Bersamamu sedikit lebih lama

()

Pair : naruto x single pair (Sona,Rias,Hinata,Naruko)

()

Story cerate by : hikarinoyami13

()

NO INCEST, NO HAREM

()

Genre : romance, hurt/comfort, drama

()

Rating for story : rating M (untuk beberapa alasan)

I'm not own the character of naruto shippuden or high school dxd

I'm not own the another anime character in my story

Chapter sebelumnya

Naruto membaringkan badannya dan melipat tangannya di belakang kepalanya.

"Jadi kenapa Naruto-san tidak memberitau Naruko-chan soal itu?" Tanya Ryou penasaran.

Naruto melirik kearah Ryou yang melihat kearahnya, tanpa Naruto sengaja dia melihat pintu menuju atap di belakang Ryou itu terbuka.

'Siapa itu?' batin Naruto saat melihat ada bayangan orang di balik pintu itu. Naruto lalu memejamkan matanya.

"Aku hanya tidak mau dia khawatir dengan keadaanku saja, dan…"

"…Sampai kapan kamu yang di balik pintu itu akan mengintip!?" ucap Naruto keras.

"Hmm? siapa Naruto-san?" Tanya Ryou lalu melihat kearah pintu yang sedikit terbuka.

Naruto dan Ryou dapat mendengar suara orang itu berlari menurun dari tangga.

BRAK!

"Itte!"

Naruto berlari menuju orang itu untuk melihat keadaannya.

"Daijobu… ka?" ucap Naruto agak terkejut saat dia Naruto baru saja ingin menuruni tanggan dia berhenti saat melihat siapa yang mengintipnya dan Ryou.

"Kamu…" ucap Naruto lirih.

Orang itu berdiri dan merapikan pakaiiannya.

"…Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Naruto pada orang itu.

Chapter 6

Naruto melihat orang itu dengan pandangan datar. Masa lalu Naruto dengan orang itu berputar kembali di kepala Naruto sesudah sekian lamanya. Dan memori itu membuat Naruto benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Naruto awalnya berniat pergi dari sana mengurungkan niatnya saat mata Naruto melihat kalau kakinya membengkak karena terkilir.

'Aku tidak mungkin meningalkannya di sini sendirian dengan keadaan seperti itu' batin Naruto lalu menghela nafas malas.

Naruto berjalan mendekati orang itu dan memeriksa kakinya.

"I-itte!" ringis orang itu saat Naruto mengobat kakinya yang terkilir.

"Tahanlah sedikit, mendokuse…" ucap Naruto malas.

Orang itu memandang Naruto yang tengah mencoba mengobati kakinya.

Dia jadi ingat masa lalunya bersama Naruto. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, dia tidak bisa membalikkan waktu seperti dulu lagi.

"Ada apa Naruto…-san" Ryou datang dengan kotak bekal di tangannya dan melihat Naruto sedang bersama seseorang.

"K-kaichou! Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Ryou khawatir dan berlari kecil mendekatinya.

Ya yang jatuh dari tangga adalah kaichou Kuoh senior high school.

Wanita cantik dengan rambut kuning cerah dengan mata biru lautannya yang menenangkan ternyata mengintip kegiatan Naruto dan Ryou.

"Un tidak apa-apa, hanya terkilir saja" ucapnya lalu melihat Naruto dan Ryou secara bergantian.

"Ada apa kaichou?" Tanya Ryou.

"Ah ie, apa kalian berdua berpa—ITTE!" Kaichou tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat Naruto memijit kakinya yang terkilir dengan kuat.

"Pelan-pelan saja baka! Sakit tau!" ucap kaichou marah.

"Ah maaf kaichou tanganku bergerak dengan sendirinya" ucap Naruto merasa tidak bersalah.

Ryou dan kaichou sweatdrop saat Naruto berkata seperti itu.

'Memangnya tangan bisa bergerak sendiri ya?' batin Ryou dan kaichou

"Bagaimana?" Tanya Naruto membuat sang kaichou memangdang Naruto bingung.

"Apanya?" Tanya kaichou balik.

"Kakimu, apa masih bisa berjalan?"

Kaichou melihat kearah kakinya dan menggerak-gerakkan kakinya untuk memastikan masih sakit atau tidak.

Sebenarnya kaki Kaicho sekarang tidak terlalu sakit lagi saat sebelum di obati oleh Naruto. Namun dia ingin berbicara dengan Naruto, tapi dia tidak bisa karena ada Ryou disana. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Naruto yang bisa tergolong sudah hancur.

Dia mengerti, bahwa Naruto sekarang tidak mau melihat dirinya. Tapi tetap saja dia harus memperbaiki hubungan mereka berdua, dia tidak ingin ada penyesalan lagi didalam hidupnya.

TING!

Seketika muncul lampu pijar di atas kepala kaichou saat mendapat cara untuk dapat berbicara dengan Naruto empat mata.

"Ah sepertinya sudah mendingan, arigato" ujarnya memandang tepat di mata Naruto. Namun Naruto membuang wajahnya seraya berkata "Baguslah". Kaicho melihat perilaku Naruto tentu saja hanya tersenyum gentir, Naruto benar-benar tidak ingin melihatnya. Bahkan saat acara penyambutan murid baru dia duduk di dekat dengannya.

Ryou tentu saja tidak bodoh untuk tidak menyadari perilaku Naruto kepada kaicho, dia hanya menyimak dan memilih diam memperhatikan Naruto dan kaicho.

"Kalau begitu aku kembali kekelas dulu, sampai ketemu nanti Fujibayashi-san, Naruto-kun"

"Naruto…-kun?" gumam Ryou saat mendengar kaichou memanggil Naruto seperti itu.

Saat kaichou berjalan beberapa langkah dia terjatuh lagi karena kakinya masih merasa sakit(mungkin).

"Itte!"

"K-kaichou, daijobu desu ka?(apa kamu tidak apa-apa?)" tanya Ryou khawatir.

"Un, daijobu… aku masih bisa berjalan, tidak usah khawatir" balas kaichou.

Ryou lalu melihat kearah Naruto berharap kalau Naruto akan membantu membawa kaicho ke UKS, tapi tidak sesuai perkiraannya Naruto hanya memandang kejadian itu biasa-biasa saja.

"Hmm? ada apa Ryou-chan?" Tanya Naruto pura-pura tidak tau.

"Mou~ Naruto-san cepat bantu kaichou"

"Heee~ kenapa harus aku?" ucap Naruto malas.

"Karena kamu laki-laki Naruto-san…"

Naruto membuang wajahnya malas, dia benar-benar tidak ingin berurusan dengan kaichou. Kalau bisa dia ingin pergi dari sana sekarang, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Ryou di sini sendirian setelah memakan bekal buatan Ryou.

