"Sasuke-kun...," gumam Ino sambil mengulurkan tangan kiri untuk meraih apapun di dekatnya.
"Gawat!" Ino membatin.
Putri Yamanaka itu bersiap mengalirkan chakra di telapak kakinya.
Melihat Ino tergelincir, Sasuke sigap berlari mendekat. Sebelum tubuh Ino benar-benar berakhir jatuh di tanah, Sasuke lebih dulu meraih pergelangan tangan wanita itu yang terulur ke arahnya. Begitu Sasuke bisa meraihnya, ia langsung menggenggam tangan Ino dengan erat.
Selama beberapa detik, Sasuke dan Ino berada di posisi yang sama. Sasuke memegangi sebelah tangan Ino, sementara posisi wanita itu masih menggantung di pinggiran gedung. Keduanya saling memandang, tepat pada masing-masing netra yang berlawanan warnanya –gelap dan terang. Hingga akhirnya alam mengusik mereka seolah tak ikhlas jika Ino berlama-lama memandangi Sasuke, begitu pula sebaliknya.
Wuuuuush!
Angin berembus lebih kencang daripada biasanya. Angin itu membawa terbang butiran pasir hingga mengenai mereka. Ino refleks memejamkan kedua matanya saat butiran pasir itu menerpa wajahnya. Ini sih bukan lagi angin biasa, tetapi sudah mirip seperti badai.
Sret! –Sasuke segera menarik Ino ke atas dan sengaja mundur beberapa langkah untuk menjauh dari pinggiran atap gedung itu.
Meskipun Ino sudah berdiri dengan kedua kakinya, Sasuke seolah enggan menyingkirkan tangan kanannya yang melingkar di pinggang wanita itu.
Sementara itu, di tempat yang berbeda...
"Gaara, aku yakin kau sudah selesai dengan gulunganmu itu, jadi cepatlah kemari," panggil Kankurou.
Mendengar panggilan itu, Gaara hanya menoleh. Ia tidak bisa menebak hal apa yang membuat Kankurou memanggil dirinya, sebab kakak laki-lakinya itu terlihat tidak melakukan apapun yang penting. Ahli kugutsu itu hanya berdiri sambil melihat keluar jendela. Lalu apa yang menarik?
"Hei, cepat! Gaara, sempatkan waktumu sebentar untuk melihat mereka!" paksa Kankurou karena Gaara tidak berkutik sedikit pun dari tempatnya.
Dahi Gaara mengernyit. Ia mulai penasaran karena Kankurou menyebut kata 'mereka'. Siapa yang membuat kakak laki-lakinya itu penasaran sampai memaksanya untuk segera melihat objek yang dimaksud?
"Gaara! Mereka berciuman!" panggil Kankurou heboh sendiri.
Akhirnya Gaara bangun dari kursi kerjanya dan ia menghampiri Kankurou. Kini kedua pria itu tengah berdiri di depan salah satu jendela yang ada di ruangan kage.
"Itu Ino, 'kan? Aku tidak salah lihat? Dan itu Si Uchiha." Kankurou sengaja membuka jendela agar tangannya bisa keluar dan menunjuk ke arah salah satu gedung.
Pandangan Gaara mengikuti arah yang ditunjuk oleh Kankurou. Di salah satu gedung di bagian Timur desanya, Gaara melihat seorang laki-laki dan perempuan sedang berdiri berdekatan. Meskipun dari jauh, Gaara tetap bisa melihat jika kedua orang itu sedang berpelukan. Itu juga berkat bulan yang bersinar terang malam ini, jadi Gaara masih bisa melihat meskipun jaraknya cukup jauh. Lagipula rambut panjang berwarna pirang platinum itu sangat identik dengan Ino. Di Suna tidak ada perempuan lain yang rambutnya panjang hampir menyentuh tanah.
"Beberapa menit yang lalu mereka berciuman. Aku yakin 100% jika siluet mereka hampir menyatu, Gaara! Kau tidak mempermasalahkan itu?" Kankurou menoleh sebentar ke arah Gaara.
Dua orang yang sedang diperhatikan oleh Gaara mulai memisahkan diri. Namun, sedetik kemudian Si Laki-laki yang diketahui adalah Sasuke itu malah melemparkan jubah ke arah Ino.
"Aku harap ulah kalian membuahkan hasil. Dengan begitu kau akan segera memiliki anak darinya, meskipun tidak dengan ibunya. Itu misi utama kita," kata Kankurou.
"Maksudmu?" tanya Gaara sambil menoleh ke arah Kankurou.
