PRIIIITTTTTTTT!
Bunyi peluit tanda pertandingan selesai telah berbunyi. Hari ini, tanggal 19 Desember merupakan pertandingan final mereka di penghujung tahun melawan beberapa sekolah menengah lainnya. Dan seperti biasanya, mereka meraih juara pertama. Senyum mereka langsung merekah karena hasil kerja keras mereka tidak sia-sia. Bahkan bisa dibilang, permainan mereka telah mengalami peningkatan sekalipun pemain inti mereka tinggal 6 orang saja.
Yap. Benar.
Sudah 6 bulan berlalu semenjak kejadian yang tidak disangka-sangka dalam sejarah tim mereka itu terjadi. Kejadian yang berhasil membuat Haizaki keluar dari tim basket terhebat dan menghilang begitu saja. Saat ditanyakan pun, tidak ada seorang pun yang berani mengakui mengenai hal apa yang telah terjadi. Termasuk Kise dan Midorima itu sendiri. Lebih tepatnya, tidak ada satu pun yang berani mempermasalahkan apa yang telah diperbuat oleh Seijuurou sehingga satu orang ini menghilang tanpa jejak. Terlebih lagi, hal tersebut sangat tidak baik untuk kesehatan Tetsuya. Jadi semuanya lebih memilih untuk tutup mulut.
"YOSSHAAA!," teriak Aomine bersemangat.
Setelah saling memberi hormat, mereka kemudian dikumpulkan sekali lagi untuk penyerahan piala penghargaan yang entah sudah kesekian kalinya mereka terima. Dilanjutkan dengan foto bersama team agar bisa menjadi sampul majalah olahraga terkini. Setelah itu, mereka kembali ke loker masing-masing untuk membereskan barang bawaan mereka, mendengarkan sepatah dua kata dari pelatih mereka, dan akhirnya bersiap untuk pulang.
"Ne ne neeee~? Apa kita akan langsung pulang?," tanya Momoi antusias. Dari sorot matanya sudah bisa ditebak kalau dirinya tidak ingin hanya langsung pulang begitu saja.
"Momocchii! Aku juga tidak ingin langsung pulang, ssu~!" sahut Kise menimbrung. Dengan kompak keduanya melakukan high five dan saling terkekeh seperti anak kecil. Midorima hanya bisa menggeleng tidak paham dengan kelakuan temannya ini.
"AHA!" teriak Aomine tiba-tiba.
"Berisik, nanodayo!"
"Bagaimana kalau kita adakan pesta kecil-kecilan di rumah Tetsu?!"
Sontak yang disebutkan namanya memasang wajah lugu tidak paham, "e-eh?"
Gestur tangannya mengisyaratkan apa benar yang dimaksudkan ialah dirinya, sedangkan yang lain mengangguk semangat.
"Bukan ide yang buruk. Aku pernah mampir hingga depan rumahnya, tidak begitu jauh dari sini."
—atau lebih tepatnya menguntit.
"Aku sih tidak keberatan. Hanya saja, tidak tersedia apapun di rumah. Jadi mungkin kita perlu singgah untuk membeli makan malam."
"Kalau soal itu, kalian tidak perlu khawatir," ujar Seijuurou sambil mengacungkan kartu atm miliknya ala-ala sultan. "Kita bisa singgah untuk take away sebentar."
Semuanya senang bukan main. Aomine, Momoi, dan Kise bahkan sampai bersorak riang gembira bagai memenangkan lotre di tanggal tua. Bahkan Midorima sendiri terlihat senang. Yah, walaupun ia tetap berusaha menyembunyikan rasa gembiranya dibalik topeng tsunderenya.
Mereka bertujuh langsung melanjutkan perjalanan mereka mengunjungi restoran-restoran yang mereka temui di sepanjang perjalanan ke rumah Tetsuya. Ada banyak tempat yang mereka kunjungi sehingga membuat si pemain bayangan tidak enak sendiri. Padahal rumahnya yang ditempati, tapi malahan orang lain yang menyajikan makanan.
"Tidak usah sungkan. Lagipula, tempatmu juga yang dibuat berantakan. Jadi setidaknya cukup adil jika aku yang mentraktir kalian makan."
Benar-benar seperti iblis. Sejak tadi dia hanya memasang wajah datar, loh!
