Bersamamu sedikit lebih lama
()
Pair : naruto x single pair (Sona, Rias, Hinata, Naruko)
()
Story cerate by : hikarinoyami13
()
NO INCEST, NO HAREM
()
Genre : romance, hurt/comfort, drama, slice of life
()
Rating for story : rating T+ M
"Naruto" berbicara biasa
'Naruto' membantin/berbicara didalam hati/berpikir
"Naruto" flashback
I'm not own Naruto shippuden character or high school dxd
And I'm not own other character in my story
Chapter sebelumnya
'Sekali lagi maafkan onii-chan mu ini ya, Naruko' batin Naruto lalu mengecup kening Naruko lembut. Lalu pergi keruang tengah.
Naruto melihat makan malam yang seharusnya dia makan bersama Naruko masih terletak manis di atas meja dengan sebuah catatan kecil.
Naruto nii-chan kenapa lama sekali pulangnya? Naruko kelaparan tau! Jadi maaf ya Naruto nii-chan Naruko makan duluan.
Makanan malam ini special Naruko buatkan untuk Naruto nii-chan…
Naruto mengalihkan perhatiannya pada ramen di atas meja
"Whah banyak sayurnya" ucap Naruto malas. Lalu kembali membaca kertas tadi.
Jangan sisakan sayurannya ya!
Selamat menikmati naruto nii-chan
Tertanda adikmu yang paling manis \^o^/
Naruto tersenyum kecil saat membaca catatan kecil itu, dia mengalihkan pandangannya kearah makan malam hari ini. Ramen dengan karya sendiri, lebih tepatnya ramen dengan resep yang di buat oleh ibunya kandungnya.
"Terimakasih Naruko. Itadakimasu"
Chapter 02
Sudah satu minggu berlalu sejak Naruto bekerja di cafénya Serafall dan dia selalu saja di goda-goda oleh senpai-senpai di tempat bekerjanya, terutama Hinami yang melihat kejadian di ruang kantor Serafall selalu saja menggodanya saat jam istirahat.
Semua itu dikarenakan cuma dia satu-satunya pekerja laki-laki yang ada di sana, tentu saja itu tidak menjadi masalah baginya. Tapi tetap saja, di goda tetap membuatnya merasa terganggu. Walau Bagaimanapun dia juga tergolong laki-laki normal.
Saat di perjalanan pulang dia lalu teringat Mengenai Naruko yang satu minggu ini selalu bertanya soal alasan dia pulang terlambat dan bagaimana pekerjaannya di kedai ramen.
Naruto tidak mengatakan kalau dia bekerja di tempat lain, yang dia bilang hanya bekerja di kedai ramen paman Teuchi. Dia juga sudah bekerja sama dengan paman Teuchi dan Ayame agar mengatakan kebohongan yang sama kepada Naruko jika kemungkinan Naruko akan bertanya secara langsung pada paman Teuchi suatu saat nanti.
Awalnya paman Teuchi menolak akan hal itu begitu pula dengan Ayame, namun setelah Naruto menjelaskan maksudnya dan memberikan alasannya pada Teuchi dan Ayame. Dengan sedikit rasa tidak suka mereka harus berbohong kepada Naruko untuk membantu Naruto.
Ya siapa yang ingin di bohongi saat seseorang tersebut khawatir dengan keadaan kita? Tapi Naruto memberikan satu alasan yang cukup kuat untuk membuat mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa dan menerima permohonan kecil Naruto tersebut.
Alasan Naruto untuk tidak mengatakan pada adiknya jika dia mencari kerja lain bukan hanya untuk membelikan adiknya itu sepatu baru untuk sekolah besok. Ada satu alasan utama kenapa Naruto tidak memberitahu Naruko tentang kerja paruhnya ini.
Alasan yang cukup kuat untuk meyakinkan paman Teuchi untuk mengabulkan permohonannya untuk berbohong pada Naruko. Paman Teuchi bahkan tidak menyangka bahwa Naruto berusaha keras untuk mencapai tujuan utamanya itu. Di sisi lain dia salut dengan Naruto, namun di sisi lain dia merasa kasihan, karena Naruto masih muda, belum seharusnya dia berpikir jauh sampai kesana.
Sedang melamun dengan pikirannya, Naruto dibuat terkejut karena suara teriakan keras yang tidak jauh di depannya.
"KYAAAAAAA!" Naruto mendengar suara teriakan dari gang sempit itu segera berlari kesumber suara.
Saat Naruto sampai di sana dia melihat dua orang perempuan cantik mengenakan pakaian yang mungkin tergolong mahal kelilingi oleh enam orang, dengan lima orang laki-laki, salah satu dari mereka berbadan besar, dan satu orang wanita dewasa dengan pakayaian ala fucker.
"HEI! Apa yang kalian lakukan di sini" teriak Naruto membuat keenam orang itu mengalihkan pandangan mereka pada Naruto.
"Huh, hanya bocah. Kalian berdua urus dia" perintah laki-laki dengan tindik di mulut dan hidungnya dengan rambut orange jambrik.
"Siap boss" jawab mereka lalu berjalan kearah Naruto.
'Ini bahaya, mereka terlalu banyak. Kemungkinan menang hanya sedikit, di tambah jalan belakang sedang di tutup oleh tante berambut ungu itu' batin Naruto yang sedang memikirkan sebuah rencana untuk dapat membawa kedua wanita itu kabur.
Namun tidak dapat di pungkiri bahwa Naruto sekarang tidak dapat memikirkan rencana seperti itu sekarang bagaimanapun dia harus melawan mereka semua sendiri, walau kemungkinan menang hanya sedikit. Tidak ada pilihan selain bertarung, dan ini juga salahnya karena ikut campur dalam urusan orang lain.
'Tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara adalah bertarung melawan mereka.' batin Naruto.
"Walaupun aku hanya bocah di mata kalian, jangan remehkan skill bertarungku" ucap Naruto.
"Jangan jadi sok hebat bocah, tidak siapapun yang dapat mengalahkan kami. Apa lagi kau hanya sendiri" ucap laki-laki berbadan besar sombong.
"Jika kau pergi dari sini dan tidak melaporkan pada polisi mungkin nyawamu akan terselamatkan" ujar laki-laki gendut pendek meremehkan Naruto. Naruto memasang posisi bertarungnya, membuat laki-laki berbadan besar di sana tersenyum lebar dengan hasrat ingin menyerang Naruto.
Ketua mereka maju dan berhenti di depan anak buahnya.
"Apa kau tau apa itu 'SAKIT'?" Tanyanya pada Naruto.
Naruto yang mendapat pertanyaan aneh seperti itu hanya menaikkan sebelah alisnya heran dengan apa yang di tanyakan kepadanya, apakah itu pertanyaan untuk orang yang akan bertarung?
"Ya, tentu saja aku tau apa itu sakit" jawab Naruto dengan wajah serius.
Pemimpinnya diam dan melihat kearah mata Naruto saat mendengar jawaban dari Naruto, dia lalu sedikit tersenyum saat melihat mata Naruto yang menurutnya adalah mata seseorang yang penuh akan rasa sakit, penderitaan, keputus asaan.
"Kau bocah yang menarik, aku dapat melihat itu dari tatapanmu, baiklah akanku ajarkan rasa sakit yang sebenarnya padamu" lanjut ketua mereka lalu memberi perintah salah satu bawahannya untuk maju.
"Chikusudo. Maju" dengan perintah itu laki-laki dengan rambut di ikat ponytail berlari menyerang Naruto.
'Bagus mereka maju satu persatu' batin Naruto merasa lega.
Naruto menghindari setiap serangan dari Chikusudo dan menangkisnya dengan bagus.
Dan tanpa berlama-lama naruto menangkap tangan Chikusudo, menariknya kebelakang Naruto dan menendang pergelangan kakinya lalu memutar tangan Chikusudo. Membuat Chikusudo berputar dan mendarat di tanah dengan keras.
DHUAAAK!
Naruto tidak ambil pusing dan segera mengarahkan tendangannya kearah kepala Chikusudo.
Chikusudo melihat itu langsung saja memblok tendangan Naruto dengan tangannya di samping kepalanya, namun tendangan Naruto terlalu keras membuat tendangannya mendarat dengan kasar di kepalanya dan langsung terbaring tidak sadarkan diri setelah menerima tendangan itu.
Tanpa peduli dengan temannya ketua mereka menatap naruto dengan pandangan kagum karena dapat mengalahkan anggota mereka dengan lumayan mudah.
