Bersamamu sedikit lebih lama (FIX/diperbaiki)
()
Pair : naruto x single pair (Sona,Rias,Hinata,Naruko)
()
Story cerate by : hikarinoyami13
()
NO INCEST, NO HAREM
()
Genre : romance, hurt/comfort, drama
()
Rating for story : rating M (untuk beberapa alasan)
"Naruto" berbicara biasa
'Naruto' membantin/berbicara didalam hati/berpikir
"Naruto" flashback
I'm not own Naruto shippuden character or high school dxd
And I'm not own other character in my story
Chapter sebelumnya
"bagaimana kalau di taman saja? aku juga akan mengajak teman-temanku yang lainnya" ucap naruko.
"aaa? Oh Baiklah, ya… baiklah ajak saja teman-temanmu, onii-chan ingin berkenalan dengan mereka" ucap naruto ragu-ragu.
'wanita menyebalkan itu pasti juga akan ikut' batin naruto.
"hmm? Naruto nii-chan tidak ingin mengajak teman-teman naruto nii-chan?" Tanya naruko.
"ah ya… nanti akan onii-chan tanyakan kalau mereka ingin ikut atau tidak, ahahaha" balas naruto bohong.
"un, kalau begitu tunggu saja di kelas. Jangan pergi kemana-mana ya" ucap naruko lalu pergi kekelasnya.
Naruto masih berdiri di sana melihat Naruko menuju kelasnya.
Naruto memasukkan kedua tangannya di saku celana lalu berjalan kekelasnya
'teman ya?' batin naruto sedih saat megingat kalau dia tidak punya teman di kelas.
Chapter 04
"Hinata-chan, naruko-chan ayo kita kekantin" ajak Ino berjalan kebangku Naruko bersama Temari di sampingnya.
"Maaf Ino-chan, aku hari ini membawa bekal dari rumah Ino-chan" tolak Hinata lembut lalu meletakkan kotak bekal yang cukup besar di mejanya.
"Benarkah? Apa boleh aku mencicipinya Hinata-chan?"
"Un, tentu saja. Aku meminta pelayanku membuatkannya cukup untuk kita berempat"
Ino langsung saja mengangkat meja dan merapatkannya dengan meja Hinata begitu juga dengan Temari.
"A-ano… bagaimana kalau kita makan di taman saja, aku sudah janji dengan kakakku kalau kita akan makan di sana" ujar Naruko sukses membuat Ino dan Temari berhenti dan langsung mengalihkan perhatiannya pada Naruko.
"Eh? Aku baru tau kalau Naruko punya kakak. Kira-kira seperti apa ya kakaknya Naruko?" tanya Temari sambil membayangkan wajah Naruto.
"Kalau adiknya secantik ini pasti kakaknya tampan!" ucap Ino yang juga ikut-ikutan membayangkan wajah Naruto.
"Jangan terlalu berharap…" ucap Hinata membuat Ino dan Temari melihat kearahnya.
"Apa maksudmu Hinata?" Tanya Temari.
"Kakaknya Naruko itu tidak seperti yang kalian bayangkan. Dia orangnya…" Aura hitam keunguan keluar dari tubuh Hinata membuat Ino dan Temari mundur beberapa langkah karena merinding.
"…MENYEBALKAN" lanjut Hinata.
Ino, Naruko dan Temari menelan ludah mereka saat melihat sisi mengerikan Hyuuga Hinata, mereka tidak menyangka bahwa Hinata ternyata seperti itu.
Pindah scene
Sedangkan yang di bicarakan sekarang tengah duduk di bangkunya melihat keluar jendela memperhatikan orang-orang diluar yang tengah berkumpul bersama teman-temannya. Membentuk sebuah kelompok dan tertawa bersama, wajah bahagia yang menghiasi wajah mereka di saat membicarakan hal-hal yang bahkan tidak begitu penting membuat Naruto merasa iri dan ingin mendapatkan teman disini. Tapi entah kenapa dia merasa berbeda di kelas ini, bahkan teman-teman sesama laki-laki kurang mau bersamanya.
'Bagaimana kabar kalian sekarang?' batin Naruto melihat kelangit biru.
Naruto memejamkan matanya mengingat flashback di mana dia bermain dengan teman-temannya, kenangan dia bersama temannya dan hal-hal bodoh yang mereka lakukan. Masa yang menyenangkan sekali dan penuh tawa. Mereka semua sudah berpisah dan menjalankan kehidupan masing-masing dengan kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki. Walau kecil kemungkinan bisa bertemu lagi, Naruto yakin kalau mereka suatu saat nanti akan bertemu dan berkumpul kembali.
Angin bertiup lembut melewati jendela, menerpa wajah Naruto membuatnya memejamkan mata menikmati angin itu.
"A-ano, u-Uzumaki-san"
Naruto yang mendengar suara feminim yang menyebut namanya membuka mata lalu mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.
"Panggil Naruto saja Fujibayashi-san?" ucap Naruto santai.
"H-Hai, N-Naruto-san"
"Hmm? Ada apa īncho"
"A-ada orang yang mencarimu, Naruto-san" ucap wanita yang memiliki mata biru dan berambut ungu pendek sebahu dengan pita putih di sebelah kirinya.
Naruto melihat kearah pintu, di sana sudah ada Naruko yang menunggunya bersama Hinata, dan dua orang yang masih belum dia kenal.
"Arigato Fujibayashi-san" ucap Naruto seraya mengambil kota di bawah laci mejanya lalu pergi.
"Um, doitashimashite" ucap Fujibayashi lirih.
Sesampainya Naruto di dekat Naruko dia langsung saja menyapa temannya Naruko dan memperkenalkan dirinya.
"Yo! Apa kalian temannya Naruko? Salam kenal namaku Uzumaki Naruto, panggil saja dengan Naruto. Yoroshiku ne" ucap Naruto.
"Hohooo lumayan juga, walau tidak seperti yang aku harapkan" gumam Ino melihat wajah Naruto.
"Perkenalkan namaku Yamanaka Ino, yang rambut kuning di sebelahku ini Sabaku Temari, dan yang terakhir ini Hyuuga Hinata" ucap ino memperkenalkan diri dan teman-temannya.
"Salam kenal Naruto" ucap Temari.
"Un, kalau begitu ayo kita pergi, nanti jam istirahat habis" ujar Naruto lalu mereka pergi ketaman.
Pindah scene
Naruko dan Naruto sedang duduk di taman sekolah dan tentunya teman-teman Naruko juga hadir di sana. Mereka duduk di atas satu kursi kayu yang panjang di yang terletak bawah pohon rindang.
"Hmm? Naruto nii-chan tidak beli makanan di kantin?" Tanya Naruko saat menyadari kalau Naruto tidak membawa apa-apa kecuali kotak di tangannya.
"Ah tidak onii-chan bawa bekal dari rumah" balas Naruto membuka kotak bekalnya.
'Bukankah itu masakan Naruto nii-chan tadi pagi?' batin Naruko horror.
"Hoaa Naruto kau juga membawa bekal ya? Tapi kenapa kau tidak membuatkan untuk Naruko juga?" ucap Ino melihat bekal Naruto yang tertata rapi dan terlihat enak.
"Sebenarnya ini untuk kami berdua" balas Naruto.
"Hm? Kelihatannya enak" ucap Temari saat melihat bekal Naruto.
'Jangan tertipu dengan bentuk makanannya Temari-chan!' batin Naruko berteriak saat Temari memberi komentar masakan kakaknya.
"Ahahaha tidak juga. Di banding punyaku, bekal Hyuuga-san lebih bagus dan enak" Naruto menggaruk belakang kepalanya. Sedangkan Hinata yang di panggil nama marganya oleh Naruto menaikkan sebelah alisnya.
'Hmm? Kenapa dengan kucing itu? Apa kepalanya terbentur?' batin Hinata heran melihat Naruto yang memanggilnya formal.
"Hahaha ayo lah jangan bicara seperti itu Naruto, jarang-jarang lho ada kakak laki-laki yang membuatkan bekal untuk adiknya" ucap Ino memukul-mukul punggung Naruto agak keras.
"Sa-sakit Ino-chan" ucap Naruto menahan sakit di punggungnya.
"Ahahah gomen gomen aku memukulnya terlalu keras"
"Su-sudahlah ayo kita makan nanti jam istirahat habis" ujar Hinata lalu membagikan bekalnya pada Temari dan Ino.
"Naruko-chan ingin makan bekalku atau kucing itu?" Tanya Hinata pada Naruko yang kelihatannya bingung harus pilih yang mana.
"kucing? Maksudmu Naruto?" Tanya Ino bingung.
