Chapter 9: Rubbish
Harry tidak tahu apa yang mengganggunya sedari tadi, tapi suasana hatinya menjadi sangat buruk sejak melihat Draco. Tidak, Harry bukannya kesal akan kehadiran Draco. Jika keberadaan Draco adalah penyebabnya, maka Harry tidak akan bingung. Namun kali ini berbeda. Gadis itu, Pansy Parkinson, dialah yang mengganggu Harry sedari tadi.
Awalnya Harry tidak mengakui sama sekali. Ia hanya sedang menikmati makan siangnya bersama Hermione dan Ron, tidak terganggu sama sekali. Hingga Draco datang bersama teman-temannya, dan Pansy berjalan di sampingnya. Harry mencoba untuk tidak peduli, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Pansy yang duduk begitu dekat dengan Draco. Harry bahkan bisa melihat bahu mereka beberapa kali beradu.
"Harry?"
Jelas Harry tidak mendengar panggilan Hermione. Karena itulah Hermione harus menggoyangkan tangan Harry yang berada di atas meja untuk mendapatkan perhatiannya. "Apa yang kau lihat?" tanyanya penasaran setelah Harry akhirnya melihat ke arahnya.
"Nothing!" balas Harry yang entah kenapa terdengar kesal.
Hermione dan Ron sedikit terkejut. Harry memang selalu sulit ditebak. Mereka berdua pun kompak menoleh ke belakang, mencari apa yang dilihat Harry sedari tadi.
Tentu saja Harry akan panik jika Hermione dan Ron menemukan bahwa Draco lah yang sedari tadi diperhatikannya. Ia mencoba untuk mengalihkan perhatian keduanya. "Aku kan sudah bilang tidak ada apa-apa, kenapa kalian malah mau tahu begitu, sih?"
Hermione dan Ron kembali membalikkan badan menghadap Harry. Entah melihat Draco atau tidak, setidaknya mereka tidak membicarakan Draco. Tapi bukan Hermione dan Ron namanya kalau tidak mendapatkan jawaban atas rasa penasaran mereka.
"Kau bilang tidak ada apa-apa, tapi alismu menekuk begitu," kata Hermione kembali bicara pada Harry. "Apa ada seseorang yang membuatmu kesal di sini?"
Harry menggeleng, tidak bersuara. Ia menyendok makan siangnya agar tidak perlu berbicara. Jujur, Harry sebenarnya tidak tahu harus membalas apa. Ia sendiri sebenarnya bingung bisa kesal karena apa.
"Kau sangat aneh akhir-akhir ini," Ron menambahkan. Ia bicara dengan mulut yang penuh dengan makanan. "Kau banyak melamun, lalu tiba-tiba merasa malu, dan detik berikutnya marah-marah. Tidak mungkin tidak ada apa-apanya."
Harry menghela napas. Ia tidak merasa lelah karena harus meladeni kedua sahabatnya ini. Ia lelah karena apa yang dikatakan Ron memang benar. Begitulah Harry sekarang. Suasana hatinya berubah dalam sekejap dan ia tidak bisa tenang. Alasannya hanya satu. Draco Malfoy.
Pikiran Harry begitu penuh akan Draco. Ia tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Harry ingat dengan persis apa yang dikatakan oleh Draco padanya. Bahwa Draco akan melakukan apa pun untuk mendapatkan dirinya. Draco akan menyikirkan Cedric untuk membuktikan pada Harry bahwa ia benar-benar menyukainya. Tapi apa yang sebenarnya Draco rencanakan?
Menghitung pertemuan mereka yang jelas disengaja oleh Draco, Harry tahu jika itu adalah salah satu rencananya. Tapi hanya itu. Draco tidak melakukan apa-apa lagi. Ia bahkan tidak bersikap memaksa seperti yang dilakukannya saat mereka berciuman di toilet. Saat Draco mengantarkan Harry karena hujan, pemuda itu juga tidak banyak bertingkah. Meskipun Draco meminta bayaran darinya, tetap saja Draco tidak memaksa. Draco melepaskannya begitu saja.
Seolah-olah aku adalah mainannya, batin Harry lirih.