"Kau tidak buruk bocah. Kau bisa mengalahkan Chikusudo dengan cepat, aku rasa aku akan menaikkan levelnya…" ucap ketua mereka membuat Naruto meningkatkan keseriusannya bertarung.
"Heh, boleh juga!" tantang Naruto.
"Ningendo, Jikudo, Gakido. Maju" ujar ketuanya.
Ketiga orang itu maju dan mulai menyerang Naruto.
'Aku rasa ini terlalu berat untuk level up…'
'…Bagaimana ini? Ini benar-benar di luar dugaanku' batin naruto cemas.
"Cih, baiklah kalau begitu. MAJU!" Naruto juga maju dan melancarkan serangan pada salah satu dari mereka bertiga, Dan dapat dihindari dengan mudah.
DHUUK
"Ugh" ringis Naruto saat Gakido memukul pipinya, tidak tinggal diam Naruto melancarkan pukulan balasan. Tapi belum sempat mencapai Gakido Naruto langsung menghindar saat Ningendo akan menendang perutnya.
'Kerja sama mereka sangat bagus. Pasti ada celah' batin Naruto memikirkan cara melancarkan serangan.
Naruto menarik nafas panjang dan merubah gaya bertarungnya, yang awalnya hanya kuda-kuda dasar dan sekarang dia meloncat-loncat kekanan dan kekiri. Gerakan itu membuat semua orang di sana bertanya-tanya apa yang di lakukan oleh Naruto.
Tanpa beralama-lama Jikudo maju menyerang dengan kedua temanya menyusul dari belakang.
Naruto menghindari pukulan Jikudo, lalu tangan kanan Naruto mendorong Jikudo kesamping dan melancarkan pukulan pada Gakido memakai tangan kiri yang belum siap menerima serangan dadakan.
DHUAK
Sebuah pukulan mendarat dengan sangat keras kewajah gakido yang sempat mendapat serangan kejutan tersebut, saat naruto ingin memukulnya lagi Jikudo yang di samping Naruto menyerang Naruto memakai kaki kirinya mengarah ke kepala Naruto dan Ningendo berpindah dengan cepat ke samping kiri Naruto memakai kaki kanannya untuk menendang perut Naruto.
Naruto tidak ingin terkena tendangan itu tapi tidak sempat menghindar harus dengan terpaksa memblok kedua terdangan itu dengan tangan. Walau tendangan mereka keras tapi dapat di tahan oleh Naruto yang kelihatannya meringis menahan sakit tendangan mereka.
Tidak hilang akal naruto melepar kaki ningendo lalu menangkap kaki kiri jikudo agar tidak terlepas, lalu berputar dan menendang kaki kanan jikudo sukses membuatnya terbaring. Naruto melompat dan mendaratkan kakinya pada perut Jikudo, cukup kuat hingga membuatnya pingsan.
Tapi itu pilihan yang salah.
Ningendo melihat naruto lengah langsung saja menendang Naruto lagi dari belakang.
Naruto yang menyadari pilihannya yang salah langsung berusaha memblok tendangan itu, dikarenakan tadi sedang lengah terpaksa Naruto menerima tendangan itu membuatnya terlempar ke samping menabrak dinding gang.
Naruto menghapus darah di bibirnya dan berusaha bangkit. Dia melirik kearah dua wanita yang tengah melihat nya dengan tatapan khawatir.
Ya siapa juga yang tidak khawatir saat melihat keadaan yang buruk ini, sekarang Naruto benar-benar tidak di untungkan. Tapi dia tidak bisa mundur dari sini, dia harus tetap melangkah maju dan melawan mereka semuanya, walau dia sadar kalau dia akan kalah disini.
'Haaa-ah seharusnya sekarang aku sudah di apartemen memakan tiga bungkus ramen' batin Naruto miris.
Ningendo mendekati Naruto dan mengecngkram rambut naruto membuat naruto meringis kesakitan. Ningendo tidak membuang waktu langsung saja dia memukul dan menendang tubuh Naruto.
PAAK!
"uuuMMmppppp, K-KU-KUSOOOO TEMEEEEEEEEE" Tapi tidak dia sangka jika Naruto tiba-tiba memukul barang di balik celananya dengan lumayan keras, dan cukup untuk membuatnya tidak sanggup berdiri.
Semua yang ada disana tentunya sweatdrop melihat perlakuan Naruto yang benar-benar tidak di duga tersebut. Siapa sangka dia akan melakukan hal itu dalam pertarungan ini, tentunya itu sedikit menguntungkan bagi Naruto tapi tetap saja bertarung dengan menyerang 'itu' nya adalah salah satu melanggar aturan pertarungan.
Yah dari awal memang tidak ada peraturan untuk tidak memukul 'itu' dalam pertarungan, tapi cara itu benar-benar tidak etis saat bertarung. Sebagai seorang laki-laki, bertarung dengan menyerang 'itu' nya lawanmu merupakan pilihan terakhir.
Naruto langsung saja memukul perut dan wajah ningendo dengan kuat membuat Ningendo terkapar di sana.
"kau benar-benar menarik bocah" ucap pemimpinnya melihat cara Naruto bertarung yang sedikit unik.
"Nagato ini membosankan. Apa aku juga boleh menendang bocah itu" ucap perempuan berambut ungu pada ketua mereka.
"Jika itu maumu, Konan" balasnya singkat, membuat wanita itu senang dan mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya.
"Ehehe ini pasti akan menyenangkan" ucap konan ala psikopat dan mulai berjalan kearah Naruto.
Insting Naruto entah kenapa membuat dia mundur beberapa langkah. Sekarang dia benar-benar sudah kehabisan tenaga sekarang untuk bertarung, bahkan sekarang dia sangat sulit untuk menormalkan nafasnya.
'Wanita ini berbahaya' batin Naruto takut saat melihat wanita bernama konan itu mengeluarkan senajata tajam.
Konan langsung menyerang Naruto dengan pisau di tangannya dengan lihai, membuat Naruto kewalahan di tambah dengan tenaganya yang sudah semakin menipis.
"Hei ayolah jangan hanya menghindar terus, aku ingin pisauku ini merasakan kulitmu yang lembut itu" ucapnya dengan senyuman menawan di wajahnya.
Naruto menelan air ludahnya bulat-bulat saat Konan menjilat pisaunya, sungguh wanita yang mengerikan. 'Siapa yang menyukai tante-tante seperti itu?' batin Naruto ngeri saat membayangkan pasangan wanita itu nanti.
Naruto baru sadar bahwa jalan di belakang kedua wanita itu sudah terbuka lebar Naruto berusaha memberikan isyarat kepada kedua wanita itu untuk lari. Tapi itu tidak berhasil karena konan terus menyerangnya dan harus menghindar-hindar dari ujung pisau tersebut agar tidak melukai kulitnya.
Sudah hilang kesabaran akhirnya Naruto memutuskan untuk berteriak.
"KALIAN BERDUA LARI!" teriak Naruto pada kedua wanita itu.
"Tapi b-bagaimana dengan—" perempuan berambut kuning tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena temannya menarik tangannya.
"Sudah ayo cepat lari Shion!" ucap perempuan berambut pink.
"T-tapi Sakura…"
"SUDAH CEPAT LARI!" teriak Naruto lagi, saat melihat laki-laki berbadan besar berlari kearah mereka, membuat wanita bernama Sakura itu pergi dari sana bersama temannya Shion.
"Shurado. Sudah biarkan saja" ucap Nagato santai.
"Ta-tapi boss mereka akan melapor kepolisi"
"Tidak apa-apa, Aku lebih suka melihat wajah kesakitan laki-laki ini dari pada uang dari dua perempuan itu" ucap Nagato lalu berjalan maju kedapan.
'Gawat dia sudah turun tangan'
"Aku bisa melihat dari matamu, bahwa mata itu adalah mata orang yang penuh dengan rasa sakit, kehilangan, kepedihan, dan keputus asaan. Kita berdua memiliki mata yang sama, dan merasakan penderitaan yang sama, kehilangan, dan keputus asaan" ucap Nagato membuat Naruto memicingkan matanya.
"Maaf tapi kau dan aku sama sekali berbeda" Naruto menutup matanya berusaha menormalkan pernafasannya untuk pertarungan selanjutnya. Bagaimanapun jika bertarung nafas adalah kunci dalam pertahanan dan serangan, jika nafas tidak teratur maka serangan tidak akan efektif dan pertahanan akan mudah goyah.
Bodoh itu lah di pikirkan oleh orang yang masih berdiri di sana, dimana-mana jika bertarung tidak boleh menutup mata di depan lawan yang sedang berdiri di hadapannya, dan Naruto melakukan hal bodoh tersebut. Konan melihat Naruto lengah berniat menyerangnya. Namun…
"Konan" Konan merasa di panggil mengurung niatnya dan mendecih tidak suka.