"M-masaka!?(tidak mungkin)" ucap kaichou horror lalu melihat kearah bawahannya Naruto.

Naruto langsung menutup barangnya malu saat mengetahui arah yang dilihat kaichou.

"Woi kemana kamu melihat hah!" ucap Naruto dengan wajah memerah.

"N-Naruto-kun, jangan bilang kalau kamu—"

"Aaaa! wakatta wakatta(baiklah baiklah) aku akan membawamu ke UKS" ucap Naruto terpaksa.

Sedangkan Ryou dan kaichou tertawa kecil melihat tingkah Naruto yang menurut mereka lucu.

Naruto lalu berjongkok di depan kaichou dengan wajah memerah dan memberi isyarat untuk menyuruh kaicho agar cepat naik.

"Kenapa kamu berjongkok seperti itu Naruto-kun?" Tanya kaicho pura-pura tidak tau.

"Ghk, S-sudah cepatlah naik" ucap Naruto kesal.

"Sini aku bantu" ucap Ryou membantu kaicho naik ke punggung Naruto.

Pipi Naruto dan kaicho serempak langsung memerah saat kaicho sudah di gendongan Naruto.

'Sial pahanya lembut sekali!' kutuk Naruto dalam hatinya.

Ini pertamakalinya dia menggendong wanita lain selain Naruko.

Bahkan dia menggendong Naruko hanya sewaktu kecil dulu saja. Tentunya hasrat sewaktu kecil dan sekarang perbedaannya sangat besar.

Kaicho yang juga sedang tersipu malu membatasi punggung Naruto dan dadanya dengan kedua tangannya agar tidak bersentuhan. Seumur hidupnya dia tidak pernah di gendong seperti ini sebelumnya.

Kaicho sekarang benar-benar tengah menahan wajahnya agar tidak terlihat jelas memerahnya, dan juga dia berusaha menormalkan detak jantungnya yang mulai tidak karuan.

Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di persimpangan koridor setelah menuruni tangga.

"Kalau begitu kamu masuklah duluan Ryou-chan, nanti aku menyusul setelah meletakkan barang ini pada tempatnya" ucap Naruto dan mengacungkan jempolnya kearah Ryou dengan senyuman lima jarinya di hiasi dengan ujung giginya yang berkilau.

TWICH TWICH

Muncul perempatan di kepala kaicho saat mendengar ucapan Naruto barusan.

BUK! BUK!

Kaicho memukul kepala Naruto dengan penuh kasih sayang hingga membuahkan beberapa benjolan di kepala Naruto.

"Kau bilang sesuatu NA-RU-TO-KUN~?"

"Hai sumimasen deshita(aku minta maaf)" ucap Naruto menangis anime.

Ryou benar-benar senang bisa berteman dengan Naruto yang selalu membuatnya tertawa melihat tingkahnya.

"Hehehe baiklah kalau begitu aku masuk duluan Naruto-san" ucap Ryou lalu berjalan kearah kelas.

Sedangkan Naruto berjalan kearah sebaliknya ke ruang UKS.

Di dalam perjalanan Naruto mendapat pandangan tidak percaya dari orang-orang yang melewati meraka berdua. Mereka tidak percaya kalau Naruto berani menggendong ketua osis di sekolah ini. Bahkan anggota osis tidak ada yang berani melakukan itu pada sang ketua osis yang cantik dan di puja-puja oleh para laki-laki di sekolah itu. Banyak kata-kata kotor dan gossip-gossip aneh yang beredar tentang Naruto pada saat itu juga.

Pindah scene

SREEK

"Ano sumimasen, sensei?" ucap Naruto sopan membuka pintu UKS.

Naruto masuk kedalam dan melihat kesekeliling mencari dokter yang bertugas di UKS sekolah, namun mereka tidak menemukan siapa-siapa di dalam sana.

"Hmm? Tidak ada orang ya?" Tanya kaicho saat Naruto tidak mendapat balasan dari orang di dalam UKS.

Naruto mengabaikan pertanyaan kaicho lalu berjalan kesalah satu kasur yang ada di sana dan menurunkan kaicho dengan perlahan.

"Jaa, saatnya kembali kekelas" ucap Naruto malas seraya berjalan kearah pintu.

"!" Naruto terhenti saat dia merasakan kalau lengan bajunya di tahan oleh kaicho.

"Apa kamu tidak merindukanku?" Tanyanya bercanda.

Naruto tidak menjawab apa-apa dan itu sudah menjawab pertanyaan sang kaicho.

Tapi masih belum puas kaicho menanyakan hal lainnya kepada Naruto.

Tapi kali ini raut wajahnya yang tadi tersenyum sekarang menjadi sedih karena sifat Naruto yang sepertinya masih dingin kepadanya.

"Apa kamu masih marah padaku?" tanya kaicho lirih.

"Apa aku masih harus menjawab itu untukmu?" tanya Naruto balik dan menarik tangannya sehingga membuat pegangan kaicho pada lengan baju Naruto terlepas.

Tentunya gerakan tiba-tiba seperti itu membuat kaicho tersentak kaget, apa sebenci itukah Naruto padanya.

"Gomen…" gumam kaicho mencengkam erat roknya, semua rasa penyesalan dan rasa bersalah menyelimuti hatinya tersebut.

"Kamu tidak perlu minta maaf padaku" ucap Naruto.

Mendengar ucapan Naruto tersebut membuat kaicho memandangnya penuh harap agar Naruto mau memaafkannya.

"Lagi pula dari awal memang akulah yang salah…" lanjut Naruto, membuat kaicho menjadi bingung apa yang di maksud oleh Naruto, padahal dialah yang salah. Tapi kenapa Naruto yang meminta maaf?

"…Karena sudah hadir di antara kalian 'berdua'" kata-kata tersebut tentunya membuat mereka berdua mengingat kejadian waktu 'itu'. Sesuatu hal yang tidak seharusnya dia lakukan saat itu di belakang Naruto.

Naruto mengcengkam kuat tangannya menahan amarahnya, tentu hal tersebut di sadari oleh kaicho yang berada di depannya. Naruto tanpa ada sepatah kata berjalan meninggalkan UKS Meninggalkan kaicho sendiri di sana yang tengah menyesali kesalahannya sendiri.

Sudah berulang kali dia meminta maaf pada Naruto, berulang kali dia berusaha untuk meminta maaf.

Tapi Naruto sepertinya tetap tidak menjawab permohonan maaf dari nya.