"Tentu saja, kamu pikir siapa lagi yang mirip kucing disini"
"Oi bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu, pendek? Kau sendiri yang paling pendek di sini" Tanya Naruto kesal, padahal sedari tadi dia berusaha menjaga imagenya didepan teman-teman Naruko.
"Heeee? Kalian sepertinya akrab sekali" timpal Ino yang melihat interaksi mereka berdua.
"Tentu saja tidak, lagian siapa yang ingin akrab dengan kucing liar ini!"
"Haaaaah!? Apa kau pikir aku mau akrab dengan si pendek ini? Haaaah jangan berharap!"
"Siapa juga yang berharap bisa akrab denganmu dasar kucing!"
"Oi Hinata-chan aku rasa kamu sudah berlebihan" ucap Temari menjadi penengah.
"Maafkan Hinata-chan ya Naruto, kami tidak tau kenapa dia jadi kasar seperti ini. Tapi percayalah dia orang yang lembut yang pernah kau temui" ujar Ino meminta maaf pada Naruto.
"Tidak apa-apa kok yamanaka-san"
"humph, jadi Naruko-chan ingin bekalku atau kakakmu itu?"
Naruko tentu saja serba salah, jika dia memilih Hinata tentu kakaknya akan merasa sedih karena tidak memakan bekal buatannya.
Tapi jika dia memilih kakaknya maka dia tidak tau apa yang akan terjadi dengan perutnya yang mungil ini.
"A-aku makan dengan—" ucapan naruko terhenti saat Naruto memegang bahunya membuat Naruko melihat kearah Naruto.
"Tidak apa-apa aku bisa menghabiskan bekal ini sendiri…"
Naruto lalu mengalihkan pandangannya kearah bekal di tangan Hinata yang kelihatannya banyak sekali untuk porsi satu orang. Naruto yakin kalau Hinata membawa bekal itu untuk membagikan kepada teman-temannya.
"…Lebih baik Naruko membantumu menghabiskan bekalmu yang kelihatannya bukan porsi untuk satu orang. Lagi pula orang pendek sepertimu aku rasa tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak itu sendiri kan?" lanjut Naruto.
Hinata menahan kesalnya sedari tadi, jika bukan karena ada temannya di sini mungkin dia sudah mencabik-cabik wajah kucing liar itu.
"Naruto nii-chan, aku—"
"Tidak apa-apa, tidak usah di pikirkan Naruko" potong Naruto.
"Ba-baiklah kalau begitu aku akan makan bekalnya Hinata-chan" ucap Naruko lalu menerima bekal dari Hinata. Dia tidak tau harus bersikap seperti apa. Apa dia harus merasa lega karena tidak jadi memakan masakan kakaknya, ataukah sedih karena tidak memakan masakan kakaknya itu.
"Jaa! ayo makan" ucap Ino semangat.
Naruko melirik kearah kakaknya yang memakan bekalnya dengan santai seolah tidak terpengaruh dengan rasa masakannya sendiri. Tanpa satupun yang menyadari kalau terdapat bekas sayatan dan luka-luka kecil di beberapa bagian di tangannya Naruto.
'Padahal aku sudah bersusah payah membuatkan ini untuk Naruko' batin Naruto sambil memakan bekal buatannya sendiri.
Naruto melirik kearah bekal yang di bawa Hinata lalu melihat punyanya sendiri.
'Tentu saja punya dia lebih bagus dan enak, tapi…'
Naruto lalu melirik kearah Naruko yang menikmati makanannya Hinata. Berbanding terbalik saat Naruko memakan masakannya tadi pagi.
'Tetap saja aku ingin sekali melihat Naruko menikmati masakanku'
SKIP TIME
Sudah lebih dari satu minggu berlalu sejak Naruto bertemu dengan teman-teman Naruko, dan satu minggu itu tanpa sepengetahuan Naruko, Naruto pergi bolos sekolah. Saat pulang sekolah naruko selalu menemukan sepucuk kertas kecil di loker sepatu nya dan kunci apartemen dari Naruto. Dia sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut, tentu dia tau kalau Naruto sedang sibuk bekerja dikedai mencari uang untuk kehidupan mereka. dia juga ingin bisa membantu meringankan pekerjaan kakaknya dengan bekerja juga disuatu tempat, dia tidak ingin Naruto menanggung semuanya sendirian.
"Naruko"
Naruko merasa namanya di panggil lalu mengalihkan pandangannya kesumber suara.
"S-Sasuke-kun!? Apa kamu pindah kesini?" Tanya Naruko kaget saat melihat Sasuke mengenakan seragam Kuoh senior high school.
"Hari ini aku baru masuk…"
"Oh jadi begitu"
"Dimana Naruto? Aku tidak melihatnya hari ini" Tanya Sasuke.
"Naruto nii-chan pulang duluan, dia bilang kalau dia harus membantu Ayame nee-chan di kedai" jawab Naruko.
"Hm, mau pulang bersama?" Tanya Sasuke.
"E-eh? Apa jalan pulang kita searah?"
"Hn" jawab Sasuke lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Naruko.
'Ti-tidak pernah berubah ternyata' batin Naruko sweatdrop lalu menyusul Sasuke dan berjalan di sampingnya.
"Ngomong-ngomong Sasuke-kun kamu di kelas berapa?"
"Aku di kelas 2-A" jawab Sasuke moton.
"Kelas 2? Bukannya Sasuke-kun dan naruto nii-chan seumur? Kenapa Sasuke-kun di kelas 2?"
"…" terdiam sejenak mendengar pertanyaan Naruko itu. banyak hal yang terjadi di masa lalunya dan juga tentunya semuanya memiliki masa sulit sendiri. Naruko yang tidak mendapat jawaban dari Sasuke hanya menunggu dan memperhatikan wajah Sasuke dari samping.
"Kami hidup dengan jalan yang berbeda, dia memiliki kisah hidupnya sendiri. Begitu juga denganku" Sasuke menghentikan langkahnya melirik kearah Naruko yang tengah memperhatikannya berbicara, dia lalu memjamkan matanya mengingat saat dia bertemu Naruto dan kisah mereka berdua saat masih kecil. Setelah merasa cukup mengingat masa lalu, Sasuke membuka matanya dan melihat kearah langit yang sudah mulai berubah warna menjadi orange.
Sasuke yang terbawa rasa nostalgia akan masa kecilnya tanpa dia sadari kalau seukiran senyum terlukis diwajah dinginnya membuat Naruko yang berada di sampingnya ikut terkejut. Dikarenakan sifatnya yang dingin dan terkesan cuek, melihat pemandangan Sasuke tersenyum merupakan hal yang susah ditemukan.
'A-apa dia sekarang… Tersenyum? Apa aku tidak salah lihat?' batin Naruko kaget saat melihat Sasuke yang sekarang tengah tersenyum.
"Ayo" ucap Sasuke saat merasa cukup untuk bernostalgia dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalan pulangnya bersama Naruko.
"Ah, u-un"
Sesampainya mereka di perempatan Sasuke berhenti
"Naruko, ada sesuatu yang ingin aku katankan padamu..." Sasuke menggantungkan kalimatnya dengan wajah serius membuat Naruko jadi penasaran apa yang ingin Sasuke katakan padanya.
"… Ini tentang Naruto"
Pindah scene
Di minimarket Naruto sekarang tengah bekerja sambilannya, dia menambah pekerjaan dan jadwalnya. Dia tau kalau hanya bekerja di café Serafall dan kedai Teuchi dia tidak akan sempat membayar rumah yang sudah dia pesan tepat waktu. Sudah satu minggu Naruto bekerja di sini tanpa sepengetahuan Naruko. Yang Naruko tau dia hanya bekerja di kedai Teuchi saja, dia tidak tau kalau Naruto menambah pekerjaan sampingannya.
"Naruto-san persediaan buah kita sudah datang, tolong kau bawakan kedalam tempat penyimpanan" ucap meneger minimarket yang sedang mendata semua barang-barang yang harus diganti karena sudah kadaluarsa dan barang-barang yang baru masuk.
"Hai"
di belakang minimarket, mobil yang membawa persediaan bulan ini sudah sampai dan mereka mulai menurunkannya satu persatu.
Beberapa menit berlalu
"Baiklah ini yang terakhir" ucap orang itu lalu masuk kedalam mobil. Setelah orang itu pergi Naruto langsung saja mengangkut semuanya kedalam, dan meletakkan pada tempatnya.
