The Admiral
NARUTO: Masashi Kishimoto
AZUR LANE:
Warning: Typo, OOC, DLL
Start Story
Note:
Maaf ya agak lama, saya memutuskan untuk merombak dari chapter ini , karena kemarin dirasa terlalu cepat. Saya ingin mengubah dari chapter sebelumnya, lebih tepatnya di bagian akhir itu tapi sayangnya file saya sudah terhapus. Jadi anggap saja scene terakhir itu tidak ada ya. See you dan mohon maaf.
Di kantor eksekutif bagi petinggi aliansi, Para petinggi Royal Navy dihadiri oleh pemimpin Royal Navy sendiri serta Wales dan Illustrious, lalu ada Eagle Union yang diwakili oleh Cleveland sebab Enterprise sedang dirawat, duduk membahas beberapa masalah yang tak lain itu menyangkut salah satu orang yang menarik perhatian pangkalan dalam Minggu ini, dan menjadi pantauan beberapa eksekutif dari aliansi ini.
"Jadi, kau mengatakan kalau anak muda ini ditemukan berdiri di tengah lautan seorang diri, dikelilingi oleh banyak bangkai Siren di saat yang sama di ketika anomali malam itu?"
Pertanyaan itu datang dari gadis mungil berambut pirang yang duduk di sana, dari penampilannya yang menggunakan mahkota sudah menyiratkan bahwa posisi yang dia pegang merupakan sesuatu yang vital. Matanya dengan saksama terus memperhatikan laporan dari bawahannya yang telah bertugas di aliansi sejak semua ini dimulai.
Wales, yang kini menjadi pengawas sementara aliansi sebagai wakil Royal Navy mengangguk sebagai konfirmasi atas laporan yang telah dia buat, "Itulah yang dikatakan Nyonya Enterprise pada saya. Tidak hanya itu, dia juga membantu Kami memukul mundur Akagi dan Kaga dari Sakura Empire, lalu yang terakhir dia membantu Squad Hornet dari penyergapan, yang entah bagaimana caranya dia bisa tepat waktu tiba di sana. Lalu..."
Wales menjeda penjelasannya, ia melirik dan mengirim anggukan kecil ke arah Cleveland yang berada di sampingnya. Gadis dari Eagle Union tersebut sejak dari tadi membawa sesuatu yang tertutupi oleh kain. Memahami isyarat dari Wales, gadis berperawakan mungil itu menyodorkan apa yang dia pegang ke atas meja.
Pada saat kain itu dibuka, hampir setiap pasang mata yang ada di sini membulat selebar-lebarnya. Tidak ada yang menyangka, bahwa benda yang sejak tadi Cleveland bawa adalah sesuatu yang diluar dugaan seperti ini. Untuk sesaat, semua yang ada di dalam ruangan itu diam memperhatikan benda di atas meja. Sampai seorang gadis di belakang Elizabeth bersuara.
"T-tangan?"
Cleveland mengangguk memberikan konfirmasi yang sudah pasti, "Ya benar, ini adalah tangan dari Sirene kelas atas Naruto lawan beberapa waktu lalu. Dia membuat Sirene itu pergi sambil meninggalkan tangannya di sini saat Wales tiba di sana."
Tak percaya, mungkin itulah kata yang menggambarkan raut wajah dari setiap orang yang hadir di sini. Cleveland dapat mengerti itu, dia mungkin tidak akan percaya ini jika saja bukan Wales yang mengatakan kejadian itu padanya, dan yang lebih mengejutkan lagi baginya adalah mengetahui kalau Naruto melakukan itu di saat lukanya belum benar-benar pulih.
Dahi Elizabeth berkerut memikirkannya, cara Wales melaporkan ini seolah mengatakan kalau Sirene tertarik dengan orang Naruto ini, dirinya mencoba memikirkan berbagai kemungkinan tapi tetap saja tak mengerti dengan semua ini.
"Apa kau telah memastikan bahwa dia dia manusia... Lebih tepatnya, apa kau yakin dia bukan mata-mata Sirene?" seorang gadis mungil dengan pedang besar berdiri di belakang Elizabeth layaknya seorang pengawal. Dia jelas menaruh kecurigaan pada Naruto dalam hal ini.