"Nampak di wajahmu," lanjut Seijuurou separuh bercanda. "Tidak perlu heran begitu, Kuroko."
Sedangkan yang satu hanya mengerjap tanpa suara. Ah, sudahlah. Kaptennya memang seperti itu. Tanpa dikatakan apapun, makhluk merah disampingnya ini pasti bisa tahu macam dukun keramat. Yang penting, Seijuurou yang ini sudah bertindak seperti Seijuurou Seijuurou pada umumnya, tidak seperti Seijuurou yang muncul saat beberapa bulan yang lalu.
Jujur saja, saat itu sosok Seijuurou sangatlah berbeda dengan yang sekarang ini. Seijuurou yang menjujung tinggi atitude tidak akan menyebut nama depan siapapun dengan begitu mudahnya tanpa merasa tidak nyaman. Sedangkan yang lalu itu sungguh mengagetkan semuanya, di mana nama depan mereka disebut begitu saja bahkan tanpa imbuhan. Seijuurou si "mata belang" namanya. Sebutan lain untuk Seijuurou menurut Aomine sewaktu mereka berunding mengenai bagaimana perilaku kaptennya ini berubah seiring dengan berubahnya warna matanya menjadi merah-gold. Sungguh tidak disangka-sangka. Lalu, beberapa hari setelah Tetsuya diperbolehkan pulang dari rumah sakit, barulah Seijuurou kembali seperti semula. Syukurnya, hingga hari ini Seijuurou terlihat sehat dan waras.
Ada beberapa hal yang membuat Tetsuya sedikit kepikiran sebenarnya. Bukan soal cara dia memanggil mereka, melainkan cara Seijuurou memperlakukan Tetsuya saat itu. Begitu dingin, namun terasa aman. Dia seperti induk ayam yang siap mematuk jika ada yang mendekati apalagi menyentuh anaknya. Benar-benar menjaga Tetsuya dalam pengawasannya, walaupun Seijuurou sendiri tidak begitu banyak bercerita waktu itu. Sungguh membuatnya cukup was-was. Kaptennya ini mirip seperti orang yang sedang kemasukan.
Tetsuya menghela nafas panjang. Pandangannya teralihkan oleh kue tart yang berukuran mini yang dibalutkan cream bewarna putih dan dihiasi oleh buah stawberry yang bertengger di tengah-tengah kue. Ia tampak berpikir sejenak, lalu tanpa berkata apapun ia menghilang di balik pintu toko bakery. Selang beberapa menit, ia keluar dengan membawa bungkusan kecil dibarengi dengan senyumannya yang sedikit merekah. Langkahnya pun dipercepat, separuh berlari untuk menyusul yang lainnya.
Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya mereka tiba di pekarangan rumah Tetsuya. Pekarangan biasa dan kecil, tidak ada yang spesial. Rumahnya pun begitu minimalis, hanya 1 lantai saja. Pintu rumahnya berada di ujung kiri. Saat masuk, bisa dilihat ada ruang tamu di tengah-tengah rumah, dan dibelakangnya terdapat dapur kecil berbataskan meja bar. Ada pintu kecil di sisi kiri dapur. Bagian tembok dapur juga hampir full dihiasi oleh kaca jendela. Jadi pekarangan di belakang rumah juga bisa langsung kelihatan. Sedangkan di sisi kanan terdapat kamar mandi yang diapit oleh 2 kamar. Begitu simpel, tipikal Tetsuya.
Minimalis, namun tidak begitu kecil untuk ukuran orang yang hanya tinggal sendiri. Ditambah lagi, tidak begitu banyak perabotan yang menghiasi rumah Tetsuya, jadi rasanya cukup luas. Ada meja tamu yang cukup lebar di ruang tamunya, dikelilingi oleh sofa berwarna cream, juga ada LCD TV yang bertengger pada dindingnya.
Tetsuya langsung mengarah ke dapur dan menyimpan kue yang tadi dibelinya di kulkas. Ia lalu mengambil beberapa peralatan makan dari lemari piringnya dan meletakkannya di meja tamu. Kise dan Aomine pun ikut membantu, sementara Seijuurou dan Momoi yang menyajikan makanan. Midorima? Tentu saja tidak bisa membantu. Kedua tangannya digunakan untuk mengekang Murasakibara agar tidak mencomot makanan lebih dulu. Setelah semuanya siap, mereka pun menyantap makanan dengan lahap. Mulai dari makanan inti, hingga dessert pun ludes.
