"Gue mau ikut olimpiade. Tapi harus sama lo."
"Hah?"
Boboiboy berdecak. "Gajadi dah." katanya, lalu bangkit dari posisi duduknya untuk bersiap pergi.
Yaya yang masih mencerna ucapan tiba-tiba Boboiboy mengerjapkan mata. "Tunggu, tunggu. Lo beneran mau ikut olimpiade?" tanya Yaya memastikan lagi. Kemarin bilangnya ogah-ogahan sampai berkata akan melakukan yang pernah Yaya lakukan padanya dulu. Ada apa dengan cowok itu?
"Gajadi." balas Boboiboy, ia mulai berjalan meninggalkan Yaya.
Yaya speechless di tempat. Kenapa cowok ini sangat labil?
"Eh bambang! Gue nggak salah denger 'kan, tadi?" Yaya pun mengejarnya.
Boboiboy menghela napas. Ia akhirnya berhenti dan menatap Yaya lagi yang terus melihatnya penasaran. Tidakkah Yaya tahu kalau dirinya sangat malu sekarang karena sudah mengatakan itu?
"Iya. Lo nggak salah denger. Gue mau ikut olimpiade," ulang Boboiboy dengan lugas. Ia sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu. Hatinya yang menyuruhnya, atau memang ini adalah keinginannya?
"Wahhh," Yaya sampai tak bisa berkata-kata saking terkejutnya.
"Kok wah?"
"Gue nggak expect sih, lo seberterima kasih itu ternyata ke gue sampai mau ikut olim akhirnya."
Boboiboy mengernyitkan dahi. "Hah?"
"Lo serius udah gapapa? Kayanya lo masih sakit deh. Dada lo nyesek ga? Ada rasa mual?" tanya Yaya bertubi-tubi.
Boboiboy menghela napas lelah. Jadi Yaya menganggap ia mengatakan itu secara tidak sadar? Bagaimana caranya ia menghadapi cewek gaje ini?
"Coba sini gue cek." Tiba-tiba saja Yaya sudah mendekatkan wajahnya untuk memegang dahinya. Boboiboy yang terkejut sontak menahan napas. Wajah Yaya kini hanya beberapa centi di depannya. Tapi gadis itu sibuk berpikir apakah suhu tubuhnya menaik atau tidak.
"Hiih, badan lo anget!" hebohnya saat merasakan panas di sana.
"Apasih?" protes Boboiboy seraya menyingkirkan tangan Yaya.
"Badan lo anget, pea!"
"Yaudah sih, anget dikit." tepis Boboiboy. Ia kembali berjalan ke arah api unggun. Di belakangnya, Yaya mencibir tapi tetap mengikutinya.
Setelah berjalan sebentar, Boboiboy kembali berhenti ketika melihat dari jauh acara api unggun itu belum selesai. Ia segera menundukkan pandangan. Tangannya kembali gemetar lagi, tapi sebuah tangan hangat menghentikannya hingga membuat Boboiboy menoleh.
"Mau muter-muter sebentar?" tanya Yaya tanpa balas menatapnya.
Boboiboy terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan tanpa sadar. Yaya kemudian menatapnya dengan senyum mengerti, lalu berbalik arah lagi ke arah hutan dan memimpin jalan. Boboiboy pun mengikutinya. Kini ia sudah percaya sepenuhnya pada Yaya.
"Gue yang mimpin jalan kali ini. Kalo lo yang mimpin ntar nyasar lagi." cetus Yaya di depannya.
"Gue bercanda kali kemaren." sahut Boboiboy.
"Iya juga. Tapi tetep aja, lo nggak bener mimpin jalan." tuding Yaya tanpa alasan.
Boboiboy memutar matanya malas. Ia akhirnya membiarkan Yaya jalan di depannya. Sebenarnya keputusan Yaya tepat. Karena jika ada apa-apa, Boboiboy bisa menjaganya.
Dari belakang, Boboiboy dapat melihat figur Yaya yang ternyata jauh lebih kecil darinya. Tingginya hanya setara dengan bahunya lewat sedikit, dan punggung cewek itu yang tertutupi jaket pinknya terlihat begitu mungil. Sosok Yaya lebih mirip anak SMP dibandingkan anak SMA.
