"Dulu ada teman sekelasku yang merupakan yatim piatu dan dijadikan kelinci percobaan untuk obat-obatan ilegal yang dikembangkan pamannya. Dia disiksa dengan berbagai cara yang tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Akhirnya ia tidak tahan dan melaporkannya kepada seorang detektif yang mengurus kasus itu. Ditengah-tengah penyelidikan detektif itu mengetahui rahasia terbesar bahwa ternyata salah satu petinggi dikepolisian terlibat dengan kejadian itu. Pimpinan kepolisian tentu tidak tinggal diam saat mengetahui anak buahnya ada yang mengetahui hal tersebut, mereka memancingnya untuk pergi kelokasi tempat temanku disekap itu dan disana dia ikut disiksa. Detektif itu ternyata sudah curiga dia pasti akan dibunuh karena mengetahui rahasia itu jadi sebelum dia pergi kelokasi itu dia menitipkan semua hasil penyelidikannya ke salah satu temannya dan berkata jika ia tiba-tiba menghilang segera buka semua berkas yang ia tinggalkan dan carilah dia kelokasi itu dengan hati-hati dan jangan percaya pada siapapun. Sesuai dengan peringatan itu, akhirnya detektif itu mulai menulusuri jejak yang ditinggalkan sahabatnya itu ketika sahabatnya menghilang. Butuh waktu 2 minggu penuh bagi detektif itu untuk menemukan lokasi sahabatnya itu." Sasuke mengingat lagi rekaman cctv yang diberikan Itachi padanya itu.

-flashback-

"Kau yakin mau mengetahui hal ini?" tanya Itachi menatap adiknya itu.

"Aku tidak datang jauh-jauh kesini untuk ragu Itachi." jawab Sasuke tegas.

"Aku ingatkan agar kau tidak terbawa perasaan, ingat kalau kasus ini sudah selesai." ucap Itachi memperingati.

"Aku tau." ucap Sasuke menekan tombol play dilaptop Itachi itu.

"Dasar bocah sialan! Beraninya kalian melaporkanku dan menjadikanku tidak bisa bergerak leluasa?! Kalian pikir kalian sehebat apa? Kalian pikir kalian bisa lepas dariku?!" ucap pria itu menghajar keduanya tanpa ampun.

"Ugh.." Sasori hanya bisa mengerang pelan, berusaha melindungi Sakura yang berada dalam dekapannya agar tidak menerima pukulan.

"Nii-chan! Hentikan.. hentikan jii-chan.. Maafkan aku.. Jangan pukuli nii-chan lagi.. Hentikan." Ucap Sakura memeluk kaki pria itu, berusaha menghentikannya dari memukuli Sasori yang sudah tergeletak lemas menahan sakit setelah selama 2 minggu menerima pukulan bertubi-tubi itu.

"Kau tidak jauh lebih baik darinya bocah sialan!" teriak Kabuto menendang Sakura, menginjak-injak gadis itu dengan sadis.

"Saki!" melihat itu Sasori tidak tinggal diam, dia mendorong Kabuto menjauh dari Sakura.

"Wah.. Kalian berdua memang sudah sangat berani ya sekarang." Ucap Kabuto mengambil tongkat baseball-nya dan kembali memukuli Sasori.

"Nii-chan!" Sakura yang melihat itu berusaha menarik Kabuto menjauh dari Sasori tetapi dengan gampang Kabuto mendorong Sakura menjauh dan memukuli Sasori sesukanya.

"Akhirnya kau sadar." Ucap Kabuto mendekati Sakura yang tersadar dari pingsannya dan menatap Sasori yang babak belur disampingnya.

"Nii-chan.. nii-chan.." Sakura menatap horror Sasori yang sudah babak belur itu.

"Kau harusnya lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri!" ucap Kabuto menjambak rambut Sakura, menyeret gadis itu menjauh dari Sasori.

"Ti.. Tidak ojii-chan.. jangan.. jangan.. Itu sangat sakit." Ucap Sakura menatap jarum suntik yang berada ditangan Kabuto.

