, adik kembar pertamanya yang sedang duduk di tepi kasur. Raut wajahnya tidak berbeda jauh dengan sang kakak yang terlihat khawatir.

Ia tidak menggubrisnya, tapi Taufan tahu kalau jawabannya adalah iya. Kepalanya terlalu penuh oleh pikiran-pikiran negatif sehingga tidak bisa merespon bocah berusia delapan tahun itu dengan baik.

Ia sudah mencoba untuk menghubungi Amanda berkali-kali, tapi tetap saja nihil. Nomornya memang aktif tapi dia tidak pernah menerima jawaban darinya. Bahkan pesan singkat yang ia kirim pun tidak pernah mendapat balasan.

Ia sudah memberi tahu Amanda sejak dua hari yang lalu bahwa Gempa terserang demam, tapi ia merasa semuanya tindakannya sia-sia saja karena sepertinya Amanda tidak mau peduli.

Tugas sekolah sudah menumpuk, sebentar lagi juga ia harus mengikuti ujian kelulusan, tapi ia bahkan belum menyentuh materi sedikit pun.

Oke, lupakan soal itu. Keselamatan Gempa adalah prioritas utamanya sekarang.

Halilintar mengurut dahinya, lelah.

Ia sudah menginjak bangku kelas tiga sekolah menengah pertama, banyak kegiatan dan ujian yang harus ia ikuti jika ingin lulus. Tapi semuanya terasa begitu sulit karena ia merasa seperti berjuang sendirian.

Sejak perceraian kedua orang tuanya, Amanda seringkali pergi meninggalkan rumah selama berhari-hari, entah apa yang ia pikirkan hingga tega meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil dan mempercayakan mereka padanya.

Jangan hitung Halilintar, ia sudah dicap sebagai orang dewasa oleh Amanda sehingga tidak perlu lagi di khawatirkan.

Wanita itu sedang sibuk memulihkan lukanya. Pergi bersenang-senang dan entah melakukan apa. Meninggalkan anak-anaknya yang ia anggap se-tabah dan sekuat gunung batu.

Heh. Dia kira mereka bukan manusia yang memiliki hati dan rasa sakit.

Halilintar muak. Persetan dengan semuanya.

Pemuda itu mengepal tangannya dengan erat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat lemah di depan kedua adiknya, meski rasanya ia ingin melepaskan rasa sakit di dada lewat teriakan yang keluar dari kerongkongan.

Sekelebat ingatan pelik merasuki pikirannya, ia mendapatkan kembali kesadarannya saat Ying menepuk bahunya karena ia tidak menggubris saat tadi dipanggil.

"Kita sudah sampai Hali"

Akhirnya pemuda itu mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil, mereka tengah berada di parkiran stasiun kereta.

Setelah mendapatkan telepon dari Bibi Anna, Halilintar berlari begitu saja meninggalkan Ying, berniat untuk mengejar keberangkatan jadwal kereta di jam terdekat agar bisa menemui Taufan secepatnya.

Tapi Ying menahannya dan menawarkan diri untuk mengantarkannya sampai ke stasiun.

Saat itu juga Halilintar merasa bodoh karena terlalu dikuasai rasa khawatir hingga tidak bisa menggunakan akalnya dengan baik. Bagaimana caranya pergi ke stasiun tepat waktu jika ia tidak bawa kendaraan? Angkutan umum? Ayolah.

Dan disinilah sekarang mereka berdua.

Halilintar tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, bisa-bisa ia tertinggal kereta jika tidak bergegas.

Pemuda itu membuka pintu mobil dan segera berlari, meninggalkan Ying yang menatapnya khawatir dari kaca yang terbuka.

"Terima kasih Ying!" Ia berteriak dari kejauhan, lalu kembali berlari menuju pintu masuk, mengejar suara panggilan petugas yang memberitahu mereka bahwa kereta akan segera berangkat.

Gadis itu mengangguk, memandang punggung Halilintar yang menjauh.

Semoga mereka baik-baik saja.

.

.

.

"Kau tidak sedang melarikan diri sendirian 'kan?"

Halilintar berbisik di pikirannya sendiri, sedangkan tubuhnya masih terpaku di depan pintu kamar bernomor 119 itu. Sosok adiknya yang tengah terbaring di ranjang pasien terlihat jelas dari sepetak kaca pintu.