"Benar lewat sini nggak, ya?" gumam Yaya pada dirinya sendiri. Senter di genggamannya diarahkan ke segala arah, menimbang-nimbang jalan mana yang harus ia ambil. "Boboiboy, menurut lo kita kema–loh? Boboiboy?"
Yaya mengernyit bingung mendapati cowok itu malah berdiri dengan kepala menunduk jauh di belakangnya. Ia menghampirinya dengan cepat.
"Boboiboy? Lo kenapa? Ada yang sakit?" tanya Yaya panik, karena beberapa saat lalu cowok itu terkena panick attack. Namun Boboiboy tetap bergeming. Membuat Yaya semakin cemas.
"Boboiboy..." panggilnya. Perlahan, tangan Yaya meraih bahu cowok itu. Tapi tiba-tiba saja Boboiboy kembali mengangkat kepalanya begitu cepat dengan senter menyinari wajahnya dari bawah, hingga wajah cowok itu terlihat horror.
"AAAAAAAAAA MAMAAAA!"
.
.
"Kemana sih mereka?"
Ying menggaruk kepalanya frustrasi karena tak kunjung melihat Boboiboy dan Yaya keluar dari hutan. Acara api unggun sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Dan mereka terkena omelan karena kelompok mereka tidak lengkap. Ditambah lagi, PJ api unggun yang seharusnya berada di sekitar area tak menampakkan diri dari awal acara. Ying benar-benar harus memberikan duo biang kerok itu pelajaran.
"Gimana? Ketemu?" tanya Ying langsung kala melihat Fang dan Gopal menghampirinya. Mereka berdua baru saja mencari Boboiboy dan Yaya yang hilang entah kemana.
"Kagak. Balik duluan kali tuh orang." jawab Gopal ngos-ngosan.
"Yakali, woi. Naik apaan mereka." bantah Ying.
Fang menghela napas panjang. "Udahlah, biarin. Nanti balik sendiri paling."
"Nggak bisa gitu, dong. Kalo mereka ilang gimana?!" seru Ying histeris. Selama acara tadi ia tak sadar Yaya menghilang di sampingnya karena ia terlalu asyik bernyanyi. Barulah saat acara selesai, Gopal dan Fang tiba-tiba menghampirinya dan mengatakan Boboiboy juga tak ada di tempat.
"Nggak bakal. Mereka pasti–loh? Yaya?" Mata Fang membulat sempurna ketika menemukan Yaya tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dengan langkah tergesa dan wajah memerah.
Lalu Boboiboy berada di belakangnya dengan wajah penuh bersalah dan tampak mengejar cewek itu. Kurang kamera saja sama peralatan lighting untuk membuat mereka seperti sedang syuting film.
"Yaya, tunggu! Sumpah gue minta maaf!" seru Boboiboy, namun Yaya sudah masuk tenda duluan membuat ia tak bisa melakukan apapun.
Boboiboy menghela napas dan berbalik. Ketika ia berbalik, tiba-tiba saja Fang, Gopal, dan Ying sudah di depannya dengan wajah garang.
"Darimana lo?"
"Lo apain Yaya, hah?"
Boboiboy langsung mengkerut di tempat. Tanpa sadar ia mundur selangkah hingga punggungnya mepet dengan pintu tenda karena ketiga temannya itu menyudutinya seolah-olah ia buronan.
"Guys, gue bisa jelasin–"
Fang dan Gopal sudah lebih dulu menariknya paksa untuk menjauhi tenda perempuan tanpa membiarkannya selesai berbicara. Sementara Ying langsung menyusul Yaya masuk ke dalam tenda, sepakat tanpa suara menyerahkan urusan Boboiboy ke Gopal dan Fang.
"Apa? Lo mau jelasin apaan? Cepet!" kata Fang seperti kakak tingkat yang memarahi maba bermasalah. Kini mereka berada di belakang tenda cowok, tempat yang sesuai untuk menginterogasi.
"Gue–"
"Lo dari awal acara kagak ada. Bilangnya ke kamar mandi tapi ga balik-balik. Lo abis ngapain. Dagang?"
"Bukan gi–"
"Terus juga itu Yaya kenapa? Diapain dia sama lo?"
"Lo ga macem-macem kan sama dia?"
"Otak lo dimana, sih?"
"DENGERIN GUE DULU ANJIR!" teriak Boboiboy emosi. Kenapa ia tidak diberikan kesempatan berbicara sedikitpun, sih?