Nagato menghentikan Konan yang akan menyerang Naruto, dan membiarkan Naruto mempersiapkan diri untuk melawannya.
'ayo pikir Naruto, bagaimana kau bisa mengalahkan mereka yang masih dalam keadaan prima, sedangkan dirimu dalam keadaan buruk dan tenaga yang tidak cukup untuk melawan satu orang? Pikirlah pasti ada cara' batin Naruto berpikir.
Saat nafasnya sudah normal Naruto lalu membuka matanya dan menatap mereka bertiga yang masih diam di tempat.
'Mereka tidak bergerak dari tempat tadi, itu artinya mereka memberikan aku kesempatan untuk menormalkan nafasku barusan. Heh tidak ingin melawan orang yang sedang lemah ya? Benar-benar seperti petarung sejati' batin Naruto kesal. Namun dia tersadar akan pemikirannya barusan.
'Tunggu… dia memberiku kesempatan untuk menormalkan nafasku karena tidak ingin melawanku dengan keadaanku yang lelah, jika saja aku bisa memancingnya untuk bertarung satu lawan satu kemungkinan menangku tetap saja sedikit' Naruto lalu melirik kearah konan, laki-laki berbadan besar, lalu kearah nagato yang berada di tengah-tengah mereka.
'Walau kemungkinan menang sedikit, daripada berurusan dengan tiga orang secara langsung mungkin sedikit menguntungkan, kedua wanita itu juga sudah pergi. Jika aku langsung lari dari sini mereka pasti akan mengejarku'
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Nagato dengan nada monoton membuat Naruto memasang posisi bertarung lagi.
"Kalau begitu akan aku tunjukkan apa itu sakit padamu" ucapnya lalu konan dan shurado berjalan mendekati Naruto di susul dengan nagato di belakang mereka.
'Jika aku dapat menjatuhkan ketua mereka. Pasti mereka akan lebih memprioritaskan ketua mereka dari pada mengejarku. BAIKLAH ayo lakukan ini'
"Apa kau dan kedua temanmu akan bertarung denganku yang sudah memiliki sedikit tenaga ini? Heh sungguh memalukan" ejek Naruto untuk memancing satu lawan satu.
"…Baiklah kalau begitu aku akan maju sendiri melawanmu" ucap Nagato lalu berlari kearah Naruto.
'Bagus sekarang satu lawan satu, sekarang saatnya untuk mencari celah mengalahkannya'
Naruto siap-siap untuk menangkis dan menghindari serangan-serangan dari Nagato, tapi itu tidak seperti yang naruto perkirakan.
Nagato meloncat kesamping, yang di sana sudah ada Konan yang menunggu dengan posisi lutut di majukan dan kedua tangan di rapatkan di atas lutut untuk melempar Nagato keatas (susah jelasinnya bayangin saja konan melempar nagato keatas)
Nagato mendaratkan kakinya di tangan Konan. Di saat yang bersamaan, Konan melempar Nagato tinggi dan Nagato meloncat keatas dan melakukan tendangan.
Naruto melihat gerakan itu memasang posisi bertehan dengan menyilangkan tangannya di atas kepala.
DHUAK!
Kaki Nagato dan tangan Naruto beradu dengan keras, membuat Naruto meringins kesakitan karena tendangan keras tersebut hampir membuat dia berlutut.
Nagato tidak tinggal diam, dia menggunakan kaki yang tersisa untuk melakukan gaya tolak kebelakang untuk menjauhi Naruto.
Saat Naruto melihat Nagato meloncat kebelakang langsung saja berlari kearahnya yang baru saja mendarat.
Naruto melayangkan pukulan ke arah wajah Nagato yang masih belum siap dengan serangan selanjutnya hanya bisa memandang tangan itu yang hampir mengenai wajahnya.
DEG DEG
'sial kenapa harus sekarang' batin Naruto kesal.
Entah apa yang terjadi tapi wajah Naruto kelihatannya menahan sakit, dan pukulan Naruto melambat membuat Nagato dapat menghindarinya dengan mudah.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan Nagato menghindar ke samping dan menendang perut Naruto dengan tumitnya, lalu memukul punggung Naruto dengan sikunya membuat Naruto terbaring di sana.
"Rasa sakit ini, belum apa-apa" ucap Nagato singkat.
Dia menendang perut Naruto dengan keras membuat Naruto terlempar beberapa langkah darinya, dia berjalan mendekati Naruto lalu menginjak kepala Naruto dan menggesek-gesekkan telapak kakinya di kepala Naruto.
Naruto sekarang benar-benar pasrah, rencana yang dia pikirkan gagal karena kejadian yang tiba-tiba tersebut. Dia sudah kehabisan tenaga tidak bisa melawan lagi.
'Hehehe tidak aku sangka akan berakhir seperti ini' batin Naruto miris.
Tiba-tiba mereka mendengar suara mobil polisi yang sedang menuju arah mereka Nagato langsung saja menendang perut Naruto dengan keras membuat Naruto mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Ghuaahkkk"
"Shurado, kau bawa Jikudo dan Gakido ke markas" perintah Nagato lalu mengangkat Ningendo pergi.
Perlahan kesadaran Naruto mulai menghilang, yang dapat dia lihat saat sebelum dia pingsan adalah lampu merah dan dua orang perempuan tengah berlari kearahnya di ikuti oleh petugas polisi di belakang mereka.
"Jangan biarkan mereka kabur!" teriak polisi yang baru datang dengan tiga rekannya dan juga dua perempuan yang naruto selamatkan tadi.
Tiga polisi berlari mengejar Nagato dan yang lainnya sedangkan dua lagi memeriksa keadaan tubuh Naruto yang tidak sadarkan diri bersama dua orang perempuan yang dia selamatkan barusan.
"Dia hanya pingsan" ucap polisi itu, lalu mencari kartu tanda pengenal di kantong Naruto.
"Uzumaki Naruto? Cepat hubungi keluarganya" perintahnya pada anggotanya lalu membawa Naruto kerumah sakit.
Pindah scene
Bersama Naruko
Naruko sekarang tertidur di ruang tengah di atas meja, dia sudah tidak ingat berapa kali dia tertidur disana karena menunggu Naruto pulang dari kerjanya.
KRIIING KRIIING! KRIIING KRIIING!
Ponsel Naruko berdering membuat Naruko terbangun dari tidurnya.
"Uuuummhh~ siapa sih yang menelfon malam-malam begini?" Tanya Naruko entah pada siapa.
'Hmm? Naruto nii-chan?' batin Naruko saat melihat nama kontak yang menelpon adalah Naruto.
Karena Naruto hanya menelfon jika penting Naruko langsung saja menjawab telfon dari kakaknya.
"Mosi mosi ada apa Naruto nii-chan?…"
"Maaf nona apakah anda adalah keluarga dari saudara Uzumaki Naruto?" Tanya orang dari seberang telfon.
Naruko tentu saja kaget saat mendengar suara yang menelfon bukanlah kakaknya, melainkan suara orang lain yang tidak dia kenal memakai ponsel Naruto. Rasa cemas mulai menyelimuti hati Naruko, dia takut kalau yang memegang telfon kakaknya ini adalah penjahat yang menahan Naruto untuk meminta tembusan.
"I-iya saya adiknya tuan" jawab Naruko dengan rasa takut dan cemas.
"Ah baiklah, Uzumaki-san. Kami dari pihak kepolisian, Tolong beritau pada tuan dan nyonya Uzumaki kalau anak mereka sekarang tengah di rawat di rumah sakit Kuoh"
Mata Naruko terbelalak saat mendengar kakaknya sekarang berada dirumah sakit. Tanpa babibu lagi dia menutup sambungan telpon lalu mengambil jaket orangenya. Naruko berlari menuju rumah sakit yang di katakan oleh polisi itu. Tanpa memikirkan jarak dari sana ke rumah sakit, dia tetap berlari.
'Naruto nii-chan!'
Yang ada di pikirannya sekarang adalah kenapa Naruto bisa sampai dirumah sakit? Apa yang terjadi pada Naruto hingga dia masuk rumah sakit? Semua pertanyaannya akan terjawab saat dia sampai di rumah sakit nanti.
'Naruto nii-chan'
Naruko juga tidak menyadari bawa dia tidak membawa uang sepeserpun untuk memesan taksi. Naruko Tidak memiliki pilihan lain selain dia tetap berlari menuju rumah sakit dengan orang-orang yang melihat Naruko heran karena berlari-lari. Kembali kebelakang hanya akan membuang waktunya saja, melanjutkan perjalan adalah salah satu pilihan yang terpintas dikepala Naruko sekarang ini karena kecemasan menyelimuti hati dan pikirannya.
