DARI YOGYAKARTA HINGGA GAZA
Summary: Dari Yogyakarta hingga Gaza, bara api itu takkan pernah padam.
Disclaimer: Hetalia © Himaruya Hidekaz. Tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan cerita ini.
Warning: Palestine issues, OOC Akut, OC Palestine & Israel (yang terserah dikasih gender apa) Typo(s), dll.
SELAMAT MEMBACA!
.
.
.
Indonesia berjalan keluar dari ruang konferensi sambil menghela napas keras.
"Sialan… lagi-lagi resolusi untuk genjatan senjata Palestine digagalkan oleh America…"
Setelah berjalan cukup jauh, Indonesia lalu menyandarkan diri di dinding. Mencoba menenangkan pikirannya.
Di World Conference tadi, mereka semua membicarakan soal masalah Israel dan Palestine yang akhir-akhir ini kembali memanas. Saat resolusi gencatan senjata itu hampir berhasil, America untuk kesekian kalinya menggunakan hak veto-nya secara arogan agar resolusi itu batal.
"Kita harusnya mendukung Israel untuk membela dirinya dari serangan teroris itu! Mereka yang memulai duluan saat 7 Oktober kemarin!"
Indonesia waktu itu hanya bisa menggertakkan gigi saat mendengar kalimat konyol itu. Dia tidak sendiri, banyak negara yang memiliki ekspresi yang sama. Tapi sayangnya mereka tak bisa melakukan apa-apa.
"AAAARRRGGHHH! ISRAEL JAHAT SANGAT! ISRAEL KOYAK! ISRAEL CUAK!"
Suara itu menarik perhatian Indonesia. Rupanya itu dari Malaysia, yang tengah berteriak-teriak di balkon yang tidak jauh darinya.
Indonesia lalu berjalan menuju balkon untuk menghampiri saudara serumpunnya tersebut.
"Hai, Mal…" sapanya.
"Eh?! Abang?!" Malaysia sampai tersentak saking kagetnya.
"Kau pasti kesal karena pertemuan tadi kan?" kata Indonesia sambil ikut bersandar di balkon. "Jangan khawatir, aku juga–"
"BUKAN ITU MASALAHNYA ABANG!" seru Malaysia dengan air mata dan ingus yang meler.
"Aku baru tahu kalau ternyata Milo berasal dari Perusahaan yang mendukung Israel! Dan aku sekarang tidak bisa minum Milo lagi! Hweeeeee minuman kesukaanku!" rengeknya kesal.
Indonesia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Menahan diri sementara waktu tidak ada apa-apanya dengan penderitaan yang dialami Palestine tiap hari kan? Daripada kita membiarkan uang kita digunakan Israel untuk menyakitinya lagi."
Malaysia langsung terdiam. "M-maaf… aku tahu aku melakukan ini demi Palestine. Aku hanya kesal karena Milo, minuman favoritku, justru mendukung Israel untuk membunuh Palestine perlahan…"
"Genosida…" Indonesia bergumam pelan dengan nada getir.
Mereka semua diliputi keheningan sejenak.
"Mendengar kabar dari Palestine selalu membuatku sedih, Abang…" gumam Malaysia.
"Aku tahu…" balas Indonesia.
"Aku kesal karena kita tidak bisa berbuat banyak untuknya… kau ingat saat kita datang ke Turki dan bertemu Palestine? Dia tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya, dia batuk darah tanpa henti. Dan… dia mengatakan…"
"Beritahu negara-negara Islam untuk tidak melakukan shalat jenazah untukku. Shalat jenazah-lah untuk kalian sendiri. Aku masih hidup, kalianlah yg sudah mati."
Indonesia menghela napas pelan.
"Aku tahu dia sudah lama kecewa dengan negara-negara yang terlalu takut untuk membelanya, dan justru membantu Israel. Seperti Egypt, Jordan, dan negara-negara lainnya," keluhnya. "Maksudku, apa mereka tidak bisa seberani Yemen? Padahal kondisinya sendiri sedang tidak bagus. Tapi dia dengan berani membantu Palestine! Bahkan Iran jauh lebih baik dari mereka!"
"Kalau saja bukan karena Egypt yang harus meminta izin Israel untuk membuka perbatasan, pasti kondisi Palestine bisa sedikit lebih baik…" tambah Malaysia. "Sebagian besar bantuan yang kita kirim tertahan di sana! Sementara rakyat Palestine mengalami krisis kelaparan!"