Fang dan Gopal kompak menutup mulut. Boboiboy menghela napas jengah. Ia menatap kedua temannya bergantian dengan tajam. Memastikan mereka tidak mengoceh lagi.
"Gue sama Yaya nggak ngapa-ngapain. Sumpah! Tadi gue cuma pengen jalan-jalan, terus ngga sengaja ketemu dia. Akhirnya kita jalan-jalan bareng, terus gue isengin dia dan dia langsung marah sama gue! Cuma sampe situ dan ngga terjadi apa-apa! OKE?!" jelas Boboiboy panjang lebar dengan berapi-api, meski ada kedustaan di dalamnya.
Fang dan Gopal kicep. Kini gantian mereka berdua yang dibuat mati kutu.
Boboiboy menghela napas. Sebenarnya ia sedikit merasa bersalah karena harus berbohong. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa mengatakan alasan sebenarnya walaupun Fang dan Gopal temannya sendiri. Yaya pun tadi menemukannya karena tak sengaja. Bukan kemauannya.
"Y-yaudah... gue kira lo berdua ilang makanya kita panik." ujar Gopal terbata-bata. Takut Boboiboy akan murka lagi.
Mendengarnya membuat amarah Boboiboy perlahan mereda. Di sini ia juga salah, karena seharusnya ia berada di sekitar area api unggun sebagai PJ.
"Sorry..." gumamnya pelan.
"Udah, udah. Mending kita tidur. Lo juga, Boboiboy. Istirahat. Muka lo keliatan pucet." ujar Fang menyudahi perdebatan singkat mereka.
"Lo sakit?" tanya Gopal khawatir.
"Kagak." jawabnya cepat.
Fang dan Gopal akhirnya tak menginterogasinya lagi dan berjalan menuju tenda. Boboiboy masih berada di sana dengan mata memandangi lama tenda Yaya, berharap cewek itu keluar dan mau menemuinya. Ia benar-benar bodoh sudah mengerjai Yaya tadi. Seharusnya cukup saat jelajah malam kemarin ia dapat mengerti Yaya takut pada hal-hal mistis. Tapi jiwa kejahilannya muncul tanpa permisi. Sekarang Yaya jadi marah padanya. Padahal cewek itu sudah berbaik hati membantunya mengatasi traumanya.
"Bego lo, Boboiboy!" makinya pada diri sendiri dengan tangan mengacak asal rambutnya hingga berantakan.
.
.
Keesokan paginya, semua murid sudah bersiap kembali ke sekolah. Mereka satu per satu naik ke bis. Dalam barisan paling belakang, Boboiboy menatapi Yaya yang sudah duluan naik. Cewek itu menolak bicara dengannya, bahkan menatapnya saja seperti tidak sudi. Sekarang ia harus memikirkan cara agar Yaya tak lagi marah.
"Lo gausah liat-liat temen gue deh. Dasar cowok gaje!"
Boboiboy hampir terjungkal karena mendengar suara sarkas itu terdengar tiba-tiba. Ying entah darimana sudah muncul di depannya dengan wajah garang.
"Kaget, anjir!"
"Sukurin! Karma buat lo karna udah nakut-nakutin Yaya semalem. Huh!" semprot Ying, lalu sengaja menyenggol bahu Boboiboy sebelum akhirnya naik ke bis.
Boboiboy mengerucutkan bibirnya kesal. Double kill, kini ia juga harus menghadapi amarah Ying. Kenapa hidupnya selalu dipenuhi sial?
Ketika tiba di tempat duduknya, Boboiboy melihat Yaya sudah duduk juga dengan mata fokus pada ponsel. Wajah cewek itu terlihat tak bersahabat. Boboiboy ingin mengucap maaf, tapi kenapa susah sekali? Ia menghela napas sebelum akhirnya duduk di kursinya dan melirik Yaya dalam diam.
Bus kemudian berangkat menuju sekolah. Seluruh teman-temannya bersorak gembira sambil bernyanyi bersama-sama. Bahkan Fang sudah berdiri di kursinya sambil menggenjreng gitar, membuat Gopal bersungut kesal karena gitar itu beberapa kali mengenai kepalanya. Suasana bus menjadi meriah, namun Boboiboy sibuk dengan pikirannya sendiri. Dari ekor matanya ia bisa melihat, Yaya sedang dibujuk Ying untuk ikut bernyanyi. Cewek itu masih tampak murung. Boboiboy benar-benar merutuki dirinya sendiri karena dirinyalah penyebab ekspresi murung itu muncul.