'Naruto nii-chan'
Lebih sepuluh menit Naruko berlari dan saat ini dia dapat melihat bangunan rumah sakit Kuoh yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi orang normal yang tergolong jarang olah raga seharusnya sudah tidak sanggup berlari. Namun entah kenapa… Naruko sama sekali tidak memperdulikan kondisi dirinya sekarang ini
Tapi saat di tengah jalan kakinya tersandung hingga membuatnya terjatuh membuat orang-orang sekitar melihat kearahnya.
BRUK
"AKH!" Naruko merintih kesakitan lututnya tergores dengan jalan membuat lututnya sedikit terluka, namun dia tetap berusaha berdiri tanpa mempedulikan keadaan kakinya yang terluka saat terjatuh barusan.
Seakan luka dikakinya itu bukan apa-apa dan berlari seperti tidak terjadi apa-apa pada kakinya.
'Naruto nii-chan' batin Naruko sedari tadi dia berlari.
Mungkinkah sebuah nama tersebut memberi dia kekuatan untuk terus tetap berlari hingga tujuan? Naruko juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, seolah Naruto adalah sumber dari semua kekuatannya, senyumnya, kebahagiannya.
Kehilangan Naruto adalah salah satu hal yang mungkin tidak dia inginkan dalam hidupnya.
SKIP TIME
Dirumah sakit tepatnya di ruang perawatan Naruto. Di sana hanya ada Naruto seorang yang terbaring di ranjang tidak sadarkan diri, kamar yang cukup besar dan lebar untuk kelas menengah. Tentunya kita tau bahwa kamar yang di tempati Naruto sekarang adalah kamar rawat VIP yang memakan biaya yang lumayan mahal.
Tidak lama kemudian Naruto membuka matanya.
"Huh? Di-dimana aku?" Tanya Naruto lalu melihat sekelilingnya.
Naruto merasakan kepalanya sangat pusing, tubuhnya terasa sakit dan berat, kakinya seperti mati rasa, dan tidak bisa di gerakkan.
Naruto berusaha agar dapat duduk agar kepalanya bisa merasa lebih baik dari pada berbaring malas-malasan di atas ranjang. Setelah Naruto duduk dengan benar dia lalu melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa, dan yang paling mengejutkan adalah ruangannya terlalu besar (menurut Naruto)
"Ini?… dirumah sakit, ya?" Tanya Naruto bingung.
BLAAM!
Pandangan Naruto teralihkan kearah pintu yang terbuka dengan kasar oleh orang dari luar.
"Naruko!" ucap Naruto kaget saat melihat Naruko yang berdiri didepan pintu mengenakan jaket orange miliknya dengan keringat membasahi wajah Naruko.
"Naruto… hosh, hosh… nii-chan" ucap Naruko terengah-engah kelelahan berlari dari apartemen hingga rumah sakit. Dia berpegangan pada pintu mencoba menormalkan nafasnya sebisa mungkin.
"Naruto… nii-chan hosh, hosh…" ucap Naruko dengan tangan kirinya berusaha menggapai Naruto.
Naruko berusaha melangkan mendekati Naruto, tapi saat dia ingin mengambil langkahnya tiba-tiba Naruko terjatuh dengan kaki yang bergetar. Naruto yang melihat Naruko terjatuh tentu saja khawatir dan dia berusaha untuk menggerakkan kakinya.
'KUSOOO!' runtuk Naruto karena kakinya sangat sulit untuk di gerakkan.
Naruko melihat kakinya yang bergetar hanya bisa merasa kesal karena tidak bisa berdiri dan berjalan mendekati kakaknya itu. Namun di situasi ini Naruko tidak bisa berkata apa-apa karena sebenarnya dia sangat kelelahan berlari sejauh itu.
Tidak menyerah, Naruko akhirnya memilih untuk menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya. Naruko menahan sakit dikakinya yang benar-benar terasa sakit, seperti bisa terlepas kapan saja.
"Naruko!" Naruto tidak tahan lagi menjatuhkan dirinya kebawah. Jika tidak dapat digerakkan kakinya, maka gunakan apa yang masih dia gerakkan dengan paksa.
"Naruto… nii-chan"
"Tunggu di sana Naruko, onii-chan kesana" ucap Naruto juga menyeret tubuhnya sendiri dengan tangannya mendekat kearah Naruko (seperti suster ngesot bersaudara).
Naruko menggenggam kakinya agar berhenti bergertar, sebuah usaha yang sia-sia dengan harapan kakinya bisa di gerakkan. Saat dia tengah focus dengan kakinya dia tiba-tiba merasakan sebuah pelukan dari sang kakak yang sudah berada didekatnya.
Naruko membalas pelukan Naruto dengan erat, air mata yang sedari tadi dia tahan tidak dapat terbendung lagi mengalir di pipinya.
"Naruto nii-chan!" Naruko menenggelamkan wajahnya dibidang dada Naruto agar Naruto tidak melihat wajahnya saat menangis untuk kesekian kalinya didepan Naruto.
"Naruko tenanglah onii-chan tidak apa-ap—" ucapan Naruto tidak selesai saat Naruko berteriak padanya.
"BAKA! hiks…hiks… Hiks, hiks…" Naruto menjadi bungkam saat dia merasakan tubuh Naruko yang bergetar di pelukannya.
"Baka (bodoh)…hiks, baka… hiks,hiks baka baka baka baka baka ONII-CHAN NO BAKA… hiks, hiks…" ucap Naruko membuat Naruto tidak bisa berkata apa-apa, yang hanya bisa dia lakukan hanyalah memeluk erat adiknya ini untuk membuatnya tenang.
Seraya menanti Naruko berhenti menangis Naruto menjelaskan semua hal yang terjadi kepada Naruko agar dia dapat mengetahui situasi yang dihadapi Naruto sekarang dan tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Tapi mendengar cerita Naruto tersebut membuat Naruko semakin mengeratkan pelukannya pada Naruto.
Tidak membutuhkan waktu yang lama Naruko sudah mulai berhenti menangis melepaskan pelukan mereka.
"Maaf sudah membuatmu khawatir Naruko, aku sudah gagal menjadi onii-chan yang baik untukmu" ujar Naruto seraya menghapus air mata di pipi kanan Naruko.
Naruko memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya lalu menggenggam tangan Naruto dipipinya.
"Naruto nii-chan tidak perlu meminta maaf"
'Tangan Naruto nii-chan, besar sekali ya' batin Naruko menggenggam tangan Naruto.
"Naruko juga minta maaf sudah membentak onii-chan seperti itu"
Naruto tersenyum melihat adiknya yang imut itu lalu mengelus rambut kuningnya gemas. Naruto melihat adiknya ini tadi berkeringat dan kakinya bergetar, sudah jelas dia tau kalau adikknya ini habis berlari dari tempat yang jauh.
"Apa kamu bisa berdiri?" Tanya Naruto pada Naruko.
Naruko melihat kearah kakinya lalu menggeleng lemah, kakinya sekarang benar-benar terasa sakit sekali. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan kakinya sedikitpun.
Naruto mencoba menggerakkan kakinya yang sepertinya bisa digerakkan walau agak sakit, dan memaksakan kakinya untuk bergerak. Dia berusaha untuk berdiri tapi kaki Naruto tidak sanggup untuk menahan beban dari tubuhnya.
Naruko melihat kakaknya khawatir, dari melihatnya saja dia tau kalau Naruto juga tidak bisa menggerakkan kakinya.
CLEK
Pintu terbuka untuk kedua kalinya, dan kali ini yang masuk adalah dua orang perempuan yang Naruto selamatkan tadi. Mereka berdua terkejut saat melihat Naruto dan perempuan yang tidak mereka kenal sedang berada di atas lantai.
"Ah kalian perempuan yang tadi ya? Bisa bantu aku adikku untuk berdiri?" ucap Naruto mendahului adiknya terlebih dahulu.
"U-un, tentu saja" ucap Sakura membantu Naruto duduk kembali di ranjangnya.
Sedangkan Shion membantu Naruko dan mendudukkannya di samping Naruto.
"Arigato, eto…? Perkenalkan namaku Uzumaki Naruto, dan ini adikku Naruko"
"Salam kenal… Apa kalian yang membawa Naruto nii-chan ke sini?" Tanya Naruko dan di balas anggukan dari salah satu perempuan disana.
