Bersamamu sedikit lebih lama (FIX/diperbaiki)

()

Pair : naruto x single pair (Sona,Rias,Hinata,Naruko)

()

Story cerate by : hikarinoyami13

()

NO INCEST, NO HAREM

()

Genre : romance, hurt/comfort, drama

()

Rating for story : rating M (untuk beberapa alasan)

"Naruto" berbicara biasa

'Naruto' membantin/berbicara didalam hati/berpikir

"Naruto" flashback

I'm not own Naruto shippuden character or high school dxd

And I'm not own other character in my story

Chapter sebelumnya

"tidak apa-apa fokuslah dengan sekolahmu Naruto"

"Terimakasih banyak sudah mau mengerti Teuchi jii-san, sepulang sekolah aku akan datang membantu Ayame nee-chan di kedai!" ucap Naruto semangat.

"Yaa itu baru semangat!"

"Kalau begitu aku pulang dulu Teuchi jii-san"

"Hati-hati di jalan" ucap Ayame.

Ayame dan teuchi berdiri di luar melihat Naruto dan Naruko pulang.

"Kapan-kapan datang lagi ya Naruko" teriak Ayame sambil melambaikan tangannya.

"Ya!" Naruko melambaikan tangannya juga.

Dan hari pertama di sekolah akan di mulai besok pagi.

Chapter 03: ARC II (School Day)

"Naruto nii-chan ayo cepat" teriak Naruko di depan apartemen.

"Hoaaam iya iya onii-chan datang" ucap Naruto mengunci pintu apartemen mereka.

"Mou~ sekarang kita sudah SMA lho. Jangan bangun terlambat lagi. Kalau berangkat seperti ini terus nanti kita akan terlambat terus gara-gara Naruto nii-chan…" gerutu Naruko kesal lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Naruto.

"…" Naruto mendengar ucapan Naruko barusan hanya diam.

Pindah scene

Naruto dan Naruko sekarang sudah di dalam sekolah, lebih tepatnya di depan loker sepatu (kalian pasti taukan loker sepatu saat masuk gedung sekolah)

"Aku masuk dulu Naruto nii-chan" ucap Naruko saat selesai memasang sepatunya.

"Un, nanti istirahat onii-chan menjeputmu kekela—"

"Ah tidak usah Naruto nii-chan, kita bertemu di atap saja. Dah" ucap Naruko memotong ucapan Naruto barusan lalu pergi menuju kelasnya.

"Akan aku bawakan makanan!" teriak Naruto dan dibalas lambaiian dari Naruko.

Naruto melihat adiknya itu pergi meninggalkannya sendiri di sana.

Naruto tersenyum sedih melihat adiknya pergi meninggalkannya.

'Dia bukan anak kecil lagi' batin Naruto.

KRIIIIIING!

Naruto tidak terlalu memikirkannya, dia segera memasang sepatunya lalu pergi menuju kelasnya saat dia mendengar bel sudah berbunyi.

Naruto berlari menelusuri koridor yang sudah sepi karena semua murid sudah masuk kedalam kelas.

Tapi tidak di sangka saat persimpangan Naruto menabrak seseorang yang juga berlari sepertinya.

BRUUK!

"Itteee… Hei jangan berlari-lari di koridor baka!" ucap perempuan itu marah.

"Haah!? Apa kau bilang? Kau juga berlari di koridor tau!" balas Naruto tidak terima.

"Tapi kalau berlari lihat-lihat juga kalau ada orang!"

"Apa kau bilang? Sudah jelas kalau kau yang tidak lihat kalau ada orang"

"Apa kau bilang? Dasar kucing liar!" teriak perempuan itu.

"Kucing li-liar katamu! Aku tidak ingin dengar itu dari sadako sepertimu!" ejek Naruto balik.

"Dasar rambut kotoran!"

"mata hantu!"

"jelek!"

"pendek!"

"P-p-p-pendek kau bilang!?" ucap perempuan itu terbata-bata. Dia benar-benar tidak terima jika di panggil pendek. Naruto yang melihat perempuan itu mati kata langsung menyungging tersenyum kemenangannya.

"Hah rasakan itu, PEN-DEK!" ejek Naruto lagi dengan penekanan pada kata pendek.

"Grrrr dasar laki-laki—"

"Apa yang Kalian berdua lakukan di sini…!"

Naruto dan perempuan itu berhenti saling mengejek saat suara keras memanggil mereka.

Naruto dan perempuan itu melihat kearah asal suara.

"Ke-kepala sekolah!" ucap mereka serempak.

"Apa yang kalian lakukan disini? Jam pertama sudah dimulai!" ucap kepala sekolah tegas.

"Maafkan saya Tsunade-sama, ini semua karena kucing liar ini menabrak saya, jadi saya terlambat untuk masuk kelas" ucap perempuan yang di tabrak Naruto tadi menyalahkan Naruto.

"Apa kau bilang pendek? Bukannya kau yang tadi menabrakku!" ucap Naruto tidak terima.

"Haaaah! Sudah jelas kalau kau yang menabrakku dasar kucing liar!" balas perempuan itu.

"cukup!"

Dengan satu kata itu Naruto dan perempuan itu berhenti bertengkar. Tsunade menghela nafas melihat tingkah kedua murid barunya ini. Bahkan masih belum satu minggu mereka bersekolah disini tapi mereka sudah membuat masalah. Terlebih lagi masalah ini harus dia yang turun tangan untuk menanganinya.

"Baiklah kali ini akan aku beri hukuman…" ujar Tsunade.

Naruto memijit keningnya karena memikirkan betapa sialnya hari ini.

Sedangkan perempuan di sampingnya tidak terima karena harus di hukum di hari pertama dia di sini.

"Tapi Tsunade-sama saya tidak—" perempuan itu terdiam saat tsunade menatapnya tajam.

"…Ba-baiklah saya terima apapun hukumannya" lanjut perempuan itu.

"Baiklah hukuman kalian adalah membersihkan gudang olahraga sampai jam pertama selesai, dan aku secara pribadi yang akan melihat hasil kerja kalian. Jika aku melihat gudangnya belum bersih saat aku datang…" Tsunade menggantung kalimatnya, membuat suasana jadi tegang.

KRETEK KRETEK

Naruto dan perempuan itu menelan air ludah mereka saat mendengar suara itu.

"…Kalian akan aku jadikan latihan tinjuku untuk satu minggu kedepan" ucapnya lalu pergi meninggalkan perempuan itu dan Naruto.

Pindah scene

NARUTO POV ON

Sekarang aku dan perempuan pendek ini sedang membersihkan gudang olahraga dengan wajah kesal.

"Semua ini salahmu! Semuanya salahmu" ucap perempuan itu tidak jelas karena masih kesal.

Aku sudah mulai malas meladenin perempuan itu dan memutar bola mataku bosan, lalu melanjutkan pekerjaanku… lebih tepatnya hukuman kami.

"Padahal ini hari pertamaku, aku berharap kalau hari pertamaku ini di selingi dan di akhiri dengan senyuman…" ucap perempuan itu sambil berhayal tentang hari pertamanya di sekolah ini.

"TAPI… kenapa aku harus bersama kucing liar ini!" gerutu perempuan itu sambil membersihkan debu di sela-sela kotak peralatan olah raga.

"Sudahlah lebih baik kita selesaikan semuanya cepat" ujarku seraya menyusun kotak-kotak dengan rapi.

"Aku tidak ingin mendengar itu darimu kucing!"

NARUTO POV OFF

Naruto baru saja ingin memindahkan kotak yang telah dia susun tiba-tiba terjatuh. Tangan kanan memegang dadanya dengan raut wajah yang seperti menahan rasa yang sangat sakit di bagian dada.

"Uhuk, Uhuk, Uhuk" Naruto terbatuk dan dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan kiri yang tersisa saat merasakan akan ada cairan yang keluar dari dalam mulutnya.

"Hei kau tidak apa-apa!" Tanya perempuan itu tampak kahawatir dengan Naruto yang tiba-tiba jatuh.