"Diam!" teriak Kabuto menarik lengan baju Sakura, memperlihatkan beberapa bekas jarum suntik yang sudah mulai memudar itu.

"Ugh.. Aa.. ARGH!" jerit Sakura kesakitan.

"Tidak usah menjerit seperti itu. Lagipula ini bukan kali pertama kau mencoba obat itu." Ucap Kabuto santai melihat Sakura yang merasa ada yang aneh dengan jantungnya yang mendadak berdegup kencang.

"Sakura.."

"Hah.. Kau jangan banyak bicara dan lihat saja Sakura melakukan tugas yang tidak bisa dilakukan siapapun! Kelinci putih mungilku." ucap Kabuto kesal, kembali memukuli Sasori.

"Saki.. Maafkan aku." Ucap Sasori yang terbaring menatap Sakura yang berada disampingnya.

"Nii-chan.. Bertahanlah.. Aku mohon nii-chan.. Kalau nii-chan tidak ada aku tidak bisa melakukan apa-apa." Ucap Sakura menangis, tidak memikirkan luka ditubuhnya. Sasori menerima hampir semua pukulan setiap harinya. Kali ini keadaanya benar-benar tidak baik, terlebih dengan luka menganga diperutnya itu.

"Berjanjilah pada nii-chan.. Kalau kau berhasil keluar dari sini.. Jangan pernah mengingat kejadian ini dan hiduplan dengan bahagia Sakura-chan." Pinta Sasori membuat Sakura menangis terisak.

"Tidak.. Nii-chan jangan katakan itu. Bagaimana dengan istrimu dan calon bayi kalian." Ucap Sakura menangis.

"Hah.. Apa yang kau tangiskan. Kau tidak perlu menangisis hama itu." Ucap Kabuto memasuki ruangan itu dengan jarum suntik ditangannya. Kali ini dosis cairan didalamnya terlihat lebih banyak dari sebelumnya, Sakura yang sudah lemah tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah menerima suntikan itu. Setelah memberikan suntikan itu Kabutopun meninggalkan keduanya.

"Saki… Gomen.. Gomen.." ucap Sasori menggenggam erat tangan Sakura yang semakin melemah setelah menerima suntikan itu. Sasoripun sudah tidak bisa menahan rasa sakit disekujur tubuhnya itu perlahan menutup matanya.

"Nii-chan.. Bertahanlah.. jangan tutup matamu nii-chan.." ucap Sakura dengan suara paraunya. Tetapi Sasori tidak bereaksi. Melihat itu Sakura segera mendekatkan tubuhnya pada Sasori, mengecheck detak jantung pria itu. Nihil.. Dia tidak bisa mendengar apa-apa.

"Nii-chan? NII-CHAN! BANGUN! TIDAK NII-CHAN!" jerit Sakura menyadari jantung pria itu sudah berhenti berdetak. Segera Sakura melakukan CPR tetapi tenaganya tidak ada, kepalanyapun terasa sangat berat.

"Kau baik-baik saja?" tanya Itachi melihat adiknya yang terdiam setelah rekaman itu selesai.

"Hargh." Sasuke yang berusaha menahannya akhirnya sudah tidak tahan dan muntah setelah selesai melihat rekaman cctv itu. Rekaman penyiksaan itu memang termasuk ekstrim dan bagi siapapun pasti akan muntah melihatnya, mau seprofesional apapun orang itu. Itachi ingat betul saat rekaman itu diputar seluruh team yang menangani kasus itu muntah setelah melihat rekaman itu.

"Tenangkan dirimu." perintah Itachi mendapati tatapan membunuh adiknya itu.

"Bagaimana bisa yang seperti ini hanya dijatuhi hukuman ringan?!" ucap Sasuke frustasi. Gambaran kondisi Sasori dengan luka menganga lebar diperutnya, jarinya yang dipatahkan dengan santainya oleh pelaku, wajahnya yang babak belur, dan yang terparah ketika mata kanannya yang dicongkel paksa. Semuanya berputar-putar diotaknya. Kabuto memang tidak melakukan hal ekstrim pada Sakura karena membutuhkannya untuk menjadi kelinci percobaannya, walau begitu pukulan dan tendangan tetap diterima Sakura.