SKIP TIME
Hari sudah malam dan Naruto tidak makan malam sama sekali dikarenakan jadwal pekerjaannya yang padat. Setelah selesai bekerja diminimarket dia langsung berlari ke kedai ramen Teuchi melanjutkan pekerjaannya yang lain dan hanya memakan sehelai roti yang diberi oleh manegernya sebelum dia berangkat tadi. Dan untung saja hari ini café Serafall tutup dan disaat mereka menanyakan alasannya Serafall hanya bilang kalau mereka butuh waktu untuk liburan.
Tidak ada yang protes, karena mereka memang membutuhkan liburan terutama Naruto yang sepertinya mulai memaksakan dirinya dan hanya mendapatkan sedikit waktu untuk istirahat. Dan sekarang dia akhirnya dapat pulang keapartemen mengistirahatkan tubuhnya itu. mungkin, hanya untuk malam ini saja.
"Tadaima" ucap Naruto masuk kedalam apartemennya.
'Naruko pasti sudah tidur' batin Naruto saat dia tidak mendapatkan jawaban dari dalam apartemennya. Naruto hanya menghela nafas lelah lalu membuka sepatunya dan meletakkannya dirak sepatu mereka.
"Eh? Naruko kamu belum tidur?" Tanya Naruto saat dia melihat Naruko yang sedang membaca buku di ruang tengah dengan mengenakan earphone mendengarkan music dari handphonenya.
"Ah Naruto nii-chan sudah pulang? Maaf Naruko tidak sadar kalau Naruto nii-chan sudah pulang" ucap Naruko melepaskan earphonenya, lalu pergi kebelakang mengambil makan malam Naruto di atas kulkas.
"Tidak apa-apa kok"
"Kamu sedang membaca apa Naruko?" Tanya Naruto penasaran lalu mengambil buku yang dibaca Naruko.
"Hmm? ah tidak, hanya majalah biasa kok" jawab Naruko lalu memeberikan makan malam Naruto.
"Hei berhentilah membaca majalah, lebih baik kamu membaca buku sekolahmu" tegur Naruto.
"Mouuu~~ onii-chan seperti kakek-kakek saja" ucap Naruko mengambil majalahnya dari Naruto dan kembali melanjutkan membacanya. Naruto tertawa melihat tingkah adiknya itu lalu mulai memakan makannya.
"Malam ini tumben Naruto nii-chan pulang cepat. Apa kedai teuchi jii-san sudah tutup?" Tanya Naruko bingung. Karena biasanya kakaknya ini pulang sekitaran jam sepuluh malam, tapi hari ini dia pulang lebih awal dari biasanya.
"Ah ya, malam ini sepertinya tidak terlalu banyak pelanggan. Aha-ahahaha" jawab Naruto.
Dia sudah bilang alasannya pulang lambat kepada Naruko dengan mengatakan kalau dia membantu Teuchi di kedai hingga larut malam. Naruto berbohong, karena dia sudah menambah pekerjaan barunya di bar, dari jam Sembilan tiga puluh hingga jam sebelas. Disana dia hanya bekerja sebagai pencuci, dan menjadi pengantar pesanan jika tugas cuciannya selesai.
Dia sebenarnya tidak ingin berbohong pada Naruko, tapi mau bagaimana lagi. Dia membutuhkan uang untuk melunasi rumah itu pada tanggal yang sudah dia tetapkan. Setelah mendapat jawaban, Naruko kembali membaca majalahnya, tapi pada kenyataannya pikiran Naruko sekarang tengah memikirkan ucapan sasuke tadi siang.
Naruko melirik kakaknya sejenak yang sekarang sedang focus makan. Pikiran Naruko sekarang benar-benar kacau karena kata-kata Sasuke tadi siang selalu berputar di kepala Naruko.
'Tidak mungkin, Sasuke-kun pasti hanya mengada-ada saja'
SKIP TIME
Keesokan harinya, hari ini Naruto tidak bolos dari sekolahnya karena maneger mini market tempat dia bekerja sedang liburan bersama keluarganya keluar kota. Akhir-akhir ini dia sering mendapat liburan, dan dia berusaha memaksimalkan istirahatnya selagi ada kesempatan untuk itu.
Naruto yang sekarang tengah bermalas-malasan membaringkan kepalanya di atas meja setelah jam pelajaran usai, guna untuk menghemat tenaga agar bisa bekerja lebih giat lagi. Tapi entah mengapa, Sejak dia mulai bolos sekolah banyak rumor aneh yang beredar mengenai dirinya. Yah, sebenarnya Naruto tidak terlalu peduli dengan rumor yang beredar tentang dirinya, hanya saja tatapan orang yang mengarah kepadanya benar-benar mengganggu.
"Uh, o-ohayo Naruto-san..." sapa wanita yang baru datang lalu duduk di bangkunya di saping Naruto.
Namun Naruto tidak menjawab, terjadi keheningan beberapa saat sebelum akhirnya orang itu memulai pembicaraan.
"A-ano… Naruto-san, Kenapa satu minggu belakang ini kamu tidak datang kesekolah? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya khawatir.
Naruto sedikit mengangkat kepala untuk mengintip siapa yang berbicara dengannya, Saat melihat siapa yang menyapanya dia lalu duduk dengan benar.
"Ohayo Fujibayashi-san, ah soal itu maaf aku tidak bisa menjawabnya" ucap Naruto seadanya.
"B-bisa jangan terlalu sering bolos, nanti kamu ketinggalan pelajaran. Kalau begini terus kamu akan kena hukuman oleh sensei"
Mendengar ucapan Fujibayashi Naruto menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Hmm? kamu bicara seperti ketua kelas saja"
"Ta-tapi aku memang ketua kelas di sini" ucap Fujibayashi gugup.
"hoi lihat itu Uzumaki membuat ketua kelas ketakutan"
"Ternyata rumor itu benar kalau Uzumaki itu murid yang nakal"
"Tentu saja, diakan sering bolos dari sekolah"
"Sssshhh, suaramu kebesaran"
Fujibayashi dan Naruto tentunya mendengar itu semua, Naruto dan Fujibayashi tidak mungkin bilang kalau mereka berpura-pura untuk tidak mendengar ucapan mereka, karena bisikan mereka terlalu keras untuk dikategorikan kedalam sebuah bisikan. Fujibayashi hanya memandang khawatir kearah Naruto, dia tidak bisa berbuat apa-apa tentang rumor itu. Karena dia sendiri juga tidak tau apa yang harus dia lakukan.
"N-Naruto-san—"
"Tidak apa-apa Fujibayashi-san, aku tidak terlalu peduli apa yang mereka katakan" potong Naruto tau apa yang akan dikatakan oleh Fujibayashi.
"Un, Ka-kalau begitu baguslah, aku juga tidak percaya dengan rumor itu. Menurutku Naruto-san orang yang ramah" ucap Fujibayashi tersenyum kepada Naruto. Dan Naruto entah kenapa merasa tidak karuan saat melihat senyuman Fujibayashi.
"Terimakasih Fujibayashi-san" ucap Naruto lirih tapi masih bisa di dengar oleh Fujibayashi.
"Eh Ke-kenapa Naruto-san berterimakasih?" Tanya Fujibayashi bingung.
"Karena sudah mau berbicara denganku, dan tidak percaya dengan rumor yang mereka bilang" jawab Naruto dengan senyum lima jarinya.
"Tidak perlu di pikirkan Naruto-san, kitakan teman satu kelas"
"Teman ya? kalau begitu apa boleh aku memanggilmu dengan nama depanmu?" Tanya Naruto
"Eh? Na-nama depanku? Te-te-tentu saja boleh Naruto-san"
"Jaa, yoroshiku ne Ryou-chan"
"Ha-hai yoroshiku Naruto-san"
Ryou tentu saja menjadi salah tingkah. Naruto adalah laki-laki pertama yang memanggil nama depannya, dia tidak menyangka kalau Naruto akan meminta hal tersebut kepadanya.
Di rumah, dan di luar rumah dia selalu di hormati oleh pelayan dan orang-orang lain yang dia kenal karena ayahnya adalah pengusaha ternama dan dihormati oleh semua kliennya. Tapi Naruto dengan mudah meminta izin padanya untuk membiarkan Naruto memanggil nama depannya.
Tidak lama kemudian guru yang mengajar pagi ini memasuki kelas.
"Baiklah semuanya, sebelum kita memulai pelajaran kita ada yang ingin sensei umumkan sebentar"
Ucap guru membuat kelas menjadi sunyi.
"Beberapa hari lagi kita akan mengadakan festival sekolah, jadi kalian persiapkan apa yang ingin kalian buat untuk festival nanti"
Mendengar hal tersebut membuat semua murid mulai bersibisk-bisik tentang apa yang ingin mereka buat untuk festival sekolah nanti.