Naruto dengan cepat membersihkan mulutnya dengan telapak tangan dan menyembunyikan telapak tangannya di balik kotak yang dia jatuhkan agar tidak terlihat apa yang ada di telapak tangannya tersebut.

"Daijobu desu, terimakasih atas perhatiannya" ujar Naruto melihat kearah wanita itu dengan senyuman diwajahnya lalu kembali membereskan kotak-kotak yang dia jatuhkan barusan.

"Hump siapa yang bilang aku khawatir dengan kucing liar sepertimu. Aku hanya bertanya saja, bukan berarti aku peduli baka!" sanggah wanita itu lalu melanjutkan pekerjaannya membelakangi Naruto.

'Sial aku lupa untuk meminum obatnya pagi ini' pikir Naruto saat dia baru ingat kalau dia tidak meminum obatnya sebelum pergi tadi karena terburu-buru.

Naruto sebenarnya masih merasakan sakit, namun dia harus menyelesaikan hukumannya ini sebelum kepala sekolah datang. Naruto menarik nafas panjang dengan hati-hati lalu melanjutkan hukumannya tersebut, namun setelah meletakkan kotak tersebut Naruto merenguh dan mencari-cari di dalam tasnya 'Aku harap masih ada yang tersisa di dalam sini' batin Naruto yang sedang mencari obat cadangan didalam tasnya.

'Ah ini dia' batin Naruto lalu mengambil satu botol kecil yang ada didalam tasnya, dia membukanya dan mengeluarkan isi dari botol tersebut.

'Masih tersisa satu' batin Naruto lalu pergi keluar mencari keran terdekat untuk mencuci tangannya dan meminum obatnya tersebut (keran air sekolah jepang bisa untuk diminum langsung)

Perempuan yang melihat apa yang di ambil Naruto barusan hanya merasa penasaran, sekilas namun dia dapat melihat kalau Naruto tadi membawa sebuah tablet kecil yang baru saja di keluarkan oleh Naruto dari dalam botol kecil.

Perempuan itu hanya memandang Naruto dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan orang seperti Naruto dia akhirnya melanjutkan pekerjaannya dalam diam.

Pindah scene

Naruto memandang cairan kental berwarna merah pada tangan kirinya prihatin. Wajah Naruto mengeras dan mencuci tangannya dengan kasar. Setelah mencuci tangan dia merenguh obat di dalam saku bajunya.

Naruto memandang obat tersebut dengan raut wajah sedih 'Otou-chan, Okaa-chan' batin Naruto lalu menelan obat tersebut. Tanpa Naruto sadari kalau ada sepasang mata di dalam kelas yang duduk di dekat jendela memperhatikan Naruto sedari awal Naruto mencuci tangannya.

SKIP TIME

Sekarang perempuan yang tidak Naruto kenal itu tengah duduk istirahat di dalam gudang bersama Naruto yang sepertinya sedang membereskan beberapa peralatan yang masih kotor.

"Hei kucing, aku tidak ingin semua orang mendengar cerita kalau aku diberi hukuman di hari pertama sekolahku bersama kucing liar sepertimu! Bersikaplah seperti kita tidak pernah bertemu. Mengerti!" ucap perempuan itu pada Naruto.

"Aku juga tidak ingin orang tau kalau aku di hukum di hari pertamaku ini! Pendek!" balas Naruto sengit.

Perempuan itu berdiri dari duduknya mendekati Naruto dengan wajah kesal. "Bisakah kau berhenti memanggilku pendek kucing, aku ini tergolong tinggi di antara perempuan seumurku" ucap perempuan itu sambil menekan-nekan pipi Naruto dengan terlunjuknya.

"Bisa kau singkirkan tanganmu dari wajahku, pendek" ucap Naruto kesal.

"Humph kau seharusnya bangga karena bisa merasakan ujung jariku ini di wajahmu, kucing"

Mereka terus bertengkar tanpa menyadari kalau Tsunade sudah berdiri di depan mereka. Merasa di abaikan Tsunade sedikit berehem untuk mendapatkan perhatian mereka.

"Ehem" tapi masih di abaikan oleh Naruto dan perempuan itu.

"Bisakah kau berhenti memanggilku kucing liar. Aku memiliki nama kau tau" Tanya Naruto juga tidak suka di panggil kucing liar.

"Aku tidak perlu mengetahui namamu yang tidak penting itu. Dari awal Kau memang seperti 'kucing liar' di mataku, kucing"

"Ehe-ehem" sekali lagi Tsunade mencoba menarik perhatian mereka, tapi tetap saja di abaikan.

"Hah kalau begitu aku juga tidak akan berhenti memanggilmu pendek karena kau memang kenyataannya "

TWICH TWICH

Muncul perempatan di kepala Tsunade saat dia benar-benar di abaikan di sini. Selama dia menjadi kepala sekolah disini tidak pernah ada yang berani mengabaikan dia seperti ini.

"EHEM!" kali ini ehemannya lebih kasar dari sebelumnya.

"APA!" teriak mereka kompak kepada Tsunade.

Tsunade melongo tidak percaya saat dia di bentak oleh kedua murid di sekolahnya ini. Tidak hanya mengabaikannya, tapi mereka berdua juga berani membentaknya. Ini sungguh membuat kesabaran Tsunade menjadi melepuh-lepuh. Sedangkan Naruto dan perempuan di sampingnya berkeringat dingin saat melihat siapa yang mereka bentak barusan.

"T-T-Tsunade-sama"

"Hoooo, sepertinya Kalian menikmati hukman kalian ya" Ujar Tsunade lembut sambil merenggangkan tulang tulang jemarinya yang terasa gatal ingin memukul orang.

"A-ano Tsunade-sama bi-bisakah kita bicarakan ini baik-baik?" Tanya Naruto yang tidak ingin di jadikan samsak tinju kepala sekolah mereka ini. Sedangkan perempuan di samping Naruto mengangguk-angguk ketakutan.

"Hooo baiklah kita bicarakan ini baik-baik saat di ruanganku" ucap Tsunade kembali menuju ruangannya. Di ikuti Naruto dan perempuan yang tidak dia kenal itu.

"Ini semua salahmu kucing!" ucap perempuan itu dengan nada kecil agar tidak terdengar oleh Tsunade di depan mereka.

"NANI!? Kau yang memulainya duluan!" balas Naruto.

"Ini salahmu karena membentaknya"

"Hei kau juga"

"Tidak kau yang membentaknya"

"Kau!"

"Kau!"

"Grrr dasar Pedophil!"

"Sadako!"

"Hidung belang!"

"Mata rabun!"

"Kucing liar!"

"Pendek!"

Mereka terus bertengkar hingga akhirnya sampai di kantor kepala sekolah. Dan di ruang kepala sekolah mereka berdua mendapat ceramah panjang x lebar dari Tsunade. Hampir tiga puluh menit mereka di sana akhirnya mereka di perbolehkan masuk kekelas mereka masing-masing.

Saat sampai di persimpangan Naruto dan perempuan itu berpisah.

"Humph!" ucap mereka serempak saat mereka mengambil jalan yang berbeda.

Naruto kearah kiri dan perempuan itu berjalan lurus menuju kelasnya.

Di saat yang bersamaan

Di depan ruang kelas A perempuan itu menarik nafasnya sebelum masuk, dan di saat yang bersamaan di depan ruang kelas E Naruto dan perempuan itu masuk kedalam kelas secara serempak, namun berbeda kelas.

SREEEK

Di saat yang sama di kelas yang berbeda Semua mata di kelas E tertuju kearah Naruto dan di kelas A semua mata tertuju kearah perempuan itu berdiri.

"Kamu terlambat dua puluh menit hyuuga-san/uzumaki-san" Ucap guru yang mengajar.

"Maafkan saya sensei" ucap Naruto dan Hyuuga pada saat bersamaan.

Kita beralih ditempat Hyuuga.

"Baiklah kali ini saya maafkan, Silahkan masuk Hyuuga-san" ucap guru yang mengajar di kelas 1-A.