"Hei, kasus ini sudah selesai. Jangan ungkit apapun tentang ini pada Sakura. Paham?" ucap Itachi mengingatkan.

"Mengungkitnya? Aku bahkan tidak tau harus memasang wajah seperti apa saat bertemu dengannya besok." ucap Sasuke merasa frustasi.

"Yang kau lakukan dulu itu memang keterlaluan, tetapi kau tidak tau apa-apa tentang kasus ini." ucap Itachi lagi.

"Aku bahkan ikut membullynya selama 1 tahun dengan suka rela seperti idiot!" ucap Sasuke beranjak pergi dari sana dengan kesal.

"Maka berubahlah menjadi lebih baik! Apa kau pikir dengan termakan emosi dan melakukan tindakan bodoh bisa menghapus dosa lamamu?!" bentak Itachi keras, sukses membuat Sasuke terdiam.

"Tch.. Aku pinjam rekaman dan berkas-berkas ini." ucap Sasuke dengan cepat merapikan semua document dimeja itu.

"Untuk apa?" tanya Itachi tidak setuju.

"Ada 2 idiot lain yang harus aku sadarkan." ucap Sasuke tajam.

"Segera hancurkan document itu setelah kau selesai Sasuke. Jangan membuatku dalam masalah." ucap Itachi membiarkan adiknya itu.

"Aku tau itu." jawab Sasuke berlalu pergi dari kediaman Itachi membawa document dan flashdisk itu.

-end flashback-

"Saat sampai disana yang ia temukan hanyalah sahabatnya yang sudah menghembuskan nafas terakhir 30 menit sebelum dia tiba disana dan juga teman sekelasku yang sudah tergeletak lemas didekat mayat detektif itu, nyaris tewas." cerita Sasuke ini sukses membuat semuanya terdiam. Mereka tau memang dimana-mana pasti ada manusia yang rusak, tidak terkecuali polisi tapi tidak sampai separah ini.

"Gi..Gila.." komentar Trevor yang merinding mendengar hal itu.

"Kalian tau apa yang lebih gilanya? Petinggi polisi hanya dipenjara selama 2 tahun dan bebas setelah menjalankan hukuman selama 1 tahun dengan alasan berprilaku baik dan kooperatif menangkap penjahat yang sesungguhnya. Selain itu cerita yang beredar juga dirubah. Awak media dibeli. Cerita dirubah menjadikan temanku itu yang salah dengan alasan dia adalah seorang pecandu yang memanfaatkan penelitian pamannya untuk bisa mendapat obat-obatan terlarang, temanku menjadi korban bully selama sisa waktu sekolahnya dulu." terang Sasuke lagi.

BZZTT BZZTT

"Theo.. Kau dimana?" terdengar suara Sakura dari HT yang terletak disamping Theo, pria itu tidak melepaskan HT itu apapun kegiatan yang lakukan saat itu.

"Aku diluar bersama anak-anak yang lain. Apakah kau butuh sesuatu Sakura?" tanya Theo menjawab panggilan Sakura itu tetapi Sakura tidak menjawab.

"Apa mungkin dia mengingau?" tanya Juugo.

"Ntahlah.. Kalau benar dia mengingau ini hal baru." ucap Theo yang kemudian kembali memetik pelan gitar yang berada dipangkuannya.

"Sakura tidak pernah mengigau?" tanya Sasuke ragu.

"Tidak pernah. Kau taukan betapa waspadanya dia bahkan disaat tertidur?" ucap Theo santai.

"Theo benar. Dulu saat dia datang berlibur kesini pertama kali dan menginap dirumah Theo seperti ini, dia akan langsung terbangun begitu mendengar suara saat mengambil sendok." terang Sky yang ingat kejadian itu.

