Bersamamu sedikit lebih lama (FIX/diperbaiki)
()
Pair : naruto x single pair (Sona,Rias,Hinata,Naruko)
()
Story cerate by : hikarinoyami13
()
NO INCEST, NO HAREM
()
Genre : romance, hurt/comfort, drama
()
Rating for story : rating M (untuk beberapa alasan)
I'm not own the character of naruto shippuden or high school dxd
I'm not own the another anime character in my story
Chapter sebelumnya
Naruko senang di perlakukan seperti ini, sudah jarang dia pulang bersama kakaknya. Dan perasaan ini, sangat dia rindukan.
"Naruto nii-chan… tadi, apa yang Naruto nii-chan bicarakan dengan Sasuke-kun?" Tanya Naruko yang masih penasaran.
Naruto melihat wajah Naruko yang sepertinya sangat penasaran tentang yang di bicarakan Sasuke dengannya tadi.
"Jangan dipikirkan, bukan masalah yang serius kok, Ehehe"
Naruko melihat senyuman kakaknya itu dapat dia katakan kalau senyuman itu sama dengan senyuman di kantin tadi siang.
"un" ucap Naruko lesu saat melihat senyuman kakaknya itu.
Naruko menundukkan kepalanya lemah. Dia benar-benar masih penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, dan jawaban Naruto barusan bukanlah jawaban yang ingin dia dengar.
Naruto tersenyum masam melihat Naruko cemberut seperti itu. Jujur dia tidak ingin melihat Naruko memasang ekpresi itu.
Tapi mau bagaimana lagi… dia tidak ingin Naruko tau akan hal yang dia bicarakan dengan Sasuke.
'Maaf ya Naruko, suatu saat nanti kamu pasti akan tau' batin Naruto sedih.
Merekapun pulang dalam hening dengan matahari sore yang menyinari perjalanan pulang mereka.
Chapter 05: ARC III (the truth is cruel)
Hari ini… akhirnya festival Kuoh gakuen di selenggarakan.
Banyak tamu-tamu yang datang, mulai dari orang tua murid, kerabat maupun teman dari sekolah lain juga ikut datang kefestival.
"GHAAAAAA!"
"KYAAAAA!"
"AH~ AH~ AAAAAAH" (ngawur#-_-)
Terdengar suara teriakkan-teriakan dari kelas 1-A dan setiap yang keluar dari kelas itu selalu dengan wajah yang pucat dan badan bergetar.
Dan lebih parahnya mereka melihat siswa di sana membawa atau bisa di bilang menyeret keluar sepasang kekasih yang kelihatannya pingsan didalam sana.
Orang yang mengantri di pintu yang satunya menjadi penasaran seperti apa hantu yang sudah di siapkan oleh kelas itu.
Bukannya takut ada dari mereka yang menjadi semangat.
Kebanyakan dari mereka yang datang adalah sepasang kekasih. Pasangan dari wanita itu mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan kekasihnya di tempat yang seperti itu.
Sedangkan di kelas sebelah juga banyak yang datang, akan tetapi kebanyakan yang datang hanya laki-laki saja yang asik berfoto-foto dengan wanita yang ada.
Sedangkan laki-laki kelas 1-B kelihatannya pundung di sudut kelas karena tidak ada yang mau berfoto dengan mereka.
Dan wanita di kelas 1-B malah menjadi kerepotan karena harus berfoto bergantian.
Di tempat tokoh utama kita berada sangat ramai di kunjungi orang-orang dewasa, remaja, siswa, maupun kakek-kakek dan nenek-nenek yang datang.
Pokoknya pagi itu sangatlah padat dengan berdatangannya orang yang datang ke sekolah mereka.
SKIP TIME
Siang harinya para pendantang mulai berkurang, dan beberapa kelas sudah menghentikan kegiatan mereka dan memilih untuk beristirahat.
Naruto yang tengah membersihkan meja terhenti karena ada suara yang memanggilnya.
"Naruto nii-chan!"
"Ah Naruko! dan… hyuuga-san" ucap Naruto kecil saat menyebut nama orang yang bersama Naruko.
Hinata memicingkan matanya kearah Naruto.
"Aku sedang tidak ingin mencari masalah Uzumaki. Jadi jangan cari gara-gara denganku…" ucap Hinata yang sudah mulai mau memanggil Naruto dengan nama marganya.
Kisah Naruko tentang Naruto kemarin benar-benar mengubah sudut pandang Hinata tentang Naruto.
"…Lagipula aku datang kesini karena Naruko-chan yang mengajakku kesini" lanjutnya
Hinata dan Naruko duduk di bangku yang baru saja sudah Naruto bersihkan.
"Baiklah… ehe-hem, selamat datang di café 1-E, kalian mau pesan apa ojou-sama?" Tanya Naruto sopan lalu menyerahkan menu pada Naruko dan hinata.
"Hehehe tidak perlu seperti itu Naruto nii-chan, aku pesan ramen" pesan Naruko tanpa melihat menu.
Naruto dan Hinata sweatdrop saat Naruko memesan ramen di café.
"N-Naruko-chan… ini café lho, bukan kedai atau tempat menjual ramen" ucap Hinata pada Naruko.
"Oh? Ahaha gomen-gomen, karena lapar aku jadi kepikiran ingin memesan ramen"
Naruko kembali melihat menunya mencari apa yang ingin dia pesan.
Hinata tertawa kecil melihat sifat Naruko.
"Aku pesan kopi saja" ucap Hinata memesan.
"Etooo~ kalau begitu aku juga pesan kopi Naruto nii-chan"
"Baiklah silahkan tunggu sebentar" Naruto menulis pesanannya lalu pergi memberitaukan pesanannya pada pekerja yang bekerja di belakang café.
Naruto pergi melayani pelayan lainnya seperti dia bekerja biasanya di café serafall.
Naruto tidak sadar kalau Naruko sedari tadi memperhatikan kakaknya itu bekerja.
"Naruto pesanan meja 5 sudah siap"
"Hai!"
Tidak lama menunggu akhirnya Naruto datang dengan membawa kopi pesanan Naruko dan Hinata.
"Maaf membuat kalian menunngu lama, ini pesanan kalian"
Naruto menyajikan pesanan Naruko dan Hinata seperti seorang yang sudah ahli.
"Kau sepertinya sudah terbiasa bekerja seperti ini Uzumaki?" ucap Hinata blak-blakan.
Keringat dingin keluar dari kepala Naruto saat mendengar ucapan Hinata barusan.
"Be-benarkah? Aku rasa itu hanya persaanmu saja Hyuuga-san" ucap Naruto mengelak.
"Hinata-chan benar Naruto nii-chan…" ucap Naruko membuat Naruto mengalihkan perhatiannya pada Naruko.
"…Naruto nii-chan sangat hebat, bekerja seperti pro… mungkin karena Naruto nii-chan sering bekerja jadi pelayan di kedai ramen" Hinata melirik Naruko saat dia mendengar ucapan Naruko memunculkan tanda Tanya di kepalanya.
'Di kedai ramen? Sebagus itukah kerjanya di kedai ramen?' pikir Hinata.
Hinata lalu mengalihkan pandangannya kearah Naruto.
"Didunia ini tidak ada yang memiliki kemampuan jika mereka tidak mengasah kemampuan mereka sendiri Uzumaki"
Hinata menyerup kopinya sejenak lalu kembali melihat kearah Naruto.
"Yah bisa jadi saja skillmu bertambah dan pelayanan di kedai ramen itu jadi bagus saat kau bekerja disana"
"…Tapi tentunya di kedai ramen pelayanan nya tidak akan sebagus seperti yang kau lakukan kepada kami. Dari caramu melayani pelanggan… cara bicaramu pada kami di awal kami datang… mereka yang sering ke café atau restoran atau ketempat makanan mahal pasti akan tau jika pekerja itu sudah ahli"
Jelas Hinata panjang lebar membuat Naruto tidak bisa mencari alasan dan masih berusaha mencari alasan yang tepat untuk menghindari ucapan Hinata.