Kankurou mengernyit.
"Aku harus menjelaskannya secara detail?" Kankurou tampak tak suka.
Gaara hanya mengangguk.
"Hah…." Sejenak Kankurou menghela napasnya dengan malas.
"Kau sudah ini itu dengannya, 'kan?" Kankurou menggunakan gestur tangan kanan dan kiri yang ditempelkan beberapa kali –dan ia mengerucutkan jemarinya.
Meskipun ditanya, Gaara terlihat tidak mau menjawabnya. Itu terlalu privasi. Namun, ia malah mengajukan pertanyaan lain.
"Tahu darimana?" tanya Gaara.
"Menguping pembicaraanmu dengan Temari. Kau membentaknya sangat keras. Pasti ruangan sebelah juga mendengarnya," jawab Kankurou dengan santai.
"Dan setelah Ino hamil, kau akan memiliki anak. Dia memang anakmu seutuhnya, tetapi aku jamin Ino lebih menyukai Si Uchiha itu. Atau dugaan terburuknya, wanita itu lebih memilih kabur dengan pria lain. Dia akan melupakanmu meskipun kau adalah ayah dari bayi yang ia kandung. Kau bakal sakit hati tidak? Entah kabur sebelum, saat, atau sesudah. Bayangkan jika anak itu lahir dengan rambut merah, tetapi dia menyandang klan Uchiha di belakang namanya. Kau bahkan tidak akan dianggap," cecar Kankurou.
"Suatu saat nanti anak itu akan datang sebagai perwakilan dari shinobi Konoha dan memanggilmu Kazekage-sama, bukan Tou-sama." Ahli kugutsu itu terus memanas-manasi adiknya.
Setelah apa yang dilalui Gaara, Kankurou mencoba untuk mengompori adiknya itu. Barangkali hati adiknya itu akan sedikit goyah agar rencana mereka tidak gagal.
"Di dalam tubuhnya memang mengalir darah klan Kazekage, tetapi dengan bangga dia malah memamerkan lambang Uchiha di punggungnya. Ironi," lanjut Kankurou.
Beberapa jam yang lalu Gaara baru saja menerima surat dari Hakuto. Bukan surat cinta karena isinya adalah cacian dan hinaan untuk Sang Kazekage.
'Kau adalah orang paling egois yang pernah aku temui. Jika kau mencintaiku, mengapa kau tidak membiarkanku bahagia? Berhenti menjadi pecundang, naif, dan bodoh! Segera lepaskan aku! Aku ingin menemui suamiku dan kami akan menyambut kelahiran bayi kami! Kau hanya benalu dalam hubungan kami, Kazekage! Kau bahkan tak pantas mendapatkan cinta dari perempuan manapun! Pemimpin Boneka! Salam penuh kebencian, Hakuto.'
Suatu keberuntungan bagi Kankurou bisa membaca surat itu. Sesuai dengan permintaannya, Gaara ingin menemui Hakuto untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja. Namun, para tetua tidak mengizinkannya. Sebagai gantinya, Hakuto diminta menuliskan surat untuk Gaara. Dan begitulah isinya. Dari surat itu, terlihat jika Hakuto sangat membenci Gaara dan wanita itu tidak lagi menghormati Sang Kazekage seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Aku pikir dia adalah wanita yang polos, ternyata tidak. Dia bisa merayu orang lain meski sudah tidur dengan orang nomor satu di Suna. Wanita yang menarik tetapi bodoh," hina Kankurou.
"Apa dia akan mengangkang untuk pria itu juga?" Hinaan Kankurou kali ini jauh lebih kasar.
Pemandangan itu tidak lagi menarik bagi Kankurou. Saat ia melihat Ino dan Sasuke tidak lagi berdekatan, ahli kugutsu itu memilih untuk mengakhiri pengintaiannya. Dan sama seperti Kankurou, Gaara ikut melengos. Pria itu pergi dari ruangannya tanpa berpamitan dengan Kankurou yang sekarang terlihat puas. Kankurou merasa aksi mengompori adiknya itu berhasil.
Tidak biasanya Gaara meninggalkan pekerjaan di jam-jam malam seperti ini. Seperti sebuah kebiasaan, pria itu betah duduk diam di kursinya sambil menghadap beberapa gulungan yang perlu diselesaikan. Namun, kali ini pria itu pergi ke salah satu kedai untuk membeli tiga botol sake sekaligus. Tolong catat, Gaara tak pernah mengunjungi kedai untuk minum-minum. Dia tidak terlalu suka minum sake, kecuali untuk formalitas jika ia sedang menyambut tamu-tamu penting dari desa lain.