"Wah.. Itu akan sangat menyiksa tubuh dan pikirannya." ucap Juugo ngeri.

"Tetapi hebatnya dia bisa tetap focus dan menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik melebihi orang yang tidur nyenyak dan cukup." puji Sky

"Benar.. Dia sangat hebat." ucap Theo tersenyum sendiri mengingat kejadian lucu dirinya dengan Sakura.

"Kau.. Kau pasti mengingat kejadian itukan?" ucap Trevor menyadari Theo yang tersenyum sendiri itu.

"Hah? Kejadian apa?" tanya Sky bingung.

"Jangan coba-coba Theo." ancam Trevor.

"Memangnya kenapa? Toh ini hanya cerita lucukan." ucap Theo santai.

-flashback-

"Hmm?" Theo yang sedang bekerja diruang kerjanya itu samar-samar mendengar suara dari arah dapurnya. "Apa hanya perasaanku saja?" gumam Theo, berjalan keluar dari ruang kerjanya itu dengan tangannya yang berada dibelakang punggungnya, bersiap mengambil pistolnya jika ada pencuri tolol yang mencoba merampoknya.

"GYAAA!"

"Hah.. Jangan berteriak Trevor. Apa kau tau ini sudah tengah malam?" ucap Theo menggetok kepala pria yang berteriak itu, menyimpan kembali pistolnya

"Ka.. Kalian.. Apa kalian sudah gila?!" maki Trevor yang jatuh terduduk dengan sebuah piring ditangannya.

"Ini semuakan juga salahmu yang mengendap-endap seperti pencuri." ucap Theo membela diri.

"Ja-Jantungku.. Ah.. Sial.." Trevor masih belum bisa berdiri, lututnya terlalu lemas.

"Kau baik-baik saja Sakura?" tanya Theo menatap gadis pink yang menurunkan tangannya yang memegang pistol yang sempat ia arahkan ke Trevor.

"Aa.. Aku baik-baik saja.. Maafkan aku Trevor." ucap Sakura meminta maaf.

"Aku hanya ingin menikmati i***mie malam-malam. Dimana kesalahannya?" gerutu Trevor.

"Kesalahannya adalah kau mengendap-endap dikediaman tentara. Kalau kau terang-terangan tidak akan seperti itu. Untung nyawamu tidak melayang." terang Theo menghela nafas.

"Ah, kalian merusak selera makanku." gerutu Trevor yang akhirnya bisa berdiri.

"Apa kau yakin?" ucap Theo lebih seperti menggoda Trevor, bersiap mengambil piring mie ditangan Trevor.

"Hei, kalau kau mau makan masak sendiri!" ucap Trevor memukul pelan tangan Theo sebelum berjalan menuju meja makan.

"Aku baik-baik saja. Tapi apakah Trevor akan baik-baik saja?" tanya Sakura merasa tidak enak, disatu sisi ia kagum dengan sikap masa bodoh Trevor itu.

"Anak itu bebal. Senjata diarahkan kekepalanya tidak akan membuatnya kapok." ucap Theo santai.

"Aku tidak tau harus merasa bersyukur atau kasihan." komentar Sakura mengundang tawa Theo.

"Hahaha.. Sudahlah.. Kembalilah tidur. Ini masih tengah malam." ucap Theo mengusap pelan pipi Sakura.

"Aku sudah tidak mengantuk." jawab Sakura menolak.

"Mau menonton tv saja?" tawar Theo.

"Bukankah akan berisik? Kau masih bekerjakan?" ucap Sakura tidak enak.

"Tidak apa-apa. Pekerjaanku sudah selesai. Ayo menonton saja." ajak Theo, menggandeng tangan Sakura menuju ruang TV.

"Kalian tidak perlu bergandengan tangan. Ruang tv tidak jauh dari sana. Kalian tidak akan terpisah dan kehilangan satu sama lain." ejek Trevor yang memperhatikan keduanya dari ruang makan.

"Nikmati saja mie-mu Trevor. Siapa tau lain kali kau tidak bisa menikmatinya lagi." ucap Theo membuat Trevor merinding.