Mereka kemudian berhenti di rest area sebentar untuk mengisi bahan bakar bus. Teman-temannya memanfaatkan waktu itu untuk keluar, membeli sesuatu atau ke kamar mandi. Gopal dan Fang sudah lebih turun meninggalkan dirinya. Satu per satu teman-temannya keluar, hingga tersisa dirinya dan Yaya di sana. Gadis itu sedang memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu lewat earphone. Jelas sekali bahwa Yaya tak ingin diganggu siapapun.
"Ekhem." Boboiboy mengetes suara meski ia tahu kemungkinan Yaya tak akan mendengarnya. Ketika ia melirik gadis itu, Yaya tampak tak terganggu. Boboiboy mendadak gugup entah kenapa.
"Gimana caranya minta maaf sama dia," gumam Boboiboy meringis.
Sebentar, kenapa ia tiba-tiba merasa tidak enak pada Yaya? Bukannya biasanya ia dan Yaya suka beradu argumen? Kenapa mendadak jadi seperti ini?
"Oi, Yaya!"
Boboiboy akhirnya tersadar dan tak bisa bersabar lagi. Kini ia sudah menghadap Yaya, menatap gadis itu untuk membahas masalah yang dari semalam mengganggu pikirannya.
Yaya tak bergerak sedikitpun. Semakin yakin gadis itu tak mendengarnya, Boboiboy mencondongkan badannya untuk melambaikan tangannya di depan muka Yaya. Dan berhasil, gadis itu akhirnya menatapnya. Dengan tajam.
"G-gue..." Boboiboy mendadak gagu karena tatapan elang Yaya. Kenapa gadis ini jadi sangat menakutkan di matanya? "Gue mau minta maaf..." ucapnya pelan.
"Buat?" tanya Yaya balik. Earphone masih menyumpal telinganya. Membuat Boboiboy bertanya-tanya apakah Yaya bisa mendengarnya sedari tadi?
"Soal kemaren," jawab Boboiboy. "Yang gue nakutin lo." lanjutnya dan berusaha menghindari tatapan Yaya yang seperti mengintimidasinya.
"Kalo gue gak mau maafin?" balas gadis itu.
Boboiboy menatap Yaya lagi dengan tak percaya. "Kok gitu?" tanyanya tak terima. Kini wajahnya berubah kesal karena Yaya tak mau memaafkannya. "Lo tuh—"
"Apa? Gue nyebelin? Lo yang lebih nyebelin." potong Yaya. Memulai perdebatan mereka. Dan tentu saja Boboiboy tak mau kalah.
"Iya oke! Gue salah kemaren karena nakutin lo. Makanya gue minta maaf." ujar Boboiboy. Berusaha menahan diri untuk tidak balas marah karena memang pada awalnya ia yang memulai masalah.
"Gue nggak mau maafin lo."
"Lah—"
"Karena lo nyebelin."
"Kok gitu sih? Alesan macem apaan itu?" tanya Boboiboy menuntut sampai berdiri dari posisi duduknya. Sementara Yaya masih duduk anteng dan menatapnya tanpa takut.
"Suka-suka gue dong mau maafin lo kapan. Lagian kan lo yang salah." balas Yaya.
Boboiboy lupa kalau cewek di hadapannya ini adalah musuhnya dan pandai membalas ucapan lawan bicaranya.
"Oke. Kalo gitu gue gak jadi ikut olimpiade. Karena lo nyebelin." kata Boboiboy telak, membuat kedua mata Yaya melotot kaget.
"Woi–"
"Simple, kan? Lo nggak mau maafin gue, yaudah gue gak mau ikut olimpiade. Lo aja sono wakilin sekolah kita!"
Kesal, Yaya ikut berdiri dan menantang Boboiboy. "Lo udah bilang mau ikut ya kemaren!"
"Itu kan kemaren, sekarang beda lagi!"
"Apa lo bilang?!"
"Gue gak mau ikut olimpiade. Budeg lo ya?"
"HIIIHHHHH!!!"