Pindah scene

Di dalam kelas, Naruto tidak focus dengan pelajaran yang tengah di ajarkan oleh guru di depan.

Dia tengah asik melihat keluar sambil mencoba menenangkan pikirannya sekarang.

WHUSS! PAK!

"Ugh, TEME! Siapa yang melempar, hah!?" teriak Naruto saat wajahnya di hadiahi oleh penghapus yang terbang dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan bekas di wajahnya itu membuat seisi kelas menjadi hening.

Sedangkan guru yang mengajar melongo tidak percaya apa yang saja baru Naruto katakan padanya.

"N-Naruto-san" bisik Ryou di sampingnya menarik perhatian Naruto.

"Huh!" Naruto melihat kearah Ryou dan dia juga melihat Ryou sepertinya menunjuk seseorang.

Tangan Ryou yang di bawah meja menunjuk-nunjuk kedepan dan Naruto mengikuti arah yang di tunjuk oleh Ryou padanya.

Seketika wajahnya menjadi pucat saat menyadari siapa yang melempar penghapus itu kepadanya dan kata-katanya barusan benar-benar telah membangunkan seekor ular betina yang berbahaya.

"Sedang memikirkan sesuatu? U-ZU-MA-KI? Hmm?~" tanya Anko dengan beberapa perempatan di keningnya.

"A-Ah tidak anko-sensei aku hanya—" Naruto dengan cepat menghindar kesamping saat buku yang ada di tangan anko terbang kearahnya.

"Rupanya hukuman di hari pertama kita bertemu masih belum cukup untukmu ya?..." Anko menundukkan kepalanya dan setelah itu aura negative mengelilingi tubuh Anko.

"…He-hehe-ehehe baiklah Uzumaki… kali ini hukumanmu akan aku buat lebih menyenangkan dari pertama kita bertemu" ucap anko tertawa senang.

Tapi entah kenapa tawa itu membuat seluru siswa dan siswi kelas 1-E menjadi merinding.

SKIP TIME

"Aku tidak mempermasalahkan apa saja hukuman yang akan di berikan Anko-sensei…" ucap Naruto lirih yang kelihatannya sedang mengerjakan sesuatu.

'… Tapi kenapa harus membersihkan toilet!' teriak Naruto dalam pikirannya.

"Haaaah~"

"Hoi, lihat itu. Bukankah dia…" bisik siswa yang sedang membersihkan tangannya di toilet bersama dua temannya.

"Un, tidak salah lagi dia pasti Uzumaki yang di rumorkan itu, aku dengar tadi jam istirahat dia menggendong kaicho…" balas temannya yang satunya juga berbisik tengah menyisir rambutnya.

"Heh! Dia pasti di hukum karena sering bolos sekolah, dan pelecehan terhadap kaicho. Dia seharusnya bersyukur karena tidak di usir dari sekolah ini"ucap teman lainnya yang berbadan besar dan tinggi dengan suara keras menyandarkan punggungnya pada pintu masuk/keluar toilet.

"Oi dia mendengarmu"bisik temannya yang tadi mencuci tangan.

"Sudahlah ayo! Aku tidak ingin berlama-lama di sini" ucap laki-laki itu lalu pergi dan di susul oleh kedua temannya.

Naruto tidak terlalu menanggapi ucapan mereka bertiga, karena hal itu sia-sia saja.

Mereka tidak akan mengerti dengan keadaannya sekarang yang sangat membutuhkan uang.

Naruto menghela nafasnya dan melihat sekeliling berapa banyak lagi tempat yang harus dia bersihkan.

"Haaaah~" untuk kesekian kalinya Naruto menghela nafas lalu melanjutkan hukumannya.

SKIP TIME

Lebih dari dua puluh menit terlewatkan dan Naruto juga sudah hampir menyelesaikan tugasnya disini.

"Rupanya kau di sini, Dobe" ucap orang yang berdiri di dekat pintu toilet.

"Ada apa Teme?" tanya Naruto malas.

"Shikamaru bilang kalau dia akan kesini menjemput Naruko" ujar Sasuke membuat Naruto menghentikan kegiatannya.

"Dari mana dia tau kalau kami ada di sini?" tanya Naruto.

"Mungkin ada salah satu murid atau guru di sini melaporkan alamat kalian padanya"

"Gh!" gerutu Naruto kesal.

"Kemungkinan dua hari lagi mereka akan datang… mengingat jarak dari sana ke kota Kuoh sangat jauh"

"Souka… apa mereka semua akan kesini menjemput Naruko?"

"Menurut infomasi dari Shikamaru… kakak tertuanya tidak bisa karena ada beberapa urusan di perusahaannya. Shikamaru bilang kalau salah satu adiknya lah yang akan datang menjemput Naruko kesini…"

"… aku yakin kalau adik Narukolah yang akan menjemputnya kesini." lanjut Sasuke.

Naruto diam tidak berkata apa-apa, dia lalu melanjutkan pekerjaannya. Tapi kali ini kecepatannya di tambah dari sebelumnya.

Tidak sampai lima menit Naruto sudah selesai dari hukumannya lalu mengambil tasnya dan pergi mencari seseorang. Sasuke melihat punggung Naruto yang semakin menjauh, dan saat Naruto tidak terlihat lagi Sasuke juga pergi dari sana.

Pindah scene

Di apartemen Uzumaki.

Naruto baru saja sampai di sana, dan saat dia ingin membuka pintu dia melihat Naruko yang sedang memasang sepatunya dengan mengenakan baju casual dan membawa tas.

Naruko melihat kakaknya pulang hanya diam saja, dan dengan cepat memasang sepatunya.

"Kamu mau kemana Naruko?" tanya Naruto saat Naruko melewatinya.

Naruko berhenti membelakangi Naruto.

"…Kami harus mengerjakan tugas di rumah Sona-chan" jawab Naruko lalu melanjutkan perjalanannya.

"Ah Naruko, apa besok kamu ingin ikut onii-chan pergi ke…" Naruto menghentikan ucapannya saat melihat Naruko yang sepertinya tidak memperdulikan ucapannya dan pergi begitu saja.

"…Makam ayah dan ibu" lanjut Naruto lirih.

Naruto menundukkan kepalanya lesu lalu merenguh ponselnya di dalam kantong…

TUUUUUT TUUUUT TUUUUT CKLEK

"Ada apa dobe?" tanya Sasuke di seberang terlpon.

"Pagi besok… Aku akan berangkat kesana dan juga aku akan ke kampung halamanku sebentar untuk ke kuburan otou-san dan okaa-chan, jadi bisakah kau bilang kepada ketua kelasku bahwa aku tidak bisa datang kesekolah untuk beberapa hari kedepan?"