Setelah selesai menikmati mie-nya, Trevor berniat bergabung dengan Theo dan Sakura menonton tv, tetapi niatnya terhenti saat melihat Theo yang tertidur dengan posisi duduk selonjoran disofa letter L itu sedangkan Sakura tertidur didalam pelukan Theo.

"Cih.. Mereka berdua ini.. Mau tidur atau sadar tetap saja menyebalkan." gerutu Trevor melihat hal itu.

"Jangan banyak menggerutu nanti kau cepat tua." komentar Theo yang ternyata masih belum tertidur.

"Kata orang yang hobinya marah-marah kalau pawangnya tidak ada." komentar Trevor yang kemudian bergegas pergi dari sana sebelum mendapat tatapan membunuh Theo.

-end flashback-

"Wah.. Aku tidak bisa berkata-kata. Entah harus mengatakan kau sial atau bebal." ucap Sky prihatin.

"Hei apa maksudnya itu?!" ucap Trevor kesal.

"Ditodong 2 pistol dan kau masih bisa makan mie?" ucap Juugo tidak percaya.

"Aku sudah payah membuat mie itu dan aku tidak jadi makan hanya karena itu? Jangan bercanda." ucap Trevor santai.

"Aku kagum dengan logikanya." ucap Sasuke dingin.

"Mie diatas nyawa." jawab Theo hanya bisa geleng-geleng.

"Apa kalian tau berapa waktu dan dedikasi yang aku curahkan demi memasak mie itu? Kalian akan tau setelah mencobanya. Setelah itu kalian akan sadar betapa nikmatnya mie yang akum asak saat itu." komentar Trevor.

"Sebaiknya kau berhenti membela diri. Apa kau sadar kau semakin terdengar tidak masuk akal?" saran Juugo menepuk pelan pundak Trevor.

"Menyebalkan." gerutu Trevor.

"Ah Sakura! Kenapa kau kesini?" ucap Sky melihat Sakura yang menghampiri kelimanya.

"Didalam sepi sekali." ucap Sakura menghampiri Theo, melihat itu Theo segera mengoper gitar yang sebelumnya ia pangku ke Trevor yang duduk di sampingnya. Tanpa aba-aba, Sakura segera duduk menyamping dipangkuan Theo, membiarkan kepalanya bersandar didada bidang Theo.

"Hah.. Kau memang tidak pernah berubah ya. Apa dada Theo senyaman itu?" goda Trevor.

"Sangat nyaman." jawab Sakura santai.

"Sakura.. Kau bisa masuk angin." nasehat Theo.

"Tidak apa-apa." ucap Sakura tidak peduli.

"Hah.. Kau ini.." mendengar jawaban Sakura, segera Theo melepaskan jaket yang ia kenakan dan melingkarkannya ke bahu Sakura memastikan Sakura nyaman.

"Sakura apakah kau benar-benar seorang prajurit terbaik?" ucap Sky menggoda Sakura, saat ini Sakura hanya terlihat seperti gadis manja biasa.

"Un.. Skormu dan Trevor saja jika digabungkan belum bisa mengalahkan skor akurasi tembakanku." jawab Sakura santai.

"Wah lihat anak ini semakin besar kepala." ucap Sky kesal.

"Tapi bukankah itu benar." ucap Theo membuat yang lain tertawa mendengarnya.

"Aku padahal hanya diam tetapi kalian suka sekali menyertku." ucap Trevor kesal.

"Theo.. Dimana permenku?" tanya Sakura tiba-tiba walau ia tidak bergerak sama sekali dari posisinya itu.

"Aku mengamankannya. Tenang saja tidak ada yang akan menyentuh permenmu itu." ucap Theo mengusap pelan punggung Sakura, mencoba membuatnya tertidur lagi.

Kelimanya berbincang-bincang hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam dan memutuskan sudah waktunya mereka beristirahat.

"Aku mengantarnya dulu." ucap Theo yang menggendong Sakura.

