-besoknya-
"Bagaimana?" tanya Gaara menatap gadis pink yang memasuki kantornya itu. Memang pagi itu Sakura izin untuk kepangkalan terlebih dahulu sebelum melakukan pengawalan lagi.
"Mereka hanya memberikanku peringatan ringan. Terimakasih banyak pak." Ucap Sakura berterimakasih pada Gaara, ia yakin Gaara-lah yang membuat hukuman itu menjadi ringan.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Ucap Gaara santai.
"Kalau begitu saya pamit dulu pak." Ucap Sakura pamit undur diri untuk menuju ruangannya dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Sakura.. Bagaimana dengan tawaran pihak Prancis?" tanya Gaara menghentikan langkah Sakura.
"Itu.."
"Hah.. Aku tau kau akan begini.. Sakura, persiapkan dirimu. Kau akan berangkat pendidikan kesana setelah tugasmu selesai." Ucap Gaara membuat kaget Sakura.
"Tapi.." Sakura berusaha menolak.
"Jangan khawatir. Aku hanya memberikan sedikit dorongan, lagipula kau pantas menerimanya. Jangan lupa melaporkan padaku setelah jadwal keberangkatanmu keluar." Ucap Gaara tersenyum.
"Saya tidak pernah mengkhawatirkan hal itu, tapi terimakasih banyak pak." Ucap Sakura sebelum keluar dari ruangan Gaara.
"Sakura."
"A.. Sasuke.. Ada apa?" tanya Sakura menatap pria yang berjalan mendekatinya itu.
"Nanti malam apakah kau sibuk?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Tergantung. Ada apa?" tanya Sakura lagi.
"Apa kau mau makan malam denganku?" tanya Sasuke ragu-ragu.
"Makan malam? Dalam rangka apa?" tanya Sakura bingung. Apalagi seingatnya hubungan keduanya tidak seakrab itu untuk bisa makan malam betrsama dengan santai.
"Aku rasa sudah saatnya meluruskan kesalah pahaman." Ucap Sasuke lagi.
"Tidak. Tidak ada yang perlu dibicarakan." Tolak Sakura.
"Kenapa kau terus kabur?" tanya Sasuke curiga.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk mencari kebenarannya di kantor kepolisian paling dalam. Jika hanya berdasarakan ucapanku kau tidak akan percayakan?" ucap Sakura sarkas.
"Kalau yang kau maksud adalah brankas kasus spesial milik pimpinan kepolisian, aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya." Ucap Sasuke lagi.
"Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan." Ucap Sakura berlalu pergi.
"Aku tetap akan datang nanti jam 7." Ucap Sasuke yang mengikuti Sakura.
"Hentikan." Ucap Sakura, meninju tembok disamping Sasuke. Cukup membuat kaget Sasuke dengan apa yang Sakura lakukan. Walau tangannya mengeluarkan darah, Sakura tidak peduli dan hanya berlalu pergi meninggalkan Sasuke yang tertegun.
-malamnya-
"Baiklah.. Besok pagi saya akan bawakan berkasnya sesuai hasil diskusi kita hari ini pak." Ucap Sakura setelah selesai memaparkan laporannya.
"Ya.. Terimakasih atas kerja kerasmu dan maaf aku mengganggu waktu istirahatmu." Ucap pria paruh baya itu.
"Bukan masalah pak. Ini merupakan pekerjaan saya." Ucap Sakura lagi.
"Baiklah. Selamat beristirahat dan semoga sukses untuk pelatihanmu." Ucap pria itu mengakhiri web call itu.
"Hargh.." Sakura hanya bisa menghela nafas berat, hari ini sangat berat baginya karena banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
TING TONG~
"Mau apa kau kesini?" tanya Sakura melalui intercom yang terhubung dengan gerbang depan rumahnya itu, melihat mobil Audi yang ia kenal itu.
"Hentikan tingkah kekanakan ini dan ayo bicarakan." Ucap Sasuke yang tetap datang sesuai janjinya.
"Pulanglah.. Aku lelah." Ucap Sakura menutup sambungan intercom-nya dan berlalu pergi ke kamarnya. Sasuke menunggu selama 1 jam didepan rumah Sakura sebelum akhirnya menyerah dan pergi.
TRING~
"Ya Pak." ucap Sakura menjawab telfon yang masuk itu dengan cepat.
"Sakura, apakah aku menganggu waktu mu?" tanya Gaara.
"Tidak pak." jawab Sakura cepat.
"Bisakah kau datang kerumah dan membawa document tambahan untuk rapat besok. Ada beberapa yang ingin aku periksa ulang." pinta Gaara.