"Ah namaku Shion, Miroku Shion dan ini temanku Haruno Sakura. Salam kenal Naruko-san"
"…Terimakasih banyak karena sudah menyelamatkan Naruto nii-chan" ucap Naruko dan sedikit membungkukkan badannya.
Sakura dan Shion saling memandang lalu mengalihkan perhatian mereka lagi kearah Naruko.
"Kamu tidak perlu berterimakasih Naruko-san, karena Naruto-san lah yang sudah menolong kami. Seharusnya kami yang berterimakasih pada kakakmu" ucap Shion dan membungkukkan badannya di ikuti oleh Sakura di sampingnya.
"Maaf Naruko-san karena kami kakakmu jadi seperti ini" ucap Sakura merasa bersalah.
"tidak apa-apa Sakura-san yang penting sekarang Naruto nii-chan selamat" balas Naruko lembut.
CLEK
Semua melihat kearah pintu melihat siapa yang datang.
"Ah anda sudah sadar Uzumaki-san, biar saya periksa anda sebentar" ujar dokter yang masuk.
Beberapa menit kemudian dokter itu sudah selesai memeriksa keadaan tubuh Naruto.
"Keadaan tubuh anda sudah membaik Uzumaki-san, anda hanya perlu istirahat yang cukup agar pulih sepenuhnya" ujar dokter itu
"Be-berapa biayanya dok?" Tanya Naruto ragu-ragu. Naruto tentunya sadar dengan fasilitas yang dia dapatkan sekarang ini, tidak salah lagi kalau kamar yang dia gunakan sekarang ini adalah kamar yang sangat mahal baginya.
"Tidak usah di pikirkan Naruto-san, kami sudah membayar semuanya" ucap sakura pada Naruto, membuat Naruto merasa lega.
"Terimakasih banyak Sakura-san, Shion-san" balas Naruko juga merasa lega.
"Un, Sama-sama, anggap saja sebagai rasa terimakasih. Walaupun sebenarnya ini tidak seberapa untuk membalas budi kepada kakakmu" ucap Sakura dan di balas anggukan dari Shion.
"A-ah ini sudah lebih dari cukup Sakura-san, Shion-san" ucap Naruko merasa tidak enak.
"Apa saya sudah bisa pulang dok?" Tanya Naruto karena dia tidak suka menginap di rumah sakit.
"Ya, sebenarnya anda masih belum sembuh sempurna… Tapi pastikan anda istirahat yang cukup dan jangan memaksakan tubuh anda" ujar dokter itu.
"Baiklah terimakasih banyak dokter" ucap Naruto.
Pindah scene
Di depan apartemen Naruto dan Naruko.
"Sekali lagi terimakasih banyak atas semuanya, jika bukan karena kalian aku tidak tau akan bagaimana jadinya aku di sana" ucap Naruto membungkukkan tubuhnya, di ikuti oleh Naruko di sampingnya.
"Tidak masalah Naruto-san, justru kami yang berhutang banyak kepadamu karena sudah menyelamatkan kami dari orang jahat itu" balas Shion juga membungkukkan sedikit badannya, dan juga Sakura.
"Kalau begitu kami pulang dulu Naruto-san, Naruko-san. Semoga kita bertemu lagi" ucap Shion lalu masuk kedalam mobil di ikuti oleh Sakura di belakangnya.
Naruto dan Naruko masih berdiri di sana sampai mobil yang dinaiki Shion dan Sakura tidak terlihat lagi.
"Hari sudah malam, ayo kita tidur Naruko" ucap Naruto.
"Hai" balas Naruko lalu mereka masuk keapartemen mereka.
SKIP TIME
Tidak terasa sudah akhir bulan maret. Besok Naruto dan Naruko sudah mulai masuk sekolah, dan bunga sakura sudah akan mulai tumbuh bermekaran dimana-mana.
Pagi hari yang cerah Naruto tengah sarapan pagi bersama Naruko.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan sama sekali sedari tadi. Naruko merasa suasana sekarang agak berbeda dari biasanya, entah mengapa kakaknya pagi ini tidak banyak bicara seperti biasa.
"Nee, Naruto nii-chan. Apa kita jadi pergi ke mall hari ini?" Tanya Naruko tiba-tiba memecahkan kesunyian didalam apartemen mereka.
"Ah ya onii-chan hampir lupa. Baiklah setelah sarapan nanti kita pergi ke mall" jawab Naruto yang baru ingat akan janjinya.
"hai!"
Beberapa menit kemudian setelah bersiap-siap, Naruto dan Naruko pergi berdua ke mall sesuai janji yang sudah Naruto buat.
Pindah scene
Sekarang Naruto tengah berjalan berkeliling bersama Naruko di mall. Naruko sepertinya sangat bersemangat melihat-lihat sekeliling, banyak toko-toko yang menjual barang-barang bagus. Namun sangat disayangkan Naruko harus menahan dirinya untuk hal yang lebih penting
Setelah sekian lama berkeliling akhirnya Naruko berhenti di depan toko peralatan sekolah.
(A/N: di jepang beberapa tokoh untuk alat sekolah seperti seragam, tas, dan sepatu didesain/sponsor langsung dari sekolah yang bersangkutan)
Mereka berdua masuk kedalam melihat-lihat.
"Ada yang bisa saya bantu anak muda?" Tanya orang tua pemilik tokoh.
"Kami sedang mencari sepatu paman" ujar Naruto.
"Baiklah ikuti saya nak" Naruto dan Naruko mengikuti paman itu ke deretan peralatan sekolah untuk anak SMA.
"Silahkan lihat-lihat. Kami memiliki berbagai ukuran dan jenis sepatu di sini" ujar paman itu lalu kembali kemesin kasir.
"Nah Naruko… silahkan pilih yang kamu suka" dengan itu Naruko pergi melihat-lihat sedangkan Naruto masih berdiri di sana melihat Naruko dari jauh.
Tidak lama menunggu Naruko kembali dengan sepasang sepatu di tangannya.
"Ayo naruto nii-chan!" ajak Naruko menarik-narik tangan Naruto.
"Ehehe hai, hai" Naruto berjalan kekasir membayar semuanya.
Setelah mereka membayarnya mereka keluar dari tokoh itu.
"Terimakasih naruto nii-chan" ucap Naruko senang.
"Tidak perlu dipikirkan Naruko…"
Naruto dapat melihat di wajah Naruko yang murung sambil melirik kesana-sini kelihatannya masih ingin di mall jalan-jalan.
Naruto lalu melanjutkan ucapannya.
"…Yah, Selagi kita masih di sini apa kamu tidak mau melihat-lihat yang lainnya?" tawar Naruto.
"Benarkah?" Tanya Naruko ragu-ragu.
Dia tidak ingin merepotkan kakaknya. Dia tau kalau kakaknya pasti hanya mencoba menghiburnya saja dengan berkata seperti itu.
Naruto mengangguk mantap membalas ucapan Naruko.
"Tentu saja, Kebetulan onii-chan sedang punya banyak uang" ucap Naruto meyakinkan Naruko.
'onii-chan punya banyak uang' dengan kata itu dengan instan membuat sanyuman lebar menghiasi wajah Naruko.
"Kalau begitu aku ingin sekali mencoba es krim di sini! Ah tadi aku juga melihat ada tempat orang menjual crepe, aku dengar kalau crepe di sana sangat enak. Aku ingin sekali mencobanya" ucap Naruko semangat dan mengatakan hal-hal lainnya yang ingin dia coba.
Naruto tentu saja sweatdrop melihat tingkah adiknya ini.
'Aku harap dia bisa lebih menahan dirinya' batin Naruto menangis anime.
Naruto tersenyum kikuk saat melihat naruko yang sangat semangat hari ini.
"Hm? Kenapa Naruto nii-chan senyum-senyum begitu?" Tanya Naruko penasaran.
"Hmm tidak ada apa-apa" ucap naruto mengelus kepala Naruko
"Ayo kita pergi…" Naruto menggantung kalimatnya seraya menggenggam tangan Naruko
"…kita akan bersenag-senang hari ini" lanjut Naruto dan berjalan menuruti kemana Naruko inginkan.
Dan sekarang Naruto dan Naruko menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang.
SKIP TIME
Pindah scene
Sore harinya Naruto dan Naruko sekarang tengah duduk di bangku taman beristirahat.
"Haaaah lelahnya" ucap Naruto seraya menyandarkan punggungnya bangku taman itu.
"Hehehe hari ini menyenangkan ya" ujar Naruko sambil melihat matahari sore yang mulai terbenam.