"Hmm? kenapa mendadak begini? Lagi pula kenapa harus aku? merepotkan" tanya Sasuke beruntun.

"jangan bilang kalau kau juga ingin seperti shikamaru?" ucap Naruto membuat Sasuke diam di seberang telpon sana.

"Haaah baiklah, besok akan aku temui ketua kelasmu" ucap Sasuke.

"Un, arigato na watashi no yuujin(my best friend)"

"hn" balas Sasuke simple lalu Naruto memutuskan sambungannya.

Naruto melihat kearah langit yang kelihatannya tidak begitu bersahabat lalu langsung saja pergi ke tempat kerja.

Awalnya Naruto ke apartemen hanya ingin mengajak Naruko pergi kesuatu tempat besoknya.

Tapi sepertinya Naruko tidak ingin mendengarnya lagi…

'Ma… sikatanai ka(mau bagaimana lagi)' batin Naruto sedih.

Keesokkan harinya, dengan cuaca yang mendung Naruto sekarang tengah berdiri di depan stasiun kereta api bersama Sasuke. Beberapa menit kemudian kereta berhenti dan pintu pun terbuka. Naruto berjalan masuk lalu berhenti di depan pintu kereta api itu.

"Tolong katakan pada Naruko 'Gomen'. Aku awalnya ingin pergi kesana juga bersama Naruko. tapi aku rasa dia lebih baik pergi bersama mereka saja" ucap Naruto.

Sasuke tidak berkata apapun pada saat itu, tanpa dia balaspun Naruto pasti akan tau jawaban darinya. Lagipula dia tidak ada kata-kata lain lagi selain 'hn' yang baginya simpel dan dapat menjawab semua pertanyaan dan perkataan orang lain tesebut.

Naruto melirik kebelakang lalu tersenyum tipis, begitu juga dengan Sasuke yang juga tersenyum tipis di wajahnya lalu berbalik arah pergi dari sana dan Pintu keretapun tertutup rapat, pergi menuju tujuan selanjutnya.

Pindah scene

Naruko sekarang baru saja bangun dari tidurnya dan melihat kearah sampingnya sudah ada lagi Naruto di sana. Futon sudah di rapikan di sudut kamar, dan ada secarik kertas di sana.

Naruko berjalan keluar tidak memperdulikan secarik kertas itu, tapi saat dia masuk ruang tengah dia melihat nasi goreng sudah tersaji di sana yang sudah di bungkusi plastic agar tetap hangat dan di samping nasi goreng di atas meja itu juga ada secarik kertas.

'Palingan rasanya pasti tidak enak' batin Naruko.

Naruko juga tidak memperdulikan itu dan langsung pergi ke kamar mandi melakukan ritual pagi.

SKIP TIME

Naruko sudah selesai dengan ritual paginya dan sekarang dia berencana pergi main ke rumah Hinata.

Tapi baru saja Naruko selesai memasang sepatunya seseorang memencet bell.

TING! TING!

"Hai"

CKLEK

"Hisashiburi dane onee-sama" ucap orang yang memencet bell barusan dengan rambut kuning di ikat twin tail.

Di belakangnya ada dua orang berkepala botak berbadan besar mengenakan baju hitam

Satu orang lagi berbaju putih keunguan dengan rambut abu-abu menggunakan kacamata dan postur badannya sangat ideal.

"Siapa… Kalian?"

Sedangkan orang yang di tanya seperti itu tentu saja menjadi kaget, terutama wanita berambut kuning yang baru saja memanggil Naruko dengan panggilan 'onee-sama' itu.

"O-Onee-sama… jangan bercanda seperti itu, apa kamu tidak ingat lagi denganku?" tanya orang itu yang masih kaget.

"Ojou-sama persilahkan saya mengingat anda dengan adik anda ini" ucap laki-laki berbaju putih keunguan di samping orang yang memanggil Naruko onee-sama.

Dan dibalas anggukan dari orang itu.

"Naruko ojou-sama, perkenalkan nama saya claude… saya adalah pengawal setia keluarga phenex" ucap claude membuat Naruko membelalakan matanya tidak percaya.

Keluarga phenex? Yang benar saja, apa yang di lakukan keluarga phenex adalah keluarga yang terkenal dengan perusahan obat-obatan mereka yang besar dan merupakan penghasil obat-obatan dengan takaran dan hasil yang akurat. Bahkan mereka dengan hanya orang-orang kaya yang dapat membeli obat-obatan yang paling bagus disana karena harganya yang sangat mahal, rumor bilang bahwa hanya keluarga Phenex yang tau rahasia dari obat-obatan mereka tersebut. Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini?

Seperti itu lah pemikiran Naruko sekarang.

"Dan ojou-sama di hadapan anda ini adalah Ravel phenex ojou-sama desu…" ucap claude lalu memperbaiki letak kacamatanya.

"…Ravel ojou-sama adalah adik kandung anda, dia adalah keluarga anda" lanjut claude membuat Naruko untuk kesekian kalinya membelalakkan matanya terkejut.

"T-tidak mungkin, aku tidak memiliki seorang adik… aku hanya berdua bersama Naruto nii-chan" ucap Naruko masih tidak percaya.

"Naruto onii-chan? Dia bukanlah keluargamu onee-sama, aku adalah keluargamu yang sebenarnya"

Tanpa sadar Naruko mundur beberapa langkah kebelakang saat menerima informasi baru ini yang menurutnya tidak masuk akal. Naruko menutup mulutnya dan menggeleng pelan tidak percaya dengan semua yang di katakan oleh Ravel, orang asing yang baru saja dia lihat dan berkata seperti itu benar-benar tidak bisa di percaya sama sekali.

"T-tidak, itu tidak mungkin… A-a-aku tidak percaya ini, kalian pasti salah orang" ucap Naruko dengan suara bergetar.

"Kamu tidak bisa menolak kenyataan ini onee-sama, sepertinya selama kamu bersama Naruto nii-chan banyak hal yang terjadi ya?" ujar Ravel tenang.

Naruko mencoba mengingat-ingat tentang Ravel, tapi tetap saja dia tidak bisa mengingatnya. Semakin dia mencoba mengingatnya semakin sakit kepala Naruko.

"Jika onee-sama masih tidak percaya maka akan aku buktikan" ucap Ravel menarik perhatian Naruko.

Ravel tidak berkata apa-apa dan hanya memberi isyarat pada Naruko agar dapat mengikutinya berjalan memasuki mobil.