"Terimakasih banyak Kurenai-sensei" ucap Hyuuga lalu duduk di bangkunya di sudut belakang di dekat pintu belakang.

"Baiklah kita lanjutkan lagi pelajarannya" ucap gurunya menjelaskan pelajaran yang baru saja terhenti.

Hyuuga melihat teman di sampingnya yang berambut kuning, entah mengapa itu membuatnya teringat dengan orang yang menyebalkan bersamanya barusan. Perempuan berambut kuning yang di sampingnya merasa di perhatikan mengalihkan pandangannya kearah Hyuuga.

"Salam kenal namaku Uzumaki Naruko, yoroshiku ne" ujar Naruko.

"Ah namaku Hyuuga Hinata desu, kochirakoso yoroshiku" balas Hinata lalu mereka kembali focus kepelajaran yang sedang berlangsung.

Sedangkan di tempat Naruto dikelas 1-E.

"Berdiri di Lorong!" ucap guru itu kasar tanpa melihat kearah Naruto.

"T-tapi sensei"

"HUH!?"

"Ha-hai! sumimasen" balas Naruto ketakutan lalu pergi berdiri di depan kelas.

SKIP TIME

KRIIIIING!

Waktu istirahat sudah berbunyi, siswa dan siswi mulai berjalan meninggalkan kelas dan kebanyakan dari mereka pergi kekantin membeli makan.

Sedangkan Naruto? Naruto sekarang tengah di marahi oleh Anko di depan kelas karena keterlambatannya pada pertemuan pertamanya dengan pelajaran anko, tentunya dia dimarahi habis-habisan karena itu.

"Lihat itu di hari pertama dia sudah membuat masalah" ungkap salah satu siswa dari kelasnya yang baru saja keluar

"Lebih baik kita tidak dekat-dekat dengannya" tanggap siswa yang lainnya.

Naruto yang mendengar itu hanya bisa diam saja, hari pertama sekolahnya benar-benar berantakan. Setelah sekian lamanya dia dimarahi dengan bahasa yang kasar, akhinya Anko merasa puas dan pergi meninggalkan Naruto.

Naruto langsung saja masuk dan meletakkan tasnya di mejanya di dekat jendela lalu pergi ke kantin untuk membeli makanan, takutnya nanti Naruko terlalu lama menunggunya di atap.

Di kelas 1-A beberapa menit sebelum Anko meninggalkan.

"Naruko-chan ayo kita makan ke kantin" ajak Hinata.

"Baiklah tunggu sebentar aku membereskan mejaku" ujar Naruko.

"Hei kalian mau kemana?" Tanya perempuan berambut kuning cerah di ikat ponytail kepada Naruko yang baru saja selesai memasukkan barangnya. Di perempuan itu ada temannya yang juga berambut kuning tapi di ikat dua di belakang seperti kipas.

"Ino harusnya kau memperkenalkan diri terlebih dahulu, ini hari pertama kita di kelas" tegur temannya.

"Ah Gomen. Namaku Ino, Yamanaka Ino. Yoroshiku ne, dan ini temanku sejak SMP Sabaku Temari"

"Yoroshiku onegaishimasu" ucap Temari.

"Un, namaku Hyuuga Hinata, dan dia Uzumaki Naruko. Korekara yoroshiku"

"Nee, nee Kalian mau kemana? apa kami juga boleh ikut?"

"Tentu saja Ino-san, Temari-san. Kami barusaja ingin pergi kekantin" ucap Hinata. Lalu mereka berempat pergi ke kantin sambil bercertia sepanjang jalan menuju kantin.

"Sona-sama apa kita juga akan kekantin?" Tanya Tsubaki.

"Ya tapi kita tunggu Rias dan Akeno datang" ujar Sona dan dibalas anggukan dari Tsubaki.

Tidak menunggu lama Rias dan Akeno datang kekelasnya Sona dengan wajah yang sangat senang saat semua laki-laki yang dia lewati melirik kearahnya.

"Ayo kita pergi Sona, aku sudah kelaparan" ujar rias merengek mengelus perutnya.

"Ara ara, lebih baik kamu bersifat lebih dewasa Rias. Kita tidak sedang berada di rumahmu" ucap Akeno pada Rias, namun Rias hanya mengabaikan perkataan temannya itu.

"Baiklah ayo kita pergi" ucap Sona lalu mereka pergi kekantin.

Kembali bersama Naruto

Naruto sekarang tengah berlari kecil menuju kantin untuk mencari makanan untuknya dan Naruko, mengingat dia kehabisan waktu karena kena marah oleh Anko-sensei dia takut nanti Naruko lama menunggunya.

'Makanan apa yang Naruko mau ya? Dia pasti kelaparan menungguku di sana' batin Naruto.

Tapi langkah Naruto terhenti saat dia melihat Naruko yang tengah mengantri mengambil makanan sendirian (menurut pandangan Naruto). Namun dia tidak tau kalau Naruko sebenarnya bersama teman sekelasnya disana.

'Hmm? Aku kira dia menunggu di atas?' batin Naruto lalu berjalan kearah Naruko.

Naruko yang berdiri membelakangi Naruto membuatnya tidak tau kalau Naruto tengah bejalan kearahnya sekarang. Saat Naruko selesai mengambil makanannya dia pergi dari sana bersama teman sekelasnya membuat Naruto berhenti dan bersembunyi di balik siswa lainnya saat dirinya melihat perempuan yang dia temui tadi pagi sedang bersama dengan Naruko. Mereka lalu mengambil kursi terdekat dan mulai memakan makanan mereka sambil bercerita dan tertawa. Temari duduk di samping Hinata sedangkan Ino duduk di samping Naruko. Jauh dari mereka Naruto melihat wajah Naruko yang kelihatannya senang sekali bersama temannya. Dia tidak menyangka perempuan yang bersamanya tadi pagi berteman dengan Naruko.

Sebenarnya Naruto tidak mempermasalahkan hal itu, selama Naruko senang.

Tapi…

Entah kenapa Di dalam hatinya dia sedikit merasa sedih…

Tapi di sisi lainnya dia juga merasa senang saat melihat Naruko bersama temannya barunya disini. Berbanding terbalik dari pada dirinya, hari pertama saja sudah bertemu dengan orang yang menyebalkan, dapat hukuman dari kepala sekolah, lalu berdiri di depan kelas dan di marahi habis-habisan. Dulu Naruko hanya memiliki sedikit teman untuk di ajak bermain, karena Naruko selalu saja bersamanya kemanapun dia pergi. Bukannya Naruto keberatan, hanya saja dia juga ingin Naruko memiliki teman-teman yang dapat Naruko percaya dan mendukungnya.

Temari yang merasa diperhatikan langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang tengah berdiri di dekat pintu kantin melihat kearah mereka. Hal itu tentu saja membuat temari merasa risih, kenapa ada orang asing melihat kearah mereka seperti itu. Selang beberapa detik kemudian laki-laki itu berbalik pergi meninggalkan kantin.

Naruto yang tadi sadar kalau temannya Naruko juga melihat kearahnya barusan langsung saja meninggalkan kantin, namun saat dia berbalik arah malah tidak sengaja menyenggol Sona yang baru saja sampai di kanti bersama teman-temannya.

"Ah, Maaf aku tidak— ah Sona-chan, Aku benar-benar minta maaf" ucap Naruto melihat yang dia senggol ternyata Sona.

"Ghk!" Pipi Sona sedikit merona saat Naruto memanggilnya dengan suffix –chan 'lagi'. Terlebih lagi dia memanggil namanya seperti itu di depan teman-temannya.

Sejak dia bertemu dengan Naruto di café kakaknya dia sudah bilang dengan Naruto untuk tidak memanggil nama depannya di depan umum, dia merasa malu di depan teman-temannya jika Naruto memanggilnya seperti itu karena tidak ada laki-laki yang pernah atau berani memanggil dia dengan nama depannya.