Matanya lalu menyipit ke arah Wales dengan tatapan seolah bahwa dirinya kesal dan tak percaya dengan keputusan Wales untuk membiarkan Naruto berkeliaran bebas di pangkalan, "Dan kau memberi Izin pada orang yang belum jelas musuh atau kawan untuk leluasa di markas ini? Aku harap kau punya penjelasan untuk ini, Wales."
Elizabeth menyandarkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan sebagai tumpuan, "Tenanglah, Warspite. Seperti dirimu, Warspite adalah salah satu bawahanku yang paling kupercayai dan pintar. Karena itulah aku menunjuk dia sebagai wakil Royal Navy di pangkalan ini. Aku yakin dia sudah mempertimbangkan setiap keputusan yang dibuatnya."
Meskipun mengatakan demikian, tapi tatapan Elizabeth langsung mengarah ke matanya dengan tatapan yang dalam, yang seolah juga meminta penjelasan terkait masalah ini. Wales mengangguk, sebulir keringat kecil kecil meluncur bebas di pipinya. Jika boleh jujur, sisi ratunya yang serius ini cukup memberi intimidasi dari yang biasanya.
"Percayalah yang mulia, saya dan Miss. Cleveland telah memikirkan kemungkinan ini sejak awal. Tapi kita juga perlu mengingat bahwa pemuda ini juga cukup berjasa bagi pangkalan dari dua hal yang saya sebutkan tadi. Terlebih, pemimpin Eagle Union sendiri yang membawanya ke sini sehingga dia berada di bawah jaminannya."
Elizabeth menghela nafas, tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran kapal berjuluk Gray Ghost itu. Dia tahu kalau Enterprise belum lama ini diangkat jadi pemimpin bagi Eagle Union, tapi setidaknya dirinya bisa berharap wanita itu bisa melakukan yang lebih baik dari pada membawa ancaman potensial ke markas ini.
"Itu adalah alasan dan resiko paling bodoh yang pernah aku dengar dari mulutmu, Wales!" Warspite menyalak tak terima dengan penjelasan yang diberikan oleh Wales untuk ratu mereka.
Tindakannya ini mungkin kasar Bagis seorang dari fraksi yang terkenal bermartabat dan anggun, tapi perlu diingat bahwa dirinya juga menjabat sebagai kesatria dan pengawal pribadi Queen Elizabeth, sehingga alasan seperti ini tak bisa ia terima dengan mudah karena menyangkut keamanan seluruh anggota yang ada pangkalan aliansi.
Cleveland yang ada di sana juga merasa sedikit tersinggung atas perkataan Warspite barusan, Enterprise lah yang mengambil andil paling besar dalam hal membawa Naruto ke pangkalan ini, dan bagaimana pun juga Enterprise tetaplah pemimpin bagi fraksinya. Dia mengerti kekhawatiran kesatria dari Royal Navy tersebut, tapi perkataannya tetap saja membuat dirinya kesal karena secara tidak langsung dia juga mengatakan kalau pemimpin mereka itu bodoh. Lagi pula, Naruto telah menolong mereka dua kali.
Tak hanya saat di pangkalan, tapi dia membantu Enterprise di saat terdesak yang hampir membuatnya karam bahkan hingga menjadikan tubuhnya sendiri tameng hidup. Dia menyelamatkan pemimpin mereka dan Hornet, hal itu saja sudah cukup untuk mendapatkan sedikit rasa hormat dan kepercayaannya. Enterprise lah yang membawa Naruto ke sini. Mungkin terdengar aneh, tapi dia selalu percaya pada Enterprise.
Menyadari ketegangan yang ada, Elizabeth buru-buru mengalihkan suasananya agar tak terjadi masalah yang tak perlu dalam pertemuan ini. Ia lantas menoleh pada Illustrious yang sejak tadi hanya diam di sana sembari menikmati tehnya. Sejak tadi wanita itu hanya menonton diskusi ini tanpa memberikan sedikit pun pendapatnya.
"Lalu bagaimana denganmu, Illustrious. Bagaimana dengan pendapatmu tentang masalah ini?" tanya Elizabeth.