Dan tanpa bisa dicegah, pertengkaran pun terjadi. Yaya menjambak rambut Boboiboy kencang, sementara Boboiboy menarik kerudung Yaya hingga mundur ke belakang dan nyaris terlihat auroranya. Teriakan keduanya terdengar ke seluruh isi bus yang kosong itu. Cacian dan makian keluar dari mulut masing-masing selama adegan saling menjambak di antara mereka. Beruntung, salah satu temannya kembali sebelum rambut mereka copot dan langsung menghentikan mereka yang bertengkar macam anak kecil rebutan pensil.
"AWAS LO YA!"
"APA?! SINI LAWAN GUE!"
"WOI, UDAHHH!!"
.
.
Boboiboy tiba di rumah dengan wajah kusut. Cowok itu tak menghiraukan tatapan bingung Tok Aba kepadanya dan langsung naik ke kamar. Setelah menyingkirkan semua atribut kemah, Boboiboy melempar badannya ke kasur. Ia berbaring telungkup, menyembunyikan wajahnya di bantal.
"Udah makan?" tanya Tok Aba. Ternyata atoknya itu membuntutinya ke kamar. Walaupun tak tahu alasan cucunya pulang dengan wajah tertekuk, hal makan menjadi pertanyaan pertama baginya.
Boboiboy menjawab dengan gumaman tak jelas tanpa berubah posisi. Ia masih kesal karena otaknya terus mengingat kejadian ia dan Yaya bertengkar saat perjalanan pulang tadi. Maka dari itu Boboiboy ingin memaksa dirinya tidur agar bisa melupakannya meski tak mengantuk sama sekali.
"Yasudah, istirahat sana." ujar Tok Aba, mengira sang cucu kelelahan dan butuh istirahat.
Setelah pintu kamarnya ditutup Tok Aba, Boboiboy menggerakkan kepalanya ke kiri. Ekspresi badmood tergambar jelas di wajahnya. Ia tak bisa tidur. Bagaimana cara agar rasa kesal ini memudar?
"Argh, dasar Yaya nyebelin!" makinya. Posisi duduk ia ambil. Cowok itu meraih ponselnya di saku dan menemukan jam masih menunjukkan waktu siang. Sebentar, ada yang tidak beres disini.
Dengan cepat, Boboiboy segera keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Dilihatnya Tok Aba tengah meminum teh hangat di meja makan dengan tenang.
"Atok nggak buka cafe?" tanyanya bingung. Kakinya melangkah mendekati Tok Aba yang mengangkat alis mendapatinya di sini.
"Nggak. Nunggu kamu pulang." jawabnya.
Boboiboy mengernyit bingung. "Emang kenapa?"
Tok Aba tampak terdiam beberapa detik dengan mata lurus padanya. "Kamu nggak bawa obat. Gimana atok bisa buka cafe kalau-kalau kamu pulang dengan demam?"
Perkataan itu sukses membuat Boboiboy tertegun. Ia menatap Tok Aba yang kemudian ke arah westafel, mencuci beberapa peralatan makan yang kotor di sana.
"Kamu nggak pinter bohong, Boboiboy. Kamu mirip ayah kamu." ucap Tok Aba seraya membilas beberapa piring di tangannya.
Boboiboy menundukkan pandangannya. "Maaf, Tok." Ia hanya bisa mengatakan itu dengan rasa sesal. Karena untuk kesekian kalinya, ia membuat Tok Aba khawatir.
Tok Aba mematikan kran westafel dan kembali ke hadapan cucunya. "Jujur ke atok. Traumamu belum hilang, 'kan?" tanyanya hati-hati.
"Hm, mungkin sedikit lagi. Tapi aku sudah lebih baik dari sebelumnya." ungkapnya. Kasus kemarin tak termasuk tingkat parah menurutnya, karena dulu ia bisa pingsan meski kemarin ia hampir tak bisa bertahan.
Tok Aba menghela napas pelan. "Istirahatlah. Atok akan menelepon Pak Kokoci kalau-kalau kamu demam." ujar Tok Aba, lalu bangkit lagi membereskan cucian piring.
Boboiboy melamun beberapa menit di posisinya sebelum melangkah meninggalkan dapur. Ia tak menyadari Tok Aba menatapi punggungnya dengan sendu ketika dirinya pergi. Cowok itu langsung tidur terlentang di atas kasurnya, meletakkan tangan kirinya di atas dahi sambil memejamkan mata.