Awalnya pemilik kedai ragu memenuhi apa yang diinginkan Gaara, tetapi tatapan datar pemimpinnya itu terlihat sangat dingin dan menakutkan. Sebab tak ingin menerima konsekuensi karena telah menolak permintaan kazekage, akhirnya pemilik kedai itu memberikan tiga botol sake dan sebuah ochoco –cangkir kecil berwarna putih untuk meminum sake.
"Gaara, stop!"
Kedatangan Temari cukup membuat gaduh kedai itu. Temari langsung berteriak begitu ia tiba, tepatnya di ambang pintu kedai. Baru setelah itu, ia berlari ke meja Gaara dan langsung menahan tangan adik bungsunya itu sebelum meneguk sake dari cangkirnya. Gaara baru saja selesai menghabiskan dua botol sake dan sekarang ia hampir meneguk botol yang ketiga.
"Kau gila! Ini sudah berlebihan!" bentak Temari.
Temari mengambil paksa cangkir sake dari tangan Gaara dan langsung menyingkirkan botol-botol yang lainnya dari hadapan adik bungsunya itu. Ia pastikan Gaara tidak dapat menjangkaunya lagi.
"Temari, jangan ikut campur," kata Gaara.
"Aku kakakmu! Bagaimana aku bisa membiarkan ini? Aku tau kau tidak suka sake dan itu tidak sehat untukmu!" Kini giliran Temari yang memarahi Gaara.
Gaara tidak menanggapi itu, bahkan ia tidak sedikit pun melihat ke arah Temari.
"Apa yang harus aku katakan kepada Ino?! Dia akan mengkhawatirkanmu, Baka!"
Baru setelah mendengar nama Ino disebut, Gaara menatap sepasang mata Temari.
"Dia tidak ada kaitannya dengan hidupku," balas Gaara.
"Tidak ada katamu?" Temari langsung mencengkeram kerah baju Gaara dan menariknya mendekat.
Posisi mereka sekarang sangat dekat. Temari sengaja melakukannya karena ia tidak ingin pembicaraannya diketahui oleh orang-orang di kedai itu. Temari yakin jika saat ini keduanya menjadi pusat perhatian. Semua mata tengah tertuju ke arah mereka. Namun, dari segelintir orang di sana, tidak ada yang berani mengusik keluarga bangsawan itu.
"Meskipun kau pergi setelah menidurinya dan kita telah membohonginya sampai sejauh ini, dia masih saja peduli denganmu. Beristirahatlah saat kau lelah, itu pesan yang ingin Ino sampaikan kepadamu," bisik Temari tepat di telinga Gaara.
"Dan apa yang sekarang kau lakukan? Setelah menerima surat penuh hinaan dari Hakuto dan melihat Si Uchiha lebih dulu bertindak, kau hanya bisa mabuk-mabukan seperti ini?" cibir Temari, masih dengan suara pelannya.
Puas berbisik di telinga Gaara, Temari segera menyingkir dari dekat adik bungsunya tetapi ia sama sekali tidak melepaskan cengkeraman pada kerah bajunya.
"Kemari!"
Tanpa mempedulikan citra kazekage, Temari menyeret Gaara keluar dari kedai itu. Ia menarik Gaara ke tempat yang lebih sepi agar orang-orang tidak menguping pembicaraan mereka.
"Sekarang mana yang mengusikmu?! Surat itu atau kau tidak terima Ino lebih memilih bersama Sasuke?" cecar Temari sambil melepaskan cengkeraman pada kerah baju Gaara.
Tidak seperti Temari karena ia sebenarnya sangat menghormati adiknya. Namun, ia tidak bisa diam dan membiarkan Gaara kehilangan dirinya. Temari hampir tidak mengenali Gaara sejak rencana pernikahan itu dicetuskan.
"Jawab aku Gaara! Apa isi surat itu mengusikmu?" tanya Temari.
"Tidak," jawab Gaara.
"Lalu…. Apa kedekatan Ino dengan Sasuke mengganggumu?" tanya Temari lagi.
Temari tahu semuanya dari Kankurou. Saat ia tiba di ruangan kage, ia dikejutkan dengan kenihilan Gaara di kursi kerjanya. Saat itulah Kankurou menceritakan semuanya kepada Temari. Dan berkat laporan dari anak pemilik kedai, Temari tahu keberadaan adik bungsunya itu.