Dengan pelan dan anggun wanita berdada itu meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya kini tidak tampak di sini,
" Sir Warspite membuat poin yang adil di sini. Membiarkan seorang yang belum tentu adalah sekutu adalah sebuah kebodohan yang bisa menghancurkan kita dalam sekejap saja. Apalagi dengan asal-usul yang tidak jelas seperti ini..." Illustrious menjeda ucapannya, matanya melirik setiap hadirin di tempat rapat ini, yang mana dapat dengan jelas ia melihat bahwa beberapa di antara mereka mengerutkan kening.
"...Akan tetapi, bagaimana jika dia bukan musuh? Anak itu bisa menjadi sekutu yang sangat potensial bagi kita dalam menghadapi Sirene. Aku sudah bertemu dengannya secara langsung, dan tidak ada 'Bau' Sirene yang datang darinya. Mengabaikan kemampuan anehnya, dia terlihat lebih seperti seorang manusia. Dan perlu juga diingat, nyonya Enterprise bukanlah pejuang amatiran, dia tidak akan membawa sesuatu yang bisa menjadi ancaman tanpa alasan yang jelas. Penilaian dan kepemimpinannya telah membuat Eagle Union tetap bertahan hingga saat ini bahkan setelah kakaknya harus melalui perawatan jangka panjang."
Semuanya hanya terdiam, Illustrious telah memberikan poin yang bagus di sana. Meskipun belum dapat ditentukan apakah Naruto adalah kawan, tapi belum tentu juga dia adalah musuh. Perang melawan Sirene ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan hanya berjalan di tempat saja sejak mereka berhasil memukul mundur dan membuat sebagian besar perairan manusia dapat direbut kembali, tapi setelah itu semuanya mulai semakin sulit ditambah dengan perpecahan diantara mereka sendiri. Tidak ada kemajuan yang signifikan mengenai ini.
Berkah atau kutukan, Naruto mungkin bisa menjadi jalan keluar bagi mereka terhadap masalah ini. Jika dia memang bukan musuh dan mereka bisa menariknya ke dalam pihak aliansi Azur Lane, maka kekuatannya bisa digunakan untuk mengubah alur peperangan ini.
Elizabeth sedikit berpikir, meskipun dia kurang menyukai Illustrious karena masalah yang agak pribadi tapi ada alasan mengapa wanita itu duduk dalam jajaran kebangsawanannya. Kecerdasan dan Intuisinya sungguh tidak bisa diremehkan, bahkan dalam dewan Royal Navy sekalipun pendapat wanita berdada itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Illustrious membuat senyum kecil ketika dirinya merasa bisa sedikit meyakinkan mereka, sekarang hanya tinggal menambah sedikit bumbu pelengkap saja, "Dan aku yakin Wales dan Miss Cleveland tidak akan mengambil tindakan ini tanpa antisipasi."
Wales mengangguk walaupun secara tersirat itu adalah ucapan terima kasih untuk Illustrious, "Seperti yang dikatakan oleh Illustrious. Kami tidak bisa begitu saja menolaknya karena bantuannya cukup berarti ataupun memberi kepercayaan begitu saja kalau dia bukan musuh. Oleh karena itu, saya dan Cleveland menaruh penyadap suara terhadapnya. Baik di seragam kerjanya, maupun di kamarnya tanpa diketahui dan ini selalu dipantau 24 jam sebagai bentuk pengawasan."
Seolah membuktikan ucapannya, Wales menyodorkan beberapa kaset rekaman di atas meja, "Ini adalah rekaman suara dan kamera tersembunyi yang digunakan untuk memantau Naruto selama beberapa hari. Kalian bisa mengeceknya sendiri nanti. Dan belum ada petunjuk yang mengarah bahwa dia adalah mata-mata ataupun memiliki niat jahat. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan."
"Kami juga menugaskan beberapa pelayan yang sengaja ditempatkan untuk 'mengajarinya' dalam bekerja di sini sebagai dalih untuk mengawasi setiap gerak-geriknya," Cleveland menambahkan.