Selama ini ia bisa menjalani hidup dengan baik bersama kakek nya, jauh dari pikiran yang pelik dari Amanda dan ketiga orang itu.

Tapi kedua adiknya, Taufan dan Gempa.. apa yang bisa mereka lakukan? Mereka bahkan tidak bisa ikut melarikan diri dari tempat itu seperti dirinya.

Halilintar sudah menghabiskan separuh tenaganya untuk berlari menuju rumah sakit, tapi kedua kakinya terasa tidak mampu hanya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan kecil itu.

Taufan terserang tifus.. bukan lagi gejala. Tapi tifus..

Ia bahkan tidak mengetahuinya sama sekali dan bersenang-senang sendiri. Bagaimana jika mereka terlambat menyelamatkan Taufan..?

Rasa bersalah menghunus hatinya semakin dalam saat ia memberanikan diri untuk melangkah masuk, disana ia melihat adiknya yang terbaring dengan wajah yang pucat serta infus yang menghias tangan kirinya. Matanya masih terpejam.

Dia kakak yang buruk, ya?

Ia menarik kursi, duduk di depan Taufan yang masih terlelap dengan wajah yang damai. Ruangan itu sepi. Ia bahkan tidak terkejut lagi melihat ketidakhadiran Amanda disana.

Terlepas dari kondisi kesehatannya itu Taufan terlihat kurus dibandingkan saat mereka masih tinggal bersama. Betapa sebuah pemandangan yang pilu.

Pasti kedua adiknya telah melewati masa-masa sulit karena harus berjuang sendirian tanpa kehadirannya, hidup dengan omong kosong dan kasih sayang palsu dari wanita yang mereka panggil sebagai ibu itu.

Ia mengelap kasar air mata yang hampir lolos keluar dari matanya. Ayolah, jangan menangis.

Semuanya belum terlambat. Ia bisa memperbaiki ini. Ia harus menyelamatkan Gempa dan Taufan dari mimpi buruk yang mereka sebut sebagai rumah itu.

Mereka masih bisa menjalani hidup bahagia dan sederhana bersama kakek di kota kecil, jauh dari ketiga orang itu.

Halilintar yakin ia bisa melakukannya.

Suara pintu yang terbuka terdengar dari belakang dan memecah lamunannya. Ia menoleh dan terkejut mendapati Amanda yang baru saja datang bersama Gempa, membawa sekeranjang buah dan bungkusan plastik.

"Kak Hali!" Gempa menghampirinya dengan antusias, pemuda itu tersenyum dan mengelus kepalanya.

Amanda yang melihat kedatangan salah satu putra sulungnya itu terlihat kaku, enggan menatap Halilintar karena hatinya menggengam perasaan bersalah.

"Sudah makan?"

Sang adik mengangguk, "..sudah makan di kantin tadi. Kebetulan ketemu Mama di lorong jadi kesini bareng" jelas Gempa, sepertinya bisa menebak pertanyaan di pikiran Halilintar.

Halilintar mengangguk, lalu membiarkan Gempa menghampiri Taufan yang masih belum juga bangun.

Amanda bisa melihat luapan emosi yang tertahan dari kedua mata Halilintar, pemuda itu menatapnya dengan dingin dan tidak perlu repot-repot untuk menyembunyikan rasa tidak suka yang ditujukan padanya.

"Aku ingin bicara"

Nadanya terdengar berat dan dalam, terasa mengintimidasi Amanda hingga wanita itu mau tidak mau menerima permintaanya.

.

.

.

"..mau pesan apa? Biar mama-"

"Cukup basa-basinya" ia menyanggah dengan wajah muak.

"Aku akan membawa Taufan dan Gempa untuk tinggal dengan kakek." katanya dengan tegas. Tidak mau membuang lebih banyak lagi energi untuk berbicara dengan wanita ini.

"Apa?" Sepertinya Amanda menjadi lebih berani memperlihatkan ekspresinya yang tidak setuju dengan putranya itu, "Dengarkan Mama, Hali. Atok sudah tua, kasihan dia kalau harus mengurus kamu dan adik-adikmu-"

Halilintar menepis sang Ibu yang hendak menyentuh tangannya.