"Baik pak. Saya akan segera kesana." ucap Sakura. Setelah mengakhiri panggilan itu, Sakura mengambil jaket dan tasnya untuk pergi ke kediaman Gaara.
-skip time, caffe-
Sakura yang telah menyelesaikan urusannya dengan Gaara tiba-tiba dihubungi Ino dan meminta untuk bertemu sebentar malam itu di sebuah caffee, karena arah caffee yang searah jalan pulang, Sakurapun setuju.
"Apa ini? Kenapa jadi banyak begini?" gerutu Sakura menatap layar handphonenya itu kesal bercampur bingung, sibuk mengunci akun social medianya.
"Permisi.. Apakah anda Haruno Sakura?" tanya empat gadis SMA mendekati Sakura.
"A.. Ya.. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Sakura menatap anak-anak SMA itu.
"Saya Kazamatsuri Moegi, apakah kami bisa berfoto bersama?" tanya salah satunya sembari memperkenalkan diri.
"Foto? Aku bukan artis." Ucap Sakura canggung.
"Apa maksud anda? Anda sangat keren dan aku jadi tertarik untuk masuk tentara karena anda." Ucap Moegi diikuti anggukan dari yang lain.
"Hah?" Sakura bingung dengan pengakuan gadis-gadis SMA itu.
"Kami sangat tertarik setelah melihat berita tentang anda di tv beberapa hari ini. Anda sangat keren." ucap Moegi jujur.
"Aku kira semua akan tenang dalam waktu seminggu." gumam Sakura mulai memahami situasinya.
"Apakah kami boleh berfoto?" tanya Moegi lagi.
"Tentu." Ucap Sakura tersenyum ringan, bergantian melakukan foto dengan keempat gadis SMA itu.
"Wah lihat siapa ini." Ucap seorang wanita menyita perhatian Sakura.
"Hah.." Sakura hanya bisa menghela nafas enggan melihat gadis yang berdiri dihadapannya itu.
"Aa.. terima kasih banyak Haruno-san." Ucap anak SMA itu sebelum pergi meninggalkan Sakura.
"Bukan masalah." jawab Sakura tersenyum ramah.
"Sudah lama tidak bertemu Sakura-chan. Bagaimana kabarmu? Sepertinya kau sama populernya dengan saat masih SMA." tanya gadis itu mengulurkan tangannya.
"Ya.. Sudah lama. Tentu saja baik Hinata." Jawab Sakura menerima jabat tangan itu.
"Apa yang kau lakukan disini sendirian?" tanya Hinata berbasa-basi.
"Aku sedang menunggu sahabatku." Jawab Sakura enteng.
"TSahabat? Ah.. Dari pada itu.. Ini.. Semoga kau bisa datang ke acara reuni kita tahun ini." ucap Hinata dengan nada seakan berkata semenjak kapan Sakura memiliki teman sambil menyerahkan sebuah undangan.
"Apa ada masalah?" tanya seorang gadis yang baru saja datang menghampiri Sakura dan Hinata.
"Aaa.. Ino rupanya." Ucap Hinata menatap gadis berambut kuning dengan kuncir kudanya itu.
"Apa kau punya urusan dengan Sakura? Jika tidak pergilah. Kau merusak selera makanku dengan wangi parfum mencolokmu itu." Komentar Ino pedas.
"Ah, kau mengatakan itu karena seleramu sangat rendah. Tentu kau tidak akan terbiasa dengan wangi parfum mahal." ucap Hinata percaya diri.
"Hentikan. Jangan membuat keributan disini." Ucap Sakura dingin, menyadari orang-orang memperhatikan mereka.
"Sakura terlalu baik pada ular sepertimu." Gerutu Ino mengingat kejadian sewaktu SMA dulu.
-flashback-
"Ayolah Sakura, temani aku sabtu besok ya? Tidak akan lama." ucap Ino yang berjalan disamping Sakura menuju kelas Sakura itu.
"Hargh.. Kenapa kau sebegitu terobsesinya dengan pria itu?" tanya Sakura hanya bisa menghela nafas berat melihat sahabatnya tengah terobesesi pada seseorang.
"Dia tampan, baik, murah senyum. Apalagi yang kurang?" tanya Ino seakan dibutakan cinta itu.
"Empati dan kewarasan. Apa kau tidak lihat senyum palsunya itu? Aku merinding mengingatnya." ucap Sakura tidak setuju.
"Heee.. Dia sangat tampan saat tersenyum. Dia hanya malu karena belum mengenal kalian." ucap Ino membela.
"Kau tau dari mana? Kau saja baru bertemu dengannya sekali diacara pameran perdananya." komentar Sakura bosan.