Sedangkan Rias, dan Akeno tersenyum penuh makna di belakang Sona saat melihat ada laki-laki yang berani memanggil keturunan Sitri ini dengan nama depannya. Di tambah dengan Sona yang sama sekali tidak marah kepada Naruto membuat mereka ingin tau siapa laki-laki ini bagi Sona.

Berbeda dengan Tsubaki yang terkejut saat ada laki-laki yang berani memanggil Sona dengan nama depannya. Marah, itulah yang terlihat dari raut wajah Tsubaki.

'Berani-beraninya orang seperti dia memanggil Sona-sama dengan nama depan… di tambah lagi di depan orang banyak seperti ini? Dan apa-apaan suffix nya barusan? –chan!? Tidak ada yang berani seperti itu kepada Sona-sama selama ini!'

Tsubaki memperhatikan Naruto dengan teliti, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut kuning tidak beraturan, mata biru dan goresan dipipi, tubuh tinggi, berpakaian tidak rapi, tidak ada tata krama, tidak ada sopan santun sama sekali. Begitulah yang dipikirkan oleh Tsubaki saat ini terhadap Naruto.

Di saat yang sama saat Tsubaki melihat Naruto dari ujung kaki ke ujung rambut, Naruto yang sadar dilihat seperti itu entah kenapa membuatnya agak terganggung, bahkan merasa risih saat di lihat seperti itu.

"Tidak apa-apa Uzumaki-san, kebetulan sekali kita bertemu disini. Apa kamu tidak pergi membeli makanan?" Tanya Sona.

"Tidak Sona-chan aku hanya melihat-lihat saja, dan… etooo?"

"Ara ara maaf ketidak sopanan kami. Perkenalkan namaku Himejima Akeno kelas 1-B, salam kenal Uzumaki-kun~" ucap Akeno memperkenalkan dirinya di tambah dengan kedipan matanya berusaha membuat Naruto tergoda olehnya.

Mengibaskan rambut nya kebelakang dengan senyuman angkuh dia mulai memperkenalkan dirinya kepada Naruto.

"Hmph, Perkenalkan aku adalah anak pengusaha kaya di kota ini. Kelas 1-B Rias Gremory, ingat itu baik-baik Uzumaki" ucap Rias mengacungkan telunjuknya kewajah Naruto, membuat Naruto harus sedikit memundurkan wajahnya karena kaget. Naruto tersenyum kaku saat melihat cara rias memperkenalkan dirinya, benar-benar… elegant, Mungkin.

"…Kau seharusnya berterimakasih pada tuhanmu karena sudah mendengar nanaku Uzumaki" lanjut Rias melipat tangannya di bawah dadanya dengan bangga.

Sedangkan sona hanya menggeleng melihat tingkah temannya yang satu ini tidak pernah berubah. Naruto hanya tersenyum kikuk saat mendengar bagian akhirnya yang terkesan kurang enak di dengar.

Semuanya kemudian mengalihkan pandangan kearah Tsubaki yang sedari tadi hanya diam saja. Tsubaki melihat Sona juga ikut melihat kearahnya dengan rasa terpaksa dia harus memperkenalkan dirinya.

"Shinra Tsubaki… Desu" Tsubaki memperkenalkan dirinya dengan singkat, jelas, padat, dan tepat. Plus dengan wajah datarnya karena masih tidak senang dengan attitudenya Naruto.

Sona menaikkan sebelah alisnya heran dengan sikap Tsubaki yang dingin kepada Naruto, yang baru saja dia temui. Namun Sona tidak terlalu menanggapinya karena itu bukan termasuk hal yang harus dia urus.

"A-Ah Un... Salam kenal Shinra-san, Himejima-san, Gremory-san. Namaku Naruto Uzumaki, panggil dengan Naruto saja. Yoroshiku" ucap Naruto dengan senyuman lima jarinya.

"Ara, ternyata kamu tampan juga ya." Ucap Akeno menggoda Naruto.

"Terimakasih atas pujiannya Himejima-san, anda juga cantik seperti yang di bicarakan di kelas kami" ucap Naruto memuji Akeno.

"Benarkah? Memangnya apa yang mereka ceritakan tentangku?" Tanya Akeno penasaran.

"E-ettooo… te-tentang tubuhmu, aha-Ahaha" ucap Naruto gugup.

Naruto tidak bohong, kelasnya juga membicarakan hal yang sama saat dia kena omeli di koridor, mungkin cerita tentang mereka berdua sudah tersebar merata di sekolah ini.

Akeno memerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar berita itu. Dia tidak menyangka kalau mereka sudah di bicarakan di sekolah ini, padahal hari ini adalah hari pertama mereka bersekolah disini, yah mungkin akan ada fans clubnya nanti.

"Ara~ apa Naruto-kun juga tertarik dengan tubuhku?" Tanya Akeno menjahili Naruto.

Wajah Naruto memerah saat di Tanya seperti itu. Laki-laki mana juga yang tidak tertarik dengan tubuh seperti Akeno itu, bahkan Naruto yang terkesan bodoh dengan cintapun bisa terpengaruh oleh nafsu. Memalingkan wajahnya tersipu malu Naruto tergagap-gagap menjawab pertanyaan frontal dari Akeno tersebut.

"A-ah, Himejima-san aku t-tidak… aku… aku hanya—"

"Akeno berhentilah menggoda Uzumaki-kun, dia menjadi terganggu" ucap Sona membantu Naruto.

Naruto mengalihkan pandangannya pada Sona seolah berkata.

'Arigato Sona-chan, lain kali akan aku traktir ramen untukmu' batin Naruto.

Sona mengerti maksud dari pandangan Naruto hanya membuang wajahnya dengan sedikit rona merah di pipinya.

"Ara, ara maafkan aku Sona-chan…" ucap Akeno lalu melihat kearah Naruto.

"Tidak usah terlalu formal Naruto-kun. Panggil saja aku akeno atau akeno-chan juga boleh kalau kamu mau, ufufu" ujar Akeno.

"U-un, baiklah… Kalau begitu aku permisi dulu Sona-chan, Akeno, Gremory-san, Shinra-san" ucap Naruto sedikit membungkuk lalu pergi.

"Huuuh, Lumayan untuk ukuran orang tidak mampu sepertinya"

"Ara ara Rias kau bilang kalau kau tidak tertarik dengan orang miskin seperti dia" mendengar kata-kata itu Rias mengibas rambutnya elegan, lagi.

"Heh, tentu saja aku tidak tertarik dengan orang seperti dia. Aku hanya mengeluarkan pendapatku saja. dia seharusnya bangga saat aku memujinya barusan" ucap Rias.

"Sudahlah ayo kita makan" lanjut Rias berjalan meninggalkan temannya.

Sedangkan Sona berhenti saat melihat perempuan berambut kuning di ikat twintail yang sekelas dengannya sedang duduk makan bersama dengan teman-teman satu kelasnya.

'Bukannya dia selalu saja lengket bersama Naruto?' batin Sona heran.

Sona lalu membalikkan badannya melihat Naruto yang sudah jauh dari kantin berjalan entah kemana. Sona melepaskan kacamatanya membersihkan debu yang menempel dikacamatanya, Setelah itu dia pasang kembali.

'Sudahlah… Lagian bukan urusanku' batin Sona lalu kembali berjalan kearah ibu kantin yang berjualan.

Bersama Naruko yang sekarang tengah bercanda tawa bersama Hinata, Ino, dan Temari sembari memakan makanan mereka. Naruko tiba-tiba saja berhenti memakan makanannya saat dia merasa ada yang janggal.

"Ada apa Naruko-chan?" Tanya ino saat melihat Naruko tiba-tiba berhenti makan.

"Ah tidak ada apa-apa kok Ino-chan"

"Sudah cepat habiskan makananmu sebentar lagi waktu istirahat habis" ujar Hinata.

Naruko menangguk lalu melanjutkan makannya yang sedikit lagi akan habis. Entah kenapa Hatinya sekarang sedang merasa gelisah… dia merasa melupakan sesuatu yang sangat penting.