Elizabeth harus memuji Cleveland dan Wales untuk ini. Itu mungkin adalah keputusan yang tepat untuk saat ini mengingat masih terlalu cepat jika menyimpulkan bahwa Naruto adalah musuh. Lagi pula, seperti yang dikatakan oleh Illustrious jika Naruto tidak memiliki niat jahat, maka saat ini Pemuda itu adalah Wild card yang lebih condong ke arah mereka dan bisa menjadi sekutu potensial... Mungkin, lebih dari itu.
Sang ratu kembali menegakkan badannya, "Penjelasan Wales dapat diterima. Untuk saat ini, kita masih belum bisa menentukan apapun tentang pemuda ini dan hanya bisa kita awasi saja, dan sampai saat itu, pertemuan ini kita tunda untuk sementara waktu..." raut wajah Elizabeth kembali menegakkan bahwa dirinya sangat serius, tatapannya yang dalam langsung diarahkan ke Wales. "Namun, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka itu akan menjadi tanggung jawabmu." ujarnya dengan penekanan
Di bawah tatapan Elizabeth yang mengintimidasi, Wales meneguk ludahnya. Dirinya tentu tahu maksud Elizabeth, jika Naruto melakukan sesuatu yang aneh, maka dirinya juga harus menanggung akibatnya dan sebagai orang yang memberi izin Naruto berada di sini maka dia bisa saja dikenakan hukuman yang sama bagi seorang penghianat, mengingat dirinya juga memiliki andil dalam memberi izin Naruto untuk tinggal di sini. Hal itu jelas akan mempermalukan nama Royal Navy jika sampai terjadi, mengingat posisinya di sini.
"Saya mengerti, Yang mulia," ujarnya saat dirinya juga berusaha mempertahankan wibawa dan ketenangan di depan ratunya.
"Yang mulai, tanpa mengurangi rasa hormat saya-" Elizabeth langsung menyela ucapan Warspite.
"Aku mengerti kekhawatiran Anda, Sir Warspite, tapi aku juga percaya pada penilaian Wales dan Illustrious. Selain itu, pangkalan ini memiliki persenjataan terlengkap, dan personel yang siap dikerahkan jika saja orang itu berani macam-macam. Satu orang tidak akan bisa apa-apa jika melawan satu pangkalan ini," ujar Elizabeth dengan keyakinan penuh...itu yang dia yakini.
Warspite hanya diam dan memberikan tundukan kepala sebagai penghormatan atas keputusan akhir sang ratu. Jika sudah seperti itu, maka dirinya hanya bisa patuh dan mempercayakan sepenuhnya pada penilaian Elizabeth.
Postur Elizabeth menjadi santai saat punggungnya bersandar di kursinya dan tangan bersilang di belakang kepala. Dia menguap, "Baiklah, rapat kali ini kita akhiri. Kalian semua boleh pergi," ujarnya dengan gestur tangan yang mengusir.
Wales dan Illustrious menundukkan kepala, selain Cleveland yang hanya memberikan anggukan saja. Mereka hanya tersenyum geli atau kecut saat melihat Elizabeth telah kembali ke sifatnya yang biasa. Hilang sudah sifat wibawa dan intimidasi yang sempat dia tunjukan saat pertemuan tadi.
"Terima kasih, Yang mulia. Kalau begitu kami permisi," ujar Wales mewakili mereka bertiga saat meninggalkan ruangan untuk kembali pada tugas mereka masing-masing, kecuali Warspite yang setia di sisi Elizabeth.
"Cih dasar, akhirnya mereka pergi juga. Dada besar mereka sejak tadi membuat aku sulit bernafas. Pasti karena karena mereka perlu lebih banyak oksigen untuk dada mereka!" Elizabeth menggerutu, membuat Warspite hanya menghela nafas saja. Dia bertanya-tanya , ke mana wibawa yang ratunya tunjukkan tadi pergi?
Sementara itu, Elizabeth juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Walaupun saat ini status Naruto di matanya belum begitu jelas tapi dirinya berharap anak muda itu bukanlah musuh. Meskipun dia ingin mempercayainya dan keputusan Enterprise, tapi sebagai pemimpin fraksinya ia harus memastikannya.