Percakapan tadi membuat suasana hatinya buruk. Boboiboy tahu Tok Aba hanya khawatir padanya. Tapi bukankah ia masih menjadi lemah sampai sekarang? Ia belum bisa lepas dari penjara trauma sialan itu. Dan sekarang Boboiboy masih tak mengerti alasan dibalik insiden kebakaran itu sampai mengambil nyawa sang ayah.
Ah, benar juga. Ia lupa melanjutkan penyelidikannya.
Boboiboy mengambil secarik kertas yang ia sembunyikan di bawah bantal. Sebenarnya tulisan itu tak membantunya banyak. Tapi dari tulisan ini, Boboiboy mendapat satu dugaan. Bahwa DeStar Group saat itu sedang tidak baik-baik saja.
Melupakan perintah Tok Aba untuk beristirahat, Boboiboy duduk di kursi meja belajarnya dan menyalakan laptop. Tempo hari ia sudah menemukan beberapa fakta. Sekarang ia perlu mencari tahu lebih dalam fakta-fakta itu dengan berusaha mengingat dalam memorinya yang hampir melupakan seluruh kejadian itu.
Boboiboy memulai dengan mencari artikel tentang kebakaran itu. Tahun 2010, dimana ia masih berusia 5 tahun. Salah satu artikel ia buka, matanya dengan teliti membaca satu per satu kata yang dituliskan di sana. Boboiboy dulu tak mengetahui ayahnya seterkenal ini karena menjadi ilmuwan muda. Entah orang-orang masih mengingat mendiang ayahnya atau tidak, yang terpenting sekarang adalah alasan di balik kejadian itu. Dan kenapa ayahnya mengatakan perusahaan harus diselamatkan di tahun itu.
Boboiboy mengernyit bingung membaca artikel itu yang menjelaskan bahwa insiden kebakaran tersebut disebabkan oleh korslet listrik di rumahnya. Tak ada saksi atau rekaman kamera yang menjadi bukti. Boboiboy padahal mengingat jelas ia berada di sana, tapi kenapa artikel itu menuliskan bahwa hanya ada sang ayah?
"Ayah kamu hanya berusaha melindungi kamu. Jadi ia selalu memperingati media untuk tidak menyorot kamu agar tak diketahui orang-orang."
Perkataan Tok Aba tiba-tiba menghampiri kepalanya. Apa mungkin, statusnya sebagai anak dari Amato sedari awal tidak pernah diperkenalkan ke publik? Jadi itu bisa menjawab kenapa tak ada artikel yang membahas tentang dirinya saat kejadian itu.
Boboiboy menghela napas. Jarinya menggerakkan mouse dengan lincah, lalu mencari kebenaran lain mengenai sang ayah. Ada satu artikel yang menarik perhatiannya. Tentang pemimpin DeStar Group yang digantikan oleh seseorang bernama Andy Yah.
"Andy Yah?" gumam Boboiboy. Ia menatap lekat wajah asing di matanya itu yang ia perkirakan seusia dengan ayahnya. "Apa dia teman Ayah?" tanyanya entah pada siapa.
Di artikel tersebut mengatakan Andy Yah mulai menjabat untuk menggantikan Pian selaku CEO saat itu. Mengenai Pian, teman ayahnya, Boboiboy mengenalnya sangat dekat. Ia baru diberi tahu oleh Tok Aba kalau paman kesayangannya itu bunuh diri saat umurnya 10 tahun, saat dirinya bisa lebih mengerti tentang apa yang sebenarnya. Sebab pastinya belum diketahui. Orang-orang beranggapan Pian mengalami depresi berat karena sahabatnya meninggal tiba-tiba dan memilih jalan itu karena tak kuat menahannya lagi.
"Ayah meninggal bulan April, Om Pian bulan Agustus. Dan Andy Yah resmi menjadi pemimpin DeStar Group bulan September. Tapi siapa Andy Yah?"
Boboiboy berpikir keras. Sepertinya, penyelidikan ini tak semudah yang ia bayangkan.
.
.
"Chat, nggak, chat, nggak, chat—" Ucapan Yaya langsung terhenti jari kelingkingnya berhasil ia lipat seperti jari tangan lainnya. Ia menghela napas gusar. Memilih memejamkan mata untuk melupakan pertimbangannya tadi.
Sekarang Yaya baru menyesal karena tak langsung memaafkan Boboiboy. Ia lupa cowok itu begitu menyebalkan. Apa yang harus ia lakukan agar Boboiboy mau ikut olimpiade lagi.