"Woah! Kurokocchi punya game console! Yang limited series pula!" ujar Kise tiba-tiba.
Matanya begitu berbinar-binar melihat perangkat elektronik yang bertengger rapi tanpa debu di rak TV. Ia bahkan menyentuhnya dengan sangat hati-hati, seperti sedang diperhadapkan dengan barang antik yang tidak boleh cacat.
"Yang benar?! Oi Kise, aku juga mau lihat!"
"Aku tidak menyangka kalau kau suka permainan seperti ini, nanodayo. Kau terlihat seperti orang yang tidak tertarik bermain game."
"Ah, kata bibiku, ayahku yang memberikannya dulu," sahut Tetsuya dari balik dapur. Tangannya bergerak sedang mencuci beberapa peralatan makan yang tadi sudah mereka digunakan, sementara Seijuurou yang mengangkat piring, mangkok, juga sendok kotor, lalu meletakkannya di sink dapur.
"Sebenarnya aku juga tidak begitu sering bermain game. Hanya terkadang saja agar pikiranku teralihkan." Lanjutnya.
"Ayahmu masih hidup?" tanya Seijuurou tiba-tiba.
Pergerakan Tetsuya terhenti. Tangan kanannya lalu mematikan keran air yang tadi masih mengalir. Kedua iris aquamarinenya menatap halaman di belakang rumahnya sejenak, separuh berpikir. Sebelum akhirnya menatap kedua iris crimson Akashi.
"Mungkin."
Aneh. Memang sih waktu itu Tetsuya hanya bilang tidak punya papa mama. Jelas bukan berarti karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Bisa saja karena anak ini yang ditinggalkan. Sungguh miris!
Beruntung hanya mereka berdua yang berada di dapur, sedangkan yang lain sibuk mengotak-atik game console milik Tetsuya. Seijuurou bisa merasakan suasana di sekitarnya sedikit "berat". Sepertinya ia salah menaikkan topik. Tapi entah kenapa mulut dan otaknya sekepo itu untuk tahu.
Tetsuya tersenyum. Seijuurou merinding. Kali ini, si bocah muka datar beneran tidak sedang kesurupan, 'kan?
"Maaf, aku tidak bermaksud membuat suasana menjadi canggung," ujar Tetsuya sebelum membungkuk lalu keluar bergabung dengan yang lainnya.
Kedua kakinya sendiri masih terpaku pada lantai dapur. Hanya matanya saja yang bergerak mengikuti arah Tetsuya yang sedang membantu budak-budaknya agar bisa bermain game. Rasa iba 180° berbalik menjadi rasa dongkol. Toh, dia ditinggalkan bersama piring-piring kotor yang masih menumpuk. Dengan kata lain, Seijuuroulah yang harus menyelesaikan cucian piring.
Dalam hati ia berjanji akan menaikkan menu training Tetsuya 3 kali lipat dari yang biasanya.
Pukul 00.00
Aktivitas Seijuurou terhenti sejenak. Sejak tadi ia sibuk mengurus dokumen perusahaan ayahnya di halaman belakang rumah Tetsuya. Namun ponsel miliknya tidak berhenti berdering jika dirinya tidak menjawab. Ada tulisan "Ayah" pada layar, apa karena sampai sekarang dokumennya belum kelar ya? Jempolnya menekan opsi hijau.
"Ya, Ayah? Sedikit lagi aku kirimkan, masih ada yang pe—"
"Selamat bertambah usia, Seijuurou," si anak langsung terdiam.
Ah. Benar juga. Saking sibuknya, sampai-sampai hari lahir sendiri dilupakan. Bukan sesuatu yang spesial sih menurutnya. Apalagi dengan kondisi yang sekarang, perayaan hari ulang tahun sudah bukan gaya hidup dirinya lagi. Hanya ayahnya saja yang sampai hari ini tidak pernah absen untuk mengucapkan selamat pada ahli wa— anaknya, tepat saat berganti hari. Sekalipun saat itu mereka berdua berbeda zona waktu.