-xXx-
Di dermaga di waktu yang sama, Naruto sedang duduk di tepi. Meraih rokok, mengangkatnya ke bibirnya dengan gerakan yang hampir otomatis. Api kecil pada ujung rokoknya menyala terang sejenak, menerangi wajahnya yang dipenuhi dengan raut yang cemberut. Dalam satu hembusan nafas, dia mengeluarkan semua asap beracun yang tadi ia simpan di paru-parunya.
Naruto tertawa getir, sebelum wajahnya kembali cemberut. Jika dipikir-pikir dirinya yang biasa bukan seorang perokok, mungkin banyak orang di Konoha yang mengenalnya sebagai periang tapi terkadang beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya membuat sedikit membutuhkan barang tercela ini untuk mengatasi frustasinya. Pekerjaannya adalah Shinobi, banyak hal yang membuatnya hampir gila ataupun terpuruk. Ia hanya melakukan ini saat dirinya sendiri dan merasa butuh saja agar tak menjadi pecandu. Yah, entah dia harus menyalahkan Shikamaru atau berterimakasih padanya nanti.
Matanya kembali fokus, pandangannya yang penuh makna bergeser dari ombak menuju langit malam yang penuh dengan bintang. Teringat padanya kampung halamannya di Konoha, tanah kelahiran yang nasibnya kini tak ia ketahui lagi bagaimana. Seperti tingginya bintang di langit, Jalan pulang ke dimensinya ia rasa akan sulit di gapai. Naruto kembali mengisi paru-parunya dengan asap, sebelum membuangnya kembali.
"Wajahmu tampak murung. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" suara lembut seorang wanita membuatnya tersadar dari lamunannya. Rambut merahnya yang khas membuat Naruto bisa langsung mengenali siapa itu, apalagi baru saja bertemu beberapa waktu yang lalu.
"Ah Honolulu-san rupanya. Senang melihatmu, tapi sedang apa di sini?" sapa dan tanya Naruto dengan senyum ramah.
Namun, Honolulu hanya membuang muka dan mendengus seperti seorang yang memiliki sifat angkuh, tapi anehnya ada sedikit semburat merah di pipinya yang untungnya dapat tersembunyi dengan baik oleh malam yang gelap, "Humph! Aku tidak mengikutimu diam-diam hingga ke sini karena khawatir karena kau tampak murung atau semacamnya. Aku hanya kebetulan cari angin segar di sini dan bertemu denganmu." Meskipun itu sebenarnya bohong.
Naruto hanya memiringkan kepalanya, tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kecantikan berambut merah di depannya ini. Yah, beberapa kenalan wanitanya juga sulit dimengerti, sih, jadi ia tak mau repot atau bertanya apa maksudnya, mengingat akhirnya selalu kurang bagus jika dirinya melakukan itu...ambil contoh Hinata.
"Be-begitu, ya." Hanya itu yang keluar dari mulutnya
Untuk sesaat suasana hening menyelimuti keduanya dan suasana menjadi canggung, bahkan saking heningnya hanya suara angin yang lewat bisa didengar oleh keduanya. Naruto sendiri biasanya orang yang cukup ceria, tapi saat ini entah mengapa dirinya juga merasa canggung. Selain itu, dia tidak terlalu kenal dengan Honolulu dan hanya beberapa kali secara kebetulan bertemu 'seperti saat ini'. Sehingga tidak ada alasan untuk mengajaknya bicara.
Sementara itu Honolulu sendiri saat ini sedang merasa agak gugup. Entah kenapa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Gadis itu lalu menghela nafasnya untuk menenangkan jantungnya, dan sambil berkacak pinggang ia menatap lagi pada Naruto, "Jadi, Kembali lagi ke pertanyaan ku. Apa ada sesuatu yang mengganggu mu? Wajahmu seolah mengatakan seperti itu."
Jika ditanya seperti itu, sejujurnya dia tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana menjelaskannya. Tidak mungkin dia mengatakan pada Honolulu bahwa dirinya adalah manusia yang berasal dari dimensi lain dan saat ini terjebak di sini. Dirinya sudah bersepakat dengan Wales untuk merahasiakan ini. Selain itu, yang tahu hanyalah segelintir orang yang ada di pangkalan ini.