"Intuisiku tidak pernah salah." ucap Ino yakin.
"Senpai, kau dengan ucapannya? Kenapa yang seperti ini bisa terpilih jadi anggota OSIS?" tanya Sakura menatap Gaara yang berjalan disamping kirinya.
"Akhem.. Dulu dia normal. Aku juga tidak tau kenapa jadi seperti ini." ucap Gaara berusaha menahan tawanya mendengar komentar Sakura.
"Sepertinya dia harus diservice." ucap Sakura spontan.
"Hei! Memangnya aku elektronik rusak?" ucap Ino kesal.
"Bukannya memang begitu? Sepertinya motherboardnya yang kena. Bukan begitu senpai?" tanya Sakura lagi.
"Pfftt.. Benar." Gaara hanya bisa menunduk menahan tawanya.
"Lihat, ketua OSIS saja setuju dengan ucapanku." ucap Sakura membela diri.
"Kalian ini menyebalkan! Ayolah Sakura.. Kali ini saja." pinta Ino masih tidak mau menyerah, tidak sadar ketiganya sudah berdiri didepan kelas Sakura itu.
"Hah, baiklah." ucap Sakura mengalah.
"Yatta! Bagaimana denganmu senpai?" tanya Ino menatap Gaara.
"Tidak terima kasih. Aku tidak berminat pada seni dan lagi aku ada Latihan ekstra." tolak Gaara cepat.
"Hoo, calon atlet baseball memang berbeda." goda Ino.
"Hentikan." ucap Gaara menggetok pelan kepala Ino.
"Baiklah, sampai jumpa nanti." ucap Ino yang akan berpisah dengan Sakura itu.
"Ya, sam..." Sakura yang akan melambaikan tangannya itu tersentak saat seseorang menarik kasar bahunya dari belakang.
"Hei kau!"
"Naruto?" Sakura menatap pria yang menariknya kasar itu dengan bingung.
"Apa kau seiri itu sampai berani mengacak-acak barang orang lain?" ucap Naruto menuduh tiba-tiba.
"Apa maksudnya?" tanya Sakura bingung. Ia tidak memahami sama sekali arah pembicaraan itu.
"Tidak usah banyak alasan. Satu-satunya orang yang berada dikelas saat jam olah raga hari ini hanya kau seorang!" ucap Karin menimpali.
"Jelaskan secara perlahan." ucap Gaara menengahi.
"Hinata merajut syal untuk adiknya yang sedang berada dirumah sakit, tapi tiba-tiba saja syal itu rusak setelah jam pelajaran olah raga dan kau satu-satunya yang tidak ikut jam pelajaran olah raga dan berada dikelas hanya kau Sakura." tuduh Karin.
"Hah? Aku memang tidak mengikuti jam olah raga, tetapi aku tidak berada dikelas. Aku dipanggil keruang guru untuk persiapan pertandingan Kyudo sekaligus membahan form rencana masa depanku." bela Sakura.
"Kau bahkan mengarang cerita itu?" ucap Naruto mencela Sakura.
"Hei, kenapa kau terus-terusan menuduh Sakura? Dia memang berada diruang guru saat itu." ucap Ino tidak suka.
"Kau temannya, tentu akan membelaanya." ucap Kaarin tidaka suka.
"Hei, idiot. Aku berada diruang guru saat itu dan aku melihat dirinya sedanag berbincang dengan Kakashi-sensei mengenai form rencana masa depannya itu." bela Ino kesal.
"Tapi tidak ada yang menjamin apa yang ia lakukan setelah itu, mengingat setelah itu jam istirahat." ucap Sasuke menimpali.
"Setelah itu? Jika ia melakukannya jam istirahat bukanlah waktu yang tepat. Siapa saja pasti melihat dia melakukannya karena pasti kelas ramai. Kau ini bodoh atau bagaimana? Lagipula ia bersamaku dan Gaara-senpai selama jam istirahat." bela Ino tidak mau mengalah.
"Ino benar. Sakura bersamaku dan Ino selama jam istirahat. Tidak mungkin dia yang melakukannya. Apalagi konselingnya selesai bertepatan dengan jam istirahat." ucap Gaara merasa ada yang aneh dengan alur kejadian itu.
"Hah? Kalian teman-temannya tentu saja akan selalu membelanya." ucap Karin tidak puas.
"Kau yakin tidak mau mengatakan apa-apa Hyuuga?" tanya Gaara menatap tajam Hinata.
"Aku.." Hinata hanya menunduk tidak berani mengangkat kepalanya setelah mendapat tatapan tajam dari Gaara itu.