Seijuurou berdeham, ketikannya sekali lagi terhenti, "Ayah ingat rupanya."
"Kau pikir aku ini apa, Seijuurou?"
Iya. Garang-garang begitu, Seijuurou sadar betul bahwa seringkali ayahnya terlihat sedang berusaha memperbaiki hubungan keluarga mereka. Mau diapa lagi, keluarga super bermarga "Akashi" memang harus siap dengan segala jenis situasi dan kondisi, tanpa ada alasan apapun. Alhasil terkadang hubungan mereka menjadi cukup canggung kalau mau dibandingkan dengan hubungan ayah-anak pada umumnya. Seijuurou sendiri belum tahu pasti, hanya saja ayahnya seperti masih terbeban dengan hal lain.
"Kau tidak pulang kali ini. Sedang di mana?" Lanjut Masaomi bak seorang pacar posesif yang mengintrogasi kekasihnya.
"Di rumah teman tim basketku. Kami menang, jadi buat pesta kecil-kecilan di sini. Besok pagi baru aku pulang, Ayah."
Terdengar dengusan kecil dari seberang, "Jangan terlalu banyak bermain, Seijuurou. Malam ini ayah berikan pengecualian. Jangan tidur terlalu larut, tidak baik untuk kesehatanmu."
"Baik, Ayah. Berkasnya sudah aku kirimkan. Ayah bisa cross check sekali lagi kalau mau."
"Tidak perlu, Ayah percaya padamu."
Telepon dimatikan. Tanpa salam penutup, tanpa embel-embel, tanpa basa-basi, langsung terputus begitu saja. Seijuurou menghela nafas panjang. Unik benar ayahnya ini. Mau terkesan masa bodoh, tapi tidak juga. Entahlah.
Seijuurou melakukan peregangan ringan. Entah karena faktor bertambahnya usia atau faktor lelah saja, tapi badannya terasa jompo. Ia lalu mematikan laptopnya, menaruhnya kembali dalam tas, dan bergegas untuk masuk kembali ke dalam rumah. Tepat ketika tangannya membuka pintu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok berwajah datar yang berdiri tanpa suara dan menatap langsung kedua iris mata Akashi. Sungguh! Jika bukan karena kue berhiaskan lilin menyala yang dipegang oleh Tetsuya, refleksnya pasti sudah mau menghantam makhluk tanpa emosi di depannya ini karena kaget.
"Selamat ulang tahun, Akashi-kun," ucap Tetsuya biar tidak dikira makhluk gentayangan.
Sang kapten sendiri hanya mengerjap keheranan. Hebat bener anak satu ini bisa memunculkan kue yang sejak tadi tidak ada dalam list belanjaan mereka. Namun, hatinya mulai luluh karena baru pertama kali ada orang selain ayahnya yang memberikan selamat untuknya di tengah malam. Setidaknya, bisa membuat Seijuurou mengurungkan niatnya untuk menaikkan porsi latihan bocah di depannya ini.
Si surai merah terkekeh, kue mini diterima dengan hati-hati, "Tahu dari mana kalau hari ini aku berulang tahun?"
"Aku hafal ulang tahun kalian semua, termasuk Akashi-kun. Kupikir kita pesta kecil-kecilan sekaligus untuk merayakan hari menetasnya Akashi-kun, ternyata mereka semua tertidur," ujarnya sambil menoleh ke arah budak-budak Seijuurou yang sedang tidur dengan berbagai gaya di sofa dan ada juga di lantai. Kepala merah mengangguk paham.
"Tiuplah. Kue mu sudah hampir terbakar."
Seijuurou sekali lagi terkekeh renyah. Baru saja ia mau meniup lilinnya, ternyata si kecil sudah meniupnya lebih dulu. Alisnya terangkat satu.
"Kelamaan. Mending aku yang matikan," ujarnya datar seolah tidak terjadi masalah apapun.
Satu sentilan melayang di jidat. Yang disentil langsung cemberut mengusap dahi mulusnya yang kini sedikit memerah. Tenang, tidak begitu dekat kok dengan bekas luka Tetsuya. Bibir mungilnya menggerutu kecil, mempermasalahkan respon Seijuurou yang terlalu lambat.