"Bagaimana ya...Aku hanya sedikit merindukan kampung halamanku saja." Ujarnya dengan senyum kecut yang samar. Setidaknya hanya itu yang bisa dia gambarkan tentang keadaannya saat ini. Tetapi kata sedikit itu terlalu meremehkan mengingat saat ini dia mungkin tidak akan bisa kembali.
Honolulu memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung yang terlihat jelas di wajah. Yah, tidak mengherankan sih baginya. Naruto adalah seorang manusia dan bukan jiwa kapal seperti dirinya, tempatnya jelas bukan di pangkalan seperti ini hanya saja kenapa pemuda ini meninggalkan tempatnya kalau dia merasa rindu? Lagi pula manusia mana yang mau berada di garis depan melawan Sirene seperti ini? Banyak hal yang membuat dirinya penasaran tentang pemuda ini semenjak pertemuan mereka. Yang dirinya tahu dia dibawa oleh Enterprise. Hanya itu saja. Baik Wales dan Enterprise terkesen menyembunyikan banyak hal tentang Naruto.
Gadis berambut merah tersebut menghirup dan memenuhi paru-parunya dengan udara malam yang dingin lalu menghembuskan nya kembali, "Aku tidak tahu banyak tentangmu, dan bagaimana kamu bisa berada di sini atau untuk apa tapi aku berterima kasih untuk waktu itu. Kamu telah berada di sini, maka kamu juga bagian dari Azur Lane, tidak peduli kalau status mu hanya pelayan saja. Jika kamu punya masalah kamu bisa cerita padaku, setidaknya itu mungkin bisa sedikit menghibur dan meringankamu. Kamu tidak sendiri, kamu bisa menganggap tempat ini sebagai kampung halaman selama di sini."
Diam-diam Honolulu menahan perasaan malu yang sulit dijelaskan dalam dirinya, jantungnya berdegup sangat kencang sekarang. Entah kenapa dia malah mengatakan hal-hal seperti tadi. Apakah dirinya menjadi bodoh? Ingin rasanya dia memukul dirinya sendiri. Beruntung dermaga agak remang cahaya nya saat ini, dirinya bisa merasakan pipinya sedang memanas sekarang ini.
Naruto tersenyum, ternyata orang-orang di sini jauh lebih peduli kepadanya lebih dari pada yang dia pikirkan. Mungkin benar yang Honolulu katakan, dirinya tak sendiri karena ada orang baik seperti Wales dan Enterprise yang sudah memberinya bantuan, "Terima kasih, Honolulu-san. Tidak hanya cantik tapi kamu juga sangat baik," ujar Naruto dengan polosnya dia tidak sadar akan apa yang dia katakan.
Blush!
Untungnya Naruto tidak melihat wajah Honolulu yang semerah rambutnya karena dengan cepat ia segera memalingkan wajahnya, "D-dasar bodoh! Ka-kamu pikir aku suka diberi pujian murah seperti itu!? Aku sama sekali tidak senang! Hmph!" Gadis itu menyilangkan kedua tangannya dan membuang wajahnya sambil mendengus seperti orang yang kesal. Yah, jelas dia tak akan mengakui kalau dirinya senang dapat pujian seperti itu.
Naruto menyatukan kedua tangannya, dia merasa secara tidak sadar telah melakukan sebuah kesalahan meskipun dirinya tahu apa itu, "Ah maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya berkata jujur."
Honolulu mengigit bibirnya dengan wajah yang sangat memerah. Dia segera berdiri dan mengebas-ngebaskan bokongnya untuk membersihkan debu yang menempel di sana, "Mou! Sudahlah, kamu hanya membuat mood ku menjadi buruk saja!" dia segera berjalan meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Tangannya menempel di dada, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Gumaman kata 'Baka' terus ia ucap dengan nada yang kecil sampai dia pergi dari sana.
Meninggalkan Naruto yang hanya bisa menggaruk kepalanya karena bingung. Apa dia bari saja membuat kesalahan yang besar. Dirinya sendiri tidak tahu dan hanya menghela nafas, sepertinya benar kata Sakura dia harus belajar tentang wanita di sekitarnya.