'B-bagaimana ini? Penjelasannya terlalu rinci… sudah aku duga dari kelas 1-A memang selalu teliti mengamati sekitarnya' pikir Naruto.
"Nee Naruto nii-chan… apakah yang di katakan Hinata-chan itu benar? Kalau Naruto nii-chan bekerja di tempat lain selain di kedai teuchi jii-san?" Tanya Naruko lemah.
Naruto sekarang benar-benar sudah tidak tau apa yang harus dia katakan.
"Naruto nii-chan selalu pulang larut malam…"
Naruko menundukkan kepalanya.
"…Pasti bukan dari kedai teuchi jii-san. Iya kan? Aku selama ini selalu bersamamu… tapi kenapa Naruto nii-chan menyimpan rahasia dariku? KENAPA!?" teriak Naruko membuat orang melihat kearahnya.
"Kemarin bahkan Naruto nii-chan juga menyimpan masalah Naruto nii-chan dariku… dan sekarang! Naruto nii-chan masih menyimpan masalah lainnya dariku!?"
"N-Naruko onii-chan bisa—"
"Aku tidak butuh alasan Naruto!?" Tanya Naruko memotong ucapan Naruto.
Naruto langsung bungkam saat Naruko memanggil Naruto tanpa nii-chan pada namanya.
"Apa kau tau kalau aku selama ini selalu khawatir dengan keadaanmu!?"
Naruto benar-benar mati kata sekarang, dia tidak tau bagaimana menjelaskan pada adiknya ini.
"Aku selalu berpikir untuk membantu semua masalahmu, walau tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku selalu ingin berdiri di sampingmu dan berusaha membantumu sebisaku" mata Naruko berlinang dengan air mata yang sedari tadi dia tahan.
Tapi…" ucap Naruko menggepalkan tangannya kuat-kuat.
"…Tapi kenapa kau selalu menyembunyikan masalah itu sendiri? Apa aku tidak terlalu berguna untuk membantumu, hah!?" ucap Naruko membentak Naruto.
Naruto tentu saja terkejut dengan Naruko yang membentaknya, begitu juga Naruko terkejut dengan perbuatannya sendiri.
Naruko memejamkan matanya erat-erat lalu merenguh sakunya mengambil uang.
Naruko berdiri dari tempat duduknya dan meletakkan uang disana lalu pergi meninggalkan Naruto dan Hinata di sana.
"Tunggu Naruko" Naruto pergi mengejar Naruko, berharap jika Naruko akan mendengarkan penjelasannya.
Naruto berusaha meraih tangan Naruko, tapi saat Naruto hampir menyentuh tangan Naruko, dia menepis dengan kasar tangan Naruto.
PAK
"TINGGALKAN AKU SENDIRI" teriak Naruko.
Naruko sadar dengan perbuatannya langsung menutup mulutnya dan menggenggam tangannya yang baru saja menepis tangan Naruto dengan kasar.
Sekali lagi Naruto menjadi kaget dengan perbuatan Naruko.
Naruko lari dari sana, karena dia tidak sanggup melihat wajah terkejut kakaknya itu akan sikap nya barusan.
Ini pertamakalinya dia diperlakukan oleh Naruko seperti ini.
Membuat Naruto terdiam di tempat melihat Naruko pergi menjauh darinya.
Semua mata yang ada di sekitar sana melihat kejadian itu dan berbagai macam komentar dari mereka.
"Apa kau senang sekarang? HYUUGA-SAMA" Tanya Naruto yang bahunya bergetar menahan amarah.
Hinata diam tidak menjawab ucapan Naruto, dia memejamkan matanya lalu menyerup kopinya yang sedikit lagi habis.
"Apa dengan cara ini kau mencari masalah denganku?" Tanya Naruto lirih.
Hinata membuka matanya dan melirik kearah Naruto yang sekarang melihatnya tajam.
"Apa yang sebenarnya yang kau inginkan!" ucap Naruto dengan nada tinggi.
"Naruko kemarin menceritakan semua masalahnya padaku. Saat aku mendengar ceritanya tentangmu, kau memang seorang kakak yang hebat di mata Naruko…"
Hinata meletakkan uangnya di meja lalu berdiri di samping Naruto.
"…Tapi sekarang kau menyimpan terlalu banyak rahasia darinya dan lebih parahnya kau membuat Naruko khawatir dengan keadaanmu dan kau tidak memikirkan perasaan Naruko yang ingin membantumu… sekarang kau sudah gagal menjadi kakak yang baik untuk Naruko"
Naruto membelalakkan matanya saat mendengar kalimat terakhir dari Hinata.
"Aku? Gagal?" gumam Naruto.
Naruto menggepalkan kuat tangannya karena Hinata sudah terlalu dalam memasuki masalahnya dengan Naruko.
Hinata tidak menjawab pertanyaan Naruto barusan, dia lalu melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak ingin Naruko bersedir terus hanya karena seorang kakak yang gagal sepe—"
"Dan apa hakmu ikut campur dalam urusan kami berdua!" teriak Naruto membuat Hinata mundur beberapa langkah kebelakang.
Hinata tidak terima kalau dia dibentak lalu kembali membentak Naruto.
"Dan apa kau sadar atas perbuatanmu pada Naruko, hah!" teriak Hinata pada Naruto.
"Apa kau kira Naruko tidak tau kalau kau sering membolos dari sekolah… Apa kau tau kalau Naruko tetap diam dan menunggu untukmu menceritakan yang sebenarnya pada Naruko! Dia ingin kau jujur padanya!…"
"Tapi itu bukan alasan untuk kau ikut campur masalah ka—" ucapan Naruto langsung di potong oleh Hinata yang menarik kerah bajunya
"Dan dia menangis hanya karena dia ingin berjuang melawan masalah bersama kakaknya… DIA TIDAK INGIN KAU MENANGGUNG SEMUANYA SENDIRIAN!" teriak Hinata dengan matanya yang berair menahan tangis.
Untuk kedua kalinya Naruto membelalakkan matanya.
"Naruko… berpikir seperti itu?" Tanya Naruto lirih.
Hinata melepas genggamannya pada kerah baju Naruto,dan membuang wajahnya kesamping sambil menggenggam lengan kirinya lalu mengangguk.
"Aku tidak akan bilang ke pihak sekolah tentang kau bekerja paruh waktu. Sebaiknya kau jelaskan semuanya pada Naruko"
Ucap Hinata lalu pergi dari sana menyusul Naruko yang sudah pergi jauh.
"N-Naruto-san, Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ryou yang mendengar semua percakapan mereka.
Ah tidak bukan hanya Ryou tapi seluruh kelas 1-E mendengar percakapan mereka dan orang-orang yang lewat di sekitar café kelas 1-E.
"Maaf Ryou-chan, aku sedang tidak enak badan. Aku akan pulang duluan" ucap Naruto lemah lalu mengambil tasnya.
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara di sana. Kelas 1-E menjadi sunyi saat Naruto berjalan kebelakang mengambil tasnya.
Dan saat Naruto sudah pergi meninggalkan sekolah mereka kembali mengerjakan perkejaan mereka.
"Ada apa iin-cho?" Tanya teman satukelasnya.
"Ah tidak apa-apa kok, ayo kita kembali bekerja" ucap Ryou dan di balas anggukan dari siswi itu.
Salah satu dari pelanggan yang duduk berdua dengan temannya di meja di sudut café juga melihat kepergian Naruto.