'NARUTO NII-CHAN' Naruko tentu saja panik saat dia teringat janjinya dengan Naruto tadi pagi kalau mereka akan bertemu di atap.

Naruko berdiri dari tempat duduknya dengan sigap dia membereskan makannya, berharap dia masih sempat untuk menemui kakaknya di sana dan menepati janjinya dengan Naruto.

'Naruto nii-chan' batin naruko cemas.

"Hmm? Kenapa kau terburu-buru Naruko?" Tanya Temari.

Hinata, Ino dan Temari bingung melihat Naruko yang sepertinya sedang terburu-buru.

"Maaf aku harus cepat… aku lupa kalau ada Ja—"

KRIIIIING!

Baru saja Naruko ingin pergi dari sana, namun suara bell berbunyi menandakan waktu istirahat sudah selesai. Naruko tidak sempat menemui kakaknya diatap. Dia sudah melupakan janjinya dengan Naruto tadi pagi. Naruko di penuhi oleh rasa cemas, bersalah, dan kesal pada dirinya sendiri. Ino, Temari, dan Hinata melihat Naruko berdiam diri disana ikut berdiri dan mendekati Naruko.

"Ada apa Naruko?" Tanya Hinata lembut pada Naruko sambil menggenggam kedua bahu Naruko.

Naruko menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengalihkan wajahnya pada Hinata seraya tersenyum gentir.

"Tidak… tidak ada apa-apa kok Hinata-chan" ucap Naruko berbohong kepada teman-temannya menyembunyikan apa yang dia rasakan sekarang.

"Apa benar tidak ada ap—" Ino tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat Naruko memotongnya.

"Ayo kita masuk, nanti kita terlambat" potong Naruko lalu pergi mendahului temannya.

Hinata, Ino dan Temari saling bertukar pandangan merasa cemas dengan tingkah Naruko yang tiba-tiba berubah. Mereka tentunya bingung harus berbuat apa, Cuma bisa berharap kalau Naruko akan baik-baik saja.

"Sudahlah itu adalah masalah pribadinya Naruko-chan, kita tidak bisa ikut campur…" ucap Temari lalu melihat kearah Naruko yang pergi meninggalkan mereka.

"… Biarkan dia menyelesaikkan urusannya sendiri, kita mungkin tidak bisa berbuat apa-apa" lanjut Temari lalu berjalan menyusul Naruko. Hinata dan Ino mengangguk lalu berlari kecil menyamai langkah dengan Temari.

SKIP TIME

Bel pulang sudah berbunyi, Naruto langsung saja pergi menuju loker sepatunya. Tapi sebelum Naruto pergi dia membuka loker sepatu Naruko lalu meletakkan secarik kertas kecil di sana dan meletakkan kunci apartemen mereka lalu pergi menuju kedai ramen Teuchi membantu Ayame di sana.

Naruko baru saja sampai di lokernya.

Dia juga sempat melihat Naruto yang baru saja berlari keluar melewati gerbang sekolah.

'Naruto nii-chan… gomen' batin Naruko sedih lalu membuka lokernya.

Dia terkejut saat melihat ada secarik kertas di lokernya. Naruko melihat sekeliling, apakah ini dari orang yang tidak dia kenal? Saat Naruko melihat tidak ada orang yang lewat dia akhirnya mengambil kertas itu.

"Maaf ya naruko, onii-chan langsung pergi membantu Ayame nee-chan di kedai. Kunci apartemen sudah onii-chan taruh di balik sepatumu"

Naruko mengambil kunci di balik sepatunya lalu kembali membaca kertas yang di tinggalkan Naruto.

"Maaf ya Onii-chan mungkin akan pulang terlambat lagi seperti biasanya, Jadi makanlah dulu"

Tertanda onii-chanmu yang tampan \(^_^)/

'Apa Naruto nii-chan marah padaku?' batin Naruko takut.

Naruko memandang kertas di tangannya itu sedih. Dadanya terasa sesak saat membayangkan kalau Naruto akan marah dengannya dan mulai menjauhi meninggalkannya sendiri karena kesalahannya yang melupakan janji yang dia buat sendiri dengan Naruto dan pergi dengan teman-teman barunya.

Dia tidak tau apa jadinya jika Naruto pergi meninggalkannya sendiri, karena selama ini dia selalu saja berada di balik bayangannya Naruto. Padahal dia sendiri yang berkata kepada kakaknya itu agar tidak pergi meninggalkannya sendiri, namun pada akhirnya dia sendiri yang meniggalkan Naruto sendiri.

'Gomen ne Naruto nii-chan' batin Naruko lalu pulang apartemen dengan wajah murung.

Pindah scene.

Di kedai ramen Teuchi sekarang terlihat ramai pelanggan yang berdatangan. Pada jam sekarang banyak pekerja-pekerja kantor terdekat datang untuk makan siang bersama karyawan lainnya.

"Permisi"

"Selamat datang… oh rupanya itu kau Naruto" ujar Teuchi saat melihat orang yang datang.

"Hmm? Kau baru pulang sekolah ya? Tidak pulang dulu ke apartemen mengganti pakaiian?" Tanya Teuchi melihat Naruto yang masih memakai seragam sekolah.

"Tidak Teuchi jii-san, hari ini aku sengaja datang cepat" ucap Naruto berbohong.

"Tapi bagaimana kamu akan bekerja dengan bajumu itu, Naruto-kun? Bisa gawat kalau ada yang melihat kamu bekerja menggunakan seragam sekolah" ucap Ayame yang baru saja mengantarkan pesanan pelanggan.

Naruto mengeluarkan baju ganti dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Ayame dan Teuchi dengan senyum lima jarinya.

"Ehehe aku membawa baju ganti Ayame nee-chan"

Ayame memijit keningnya melihat Naruto yang menurutnya terlalu memaksakan diri. Tentunya dia khawatir dengan keadaan Naruto, dia dan ayah nya Teuchi paham kalau siswa yang bekerja paruh waktu itu tidaklah mudah.

"Jangan memaksa dirimu Naruto, sebagai pelajar tentunya sekolah sambil bekerja adalah hal yang berat" ujar Teuchi khawatir dengan keadaan Naruto.

"Bagiku ini tidak terlalu berat Teuchi jii-san… Aku harus bekerja lebih keras dari ini"

Teuchi hanya bisa menghela nafas melihat Naruto berjalan kebelakang untuk mengganti pakaiian, sedangkan Ayame melihat kearah Teuchi dengan raut wajah khawatir. Teuchi mengerti maksud dari Ayame, hanya bisa menggeleng pelan dan kembali bekerja.

SKIP TIME

"Naruto ini gajimu untuk bulan ini. Kau sudah banyak membantuku dan Ayame di sini, sebagai tanda terimakasihku aku tambahkan sedikit gajimu bulan ini"

Naruto tentunya sangat senang mendengar ucapan Teuchi barusan. Dia sangat tidak menduga akan mendapat tambahan, yah walaupun sedikit tapi itu berpengaruh banyak untuk kehidupannya.

"Arigato gozaishimasu Teuchi jii-san, aku akan bekerja lebih keras lagi!" ucap Naruto senang.

"Naruto… kami mungkin tidak tau kenapa kau bekerja sangat keras, tapi kami harap kau tidak terlalu memaksakan dirimu…"

Naruto yang mendengar itu hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa. Bagaimanapun dia sekarang dia tidak mungkin bisa mengiyakan perkataan Teuchi sekarang, karena dia harus mengumpulkan banyak uang.

"…Sekarang pulanglah, Naruko pasti menunggumu di apartemen"

Naruto mengangguk lalu pergi menuju pintu di ikuti oleh Teuchi dan Ayame di belakangnya. Sesampai di depan pintu Naruto membungkukkan badannya enam puluh derajat kearah Teuchi.

"Sekali lagi terimakasih banyak… Aku pulang dulu Teuchi jii-san, Ayame nee-chan" ujar Naruto lalu membuka pintu.