Wajahnya tiba-tiba berubah serius, sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi. Bahkan, Kunai yang bersarang di balik lengan bajunya kini sudah berada di tangannya, "mau sampai kapan kamu menguping pembicaraan orang lain? Keluarlah!" ujarnya entah pada siapa.
Dari bawah dermaga melesat sesosok bayangan yang langsung berdiri di depannya, atau lebih tepatnya melayang. Naruto menyipitkan matanya, dia tahu dan ingat betul siapa gadis yang berhadapan dengannya mengingat belum seminggu dia berkonfrontasi dengannya. Dia sudah merasakan kehadiran sosok itu sejak berbicara dengan Honolulu tadi, tapi dia biarkan karena tak ada niat membunuh yang datang hanya saja ia tak menyangka kalau kehadiran itu adalah orang ini lagi.
"Purifier...kamu lagi," wajah Baru mendesis ketika menyebutkan nama itu, sementara di pemilik nama hanya menampakkan wajah bahagia ketika namanya disebutkan, "Bagaimana kamu bisa masuk ke sini tanpa terdeteksi!?"
Meskipun tidak mengerti dengan sistem nya tapi harus Naruto akui bahwa keamanan di sini cukup ketat. Bagaimana musuh mereka bisa masuk dengan mudah sejauh ini ke dalam markas ini? "Caraku itu tidaklah penting bagimu. Haahh~ tapi aku senang kamu mengingat namaku dengan baik... Uzumaki Naruto~" perasaan Naruto tiba-tiba menjadi tidak enak. Seingatnya dia tak pernah memberikan namanya pada gadis ini.
Wajah Purifier menjadi murung seperti ada sesuatu yang membuatnya kesal, "Sayang sekali aku tidak punya banyak waktu untuk bermain dengan mu saat ini. Purifier menjadi sedih~" perilaku gadis ini membuat Naruto merasa kesal. Diam-diam dia mengambil ancang-ancang dan langsung melesat ke Purifier dengan tinjunya tapi saat sampai di sana tangannya hanya meninju udara kosong. Gadis itu telah menghilang dari sana.
Insting Naruto langsung berteriak untuk berbalik, dan benar saja Purifier saat ini tengah berdiri di belakangnya akan tetapi gesturnya sangat santai dengan kedua tangan yang ada dibelakang, padahal untuk sepersekian detik ia punya kesempatan untuk menyerangnya, "Kamu tidak boleh seperti itu, loh~ nanti akan ada orang yang datang jika kamu membuat keributan," purifier terkikik.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan!?"
Purifier menyeringai mendengar pertanyaan Naruto barusan, matanya yang sedikit bersinar emas di kegelapan manambah kesan Menyeramkan dan tidak enak bagi Naruto, "ne ne ne apa nama Namikaze Minato berarti sesuatu bagimu?" Tubuh Naruto langsung mengejang mendengar nama ayahnya disebutkan. Tidak hanya namanya, tapi nama ayahnya juga diketahui oleh mereka?
Purifier tertawa lebar layaknya seorang yang bahagia, "Tentu saja kamu mengetahui nama itu ahahahah!" gadis non manusia itu berjalan mengelilingi Naruto dengan ekspresi polos yang dibuat-buat sembari mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari, "Apa kamu berpikir kamu berada di sini karena sebuah kebetulan? Apa kamu mengira sebuah kebetulan armada Sirene berada di tempat kamu muncul di dunia ini? Ahahaha!"
Naruto tidak bisa menahan emosinya lagi, ia langsung mencengkram kerah seragam sekolah Gadis Sirene tersebut dan mengangkatnya. Ternyata dia cukup berat untuk gadis seukurannya, "Katakan padaku apa maksudmu!" Perintahnya, dia merasa sangat marah dan bingung sekarang ini. Bahkan, sadar atau tidak sadar taringnya mulai memanjang beserta tanda lahirnya yang menebal, pertanda dirinya sangat marah.