"Butuh bantuan lagi?" tanya Sasuke memastikan.

"Hmm.. Tentu." ucap Theo. Sasuke mengikuti Theo menuju kamarnya sedangkan ketiganya pergi ke dua kamar tamu yang sudah disiapkan Theo.

"Selamat tidur Sakura." bisik Theo ketelinga Sakura. Kali ini Sakura sudah benar-benar tertidur pulas.

"Dia benar-benar tertidur kali ini." ucap Sasuke kagum.

"Ya.. Ayo.. Jangan ganggu dia." ucap Theo mengajak Sasuke keluar dari kamar itu.

"Kau masih akan membawa HT itu?" tanya Sasuke saat mereka berjalan menuju kamar tamu.

"Un.. Hanya untuk jaga-jaga." ucap Theo.

"Baiklah.. Selamat malam." ucap Sasuke sebelum memasuki kamarnya itu.

"Sasuke." panggil Theo menghentikan Sasuke.

"Ya?"

"Soal ceritamu tadi. Kau mengetahuinya dari siapa?" tanya Theo mengintrogasi.

"Kakakku adalah polisi yang melanjutkan kasus Sakura saat itu." jawab Sasuke.

"Dia memberitahukanmu semuanya?" tanya Theo tidak yakin apalagi melihat reaksi dari Sasuke.

"Bisa dibilang begitu. Walau ada beberapa bagian pada document yang disenseor tetapi aku sudah mendapatkan ceritanya secara garis besar." jawab Sasuke.

"Ah, begitu." ucap Theo seadanya.

"Apakah ada yang salah?" tanya Sasuke bingung, terlebih melihat ekspresi Theo yang seolah mengatakan bahwa dirinya masih belum mendapatkan cerita itu secara utuh, sama seperti saat ia memberitahu Sakura kalau dia sudah tau semuanya.

-flashback-

"Sakura." Panggil Sasuke membuyarkan konsentrasi Sakura yang sibuk dengan layar handphonenya itu.

"Ada apa?" tanya Sakura yang hanya melirik singkat.

"Malam ini, bagaimana kalau kita makan malam bersama." ajak Sasuke tiba-tiba.

"Hah? Dalam rangka apa?" tanya Sakura enggan.

"Kau bilang aku bisa mengajakmu makan malam dan membahasnya lebih jauh saat sudah tau semuanyakan?" ucap Sasuke yang kali ini berhasil menyita perhatian Sakura.

"Kau.. Baiklah. Ayo makan malam." ucap Sakura setuju.

"Aku akan menjemputmu nanti." ucap Sasuke lagi.

"Tidak usah. Langsung bertemu disana saja jam 9 nanti malam." tolak Sakura cepat.

"Baiklah. Nanti malam jam 9 di caffee dekat rumahmu." ucap Sasuke menentukan lokasi.

"Tentu." ucap Sakura kembali focus dengan layar handphonenya.

Sesuai janji siang tadi, keduanya bertemu di caffee dekat rumah Sakura. Sasuke yang datang lebih dulu memilih duduk di sudut caffee itu agar bisa berbicara lebih leluasa.

"Sudah lama?" tanya Sakura basa-basi, duduk dibangku sebrang Sasuke.

"Tidak juga." jawab Sasuke meletakkan handphone yang sedari tadi ia mainkan.

"Jadi siapa yang memberitahumu?" tanya Sakura langsung.

"Itachi nii. Walau ada beberapa bagian yang disensor tetapi secara garis besar aku sudah tau yang sebenarnya." ucap Sasuke meletakkan sebuah document dimeja itu, serta memutar rekaman cctv kejadian itu dihandphonenya.

"Tolong jangan putar video itu dan hapus video itu!" bentak Sakura yang enggan melihat rekaman itu dan lagi ia juga merasa tidak nyaman. Walau hanya mendengar sedikit saja suara rekaman itu sudah membuat Sakura mual dan pucat.

"Maaf, aku akan menghapusnya." ucap Sasuke buru-buru mengambil handphonenya.