"Hati-hati di jalan Naruto-kun"

Pindah scene

"Selamat datang apa ada yang bisa saya bantu" Tanya karyawan pada Naruto.

"Saya mau menarik uang tabungan saya" ucap Naruto seraya buku tabungannya pada karyawan itu.

"Baiklah silahkan tunggu sebentar"

Tidak beberapa lama Naruto keluar dari bank itu. Naruto melihat buku tabungannya berjumlah 15xxxxx yen

Tapi saat di depan pintu dia berhenti saat ada orang yang dia kenal berdiri di depannya yang kelihatannya baru akan masuk. Naruto tentu terkejut melihat orang itu ada disini, sedangkan orang itu hanya memasang wajah datarnya.

"TE-TEME!" semua orang di sana melihat kearah Naruto yang berteriak.

"Hn, kau berisik seperti biasanya, dobe"

"Apa yang kau lakukan disini, Sasuke?" Tanya Naruto heran.

"Minggu depan aku mulai sekolah disini, karena Itachi nii-san pindah kerja kesini jadi dia menyuruhku untuk mengambil beberapa uang untuk menyewa apartemen…" Sasuke mengalihkan pandangannya kearah tas Naruto yang kelihatannya membawa banyak barang di dalamnya.

"…Apa masih belum selesai?…" Tanya Sasuke membuat Naruto tertegun dan mengeratkan genggamannya pada tali tasnya tersebut. Sasuke yang melihat Naruto yang sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaannya itu lalu mengubah pertanyaannya.

"Hn, Bagaimana kabar Naruko?"

"Dia baik-baik saja, dokter bilang tidak perlu terburu-buru…"

"Hn"

Setelah mendengar itu Sasuke lalu berjalan masuk kedalam melanjutkan kegiatannya tanpa ada kata-kata lainnya.

"KUSOOO dia selalu menyebalkan!" ucap Naruto kesal.

"Gawat aku harus cepat" Naruto melihat hujan sudah mulai turun perlahan langsung berlari ke halte bis.

Pindah scene

Bersama Naruko sekarang sudah mulai merasa bosan membaca buku majalahnya di ruang tamu. Dia lalu melihat jam yang sudah jam lima limapuluh.

"Naruto nii-chan belum juga pulang sedari tadi siang dan sekarang hari hujan. Apa naruto nii-chan baik-baik saja ya?"

'Haaah sudahlah lebih baik aku siapkan makan malam dulu' batin Naruko lalu membuat makan malam.

SKIP TIME

Pukul sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh dan makanan sudah tersaji dengan rapi di atas meja. Perut Naruko entah sudah berapa kali berbunyi karena lapar, Naruko mengelus perutnya yang sekarang sudah mulai terasa perih.

'Tahan sebentar lagi, jangan makan dulu sebelum Naruto nii-chan datang. Ini sebagai hukuman karena melupakan janji dengan Naruto nii-chan tadi pagi' batin Naruko.

"T-tadaima" ucap Naruto yang baru sampai dengan tubuh yang basah kuyup.

"Okaeri Naruto nii-chan. Na-Naruto nii-chan basah kuyup, tunggu sebentar aku ambilkan handuk"

Naruto duduk di dekat rak sepatu untuk menormalkan nafasnya lalu membuka sepatunya dan meletakkannya di rak.

"I-ini handuknya" ucap Naruko menyerahkan handuk pada Naruto.

"Maaf ya Naruko onii-chan pulang terlambat" Naruko tidak berucap apa-apa melainkan hanya menggeleng lemah menjawab ucapan Naruto, dia masih merasa bersalah akan kejadian tadi siang dan tidak berani berkata apa-apa.

"Kamu pasti sudah kelaparan. Tunggu sebentar onii-chan ganti pakaiian dulu" ucap Naruto dan hanya dibalas anggukan dari Naruko.

Naruto melihat tingkah Naruko yang aneh hanya memasang wajah bingung.

"Kamu kenapa Naruko?"

"Ah, tidak ada apa-apa Naruto nii-chan. Cepat ganti pakaiian, nanti masuk angin" ucap Naruko lalu berlari kecil keruang tengah.

Setelah mengganti baju Naruto masuk keruang tengah dengan Naruko yang sudah duduk di sana menunggu Naruto.

"Itadakimasu" ucap mereka serempak lalu mulai makan.

SKIP TIME setelah selesai makan

"Gomen…Naruto nii-chan" ucap Naruko lirih tapi masih bisa di dengar oleh Naruto karena hanya mereka yang ada di sana.

"Kenapa kamu meminta maaf Naruko?" Tanya Naruto bingung.

"Karena aku tidak menepati janjiku dengan Naruto nii-chan" ucap Naruko menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Naruto. Membayangkan saat kakaknya itu duduk sendiri di atap menunggu kedatangannya (mengahayal kale -_- )

Naruto yang akhirnya tau alasan kenapa Naruko bertingkah aneh dari tadi tersenyum lembut kepada Naruko.

"Ii sa (Tidak apa-apa), Naruko. Onii-chan tau kok alasan kenapa kamu tidak datang…"

Naruko semakin menundukkan kepalanya saat mendengar Naruto tau alasan kenapa dia tidak datang. Dia bukannya bermaksud sengaja, tapi dia benar-benar lupa karena terlalu senang mendapatkan teman baru dan terlarut dalam rasa senang lalu melupakan kakaknya.

"… Kamu tidak datang karena makan bersama dengan teman-teman sekelasmu. Onii-chan melihatnya kok" ucap Naruto.

Isakan mulai terdengar dari Naruko saat mendengar ucapan Naruto barusan. Tidak ada yang dapat dia katakan lagi, Naruto sudah melihatnya pergi bersama teman sekelasnya. Apa lagi yang harus dia jelaskan? Apa dia harus bilang kalau dia lupa? Itu bahkan lebih menyakitkan hatinya saat mengingat kalau dia mulai melupakan keberadaan kakaknya itu.

"Gomen ne hiks, hiks…gomen ne naruto nii-chan. Naruko sudah meninggalkan Naruto nii-chan sendirian hiks… hiks, padahal Naruko selalu bilang agar Naruto nii-chan tidak meninggalkanku sendiri… hiks, tapi… tapi pada akhirnya aku sendiri yang meninggalkan Naruto nii-chan sendirian hiks, hiks… gomen ne Naruto nii-chan"

Naruto mendekati Naruko lalu mengelus pucuk kepala Naruko dengan lembut.

"Tidak usah mengkhawatirkan onii-chan. Onii-chan baik-biak saja, selama melihatmu bahagia bersama teman-temanmu atau nanti kamu bersama orang yang kamu sayangi. Onii-chan sangat senang" ucap Naruto pada Naruko.

Naruko mengangkat kepalanya melihat kearah Naruto yang sekarang tengah tersenyum padanya.

"hiks, hiks… Naruto nii-chan… hiks, hiks… Naruto nii-chan" Naruko perlahan melingkari tangannya pada tubuh Naruto di depannya.

Naruto menarik Naruko kedalam pelukannya dan Naruko mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada Naruto. Air mata Naruko keluar lebih deras di dada Naruto saat dia sadar kalau kakaknya ini hanya memikirkan dirinya saja.

Kakaknya hanya mementingkan dirinya, sedangkan dirinya hanya mementingkan dirinya sendiri. Rasa bersalah memenuhi hati perempuan yang didalam pelukan Naruto itu. Dia tidak tau apakah meminta maaf akan cukup untuk membuat rasa bersalahnya ini hilang atau tidak.

"Gomen ne… hiks, Gomen ne hiks, hiks… Gomen ne…"

"HUAAAA HAAAA" tangis Naruko pecah di pelukan Naruto.

Naruto yang hanya bisa diam melihat tangis Naruko yang pecah Cuma bisa mengelus rambut adiknya dengan lembut agar dapat menenangkan hati Naruko.

'Pada akhirnya… aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri… dasar, dari dulu dia memang anak yang manja'

SKIP TIME

Tengah malam, waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat dan Naruto tidak bisa tidur karena mengingat masih banyak uang yang harus dia kumpulkan.

