"Pagi, Gempa! Saudaramu sudah baikan?"

Gempa melirik Halilintar dan Taufan di samping kanan-kirinya bingung. Tapi, ia lekas menjawab sapaan salah satu teman sekelasnya itu, "Pagi, Suzy. Ah iya, sudah."

"Wah, kalian bersaudara ini memang betul-betul punya ikatan kuat, ya. Satu yang sakit, semua pucat."

Gempa kali ini benar-benar menoleh ke arah Taufan dan Halilintar. Memang pucat. Tapi, seingatnya saat sarapan bersama di rumah, wajah keduanya masih normal-normal saja.

"Eh iya, ehehe ...," kekeh Taufan sambil buru-buru merangkul Halilintar—yang ajaibnya hari ini tidak melawan. "Dah ya, kami ke kelas dulu."

"Oh iya, dah, Taufan!"

Gempa tersenyum saja lalu bergegas menyusul kedua saudaranya yang sudah lebih dulu pergi. Hanya tiga detik, senyumnya hilang dan tatapannya berubah menyelidik.

"Kak Halilintar sama Kak Taufan kenapa?" tanya Gempa basa-basi begitu langkah mereka sejajar.

Halilintar yang masih tidak melepaskan rangkulan Taufan, menggumam dengan suara rendah, "Nggak."

"Kenapa, Gempa? Apa kita terlihat 'kenapa-kenapa'?" Taufan balik bertanya.

Namun, Gempa tidak termakan tipuan keduanya. Otaknya yang meski tidak sepintar Halilintar, mampu menebak sesuatu di balik sikap kedua saudaranya itu.

Tanpa bicara, Gempa menggiring Taufan dan Halilintar ke halaman belakang sekolah.

"Gempa, aku ada janji sama Gopal. Duluan—"

Taufan menyadari akan ada sidak dari Gempa, berusaha menghindar. Namun, tangan Gempa menariknya lebih dulu. Sedikit terlalu kuat untuk ukuran orang yang baru saja sembuh dari sakit.

"Siapa yang gantiin aku kemarin?" tanya Gempa langsung.

"Maksud kamu apa, Gempa?"

Taufan masih memasang tampang pura-pura tidak mengertinya itu. Gempa menatap saudaranya tepat di mata.

"Siapa yang gantiin aku kemarin?" ulangnya.

Pergerakan Taufan yang gelisah benar-benar meyakinkan Gempa akan tebakannya sejak awal. Ia mencoba mendesak, "Kak Taufan mau jujur atau—"

"Aku."

Tatapan Gempa beralih. Bukan Taufan yang barusan bicara, melainkan kakak pertamanya.

"Aku yang menggantikanmu kemarin."

Halilintar mengulang pengakuannya.

.

.

.

.


Boboiboy milik Animonsta Studio

Warning : AU, No Super Power, siblings!elemental, Oneshoot, plotless, OOC, TYPO.

Gempa menggigil sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Hujan deras yang disertai angin ini telah membuat payungnya terbalik dan terbang lalu tersangkut di atas pohon yang sangat tinggi. Sudah terlambat untuk mencari tempat berteduh sekarang karena tubuhnya terlanjur basah. Kalau tidak cepat sampai ke rumah dan ganti baju, bisa-bisa dia sakit.

CPRAK!

Gempa tersentak ketika kakinya tidak sengaja tercebur ke dalam lubang yang tergenang air. Padahal, ia sudah sangat berhati-hati dengan memilah pijakannya.

Sekarang, ke dalam sepatunya pun sudah terisi air. Sedikit lagi, ia akan sampai di ujung gang. Setelah itu hanya perlu menyeberang dan berjalan kurang dari seratus meter lagi untuk sampai ke rumahnya.

Cuaca buruk membuat hari terasa cepat menggelap. Gempa pun mempercepat langkahnya. Ia ingat tadi saat keluar dari sekolah jam dinding baru menunjuk angka tiga. Seharusnya belum terlalu sore karena jarak dari sekolah ke rumah tidak begitu jauh.

Gempa berhasil keluar dari gang. Angin dingin yang turut serta membawa tetes-tetes air masih terus menghantam tubuhnya tanpa ampun. Kedua tangannya mengepal keras dan bergetar menahan udara dingin yang sangat menusuk. Bibirnya sedikit menggelap dan wajahnya memucat.

"Assalamualaikum," ucap Gempa sesaat setelah membuka pintu.

"Waalaikum salam, Gempa!"

Salamnya dijawab setengah berteriak oleh Taufan. Kakaknya itu langsung menariknya masuk tanpa peduli air yang mengucur dari tubuhnya menggenangi lantai.

"K–kak Taufan, aku b–basah!" pekik Gempa dengan suara bergetar menahan dingin.

"Lepas tas kamu!" katanya tidak peduli protes Gempa barusan. "Hali! Ambilin handuk buat Gempa!"

Tidak lama, Halilintar datang dengan dua handuk sekaligus. "Udah aku siapin air hangat di kamar mandi."

Getaran tubuhnya tidak bisa Gempa tahan. Ia benar-benar kedinginan. Taufan bahkan sampai membantu melepas sepatunya karena ia tidak mampu melakukannya sendiri saking tremornya.

"Udah, kamu mandi aja," kata Halilintar langsung saat Gempa berniat membawa sepatunya untuk sekalian dicuci.