"Perhatian semua…"
"Urusan ini sensei serahkan kepada ketua kelas… Fujibayashi-san, tolong atur semuanya ya"
"H-hai sensei"
"Baiklah rencananya kalian atur sendiri setelah jam pelajaran saya habis, sekarang buka buku kimia halaman 295"
SKIP TIME
"Me-menurut kalian apa yang harus kita buat untuk festival nanti?" ucap Ryou yang sekarang berdiri di depan bersama dengan wakilnya.
"Bagaimana kalau rumah hantu saja"
Naruto yang mendengar kalimat itu, bulu kuduknya langsung merinding. Untunglah dia duduk di sudut jadi orang tidak ada yang melihat reaksinya barusan.
"Ooaah bagus juga ini pasti seru, dan orang-orang juga akan banyak datang"
Keringat mulai bercucuran di kepala Naruto saat orang mulai menyutujui saran itu, Naruto sekarang tengah berusaha bersikap biasa-biasa saja agar tidak ada yang menyadari tingkahnya tersebut.
'Bagaimana ini? Aku tidak mungkin menentang usulan itu tanpa alasan yang jelas. Kalau begitu tinggal tambah saja pilihan yang bagus' batin Naruto mencari saran lain yang lebih bagus.
"A-ano? Apa ada usulan yang lainnya?" Tanya Ryou.
"Bagaiaman kalau drama saja" ujar salah satu wanita lain.
"Heee jangan drama, drama itu membosankan" ucap yang lain tidak setuju.
Kelas seketika menjadi ribut karena berdebat tentang festival yang akan mereka buat.
"Jaa? Bagaimana kalau maid café saja?" ucap Naruto yang secara tidak sadar menyebutkan apa yang ada di kepalanya. Semuanya tiba-tiba saja melihat kearah Naruto dan Seisi kelas menjadi hening.
"E-eh? apa ada yang salah?"
"UUUOOOHHHH saran yang bagus Uzumaki! KAMI PILIH CAFÉ!" teriak para siswa kelas 1-E dengan bayangan siswi kelas 1-E mengenakan pakaiian maid di atas kepala mereka dan di tambah tulisan besar.
"SURGA CAFÉ"
"Sepertinya bagus, aku juga ingin mengenakan pakaiian maid. Aku punya beberapa pakaiian maid yang sexy" ujar salah satu siswi di sana pada temannya.
"Sexy" gumam laki-laki di sana serempak.
"Ah jangan, aku malu memakainya" ucap siswi itu malu-malu.
"Heeee kenapa? Pasti terlihat bagus untukmu… terutama dengan dadamu yang besar ini, mwehehehe" ucap gadis itu dengan air ludahnya yang hampir keluar dari mulutnya dan hidungnya yang kembang kempis.
Laki-laki 1-E yang mendengar itu seketika membayangkan siswi kelas 1-E mengenakan pakaian maid pingsan kehabisan darah karena membayangkan ini ini dan itu itu dan hal-hal lainnya.
Kecuali Naruto tentunya, karena dia setiap malam melihat wanita berpakaiian maid di tempat dia bekerja.
"K-kalau begitu kita pakai saran Naruto-san. Kita akan mendirikan café di kelas kita"
"Tunggu… kenapa kita tidak membuat stand café di luar saja? pasti akan banyak yang datang" ucap wakilnya.
"Benar juga, karena posisi kelas kita di ujung akan susah untuk orang tau kalau kita membuka café"
"Bagaimana kalau di taman saja? di sana bisa tempat orang bersantai-santai"
"Tapi bukankah sebelum itu kita harus membagi tugas terlebih dahulu" pernyataan Naruto lagi-lagi membuat kelas kembali sunyi.
"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Naruto merasa risih di lihat seperti itu.
Ryou berehem untuk menarik perhatian teman-temannya agar focus kembali kedepan.
"Ehem… yang di katakan Naruto-san tadi ada benarnya, sebaiknya kita menentukan tugas masing-masing. Untuk soal tempat nanti akan aku ajukan pada pihak osis" ucap Ryou.
"… Saji-kun tolong bagikan tugas untuk mereka, aku akan memberitaukan osis hasil dari rapat kita" ucap Ryou pada laki-laki yang berdiri dengannya di depan lalu pergi meninggalkan kelas.
"Baiklah semuanya, kita akan membagikan tugas kita masing-masing"
SKIP TIME
Setelah membagikan tugas mereka masing-masing, kelas 1-E tengah asik berkeluyuran di kelas karena guru yang seharusnya mengajar tidak datang.
Bicara tentang tokoh utama kita, Naruto mendapatkan tugas melayani pelanggan yang datang. Tentunya itu tidak menjadi masalah baginya karena dia juga bekerja di café sebelumnya, jadi hal tersebut tidak terlalu berat.
Tidak menunggu lama Ryou kembali kekelas membuat seluruh siswa 1-E mengalihkan perhatian mereka kepada Ryou.
"Yokatta minna (syukurlah semuanya), kita di perbolehkan untuk membuka café di taman"
"YOSHAAA" teriak para lelaki.
"Ma, ma tenanglah, waktu kita tidak banyak. Sebaiknya kita persiapkan dengan cepat, kita akan mulai dari sore ini setelah pulang sekolah" ucap Saji
"Eh sepulang sekolah?" Tanya Naruto kaget.
"Minna gambatte" ujar Ryou menyemangat semuanya.
"HAI KURASU IIN-CHO" (ketua kelas) teriak kelas 1-E kompak.
"Tu-tunggu sebentar…" Naruto berdiri berusaha untuk mengatakan kalau dia tidak bisa datang karena pekerjaannya di kedai teuchi di mulai dari pulang sekolah sampai malam.
"Ka-kalau begitu mohon kerja samanya, teman-teman" ucap Ryou.
Ryou sangat senang sekali melihat semua siswa dan siswi di kelasnya bersemangat untuk acara festival sekolah mereka. dia memandang satu persatu teman-teman kelasnya yang terpapar wajah bahagia dan semangat untuk persiapan festival nanti, tapi pandangannya terhenti saat melihat Naruto yang berdiri dari tempat duduknya.
"A-ada apa Naruto-san?" Tanya Ryou.
"Aku tidak—" ucapan Naruto terhenti saat dia ingat kalau di sekolah ini kerja sambilan tidak di perbolehkan. Jika sampai sekolah tau kalau dia kerja sambilan, bisa-bisa dia di panggil oleh guru.
"Apa kamu tidak bisa datang untuk me-membantu kami Naruto-san?" Tanya Ryou khawatir saat melihat Naruto yang tiba-tiba diam.
"A-ah tidak maksudku… etto? Ah ya maksudku, AKU TIDAK INGIN KALAH SEMANGATNYA DARI KALIAN!" teriak Naruto membuat semua yang ada di sana melihat Naruto dengan tatapan bingung, sedangkan salah satu siswa di sana menggepalkan tangannya dengan kuat saat melihat aksi Naruto.
"UUOOOOOHH ITU BARU SEMANGAT MUDA UZUMAKI-KUN" ucap laki-laki berambut hitam beralis tebal mengacungkan jempolnya kearah Naruto dengan senyumannya yang berkilau.
Dia lalu meloncat keatas kursi lalu bersorak.
"YOSH MINNA JANGAN BIARKAN SEMANGAT MUDAMU KALAH DARI UZUMAKI"
"YEAAAAH!" dan entah kenapa laki-laki yang lain juga ikut terbawa suasana.
"Dasar laki-laki" ucap salah satu perempuan di sana.
"Ehehe laki-laki memang seperti itu" sambut perempuan lainnya.
Selama yang lainnya membicarakan tentang festival Naruto mengambil ponselnya di laci meja untuk mengirim pesan kepada Ayame kalau dia tidak bisa datang untuk beberapa hari karena kegiatan sekolah.
Pindah scene
Di kelas 1-A, Sona berdiri di depan dengan wajah yang serius, tentunya suasana di kelas elit dan kelas bawah berbeda jauh.
"Dengan hasil dari pengambilan suara terbanyak kita semua sepakat akan membuat rumah hantu pada acara festival sekolah nanti, Dan untuk tugas kalian sudah kita bagikan masing-masing…" ucap Sona membacakan hasil rapat mereka. Suasana diam tidak bergeming dan juga serius di kelas 1-A
"Kita akan mempersiapkan semuanya mulai dari sepulang sekolah, dengan perkiraanku kemungkinan 100% kita akan selesai sebelum acara di mulai… apakah ada yang keberatan?" Tanya Sona.