"Mou, kenapa begitu kasar, sih? Kalau seperti itu kamu tidak akan populer di kalangan gadis, tahu," purifier hanya menyeringai melihat ekspresi wajah Naruto setelah sedikit bermain-main, tidak menyadari dengan posisinya saat ini, "Tapi jika aku memberitahumu begitu saja tentu akan membosankan ~"
Naruto segera membuat rasengan di tangannya yang lain, dia tidak begitu suka waktunya dihabiskan untuk meladeni permainan dari gadis ini, "Kau akan menjawab ku atau kuhancuran wajahmu dengan ini!" tapi sayangnya ancaman itu seperti tak mempan untuk Purifier. Terlihat jelas dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Ahh~ Rasengan, betapa nostalgia nya. Aku penasaran apa perbedaannya dengan milik Minato," Naruto semakin tak suka ini. Dia bahkan tahu tentang Rasengan. Tidak mengejutkan dia mengetahui Rasengan kalau dia juga mengetahui tentang ayahnya, tapi bagaimana bisa?!
"Cepat jaw-"
Tiba-tiba sebuah tembakan laser langsung datang dengan kecepatan tinggi ke arahnya, memaksa Naruto untuk segera melepaskan cengkeramannya dari Purifier agar bisa menghindar dari tembakan tersebut. Ia mendecih, bagaimana dia bisa lupa untuk kedua kalinya kalau gadis ini punya benda yang merepotkan seperti itu?
Portal ungu yang khas langsung muncul di belakang Purifier, sepertinya dia sudah akan pergi dari tempat ini, "Sayang sekali aku tidak bisa lama-lama untuk bermain, tapi jika kamu ingin mencari jawaban dari pertanyaan mu, mungkin Sakura Empire akan memiliki jawaban untuk itu. Ja nee~" dia langsung masuk ke dalam portal itu dengan tawa girangnya yang aneh.
Naruto berusaha mengejarnya, tapi sudah terlambat sebab Purifier sudah lebih dulu tertelan oleh portal tersebut. Ia hanya bisa merutuk kesal dan mendecih. Tidak hanya mendapatkan jawaban tapi dia juga semakin bingung. Apa semua ini? Semakin dia pikirkan, semuanya menjadi semakin membingungkan.
Kedatangannya di sini bukanlah kebetulan semata? Apa maksudnya itu. Ia teringat dengan kata-kata Purifier sebelum pergi, " Sakura Empire, kah?" Naruto sedikit merenung, kalau tidak salah dia pernah mendengar nama itu. Gadis-gadis di sini pernah menyebutkan nama itu. Dia sendiri tidak sadar kalau ia sendiri sudah pernah berkontak secara langsung dengan dua anggota mereka.
Sekarang, tanpa sadar roda takdir Naruto mulai bergerak ke arah yang tidak akan diduga baginya. Dan pastinya, itu akan mempengaruhi dunia ini.
Continued
Wah, lama juga ya ane kagak Update cerita ini. Next, ane bakal fokus ke The King of Heroes
Preview
"Jadi, kamu kamu rekan kerja baruku?"
Gadis dengan rambut platinum pendek di depannya hanya mengangguk dengan nada datar, "Itu benar, saya ditunjuk oleh Lady Wales untuk mengajari anda agar bekerja dengan baik. Jangan meremehkan pekerjaan ini, atau kepalamu akan kulubangi, karena itu akan mempermalukan Lady Wales yang memberimu kepercayaan."
Naruto hanya menghela nafas secara batin, tentu dia menyadari kalau orang di depannya ini ada untuk mengawasinya, tapi tetap saja... Sama sekali tidak ramah.
Situasi semakin memburuk, ternyata keputusannya tepat untuk diam-diam menempelkan segel penanda Hiraishin di baju gadis itu. Tapi sekarang masalahnya adalah bagaimana dirinya mencari cara agar mereka berdua tidak dikejar lagi?
Di saat inilah dia melihat sebuah bangunan yang tampaknya masih setengah dibangun dan tampak penting, dan kebetulan juga ada beberapa kertas peledak di sakunya. Tapi bangunan itu seperti kuil..."Ah masa bodoh, Shinobi juga bukan tipe yang religius!"