"Hanya itu yang mama pikirkan? Kau tidak lihat keadaan Taufan?! Dia hampir mati!" Sekuatnya, ia mencoba untuk tidak menambah oktaf suara karena mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Tapi sungguh, ia sedang sangat murka.

Wanita itu mematung, mengakui kesalahannya.

"Mama ingat saat dulu Gempa terserang demam? Kau tidak pernah mengangkat telepon, bahkan tidak sedikit pun melirik pesan yang aku kirim!"

Halilintar merasa lehernya tercekik, dadanya terasa berat sehingga nafasnya memburu karena terbakar amarah dan rasa sedih

..mempertanyakan dirinya sendiri apakah wanita yang ada di hadapan nya ini masih layak untuk ia panggil dengan sebutan Mama.

"Kau bahkan tidak pernah peduli pada kami." Ia mencoba menahan air mata yang hendak keluar, menyamarkan rasa sakit sebagai amarah dan kebencian. Tidak, ia tidak mau memperlihatkan dirinya yang rapuh itu di depan manusia seperti Amanda.

"Tidak perlu khawatirkan Atok, kami bisa mengurus diri sendiri, karena sejak dulu juga begitu."

Amanda tercenung mendengar penuturan putranya, mengundang helaan nafas yang dalam dari Halilintar.

"Begini.. Mama minta maaf, Halilintar. Mama kira Taufan baik-baik saja-"

Pemuda itu mengacak rambutnya. Ingin sekali mulutnya melontarkan cari maki kepada ibunya yang bahkan tidak tahu-atau tidak peduli soal kondisi Taufan yang kritis!

Ia memotong ucapan Amanda lewat gestur tangannya, "Sudahlah. Aku tidak ingin dengar apa-apa lagi." Ujar Halilintar, ia terlihat fristasi.

Semua ini sudah keterlaluan karena nyawa Taufan bisa saja terenggut. Dan itu semua terjadi akibat ketidak pedulian Amanda terhadap anak-anaknya.

Halilintar tidak bisa membayangkan bagaimana jika seandainya Bibi Anna terlambat datang.

"..aku akan mengurus kepindahan sekolah mereka. Mama tidak perlu ikut repot." ujarnya jengah. Ia membalas tatapan penuh penyesalan dari mata Ibunya dengan tajam tanpa ada sedikit pun rasa hormat.

Amanda menghela nafas dan menutup matanya.

"Halilintar.." panggilnya dengan lembut.

"..sebentar lagi Taufan dan Gempa masuk SMP, mereka harus masuk ke sekolah yang bagus, sama seperti Fang. Papamu juga setuju"

Matanya mengernyit tajam, "Papa? Papa siapa?" Ia sedikit tertawa, "Aku tidak punya Ayah." sahutnya dengan dingin.

"Gak sudi."

Enteng sekali bicaranya. Kapan dia pernah menganggap pria itu sebagai papa barunya?

"Halilintar tolong jangan bicara sembarangan. Mama sudah menikah dengannya. Jadi dia adalah papa mu. Papa baru untukmu dan juga Taufan Gempa."

Halilintar sudah jengah mendengar semua omong kosong ini. Ia bahkan sudah tidak ingin menanggapi omong kosong Amanda.

"Intinya Gempa dan Taufan akan tinggal bersamaku mulai sekarang-"

".. SMA. Nanti setelah mereka lulus SMA mama akan biarkan mereka tinggal bersama kalian" Amanda berdiri dan menatap Halilintar dengan penuh harap. Kata-katanya membuat Halilintar tidak bisa berkutik.

"..mama juga akan biayai kuliah mereka hingga selesai"

.

.

.

"Kak Hali" Taufan menyambut kedatangan kakaknya itu dengan suara yang masih lemah, tapi senyumnya cerah. Ia masih dalam posisi tidur di ranjang, tengah disuapi Gempa.

Pemuda itu tersenyum, ia menghampiri Taufan dan mengecek dahinya. "Udah gak demam ya"

Taufan hanya mengangguk.

Dibelakang punggung Halilintar ada Amanda yang mengikutinya, ia tersenyum pada Taufan dengan canggung.

"Sudah membaik?" Ia berjalan menghampirinya. Gempa yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang segera bangun dan membiarkan mamanya itu mendekat.