Diam. Satu kata yang tepat untuk suasana di dalam kelas tersebut, tidak ada satupun suara yang keluar dari mulut siswa di dalam kelas sampai suara dari jangkrik yang ada di pohon diluar jendela dapat terdengar. Karena tidak ada yang bersuara sama sekali, maka dipastikan bahwa keputusan sudah mutlak bulat dan lonjong.
"Baiklah kita tutup rapat kita hari ini, aku akan menyerahkan kegiatan kita ke pihak osis" ucap Sona lalu pergi keluar di ikuti oleh Tsubaki yang menjadi wakilnya.
Pindah scene
Sedangkan di tempat Rias.
"Jadi apa yang ingin kalian buat untuk festival sekolah nanti?" Tanya laki-laki berambut merah dengan tato Ai di keningnya.
"Bagaimana kalau kita mengadakan foto-foto dengan orang-orang menggunakan cosplay anime. Tentunya akan banyak orang yang akan datang, dan kita kenakan tariff untuk sekali poternya" ucap Rias mengajukan pemikirannya.
"Ara ara Rias, kau tidak seharusnya melibatkan orang lain dalam hobimu"
"S-s-s-siapa yang hobi dengan hal begituan, itu bukan ho-h-hobiku" timpal Rias.
"Ara mudah sekali di tebak"
"Hmm?" laki-laki yang di depan kelihatannya masih mempertimbangkan masukan dari Rias.
"Kalau kita mengadakan cosplay tentunya untuk cosplay kita harus merental pakaiannya, tentunya itu akan merepotkan walaupun uangnya akan kita tutup dengan hasil pemotretan bersama pengunjung yang datang, tapi bagaimana jika kita tidak dapat menutup semua rental pakaiannya? Jika ingin membuat costume nya akan memakan waktu, kemungkinan buruknya tidak akan selesai tepat waktu" ucap laki-laki itu mempertimbangkan segala kemungkinan.
Rias mendengar kata-kata itu menyunggingkan senyumannya lalu berdiri.
"Tenang saja Sabaku-san, aku memiliki beberapa kostum di rumahku" ucap Rias bangga.
"Ufufu mungkin beberapa bagimu berbeda maknanya dari pada beberapa bagi orang lain Rias" ucap Akeno.
"Baiklah jika memang begitu kita pakai saranmu Gremory-san. Kita kelas 1-B akan membuat foto bersama dengan kita mengenakan cosplay anime untuk menarik perhatian orang yang datang dengan di kenakan biaya setiap foto dan pencetakannya. Dan kita akan menyiapkan beberapa latar untuk tempat berfoto" Gara membacakan hasil rapat mereka lalu pergi ke kantor osis.
SKIP TIME
Sore menjelang malam di taman sekolah kelas 1-E sedang semangatnya bekerja membuat café mereka.
Saking semangatnya mereka tidak menyadari kalau hari sudah mulai malam.
"Minna-san, sebaiknya kita sudahi dulu pekerjaan kita hari ini, karena hari sudah mulai malam" ucap Ryou.
"Oh sudah jam segini ya?"
"Tidak terasa ya, aku bahkan merasa kalau baru sebentar kita bekerja"
Semuanya mulai berhenti bekerja dan membereskan barang-barang mereka lalu pergi pulang kerumah mereka masing-masing.
Ryou melihat yang lainnya sudah pulang diapun juga membereskan barangnya. Dia baru ingin pergi tapi langkahnya terhenti saat melihat Naruto yang baru keluar dari gedung sekolah.
"Naruto-san kenapa masih belum pulang?" Tanya Ryou.
"Ah tadi ada yang tertinggal di bawah laciku" jawab Naruto.
"Jaa, kalau begitu aku pulang dulu. Mata ashita Naruto-san"
"M-matte Ryou-chan" ucap Naruto menghentikan langkah Ryou.
"Hmm? ada apa Naruto-san?"
"B-bagaimana kalau aku antarkan kamu ke halte bus? Berbahaya kalau berjalan sendiri di jam seperti ini" tawar Naruto.
"Eh? um… baiklah kalau begitu"
Naruto dan Ryou berjalan pulang bersama, tanpa mereka sadari ada sepasang mata melihat mereka berjalan berdua.
Murid itu terlihat tidak suka dengan akrabnya Ryou dan Naruto.
Dalam perjalanan Naruto dan Ryou berjalan tanpa adanya percakapan sedikitpun .
Suasana malam yang sunyi menjadi warna dari perjalanan mereka.
Sesaimpainya di halte bus.
"Arigato sudah mengantarku Naruto-san, hati-hati di jalan pulang" ucap Ryou lalu masuk kedalam bis dan beberapa orang turun dari sana.
Naruto hanya melambaikan tangannya membalas ucapan Ryou barusan, setelah itu Tanpa menunggu lama Naruto pergi ke café serafall untuk bekerja paruh waktunya.
~'~
~'~
Pagi harinya di apartemen Uzumaki.
"Naruto nii-chan ayo bangun nanti kita terlambat"
"Um~ hai hai onii-chan bangun"
"Moouu~ padahal minggu kemarin Naruto nii-chan bangunnya lebih cepat dariku" ucap Naruko sebal.
Setelah membangunkan Naruto, Naruko pergi kedapur menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
SKIP TIME
Setelah memasang sepatunya Naruko keluar terlebih dahulu dari Naruto.
Saat dia membuka pintu dia menemukan kotak obat didepan pintu.
"Apa ini?" Naruko mengambil kotak itu dan melihat tidak ada isinya.
"Obat apa ini?…" Tanya Naruko entah pada siapa.
Naruko melihat kekiri dan kenan tidak ada siapa-siapa di sana.
"Dasar, siapa yang membuangnya disini?" Naruko lalu membuang kotak itu di tong sampah di dekat pagar apartemen.
"Maaf membuatmu menunggu lama Naruko. Ayo kita pergi" ucap Naruto yang baru saja keluar.
Beberapa hari sudah berlalu dan persiapan festival sekolah sebentar lagi akan dimulai.
Hampir semua kelas dan club selesai dengan persiapan mereka untuk festival nanti.
Dan tokoh utama kita sekarang tengah menyusun meja bersama siswa 1-E yang lain, sedangkan para siswi 1-E menghias daerah-daerah sekitar café dan mejanya agar terlihat lebih indah.
Pindah scene
Di kelas 1-A Sona sekarang tengah mengecek semuanya mulai dari peralatan mereka, konsumsi untuk mereka yang bekerja, dan lain-lain. (kelas di jepang memiliki dua pintu keluar)
Naruko sekarang sedang beristirahat bersama Hinata, Temari, dan Ino di belakang panggung rumah hantu buatan mereka.
"Sona-chan memaksakan dirinya lagi" ucap Naruko lirih.
"Hmm? panggilanmu dengannya dekat sekali Naruko-chan, apa kalian berteman?" Tanya Ino saat mendengar Naruko memanggil Sona dengan suffix –chan.
"Tentu saja, Sona-chan adalah teman masa kecilku dan Naruto nii-chan"
"Hum? Teman masa kecilnya Naruto ya?" gumam Temari.
"Hooo kelihatannya teman kita mendapatkan saingan yang berat" ucap Ino menyenggol bahu Hinata.
"A-a-apa maksudmu dengan saingan. A-aku tidak tertarik sama sekali dengan ku-ku-kucing itu" ucap Hinata menyangkal perkataan Ino.
"Tapi kalian sepertinya akan cocok sekali kalau berdua" goda Temari ikut-ikutan.
Hinata membayangkan jika mereka sampai berpasangan.
'Pasti akan bertengkar terus jika aku bersamanya' pikir Hinata sweatdrop membayangkan masa depannya bersama kucing itu.
"Tidak-tidak, kalau aku bersamanya maka hidupku tidak akan tenang. Aku ingin hubungan yang harmonis tanpa adanya perdebatan seperti yang ada di dalam novel. Tidak seperti kucing liar itu yang selalu mencari masalah" ucap Hinata membayangkan kehidupannya bersama pasangannya.
Naruko yang mendengar percakapan itu entah kenapa hanya bisa diam, dia tidak terlalu suka bercerita tentang pasangan masa depan kakaknya. Entah kenapa itu membuatnya risih.
"Kalian saja yang tidak tau sifat Naruto nii-chan yang sebenarnya" ucap Naruko lirih bahkan tidak terdengar oleh Temari,Ino dan Hinata.
Naruko menghela nafas tidak mau terlalu memikirkan kenapa dengan dirinya ini. Lagian hubungan antar keluarga itu di larang.
Naruko melihat Sona yang kelihatannya sibuk mengecek semuanya sendiri lalu memanggil Sona.