Pandangannya kembali jatuh pada Draco yang masih duduk bersebelahan dengan Pansy. Harry tidak mengerti kenapa Draco membiarkan Pansy terus mendekat. Bukankah Draco menyukainya? Lalu kenapa dia tidak pernah membuat jarak dengan orang lain yang tidak disukainya?
"Kan, kubilang juga apa," Ron bicara pada Hermione, "dia aneh."
Harry mendengar suara Ron, dan ia segera mengalihkan perhatiannya dari Draco. Saat itu Harry juga menyadari bahwa Hermione sekali lagi menoleh ke belakang.
"Berhenti mencari, Hermione," keluh Harry. Ia paling takut jika Hermione sampai tahu apa yang menarik perhatiannya sekarang. Harry tidak akan lupa bahwa Hermione pernah bertanya tentang kedekatannya dengan Draco.
Hermione pun menyerah. Ia juga tidak tega melihat raut wajah Harry yang benar-benar memintanya untuk berhenti.
Mencoba memperbaiki suasana hati Harry, Hermione mengganti topik pembicaraan mereka. "Kudengar Cedric sudah boleh bertanding lagi."
Harry mengangguk sebagai balasan. Ia akhirnya merasa lebih baik. Dengan begini, Harry juga bisa mengalihkan sejenak perhatiannya dari Draco.
"Kau akan menonton pertandingannya? Bagaimana jika kita bertiga pergi bersama?" saran Hermione. Sudah lama mereka bertiga tidak pergi bersama-sama karena selalu saja ada yang sibuk di antara mereka.
Harry sayangnya menggeleng. "Besok aku harus menemui ibuku. Kami sudah berjanji untuk makan siang bersama sejak minggu lalu."
Hermione jelas sedih. Sekali lagi mereka gagal menghabiskan akhir pekan bersama. "Ya sudah, kalau begitu aku tidak perlu datang."
Harry menggeleng tidak setuju. "Jangan, setidaknya dukunglah Cedric sebagai penggantiku."
Ron mendengus. "Aku bahkan ragu jika kedatangan kami akan berarti sesuatu baginya."
Harry terkekeh. "Baiklah, sebagai sahabat kalian, aku ingin meminta sesuatu. Tolong datang ke pertandingan Cedric dan dukung dia menggantikan aku."
.
"Aku tidak menyangka jika kau benar-benar menuruti perkataannya," ucap Ron dengan suara yang tidak bersemangat. Matanya menyipit karena teriknya matahari.
Hermione, yang duduk di sebelahnya memiliki ekspresi sama di wajahnya. "Harry meminta bukti kalau kita benar-benar datang. Kau tahu sendiri jika aku sebenarnya tidak mau datang kalau tidak ada Harry," balas Hermione dengan nada suara yang tidak kalah datar.
Mencoba mengabaikan betapa kepanasannya mereka sekarang, Hermione tetap mengeluarkan ponselnya. Ia langsung mengajak Ron untuk selfie dan keduanya langsung memasang senyum yang dipaksakan.
"Oke! Bukti sudah ada. Ayo kita pulang!" seru Ron yang akhirnya menemukan kembali semangatnya.
Hermione tertawa melihat perubahan suasana hati kekasihnya itu. Memang terlihat sedikit kejam, Hermione dan Ron bahkan tidak perlu repot-repot untuk mencari Cedric. Keduanya memang dari awal tidak ada niat untuk datang. Lagi pula, tidak ada perbedaan yang akan mereka berikan sekalipun Cedric menyadari keberadaan mereka. Bahkan kedatangan Harry juga tidak.
"Ah, tunggu," Ron menghentikan Hermione yang baru saja akan berdiri dari kursinya. "Bagaimana jika Harry bertanya apa saja yang terjadi selama pertandingan?"
Hermione tampaknya tidak khawatir akan hal itu. Ia kembali berdiri dan mengajak Ron ikut. "Tenang saja, banyak temanku yang datang. Dan aku sudah meminta mereka untuk melaporkan hal menarik apa saja yang terjadi nanti."
Ron tertawa puas. Hermione memang tidak pernah bertindak tanpa rencana. "Ya sudah, kalau begitu ayo kita pergi," dan Ron langsung merangkul Hermione.