'Naruto-kun…' batin orang itu sedih.
"Apa kau mengkhawatirkannya?" Tanya teman di sampingnya itu yang sedari tadi terfokus dengan music yang dia dengar sekarang. Dia tidak peduli dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Tapi temannya yang satu itulah yang memaksanya untuk datang kesini dan mereka berdua sudah duduk di sini lumayan lama.
"E-eh? apa maksudmu Nao-chan?" Tanya orang itu salah tingkah.
Wanita bernama Nao itu memutar bola matanya bosan.
"Tanpa kamu mengatakannya padaku aku sudah tau kalau kamu sedari tadi memperhatikan laki-laki kuning itu" ucap Nao bosan.
"Eh? benarkah?" Tanya orang itu polos.
Untuk kedua kalinya Nao memutar bola matanya bosan.
Di kelas 1-A Sona tidak sengaja melihat kejadian yang baru saja terjadi. Dia tadi sedang melihat-lihat pemandangan lewat jendela kelasnya, dan tanpa sengaja dia melihat pertengkaran Naruto dan Naruko.
Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi yang dapat dia dengar hanya teriakan Naruko saat dia bilang untuk meninggalkannya sendiri.
Sona memperbaiki letak kacamatanya, lalu berjalan pergi ke suatu tempat.
Pindah bersama Naruko yang menangis duduk bersipuh di belakang gedung sekolah.
"Naruko-chan…"
Naruko melihat kebelakang siapa yang memanggilnya
"S-Sona-chan dari mana kamu tau aku ada di sini?" Tanya Naruko yang masih menangis.
Sona tidak menjawab dia mengambil sapu tangan di saku roknya dan memberikannya pada Naruko.
"Kita sudah berteman sejak kecil… tidak mungkin aku tidak tau di mana kamu bersembunyi" ujar Sona lembut dan berjongkok sejajar dengan Naruko.
Naruko menerima sapu tangan itu dan menghapus air matanya.
"Arigato Sona-chan" ucap Naruko di sela tangisnya lalu memeluk Sona.
Sona membalas pelukan Naruko dan mengelus lembut surai pirang itu.
"Hum, doitashimashite Naruko-chan"
Tidak lama kemudian tangisan Naruko sudah reda dan Naruko mengembalikan sapu tangan Sona.
"Naruko-chan! Ternyata kamu di sini" ucap orang yang baru saja datang.
"Ah Hinata-chan, maaf sudah membuatmu khawatir"
"Ehem, maaf jika tidak sopan Naruko-chan, hyuuga-san. Tapi bisakah kalian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di taman barusan?" Tanya Sona yang sebenarnya penasaran dengan kejadian di café kelas 1-E.
Hinata menghela nafasnya lelah saat harus menjelaskan kejadian itu pada orang.
"Haaah singkatnya si baka Uzumaki itu menyimpan rahasia dari Naruko-chan dan berbohong padanya"
Sona membenarkan letak kacamatanya, penjelasan Hinata tadi benar-benar tidak rinci.
"Bisa jelaskan darimana kalian bisa membuat asumsi jika Uzumaki-san berbohong?" Tanya Sona yang masih ingin tau semuanya.
"Naruto nii-chan… dia selalu bilang kalau dia bekerja di kedai ramen teuchi jii-san. Beberapa minggu kemarin dia selalu pulang larut malam. Dan barusan kami mengetahuinya kalau Naruto nii-chan pasti bekerja di sebuah café atau restoran…"
Sona masih diam mendengar penjelasan dari Naruko yang masih belum lengkap.
"…Hinata-chan bilang dari gerak gerik Naruto nii-chan, dari cara dia Naruto nii-chan melayani pelanggan, dari cara Naruto nii-chan menyajikan pesanan dia sudah seperti orang ahli. Awalnya aku pikir kalau itu sudah biasa bagi Naruto nii-chan, tapi dengan penjelasan dari Hinata-chan semuanya sudah jelas. Kalau Naruto nii-chan pasti bekerja di suatu tempat, dia merahasiakan dan tidak memberitaukannya padaku…"
"…Selama ini aku selalu berdiri di balik bayangan Naruto nii-chan. Naruto nii-chan selalu berdiri depanku, melindungiku, dan membantuku saat aku dalam masalah…" ucap Naruko menjelaskan semuanya pada Sona.
"Bukankah itu bagus? Kenapa kamu malah men—" ucapan Sona dipotong cepat oleh Naruko.
"Tapi aku juga ingin membantunya! Aku juga ingin dia bergantung padaku, dan…"
"…Dan aku tidak ingin Naruto nii-chan menanggung semua beban itu sendiri" ucap Naruko lirih.
Sona tidak ingin berkomentar tentang hal itu, karena terkadang dia juga merasakan hal yang sama pada kakaknya Serafall itu.
Sona lalu beralih dengan menanyakan Naruko sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Apa dia tidak pernah bilang sesuatu padamu tentang pekerjaannya?" Tanya Sona.
"Dia tidak pernah bilang, tapi suatu malam saat aku menanyakan padanya kenapa dia selalu pulang larut malam, dan dia bilang kalau dia bekerja di kedai ramen teuchi jii-san"
Hinata yang sedari tadi diam lalu bertanya.
"Kamu bertanya seperti seorang detektif saja Sitri-san, apa kamu akan mencari tempat kerjanya baka Uzumaki itu?" Tanya Hinata pada Sona.
"Itu tidak perlu, karena sebenarnya Uzumaki-san bekerja di café milik kakakku" ucap Sona membuat suasana jadi hening.
"Hm? Ada apa?" Tanya Sona bingung.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku Sona-chan?" Tanya Naruko
"Awalnya aku kira dia sudah menceritakannya padamu, dan aku tidak perlu repot-repot mengulangi ucapan Uzumaki-san padamu. Maka dari itu sebelumnya aku bertanya padamu apakah Uzumaki-san ada menceritakan pekerjaannya padamu apa tidak…" ucap Sona melepaskan kacamatanya dan membersihkan debu yang menempel di sana.
"Aku tidak bertindak seperti seorang detektif Hyuuga-san. Aku tidak mungkin bertanya jika itu tidak di perlukan, kamu pasti sudah tau akan hal itukan, Naruko-chan" ucap Sona memasang kembali kacamatanya.
"Wow benar-benar ketua kelas yang penuh perhitungan" ucap Hinata saat tau sifat dari ketua kelas mereka ini.
"Baiklah sekarang kita kembali ke kelas, kalian tentunya sudah mendapatkan istirahat yang cukup. Sebentar lagi acara festival sekolah akan selesai, kita harus membereskan semua peralatan kita dan membagikan hasil dari rumah hantu buatan kita" ucap Sona lalu pergi di sana di ikuti oleh Naruko dan Hinata.
Pindah scene
Di tepi sungai kecil Naruto sedang berbaring sambil melihat langit yang sangat cerah.
"Hei apa yang kau lakukan di sini nak, bukankah sekarang belum waktunya pulang sekolah" ucap laki-laki dewasa dengan rambut coklat dan bagian depannya kuning.
Naruto tidak membalas ucapan orang itu dan tidak melihat kearah orang itu.
Dia tidak peduli dan tidak ingin tau.
Yang dia pikirkan sekarang adalah masalahnya sendiri.
Orang itu tidak ambil pusing karena dia juga tidak peduli.
Dia lalu duduk tidak jauh dari Naruto dan meletakkan alat-alatnya dan menjalankan kegiatannya.
SKIP TIME
Hari sudah sore dan Naruto masih juga membaringkan badannya memandang langit tanpa berhenti sedari siang.
Orang yang bersama Naruto itu melirik kearah Naruto.
"Hei anak muda apa kau ingin ikut memancing?" Tanya orang itu.