"Sona-chan…"
Sona menghentikan kegiatannya, mengalihkan pandangannya pada Naruko yang memanggil namanya dengan akrab.
Sebenarnya dia tidak keberatan karena Naruko adalah teman masa kecilnya, dia tidak mungkin lupa itu.
Tapi tetap saja… memanggilnya dengan suffix –chan? Bahkan Sona bisa menghitung jumlah orang yang memanggilnya dengan –chan dalam hidupnya.
Tentunya itu hanya kakaknya, Naruko dan Naruto yang selalu memanggilnya dengan suffix –chan padanya.
Bahkan Rias salah satu teman masa kecilnya tidak memanggilnya dengan suffix –chan.
Sona memperbaiki letak kacamatanya.
"Ada apa Uzumaki-san?"
"Apa kamu tidak ingin istirahat sebentar?" Tanya Naruko.
"Tidak, aku masih harus menyelesaikan tugasku" jawab Sona melanjutkan tugasnya.
"Dimana Tsubaki-chan?" Tanya Naruko lagi yang sudah berdiri di samping Sona.
"Dia sedang menjemput kostum yang sudah di buat tadi malam. Mungkin sebentar lagi dia datang"
"Kalau begitu biar aku bantu mengecek persiapan-perisapan yang lainnya" tawar Naruko.
"Tidak usah, aku bisa menyelesaikannya sen—"
"Tidak boleh seperti itu. Kita harus saling membantu, bukannya Naruto nii-chan juga pernah bilang seperti itu padamu"
Flashback di kepala Sona kembali mengingat perkataan Naruto dulu padanya.
"Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, kita semua harus saling membantu"
Sona memejamkan mata seraya membenarkan letak kacamatanya dengan senyuman menghiasi wajah manisnya saat mengingat saat-saat itu.
"Kalau dia melihatku seperti ini mungkin dia akan memarahiku lagi seperti dulu" ucap Sona lirih.
"Hehehe itu sudah pasti, Naruto nii-chan memang seperti itu orangnya"
Sona terkekeh saat membayangkan Naruto memarahinya sekarang, tentunya dia akan terlihat seperti anak kecil di lihat orang-orang banyak disini.
"Baiklah, mohon bantuannya Naruko-chan"
"Hai kurasu iin-cho" ucap Naruko dan meniru senyuman lima jarinya Naruto.
Pindah scene
"Rias-sama, diamana anda ingin meletakkan kostum ini?" Tanya laki-laki tua berambut putih memakai baju pelayan rapi berwarna hitam membawa dua kotak yang cukup besar, di belakangnya ada dua lagi laki-laki yang masih muda yang juga membawa dua kotak. Dan satu kotak besar dengan banyak peralatan di dalamnya.
"Ah sudah sampai rupanya…" Rias membuka kotaknya melihat kedalam.
"…Apa semua yang aku tandai sudah di masukkan kedalam?" Tanya Rias memastikan.
"Tentu nyonya, semuanya sudah kami bawa sesuai permintaan anda"
"Arigato Sebas, tolong letakkan di dalam di dekat jendela setelah itu kalian boleh pulang"
Orang itu melaksanakan perintah Rias, setelah mereka meletekkan barang Rias mereka pamit pulang.
"Apa itu Gremory-san?" Tanya siswi yang baru masuk ke dalam kelas.
"Saaa minna! ini adalah kostum cosplay koleksiku, pilih yang mana kalian ingin pakai" ucap Rias seraya mengibas rambutnya dengan elegan.
Para siswi dan siswa yang bertugas sebagai pemakai kostum membuka kotak itu melihat semua costum yang ada.
"I-ini… bukankah ini kostum rin, dan yukio okumura dalam anime blue exorcist(ao no exorcist)? Whoa rambut palsunya juga ada!" ucap orang itu melihat-lihat.
"Hei di kotak ini ada kostum zoro dalam anime onepeace dan juga gin dari bleach"
"Whoa semuanya kostum pemakai senjata…"
"Tapi di mana senjatanya Gremory-san?"
Rias yang sedang asik memilih kostum hanya menunjukkan tangannya kearah kotak besar di sampingnya.
Para siswa itu membuka kotak itu dan mengambil isi dalamnya, alangkah terkejut mereka saat melihat peratalan cosplay yang ada didalam.
Salah satu siswa mengambil tiga pedang milik zoro.
Dia lalu membuka pedang itu dari sarungnya.
"Oi oi bukankah ini seperti aslinya?" Tanya siswa yang mengambil tiga pedang milik zoro.
"Un, hampir seperti aslinya. Walau pedangnya hanya besi biasa, tapi pedang ini di buat sedemikian rupa agar seperti pedang samurai asli, dan pistol ini… aku rasa kita akan di curigai kalau membawa ini berkeliaran?"
"Ternyata Gremory-san adalah seorang otaku" ucap asal ceplos dari salah satu siswa di sana.
"HUUUH kau bilang apa tadi?" Tanya Rias dengan api mengelilingi tubuhnya.
"A-ah tidak-tidak aku tidak bilang apa-apa kok, sungguh. Ehe-ehehe" ujar siswa itu ketakutan lalu kembali memilih kostumnya.
"Hmm? apa ini baju maid?" Tanya salah satu siswi saat melihat ada baju maid di dalamnya.
"Tapi kenapa Cuma ada dua?" Tanya temannya yang lain.
"Kyaaaa bukankah itu adalah cosplay rem dan ram dalam anime re zero"
"Humph, ini masih belum apa-apa. Di rumah masih ada beberapa kostum cosplay yang lainnya" ucap Rias bangga.
Siswa yang ada di sana sweatdrop saat mendengar kata 'beberapa' dari mulut Rias.
"Mungkin beberapa bagimu terlalu banyak untuk kami Gremory-san" ujar salah satu siswa di sana.
Sedangkan yang lain hanya mengangguk saja.
Pindah scene
Di taman, tepatnya di café kelas 1-E semuanya sedang makan bersama kecuali Naruto yang duduk sendiri di bangku taman yang cukup jauh dari tempat mereka mendirikan café.
KRRRUUUUKKKK (sorry kalau salah, tolong kasih masukan tentang suaranya)
Suara keras terdengar dari perut Naruto yang menandakan kalau dia lapar. Naruto mengelus perutnya sedih.
Perutnya sekarang terasa perih karena tidak di isi siang ini. Dia lalu meminum air mineral di sampingnya untuk meredakan rasa sakit di perutnya.
Walau sedikit tapi rasa perihnya tidak seperih yang barusan. Naruto menghela nafasnya lalu merebahkan punggungnya pada bangku taman itu, melihat langit biru sendirian.
"Huh?"
Naruto melihat sekeliling dengan gerakan kejut.
Entah kenapa dari tadi dia merasa di perhatikan oleh seseorang. Tapi saat dia melihat kemana-mana di sekitarnya dia tidak menemukan siapa-siapa.
"Hmm? mungkin hanya perasaanku saja" ucap Naruto lalu kembali merebahkan punggungnya pada kursi, duduk di bawah pohon pada hari panas ini memang enak rasanya.
Angin bertiup menerpa wajah Naruto dengan lembut. Naruto memejamkan matanya menikmati angin yang berhembus.
'Aaaah nikmatnya' batin Naruto.
KRRRUUUUKKKK
Seketika wajah Naruto langsung face palm saat perutnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
Naruto merenguh sakunya memerikasa uang yang dia bawa tadi pagi.
'Masih satu bulan lagi sampai rumah itu harus di ambil, aku tidak boleh boros. Lebih baik aku beli ramen saja di kantin' pikir Naruto.
"Haaaah~ dari pada tidak sama sekali" ucap Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto baru saja berdiri dan ingin pergi tapi baru mau berjalan meninggalkan taman langkahnya terhenti saat Ryou berdiri didepannya.
"Hum? Ada apa Ryou-chan?"
"A-ano… kenapa Naruto-san duduk sendirian di sini? Apa ada masalah?" Tanya Ryou khawatir.
"Oh, aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu saja. tidak ada masalah kok"
"Jaa kalau begitu ayo kita makan bersama teman-teman yang lainnya"
"Un, Ryou-chan pergilah duluan. Nanti aku menyusul, aku ingin melihat adikku dulu" ucap Naruto lalu pergi meninggalkan Ryou di sana.
Pindah scene
Naruto berjalan di tengah keramaiian siswa dan siswi yang tengah mempersiapkan semuanya, saat sampai di depan pintu kelas 1-A dia bertumburan dengan Tsubaki yang juga baru ingin keluar.
"Ah maaf aku tidak sengaja Shinra-san" ucap Naruto meminta maaf.