"Aku tidak tau ini bisa menjadi bukti atau tidak." ucap gadis bercepol dua itu tiba-tiba buka suara.
"Bukti?" tanya Gaara penasaran.
"Ah, begini senpai. Saya tidak sengaja merekam ini." ucap Tenten menyerahkan handphonenya. Disana terlihat video dari jendela lorong lantai 2 gedung sekolah itu. Tenten memang awalnya hanya berniat merekam sekeliling saja tetapi dari video itu tidak sengaja terlihat Hinata yang membawa syal itu dan entah disengaja atau tidak tetapi syal itu jatuh tepat digenangan air.
"Tu-tunggu dulu, se-sebenarnya aku tidak sengaja menjatuhkannya saat akan membawanya keruang kerajinan untuk menjahit lambang keluargaku." Hinata berusaha mencari alasan dengan cepat.
"Jadi kenapa kau tadi tidak membantahnya?" tanya Gaara.
"Saya tidak sempat membantahnya karena semuanya sudah terlanjur ribut begini." elak Hinata.
"Kalian sudah dengar sendiri. Jadi cukup sampai disini saja perdebatan konyol ini. Naruto, Sasuke, Karin kedepannya cobalah mencari tau sesuatu terlebih dahulu sebelum mencerca orang lain dengan barang bukti yang tidak seberapa itu. Lalu kau Hyuuga, kedepannya berhentilah menimbulkan masalah seperti ini. Ini terlihat sangat kekanak-kanakan." tegur Gaara.
"Maaf senpai." ucap keempatnya meminta maaf.
-end flashback-
"Gara-gara kau, kami harus mengatur ulang budget tahunan untuk kegiatan sekolah karena harus memasang cctv dibeberapa titik termasuk kelas agar tidak ada lagi kasus penipuan dan pencemaran nama baik." ucap Ino mengingat kejadian itu.
"Kau!" Hinata yang berniat menampar Ino tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak.
"Aku sudah bilang jangan membuat keributan bukan?" ucap Sakura yang ternyata menahan pergelangan tangan Hinata.
"Lepaskan." Perintah pria berambut kuning itu balik mencengkram lengan tangan Sakura.
"Na-Naruto-kun.. Tolong aku." Ucap gadis itu menatap pria berambut kuning yang baru saja masuk ke caffee itu bersama satu pria lainnya. Melihat itu Sakurapun melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Hinata.
"Hah.. Lepaskan aku Uzumaki-san. Kita pergi saja dari sini Ino." Ucap Sakura menatap tajam Naruto. Hal itu cukup membuat Naruto merinding mendapat tatapan tajam itu. Sakura yang dulu tidak akan pernah bisa menatap orang lain seperti itu.
"Lepaskan dia Naruto." Perintah pria berambut raven itu, hal itu cukup membuat kaget Naruto. Terlebih pria itu juga menatapnya tajam.
"Sebaiknya kau mencari lingkaran pertemanan yang lebih waras Sasuke." Komentar Ino tajam.
"Sudahlah Ino." Ucap Sakura mengakhiri perdebatan itu, merapikan laptopnya agar bisa segera pergi dari sana.
"Tunggu! Kau membawa senjata? Bagaimana bisa mantan criminal sepertimu membawa senjata secara bebas seperti itu?!" teriak Hinata menyadari pistol yang berada dibelakang pinggang Sakura karena jaket bombernya yang sedikit terangkat dan t-shirt itu jelas tidak akan bisa menyembunyikan senjatanya.
"Hentikan." Ucap Sasuke tegas menatap marah Hinata.
"Nak, bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada tentara terhebat di negara kita ini. Beliau juga menyelamatkan Menteri Prancis belum lama ini." Ucap seorang pria paruh baya melihat perdebatan itu dan menyadari siapa gadis bersurai pink yang tengah menjadi bulan-bulanan gadis bersurai indigo itu.
"Benar! Bukankah sejak awal kau yang mengusik Haruno-san!" Ucap Moegi bersama teman-temannya yang tadi meminta foto bersama Sakura.
"Kalian bisa bicara seperti itu karena tidak tau masa lalunya." ucap Hinata.
"Masa lalu? Apa kau tau seorang criminal tidak akan bisa menjadi tentara? Jadi sebaiknya kau berhenti bicara omong kosong." ucap Moegi kesal.
"Tch.." Hinata yang menyadari dirinya tidak akan bisa menang akhirnya memilih diam dan pergi dari sana.
"Kenapa kau membawa senjatamu?" tanya Sasuke curiga.
"Gaara-san memanggilku kerumahnya untuk membahas beberapa document. Setelah itu aku langsung kesini karena aku ingin mengambil titipanku pada Ino." Terang Sakura.