'Aku tidak ingin berhutang hanya untuk membeli rumah…'

Naruto lalu mengambil ponselnya dan membuka kalkulator menghitung semua pemasukan dan pengeluaran mereka.

'Jika di hitung dengan gajiku di café Serafall-sama dan Teuchi jii-san selama dua bulann~…' batin Naruto sembari memasukkan angka-angka pada kalkulator ponselnya.

'Sial masih belum cukup sebelum dua bulan. Tidak ada cara lain lagi… besok pergi kekota mencari pekerjaan paruh waktu tambahan' batin Naruto lalu tanpa dia sadari dirinya tertidur dengan sendirinya.

Keesokan harinya

"Hoaaamm~" Naruko bangun dari tidurnya lalu melirik kesampingnya melihat sudah tidak ada Naruto disana, dan futon Naruto sudah di susun dengan rapi.

Naruko lalu berjalan keruang tengah alangkah terkejutnya saat melihat Naruto yang sekarang sedang memasak.

"Naruto nii-chan?"

"Ah Naruko kamu sudah bangun, pergi bersihkan badanmu. Sarapan pagi sebentar lagi siap" ujar Naruto sambil memasak.

Naruko tidak merespon ucapan Naruto barusan, dia mendekati Naruto lalu mencubit pipinya.

NYIEET

Naruto yang di cubit pipinya menghentikan kegiatannya lalu mengalihkan pandangannya kearah Naruko yang melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

"Oiw aphwa yang khamhu lhwakukwan Nhawhuko?" Tanya Naruto faceplam saat Naruko menarik-narik pipinya kekiri dan kekanan. Naruko melepaskan cubitannya lalu menjauh dari Naruto.

"S-s-s-siapa kau, dan d-d-dimana Naruto nii-chan!?" Tanya Naruko ketakutan.

"Haaah? Apa yang kamu bicarakan Naruko? Aku ini Naruto" ucap Naruto yang bingung melihat tingkah Naruko.

"Ti-tidak mungkin, Naruto nii-chan itu orangnya pemalas, selalu bangun kesiangan, dan terlebih lagi… dia tidak bisa memasak"

TWICH

Muncul perempatan di kepala Naruto saat Naruko mengatakan kebiasaan buruknya pada Naruto terang-terangan.

"Hei walau sedikit, tapi kakakmu ini bisa memasak tau!" ucap Naruto kesal.

"Tidak, Naruto nii-chan tidak tau masak sama sekali. Kalau sampai dia masak…"

JDEEER

Suara petir menyambar di belakang Naruko yang memasang wajah horror saat membayangkan orang memakan masakana Naruto.

"…Itu akan menjadi akhir bagi orang yang memakan masakannya"

JLEB JLEB

Hati naruto terasa tertusuk oleh dua pedang ekskalibur saat mendengar ucapan Naruko barusan. Naruto menundukkan kepalanya saat mengetahui tanggapan yang sebenarnya dari orang tentang masakan miliknya.

"Hehe-he-ehehe-hehehe"

Naruko mundur kebelakang saat Naruto tertawa ala psikopat.

"Kalau begitu akan aku buktikan kalau aku adalah Uzumaki Naruto" ucap Naruto lalu mengambil ponsel nya di sakunya.

"Ini dia! Kenangan yang tidak pernah terlupakan!" ucap Naruto berteriak semangat sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Di layar ponsel Naruto adalah Naruko tengah mengompol sambil menangis di depan pintu keluar rumah berhantu.

"Ha-Ha-Ha-Ha, bagaimana apa sekarang kamu percaya? Foto ini aku dapatkan saat di taman bermain, tepatnya di depan pintu keluar wahana gua hantu" ucap Naruto mendekatkan foto itu kewajah Naruko dengan senyuman kemenangannya.

Wajah Naruko memerah padam saat melihat foto SMPnya dulu saat dia mengompol ketakutan di gua hantu bersama kakaknya. Itu adalah masa-masa yang memalukan baginya. Yang benar saja mengompol di dalam celana walau sudah SMP? Itu sangat memalukan.

"KYAAAAAAA!"

PAAAK!

SKIP TIME

Naruko dan Naruto sekarang tengah berjalan kesekolah, dengan Naruto wajahnya terdapat cap tangan dan Naruko yang memasang wajah kesalnya.

"Hei ayolah jangan marah, itu untuk kenang-kenangan" ucap Naruto.

"Tapi jangan di simpan di ponsel! Nanti kalau ada yang lihat bagaimana!" ucap Naruko dengan pipinya yang memerah malu.

"Hai hai gomennasai" ucap Naruto malas.

"Mouuu~ onii-chan no baka, Humph" Naruko mempercepat jalannya karena masih kesal dengan Naruto meninggalkan Naruto di belakang sendiri.

"Naruko-chan!" Naruko membalikkan badannya melihat kearah asal suara yang tidak jauh di belakang kakaknya.

Naruto yang mendengar suara yang dia kenal itu langsung saja sweatdrop dan memasang wajah malas.

'Haaa ah suara yang sangat menyebalkan' batin Naruto.

Saat orang itu lewat di dekat Naruto, Naruto sengaja mengalihkan pandangannya kearah lain. Berharap orang itu tidak menyadari kalau dia ada disini.

"Ohayo Naruko-chan"

"Ohayo Hinata-chan, hari ini kamu kelihatannya semangat sekali"

"Tentu saja hari ini aku sengaja datang cepat supaya tidak bertemu dengan orang yang menyebalkan" ucap Hianta.

Jarak mereka yang tidak terlalu jauh dari Naruto yang tidak ingin mendengarnya mau tidak mau mendengar pembicaraan mereka.

'Aku di sini tau!' batin Naruto kesal.

"Oooh jadi karena itu kamu terlambat masuk kemarin?" Tanya Naruko.

"Ya, itu adalah hari tersial yang pernah aku dapat"

"Hehehe pasti orang itu super menyebalkan"

'Ukh dia juga ikut menghinaku' batin Naruto mulai kesal lalu memperlambat jalannya dan berjalan di balik kumpulan siswa dan siswi yang lain.

"SANGAAAT menyebalkan, aku sampai di hukum dua kali karenanya" siswa dan siswi yang lewat di sana mengalihkan pandangan mereka kearah Hinata yang terlalu bersemangat menghina Naruto.

"Sudah jangan dipikirkan lagi, semuanya sudah berlalu" ucap Naruko.

"Naruko-chan ucapanmu itu seperti nenek-nenek" balas Hinata sweatdrop.

Naruko tidak mengindahkan ucapan Hinata barusan, dia baru saja tersadar kalau Naruto lagi-lagi tidak bersamanya kali ini. Melihat kekiri dan kekanan mencari Naruto, berharap dia tidak berjalan terlalu jauh dari Naruto. Dia tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, dan tidak ingin menyakiti hati Naruto lagi.

"Hmm? Kamu mencari siapa Naruko-chan?" Tanya Hinata saat melihat Naruko yang sepertinya tengah mencari seseorang.

"Apa kamu melihat Naruto nii-chan, Hinata-chan?" Naruko sambil mencari kakaknya.

"Kamu punya kakak?" tanya Hinata penasaran dan di balas anggukan dari Naruko.

"Seperti apa kakakmu itu?" Tanya Hinata lagi.

"Hmm? Dia orang yang baik, ramah, dan juga perahtian—"

"Bukan sifatnya tapi rupanya Naruko-chan, tampangnya seperti apa?" Tanya Hinata memotong penjelasan Naruko barusan.

Pipi Naruko tiba-tiba merona saat di suruh untuk menjelaskan rupa kakaknya.

"Di-dia tinggi, matanya biru laut cerah, dengan rambut kuning. Ta-tampan dan dia memiliki ciri khasnya sendiri dengan tiga goresan seperti kumis kucing di kedua pipinya" ucap Naruko.

Hinata menjadi diam saat mendengar penjelasan Naruko yang terakhir menjelaskan rupa kakaknya.