Tsubaki tidak menjawab dan tidak meperdulikan ucapan Naruto lalu pergi seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.
Naruto masih berdiri di sana melihat Tsubaki yang berjalan di koridor sendiri.
"Ada apa dengannya?" Tanya Naruto entah pada siapa.
"Apanya Naruto nii-chan?" ucap Naruko tiba-tiba di samping Naruto.
"Whoa! N-Naruko jangan bikin onii-chan kaget seperti itu"
"Hehehe habisnya Naruto nii-chan melamun di depan pintu"
"Hu-uh dasar. Apa kamu sudah makan siang?" Tanya Naruto.
"Hmm? apa Naruto nii-chan datang kesini hanya ingin menanyakan itu?" Tanya Naruko balik.
"K-kenapa kamu yang malah bertanya. Aku datang kesini hanya memeriksa keadaanmu saja, tidak ada ma-ma-maksud lain kok, hmph" ucap Naruto membuang wajahnya kesamping.
"Ehehe ayo kita kekantin, aku rasa sekarang sudah tidak ramai lagi" ujar Naruko lalu menarik tangan kakaknya itu.
Tanpa Naruko dan Naruto sadari kalau Akeno sekarang tengah melihat mereka berjalan bergandengan tangan (menurut Akeno).
'Bukankah itu Naruto-kun? Lalu siapa wanita bersamanya itu? kelihatannya mereka dekat sekali' batin Akeno.
"Ufufu Rias pasti akan terkejut jika aku memberitahunya soal ini" ucap Akeno lalu masuk ke dalam kelas.
Di kantin Naruto dan Naruko sedang menikmati makanan mereka. Kantin tidak terlalu ramai hari ini karena banyak siswa sedang focus untuk menyelesaikan tugas mereka untuk festival sekolah nanti.
"Jadi apa tugasmu di kelas Naruko?" Tanya Naruto di sela makannya.
"Naruto nii-chan tidak sopan. Setidaknya habisi dulu ramen di mulutmu"
Naruto menelan makanannya lalu kembali bertanya.
"Hehe gomen-gomen, jadi apa tugasmu di kelas?"
"Aku dan beberapa murid lainnya hanya di tugaskan untuk menyiapkan peralatan saja. karena peralatannya sudah siap semua kami tidak memiliki pekerjaan lagi" ucap Naruko.
"He~? Kalau tidak salah kalian membuat rumah hantu, kan? Apa kamu tidak takut" Tanya Naruto.
"Te-tentu saja tidak, aku bukan anak kecil lagi tau!"
Naruto terkekeh melihat sifat adiknya ini yang menurutnya imut.
"Akan aku ambil lagi foto kenangan saat kamu mengompol lagi nanti"
"Mooouuuu~ onii-chan no baka!"
"Ahaha aku hanya bercanda saja"
"humph, Naruto nii-chan sendiri apa tugas Naruto nii-chan di kelas? Aku dengar kalian membuat café"
Naruto tidak langsung menjawab, dia mendekatkan badannya ke Naruko lalu mengambil nasi yang lengket di pipi putih Naruko.
Naruko yang diperlakukan seperti itu pipinya tiba-tiba memerah.
"N-Naruto nii-chan? apa yang kamu l-la-lakukan" Naruto kembali menjauhkan dirinya dari Naruko dan melanjutkan makannya.
"Habisnya kamu makannya belepotan" ucap Naruto santai.
"Ta-ta-tapi jangan di depan umum seperti ini, bagaimana jika ada orang yang melihat kita. Mereka bisa berpikir yang—"
"Kalian sepertinya sangat dekat sekali, NARUTO-san"
Wajah Naruto seketika pucat mendengar suara itu. Dengan gerakan patah-patah dia melihat kebelakang.
"A-ah… So-Sona-chan, ke-kebetulan sekali ya kita bertemu disini. Apa kalian baru datang?" ucap Naruto basa-basi.
"Sona-sama sudah di sini sebelum kalian datang, Uzumaki-san" ucap Tsubaki dingin. Sona melirik kearah Tsubaki, dia sudah lama tidak melihat expresi Tsubaki seperti ini.
Ini kedua kalinya dia melihat expresi Tsubaki yang dingin kepada orang setelah kejadian itu.
'Apa Naruto sudah membuat masalah dengannya?' batin Sona bingung melihat tingkah Tsubaki yang kelihatannnya mempunyai masalah dengan Naruto.
Sona mengalihkan pandangannya pada Naruko yang kelihatannya memainkan kedua jari telunjuknya dengan wajah memerah padam dan asap keluar dari kepalanya.
"Aku tidak menyalahkan kedekatan kakak dan adik, tapi ingatlah batasan kalian Naruto-san" ucap Sona
"A-ano ini tidak seperti yang kalian lihat Sona-chan"
"Aku tidak menyangka kalau kamu seorang siscon Uzumaki-san" ucap Sona lalu membawa bekas makannya pergi di ikuti oleh Tsubaki.
"Sudah aku bilang kalau ini tidak seperti yang kamu lihat Sona-chan!"
Sona tidak mengubris ucapan Naruto dan melanjutkan kegiatannya.
"Kau tampaknya dalam masalah dobe" ucap orang yang baru datang.
Lalu duduk di samping Naruko yang wajahnya masih juga memerah.
"Khuh! Aku tidak ingin dengar itu darimu teme"
"Naruto, aku ingin bicara denganmu…" ucap Sasuke memanggil Naruto dengan namanya.
Naruto mengerti kalau Sasuke sedang serius juga memasang wajah seriusnya.
Naruko mengalihkan pandangannya kearah Sasuke. Penasaran apa yang akan mereka bicarakan.
Apakah ini ada sangkut pautnya dengan apa yang Sasuke bilang dengannya dulu?
Ataukah ini masalah lain yang ada kaitannya dengan Naruto nii-channya?
Dia benar-benar penasaran sekarang. Di tambah dengan ekpresi serius Sasuke yang baru pertama kali ini dia lihat, membuat dia merasakan kalau yang ingin mereka bicarakan sangatlah penting.
Naruto menghela nafas, Sasuke pasti akan membicarakan tentang hal itu dengannya.
"Maaf ya, Naruko. Nanti akan onii-chan bayar makanannya, kamu pergilah dulu…"
Naruko berencana untuk menguping tapi hal itu sudah di tebak oleh Naruto terlebih dahulu.
"…Jangan berpikir untuk menguping Naruko. Ini benar-benar tidak bisa onii-chan katakan padamu, onii-chan mohon padamu untuk mengerti" Naruto memberikan senyuman terbaiknya pada Naruko, berharap kalau Naruko akan mengerti dengan ucapannya dan tidak melakukan tindakan bodoh dengan menguping pembicaraannya.
Naruko baru saja ingin membantah tapi lagi-lagi di potong oleh Naruto yang mengusap kepalanya lembut.
"Naruto… nii-chan" gumam Naruko pelan.
"…Onegai(aku mohon), Naruko. Kali ini saja, tolong turuti ucapan onii-chan" Naruko melihat expresi kakaknya membuat kekhawatiran dan penasarannya bertambah menjadi.
Senyuman kakaknya itu sangatlah asing baginya…
Itu bukanlah senyuman yang selalu dia lihat setiap hari.
Naruko merasa kalau Senyuman itu… di balik senyuman itu menyimpan banyak masalah darinya.
Hati Naruko merasa sakit saat melihat Naruto tersenyum seperti itu… dia tidak ingin kakaknya tersenyum seperti itu di depannya, dia tidak ingin kakaknya memasang senyuman seperti itu lagi di wajahnya.
Tapi apa yang bisa dia perbuat? Selama ini dia hanya hidup di balik bayang-bayang Naruto itu sendiri.
Apa yang bisa dia lakukan untuk membantu kakaknya ini?
Itulah isi pikiran Naruko sekarang, hingga akhirnya dia memilih untuk mengikuti perkataan Naruto barusan untuk pergi dari sana.
"Un, waktta(aku mengerti)" ucap Naruko lemah lalu pergi meninggalkan Naruto dan Sasuke di sana.
Saat sudah cukup jauh Naruto lalu melihat kebelakang lagi dan melihat kalau Naruto memasang wajah seriusnya di depan Sasuke.
Wajah serius itu… membuat kekhawatirannya menjadi lebih besar, di tambah dengan perkataan Sasuke padanya kemarin… membuat Naruko bergelut dengan pikiran negative.
Naruto yang melihat Naruko masih berdiri melihat kearah mereka memberikan senyumannya lagi dan mengangguk lemah.
Seolah berkata
"Daijobu (Tidak apa-apa)"
Naruko juga mengangguk lalu kembali melanjutkan perjalanannya kekelas.