"Aku jadi berpikir apakah semua usahaku ini berdampak atau tidak…" lirih Indonesia sambil.
"Abang! Jangan pesimis begitu! Kau juga sudah berusaha keras kan?! Kau mengirim berton-ton makanan, mengirim kapal rumah sakit, kau juga tidak henti menyuarakan soal Palestina di World Conference! Kau sangat hebat!" seru Malaysia.
"Aku masih perlu izin Egpyt untuk melayarkannya ke Palestine," jawab Indonesia. "Melihat sikapnya, aku khawatir kapal itu juga akan tertahan sama seperti bantuan kemanusiaan yang lain…"
Malaysia menggeram kesal. "Lalu Israel bersikap seolah Egypt yang menahan bantuan itu, dan saat dia mengizinkannya dia berlagak seperti pahlawan! Belum lagi rakyatnya sendiri malah menghadang bantuan itu! Menyebalkan!"
Indonesia mengangguk. "Israel itu nyebelin banget! Kalau bukan karena hak veto milik America sialan itu, dia pasti sudah lama tidak berkutik! America sialan! Dia membuat UN seolah-olah tidak berguna! Apalagi dia bersama England menyerang Yemen hanya karena Yemen memblokade Israel! Munafik sialan!"
"LALU GARA-GARA DIA BANYAK NEGARA YANG BERHENTI MEMBIAYAI UNRWA HANYA KARENA BEBERAPA ANGGOTANYA DITUDUH SEBAGAI ANGGOTA HAMAS!"
"APA MEREKA SEMUA BUTA?! KALAU UNWRA SAMPAI BERHENTI BEROPERASI KRISIS KELAPARAN PALESTINE AKAN SEMAKIN PARAH!"
Setelah saling mengeluarkan sumpah serapah, mereka berdua lalu terdiam.
"Aku mulai khawatir dengan Palestine…" gumam Indonesia. "Apa dia akan baik-baik saja?"
"Jangan khawatir, Abang. Kita tahu dia sangat kuat. Jauh lebih kuat dari yang kita kira. Selama ini kita mengira Palestine adalah satu-satunya negara yang belum merdeka, tapi sebenarnya dialah satu-satunya negara yang merdeka dari ketakutan terhadap negara lain…" balas Malaysia.
"Yah… dia memang sangat hebat… aku iri dengannya…" ujar Indonesia.
"Bukannya kemarin ada salah satu calon bos abang yang bilang Palestine lemah?" sindir Malaysia tiba-tiba.
Indonesia langsung terbatuk canggung. "A-aku minta maaf soal itu…"
Mereka kembali terdiam sembari menatap langit malam. Nun jauh di sana, Palestine berjuang sendirian membela dirinya sendiri. Mereka ingin sekali membantu, tapi bagaimana caranya?
"Meskipun begitu… aku sedikit penasaran dengan Palestine. Dia pasti tahu ini akan terjadi, tapi dia tetap melaksanakan serangan di tanggal 7 Oktober itu…" gumam Malaysia.
"Aku sangat memahami perbuatan Palestine, Mal," kata Indonesia tiba-tiba.
"Kau ingat dulu aku juga pernah melakukan hal yang sama? Serangan Umum 1 Maret 1949. Mungkin serangan itu tidak terbilang berhasil, tapi serangan itu berhasil membuat aku kembali diingat oleh dunia."
"Palestine juga melakukan hal yang sama. Dia tahu ada atau tidaknya serangan 7 Oktober itu, dia tetap akan mati perlahan. Maka dia memilih melakukan serangan itu, yang membuat dunia tahu bahwa dia masih ada. Memang banyak warganya yang mati dan terluka, tapi bagi Palestine itu adalah hal yang sepadan."
Indonesia masih bisa mengingat kejadian di hari itu. Di saat Netherlands mengatakan pada dunia kalau dia sudah mati, dirinya muncul bersama tentaranya di Yogyakarta, membuat tentara Netherlands terkejut. Dia memang harus mundur di jam 12 siang, tapi itu cukup untuk menunjukkan pada dunia kalau dia masih ada. Berkat itu, dia mendapat perhatian internasional dan impiannya untuk merdeka semakin dekat.
Palestine juga melakukan hal yang sama. Bara api di dada yang menginginkan kemerdekaan takkan pernah padam hingga kapanpun.