Naruto mengalihkan perhatiannya kearah laki-laki tua itu dan berjalan kearahnya.
Laki-laki itu menyerahkan Naruto pancing yang dia bawa lalu mengambilkan satu lagi pancing untuknya.
Naruto diam tidak berkata apapun, dia hanya duduk di sana menanti ikan menggigit umpan miliknya.
"Apa kau ada masalah?" Tanya orang itu pada Naruto.
Naruto menundukkan kepalanya saat di Tanya seperti itu. Dan itu sudah membuat laki-laki itu tau kalau Naruto sedang memiliki masalah.
"Aku tidak tau harus bagaimana sekarang, dia sudah tau kalau aku membohonginya…"
Naruto menggepal kuat tangannya pada pancing itu.
"…Dia benar-benar sudah marah padaku. Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti membenciku sekarang" ucap Naruto mengungkapkan semua yang di pikirkan olehnya.
"Kau tau anak muda, kau tidak akan tau apa yang orang kau maksud itu pikirkan tentangmu… marah, kesal, ataupun benci. Kau tidak bisa menebak apa yang mereka rasakan…"
Tali pancing Naruto tertarik sesuatu dan itu di biarkan oleh Naruto yang masih menundukkan kepalanya.
'Sial padahal aku dari tadi tidak mendapatkan satupun ikan, dan dia malah membiarkan ikan itu begitu saja' batin laki-laki itu kesal dengan ikan yang memakan umpan Naruto.
"Apa dia akan memaafkanku?" Tanya Naruto ragu.
"Entahlah, kita tidak akan tau kalau tidak menanyakannya sendir bukan… jadi kenapa tidak kau tanyakan padanya langsung"
Laki-laki itu ada benarnya juga, dia tidak akan tau hal itu jika dia tidak bertanya langsung pada Naruko.
"Jangan khawatir, aku yakin jika kau meminta maaf dengan setulus hati dia akan memaafkanmu"
Naruto mengadah melihat langit yang sudah berubah warna menjadi orange.
'Benar juga, aku harus meminta maaf pada Naruko dan menjelaskan semuanya' batin Naruto.
"Kau benar jii-san, yang harus aku lakukan sekarang adalah meminta maaf padanya dan menjelaskan semuanya" ucap Naruto lalu berdiri.
"Naruto, Uzumaki Naruto desu"
"Panggil saja aku Azazel, apa kau sudah ingin pergi? Padahal baru saja menemaniku memancing"
"Un, aku harus pergi sekarang…" Naruto mengambil tasnya berjalan pergi.
Azazel melihat kepergian Naruto, dia jadi rindu masa mudanya.
Baru saja dia ingin lanjut memangcing suara Naruto menarik kembali perhatiannya.
"Ah iya, ikannya untukmu saja" teriak Naruto dari kejauhan.
"Ikan?" Azazel mengalihkan pandangannya ketempat dimana Naruto duduk barusan.
Ember di sampingnya sudah penuh dengan ikan.
"Whoa? I-Itsunomani!(sejak kapan)" ucap Azazel tidak percaya.
Azazel kembali melihat kearah Naruto yang melambaikan tangan kearahnya.
Azazel tersenyum simpul melihat ikan di dalam ember yang dia bawa.
"Dasar, anak muda zaman sekarang"
SKIP TIME
Kita berpindah pada Naruko yang sekarang tengah duduk di dalam kamar yang cukup luas berwarna lavender membaca buku bersama Hinata.
Naruko sekarang tengah mengenakan piyama milik Hinata
Piyama abu-abu dengan sedikit hiasan bunga tulip di beberapa bagiannya.
Sedangkan Hinata mengenakan piyama kesukaannya.
Piyama berwarna lavender dan gambar bunga teratai besar di bagian kaki kiri dan beberapa bunga di bagian lehernya.
Hinata melirik kearah jam kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Apa kamu yakin ingin menginap disini Naruko-chan?"
"Ah un, malam ini aku ingin menginap di rumahmu. Itu kalau Hinata-chan tidak keberatan"
"Aku tidak keberatan sama sekali, malah aku senang karena ada teman saat tidur"
"Apa kamu sudah bilang dengan Uzumaki kalau kamu menginap di rumahku? Dia pasti khawatir" Tanya Hinata.
"Tidak usah Hinata-chan"
"T-tapi Naruko-chan, bagaimana kalau Uzumaki mencarimu kemana-mana?"
Naruko memejamkan mata dan menggeleng pelan
Hinata tidak tau harus berkata seperti apa. Apakah dia sudah terlalu ikut campur dalam urusan Naruko? Seperti itulah yang dia pikirkan sekarang.
Pindah scene
Di club malam tempat Naruto bekerja, semuanya pekerja sudah pulang kerumah mereka masing-masing.
Naruto sekarang tengah dalam perjalan dia pulang, tapi saat dia ingin menyebrang jalan dia melihat Sasuke yang juga tengah melihat kearahnya di seberang jalan.
Naruto berusaha tidak mengubris Sasuke dan berpura-pura tidak melihat.
Dia melewati Sasuke seolah Sasuke tidak ada di sana.
"Apa kau ingin membelikan itu sebagai hadiah untuknya?" Tanya Sasuke membuat langkah Naruto terhenti.
Naruto mengerti maksud Sasuke barusan, Naruto mengadahkan kepalanya melihat langit malam yang penuh dengan bintang.
"Aku tidak tau apa maksudmu" ucap Naruto tanpa melirik kebelakang.
"Jangan salah paham. Bukan berarti aku peduli denganmu, Tapi…" Sasuke melirik sejenak kearah Naruto lalu melanjutkan ucapannya.
"Dengan tubuhmu yang seperti itu… kau pikir bisa melakukannya sendiri? Aku yakin kau menghabiskan banyak obat dalam satu hari"
"Heh tidak usah pedulikan tubuhku, aku tidak apa-apa. Aku juga tidak berniat untuk mati… dokter bilang asalkan bukan pekerjaan berat aku di perbolehkan bekerja"
Sasuke berbalik memicingkan matanya pada Naruto.
"Walau semua pekerjaamu tidak terlalu berat. Tapi yang kau lakukan adalah memaksakan tubuhmu sendiri...!"
Naruto juga membalikkan badannya dan melihat Sasuke tepat di mananya.
"Aku awalnya sudah tidak merasa heran kalau kau bekerja di kedai ramen… karena sejak awal kau memang penggila ramen"
Naruto terkekeh mendengar itu, dia jadi teringat saat dia bertengkar dengan Sasuke hanya karena semangkuk ramen.
"Tapi saat aku berangkat sekolah hari pertamaku, aku melihatmu bekerja di mini market… dan pekerjaanmu yang lainnya"
Naruto tidak terlalu kaget saat Sasuke mengetahui semua ini, karena dia tau merahasiakannya dari Sasuke sia-sia saja.
'Dasar, walau sikapnya cuek tapi aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya' batin Naruto.
Naruto tersenyum saat melihat temannya ini benar-benar berbahaya.
"Seperti biasanya, aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu Sasuke. Tapi kau tau…"
Naruto mengalihkan pandangannya kembali melihat kearah langit.
Dan Sasuke juga ikut melihat kearah Naruto lihat.
"Sekarang aku benar-benar terdesak. Aku harus cepat mengumpulkan uangnya"
"Kalau begitu, biar aku bantu"
"huh!? B-be-benarkah?" Tanya Naruto tidak percaya.
"Jangan salah paham!. Aku tidak ingin melihat Naruko yang kesepian di apartemen karena kau selalu pulang larut malam"
"Tsundere"
TWICH
Muncul perempatan di kepala Sasuke saat Naruto memanggilnya tsundere.
"Mau mencari masalah? DOBE" Tanya Sasuke memicingkan matanya pada Naruto.