Gempa akhirnya menurut. Halilintar dan Taufan yang sedang dalam mode kompak tidak akan mampu ia lawan.


Gempa keluar dengan kepala yang terasa berdenyut. Cepat juga efeknya. Satu handuk yang masih kering ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya yang hanya mengenakan kaos biasa—tidak cukup tebal untuk menghalau dingin.

"Nah, susu hangat agak panas biar badan kamu nggak kedinginan."

Gempa menerimanya dengan tangan masih gemetaran. Begitu suhu hangat dari gelas menyentuh tangannya, perlahan getaran itu mereda. Taufan membawanya duduk di kursi terdekat.

"Makasih, Kak Taufan," ucap Gempa tulus. Ia mulai meminum sedikit demi sedikit susu di tangannya. Tanpa sadar malah sampai menghabiskannya sekaligus. Berada di bawah hujan ternyata membuatnya cukup kehausan.

"Makan dulu."

Halilintar datang dengan nampan berisi tiga mangkuk mi instan. Masing-masing diletakkan di depan Gempa, Taufan, lalu dirinya sendiri. Gempa diam-diam merasa terharu dengan perhatian dua kakaknya ini.

"Makasih, Kak Halilintar," ucapnya lagi sama tulusnya. Halilintar meresponnya dengan anggukan dan usapan di kepalanya.

"Iya, Gempa. Udah, kamu makan dulu biar nggak sakit. Selamat makan."

Gempa pun ikut menikmati mi instan di tengah dingin udara luar. Tidak senikmat yang dibayangkan, tapi Gempa tetap memakannya dengan senyum terkembang.

Setelah memaksakan kepalanya yang terasa hampir pecah untuk mengerjakan tugas dan mempelajari materi ujian besok, Gempa memutuskan tidur lebih awal. Namun, suhu tubuhnya yang terus naik malah membuatnya sulit tidur. Ia bergelung di balik selimut dengan seluruh tubuh bergetar hebat. Bagian kakinya tidak kunjung menghangat meski sudah dibalut dua lapis selimut dan juga kaos kaki tebal masing-masing dua pasang.

Rasanya semua tulang Gempa ngilu sekarang. Tangannya meraba ke sekitar bantal untuk menemukan ponsel yang sengaja ia letakkan di dekatnya. Segera saja ia menghubungi satu orang.

Pandangannya berbayang dan pusing begitu melihat cahaya dari layar. Namun, ia memaksa mengetik beberapa huruf di kolom pencarian kontak.

Kak

Langsung saja ibu jarinya menggeser nama kontak teratas dalam pencarian itu ke kanan. Akses cepat menelepon.

"Gempa? "

"Kak, t–tolong," ucap Gempa segera setelah mendengar jawaban.

Gempa tidak menunggu jawaban. Langsung saja ia jauhkan ponsel yang cahayanya semakin membuat denyutan di kepala menguat. Padahal, sebelum naik ke kamar tadi ia sempat menelan satu butir parasetamol karena merasakan suhu tubuhnya mulai naik. Tapi siapa sangka setelah minum obat pun demamnya malah terus meninggi.

Selimutnya dibuka tiba-tiba. Cahaya lampu kamarnya berhasil membuat denyutan kepala semakin menyiksa. Sesuatu yang dingin menyentuh dahi sampai menutup kelopak matanya sekaligus. Sejenak, Gempa merasa nyaman menutup mata.

"Gempa," panggil suara yang sedikit berat. Gempa mengenalinya tanpa melihat.

"Kak Halilintar, pusing," keluh Gempa dengan suara lirih dan serak.

"Aku tahu. Ayo ke klinik sekarang," ajak Halilintar. Gempa menahan tangan sang kakak tetap menempel di dahi dan kelopak matanya. Dia mengangguk.

"Hali, kita bonceng tiga aja gimana? Nggak ada driver yang ambil orderan aku, nih."

"Bahaya, Taufan."

"Kasihan Gempa, tahu. Mau nunggu berapa lama lagi?"

"Di luar dingin walaupun udah nggak hujan. Sebentar lagi aja."

"Aku coba order sekali lagi, ya."

Gempa menyimak dalam diam pembicaraan kedua kakaknya. Sepertinya Taufan sedang mencoba memesan taksi, tapi tidak kunjung mendapatkannya. Gempa paham, biasanya di cuaca buruk seperti sekarang ini akan sulit sekali memesan taksi. Sekarang, entah bagaimana solusi yang dipikirkan keduanya. Selama itu pula, Gempa terus menahan tangan dingin Halilintar tetap di tempat semula. Seperti kompres yang dinginnya sangat pas, tidak terasa seolah melubangi kepalanya karena terlampau dingin seperti plester demam biasa.

Kasurnya bergerak perlahan, tanda ada beban tambahan di atasnya. Kepalanya merasakan usapan lembut beberapa saat kemudian. Gempa lagi-lagi menikmatinya. Entah kapan tepatnya denyutan itu mereda lalu digantikan rasa kantuk.

"Nggak bisa, Hali. Nggak diambil lagi orderan aku."

Setelahnya, Gempa tidak lagi mendengar apa pun.


"Ugh...!"

Gempa mengerang pelan begitu membuka matanya. Cahaya silau masih membuat kepalanya seperti dihantam kuat-kuat. Tubuhnya masih lemas tapi sudah tidak menggigil seperti saat sebelum tidur.