Keduanya terus mengobrol sepanjang perjalanan menuju parkiran. Berdiskusi tentang ke mana mereka harus berkencan hari ini. Namun belum sempat mereka sampai ke mobil, Hermione menemukan seseorang yang tidak akan salah dikenalinya, baru saja keluar dari mobil hitam yang mewah.
"Tunggu!" Hermione manahan Ron, memaksanya berhenti. Ia tidak menjawab pertanyaan Ron dan malah menyeret kekasihnya itu dengan terburu-buru.
"Malfoy!" Hermione memanggil Draco dengan suara yang keras. Ia sama sekali tidak mengindahkan Ron yang mencoba menghentikannya.
Sementara itu, Draco yang mendengar namanya dipanggil, menoleh. Raut wajah lelah langsung muncul begitu melihat Hermione dan Ron mendekatinya. Ia bisa merasakannya. Draco bisa menebak jika hari ini akan jadi sangat merepotkan dan menyebalkan.
"What the hell do you want from me?" tanya Draco dengan suara datar saat Hermione dan Ron sudah berada di depannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hermione dengan sangat terburu-buru.
"Untuk apa kau bertanya?" Bukan Draco, Ron lah yang balik bertanya. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Hermione peduli pada apa yang dilakukan oleh Draco.
Draco hanya menghela napas. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Hermione. Draco bahkan sama sekali tidak berminat untuk berurusan dengan dua orang di depannya ini. Tapi Draco tidak bisa pergi begitu saja. Matanya menoleh ke sana kemari mencari seseorang. Setahunya, di mana ada Hermione dan Ron, di situ juga ada Harry. Namun tidak peduli ke mana dan sejauh apa Draco mencari, ia tidak bisa menemukan Harry.
"Hari ini Harry tidak bersama kami." Seolah bisa membaca pikiran Draco, Hermione mengucapkannya begitu saja. Ia tersenyum puas saat Draco memelototinya. "Dia tidak ada di sini. Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk datang mencarinya."
"Apa maksudmu?" Lagi-lagi Ron yang membalas. Keningnya sampai berkerut karena tidak memahami perkataan Hermione. Ia juga bingung kenapa nama Harry sampai dibawa-bawa.
"Kau tahu jika kau salah, kan?" Draco akhirnya bicara. "Aku tidak mungkin datang hanya untuk bertemu dengannya."
Hermione masih mempertahankan senyumnya. Mata yang menatap lurus ke arah Draco memperlihatkan kepercayaan diri yang besar. "Aku tidak salah, dan kau tahu itu."
Ron masih menjadi satu-satunya orang yang tidak mengerti apa-apa di sini. Ia tidak tahu kenapa Hermione bicara seolah sedang menantang Draco. Ron juga tidak tahu kenapa Draco menatap Hermione seolah-olah ingin membungkamnya.
"Tidak adakah dari kalian yang mau memberitahuku apa yang sedang terjadi sekarang?"
Hermione akhirnya mengalihkan pandangan dari Draco dan menoleh ke arah Ron. "Dia menyukai Harry."
Seperti biasa, Ron memberikan reaksi yang berisik. Ia sampai bertanya berkali-kali apakah Hermione serius dengan perkataannya. Ron juga menatap Draco penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan.
"Rubbish," desah Draco yang berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
Hermione mendengus. "Cedric bertanding hari ini. Jadi kau berpikir bahwa Harry pasti akan datang untuk mendukungnya. Karena itulah kau datang." Hermione menghentikan Draco yang ingin menyelanya. "Kau tidak punya alasan untuk datang sendiri."
Draco membalas tatapan Hermione padanya. Ia tidak lagi menatapnya penuh kekesalan atau pun permusuhan. Sebaliknya, Draco mengangguk singkat. "Baiklah. Aku menyerah. Tidak ada gunanya membodohi orang sepertimu."
Senyum Hermione semaki melebar. Ia merasa puas karena berhasil mengalahkan Draco yang keras kepala. Namun Hermione tidak benar-benar menikmati kemenangannya. Karena saat melihat manik kelabu Draco menatapnya, ia tahu jika Draco punya maksud tersendiri untuk mengaku kalah.
.
.
TBC
.
.
.