"Akan aku layani kau dengan senang hati, TEME" ucap Naruto juga memicingkan matanya pada Sasuke.
Sekian detik mereka saling berpandangan di tengah jalan, membuat orang yang lalu lalang di sana melihat kearah mereka.
Banyak orang mengira mereka akan bertarung dan memilih untuk menjaga jarak dari Naruto dan Sasuke.
Beberapa detik kemudian.
"pfftt ahahaha ahahaha" Naruto dan Sasuke tertawa bersama.
Orang-orang memandang heran mereka. Entah kenapa Naruto dan Sasuke tiba-tiba tertawa.
"Mohon bantuannya Uchiha Sasuke"
"Tentu saja… Namikaze Naruto"
Naruto memberikan senyuman lima jarinya
Dan Sasuke dengan senyum tipis menghiasi wajah coolnya.
'sekarang tinggal menyelesaikan masalahku dengan Naruko' batin Naruto
Pindah scene
CLEK
"tadaima" ucap Naruto yang sudah sampai di apartemen.
Tapi tidak ada jawaban dari Naruko
'Mungkin dia sudah tidur' batin Naruto lalu berjalan keruang tengah.
Naruto melihat di atas meja tidak ada makanan dan dia melihat keatas kulkas juga tidak ada makanan.
"Apa Naruko tidak masak malam ini? Atau dia tidak memasakkan bagianku karena masih marah ya?"
Naruto mengambil sesuatu di balik tv apartemen mereka.
Dia mengambil plastic di balik tv itu dan membukanya.
"Obatnya tinggal sedikit, aku rasa ini akan cukup untuk satu minggu… tidak kalau aku hemat mungkin akan cukup untuk dua minngu" ucap Naruto pada dirinya sendir dan membuka satu obat dan meminumnya.
Naruto meletakkan obat itu kembali di belakang tv mereka dan berjalan ke kamar.
Alangkah terkejutnya dia saat melihat tidak ada Naruko di sana
"Naruko!?"
Naruto berlari keluar mencari Naruko, di sela berlarinya dia berusaha menghubungi Naruko.
Di kediaman keluarga hyuuga, lebih tepatnya di kamar Hinata.
Naruko dan Hinata sekarang tengah membaca majalah setelah mereka belajar bersama.
Ponsel Naruko bergetar membuat Naruko dan Hinata mengalihkan panadangan mereka pada ponsel Naruko di atas meja.
Naruko membuka ponselnya dan melihat siapa yang menelpon setelah itu dia matikan ponselnya.
"Siapa Naruko-chan?" Tanya Hinata.
"Ah tidak hanya nomor yang tidak dikenal" ucap Naruko berbohong pada Hinata.
"Apa tidak apa-apa? Siapa tau saja itu penting"
"Tidak apa-apa Hinata-chan" Naruko melihat kearah jam sudah menunjukan pukul dua belas malam.
Hinata juga ikut melihat jam sudah larut malam.
"Hooaam~ ayo kita tidur Naruko-chan, karena besok libur jadi tidak perlu memikirkan untuk bangun pagi" ucap Hinata.
Naruko mengangguk lalu ikut tidur di sebelah Hinata.
'Apa aku berlebihan ya?' pikir Naruko.
'Tidak… aku rasa itu sudah cukup untuk membuatnya sadar bagaimana rasa khawatirku selama ini padanya yang selalu pulang larut malam'
Batin Naruko lalu pergi menuju barusaha untuk tidur.
Beberapa menit telah berlalu Naruko masih juga belum tidur sama sekali.
Dia benar-benar tidak bisa tidur, merasa bersalah dengan narutuo karena dia mengabaikan telpon darinya.
Tapi di sisi lain dia juga kesal dengan Naruto karena tidak mau menceritakan soal pekerjaan itu padanya, dan juga Naruko merasa kalau masih banyak lagi hal-hal lainnya yang Naruto sembunyikan dari dirinya.
Naruko meraih ponselnya dan menghidupkannya kembali.
Saat dia menghidupkan ponselnya di sana sudah ada banyak pesan yang masuk dari Naruto.
Naruko menekan tombol-tombol ponselnya lalu setelah itu semua pesan itu terhapus tanpa dia baca satupun.
SKIP TIME
Pagi hari yang cerah, cahaya matahari menembus kaca ruangan dan menyinari wajah tokoh utama kita yang terbaring di dalam ruangan berbau serba obat.
"Uuummmhh~ Di-dimana ini?" Tanya pemuda berambut pirang yang tengah terbaring di atas kasur di dalam ruangan serba putih berbauh obat-obatan.
"Are? Kenapa aku bisa ada disini?" pemuda itu tampak kebingungan dengan wajahnya yang babak belur.
Dia berusaha untuk duduk tapi entah mengapa tubuhnya sekarang sangat lemah.
CLEK
"Ah kamu sudah sadar rupanya Uzumaki-kun" ucap suster berambut ungu panjang dengan matanya berwarna biru sebiru laut yang cerah.
"Oh Chisaki-san hisashiburi, di mana Tsumugu-san?"
suster bernama Chisaki itu membawakan sarapan pagi untuk Naruto dan meletakkan sarapannya di atas meja di samping kasur Naruto.
"Apanya Hisashiburi, baka! Kamu hampir setiap minggunya datang kemari membeli obat"
Naruto membuang wajahnya sambil bersiul-siul seolah tidak mengerti maksud dari Chisaki.
"Tsumugu-kun sekarang sedang memeriksa pasien lainnya" lanjut Chisaki dan di balas "oh" saja dari Naruto.
"Nee, Chisaki-san… siapa yang membawaku kesini?" Tanya Naruto pada Chisaki yang baru saja duduk di kursi di sampingnya.
Chisaki membuat gaya berpikir mencoba mengingat-ingat rupa orang itu.
"Um~ kalau kamu tanya denganku aku juga tidak tau Uzumaki-kun, nanti Tanya saja dengan Tsumugu-kun"
"Nah sekarang Uzumaki-kun, waktunya sarapan" ucap Chisaki lalu membantu Naruto untuk duduk.
Seletah duduk dengan benar Naruto melihat kearah makanan yang di bawa oleh Chisaki. Dia benar-benar tidak suka makanan rumah sakit, tidak enak sama sekali.
"A-ano bisakah di ganti dengan ramen?" Tanya Naruto.
Chisaki mengabaikan ucapan Naruto dan menyuapi Naruto makan.
Baru beberapa suapan Naruto sudah merasa mual.
"Chisaki-san, aku rasa aku tidak sangguHMMPPPHH"
Ucapan Naruto tidak dapat di selesaikan karena Chisaki menyuapi Naruto dengan paksa.
"HA-RUS HA-BIS Uzumaki-kun~" ucap Chisaki dengan senyum yang menawan.
Naruto sweatdrop melihat senyuman itu, dia benar-benar tidak berani berkata apa-apa lagi sekarang dan menerima makanan yang sehat dan bermanfaat ini. Dia mengunyah makanan itu dengan air mata anime yang mengalir keluar.
'Apa dia benar-benar seorang suster?' batin Naruto horror.
Beberapa menit kemudian Naruto berhasil menghabiskan makanannya itu.
"Baguslah kamu sudah menghabiskannya Uzumaki-kun" ucap Chisaki senang.
Sedangkan Naruto? Wajah Naruto sudah menghijau menahan mual di perutnya sedari tadi (dahnasib#-_-)
CLEK
"Kau sudah bangun rupanya dobe" ucap orang yang membuka pintu.
Naruto melihat kearah pintu, di sana sudah ada seorang dokter, Sasuke dan seorang lagi laki-laki dewasa yang wajahnya mirip dengan Sasuke.