"Arigato ne, naruto nii-chan. Hontou ni arigato" ucap Naruko membuat Naruto melirik kearah adiknya, terlihat Naruko sekarang tersenyum kearahnya. Naruto sangat senang melihat senyum itu selalu melekat di wajah cantiknya.
"Hn, doitashimashite ore no kawaii imouto yo(adikku yang manis/imut)" Naruto mengelus kepala Naruko diiringi senyum lima jarinya.
Naruko benar-benar suka di perlakukan seperti ini oleh kakaknya. Dia bahkan tidak peduli jika di bilang brocon oleh orang, asalkan dia selalu bersama kakak tercintanya ini.
Setelah merasa cukup istirahatnya Naruto berdiri dari tempat duduk.
"…Ayo kita pulang, Naruko" ujar naruto lalu mengulurkan tangannya pada Naruko.
Naruko menyambut tangan naruto dengan senang hati lalu berjalan pulang berdua sambil berpegangan tangan.
Selama di perjalanan Naruko melirik kearah Naruto.
'Ini adalah salah satu alasan kenapa aku betah bersamanya…' batin Naruko.
Naruto merasa Naruko melihatnya dia juga melihat kearah Naruko dan tersenyum kearahnya.
Naruko juga ikut tersenyum dan mereka berdua kembali memfokuskan perhatian mereka pada jalan.
'Dan ini adalah salah satu alasan aku akan mengikutinya kemanapun dia pergi' lanjut Naruko membatin.
Keesokan harinya.
"Naruto nii-chan! Ayo cepat bangun nanti kita terlambat keacara pembukaan" ucap Naruko membangunkan Naruto.
5"Uuumm~? hai hai lima menit lagi Naruko" ucap Naruto yang masih setengah tidur.
"Tidak ada lima lima menit lagi baka onii-chan. Cepat, cepat, cepat" Naruko menarik tangan kakaknya membuat posisi Naruto sekarang menjadi duduk dengan mata yang masih tertutup.
"Aaa ah hai hai" jawab Naruto malas lalu pergi mandi.
Naruko sekarang tengah duduk di ruang tengah menunggu Naruto. Beberapa menit kemudian Naruto keluar dari kamar dengan mengenakan seragam Kuoh senior high school. Naruto duduk di depan Naruko dan baru saja berniat langsung makan, dia melihat kearah sarapan paginya Naruko yang bisa di bilang sedikit, tapi dia tidak ambil pusing dan mengambil sumpitnya.
Tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya saat dia melihat penampilan naruko yang mengenakan seragam Kuohnya.
Tapi yang menarik perhatian Naruto bukan penampilan Naruko, tapi perhatian Naruto terfokus pada dada Naruko yang kelihatannya menyesakkan.
"N-Naruko kenapa bajumu bisa jadi sempit seperti itu? Bukankah terakhir kali kita memesannya sudah pas dengan tubuhmu? Apa kita harus mengukur ulang lagi baju untukmu?" Tanya Naruto beruntun.
Wajah Naruko terlihat memerah saat ditanya oleh kakaknya seperti itu.
"K-kenapa yaa? aku juga tidak tau, Aha-ahahaha. Ah, ayo kita mulai makan Naruto nii-chan nanti kita terlambat" elak naruko karena malu saat kakaknya itu melihat tubuhnya bertambah berat.
'Padahal kemarin aku tidak makan terlalu banyak' batin Naruko menangis sambil mengingat apa saja yang dia makan kemarin di mall.
'Mungkin makan kemarin terlalu banyak kalori' lanjutnya.
Naruto tidak ambil pusing lalu mulai makan.
"itadakimasu" ucap naruto dan naruko bersama.
Naruko melihat sarapannya agak was-was, Lalu dia mencubit-cubit pinggangnya.
"Hmm? ada apa dengan pinggangmu Naruko?" Tanya Naruto membuat Naruko menjadi salah tingkah.
"E-eh? ah tidak ada a-apa-apa kok?" ucap Naruko melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Benarkah?" Tanya Naruto memastikan.
"Un, tenang saja bukan masalah yang besar kok" ucap Naruko.
Naruto mengangguk lalu kembali melanjutkan makannya.
Naruko menghela nafas lalu juga melanjutkan makannya bersama Naruto.
'Meskipun aku bilang bukan masalah besar…' Naruko lalu melihat keperutnya.
'Aku rasa aku harus diet lagi' batin Naruko sekali lagi menangis.
Pindah scene
Kuoh Academi, dulunya terkenal dengan sekolah khusus perempuan yang berkelas. Fasilitas yang lengkap, dan siswi yang ada disana semua berasal dari kalangan orang kaya raya. Bahkan darikota lainnya menyekolahkan putri mereka disekolah ternama tersebut.
Akan tetapi tahun saat Kepala sekolah Kuoh berganti, dia akhirnya membuat sekolahnya menjadi sekolah campuran untuk meningkatkan banyak peminat dari siswa dan siswi dari kota luar untuk bersekolah disana. Sudah dua tahun Kuoh academi menjadi sekolah campuran, dan pastinya seperti yang kita tau bahwa kelas tiga disana sekarang semua kelas tiga sekarang didominasi oleh perempuan.
Di depan pintu gerbang Kuoh High school yang dulunya khusus wanita dan sekarang menjadi sekolah campuran dengan perbandingan siswa laki-laki dan perempuan hanya 1:3. Banyak laki-laki ingin masuk sekolah ini karena sekolah ini memiliki banyak perempuan berkelas dan cantik. Akan tetapi untuk sekarang hanya ada beberapa laki-laki beruntung yang dapat masuk kedalam sekolah ini.
Awal bulan april bunga sakura bermekaran dimana-mana menghiasi pinggir jalan kota kuoh dan hari acara penerimaan murid baru di Kuoh high school sebentar lagi akan dimulai.
Beralih Bersama Naruto dan Naruko
"Cepat Naruto nii-chan gerbangnya akan ditutup!" teriak Naruko yang sudah berada didepan gerbang Kuoh.
Sedangkan Naruto menatap malas adiknya itu, dia benar-benar tidak ingin berlari-lari di hari pertamanya ini. Tapi mau bagamana lagi, ini semua salahnya karena bangun terlambat.
Naruto sudah sampai di dekat Naruko. Naruto yang baru saja ingin menormalkan nafasnya, tapi Naruko langsung menarik tangannya masuk kedalam.
"Ayo Naruto nii-chan kita langsung masuk" ucap Naruko menyeret Naruto masuk ke aula acara penerimaan murid baru.
Naruto dan Naruko duduk di kursi mereka tepat pada waktunya saat pembawa acara mulai membacakan susnan acara yang akan berlangsung.
Skip mukaddimahnya
"Acara pertama kata sambutan dari kepala sekolah" dengan itu kepala sekolah memasuki aula yang sudah di sediakan.
Kepala sekolah memiliki rambut kuning panjang dengan tanda belah ketupan di dahinya, dan dada yang besar membuat murid mata laki-laki di sana melotot tanpa berkedip. Tak terkecuali naruto, tapi naruko dengan sigap menutup mata naruto dengan tangannya.
Naruto yang di tutup matanya hanya bisa mendecih kesal, kenapa hanya dia yang di perlakukan seperti ini. Padahal dia juga ingin melihat boing-boing besar itu, runtuk hati Naruto.
"Selamat datang di Kuoh high school… saya adalah kepala sekolah di sini. Awalnya sekolah ini khusus perempuan, tapi karena ada perubahan dan permintaan dari pemerintah kami mengubahnya menjadi sekolah campuran seperti sekolah biasa lainnya, dan…" kepala sekolah itu memantau wajah-wajah murid baru di sekolahnya.
Saat dia melihat murid laki-laki yang kelihatannya tidak bisa berkedip muncul perempatan di dahinya. Tapi matanya terhenti saat melihat ada murid laki-laki yang matanya di tutupi dengan tangan oleh perempuan disampingnya.
KRETEK
KRETEK
Laki-laki di sana menelan ludah mereka saat mendengan suara patahan dari tangan kepala sekolah yang sepertinya sudah lama tidak memukul orang.
"… Dan tentu walau sekarang sekolah kami menjadi sekolah campuran, bukan berarti peraturan di sini juga berubah. Di sini kami mempunyai perlindungan untuk wanita, jika laki-laki berani menyentuh dan melecehkan wanita di sini, maka jangan segan-segan untuk melapor dengan guru. Apa sudah jelas? Laki-laki!" ucap kepala sekolah tegas lalu meninggalkan aula.
Naruko melihat kepala sekolah meninggalkan aula langsung melepaskan tangannya dari mata Naruto.