"Sudah, ma" jawab Taufan sekadarnya.

Wanita itu menegak ludahnya, "Maaf ya, kemarin mama.. sibuk" ujar Amanda tanpa menjelaskan kesibukan jenis apa yang ia geluti sampai tidak tahu soal Taufan yang terserang tifus.

Taufan bahkan tidak ingin mempertanyakan nya lagi.

"Iya ma, Taufan gak apa-apa kok" sahutnya, terlukis senyum di wajahnya yang pucat itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya berbanding balik dengan keadaannya yang saat ini terlihat begitu mengkhawatirkan.

Halilintar hanya tertawa mendengar pengakuan Amanda. Tawa sinis yang pelan dan singkat.

Betapa sibuknya Ibu rumah tangga yang satu ini.

"Aku harus pulang, besok mulai kerja" Ia membelai kepala Taufan, sang adik mengangguk

"Hati-hati kak" suara Taufan terdengar lemah.

"Cepat sembuh. Lomba nya satu minggu lagi 'kan?"

Wajah sang adik berubah sumringah, ia tersenyum, "Kak Hali harus datang" sahutnya dengan suara yang agak serak.

"Pasti" Ujar Halilintar.

Ia lalu menoleh ke arah si bungsu, "Gempa, kalau ada apa-apa kabari kakak ya"

"Iya, kak." sahutnya.

"Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah. Aku pulang"

Ia berlalu meninggalkan mereka tanpa pamit pada Amanda. Kecanggungan itu masih terasa hingga ia keluar dari ruangan.

.

.

.

Halilintar kembali ke tempat kakeknya dengan hati yang kusut. Isi pikirannya berisik, banyak meracau soal keadaan Taufan dan Gempa yang lagi-lagi harus ia tinggalkan dengan berat hati.

Ia menerima tawaran Amanda. Ia akan membiarkan kedua adiknya untuk tinggal di sana hingga mereka lulus dari sekolah menengah atas.

"Hati-hati kak" suara Taufan terdengar lemah.

"Cepat sembuh. Lomba nya satu minggu lagi 'kan?"

Wajah sang adik berubah sumringah, ia tersenyum, "Kak Hali harus datang" sahutnya dengan suara yang agak serak.

"Pasti" Ujar Halilintar.

Ia lalu menoleh ke arah si bungsu, "Gempa, kalau ada apa-apa kabari kakak ya"

"Iya, kak." sahutnya.

Pikiran Halilintar tanpa sadar membuatnya melangkahkan kaki menuju taman tepi pantai. Sudah sore, matahari belum terbenam sepenuhnya sementara cahaya kuningnya menyorot dengan hangat.

Dugaan mereka mengenai badai di hari ini ternyata salah, langit sama sekali tidak menurunkan hujan. Meski tidak sepenuhnya cerah, tapi sisa cahaya matahari menyusup lewat awan yang gelap, melahirkan kombinasi warna antara keduanya.

Suara deburan ombak membuat hatinya sedikit tenang, ia memperhatikan gulungan air yang datang dari tengah laut lalu kembali melebur setelah menyentuh tepian pasir.

Hari itu hanya ada beberapa orang yang menghabiskan waktunya untuk melihat sunset. Ada beberapa pasangan, keluarga, dan anak-anak. Suara bising yang ditimbulkan mereka juga tidak mengganggunya sama sekali karena ia sibuk menikmati keindahan yang ada di depan mata.

Karena pulau rintis adalah pulau wisata, aneh rasanya melihat tempat itu tidak se-ramai biasanya. Tapi syukurlah, Halilintar jadi bisa menikmati waktunya disana dengan tenang.

Matanya tertaut pada sebuah keluarga yang sedang bermain pasir di pantai. Tawa dan atmosfer kebahagiaan terasa kental disana hingga tanpa sadar ia menikmati interaksi mereka yang begitu hangat.

Ah.. pemandangan yang sangat asing.

Ia jadi teringat akan keluarganya sendiri. Jangankan untuk berkumpul dan bercengkrama penuh cinta seperti itu, Halilintar sudah sangat bersyukur jika orang tuanya tidak bertengkar ketika bertemu.