"Teme? Dari mana kau tau aku disini?" Tanya Naruto kaget.
"hn, karena nii-sanlah yang membawa kau kesini" ucap Sasuke lalu masuk bersama kedua orang di belakangnya.
"Ah arigato gozaimashita Itachi nii-san, karena sudah menyelamatkanku" ucap Naruto sedikit membungkukkan badannya.
Itachi menggaruk belakang kepalanya dan tertawa kecil.
"Ahaha tidak usah dipikirkan, sebenarnya aku hanya kebetulan menemukanmu basah kuyup, terluka dan babak belur di bawah lampu jalan saat aku dalam perjalanan pulang, saat itu aku juga baru pulang dari kerja lemburku. Dan aku langsung membawamu kesini…"
Itachi menggantung kalimatnya lalu memandang Naruto dengan serius.
"Sebenarnya apa yang terjadi Naruto? Siapa yang melakukan semua itu padamu?" Tanya Itachi beruntun.
Flashback and Naruto POV ON
aku sudah mencari Naruko kemana-mana tapi tidak juga aku temukan.
'Apa aku harus melapor kepolisi?' pikirku lalu membuka ponsel mencoba menghubungi Naruko lagi, tapi hasilnya masih saja sama.
Aku menutup ponselku dan melihat sekeliling.
"Ponselnya masih di mati, kira-kira dia pergi kemana ya?"
'Ah iya aku belum memeriksa ditaman' batinku lalu aku berlari ke taman.
Beberapa menit kemudian aku sudah sampai di depan pagar taman di sana.
Tapi saat aku ingin masuk langkahku terhenti saat mendengar suara pukulan dan teriakan kesakitan dari dalam taman yang sepi itu.
Aku bersembunyi di belakang pohon dan mengintip untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Dari tempatku tidak terlalu jelas wajah-wajah mereka, dan aku maju dan bersembunyi di balik kursi taman di dekat sana.
Mataku seketika membulat saat melihat apa yang sedang terjadi.
Di sana banyak orang yang terbaring tidak berdaya dengan luka sayatan di beberapa tubuh mereka.
Aku masih mengamati keadaan di sana, tampaknya ada satu dari mereka yang berusaha lari meninggalkan taman itu.
Tapi orang yang ingin kabur itu di kepung oleh enam orang dan kepalanya di cengkam oleh laki-laki berbadan besar.
"AAAGGGHHH aku mohon ampuni aku" ucap orang itu yang kesakitan.
"Apa kau tau apa itu sakit?" ucap laki-laki yang berdiri di tengah-tengah enam orang itu.
Laki-laki itu memukul dan menendang perut orang yang kepalanya masih di cekam itu dengan keras.
Teriakan keras terdengar menjadi nada horror di taman itu. Dan akhirnya laki-laki itu tidak berteriak lagi.
"Apa ini? Sudah menyerah? Membosankan" ucap laki-laki berbadan besar yang mencekam kepala lawannya itu, dan membuangnya kesamping dan tubuh itu jatuh tepat di bawah lampu taman itu.
Aku melihat orang yang tidak sadarkan diri itu mengeluarkan banyak darah dari mulut, hidung, dan keningnya.
TIK TIK TIK DRAAASSSS
Hujan turun dengan derasnya malam ini, membuat darah di tubuh orang itu menyatu dengan air.
"Aku rasa bersenang-senangnya cukup untuk hari ini" ucap orang yang ditengah lalu berjalan menuju pintu keluar taman ini yang dekat jaraknya denganku.
Saat aku mendengar mereka ingin pergi aku mengganti tempat bersembunyiku di balik semak-semak agar tidak kelihatan.
Tapi tidak sengaja kakiku terkilir dan membuatku terjatuh di semak-semak itu dengan kasar sehingga membuat suara yang menarik perhatian mereka.
"SIAPA ITU!"
Aku tidak bersuara dan bergerak agar membuat mereka lebih curiga lagi.
"Sudahlah itu mungkin kucing liar yang kehujanan, ayo cepat pulang aku sudah kedinginan" ucap wanita yang ada di sana.
Tapi di abaikan oleh salah satu dari mereka dan berjalan kearahku.
Aku mengintip dari sela-sela semak itu untuk melihat wajah orang itu.
Mataku membulat saat melihat wajah dari orang yang berjalan kearahku itu.
'Sial mereka adalah geng yang waktu itu menghajarku' batinku ketakutan.
"Jikapun kucing mereka tidak mungkin bersemunyi di balik semak yang tidak bisa melindungi mereka dari hujan" ucap laki-laki yang berjalan kearahku.
'Bagaimana ini? Aku harus lari dari sini'
Tapi entah kenapa kakiku bergetar dan sulit untuk di gerakkan.
'KUSO! Kenapa jadi begini, ayo bergerak' batinku.
Aku menggigit bibirku hingga berdarah.
Saat kakiku berhenti bergetar aku langsung saja lari dari sana.
"HEI dia yang waktu itu memukul barang berhargaku!" ucap laki-laki tinggi berambut panjang.
"Kejar dia!" teriak laki-laki gendut pendek dan botak berlari mengejarku bersama dengan teman-temannya yang lain.
Aku berlari secepat yang aku bisa, tapi tetap saja mereka masih bisa mengejarku.
DEG DEG
Kesekian kalinya mataku membulat saat merasakan sakit dalam tubuhku.
"Ugh… sial! Kanapa di saat seperti ini"
Aku melihat sekeliling mencoba mencari tempat bersembunyi, tapi percuma karena jarak mereka sudah mulai dekat denganku.
'Laki-laki gendut dan pendek itu sudah sangat dekat denganku' batinku melirik kebelakang.
Aku berhenti tiba-tiba dan melancarkan serangan kejutan kewajah musuh di belakangku.
Dan itu sukses mengenai telak wajah gendutnya itu, dan kembali berlari.
Aku kira mereka akan berhenti dan membantu teman mereka yang aku pukul, tapi perkiraanku salah.
Laki-laki berbadan besar itu masih berlari mengejarku dan berhasil melewatiku.
Aku menghentikan langkahku karena sudah di kepung oleh laki-laki berbadan besar di depanku ini.
"Hehehe kali ini aku akan bersenang-senang denganmu. Terakhir kali aku tidak mendapat jatah untuk melawanmu" ucap orang itu.
'Di-dia seorang maniak bertarung!' batinku ketakutan.
Tanpa aku sadari aku mengambil beberapa langkah kebelakang.
Aku melihat kebelakang mereka sudah mengempungku.
"Boss kali ini biar aku yang bersenang-senang" ucapnya.
Aku mengalihkan perhatianku kearah ketua mereka yang mengangguk.
"Ajarkan dia apa itu rasa sakit yang sebenarnya, shurado"
Aku kembali mengalihkan pandanganku kearah laki-laki didepanku yang sekarang tengah tersenyum maniak.
Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tenang.
'Ini kesempatan, jika aku mengalahkan laki-laki besar ini maka jalan keluarku akan terbuka lebar'
Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya dan membuka mataku menatap tajam laki-laki besar di depanku ini.
"MAJU!" teriakku dan memasang kuda-kuda bertarung.
Shurado berlari kearahku dan melancarkan tinju dan tendangnya padaku.
'Ugh tenaganya besar sekali' batinku kesakitan saat menahan pukulan dan tendangan dari shurado.
"Ayo bocah, apa kau hanya bisa menangkis saja?" ejek shurado.
Saat aku menemukan kesempatan aku melancarkan tendangan kepinggang shurado.
Tapi itu salah satu pilihan yang salah karena saat kakiku mengenai pinggangnya dia langsung mengapit kakiku dengan tangannya.
"Aaggghhh" rintihku saat dia langsung mencekikku dan mengangka tubuhku keatas.