Malaysia mengepalkan tangan erat.
"Allah sudah sejak dulu menjanjikan kemenangan untuk Palestine. Itulah yang harus kita percayai!" seru Malaysia.
"Benar sekali! Sampai hari itu tiba, kita akan terus mendukung Palestine apapun yang terjadi!" sahut Indonesia.
Mereka berdua lalu mengepalkan tangan tinggi-tinggi.
"ISRAEL KOYAK! ISRAEL CUAK!"
"Dari Sungai ke Laut, ISRAEL BURUAN HANYUT!"
.
.
.
"Uh…"
Israel menundukkan kepalanya ke dalam wastafel. Seberapapun dia berusaha, darah tetap mengalir keluar dari hidungnya.
"UHUK!"
Dia terbatuk darah, dan darah itu mengalir masuk ke wastafel bersama aliran air.
"Palestine sialan itu…" gumamnya kesal.
Gara-gara serangannya, ekonomiku yang sedang tidak stabil menjadi semakin parah. Aku semakin rugi karena uangku habis banyak hanya untuk menghadapi senjata murahannya…
"Padahal tampangnya sudah seperti mayat hidup begitu tapi dia masih saja sombong!" umpatnya. "Iran dan Yemen juga seenaknya saja ikut campur! Blokadenya di Laut Merah membuat logistikku semakin terhambat! Bahkan setelah America dan England menghajarnya, dia juga masih belum kapok! Belum lagi South Africa yang menuntutku ke pengadilan, yang semakin membuatku repot!"
Perang ini sudah membuat kepalanya pening selama berhari-hari. Kondisinya juga sudah mulai memburuk dengan pendarahan yang dia alami.
Banyak tentaranya yang mundur karena ketakutan, rakyatnya banyak yang kabur ke luar negeri, bahkan banyak aksi protes yang memintanya menghentikan perang.
Kalau dipikir-pikir, apa sebaiknya aku menghentikan ini…?
Israel langsung meninju cermin, membuatnya pecah berkeping-keping.
"JANGAN BERCANDA!" teriaknya. "Kalau aku melakukannya, itu sama saja mengakui kalau aku kalah! Kalau itu sampai terjadi…"
Israel menggertakkan giginya. America memang selalu menyemangatinya, tapi di belakang dia bersikap sebaliknya.
"Ya ampun… apa Israel masih belum bisa mengalahkan para teroris itu? Padahal aku sudah memberinya banyak sekali senjata bagus…"
"Aku sampai menghentikan stok senjataku pada Ukraine agar bisa membantu Israel. Tapi dia juga masih belum berhasil…"
"Rakyatku sudah banyak yang protes. Apalagi sekarang Texas bermasalah."
"Sepertinya dia sudah tidak sehebat dulu ya…"
Kepala Israel rasanya mau meledak mendengar perkataan America saat ada di belakangnya.
Kalau aku sampai dianggap kalah… aku akan kehilangan kepercayaan negara-negara yang mendukungku!
Israel lalu mengangkat kepalanya, lalu menyeringai ke arah cermin. Dia menyaksikan bayangan dirinya di balik kaca yang pecah.
"Tenang saja… tenang saja… ini hanya sementara… cepat atau lambat mereka akan kembali melupakan Palestine…" gumamnya.
"Aku hanya perlu membombardir Palestine terus-menerus dan membuat rakyatnya takut padaku… aku juga harus mencegah bantuan masuk ke Palestine bagaimanapun caranya. Aku akan membuat rakyat Palestine kelaparan… agar mereka tak punya pilihan lain selain pergi atau mati kelaparan… dengan begitu Palestine akan benar-benar mati kan?"
Israel lalu mengelap sisa darah di hidung dan mulutnya lalu berjalan gontai ke arah pintu.
"Ya… itu benar… jangan khawatirkan negara-negara sialan yang menentangku… mereka hanya bisa protes… mereka masih takut padaku…"
"Tidak ada yang perlu aku takutkan… aku adalah bangsa pilihan Tuhan… aku… adalah anak-anak cahaya…"
.
.
.
END
Pengen ngasih trivia, tapi bingung ngasih tau apa karena sebagian besar info di sini kayaknya udah pada tau semua. Sisanya bisa searching sendiri ya di internet hehe
Terima kasih sudah membaca fic ini!
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