"Lo bodoh banget, Yaya." gumam Yaya pada diri sendiri.
Kalau dipikir ulang, kemah kemarin sedikit menyenangkan. Jika itu karena Boboiboy, Yaya tak tahu. Tapi satu fakta tentang dirinya yang bisa menenangkan Boboiboy dari traumanya membuatnya... senang. Bukan, bukan berarti ia senang Boboiboy memiliki trauma. Tapi lebih karena... untuk pertama kalinya Yaya bisa melihat sisi lain dari Boboiboy yang tentu tidak diketahui orang-orang.
"Dia trauma terhadap api?" gumam Yaya. "Apa dia ada disana juga bersama Paman Amato?" Ia mulai menduga-duga. Jika benar begitu, berarti Boboiboy selama ini memiliki luka yang begitu dalam dan sulit disembuhkan.
Pandangannya untuk Boboiboy berubah dalam sekejap mata. Ia tak bisa membayangkan jika dugaannya ternyata benar. Yaya menghela napas. Diraihnya ponsel dan mencari kontak Boboiboy dengan cepat.
Yaya: Gue udah maafin lo. Jadi lo harus tetep ikut olimpiade.
Sent.
Yaya menatapnya lama. Beberapa detik kemudian, balasan dari Boboiboy muncul.
Boboiboy: Gak mau.
"Sialan." gerutu Yaya.
Yaya: Lo harus mau. Kalo nggak, gue bocorin rahasia lo itu.
Yaya tahu ia sedikit kejam dengan memberi ancaman. Tapi ia berani bersumpah, ia takkan memberitahu siapapun tentang malam api unggun itu. Itu hanya alasan agar Boboiboy mau ikut olimpiade lagi.
Boboiboy: Oke. Deal.
Yaya memelotot kaget. Semudah itu?
Boboiboy: Tapi gue nggak mau belajar bareng sama lo. Yang ada lo musuhin gue lagi nanti.
"Dih. Geer banget."
Yaya: Sekarang juga kita musuh. Apa bedanya?
Boboiboy: Terserah. Pokoknya gue mau belajar sendiri.
Yaya: Yang kemaren bilang mau ikut olim tapi harus sama gue siapa ya?
Boboiboy: Gue gak bilang belajar bareng. Right?
Yaya menggeram kesal. Berdebat dengan Boboiboy sama saja berdebat dengan batu. Nggak ada habisnya.
Yaya: Oke kalo gitu. Hari ini gue lapor ke Pak Kasa kalo lo ikut.
Boboiboy: Oke.
Yaya mencibir kesal. Ia kemudian membuka galeri foto, menatap salah satu gambar berisi ia versi kecil bersama seorang pria yang tersenyum lebar ke kamera.
"Paman, kenapa anakmu nyebelin banget?"
.
.
Seminggu sudah kegiatan kemah berakhir. Hari berjalan seperti biasanya. Belajar, menjaga cafe, nongkrong dengan Gopal dan Fang, dan mengulanginya lagi besok. Boboiboy merenggangkan jari jemarinya setelah menyelesaikan tugas mencatat pelajaran sejarah. Ia tak mengerti kenapa guru sejarahnya begitu menginginkan anak muridnya untuk mencatat apapun yang penting di dalam buku paket. Karena menurutnya, semua yang tertulis di sana penting. Karena itulah tangannya terasa pegal saking panjang catatannya.
Ketika ia berniat untuk tidur sebentar menunggu bel istirahat, sebuah buku digeser padanya. Boboiboy mengerutkan dahi. Yaya si pelaku tak menghiraukannya dan terus menulis.
"Apaan nih?" tanyanya walaupun matanya bisa membaca jelas judul di cover buku itu yang ditulis besar-besar. Sesuai kesepakatan mereka, Boboiboy akhirnya mau mengikuti olimpiade tahun ini.
"Buat latihan. Lo gak mau belajar sama gue, kan? Tuh, gue kasih buku gue." jawab Yaya.
"Terus lo?"
"Gue masih punya banyak di rumah."
Boboiboy mengangguk-angguk paham. Sebenarnya ia juga punya buku latihan seperti ini, tapi entah sudah hilang kemana. Mungkin tertimbun oleh barang-barang bekas di kamarnya karena ia tak pernah menyentuhnya lagi semenjak Yaya memusuhinya.