"Apa hanya ini kemampuanmu bocah? Padahal aku berharap kau bisa menghiburku" ucapnya.
Aku berusaha melepaskan cengkamannya tapi sia-sia saja karena cengkamannya terlalu kuat.
Aku melancarkan tendangan kearah kepalanya tapi dapat dia tangkis dengan mudah.
"Kau benar-benar membuatku kesal"
Dia berputar kencang lalu melemparku dengan kuat kebelakang dan membuatku berguling beberapa kali di atas jalan yang keras itu.
Aku berdiri dengan kaki yang bergetar dan menatap tajam kearah mereka.
"Ohoek!"
Aku jatuh berlutut saat banyak darah segar keluar dari mulutku.
Kakiku bergetar tidak sanggup lagi untuk berdiri.
"Grrrhhh Kau!"
Aku melihat kearah mereka, laki-laki gendut yang tadi aku pukul berjalan kearahku dengan expresi yang sangat marah dan laki-laki yang 'harta karun'nya yang sudah aku pukul kemarin juga ikut berjalan kearahku.
"Aku akan memberimu pelajaran" ucapnya lalu menendang perutku.
"GHAAKK" darah lagi-lagi keluar dari mulutku saat tendangan keras itu mendarat dengan mulut di perutku.
Dia menarik kerahku lalu memukul wajahku berkali-kali.
Mereka memukulku berkali-kali, bahkan aku tidak ingat lagi sudah berapa kali aku di tendang dan di pukuli oleh mereka.
Kesadaranku perlahan menghilang, dan hal terakhir yang aku lihat adalah cahaya lampu jalan dan setelah itu aku tidak sadarkan diri.
Flashback and Naruto POV OFF
"Hanya itu yang aku ingat" ucap Naruto.
"Hn, jadi intinya mereka ingin balas dendam dan kau di kejar oleh mereka?" Tanya Tsumugu yang sedari tadi diam mengeluarkan pendapatnya.
"un, begitulah yang sebenarnya terjadi… aku berusaha melarikan diri dari mereka, tapi aku di kepung dan akhirnya aku di hajar dan pingsan di sana"
Setelah mendengar penjelasan dari Naruto Sasuke berjalan kearah pintu.
"Kau mau kemana Sasuke?" Tanya Itachi.
Sasuke menghentikan langkahnya dan melirik kebelakang.
"Aku akan mencari Naruko dan memberitaukan keadaan Naruto sekarang" ucap Sasuke.
"Aku mohon jangan Sasuke"
Sasuke yang mendengar ucapan Naruto barusan langsung membalikkan badannya.
"Kenapa Naruto? Bisa kau berikan alasanmu untuk menghentikanku?" Tanya Sasuke.
Naruto menundukkan kepalanya dan mencengkam selimut pasien yang dia kenakan sekarang.
"Aku… aku tidak ingin Naruko khawatir dengan keadaanku. Aku tidak ingin dia memasang wajah sedih itu lagi di depanku!"
Semua yang ada diruangan itu terdiam mendengar ucapan Naruto barusan.
Sasuke membalikkan badannya dan pergi entah kemana tanpa berkata apa-apa.
"Kalau begitu aku permisi pergi dulu Naruto, masih ada pekerjaan menungguku" ucap Itachi berjalan keluar.
"Un, arigato sudah menjengukku Itachi nii-san" ucap Naruto.
Itachi hanya melihat kebelakang dan memberikan senyumannya pada Naruto.
"Naruto… apa mereka tau dengan keadaanmu yang sebenarnya?" Tanya Tsumugu yang berdiri di samping Chisaki.
"Tidak, Itachi nii-san tidak tau apa-apa tentang keadaanku yang sebenarnya. Hanya Sasuke saja…" ucap Naruto.
"… Ano, apa aku boleh pulang? Aku tidak ingin berlama-lama di rumah sakit"
Tsumugu menghela nafasnya, lalu mengangguk.
"Tapi jangan memaksakan tubuhmu lagi Naruto-san" ucap Chisaki.
"Un, wakarimashita. Ah dan juga aku minta tolong sesuatu Chisaki-san" ucap Naruto membuat Chisaki menaikkan sebelah alisnya.
Pindah scene
Di ruang makan keluarga Hyuuga. Naruko dan Hinata sekarang tengah duduk sambil menyantap sarapan pagi yang sudah di siapkan.
Naruko sudah selesai dengan acara makannya dan melihat sekeliling.
"Nee, Hinata-chan. Apa keluargamu tidak ikut makan?" Tanya Naruko.
Hinata meletakkan sendok dan garpunya di atas meja lalu membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Ayahku sedang ada urusan di konoha, dia bilang salah satu perusahaan di sana sedang bersamalah… dan adikku, dia sekolah di konoha junior high school…" jawab Hinata.
"…Bagaimana denganmu Naruko-chan? Aku sangat penasaran dengan keluargamu" Tanya Hinata balik.
Naruko menundukkan kepala saat di Tanya tentang keluarganya.
"Sebenarnya aku kabur dari rumah…" ucap Naruko lirih, tapi masih dapat di dengar oleh Hinata.
"A-ah gomen Naruko-chan, aku tidak bermaksud untuk…"
Naruko menggeleng cepat dan memotong ucapan Hinata.
"Ah tidak apa-apa kok Hinata-chan, kamu tidak perlu minta maaf…"
Hinata jadi merasa tidak enak pada Naruko karena mengungkit masa lalunya lalu dia menyuruh pelayan membereskan meja.
SKIP TIME
Naruko dan Hinata sekarang tengah berdiri di depan pagar kediaman Hyuuga.
"Maaf sudah merepotkan Hinata-chan, kalau begitu aku pamit pulang dulu" ucap Naruko dan membungkukkan badannya.
"Tidak usah dipikirkan. Aku senang kalau ada teman datang kerumah, kamu tau aku sangat kesepian di rumah. Jadi aku senang sekali kamu menginap disini"
"Yokatta. Jaa mata ashitane Hinata-chan"
"Un, Mata ashita"
Pindah scene
Naruko baru saja sampai di apartemen mereka, dia berhenti di depan pintu dan memegang kenop pintu.
'Dia pasti tidak ada di dalam' batin Naruko.
lalu masuk tanpa mengucapkan 'tadaima' dan berjalan keruang tengah.
Dia berhenti saat melihat Naruto tengah duduk di ruang tengah dengan sarapan pagi yang masih utuh dan belum di sentuh di atas meja.
"Naruto nii-chan?" ucap Naruko lirih.
Naruto mendengar suara Naruko langsung saja melihat kebelakang.
"Ha? Naruko, kamu dari mana saja? semalam aku mencarimu kemana-mana, kenapa ponselmu tidak aktif? Kemana kamu pergi semalam?" Tanya Naruto bertubi-tubi.
Naruko melihat kakaknya khawatir padanya merasa senang, sudah lama dia tidak melihat kakaknya sepanik ini sebelumnya.
Naruko melihat kearah sarapan yang ada di atas meja. Di sana ada ramen kesukaan Naruko, sayang sekali ya? Padahal dia baru saja sudah makan di rumah Hinata tadi.
Perhatian Naruko sekarang terfokus kewajah Naruto yang menurutnya ada yang aneh.
"Naruto nii-chan… apa yang di wajahmu itu?" Tanya Naruko menunjuk ke arah pipi kanan Naruto.
"A-apa maksudmu Naruko? Tidak ada apa-apa di wajah onii-chan" ucap Naruto gugup.
Naruko menyentuh pipi kanan Naruto tiba-tiba.
"Naruto nii-chan? Kenapa kamu pakai bedak setebal ini?" Tanya Naruko melihat bekas bedak di tangannya saat menyentuh pipi Naruto.