Naruko dengan ragu mengikuti mereka masih berdiri di sana memikirkan apa yang sedang terjadi sekarang. Banyak pertanyaan berputar di kepalanya, tapi pertanyaan di kepalanya itu hanya dapat di jawab jika dia mengikuti orang yang bernama Ravel dari keluarga Phenex tersebut.

"Silahkan masuk ojou-sama" ucap kedua pengawal yang masih berdiri di sana menanti Naruko untuk masuk kedalam mobil.

Walau Naruko ingin tau kebenaran yang ada, namun dia masih ragu untuk mengikuti orang-orang yang tidak dia kenal ini. Tapi entah mengapa hati kecilnya ingin tau akan kebenaran ini dan mengikuti mereka kesuatu tempat yang akan menjawab semua pertanyaannya.

Saat Sasuke baru sampai di persimpangan di dekat apartemen Naruto, mobil yang di naiki oleh Naruko pergi dari sana. Sasuke yang sempat melihat wanita berambut kuning barusan memasuki mobil yang dia yakini kalau itu adalah salah satu keluarga Phenex atau setidaknya itu adalah Naruko.

"Maaf Naruto, sepertinya aku terlambat…" ucap Sasuke lirih lalu pergi dari sana.

Pindah scene

Di suatu tempat di dekat perbukitkan ada rumah yang megah yang mungkin bisa di bilang terlalu besar untuk satu atau empat orang di dalamnya yang memiliki lambang burung api yang mengembangkan sayapnya.

Pintu gerbang terbuka dan mobil yang menjemput Naruko tadi sudah sampai di sana. Setelah sampai di depan pintu utama para pengawal membukakan pintu mobil dan meletakkan karpet merah dari awal pintu mobil hingga kedalam rumah.

"Okaerinasai Ojou-sama" ucap para maid yang berdiri dan berbaris rapi di depan pintu masuk.

"Apa onii-sama ada di dalam?" tanya Ravel.

"Ruval-sama bilang kalau dia ingin pergi kesuatu tempat untuk menenangkan pikirannya, sedangkan raiser-sama dia pergi bersama pasangan-pasangannya" jawab salah satu maid yang menggunakan baju yang berbeda. Yang merupakan kepala maid di rumah ini.

"Ini… apa ini rumahmu?" tanya orang yang baru masuk membuat semua pelayan maid melihat kearah pintu masuk. Semua maid memandang tidak percaya siapa yang datang, orang yang selama ini pergi entah kemana akhirnya datang kembali.

"Naruko ojou-sama… anda benar-benar Naruko ojou-samakan?" tanya ketua maid tidak percaya mewakili semua maid yang ada di sana.

"Eh!? ah iya namaku Naruko… apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruko bingung.

Ketua maid itu memandang sedih Naruko lalu melihat kearah Ravel. Ravel mengerti maksud dari ketua maid di rumahnya itu hanya menggeleng lemah. Ketua maid itu lalu mengalihkan pandangannya kearah semua maidnya, dan semua maid mengangguk mengerti.

"Okaerinasai Naruko ojou-sama" ucap mereka serempak.

"Ah? Un" Naruko benar-benar bingun harus bersikap seperti apa. Semua yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya bingung.

Ravel berjalan dan di ikuti Naruko di belakangnya menuju ruang keluarga, dan sesampainya mereka di sana Naruko memandang tidak percaya apa yang dia lihat.

"A-apa itu a-aku?" tanya Naruko tidak percaya saat melihat sebuah foto keluarga yang lumayan besar dengan enam orang di dalamnya.

Dan pandangan Naruko terfokus pada gambar anak kecil berambut pirang panjang dengan rambut ikat twin tail mengenakan baju dress mewah.

"Hai… itu foto kita" ucap Ravel membuat Naruko melihat sekeliling mencari foto seseorang.

"Mencari foto Naruto onii-chan?" tanya Ravel membuat Naruko mengalihkan pandangannya pada Ravel dan mengangguk.

"Ikuti aku onee-sama" ucap Ravel lalu berjalan ke kamarnya.

Ravel lalu mengambil sebuah kota di meja hiasnya dan mengambil satu lembar foto yang masih bagus dan rapi di dalamnya.

"Hanya ini foto yang kita miliki bersama Naruto onii-chan" ucap Ravel lalu menyerahkan foto itu pada Naruko.

Di sana tampak tiga anak kecil yang sedang main kejar-kejaran di perempuan berambut kuning yang mengenakan baju mewah berlari di kejar oleh laki-laki berambut kuning yang mengenakan baju abu-abu yang sudah usang.

"Apa maksudnya ini? Kenapa Naruto nii-chan berpakaiian seperti ini?" tanya Naruko merasa sakit di hatinya saat melihat kakaknya mengenakan baju seperti itu. Naruko duduk bersipuh saat mengetahui semua ini. Dia berusaha menolak kenyataan yang ada, namun semua bukti ini tidak bisa tolak

'Jadi selama ini Naruto nii-chan adalah…' batin Naruko.

"Onee-sama aku mohon untuk mengerti…" ucap Ravel mencoba menghibur Naruko.

Tetes demi tetes air yang berasal dari mata Naruko turun membasahi foto itu.

"Ojou-sama ruval-sama baru saja pulang, dan ruval-sama bilang kalau dia tidak bisa pergi karena ada perusahaan yang akan menjalani kontrak penting dengan perusahaan lainnya" ucap claude yang berdiri di depan pintu.

"raiser nii-sama bagaimana?" tanya Ravel dan dibalas gelengan lemah dari claude.

Ravel mengangguk mengerti, ini sudah biasa karena setiap tahu raiser tidak pernah pergi bersama mereka kesana.

"Onee-chan, ayo kita pergi. Otou-sama dan okaa-sama sudah menunggu kita" ujar Ravel membuat Naruko menegakkan kepalanya.

"Otou-san… okaa-san?" tanya Naruko.

"Hai kita akan menemui otou-sama dan okaa-sama, ayo kita pergi"

Naruko mengangguk pelan lalu mengikuti Ravel untuk bertemu dengan orang mereka.

Pindah scene

Naruto sekarang tengah berdiri di antara dua batu yang bertuliskan nama orang yang sangat berharga baginya. Di sebelah kiri dan kanan bertulisan RIP Leone phenex dan Oz Vessalius phenex. Naruto meletakkan dua kuncup bunga tulip di depan batu itu lalu berdo'a. Tanpa Naruto ketahui bahwa orang lain juga ada yang datang.

Mobil itu berhenti di depan gerbang pemakaman.

"Kenapa kita kesini Ravel?" tanya Naruko yang berjalan mengikuti Ravel dari belakang.

"Kita akan ke makam okaa-sama dan otou-sama, onee-sama" ujar Ravel sambil berjalan.