"Gempa, kamu dengar Mama?"

Apa? Pasti Gempa sedang bermimpi. Jadwal Mama jaga malam kalau dia tidak salah ingat. Berarti seharusnya akan pulang besok. Kecuali kalau ini memang sudah pagi.

Gempa memaksakan membuka matanya. Meski samar, ia mengenali siluet itu. Memang ibunya sendiri.

"Mama udah pulang?"

"Sudah, dong. Sudah pagi."

Gempa menarik napas pasrah. Habis sudah nilainya. Papa Zola tidak pernah mengadakan ujian susulan dalam keadaan apa pun. Dan sekarang ia meninggalkan satu kesempatannya untuk mendapat nilai.

"Mama sudah minta izin sama Papa Zola, tapi katanya tetap tidak bisa. Sebagai gantinya, kamu nanti harus dapat nilai tinggi di ujian-ujian selanjutnya. Sekarang, kamu istirahat saja, ya."

Tidak ada yang bisa Gempa lakukan sekarang selain pasrah saja. Jam dinding sudah menunjuk angka delapan. Rupanya memang sudah sangat siang, dan kenapa Mama tidak mematikan lampu kamar? Gempa tidak mau memikirkannya.


Dengan dua hari istirahat total, tubuhnya sudah lebih segar. Lega akhirnya terbebas dari mimpi-mimpi buruk yang kerap kali menghampiri ketika sedang demam. Entah mimpi macam apa karena Gempa sendiri pun tidak mampu menjelaskannya.

"Eh?"

Payung yang Gempa kenali sudah ada di samping rak sepatu. Ia lantas membuka payung itu memastikan jika benda itu memang miliknya.

Begitu terbuka, memang benar. Ada tulisan 'Gempa' yang direkatkan dengan selotip pada gagangnya.

"Itu punyamu, 'kok. Hali tiba-tiba manjat pohon di pinggir jalan dekat sekolah. Terus benerin kawat-kawatnya, dan jadilah payung kamu baru kembali~"

"Eeeh?" Gempa memekik kaget. "Dibenerin Kak Halilintar? Ini terbalik lho, Kak Taufan. Makanya aku jadi pulang hujan-hujanan." Gempa masih takjub karena tidak terlihat seperti baru saja rusak dan diperbaiki.

Yang dibicarakan terlihat tak lama kemudian. Baru keluar dari dapur. "Ngapain masih di sini?"

"Makasih ya, Kak Halilintar." Gempa tersenyum sambil mengangkat payungnya. Halilintar mengangguk sebagai jawaban.

"Kalau badai, jangan maksain pakai payung. Percuma."

"Oke! Ayo berangkat bersama!" Gempa merangkul Taufan dan Halilintar bersamaan. Ketiganya berangkat bersama, seperti biasa. Dengan Gempa yang jauh lebih ceria meski masih terlihat sedikit pucat.


"Jadi ...?"

"Aku yang absen sakit dua hari. Kamu masuk."

"Kak Halilintar ikut ujian? Apa nggak apa-apa?" tanya Gempa beruntun. "Maksud aku ... kita 'kan berbeda? Kak Halilintar nggak apa-apa?"

"Kelasku nggak ada jadwal ujian. Lagipula, Papa Zola menolak ujian susulan untukmu."

Gempa mengernyit, tampak sangat gusar. "Bukan itu, Kak Halilintar. Tapi ...," sanggahnya lagi, menggantung. Dia melirik ke sekeliling taman dengan gelisah.

Halilintar menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku dengan tenang. "Kalau kamu pikir aku ketahuan, memang iya. Tapi, orang itu berjanji tidak akan membongkarnya."

"Kak Halilintar nggak kenapa-kenapa? Pasti sulit menjadi aku." Gempa merasa bersalah, tentu saja. Karena dia memaksakan diri untuk pulang di tengah badai, lalu sakit, kemudian Halilintar yang memikirkan nilainya jadi berinisiatif bertukar tempat. Ditambah segala risikonya.

Gempa paham sekali bagaimana bencinya Halilintar berinteraksi dengan banyak orang. Bagaimana Halilintar begitu benci disentuh orang selain Gempa sendiri. Ia membayangkan Gopal yang akan menyambutnya heboh sambil memeluk, Iwan dan Stanley yang seringkali mengajaknya 'tos' sebagai sambutan pagi, lalu Yaya dan Ying yang suka menyapanya dengan ceria—yang tentu saja Gempa balas dengan ceria pula. Membayangkan semua itu dialami Halilintar di awal hari membuatnya tidak enak hati.

"Aku baik-baik saja." Halilintar bicara seolah melihat semua yang Gempa bayangkan.

"Ahaha, Gempa! Kau tahu tidak—AAH! Lepas, Hali! Sakit!"

Baru saja Taufan mau ikut nimbrung bercerita, Halilintar memiting lengan kakak keduanya itu segera sedetik setelah tangannya merangkul Halilintar dengan sok akrab.

Halilintar benci disentuh, bahkan oleh Taufan.

"Tanganmu ini, mau kubuat diam selamanya?"

"WAAAH! Ampun, Haliii!"

Melihat tatapan memohon Taufan, Gempa akhirnya membantu melerai. "Sudahlah Kak Halilintar, kasihan Kak Taufan."