Gaara hanya diam.
Melihat kebungkaman itu, seulas senyum samar menghiasi wajah Temari.
"Kau pasti bertanya-tanya apa yang salah di dirimu, 'kan?" tanya Temari.
Temari sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Kau sedang cemburu, Gaara," lanjutnya.
Dan di sisi lain…. Kira-kira beberapa menit yang lalu... Apa yang dilihat Kankurou dan Gaara, tidak seperti apa yang mereka pikirkan.
Masih dengan posisi yang sama dan dari jarak se-dekat itu, Sasuke mengamati wajah Ino yang sedang terpejam. Ia masih melingkarkan tangan kanannya di pinggang wanita itu.
"Aw..." keluh Ino.
Ino tak terlalu fokus sebab mata kirinya saat ini sedang kemasukan debu yang terbawa oleh embusan angin tadi. Ia sibuk mengusap matanya yang mulai terasa perih.
"Buka matamu," perintah Sasuke.
Ino menuruti perintah itu tanpa protes sedikit pun. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa perih.
Saat netra sebiru lautan itu terbuka, Sasuke mendekatkan wajahnya. Ino sedikit panik waktu itu. Ia pikir Sasuke akan melakukan sesuatu. Hah, mengharapkan apa kau Ino? Kenyataannya Sasuke hanya ingin meniup pelan mata Ino untuk menyingkirkan debu yang masuk ke matanya. Meskipun hanya sebatas itu, jantung Ino berdegup lebih cepat dan pipinya memerah samar.
Setelah meniup mata kiri Ino beberapa kali, Sasuke kembali berucap, "Kedipkan matamu beberapa kali," perintahnya.
Ino mengikuti perintah Sasuke. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, baru setelah itu ia tidak lagi merasakan sakit karena debu yang mengganjal di matanya sudah hilang.
"T-Terima kasih," ucap Ino dengan gugup.
Menyadari posisi mereka begitu dekat, Ino sengaja mundur beberapa langkah.
"Hati-hati." Sasuke memperingatkan Ino.
"Ah, ya," balas Ino.
Ino sempat menoleh untuk memastikan jika ia berdiri di tempat yang aman dan tidak seperti sebelumnya. Jangan sampai kejadian beberapa menit yang lalu terulang kembali.
Setelah itu hening sesaat. Ini tidak seperti biasanya karena Ino seharusnya bisa menjadi lebih cerewet melebihi Sakura. Namun, kalau dengan Sasuke mana bisa? Mengatur degup jantung agar kembali normal saja susah, apalagi harus banyak bicara.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Akhirnya Ino buka suara karena ia tidak mau terus-terusan berada di situasi kaku seperti itu.
Andai saja Sasuke tipikal laki-laki yang suka merayu perempuan, ia akan mengatakan yang sejujurnya. Selain karena Sasuke ingin berbicara dengan Gaara mengenai beberapa hal, ia juga ingin memastikan kondisi Ino aman di Suna. Sayangnya itu tidak akan ia katakan secara terang-terangan.
"Urusan politik," jawab singkat Sasuke.
"Oh..." Tak tahu harus menanggapi apa, Ino hanya meresponsnya dengan asal-asalan.
Lagipula Ino tidak memiliki hak mengulik lebih dalam soal urusan politik yang dikatakan Sasuke, kecuali jika laki-laki itu ingin memberitahunya secara suka rela.
Tiba-tiba saja Sasuke melakukan sesuatu yang membuat Ino mengernyit heran. Sasuke tiba-tiba melepas jubah hitamnya tanpa mengatakan apapun.
"A-Apa yang ingin dia lakukan? Telanjang di depanku?" batin Ino was-was.
"Aish! Apa sih yang kamu pikirkan?! Tidak mungkin!" batinnya lagi.
Kedua mata Ino terbelalak saat Sasuke melemparkan jubah itu ke arahnya. Meskipun kedua tangan Ino sudah bersiap menangkap, jubah itu malah jatuh tepat di atas kepala dan menutupi setengah tubuhnya.
"Sasuke-kun?" Ino bertanya sambil menyingkirkan jubah itu dari atas kepalanya.
"Kenapa?" tanya Ino.
"Pakai itu. Sekarang," jawab Sasuke sambil melengos.
Sasuke melakukan apa yang tadi dilakukan oleh Ino. Sang Uchiha terakhir duduk di pinggiran atap gedung sambil melihat lurus ke depan. Kakinya ia biarkan menggantung bebas dan ia menikmati embusan angin malam di Suna yang cukup dingin itu.