Tapi Ravel tiba-tiba berhenti beberapa meter dari makam orang tuanya saat melihat ada orang di sana. Ravel menarik tangan Naruko untuk bersembunyi di balik-balik pohon di dekat sana.

"Naruto nii-chan? Bagaimana bisa dia disini? Bukankah dia bekerja hari ini" ucap Naruko kaget.

"Ssshhh, sepertinya Naruto onii-chan sedang berbicara sendiri. Ayo kita lebih dekat lagi onee-sama" ucap Ravel lalu berpindah ke tempat persembunyian yang lebih dekat jaraknya dari Naruto dan menguping semua percakapan Naruto pada makam orang tua mereka.

"Otou-sama, okaa-sama… Naruko sekarang sudah menginjak SMA, tidak terasa bukan… dia sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan pintar, dia bahkan termasuk dalam sepuluh besar nilai tertinggi di sekolah. Hebat bukan?" ucap Naruto berbicara pada dua batu nisan di depannya.

Ucapan Naruto barusan membuat Naruko merasa senang saat di puji oleh orang yang selama ini yang dia anggap kakaknya itu.

"Aku rasa sekarang tugasku sudah selesai… aku sudah rasa janjiku pada kalian sudah terpenuhi sekarang. Dia sudah tidak membutuhkanku untuk bersamanya lagi, yah sebenarnya diriku yang bersalah karena banyak merahasiakan sesuatu darinya, ehehe" Ucap Naruto tertawa kecil

Ravel bingun dengan apa maksud oleh Naruto dengan janji yang dia ucapkan barusan begitupun dengan Naruko yang sama sekali tidak ingat apa-apa.

"Naruko juga seperti sudah memiliki banyak teman di sekitarnya, dan juga dia mudah berbaur dengan teman-teman di kelasnya…"

"…Ehehe yang membuatku terkesan adalah saat aku tau bahwa dia ingin aku membagi bebanku ini dengannya. Baka da na(konyol yakan)?" ucap Naruto mengatakan apa yang ada di pikirannya sekarang. Naruto mengingat-ingat semua kenangan yang telah dia lalui bersama Naruko hingga saat mereka mulai bertengkar karena kesalahannya yang menyimpan banyak rahasia dari Naruko.

Naruto memejamkan matanya seraya tersenyum sendiri saat mengingat dia bagaimana dia dimarahi oleh Naruko saat itu. Itu adalah pertama kalinya Naruko benar-benar marah padanya, bahkan marahnya Naruko berkepanjangan sampai sekarang.

"Demo… sugoi daro!(tapi… hebat bukan), Naruko tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan hebat" ucap Naruto bangga dengan senyuman lima jari andalannya didepan makam orang yang telah menyelamatkan hidupnya tersebut.

"Aku tidak pernah menyangka dia akan berkata seperti itu, tentunya aku tidak ingin dia ikut menanggung bebanku ini, karena janji yang aku buat dengan kalian"

"Sesuai janjiku, aku akan menjaga Naruko hingga dia tumbuh dewasa dan menjauhkannya dari segala macam beban dunia ini…" ucap Naruto membuat Naruko menutup mulutnya tidak percaya dengan semua yang dia dengar ini, jadi Naruto benar-benar bukan kakaknya.

"…Dan tugas terakhirku sebagai pelayan anda sudah terpenuhi okaa-sama, otou-sama. Aku harap kalian sudah bisa tidur dengan tenang di sana"

Naruto melihat kearah langit seraya memejamkan matanya.

"Jika kalian tidak menemukanku dan membantuku waktu itu, aku mungkin tidak akan bisa hidup hingga sekarang…"

"…kalian benar-benar telah menyelamatkan hidupku" ucap Naruto.

"Apa aku boleh menceritakan masa laluku sebelum aku bertemu kalian? Okaa-sama, otou-sama?" tanya Naruto pada dua batu nisan di depannya.

"Aku dulu hanyalah orang miskin yang tidak memiliki apa-apa…" ucap Naruto membuat Naruko dan Ravel maju lebih dekat lagi untuk mendengar masa lalu Naruto.

NARUTO POV ON

Flashback ON

Aku tinggal Di gudang konrtrakan kecil yang terletak di tepi kota bersama okaa-chan yang bernama Uzumaki Kushina. okaa-chan adalah salah satu keturunan terakhir dari keluarga Uzumaki.

Ayahku bernama Namikaze Minato sudah meninggal saat aku berumur 3 tahun karena kecelakaan lalu lintas saat dia pergi bekerja di pagi hari.

Dan sejak saat ayahku meninggal aku berusaha mencari uang membantu okaa-chan untuk membayar kontrakan dan mengisi kebutuhan secukupnya.

Kami bekerja di sebuah kedai ramen cukup terkenal di perkotaan dengan gaji yang kalau di gabung bisa di bilang lumayan hanya untuk makan dan untuk membayar kontrakan. Dengan okaa-chan sebagai pelayan kedai dan aku mencuci piring di dapur.

Sudah 2 bulan kami bekerja di sana, dan tanpa sepengetahuan okaa-chan aku bekerja sambilan di kedai shushi didekat kedai ramen tempat kami bekerja untuk menambah uang kebutuhan kami.

Aku tidak ingin okaa-chan bekerja terlalu keras. Setidaknya aku juga ingin berguna baginya.

Saat itu umurku baru akan menginjak ke 4 tahun.

"Naruto-chan minggu depan adalah hari ulang tahunmu, kamu mau hadiah apa?" Tanya okaa-chan padaku.

Aku menggeleng lembut membalas ucapan okaa-chan.

"Tidak apa-apa bu, aku mengerti dengan keadaan kita sekarang. Lebih baik okaa-chan simpan saja uangnya" dan jawabanku itu membuat mata okaa-chan berkaca-kaca.

Aku tentunya kaget saat melihat okaa-chan seperti ini langsung saja menjadi cemas.

"Eh! Kenapa okaa-chan menangis? Apa Naruto salah bicara? Maaf kalau kata-kata Naruto membuat okaa-chan menangis" ucapku sambil menghapus air mata okaa-chan itu.

Tapi Air matanya tidak berhenti keluar lalu dia memelukku erat.

"Hiks… Gomen ne Naruto-chan hiks, hiks karena kaa-chan tidak bisa memberi hadiah di hari ulang tahunmu ini" ucap okaa-chan yang menangis sambil memelukku

"Gomen ne Naruto-chan…hiks Gomen ne" aku mengelus lembut punggung okaa-chan untuk menenangkannya.

Ini kedua kalinya aku melihat okaa-chan menangis setelah otou-san meninggal.