"Lain kali berhati-hatilah dengan senjatamu." Ucap Sasuke yang membantu Sakura merapikan bagian belakang jaket bombernya itu.
"Ya.. Aku tau. Terima kasih." Ucap Sakura mengangguk.
"Baiklah.. Sampai jumpa besok Sakura." Ucap Sasuke yang mengusap pelan kepala Sakura sebelum beranjak pergi untuk memesan minumannya.
"Bukankah aku sudah bilang jangan memegang kepalaku?" ucap Sakura kesal.
"Ah, aku lupa." jawab Sasuke ringan.
"Sampai jumpa besok." ucap Sakura tiba-tiba saat Sasuke hendak pergi, sambil merapikan laptopnya.
"Sakura."
"Ya?" ucap Sakura menatap Sasuke yang masih berdiri didekatnya itu.
"Tidak.. Lupakan.." Ucap Sasuke sebelum berlalu pergi.
"Sampai jumpa besok?" ucap Naruto menatap Sasuke bingung.
"Memangnya aku harus berkata apa? Toh besok aku memang akan bertemu dengannya ditempat kerja." Ucap Sasuke yang malas memilih untuk segera memesan minumannya.
"Apa-apaan mereka itu!" gerutu Ino disaat mereka berjalan keluar dari caffee itu.
"Sudahlah.. Lupakan saja mereka." Ucap Sakura berusaha menghibur Ino.
"Lalu apa maksudnya dengan sampai jumpa besok itu?" tanya Ino intens.
"Aa.. Aku ajudan Menteri pertahanan bersama Sasuke." Jawab Sakura santai.
"Ah.. Benar juga. Apa dia mengganggumu? Lalu bagaimana dengan Gaaraa-senpai?" tanya Ino khawatir.
"Dia mengangguku? Tidak mungkin. Soal Gaara-san, ya begitulah." Ucap Sakura lagi.
"Begitulah?" tanya Ino lagi.
"Kami memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi. Melupakan masa lalu dan berjalan untuk masa sekarang dan kedepannya saja, lagipula aku harus berurusan dengannya selama 4 tahun. Lalu ini." Ucap Sakura tersenyum, memberikan sebuah paperbag berisi sebuah kotak kue putih.
"Apa ini?" tanya Ino bingung.
"Kau mengajakku kesini karena ingin mencoba menu baru disinikan? Siapa sangka perasaanku benar." ucap Sakura enteng.
"Wah.. Kau memang sahabat paling pengertian." ucap Ino senang. Memang ia mengajak bertemu Sakura selain karena titipan Sakura juga karena menu baru yang diluncurkan di caffee itu.
"Lalu? Dimana titipanku?" tanya Sakura.
"Ini. Apakah kau akan menemuinya besok?" tanya Ino menyerahkan sebuah buket bunga.
"Un. Besok pagi-pagi sekali aku akan kesana sebentar. Maaf sudah merepotkanmu." ucap Sakura menerima buket bunga itu.
"Tidak masalah. Aku akan melakukan apapun untukmu." jawab Ino santai.
"Hahahaha.. Aku tersentuh." ucap Sakura tertawa.
"Wah.. Bagaimana kabar senpai sekarang?" tanya Ino teringat akan Gaara.
"Dia baik." Ucap Sakura lagi.
"Mengapa tidak ada orang yang sekeren Gaara-san ya." Ucap Ino lagi.
"Hei hentikan. Dia sudah memiliki tunangan begitu juga denganmu kan." Ucap Sakura lagi.
"Aku tau itu. Lalu bagaimana dengan acara reuni? Kau akan datang?" tanya Ino lagi.
"Entahlah Ino.. Aku malas." ucap Sakura enggan.
"Ayolah.. Kau bisa mengajak pacarmu yang tampan itu." goda Ino.
"Dia sudah bukan pacarku Ino." ucap Sakura lagi.
"Ayolah.. Ini adalah reuni terbesar kita karena 3 angkatan sekaligus akan berkumpul." rengek Ino.
"Mereka tidak menginginkan aku disana Ino." tolak Sakura.
"Hei, jangan berkata seperti itu." ucap Ino tidak suka.
"Hah.. Bagiklah akan aku pertimbangkan." ucap Sakura menyerah.
"Sungguh? Kabari aku jika kau datang." ucap Ino senang.
"Aku tau. Sudahlah, ayo naik. Aku akan mengantarmu pulang." ucap Sakura menekan tombol di kunci mobilnya itu.
"Terima kasih." jawab Ino tersenyum.
TBC