Tadinya, Gempa menggiring Taufan dan Halilintar ke taman belakang berniat untuk memarahi mereka tentang kegiatan 'bertukar tempat' dua hari yang lalu. Tapi, setelah bayangan kesulitan yang mungkin Halilintar alami, emosinya terbang sudah ditiup angin.

"Haduh ...," keluh Taufan sambil mengusap bagian sikut dan bahunya.

"Ya sudah. Aku mau ke kelas dulu. Kalian juga," pamit Gempa segera. Ia malu sempat berpikir untuk memarahi orang yang sudah membantunya.

"Gitu aja? Kamu nggak mau tanya apakah nilai ujianmu dibuat sempurna oleh kakak kita tercinta—aduh!"

Kedua mata Gempa membulat. Mengabaikan Taufan yang mengelus-elus kakinya yang baru saja Halilintar injak, ia menatap kaget kakanya. Mengingat bagaimana encernya otak Halilintar, ada kemungkinan sangat besar hasil ujiannya sempurna. Sedangkan Gempa sendiri memiliki kapasitas di bawahnya, cenderung kurang malah. Bukannya Gempa tidak senang jika hasilnya sempurna, ia hanya berpikir bagaimana jika Papa Zola curiga dan mengetesnya sendirian sebagai bukti bahwa nilainya memang sempurna.

"Kak Hali—"

"Sekitar nilai tujuh atau delapan. Aku salahkan beberapa jawaban. Kalau kamu khawatir soal itu," sela Halilintar sebelum Gempa menyauarakan pikirannya.

Gempa menunduk serba salah.

"Jadi, mau marah?" tanya Halilintar tenang.

Gelengan kepala menjadi jawaban Gempa tanpa mengangkat wajah. Mereka—khususnya Halilintar, sudah memperhitungkan semuanya.

"Ya sudah. Ke kelas," pungkas Halilintar.

Kakaknya itu berjalan lebih dulu keluar dari taman belakang sesaat setelah mengusap puncak kepala Gempa.


Gempa malah tidak tahu harus bersikap seperti apa di kelasnya sendiri. Yaya-lah yang lebih dulu datang ke mejanya dengan ceria, seperti biasa.

"Pagi, Gempa!" sapa gadis berhijab putih itu semangat, tak lupa dengan senyum secerah cuaca pagi ini.

"Ehehe ... pagi, Yaya," balas Gempa kikuk. Entahlah, ia punya firasat kalau—

"Kamu sudah sembuh benar?" tanya Yaya dengan bisikan sangat rendah.

—gadis inilah yang Halilintar maksud mengetahui penyamarannya.

Tetap saja Gempa tersentak meski sudah memprediksi hal ini. "A—ah, sudah, Yaya."

"Hehe ... pulang sekolah nanti tolong beritahu Tok Aba aku dan kawan-kawan akan datang sekitar jam empat sore. Pesanannya ditambah lima, ya."

"Baik, Yaya!" Gempa mencoba mengikuti alur meski tetap saja dirinya bingung. Tapi, Yaya sendiri tidak memberitahu ada acara apa untuk hari ini di kedai cokelat Tok Aba. Mungkin memang tidak ada sangkut paut dengan dirinya.


Jam pembelajaran selesai dua menit yang lalu. Gempa sudah akan keluar dari kelas jika saja tidak tertahan oleh pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Kamu pasti nggak percaya kalau aku bilang Hali itu adalah manusia kloning darimu. Aku berani sumpah! Hali benar-benar aktor terbaik. Dipeluk Gopal pagi-pagi, salam tos dengan Iwan dan Stanley, sampai merangkul mereka berdua seperti kamu yang biasa, menyapa Ying dan Yaya seceria dirimu! Ahahaha! Yah, meski beberapa jam kemudian dia lengah dan jadi dirinya yang pemarah dan garang. Tapi, nggak ada masalah besar 'kok, Gempa. Tenang saja. Yaya tahu karena dia memang cukup dekat dengan kita, jadi sangat sulit berbohong soal ini di depan dia. Tapi dia janji nggak akan menyebar pertukaran tempat kalian—dengan Kak Hali berjanji nggak akan melampaui nilai dia di ujian kemarin.

Gempa segera membalas pesan itu.

Tapi Kak Taufan, aku sesekali juga mau rasain di posisi kalian. Setenang Kak Halilintar dan sebebas kamu.

Tidak lama, chat kedua masuk.

Aku juga berpikir mungkin kemarin Hali memang kemasukan arwahmu, Gempa. Makanya

Gempa mengernyit membaca gelembung pesan kedua dari Taufan yang menggantung. Namun, hanya sedetik dua gelembung chat itu dihapus kembali oleh Taufan. Tapi toh Gempa sudah selesai membacanya.

Dalam hatinya, Gempa kembali berterima kasih. Meski tidak terlihat seberapa, tapi menjadi orang lain itu tidak mudah, apalagi harus membawa karakter yang bertolak belakang.

Gempa dan kedua saudaranya tidak pernah melakukan ini meski sempat terpikirkan di beberapa situasi. Kadang, Gempa pun ingin menjauh dari banyak orang dengan mengambil posisi Halilintar, atau sekadar ingin bebas tertawa di posisi Taufan.

Kamu bisa lakukan dan rasakan itu sebagai dirimu sendiri.