"Baiklah acara selanjutnya kata sambutan dari ketua osis" ucap pembawa acara.
Lalu orang yang dimaksud berdiri dari kursinya, dan kebetulan kursinya berada di belakang Naruko.
Naruto dan Naruko melihat kebelakang siapa ketua osis mereka.
Naruko memandang kagum dengan ketua osis mereka.
Sedangkan Naruto saat melihat siapa ketua osis di sekolah mereka hanya membuang wajahnya dari ketua osis itu. Tentunya tindakan Naruto di sadari oleh ketua osis itu karena Naruto di depannya.
Ketua osis itu menundukkan kepalanya, maju kedepan lalu menyampaikan ucapan sambutannya pada siswa-siswa baru di aula tersebut.
SKIP
"Acara selanjutnya pesan-pesan dari perwakilan murid baru… Sona Sitri silahkan maju kedepan" ucap pembawa acara.
Sona berdiri dari tempat duduknya yang terletak di depan arah 30 derajat ke kiri, sekitar dua meter dari Naruto.
"Ne Naruto nii-chan bukankah itu Sona-chan? Aku tidak menyangka kalau kita akan satu sekolah dengannya" ujar Naruko saat melihat Sona maju kedepan.
"Un, aku juga tidak menyangka kalau kita akan satu sekolah dengannya" balas Naruto.
"Tapi kenapa dia di sini ya? Bukannya dia mendapat biayasiswa di Konoha senior high school?"
Tanya Naruko penasaran.
Sedangkan Naruto hanya mengangkat bahunya tidak tau.
"Padahal itu sekolah yang di impi-impikan oleh orang lain" ucap Naruko lirih.
Ketua osis berjalan kembali ketempat duduknya. Naruko tersenyum kearah ketua osis itu dan di balas senyuman pula dari ketua osis.
Dia sempat melirik kearah Naruto, tapi Naruto membuang wajah dari dirinya.
Untuk kedua kalinya ketua osis itu sedikit menundukkan kepalanya lalu pergi ke tempat duduknya.
Sona sudah sampai di aula dan mulai mengatakan pesan-pesannya.
SKIP saja ya.
Setelah acara selesai para murid pergi keluar dari gedung acara. Ada yang pulang, ada yang keliling sekolah, dan ada juga saling berkenalan.
Tapi yang paling utama saat penerimaan murid adalah CLUB.
YA! Banyak club yang mendirikan stand di dekat gedung-gedung sekolah. Dan ada juga satu atau dua siswa/I yang berkeliling membawa poster-poster club mereka.
Bersama Naruto dan Naruko.
Naruto dan Naruko sekarang tengah melihat-lihat sekolah baru mereka berdua. Fasilitas di sini juga tidak kalah dari fasilitas sekolah terkenal lainnya, kenapa? Karena di sekolah ini memiliki banyak sponsor dari orang tua murid yang kaya-kaya, dan kenyataan itu baru naruto sadari saat melihat sikap, gaya bicara dan cara duduk senpainya saat di acara pembukaan.
Dan beberpa orang yang dia kenal yang termasuk anak orang kaya.
Bebrapa menit kemudian setelah melihat-lihat Naruto dan Naruko tengah duduk di bangku taman sekolah.
"Naruto-san! Naruko-san!" Naruto dan Naruko melihat kearah sumber suara yang memanggil mereka.
"Shion-san—ah maksudku Shion-senpai, Sakura-senpai"
"Kami berdua tidak menyangka jika kalian sekolah di sini juga" ujar Naruto pada Shion.
"Seharusnya kami yang bilang seperti itu, kami benar-benar tidak mengira kita akan satu sekolah seperti ini" ucap Sakura lalu melihat Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"K-kenapa melihatku begitu?" Tanya Naruto merasa risih dengan tatapan Sakura.
"Berapa umurmu Naruto?" Tanya Sakura tiba-tiba.
"Apa maksud dari pertanyaanmu itu sakura-senpai!" Tanya Naruto balik dengan wajah yang memerah malu.
"Naruto nii-chan sebenarnya meninggalkan sekolahnya dua tahun, dan sekarang dia baru melanjutkan sekolahnya" ucap Naruko sedih.
Mendengar jawaban itu mata Sakura dan Shion berkedip beberapa kali
"Itu berarti dia lebih tua dari kita Sakura" ujar Shion.
Sakura lalu menggenggam bahu kanan Naruto sedangkan Shion sebelah kirinya.
"Salam kenal… SENPAI" ucap Sakura dan Shion dengan senyum mengejek dan memberikan jempol mereka pada Naruto.
"HEI! Apa-apaan itu!" ucap Naruto kesal.
"Ahahaha" Sakura, Shion, Naruko tertawa melihat tingkah Naruto.
Mereka tidak sadar kalau tidak jauh dari mereka dari di taman itu juga ada empat orang perempuan yang tengah duduk di bawah pohon rindang.
"Jadi apa kalian sudah memutuskan untuk masuk club mana?" Tanya perempuan berambut merah merah panjang dengan mata hijau.
"Nee, kau sedang melihat apa Sona?" Tanya perempuan itu kesal saat mendapati Sona tengah melihat kearah lain.
Sona tidak menjawab lalu melanjutkan membaca buku saku kecilnya. Perempuan yang tidak mendapat jawaban itu melihat kearah yang Sona lihat barusan.
"Siapa laki-laki itu? Kelihatannya dekat sekali dengan kakak kelas itu" Tanya perempuan itu lagi.
"Ara ara, apa Sona tertarik dengan laki-laki itu?" Tanya teman lainnya dengan rambut hitam panjang yang di ikat poni tail.
"…" Sona diam tidak menjawab dan tidak memperdulikan ucapan kedua temannya itu.
"tidak aku sangka Sona yang terkesan dingin dan cuek ini ternyata sudah jatuh cinta dengan laki-laki yang baru saja dia kenal" ucap perempuan berambut merah.
"Ara ara benarkah? Aku kira Sona itu seorang yuri" ucap perempuan berambut hitam.
TWICH
Dengan ucapan itu sukses membuat perempatan di kepala Sona muncul.
"Sona itu bukan hanya seorang yuri… dia itu juga seorang tsundere level tertinggi"
TWICH TWICH
Perempatan di kepala Sona bertambah saat kedua temannya itu mengejeknya. Sedangkan perempuan berambut merah dan hitam sekarang tengah tersenyum licik di belakang Sona.
"Ara ara, sungguh berita yang mengejutkan" tambah perempuan berambut hitam menambah panas suasana.
"Bisa anda hentikan itu Rias-sama, Akeno-sama. Anda membuat Sona-sama tidak nyaman" tegur perempuan berambut hitam berkacamata yang sedari tadi diam mendengarkan mereka.
"Heee kau tidak seru Tsubaki-chan, apa kau tidak penasaran?" ucap Akeno.
Tsubaki menaikkan sebelah alis matanya tidak mengerti maksud dari ucapan Akeno.
"Majikanmu ini tidak pernah sekalipun bercerta tentang laki-laki yang dia suka" tambah rias menunjuk-nujuk pipi Sona.
Tsubaki menjadi diam saat mendengar penuturan dari Rias barusan memang benar adanya. Sudah lama Sona menjadi majikannya tapi dia tidak pernah mendengar Sona bercerita tentang laki-laki padanya atau siapapun. Sona melihat Tsubaki menjadi diam membuat dirinya jadi ingin pergi dari sini, tapi bahunya langsung di tahan oleh Rias dan Akeno menahan tangannya saat dia baru ingin berdiri.
"Kau mau KE-MA-NA Sona?" Tanya Rias dengan senyuman menawan.
Sona sweatdrop saat melihat senyuman Rias yang menurutnya menyebalkan itu, kalau temannya ini sudah seperti ini maka mereka hanya akan menggangunya terus jika tidak dia jelaskan kepada mereka. Tapi sekarang dia benar-benar sedang merasa malas untuk menjelaskannya, dia Sona lalu mengalihkan pandangannya kearah tsubaki memberi sinyal kepadanya untuk meminta bantuan.
Tepat saat Sona mengalihkan wajahnya kearah Tsubaki, Tsubaki langsung membuang mukanya pura-pura tidak melihat karena mengerti maksud dari majikannya tersebit. Tentu saja karena ucapan Akeno barusan membuat dia juga ikut penasaran dengan hal tersebut. Selama ini Sona tidak pernah tertarik dengan laki-laki sama sekali, bahkan Sona selalu mengabaikan laki-laki yang berusaha mendekatinya. Tapi baru kali ini dia melihat Sona memperhatikan seorang laki-laki.