SKIP TIME

Sudah satu bulan berlalu setelah hari ulang tahunku.

Kami hanya merayakannya dengan berjalan-jalan ke taman terdekat dan bermain bersama.

Dan Hari ini adalah hari minggu di mana semua orang pergi beristirahat.

Aku dan okaa-chan membersihkan gudang bersama-sama di iringi dengan senyum yang selalu terpampang di wajahku.

Tapi senyuman itu tidak bertahan lama saat okaa-chan tiba-tiba terbaring di lantai.

Aku langsung berhenti dan berlari kearah okaa-chan

"Kaa-chan?" panggilku dan sedikit menggoyangkan tubuh okaa-chan tapi tidak ada respon sama sekali.

"K-kaa-chan kenapa? jawab aku kaa-chan! kaa-chan! kaa-chan!" aku berlari ke luar mencari pertolongan untuk membawa okaa-chan ke rumah sakit. Dan untungnya ada beberapa orang yang lewat di sana mau membantuku membawa okaa-chan kerumah sakit.

Pindah scene

Di kamar rawat terlihat seorang wanita berambut merah tebaring tidak sadarkan diri, dan di sebelahnya ada anak kecil yang sedari tadi terus menangis.

"Hiks… kaa-chan hiks, hiks kaa-chan cepat sembuh, jangan tinggalkan naruto sendiri hiks, hiks… naruto tidak ingin sendiri kaa-chan"

Puk

Aku melihat ke samping saat merasakan ada tangan besar yang menggenggam bahuku, yang rupanya adalah dokter yang memeriksa okaa-chan barusan.

Aku langsung saja berdiri dan menarik-narik lengan baju dokter itu.

"Dokter apa okaa-chan akan baik-baik saja dok!?" tanyaku penuh harap.

Tapi saat aku bertanya seperti itu dokter itu hanya diam dan menundukkan kepalanya

Mataku bergetar melihat reaksi dokter itu, dadaku terasa seperti di injak-injak saat melihat jawaban dari dokter itu.

"Nee dokter katakan padaku dok… Aku mohon dok, katakan kalau okaa-chan akan baik-baik saja!" ucapku dengan nada tinggi.

Dokter itu berjongkok di depanku lalu menghapus air mata yang mengalir di pipiku

"Maaf nak tapi keadaan kaa-chan mu sangat buruk… kondisinya sangat lemah di karenakan sering tidak makan. Kami sudah melakukan semampu kami untuk menolongnya…"

"Aku hiks, hiks… aku akan lakukan apapun hiks, hiks… Karena itulah tolong sembuhkan kaa-chan dokter! Aku mohon!" aku bersujud di depan dokter itu memohon untuk mengobati kaa-chan yang sedang sakit.

Dokter itu memegang bahuku

"Angkat kepalamu nak" ucapnya lalu aku menganggkat kepalaku melihat dokter itu tepat di matanya.

"Maaf nak tapi yang bisa kau lakukan sekarang adalah berdo'a kepada tuhan untuk kesehatan kaa-chan mu, kami sudah melakukan sebisa kami untuk membantu kaa-chan mu" setelah dokter mengatakan itu dia pergi meninggalkanku sendiri di sana.

Aku terdiam di sana dengan terbelalak dan mata yang bergetar, air mataku tidak berhenti keluar dari mataku. Bahkan aku tidak tau sudah berapa lama aku menangis hari ini.

Aku lalu kembali duduk di samping ranjang kaa-chan dan menggenggam tangannya lembut.

"Okaa-chan…" ucapku lirih.

"Hiks, hiks… okaa-chan" aku menenggelamkan wajahku di atas ranjang di samping tangan kaa-chan, dan terus menangis tanpa aku sadari, aku tertidur di sana.

SKIP TIME

Sudah dua minggu okaa-chan di rawat di rumah sakit dan kondisinya masih belum sadar. Aku selalu datang setelah bekerja untuk menjenguk kaa-chan dan menemaninya di sana selalu setiap saat. Aku datang untuk merawatnya dan terus berharap kalau dia akan sembuh.

Beberapa hari yang lalu Pemilik gudang datang meminta tagihan kami yang belum membayar tagihannya selama dua bulan termasuk bulan ini, aku tidak bisa berkata apa-apa saat dia datang dan hanya menyerahkan setengah dari tagihannya karena aku sudah menggunakan separuhnya untuk membayar uang perawatan okaa-chan yang masih belum lunas. Pemilik gudang itu marah kepadaku karena tidak bisa melunasi tagihan gudangnya.

Dia menyuruh bawahannya masuk dan mengobrak-abrik semua barang yang ada dan membawa barang-barang yang menurutnya bisa untuk menutupi tagihan tersebut. Pada saat itu… saat mereka mengambil barang-barang dan mengobrak-abrik barang-barang kami, aku berlari kedalam dan mengigit tangan dari bawahannya sekuat tenaga hingga tangannya mengeluarkan darah, dan beberapa saat setelah gigiku tertancap di tangannya kepalaku di cekam dan di pukul dengan kuat.

Rasa sakit di kepalaku membuat gigitanku di tangannya terlepas. Tanpa ragu-ragu bawahannya itu menghantam tinju kerasnya kepipiku membuat aku terbaring tak berdaya dengan darah yang mengalir keluar dari hidung. Tetangga yang mungkin mendengar keributan langsung saja datang dan mencegah orang-orang tersebut. istri dari tetangga itu memeluk tubuhku yang terbaring tidak berdaya, sedangkan suami dari tetangga berbicara dengan pemilik gudang tersebut.

Saat itu penglihatanku perlahan memudah, aku hanya bisa mendengar bibi itu menangis sambil memeluk erat tubuhku, dan paman yang beribcara baik-baik dengan pemilik gudang dan minta maaf. Perlahan pandanganku mulai gelap dan suara bibi mulai tidak terdengar. Namun tanpaku sadari bahwa mulutku sempat mengucapkan kata "kaa-chan" saat sebelum aku kehilangan kesadaranku.

Saat aku sadarkan diri paman tetangga kami itu menjelaskan situasi yang sudah terjadi saat aku tidak sadarkan diri. Dia mengatakan bahwa dia sudah membantu kami membayar tagihan kami bulan kemarin, dan masih tinggal separuh lagi di bulan ini yang harus di bayar dalam jangka waktu satu minggu. Aku tidak tau harus bilang apa, mereka sudah membantu kami membayar uang tagihan bulan lalu. Tentu saja aku sangat senang, aku bahkan tidak tau bagaimana harus membalas budi mereka yang sudah membantu kami.