-Halilintar

Mata Gempa mengerjap kaget. Layarnya masih di posisi ruang obrolan bersama Taufan. Akan tetapi, meski dalam bentuk tulisan pun Gempa membacanya dengan nada datar dan dingin khas kakak pertamanya. Ditambah tanda nama 'Halilintar' di bawah pesan itu. Terjawablah alasan dua pesan Taufan dihapus barusan. Sudah pasti Halilintar yang melakukannya.

"Gempa, aku duluan! Jangan lupa pesanku, ya," pamit Yaya setelah menyelesaikan tugas piketnya hari ini.

"Oke, Yaya. Hati-hati di jalan!" Gempa mengacungkan jempolnya yang dibalas sama oleh gadis itu.

"Kamu banyak-banyak istirahat ya, Gempa. Biar cepat pulih!" Gadis itu melambai semangat sebelum benar-benar pergi dari kelas.

"O—oke, Yaya."

Ingatkan Gempa untuk tidak berpikir tukar tempat saat mereka masih bersinggungan dengan Yaya.


Gempa memasuki kamar berantakan milik Taufan dengan mengendap-endap. Bukan, Gempa bukan berencara untuk menjahili atau mengagetkan kakak keduanya itu. Dia memang takut 'kunjungannya' ini diketahui seseorang. Setelah memastikan tidak ada orang di luar yang memergokinya, ia menutup pintu kayu itu dengan perlahan dan segera menguncinya.

"Dimana—HUWAAA!"

Bukan Taufan saja yang terkejut. Gempa yang mendengar pekikan itu juga refleks mendorong kakaknya ke arah kasur sambil membekap mulutnya untuk meredam teriakan itu.

"Ssst! diam, Kak!" bisik Gempa panik.

Taufan yang sadar situasi akhirnya menyingkirkan tangan Gempa dari mulutnya.

"FUAH! Pengap, Gempa. Kamu nggak berusaha menculik kakakmu sendiri di rumah, 'kan?" tanya Taufan dramatis dengan air mata buatan entah air dari mana.

"Eeh?! Nggak gitu juga. Soalnya tadi Kak Taufan teriak, aku kaget dan refleks aja. Maaf, ya," ungkap Gempa menyesal.

"Sudahlah tu, Gempa." Taufan mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur. "Nah, ada apa tiba-tiba bertamu ke dalam gua, ini? Mengendap-endap pula."

"Eh, erm ..."

Gempa bingung lagi. Ini tidak penting sih, tapi dia ingin tahu. Tapi, ketika dipikirkan lagi sekarang, rasanya sudah tidak perlu, ya?

Taufan tetap menunggu meski tangannya sudah mengepal-membuka dengan tempo cepat, tanda jika dirinya memang sedang gemas. Gempa yang menyadari gerakan itu malah bertambah bingung lagi.

"Aku ... cuma mau tahu gimana keadaan kalian saat Kak Halilintar gantikan aku selama dua hari itu."

Taufan tampak menahan tawa. Entah menertawakan rasa penasarannya, atau memang banyak hal terjadi dalam kurun waktu dua hari kemarin.

"Hali bakalan marah kalau aku ceritain. Tadi dia ambil hape aku pas masih ngetik itu dan belum dibalikin sampai sekarang." Taufan terkekeh kecil setelahnya. "'Jangan macam-macam!' Gitu katanya."

Tidak sulit untuk Gempa membayangkan apa yang Taufan ceritakan. Saking seringnya ia menyaksikan adegan serupa dengan sumber masalah berbeda-beda.


"Taufan."

Taufan yang sedang mencari kaos kakinya yang hilang sebelah menoleh mendengar namanya dipanggil. Kakak pertamanya berdiri di ambang pintu dengan wajah datar yang biasanya.

"Hm? Kenapa, Hali? Tumben banget masuk kamarku."

Taufan kembali memfokuskan dirinya mencari sambil mengingat-ingat lagi dimana kaos kakinya itu ia simpan sebelah lagi.

"Gempa kayaknya sakit. Kamu pesan taksi online, biar aku urus Gempa dulu."

Kegiatan pencariannya berhenti. "Eh? Beneran sakit? Tadi aku lihat dia minum parasetamol habis makan malam. Cek dulu aja, kali demamnya turun."

"Gempa nggak berhenti menggigil, Taufan. Biar langsung kita periksakan aja kenapa, sih?"

Halilintar sudah langsung pergi, yang berarti Taufan tidak boleh mendebat lagi dan harus segera mengerjakan perintah kakak pertamanya; memesan taksi online.

Jam menunjuk angka sembilan lewat dua puluh. Meski tidak yakin, Taufan mencoba memesan. Cuaca buruk sejak sore, dan ini pun sudah larut malam, biasanya pemesanan akan sulit dan memakan waktu.

Lebih dari sepuluh menit Taufan menunggu. Satu pesanan telah batal otomatis karena tidak kunjung mendapat driver. Beberapa menit lagi, pesanan kedua pun sepertinya akan berakhir sama. Ia pun terpikirkan satu ide, yang meski meragukan setidaknya ia harus coba mengutarakannya kepada Halilintar.

Di kamar, Gempa meringkuk dan bergetar samar di balik selimut. Taufan juga melihatnya menahan tangan Halilintar di dahi seolah menjadikannya kompres sementara. Halilintar sendiri tampak khawatir sekali dilihat dari sorot mata dan kerutan di dahinya yang dalam.