Tidak terlintas sedikit pun rasa iri atau angan untuk bisa merasakannya, karena perpisahan orang tua mereka yang memiliki pernikahan hancur seperti itu pun mampu untuk meremukkan hatinya, terutama kedua adiknya.

Apalagi jika keluarga mereka adalah sebuah keluarga yang harmonis dan penuh cinta? Halilintar tidak mampu membayangkan akan seperti apa rasa sakitnya.

Setidaknya, ia tidak memeluk kehancuran lebih dalam karena kenangan-kenangan manis itu.

Ia tidak pernah merutuki takdir yang telah memberikannya orang tua buruk seperti mereka, terutama ayahnya yang sudah membencinya tanpa alasan-atau tanpa ia ketahui kenapa pria itu selalu saja menatapnya dengan dingin.

Tak apa, ia pun tidak mengharapkannya.

..ya kan?

Semuanya adalah masa lalu. Sekarang, ia hanya perlu melanjutkan hidup demi kedua adiknya karena mereka membutuhkan sosok kakak yang tegar dan kuat. Ya, ia harus bisa menjadi seperti itu.

Halilintar baru saja hendak mengakhiri gemuruh suara yang mengendap di kepalanya dan bergegas pulang ketika sebuah tatapan mengalihkan perhatiannya.

Diantara cahaya matahari yang mulai menghilang dan angin yang berhembus membelai kulitnya, ada seorang laki-laki yang tengah berdiri, memandangnya dengan asing.

Wajahnya belum terhias oleh gerutan-gerutan penanda usia, rambutnya masih hitam pekat. Tatapannya yang dingin dan merendahkan itu membuat Halilintar mengenalinya seketika.

Ayah.

Sebuah panggilan tanpa arti yang ia gunakan selama empat belas tahun. Sebelum pria itu mencampakkan mereka.

Ia berdiri disana, terpisahkan oleh jarak.

Darahnya berdesir, jantungnya berdetak dengan cepat. Otaknya seketika menciptakan skenario-skenario mengenai banyak kemungkinan; tentang mengapa orang itu ada di hadapannya sekarang.

Ia ingin membuka suara, tapi tidak bisa. Lidahnya kelu, kakinya juga ingin sekali melangkah mendekatinya untuk menghapus jarak mereka yang jauh itu, tapi kedua kakinya lumpuh.

Ia hanya bisa mematung, memandang wajah yang akan ia lihat sebagai dirinya di masa depan itu dengan sorot terluka. Akhirnya Halilintar menjumpai kembali wajah yang tidak pernah ia lihat selama empat tahun terakhir, wajah yang penuh dengan mimpi buruk.

Apa selama empat tahun ini pria itu merenung dan telah menyadari kesalahannya? Apa ia sengaja datang untuk memohon ampun pada si sulung yang selalu ia benci ini?

Apakah dia.. merindukan putranya..?

"Ayah, ayo pulang!"

Mungkin ada secuil harapan yang terpendam di dalam hatinya untuk bisa bersuara dan memanggil pria itu dengan hangat seperti seorang anak kecil yang tidak pernah terluka.

Tapi nyatanya suara itu berasal seorang anak perempuan manis yang datang bersama seutas balon.

"Nana lapar, Ayah"

Hatinya tersentak keras saat menyadari perubahan mimik wajah pria itu.

Ada kehangatan yang tercetak jelas di wajahnya, wajah yang biasanya datar dan dingin setiap kali menatapnya. Tatapan benci itu berubah sekejap menjadi sorot penuh cinta dan kasih.

Sebuah hal sepele yang tidak pernah Halilintar dapatkan seumur hidupnya.

Seorang wanita datang, ia menyadari atensi suaminya yang teralihkan kepada seorang pemuda yang sedang berdiri di ujung jembatan, pemuda asing yang membalas tatapannya tanpa suara.

Halilintar bisa dengar ia mempertanyakan hal itu pada sang suami.

"Bukan siapa-siapa." Jawabnya dengan dingin.

..apa?

Jawaban itu merampas udara disekitarnya, dadanya terasa berat. Dia berusaha untuk tetap tenang, tetapi semakin dia berusaha, semakin berat rasanya. Rasanya seperti ditenggelamkan dalam lautan dalam. Sesak, dingin, dan sakit.