Sasuke tidak langsung berbicara, dia mengunggu Naruko sudah benar-benar pergi dan jauh dari mereka.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan… Sasuke" Tanya Naruto serius saat Naruko sudah jauh dari kantin.
Sasuke tidak menjawab, dia berdiri lalu member isyarat untuk Naruto agar mengikutinya.
Naruto mengerti maksud Sasuke tidak banyak komentar dan mengikuti Sasuke.
Pindah scene
Naruko tengah duduk bersama Hinata di taman. Suasana tenang, dan tidak ada percakapan di antara mereka berdua.
Hinata yang tengah asik melihat langit biru sedangkan Naruko yang bergelut dengan pikirannya sedari tadi.
"Nee, Naruko-chan ada apa? Dari tadi kamu melamun terus. Apa kamu memikirkan sesuatu?" Tanya Hinata memecahkan keheningan.
Naruko tidak menjawab pertanyaan Hinata barusan, dia tidak tau apakah dia harus bercerita atau tidak pada Hinata.
"Kalau ada masalah katakan saja, aku akan berusaha membantu. Setidaknya aku akan berusaha mengurangi bebanmu" ujar Hinata lembut.
"Ah un, ini tentang Naruto nii-chan" ucap Naruko lirih
"Hmm? Ada apa dengan kucing itu?" Tanya Hinata penasaran.
"Akhir-akhir ini Naruto nii-chan selalu pulang terlambat… dan dia selalu pulang duluan tanpa menungguku. Dia selalu membuat alasan saat aku bertanya kenapa…"
Naruko menggenggam dadanya
"…Dia selalu saja terlibat kedalam masalah. Selalu masuk kedalam masalah hanya untuk menolong orang yang bahkan tidak dia kenal. Dia orang yang ceroboh, tidak pintar, selalu bertindak tanpa mempertimbangkan keselamatan dan kesehatannya"
Hinata tidak bisa berkata apa-apa, dia baru tau kalau Naruto memiliki sisi yang seperti di sebut oleh Naruko barusan.
"Dan saat kondisinya buruk dia malah mengkhawatirkan orang lain dan bilang kalau dia tidak apa-apa"
"Dan barusan, dia sedang berbicara dengan Sasuke-kun…"
"… Dia bilang kalau yang mereka bicarakan adalah hal yang tidak bisa dia bicarakan padaku"
Hinata masih diam mendengar cerita dari Naruko yang sepertinya masih belum selesai.
"Ekpresi seriusnya… membuat hatiku gelisah, aku bahkan hampir tidak pernah melihat Naruto nii-chan memasang wajah seriusnya itu didepanku, Dan…"
Naruko mencengkam baju di dadanya saat mengingat senyuman Naruto yang dia lihat di kantin tadi.
"…Dan senyumannya tadi itu membuat hatiku sakit…" ucap Naruko lirih.
Hinata sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan Naruko barusan, kenapa senyuman Naruto membuat hati Naruko sakit?
Itu lah yang dipikirkan oleh Hyuuga Hinata sekarang ini.
"Apa maksudmu Naruko? Ada apa dengan senyuman Uzumaki itu" Tanya Hinata yang mulai memanggil Naruto dengan nama marganya.
"Aku sudah lama tinggal dengan Naruto nii-chan… aku benar-benar tau kalau senyumannya padaku tadi hanyalah senyuman palsu…"
Hinata jadi terdiam mendengar penuturan Naruko barusan.
"…Senyuman Naruto nii-chan selalu terlihat cerah dan menenangkan bagiku. Aku ingin selalu melihat Naruto nii-chan tersenyum seperti itu. Tapi… senyuman yang dia tunjukkan kepadaku tadi terasa …"
"…Terasa sangat menyakitkan"
Mata Naruko mulai berlinang air, dan bahu Naruko bergetar menahan tangis.
"Dia selalu saja membuatku khawatir. Dia memang kakak yang bodoh ya" ucap Naruko mencurahkan segala yang dia rasakan.
Hinata menggengam bahu Naruko agar dia lebih tenang.
Dia benar-benar tidak tau harus berkomentar seperti apa. Mendengar cerita Naruko tentang Naruto membuat opini Hinata tentang Naruto jadi berubah.
"Kamu memiliki kakak yang hebat Naruko" ucap Hinata lembut. Naruko menyandarkan kepalanya di bahu Hinata berharap beban di pundaknya ini akan terasa lebih ringan.
"Um, Mungkin dia yang terhebat yang pernah ada"
Hinata terkekeh mendengar ucapan Naruko barusan.
Beberapa menit lamanya Naruko bersandar di bahu Hinata, akhirnya Naruko mengangkat kepalanya dari bahu Hinata.
Naruko menghapus bekas-bekas air di kelopak matanya lalu menghadap kearah Hinata.
"Terimakasih Hinata-chan, sekarang aku sudah merasa mendingan"
"Un, Yokatta… kalau begitu ayo kita mengambil tas, sebentar lagi bel pulang berbunyi"
Sedangkan Di atas gedung sekolah, Sasuke sekarang duduk sambil melihat siswa dan siswi yang ada di bawah. Sedangkan Naruto membaringkan badannya melihat langit yang cerah.
Naruto beridir dan pergi meninggalkan Sasuke sendiri di sana tanpa berkata apa-apa.
Sasuke memejamkan matanya saat Naruto sudah pergi dari atap.
"Keras kepala seperti biasanya" ucapnya entah kepada siapa.
Naruko membuka loker sepatunya lesu, dan mengambil sepatunya lalu mengambil barang lainnya di dalam.
"Lho?" Naruko melihat kedalam loker sepatunya tidak ada kunci apartemen. Dia lalu melihat loker sepatu kakaknya yang sudah kosong.
'Apa Naruto nii-chan lupa meletakkan kuncinya?' batin Naruko.
"Haaah lebih baik aku jemput saja di kedai teuchi jii-san." Ucap Naruko lalu pergi berjalan meninggalkan gedung sekolah.
"Kenapa lama sekali Naruko!?" teriak orang yang berdiri di depan pintu gerbang.
"Naruto nii-chan?" ucap Naruko kaget.
"Hmm? ada apa dengan expresimu itu? Seperti melihat pencuri saja" Tanya Naruto heran.
"I-ie… Aku kira Naruto nii-chan sudah pergi membantu jii-san di kedai"
"Apa kamu ingin jalan-jalan sebentar?" Tanya Naruto mengabaikan ucapan Naruko barusan.
"Eh… un, baiklah" jawab Naruko lalu mengikuti kakaknya.
Naruko melirik kearah Naruto yang kelihatannya memikirkan sesuatu.
"Apa Naruto nii-chan tidak bekerja hari ini?" Tanya Naruko.
"Tidak hari ini onii-chan akan menghabiskan waktu untuk istirahat di apartemen"
"Hontouni!?"
"Hehe hontou" Ucap Naruto seraya mengacak mengacak-acak rambut Naruko gemas.
Naruko senang di perlakukan seperti ini, sudah jarang dia pulang bersama kakaknya. Dan perasaan ini, sangat dia rindukan.
"Naruto nii-chan… tadi, apa yang Naruto nii-chan bicarakan dengan Sasuke-kun?" Tanya Naruko yang masih penasaran.
Naruto melihat wajah Naruko yang sepertinya sangat penasaran tentang yang di bicarakan Sasuke dengannya tadi.
"Jangan dipikirkan, bukan masalah yang serius kok, Ehehe"
Naruko melihat senyuman kakaknya itu dapat dia katakan kalau senyuman itu sama dengan senyuman di kantin tadi siang.
"un" ucap Naruko lesu saat melihat senyuman kakaknya itu.
Naruko menundukkan kepalanya lemah. Dia benar-benar masih penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, dan jawaban Naruto barusan bukanlah jawaban yang ingin dia dengar.
Naruto tersenyum masam melihat Naruko cemberut seperti itu. Jujur dia tidak ingin melihat Naruko memasang ekpresi itu.
Tapi mau bagaimana lagi… dia tidak ingin Naruko tau akan hal yang dia bicarakan dengan Sasuke.
'Maaf ya Naruko, suatu saat nanti kamu pasti akan tau' batin Naruto sedih.
Merekapun pulang dalam hening dengan matahari sore yang menyinari perjalanan pulang mereka.
VVVVVVVVV
V…( T )…V
VVVVVVVV
V…()…V
VVVVVV
V…( B )…V
VVVVVV
V…()…V
VVVVVVVV
V…( C )…V
VVVVVVVVV
Chapter 04 end
Hikarinoyami13 logout \(^_^)/