" ... pusing ...," ucap Gempa begitu lemah.

Halilintar mengangguk mengerti. Kakaknya itu berjongkok di sisi ranjang Gempa. Suaranya lembut pula. Kakaknya itu tampak memijat sisi kepala Gempa.

Duh, Taufan malah terharu melihat betapa perhatiannya Halilintar.

Taufan segera mendekat dan menyuarakan idenya hati-hati. Ia yakin Halilintar akan menolak. Tapi, apa salahnya dicoba?

"Hali, kita bonceng tiga aja gimana? Nggak ada driver yang ambil orderan aku, nih."

Halilintar menoleh dengan memicingkan mata. "Bahaya, Taufan," tolaknya. Suara Halilintar yang masih selembut itu membuat Taufan terkesima.

Halilintar sangat bisa jadi kakak yang diandalkan jika dalam situasi seperti ini.

"Kasihan Gempa, tahu. Mau nunggu berapa lama lagi?" tawarnya lagi, mencoba membujuk Halilintar.

"Di luar dingin walaupun udah nggak hujan. Sebentar lagi aja," jawab Halilintar lagi setelah beberapa saat memperhatikan ke luar jendela.

"Aku coba order sekali lagi, ya."

Halilintar menjawab dengan anggukan. Lalu, kakaknya itu berpindah posisi menjadi duduk di sisi ranjang dan mulai mengusap-usap kepala Gempa.

Pesanannya lagi-lagi berakhir sama. Batal otomatis karena tidak mendapatkan driver.

"Gempa. Gempa, kamu bisa dengar aku? Gempa, hei. Gempa, buka mata kamu!"

Taufan bergegas mendekat setelah mendengar Halilintar memanggil-manggil Gempa dengan panik.

"Kenapa, Hali?"

"Ambil saputangan sama air hangat, Taufan. Gempa kayaknya nggak sadar."

Taufan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia berjalan cepat ke lantai bawah mengambil sebaskom air hangat. Gempa punya banyak saputangan, jadi harusnya benda itu ada di dalam lemari adiknya.

Posisi Gempa sudah lebih baik daripada sebelumnya. Halilintar meluruskan tubuh Gempa dan hanya menutupi tubuhnya dengan satu lapis selimut saja.

"Ini, Hali."

Halilintar yang tengah menyeka keringat di wajah dan leher Gempa langsung mengambil alih baskom di tangannya.

"Makasih, Taufan."

Dengan cekatan, dia mulai membasahi saputangan itu dengan air hangat lalu memeras dan meletakannya di atas dahi Gempa. Wajah Halilintar tampak panik dan tegang.

Taufan sendiri penasaran. Ia lalu mendekat ke arah Gempa, mencoba memastikan apakah adiknya itu benar-benar pingsan atau tertidur.

"Gempa," panggilnya dengan mengguncang bahu yang bersangkutan. "Gempa, coba jawab aku."

Gempa masih diam. Taufan pun mencoba cara terakhir yang ia tahu. Ia mencubit kecil lengan kanan adiknya itu.

"Erh ...! S—sakit ... Kak," erang Gempa nyaris berbisik. Kelopak matanya berkedut sedikit, tapi tidak terbuka.

"Gempa masih sadar kok, Hali. Jangan panik gitu, mungkin lemas aja dia, makanya nggak ada respon tadi."

Sekarang, raut wajah Halilintar melunak. Taufan pun lega karena tidak terbawa panik oleh kakaknya ini.

"Kamu istirahatlah, Taufan. Besok masih harus sekolah," titah kakanya.

"Dan kamu mau jaga Gempa sendirian? Aku ikut!"

Tanpa berdebat, Halilintar mengizinkan dia menemaninya menjaga Gempa. Meski berakhir Taufan yang tertidur lebih dulu, rasanya ada kenyamanan baru bersama kakaknya yang berubah menjadi sangat lembut dan perhatian ini.


"Yah nggak lucu dong, Haliii. Karena jagain Gempa kamu ikutan demam."

Taufan terbangun jam empat pagi dan menemukan Halilintar yang masih terjaga. Sekeliling matanya tampak menggelap samar. Begitu dia berinisiatif mengecek suhu tubuh kakaknya itu, benar saja dia ikut demam meski tidak separah Gempa.

"Gempa masih belum bangun lagi. Mana bisa aku tidur tenang."

Taufan juga sebenarnya merutuki diri sendiri karena bukannya bergantian menjaga, dia malah tidur dengan tenangnya. Bahkan yang semula dia tidur dengan posisi duduk di kursi belajar Gempa, saat bangun sudah ada di atas kasur. Berselimut pula.

"Terus gimana? Kalau kamu juga sakit, kamu nggak bisa sekolah hari ini! Lihat coba ini, 38 derajat." Termometer memang menunjukkan angka itu. Pasti karena kelelahan semalaman tidak tidur, belum lagi sejak kemarin siang pun kakaknya tidak terlihat beristirahat.

"Aku masih bisa maksain sekolah. Demam segini nanti juga turun sendiri."

Halilintar tampak mengurut dahinya dengan wajah lelah. Taufan kemudian mengecek suhu tubuh Gempa. Sudah turun, mungkin karena Halilintar terus mengompresnya juga semalam.

"Nggak usah dibangunin. Biar dia istirahat aja."