"Ah"
Tangannya mengisyaratkan Seijuurou untuk menunggu. Sedangkan si kepala merah sekali lagi dibuat penasaran. Sudah berapa kali dalam kurun waktu berdekatan, makhluk pucat ini memerintah dirinya. Hebat sangat.
Kali ini dia tidak tinggal diam melongo di ambang pintu. Seijuurou mengikuti Tetsuya yang kelihatannya menuju ke kamarnya. Tenanglah! Seijuurou tidak berniat berbuat sesuatu yang iya-iya seperti yang kalian bayangkan. Lagipula banyak mata yang melih— ehm, pada tertutup sih karena tidur. Ah, lupakan!
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Tetsuya. Ingat, Seijuurou adalah orang yang beretika. Jadi dia cukup tahu diri untuk tidak masuk di wilayah privasi orang lain tanpa izin. Kepalanya hanya "sedikit" menengok ke dalam, kok. Menengok saja tidak masalah, bukan?
Seperti tebakan semua umat yang mengenal makhluk satu ini. Kamarnya tertata sangat rapi. Ada rak yang dipenuhi oleh segala jenis buku, juga lemari yang tanpa dilihat dalamnya pun sudah ditahu kalau itu adalah lemari pakaian. Di sebelah kiri jarak pandangnya dari pintu kamar, ada kasur yang terbungkus rapi oleh seprai, dan juga meja belajar yang berdampingan dengan sebuah jendela.
Namun ada hal yang sepintas mengganjal masuk dalam fokus Seijuurou sampai-sampai ia perlu memicingkan matanya. Berulang kali ia coba pahami, tapi sama sekali tidak masuk dalam logikanya. Ada debaran aneh yang membuat jantungnya serasa ingin lepas. Serasa darahnya tidak mengalir ke kepala.
"…-kun? AKASHI-KUN?!"
Ia tersentak. Pandangannya kembali fokus. Dia bisa melihat Tetsuya yang menatapnya khawatir. Aneh, ada hal yang belum mampu masuk dalam logika berpikirnya. Semakin dipikir, kepalanya semakin berdenyut.
"Akashi-kun kenapa? Apa baik-baik saja?"
Ia hanya menatap kosong Tetsuya. Kemudian beralih pada pintu kamar yang sudah ditutup. Lalu kembali lagi menatap pemain bayangannya yang ternyata sedang memegang box kecil di tangan kirinya, sementara tangan kanannya seolah berusaha menopang tubuh Seijuurou yang tiba-tiba oleng.
"Maaf, sepertinya aku sedikit kelelahan."
Ya, anggap saja seperti itu, ujarnya membatin sambil memperbaiki posisi berdirinya agar tidak terlalu memberatkan Tetsuya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, tidak baik untuk kesehatanmu."
Dahinya mengernyit.
"Ah, ini hadiah untuk Akashi-kun. Mungkin tidak seberapa, tapi semoga Akashi-kun suka. Aku tidak membungkusnya, karena kurasa terlalu merepotkan."
Aneh benar.
Kedua tangan Seijuurou meraih box yang diberikan oleh Tetsuya dan langsung membukanya. Ia menatap Tetsuya lagi. Sorot matanya seakan ingin memastikan apa benar itu untuknya, sedangkan lawan bicaranya hanya mengangguk mantap.
"Akashi-kun 'kan sering mengurus perusahaan ayahnya Akashi-kun, pasti sering menghadiri rapat juga, setidaknya bisa digunakan di situ kalau memang dirasa aneh jika digunakan sehari-hari."
"Tidak aneh. Ini bagus," Sesuai dengan selera Seijuurou malah. "Akan kugunakan setiap hari. Terima kasih, Kuroko Tetsuya"
Tetsuya hanya membalas dengan senyum tipis. Lalu pergi bersiap untuk tidur dengan yang lainnya. Begitu pun dengan Seijuurou. Setelah menyimpan hadiah yang pertama kali ia terima dari seorang teman, ia pun bergegas untuk tidur.
Dalam hati masih memberontak ingin tahu…
.
.
.
…mengapa ada foto itu di atas meja belajar Tetsuya?
••••••
Doumo minna-san~~
Dalam beberapa hari kedepan akan ku-publish-kan Extra Chapter untuk menambah bumbu cerita :v
Stay tuned!
And last but not least, RnR Please? :D