Bukan siapa-siapa.. katanya?

Apa yang sebenarnya Halilintar harapkan? Sebuah pelukan dan permintaan maaf?

Tentu saja mustahil, dasar bodoh. Angannya terlalu tinggi. Jangankan menerima permintaan maaf, pria itu bahkan tak sudi untuk mengakui keberadaannya.

Halilintar masih membeku, seluruh syaraf tubuhnya terlalu terkejut untuk bergerak dan melarikan diri, membiarkan keluarga kecil itu berlalu dari hadapannya. Tanpa sapa, atau pamit.

Ia adalah sebuah entitas yang tidak pernah teranggap ada.

Bocah kecil itu duduk nyaman di pangkuan sang Ayah, menghadap ke belakang dan bertatapan mata dengannya. Wajahnya terlihat lugu, memeluk leher pria itu dengan erat sembari menyembunyikan setengah wajahnya.

Halilintar tahu, bukan bocah itu yang harus menanggung dosa atas kesalahan orang tuanya.

Kesalahan yang telah menghancurkan hidupnya.

Tapi apakah salah jika Halilintar memendam sebuah rasa marah yang tertuju pada bocah perempuan itu? Seorang bocah yang bahkan tak ia kenal itu sudah merenggut kebahagiaan yang tidak pernah Halilintar rasakan.

Semua telah dirampasnya habis;rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah.

Keduanya masih bertatapan, Halilintar tidak beranjak dari tempatnya berdiri hingga kedua mata bulat dengan binar tipis itu menghilang dari pandangannya. Mereka sudah pergi.

Suara debar ombak menghentak kesadarannya kembali. Pasti semesta sedang mengasihaninya, mengasihani seorang anak laki-laki yang telah dicampakkan seutuhnya oleh seorang pria yang bergelar Ayah.

Ia segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi kembali paru-paru yang sempat kehilangan oksigen karena dadanya yang tercekat. Debaran jantungnya tak terkendali, nafasnya memburu.

Perih. Rasanya perih.

Konyol, hidupnya bergenre tragedi-komedi yang tidak masuk akal. Mamanya memilih untuk tidak peduli, begitu pula dengan suami barunya yang selalu merasa sempurna dan enggan menggambil peran sebagai Ayah.

Dan sekarang, ia dicampakkan oleh manusia yang mewariskan darah dan daging di tubuhnya itu.

Halilintar tertawa getir.

Menapa air matanya tidak mau berhenti turun?

Langit sudah gelap, ternyata ia melewatkan terbenamnya matahari karena sibuk terlarut dalam pikirannya.

Ia menoleh, memandang lautan yang ujungnya tak terlihat dengan mata yang masih mengalirkan kesedihan.

Setidaknya tidak ada orang lain disana. Ia bisa menumpahkan semua perasaanya yang hancur tanpa diketahui siapa pun. Tangisan perdana yang akhirnya ia keluarkan setelah empat tahun berlalu.

Ternyata, ia tidak sekuat itu.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

a.n

Halo semuanya, semoga kabar kalian baik ya. Aku (lagi-lagi) ingin minta maaf (maaf maaf maaf maaf banget) karena baru bisa update sekarang, bagi kalian yang sudah menunggu cerita ini, aku ucapkan makasih banyak :')

Tapi aku bakal namatin cerita ini kok. TSS, Adik baru, dan cerita lain udah ada di draft, semua progressnya sudah hampir 80 persen.

Scene HaliYing nya sedikit ya? Maaf ya, untuk sekarang hubungan mereka memang masih belum banyak ambil peran. Aku harus fokus ke cerita inti dulu :D

Oh iya, ke depannya, rating cerita ini bakal aku ubah jadi M (Mature) karena akan ada beberapa hal yang terjadi di cerita ini, yang aku rasa belum pantas untuk dibaca oleh kalangan pembaca muda. Aku mohon kebijaksanaan kalian ya. Untuk yang masih belum mencapai usia legal, mohon tunggu sampai kalian legal :"D /plak

Yosh segitu aja, semoga chapter selanjutnya bisa aku update secepatnya /halah /ditimpukreaders /kabur

Makasih banyak semua yang udah mampir, aku tunggu review kalian ya!

Salam hangat,

Drazilla