Padahal Taufan hanya baru berniat di dalam hati mau membangunkan Gempa untuk bertanya ingin pergi sekolah atau tidak. Tapi memang lebih baik biarkan istirahat karena bisa saja dia memaksakan diri pergi sekolah.

Kedua mata Taufan tiba-tiba terbelalak mengingat sesuatu.

"Hali! Gempa hari ini ada ujian Fisika Papa Zola. Tahu 'kan kalau yang satu ini nggak pernah ada kesempatan lain?"

"Kenapa baru bilang? Sudahlah! Aku tukar tempat dengan Gempa hari ini."

Taufan mengerjap kaget. Ringan sekali mulut kakaknya itu berkata akan tukar tempat hari ini. Tanpa persiapan apa-apa pula. Namun, Halilintar sudah keluar dari kamar Gempa dan kembali beberapa menit kemudian. Kakaknya itu tampak mencari-cari sesuatu di meja belajar Gempa, lalu duduk kembali.

Taufan tidak pernah menduga kegiatan bertukar tempat akan benar-benar dilakukan di antara mereka. Ini yang pertama, dan—uh! Membayangkan Halilintar yang punya wajah garang itu mencoba memerankan Gempa yang menyenangkan dan baik hati rasanya sangat mustahil.

"Hali, serius kamu mau tukar tempat?"

Halilintar yang ternyata tengah mempelajari materi pelajaran Fisika itu mengangguk kalem. Bahkan entah kapan dan dari mana tangan kanannya sudah memegang roti dan mulutnya mengunyah. Tapi, Taufan tidak puas dengan jawaban itu.

"Haliii ...," panggilnya lagi setengah merengek. Saat Halilintar mengangkat wajah, Taufan melanjutkan, "kamu yakin? Salah-salah nanti kamu rusak reputasi Gempa di sekolah. Kasihan dia."

"Aku udah pikirkan semuanya."

Taufan mengerjap ... lagi. Secepat itu?

"Nggak usah lebay!"


Taufan melongo melihat betapa Halilintar benar-benar hebat memerankan tokoh 'Gempa' di sekolah. Kakaknya tampak biasa saja— tidak biasaaa, tapi sangat ceria. Seolah dia memang Gempa yang asli.

Tidak ada tampak raut wajah risih ketika Gopal, teman terdekat Gempa memeluknya kuat-kuat. Taufan yang hanya melihat pun merasakan sesak. Dia malah tertawa kecil khas Gempa dan balas memeluk Gopal sama semangatnya.

Taufan menunduk antara menahan tawa dan mencoba mengingat sesuatu. Yakin sekali ia berangkat dengan Halilintar dari rumah tadi. Tapi ini ... seperti Gempa seutuhnya.

Taufan lebih terkejut lagi saat Halilintar merangkul akrab Iwan dan Stanley. Lalu, menyapa Yaya dan Ying kelewat ceria. Taufan mengeluarkan ponsel dan segera mengetik sesuatu.

Kalau butuh bantuan, panggil aku aja.

Pesan itu ia kirim ke nomor Halilintar.

"Whoa ...! Kalian ini kompak sekali, ya!"

Sudah saatnya Taufan pun ikut dalam skenario ini. Ia menerobos ke tengah, merangkul 'Gempa' dengan sangat akrab.

"Wah, iya dong, Kak Taufan~" balas 'Gempa' semangat. Meski hanya sepersekian detik, Taufan yakin ia baru saja melihat tatapan membunuh dari iris yang sewarna dengan miliknya itu. Ia meneguk ludahnya paksa.

Walau begitu, dam-diam Taufan kagum dengan keahlian terpendam kakak pertamanya ini. Mati-matian Taufan menahan dirinya agar tidak mengabadikan momen terlangka yang mungkin takkan pernah terulang dalam seratus tahun ke depan, menurutnya.


"Taufan! Gempa pingsan pas kita lagi main bola. Kepalanya kena hantam bola sepak kuat sekali tadi. Sekarang dia di UKS, lagi istirahat."

Di hari kedua, Taufan merasa jantungnya seolah jatuh ke perut saking kagetnya. Meski Halilintar atlet bela diri, bukan berarti dia kebal dengan 'kecelakaan'. Apalagi ini mengenai kepala.

"Dia di mana?!" tanyanya panik.

"Tenang, Taufan. Tadi kami langsung bawa dia ke UKS. Jadi, Gempa harusnya udah baik-baik saja."

Tanpa menjawab lagi, Taufan segera berlari ke ruang UKS. Apa-apaan kecelakaan ini? Bisa-bisanya Halilintar yang selalu penuh rencana ini ceroboh. Bisa gawat kalau saat sadar nanti Halilintar lupa sedang memerankan Gempa dan pertukaran mereka pun akan terbongkar.

Sampai di UKS, Taufan berjalan pelan menuju satu-satunya ranjang yang dipakai. Halilintar memang ada di sana, masih berbaring tidak bergerak.

Sudah kemarin lelah semalaman tidak istirahat, harus berusaha menjadi orang lain sampai seharian siangnya, sekarang harus ikut bermain sepak bola dengan teman-teman Gempa pula.

Gempa biasanya bermain tanpa istirahat, begitu pun dengan teman-temannya. Hari ini pun tidak terkecuali.

Ckit!

Taufan mundur selangkah, terkejut dengan suara decitan yang cukup keras. Dilihatnya Halilintar sudah duduk memegangi kepalanya sendiri.