'Awas saja kau nanti Tsubaki!' kutuk Sona dalam hatinya.
"Nee Sona siapa laki-laki itu?" Tanya Rias sekali lagi.
Sona memperbaiki letak kacamatanya lalu kembali mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang sekarang tengah tertawa bersama dengan Sakura,Shion,dan Naruko.
"Namanya Uzumaki Naruto, dia hanya pekerja paruh waktu di café onee-sama. Aku bertemu dengannya saat aku berkunjung kecafe onee-sama, dan aku tidak tertarik dengannya. Aku hanya tidak menyangka kalau dia juga bersekolah disini" jawab Sona menjelaskan dengan singkat, walau tidak sepenuhnya benar. dia juga tidak ingin menceritakan semuanya kepada temannya ini, dia juga memliki rahasia yang harus dia simpan sendiri. agar temannya itu tidak penasaran lagi.
Rias mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang sedang asik ngobrol dengan kakak kelas di sini.
"Dia lumayan tampan menurutku" komen Rias mengungkapkan pikirannya.
"Ara ara, apa kau tertarik dengannya Rias?" Tanya Akeno.
"Sona bilang dia bekerja paruh waktu. Itu berarti dia hanya anak miskin, mana mungkin orang sepertiku tertarik dengan anak miskin sepertinya" ucap Rias sombong.
Sona entah kenapa dia merasa marah saat rias berkata seperti itu tentang Naruto. Walaupun begitu, Sona bisa dengan baik menyembunyikan ekpresinya dari semua orang. Sedangkan Tsubaki hanya melihat reaksi Sona saat Rias berkata seperti itu. Tsubaki sudah lama menjadi bawahannya Sona, dia pasti tau persis seperti apa Sona itu. Tapi kali ini, dia benar-benar tidak bisa menebak ekpresi Sona. Sona yang focus dengan buku saku kecilnya, dengan pandangan datar seperti biasanya.
Tsubaki melihat kearah rombongan Naruto yang tengah tertawa sekarang. Dan akhirnya Tsubaki mengingat sesuatu yang penting.
"Sona-sama bukannya murid di sini tidak di perbolehkan kerja paruh waktu?" bisik Tsubaki pada Sona.
Sona mengangguk membenarkan ucapan Tsubaki
"Murid di sekolah ini di tidak di perbolehkan kerja paruh waktu, alasannya adalah agar murid di sekolah ini lebih focus dengan belajar mereka dari pada mencari uang. Dan jika sampai pihak osis mengetahui kalau dia kerja paruh waktu, mungkin saja…"
Sona menggangtung kalimatnya melirik kearah Rias dan Akeno yang sepertinya sedang membicarakan hal lain.
"Dia akan di beri hukuman?" lanjut Tsubaki, sona memperbaiki letak kacamatanya sambil menganggung.
"Dan yang lebih buruknya lagi dia akan dikeluarkan dari sekolah. Itu adalah salah satu peraturan mutlak di sekolah ini" ucap Sona.
'Aku harap dia tidak bertindak ceroboh' batin Sona khawatir.
Kembali ketempat Naruto dan Naruko.
"Jadi apa kalian sudah memutuskan untuk ikut club mana?" Tanya Sakura pada Naruto dan Naruko.
"Kalau aku masih ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Aku sudah banyak di beri poster dan tawaran untuk masuk club-club yang ada di sini… tapi aku belum menentukan akan masuk yang mana" ucap Naruko sambil melihat kearah stand yang banyak membujuk siswa dan siswi baru untuk masuk club.
"Kalau kamu Naruto?" Tanya Sakura.
Naruto melipat tangannya di balik kepalanya.
"Aku rasa aku tidak ikut kegiatan club, itu merepotkan. Aku bahkan tidak mendapat tawaran atau poster satupun dari mereka" ucap Naruto malas.
"Makanya jangan memasang wajah menyeramkanmu itu pada orang yang ingin menawarimu" ucap Sakura menegur Naruto.
Naruto memeasang wajah malas lalu menatap Sakura tepat di matanya, dan Sakura membalas Naruto dengan menatap Naruto tepat di matanya.
"A-ah ngomong-ngomong Apa kalian sudah melihat kelas kalian?" Tanya Shion memecah ketegangan.
"Ya, sayangnya aku dan Naruko tidak satu kelas. Naruko berada di kelas 1-A" ucap Naruto membuang wajahnya kearah lain.
"Wah kamu hebat Naruko. Lalu Naruto di kelas mana?" Tanya Shion penasaran.
"N-Naruto nii-chan di kelas 1-E" Shion tersentak saat mendengar kalau Naruto berada di kelas terakhir atau sering di sebut kelas terbawah.
"Jadi begitu ya?" ucap Shion lirih.
"Sudahlah Shion-senpai tidak usah dipikirkan. Kalau begitu kami pamit pulang dulu Shion-senpai, Sakura-senpai. Mata ashita" ucap Naruto.
"Ya mata ashita Naruto, Naruko-chan" balas Sakura dan Shion.
Naruto dan Naruko berjalan meninggalkan sekolah, tapi saat sudah keluar dari gerbang Naruto menghentikan langkahnya lalu melihat jam di ponselnya.
"Nee Naruko, ayo kita makan ramen di kedai teuchi jii-san" tawar Naruto.
"Baiklah, aku juga sudah lama tidak mampir kesana" ucap Naruko.
Pindah scene
Naruto dan Naruko sekarang sudah sampai di depan kedai langsung saja masuk kedalam.
"Selamat datang… ah rupanya Naruto-kun dan Naruko-chan, sudah lama tidak mampir Naruko-chan. Bagaimana kabarmu?" Tanya Ayame.
"Baik-baik saja Ayame nee-chan, omong-ngomong di mana Teuchi jii-san?"
"Oh dia tadi sedang kepasar membeli bahan makanan, sebentar lagi juga dia pulang" ucap Ayame.
"Tadaima Ayame"
"Okaeri otou-san, ada Naruto dan Naruko berkunjung"
"Ah Naruko ya, hisashiburi Naruko-chan. Bagaimana kabarmu?" Tanya Teuchi.
"Hai hisashiburi Teuchi jii-san, kabarku baik-baik saja" balas Naruko.
"Syukurlah, jadi kalian mau pesan apa?"
"Kalau aku pesan miso ramen, dan Naruto nii-chan pesan apa?" Tanya Naruko.
"Sudah pasti… ramen special jumbo dengan banyak narutonya!" ucap Naruto semangat.
"Ok pesanan kalian akan segera datang!" lalu Teuchi pergi kedapur membuat ramen.
Tidak menunggu lama pesanan Naruto dan Naruko sudah selesai.
"Silahkan di nikmati" ucap Ayame meletakkan ramennya di atas meja.
"Itadakimasu"
SKIP TIME
Setelah Naruto dan Naruko selesai makan mereka pamit pulang.
"Naruko tunggu sebentar ada yang harus aku bicarakan dengan Teuchi jii-san" ucap Naruto lalu masuk kembali.
"Jii-san!"
"Ada apa naruto? Apa ada barang yang tertinggal?" Tanya Teuchi.
"Tidak ada, tapi ada yang ingin aku bicarakan denganmu jii-san. Ini tentang pekerjaanku di sini… bagaimana bilangnya ya?"
"Hmm? Aku mengerti kau tidak bisa lagi datang dengan jadwal biasanya membantu Ayame dan hanya bisa datang setelah pulang sekolah?" Tebak Teuchi.
"A-ah iya sebenarnya begitu, karena sekarang kami sudah mulai sekolah mungkin aku akan sibuk dengan kegiatan sekolah" ucap Naruto menjelaskan lebih rinci.
Teuchi menepuk pundak Naruto seraya tersenyum.
"tidak apa-apa fokuslah dengan sekolahmu Naruto"
"Terimakasih banyak sudah mau mengerti Teuchi jii-san, sepulang sekolah aku akan datang membantu Ayame nee-chan di kedai!" ucap Naruto semangat.
"Yaa itu baru semangat!"
"Kalau begitu aku pulang dulu Teuchi jii-san"
"Hati-hati di jalan" ucap Ayame.
Ayame dan teuchi berdiri di luar melihat Naruto dan Naruko pulang.
"Kapan-kapan datang lagi ya Naruko" teriak Ayame sambil melambaikan tangannya.
"Ya!" Naruko melambaikan tangannya juga.
Dan hari pertama di sekolah akan di mulai besok pagi.
…( T )…
…()…
…( B )…
…()…
…( C )…
Chapter 02 end
Untuk semuanya. Have a good day
Saya hikarinoyami logout.