"Eh? bedak apa? Onii-chan tidak mungkin pakai bedak bukan? Aha-ahaha " ucap Naruto mencoba mengelak.
Naruko melihat kearah Naruto yang sekarang tengah menutup pipi kanan dengan tangannya.
Membuat kecurigaan Naruko bertambah.
"… ah ya ayo kita makan onii-chan sudah membu—" ucapan Naruto terputus karena Naruko tiba-tiba menarik tangan Naruto dengan cepat agar dia bisa melihat apa yang ada di pipi Naruto.
Saat tangan Naruto terlepas Naruko langsung menghapus pipi kanan Naruto dengan kasar, dan Naruto meringis kesakitan karena di perlakukan seperti itu.
"Itte"
"Ke-kenapa pipimu lembam seperti ini?… apa terjadi sesuatu?" Tanya Naruko khawatir saat melihat pipi Naruto yang lembam bekas pukulan yang Naruto tutupi memakai bedak entah milik siapa.
"I-ini bukan masalah besar Naruko, tenang saja. onii-chan tidak apa-apa kok"
Naruko menjadi diam saat Naruto tidak ingin menceritakan apa yang terjadi kepadanya.
'percuma saja kalau aku bertanya tentang bekas lembam itu pada Naruto nii-chan… dia pasti tidak akan menjawabnya dengan jujur' batin Naruko sedih.
Naruko menundukkan kepalanya lalu berjalan kekamar tanpa mengatakan apapun.
"N-Naruko onii-chan membuat ramen special untuk kita, ayo kita makan dulu" ucap Naruto memegang bahu Naruko sebelum dia masuk kekamar.
"Aku tidak lapar" ucap Naruko
"Eh? ta-tapi ini ramen kesukaanmu"
Naruko tentu saja ingin memakan ramen itu, tapi dia sudah makan di rumah Hinata. Dan juga karena sekarang moodnya tiba-tiba jadi buruk, membuat dia tidak selera makan sedikitpun.
Naruko tidak membalas ucapan Naruto dan masuk kekamar lalu menutup pintunya meninggalkan Naruto yang masih berdiri di sana.
Cukup lama Naruto termenung di sana, dan akhirnya dia memutuskan untuk duduk dan menghabiskan sarapan pagi yang sudah dia siapkan sendiri dengan wajah murung.
SKIP TIME
Tidak terasa sudah dua minggu terlewatkan Naruko masih menjauhi Naruto. Naruto selalu berusaha untuk berbicara dengan Naruko.
Tapi Naruko selalu membuat alasan dan lari darinya membuat Naruto tidak bisa meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Naruko.
Saat sarapanpun Naruto selalu di tinggal oleh Naruko yang sudah berangkat duluan darinya.
Jam istirahat di atap sekolah Naruto tengah melihat langit yang cerah seorang diri.
Naruto memejamkan mata saat Angin lembut berhembus melewati tubuhnya.
CLEK
"Rupa kamu di sini n-Naruto-san"
"Ada apa Ryou-chan?" Tanya Naruto yang masih memejamkan matanya.
Bicara tentang Ryou, Naruto sudah menjadi sahabat dengan Ryou. Selama dua minggu ini Naruto tidak bisa menemui Naruko dan itu membuat Naruto merasa kesepian di sekolah. Tapi Ryou datang dan mengajak Naruto berbicara dan bermain bersamanya.
Berita lainnya dalam dua minggu Sasuke sudah banyak membantunya mengumpulkan uang untuknya membayar rumah yang dia ingin beli dan semuanya berjalan sesuai jadwal yang sudah di tentukan.
"A-ah tidak ada apa-apa Naruto-san…" Ryou duduk di samping Naruto.
"… Ayo kita makan siang bersama Naruto-san, hari ini aku bawa bekal cukup banyak lho" ujar Ryou membuat Naruto membuka matanya dan duduk dengan sigap.
Ryou terkekeh melihat sikap Naruto yang selalu membuatnya tidak berhenti tertawa.
Tapi entah kenapa beberapa hari ini dia sering sekali melihat Naruto yang sering murung.
Ryou membuka kotak bekalnya dan membagikan untuk Naruto sebagian dari bekal makanannya.
"Ano… Naruto-san, akhir-akhir ini kamu kelihatannya sering melamun. Apa kamu ada masalah?" Tanya Ryou.
Naruto jadi diam saat di tanya tentang itu.
Dia mengangguk lemah dan mulai makan duluan.
"K-kalau Naruto-san mau, kamu bisa cerita padaku. Siapa tau aku bisa membantumu" tawar Ryou.
Naruto menghentikan acara makannya.
"Un… Arigato ne Ryou-chan" Naruto memejamkan matanya seraya tersenyum.
"Sebenarnya—"
KKKRRUUUUUUKKKKK
Wajah Ryou dan Naruto face palm saat mendengar suara aneh yang berasal dari perut Naruto yang cukup keras.
"Eheheh gomen ne. Nanti setelah kita selesai makan akan aku ceritakan" ucap Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya.
Ryou benar-benar senang bila di dekat Naruto yang selalu bisa membuatnya tertawa.
"Pfftt… Mou~ Naruto-san. Hai hai! Ayo kita makan, perutmu pasti sudah tidak tahan lagi" ucap Ryou bercanda lalu mulai makan bersama Naruto.
SKIP TIME
"Ah~ arigato atas makanannya Ryou-chan" ucap Naruto.
"Un, doitashimashite Naruto-san" balas Ryou yang baru saja sudah membereskan kotak bekalnya.
Suasana menjadi hening sejenak sebelum Naruto akhirnya berbicara.
"Kalian pasti sudah taukan kejadian festival sekolah kemarin di café yang kita buat?… saat aku bertengkar dengan Naruko…"
Ryou mengangguk pelan. Tentu dia tau, karena kejadian itu berada di café milik mereka. Jujur Ryou juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
"…Aku membuat Naruko marah denganku, karena aku merahasiakan sesuatu darinya selama ini… Aku awalnya bekerja paruh waktu di kedai ramen. Tapi karena aku butuh uang banyak aku mencari kerja di tempat-tempat lainnya dan tidak memberitau Naruko soal itu. Aku juga merahasiakan hal itu bukan karena aku sengaja…"
Naruto membaringkan badannya dan melipat tangannya di belakang kepalanya.
"Jadi kenapa Naruto-san tidak memberitau Naruko-chan soal itu?" Tanya Ryou penasaran.
Naruto melirik kearah Ryou yang melihat kearahnya, tanpa Naruto sengaja dia melihat pintu menuju atap di belakang Ryou itu terbuka.
'Siapa itu?' batin Naruto saat melihat ada bayangan orang di balik pintu itu. Naruto lalu memejamkan matanya.
"Aku hanya tidak mau dia khawatir dengan keadaanku saja, dan…"
"…Sampai kapan kamu yang di balik pintu itu akan mengintip!?" ucap Naruto keras.
"Hmm? siapa Naruto-san?" Tanya Ryou lalu melihat kearah pintu yang sedikit terbuka.
Naruto dan Ryou dapat mendengar suara orang itu berlari menurun dari tangga.
BRAK!
"Itte!"
Naruto berlari menuju orang itu untuk melihat keadaannya.
"Daijobu… ka?" ucap Naruto agak terkejut saat dia Naruto baru saja ingin menuruni tanggan dia berhenti saat melihat siapa yang mengintipnya dan Ryou.
"Kamu…" ucap Naruto lirih.
Orang itu berdiri dan merapikan pakaiiannya.
"…Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Naruto pada orang itu.
Chapter 5 end
jangan lupa review, fav, dan follow. ;)
Semoga hari-hari kalian berjalan lancar.
HAVE A GOOD DAY
Hikarinoyami logout