"Hali—"

"Diam!"

"Oh ouh ... tenang, oke." Taufan mendekat perlahan seperti bersiap menyentuh induk ayam yang galak. "Kau sedang menjadi Gempa. Tarik napas, buang. Tarik lagi, buang. Tarik, buang. Fuh ..."

Halilintar mengikutinya dan dalam beberapa saat tampak lebih tenang. "Aku ... kenapa?"

"Pikun."

Ketenangan hasil tuntunan Taufan menguap seketika. Wajah Halilintar sudah merah padam. "Apa kamu bilang?!"

"Tuli juga."

Halilintar sudah turun dari ranjang dengan kedua tangan mengepal.

"Diam dulu, oke?"

Sambil mundur teratur, Taufan menunjuk pelipis Halilintar yang memerah dan sedikit ada luka gores. "Iwan bilang kamu kehantam bola. Pas di situ. Makanya perih kan? Pusing kepala?"

Halilintar mengendurkan kepalannya lalu berbaring lagi ke atas ranjang.

"Mau istirahat aja? Bolos kayaknya nggak apa-apa. Alasannya masuk akal juga kok."


"Makan yang banyak, cuaca yang nggak menentu ini berpengaruh buat kesehatan."

Gempa sudah menghabiskan makannya dengan cepat. Setelah sembuh dari sakit, rasanya ia sering merasa lapar. Segala bentuk makanan terasa enak di lidahnya. Mungkin semacam pembalasan tidak bisa makan dengan baik saat sedang sakit.

"Hali, jangan lupa minum obatnya."

Halilintar yang sudah akan pergi ke kamarnya duduk kembali. Dia tampak menyobek satu bungkusan obat tablet lalu segera menelannya. Setelah itu, barulah kakaknya pergi mencuci piringnya sendiri.

Gempa yang memang duduk dekat dengan Halilintar melihat wajahnya yang pucat dan hidungnya memerah—yang baru ia sadari sekarang. Ia ingat beberapa kali kakaknya itu bersin saat makan.

"Kak Halilintar sakit?"

Yang ditanya tidak menjawab. Gempa agak khawatir sekarang. Apalagi saat Halilintar berhenti di pertengahan anak tangga menuju lantai dua dan Taufan yang sigap langsung memapahnya.

"Gempa, kamu istirahat yang banyak, ya. Jangan terlalu maksain dulu sampai badan kamu benar-benar sehat."

Gempa menatap ibunya. "Kak Halilintar sakit, Ma? Tapi kenapa?"

"Mungkin kecapekan. Tadi kehujanan juga."

Taufan turun dari lantai dua dengan wajah tertekuk kesal dengan memijat bahunya. Gempa sudah tidak perlu lagi menebak.

"Padahal aku mau coba selembut dia pas ngurusin kamu, Gempa. Tapi lagi sakit pun mampu banget dia miting tangan aku."


Sarapan pagi ini tidak lengkap. Ya, Halilintar yang absen sekarang. Bahkan setelah dikompres pun demamnya tidak kunjung turun.

"Kak Taufan,"

"Ya, Gempa. Adikku yang paling aku sayang. Ada apa?"

Gempa menahan dirinya agar tidak menjitak Taufan seperti kakak pertamanya. Akan tetapi, rasa geramnya menghilang seketika mengingat ide briliannya yang akan dia utarakan. Kepalanya menoleh ke arah tangga dan pintu kamar di lantai dua, memastikan ibunya belum keluar dari kamar Halilintar.

"Gimana kalau aku gantiin Kak Halilintar?" bisiknya semangat.

Taufan menyemburkan susu yang baru saja diseruputnya. Gempa lekas menyambar beberapa lembar tisu untuk mengelap wajahnya dengan eksprsi jijik.

"Kamu jangan main-main, Gempa. Yang kamu hadapi nanti itu berandalan sekolah. Bisa habis kamu dikeroyok mereka nanti."

Halilintar dengan musuh-musuh berandalannya, dan Taufan dengan olahraga ekstremnya. Tidak ada yang aman untuk Gempa menjadi pengganti mereka. Hanya mereka yang bisa menempati posisi Gempa, satu-satunya yang jauh dari bahaya. Yaaa ... meskipun sempat terjadi kecelakaan kecil saat Halilintar menggantikannya, sih.

"Kamu pasti baca chat Hali. Kalau kamu langgar ..." Taufan menggantung kalimatnya, bernada menakut-nakuti lalu melanjutkan, "habis kamu!" tukasnya dengan sendok mengacung hampir menyentuh hidung Gempa.

Meski belum pernah sekali pun Gempa terkena amukan Halilintar, dalam hati dan pikirannya dia sudah selalu mengantisipasi untuk tidak membangunkan amarah kakaknya itu.


fin-


haalllooooo semuaaaaaa!!!!

makasih yaaa, yang udah baca, fav, follow, bahkan review fic comeback akuu. banyak banget yang mau aku sampaikan sampai aku sendiri nggak sanggup ngetik karena kalah cepat antara kalimat yang terangkai di otak sama kecepatan jari aku mengetik semuanya T.T

maaf yaa, aku nggak bisa balas kaliaan. aku pakai app (sudah bertahun-tahun nggak bisa buka di web) huweeee! pengen banget pelukin kalian satu satuuu

yo! semangat buat kalian semuaaa