Sepulang kerja hari ini aku langsung saja pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan kaa-chan di sana. Sesampai aku di depan pintu kamar rawat kaa-chan aku membuka pintu dengan perlahan, berharap kalau keadaan kaa-chan akan membaik. Namun, yang aku lihat kaa-chan masih saja berbaring di ranjang putih itu tanpa ada tanda-tanda akan bangun.

Aku berjalan kedalam lalu duduk di samping ranjang kaa-chan, memandang wajahnya yang terlihat pucat mengenakan masker oksigen, lalu aku menggenggam tangannya yang putih tertancap infus. Air mata tak henti bergelinang setiap harinya, dan aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena tidak bisa berguna bagi kaa-chan.

Karena lelah bekerja hari ini, tanpaku sadari kalau aku tertidur di samping ranjang kaa-chan. Aku terbangun pagi-pagi karena merasa kan ada tangan orang mengelus kepalaku.

Tangan ini…

Perasaan ini…

Aku sangat merindukan kedua hal itu. Aku lalu mengalihkan pandanganku kesamping, mendapatkan kalau kaa-chan tengah tersenyum kearahku.

"Kaa-chan! Bagaimana keadaan kaa-chan? Apa sudah baikan? Apa kaa-chan lapar, tunggu sebentar akan aku beli kan makanan kesuka—" ucapanku terhenti karena kaa-chan meng-genggam tanganku saat aku akan pergi membeli makanan untuknya

"Tetaplah di sini Naruto-chan, kaa-chan ingin bersamamu" aku lalu duduk kembali di samping kaa-chan.

"tentu kaa-chan, naruto akan selalu bersama kaa-chan jadi kaa-chan tidak usah khawatir" ucapku lembut sambil menggenggam tangan kaa-chan.

"Maafkan kaa-chan ya Naruto-chan… karena sudah merepotkanmu" ucap kaa-chan lirih, aku langsung menggeleng cepat meralat ucapan kaa-chan.

"Tidak apa-apa kok kaa-chan" ucapku pada kaa-chan.

"Kaa-chan sangat bersyukur mempunyai anak sebaikmu, seharus nya anak sebesarmu uhuk, uhuk tidak menjalani ke-kehidupan seperti ini Kamu seharusnya pergi bermain dan menghabiskan masa kecilmu bersenang-senang dengan temanmu uhuk, uhuk…" ucap okaa-chan di sela batunya

"Kaa-chan! Tunggu di sini aku akan panggil dokter du—"

"Tidak usah Naruto-chan uhuk, tetaplah di sini bersama kaa-chan"

"D-demo kaa-chan"

"Kaa-chan mohon Naruto-chan, tetaplah disini… temani kaa-chan sedikit lebih lama" aku tidak bisa menahan diri lagi, lalu aku menekan tombol darurat di dinding di samping atas ranjang.

"Tunggulah okaa-chan dokter akan datang sebentar lagi" ucapku khawatir kaa-chan berusaha menjangkau pipiku, dan aku memajukan wajahku lalu menggenggam tangan okaa-chan di pipi kananku.

Kaa-chan menghapus air mataku dan mengelus lembut pipiku yang sudah basah ini.

"Maafkan kaa-chan Naruto-chan" ucap okaa-chan lirih.

Aku kaget saat melihat air bening nan suci keluar dari matanya untuk ke tiga kalinya.

"Eh!? kenapa kaa-chan menangis? kenapa kaa-chan minta maaf? Kaa-chan tidak salah apa-apa kok dengan Naruto" ucapku dengan senyumanku yang bergetar.

"Gomen hiks, hiks… Gomen … Gomen ne Naruto-chan" kata-kata itu terulang di bibir okaa-chan.

Aku menggeleng lagi menyangkal ucapan okaa-chan.

"Kaa-chan tidak salah apa-apa kok, seharus nya aku yang meminta maaf karena tidak terlalu berguna untuk mu kaa-chan" ujar Naruto.

Okaa-chan tersenyum saat mendengar perkataanku barusan

"Naruto-chan…"

"iya kaa-chan?" aku berusaha sebaik mungkin untuk tetap tersenyum di depan okaa-chan, tapi sepertinya mulutku ini sudah tidak sanggup lagi untuk tersenyum.

"Jadilah anak yang kuat, jalanilah hidupmu, dan pilihlah jalanmu sendiri, yang lebih penting jangan pernah membuat perempuan menangis dan memperlakukan perempuan dengan kasar. Ehehe" ucap okaa-chan tertawa kecil di bagian akhirnya.

"…Apapun yang menjadi pilihanmu kedepan…kaa-chan,dan ayahmu akan selalu mendukungmu. Dan ketahuilah kalau kami selalu bersama mu… di sini" ucap okaa-chan menunjuk dadaku.

"Kami menyayangimu Naruto-chan, dulu, sekarang… dan sampai kapanpun" ucap kaa-chan lalu tangan kaa-chan tiba-tiba terjatuh, tergerai lemas di atas ranjang.

Mataku terbelalak dan bergetar melihat tangan kaa-chan tidak bergerak sedikitpun

"Kaa-chan? Kaa-chan!? Bangun kaa-chan! Jangan bercanda kaa-chan" ucapku menggoyangkan tubuh kaa-chan.

"Ehehe bercanda kaa-chan tidak lucu. Bangun kaa-chan, kenapa kaa-chan tidur? Ayo kita pulang kerumah…" ucapku sambil menggoyang-goyang tubuh kaa-chan

"Hiks, hiks… ayo kita pulang kaa-chan. Naruto sudah belajar masak lho hiks, hiks… di rumah nanti Naruto masakan nasi goreng kesukaan kaa-chan, kaa-chan pasti akan senang mencicipi nasi goreng buatan Naruto hiks, hiks… kaa-chan… kaa-chan"

Aku menggenggam tangan okaa-chan dengan erat berharap kalau dia akan mejawabku

"Hiks…aku mohon hiks… jangan tinggalkan Naruto sendiri kaa-chan hiks, hiks, hiks" ucapku lagi.

Tapi masih tidak ada jawaban dari okaa-chan

"Hiks, hiks… KAA-CHAAAAAAAAN!"

VVVVVVVVV

V…( T )…V

VVVVVVVV

V…()…V

VVVVVV

V…( B )…V

VVVVVV

V…()…V

VVVVVVVV

V…( C )…V

VVVVVVVVV

Chapter 06 end

Jika ada typo harap di maafkan, karena tidak bisa di hindari.

Have a good day everyone.

Semoga para reader sehat selalu kedepannya.

Sekian dari saya, harap tunggu pengumuman chapter depannya yah reader ;)

Saya hikarinoyami13 logout