'Heh? Goresan kumis kucing? Jangan bilang kalau kakak Naruto adalah!?' batin Hinata shock tidak percaya.

Naruko tidak memperdulikan ekpresi Hinata sekarang, dia tengah focus mencari kakaknya yang entah kemana. Akhirnya Naruko menemukan Naruto yang sedang berjalan di balik kerumunan siswa dan siswi lainnya.

"Naruto nii-chan!" teriak Naruko.

Naruto melihat Naruko yang melambaikan tangan kearahnya menyembunyikan diri di balik siswa siswa yang lainnya berpura-pura tidak tau. Naruko yang melihat kalau Naruto malah bersembunyi di balik siswa-siswa lain langsung saja pergi berlari kecil kenjemput Naruto.

"Apa yang naruto nii-chan lakukan?" Tanya Naruko pada Naruto.

"Ah ohayo Naruko. Kebetulan sekali ya kita bertemu di sini. Ehehe" ucap Naruto tidak jelas.

Naruko sweatdrop melihat kakaknya mengatakan hal aneh padanya.

"Naruto nii-chan bicara apa sih?" balas Naruko lalu menyeret kakaknya kedekat Hinata.

"Ah Naruko kita mau kemana?"

"Aku akan memperkenalkan Naruto nii-chan pada teman pertamaku di sekolah ini!" ucap Naruko senang.

Dia tidak sabar melihat wajah senang kakaknya saat bertemu dengan teman pertamanya di sekolah ini, dia yakin kakaknya akan senang saat tau kalau sekarang dia sudah punya teman pertama di sekolah baru mereka, dan dia juga ingin Naruto dekat dengan temannya itu.

Setelah naruko sampai di samping Hinata yang masih bergelut dengan pikirnya, Naruko melambaikan tangannya didepan wajah Hinata.

"Hinata-chan? Ada apa?" Tanya Naruko.

"Ah tidak apa kok aku hanya sedang memikirkan…" ucapan hinata terhenti saat mengalihkan pandangannya kearah kakaknya Naruko yang agak tinggi dari dirinya.

Hinata lalu perlahan dia sedikit mengadahkan kepalanya kearah melihat wajahnya kakak Naruko tersebut.

Naruto melihat Hinata menatap wajahnya dengan pandangan tidak percaya hanya bisa tersenyum dengan terpaksa, sedangkan Hinata memasang wajah kikuknya saat melihat Naruto adalah kakaknya Naruko.

"Ehem, Perkenalkan namaku Hyuuga Hinata, senang bertemu denganmu." Ucap Hinata berusaha menyembunyikan fakta kalau mereka pernah bertemu sebelumnya. Naruto yang melihat alur pembicaraan Hinata yang berpura-pura tidak mengenali dirinya juga mengikuti alur Hinata tersebut.

"Ah sala—" belum selesai Naruto berbicara langsung saja di potong oleh Hinata.

"Jadi kau kakaknya Naruko-chan? Kenapa kau mirip sekali dengan kucing liar di samping rumahku ya?" ucap hinata.

TWICH

Muncul perempatan di kepala Naruto saat Hinata masih memanggilnya dengan panggilan kucing liar. Padahal tadi dia ingin mengikuti alur Hinata yang pura-pura tidak kenal.

'Jadi kau ingin bermain seperti ini ya? HAAAAAHHH!?' batin Naruto mendelikkan matanya tepat dimata sang Hyuuga. Hinata yang dilihat seperti itu tentu saja mendelikkan matanya juga kearah Naruto.

"Ahaha ya salam kenal Hyuuga-san, namaku Uzumaki Naruto. Aku juga SENANG bertemu denganmu dan Terimakasih sudah mau berteman dengan adikku yang cantik ini…" ucap Naruko lalu berdiri di tengah antara Naruko dan Hinata.

Naruto melihat Naruko dan Hinata bergantian, lalu tersenyum mengejek.

"…Jadi ini temannya pertama Naruko di sekolah ini? Ternyata kau lebih pendek dari Naruko ya" ucap Naruto menepuk-nepuk kepala Naruko.

TWICH

Muncul perempatan di kepala keturunan Hyuuga karena Naruto masih memanggilnya pendek, terlebih lagi dia membandingkan tingginya.

"Hooo aku tidak ingin dengar kata-kata itu dari mulut kucing jalanan, kucing" ucap Hinata mengejek.

Naruko melihat interaksi Hinata dan Naruto jadi bingung dengan hubungan mereka.

"Kalian sepertinya akrab sekali ya? Padahal baru saja bertemu, apa kalian sudah saling kenal?" Tanya Naruko.

"TIDAK MUNGKIN AKU AKRAB DENGAN KUCING INI" / "TIDAK MUNGKIN AKU AKRAB DENGAN PENDEK INI" ucap mereka bersamaan. Mereka sadar kalau mereka menjawabnya dengan serempak lalu saling melirik.

Naruko mundur beberapa langkah melihat tingkah mereka berdua, dan entah mengapa Naruko merasakan ada percikan listrik di sekitar Naruto dan Hinata.

"Ayo kita pergi Naruko" / "Ayo kita pergi Naruko-chan" ucap mereka kompak lagi.

"Berhenti mengikuti kata-kataku" ucap Mereka kompak kesekian kalinya.

"Kau yang berhenti mengikutiku" ucap mereka kompak untuk kesekian-kian kalinya.

"APA KAU BILANG!" untuk persekian kalinya mereka kompak lagi.

Mereka berdua bertengkar seperti sebuah pasangan komedi jepang yang tengah bertengkar di depan orang banyak. Akhirnya mereka berhenti saat Naruko menghentikan mereka beruda.

"SUDAH CUKUUUP!" teriak Naruko membuat mereka berdua berhenti. Naruko menarik nafas panjang lalu membuangnya.

"Sudah cepat kita masuk, sebentar lagi bel masuk berbunyi" ucap Naruko lalu menarik tangan mereka berdua.

Saat berlaripun mereka berdua masih bertengkar dan saling mengejek satu sama lain, hingga akhirnya mereka sampai di persimpangan koridor lalu mereka berpisah. Hinata pergi duluan kekelas meninggalkan Naruko dan Naruto disana.

"Naruto nii-chan nanti aku jeput kekelas ya" ujar Naruko.

"Eh tidak masalah sih, tapi kita akan makan di mana?"

"Hmm? bagaimana kalau di taman saja? aku juga akan mengajak teman-temanku yang lainnya" ucap Naruko.

"Oh Baiklah, ya… baiklah ajak teman-temanmu, onii-chan ingin berkenalan dengan mereka" ucap Naruto ragu-ragu karena dia sebenarnya tidak ingin bertemu dengan perempuan yang menyebalkan itu.

'Perempuan menyebalkan itu pasti juga akan ikut' batin Naruto malas.

"Hmm? Apa Naruto nii-chan tidak ingin mengajak teman-teman Naruto nii-chan ikut?" Tanya Naruko.

"Ah ya… Um, nanti akan onii-chan tanyakan kalau mereka ingin ikut atau tidak, ahahaha" balas Naruto bohong.

"Un, kalau begitu tunggu saja di kelas. Jangan pergi kemana-mana ya" ucap Naruko lalu pergi kekelasnya.

Naruto masih berdiri di sana melihat Naruko berlari kecil menuju kelasnya. Naruto berputar kearah sebaliknya dan berjalan dengan santai kekelasnya dengan tangan yang di masukkan kedalam saku.

'Teman ya?' batin Naruto sedih saat megingat kalau dia masih belum memiliki teman satupun di sekolah barunya ini.

Vvvvvvvvvvvvvvvv

()

Vvvvvvvvvvvvvv

()

Vvvvvvvvvvvv

()

Vvvvvvvvvv

()

Vvvvvvvv

()

Vvvvvv

()

VVVV

()

VV

()

V

Chapter 03 end

Untuk semuanya.

Mohon maaf karena cerita ini tidak sempurna

Hikarinoyami13 logout \(^o^)/