"Sekarang, dihadapanku." ucap Sakura tegas.

"Sudah. Kau baik-baik saja?" ucap Sasuke memberikan handphonenya untuk dicheck oleh Sakura.

"Maaf, aku baik-baik saja." Sakura hanya bisa menghela nafas pelan, mengembalikan handphone Sasuke dan focus melihat document yang dibawa Sasuke. Hampir sebagian besar isinya disensor.

"Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Sasuke menyadari Sakura yang menghela nafas tidak puas setelah membaca document itu dengan cepat.

"Tidak. Jadi apa lagi yang mau kau bahas?" tanya Sakura dingin.

"Sakura, aku sangat menyesali semua yang sudah aku lakukan padamu dulu. Naruto dan Karin juga sudah tau tentang ini." terang Sasuke.

"Sasuke, sesungguhnya aku tidak peduli dengan pendapat kalian. Aku juga sudah melupakan kejadian itu. Bagiku apa yang kalian lakukan tidak ada apa-apanya ketimbang kejadian itu. Jadi sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Sakura lagi.

"Apakah kita bisa memulainya lagi dari awal. Kali ini aku berjanji tidak akan semudah itu mempercayai orang lain." ucap Sasuke serius.

"Hei, kau mau percaya orang lain dengan mudah atau tidak, tidak ada hubungannya denganku. Yang mengatur jalan hidupmu dirimu sendiri." ucap Sakura tegas.

"Ya, kau benar. Sekali lagi aku minta maaf Sakura." ucap Sasuke serius.

"Aku sudah memaafkan kalian dari lama. Baiklah, kita mulai semuanya dari awal ok?" ucap Sakura menerima permintaan Sasuke.

"Terima kasih, aku Uchiha Sasuke." ucap Sasuke menyodorkan tangannya.

"Haruno Sakura." ucap Sakura menerima jabat tangan itu seakan mereka baru bertemu dan berkenalan saat itu.

"Ah, document itu.." Sasuke berniat mengambil document ditangan Sakura itu.

"Maaf tapi aku juga ingin document ini lenyap sekarang, lagipula kita sudah sepakat memulai semuanya dari awal." ucap Sakura santai.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke melihat Sakura bangkit dari duduknya.

"Membakarnya, memang apa lagi?" tanya Sakura enteng, membakar document itu dengan lighter yang ia bawa.

"Kau membakarnya disini?!" ucap Sasuke kaget.

"Aku sudah izin pada karyawan." jawab Sakura santai, menatap document yang terbakar habis itu.

"Hah, kau masih sama nekatnya dengan yang dulu." ucap Sasuke hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ah, begitu?" ucap Sakura menatap document itu. Hal itu jelas menarik perhatian Sasuke. Dia bisa melihat rasa tidak puas diwajah Sakura itu, tetapi ia berusaha menampik perasaan itu dan berpikir kalau dia hanya terlalu berlebihan.

-end flashback-

"Tidak. Seharusnya sekarang kau sudah paham kenapa dia sewaspada itu bahkan disaat dia tengah tertidur. Aku harap kau bisa memperlakukannya lebih baik sekarang. Kau tau betapa tersiksanya dia dulu karena kasus itu? Dia bahkan berkali-kali mencoba bunuh diri karenanya. Aku tidak menyangka dia akan seperti ini lagi. Padahal dulu keadaannya sudah jauh membaik." ucap Theo mengingat Sakura yang menangis saat menceritakan masa lalunya pada dirinya dulu, bahkan ia dulu butuh waktu 1 jam untuk benar-benar menenangkan Sakura.

"Aku tau.. Dan aku sangat menyesali tindakan konyolku dulu." jawab Sasuke.

"Aku akan mengejar siapun yang berani membuatnya menangis lagi." ancam Theo yang kemudian berpisah dengan Sasuke didepan pintu kamar itu. Theo tidur sendiri di salah satu kamar tamu itu sedangkan Sasuke satu kamar dengan Juugo.

TBC