Kernyitan alis Ino makin kentara, tetapi wanita itu tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Sasuke. Semua perkataan Sasuke seolah seperti sihir yang mampu menggerakkan tubuhnya.
Ketika Ino hendak mengancingkan kerah jubahnya, ia baru sadar jika syal yang melingkar di lehernya sudah tidak ada. Tepat di detik itu juga mata Ino kembali melotot.
Sekarang Ino tahu kenapa Sasuke menyuruhnya menggunakan jubah itu. Kerah jubah itu tinggi sampai menutupi leher. Jadi Sasuke meminta Ino memakainya agar orang lain tidak melihat bekas kissmark di lehernya.
"Pasti karena angin itu," gumam Ino.
Angin sialan itu telah menerbangkan syal milik Ino dan ia tidak menyadari itu.
Kedua pipi Ino kembali memerah hebat. Bukan karena ia sedang salah tingkah di depan Sasuke, tetapi ia malu. Mereka sama-sama sudah dewasa, jadi Sasuke pasti bisa menebak apa yang telah Ino lakukan.
"Aish! Bagaimana ini? Dia pasti tau tanda apa ini dan mulai berpikir jika aku wanita yang murah—argh! Seharusnya aku mengikatnya dengan kuat, biar mati sekalian!" batin Ino frustasi.
Ino ingin menghilang sekarang juga. Tahu begitu, lebih baik tadi ia jatuh sekalian kalau begini akhirnya.
"Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan singkat itu membuyarkan lamunan Ino. Mau tak mau Ino menoleh dan harus meladeni pertanyaan itu agar Sasuke tidak semakin salah paham terhadapnya.
"Em... baik," jawab Ino.
Ino sempat mengembuskan napasnya perlahan untuk menenangkan diri. Anggap saja Sasuke tidak pernah melihatnya atau jangan berpikir jika Sasuke peduli dan berlagaklah acuh! Begitu pikir Ino. Ia mencoba berpositif thinking.
"Lalu, bagaimana denganmu? Tidak melakukan perjalanan penebusan dosamu itu?" tanya balik Ino.
Ino tahu banyak hal soal Sasuke dari Sakura. Atau bahkan ia mencari tahu sendiri dengan caranya.
"Aku akan pergi besok," jawab Sasuke.
Ino menanggapinya dengan anggukan kepala dan tak berharap Sasuke melihat responsnya itu.
"Ino," panggil Sasuke.
Tubuh Ino sedikit menegang. Selama ini Sasuke tidak pernah memanggil atau memperhatikannya, tetapi kali ini laki-laki itu bersikap lembut dan Ino menyukainya.
"Ya?" Ino melangkah mendekat ke arah Sasuke, tetapi ia tak sampai berdiri sejajar dengannya, melainkan hanya di belakang laki-laki itu.
"Ikutlah bersamaku," lanjut Sasuke.
-to be continued-
Done! Sebagai fans SasuIno garis keras tapi bisa mleyot juga, aku senyam-senyum pas nulis part SasuIno TwT. Enggak dosa, 'kan, ya? Tolong jangan amuk aku ehehehe. Gaara sudah mulai tantrum, nih, ahahah. Honestly, aku puas banget lihat Gaara mulai tantrum dikit. Pokoknya happy reading, readers~
~Sesi ngobrol~
Inzaghi: Aduh, padahal udah overthinking sekali aku TwT.
Mikaluna: Halo~ Aku sedang menggebu-gebu ehehehe. Gimana-gimana? Cukup, 'kan? Jangan lagi? Nanti makin hareudang xD. Omo~ makasih banyak, ya. Ada tuh, yang ini bukan Bang Toyib soalnya ahahaha. Enaknya gimana? Tapi aku udah plotnya, kok. Iseng tanya pendapat aja. Enak tuh tapi, jadi janda kaya raya mana cantik, nanti banyak yang ngantre xD.
Evil Smirk of the Black Swan: Lebih cepat dari sopiekpres, 'kan? xD. Sama-sama, ya. Sesuai kesepakatan abis chapter ini mau mogok dulu xP. Butuh digetok dulu, nanti dia baru peka. Kalau soal vitamin, aku diem aja deh. Nanti ada juga jawabannya xP. Kamu soal nebak-nebak gini jago juga ya mikirnya. Sasuke Kang Mata-Mata dia xD.
Ulin18: Halo, Kak. Pukul aja, Kak. Ikhlas ehehehe.
See you next chapter~