"Oh, ya. Satu lagi." Yaya menutup bukunya, menatap Boboiboy langsung yang duduk santai di kursinya. "Hari H tiga bulan lagi. Seminggu dua kali Pak Kasa bakal mengetes kemampuan kita."
"Kita?"
"Iya, kita." Yaya meletakkan tangan kanannya di atas buku latihan soal itu, membuat mata Boboiboy melihat ke arahnya. "Lo dan gue. Itu artinya, Pak Kasa bakal ngebimbing kita. H-1 bulan, Pak Kasa minta setiap pulang sekolah kita latihan di perpustakaan."
Yaya menjeda ucapannya untuk memperhatikan raut wajah Boboiboy yang terlihat sedang mencerna perkataannya.
"Mau nggak mau, lo harus ikut dan buang jauh-jauh pemikiran lo buat belajar sendiri."
"Ribet." komentar Boboiboy.
Yaya menghela napas. "Gue gak peduli lo mau nganggep gue saingan atau temen seperjuangan. Tapi satu hal yang penting, antara lo dan gue harus menang buat mengharumkan nama sekolah."
"Ya, ya, ya." balas Boboiboy akhirnya.
Yaya mencibir kesal. Ia tak berbicara lagi dan kembali menghadap ke depan bertepatan dengan bel istirahat yang berbunyi kencang. Dan tahu-tahu saja Gopal sudah di samping meja mereka dengan mata penasaran.
"Wow, lo ikut olim jadinya? Keren, keren!" heboh Fang seraya mengangkat buku latihan soal untuk olimpiade tinggi-tinggi seperti piala kejuaraan umum.
"Kok lo nggak ngomong-ngomong sih kalo ikut? Kan gue juga mau." celetuk Gopal.
"Lo 10 kali 10 aja gatau, gimana mau ikut kocak!" sembur Fang.
"Hehehe."
Yaya memutar mata malas mendengar mereka bergurau yang disusul tawa Boboiboy. Ia tak habis pikir dengan trio sableng itu. Kenapa mereka bisa berteman? Boboiboy yang diam-diam cerdas, Fang yang dari keluarga berada, dan Gopal si hobi makan. Ketiganya bertolak belakang. Tapi jika ditelisik lebih dalam, mereka ternyata punya satu kesamaan. Sama-sama gila.
Ying yang datang seperti pahlawan membuat Yaya tanpa ragu menyetujui ajakannya untuk ke kantin dan meninggalkan mejanya yang sudah dikuasai trio sableng.
"Heh. Lo kok tiba-tiba setuju ikut olim lagi? Lo lupa tentang masa lalu?" tanya Gopal setelah Yaya dan Ying pergi.
Fang mengangguk. Rasanya baru kemarin Boboiboy ngedumel pada mereka karena Yaya menawarkan olimpiade. Kenapa sekarang jadi plot twist?
"Mau bales dendam." jawab Boboiboy santai. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah kantin. Fang dan Gopal membuntutinya seperti kurcaci.
"Gak mungkin. Orang kayak lo mau bales dendam? Ke Yaya?" balas Fang tak percaya. Gopal pun ikut menimpali ucapan Fang. Sementara Boboiboy terus diam selama berjalan. Karena bukan itu alasan ia memutuskan untuk ikut olimpiade bersama Yaya lagi.
Pada hari ia pulang kemah dan mencari tahu tentang DeStar Group, Boboiboy menemukan sebuah fakta. Bukan, ia belum bisa mengatakannya sebagai fakta. Tetapi masih praduga. Karena ia belum dapat menemukan bukti kalau spekulasinya adalah benar. Spekulasinya tentang Yaya Yah adalah putri dari Andy Yah.
Boboiboy mengaitkannya berdasarkan marga cewek itu. Jika memang mereka ayah dan anak, Boboiboy harus mencari tahu lewat Yaya agar bisa menghubungkannya pada Andy Yah. Licik? Memang. Tapi rasa penasarannya pada kematian sang ayah lebih tinggi dari rasa bersalahnya pada Yaya karena ingin memanfaatkan cewek itu.
"Woi, Boboiboy! Pesen apa lo?"
Seruan Fang sedikit mengejutkannya dan memecah lamunan yang ia ciptakan. Boboiboy baru sadar mereka sudah duduk di salah satu bangku kantin.
"Kayak biasa." jawabnya. Fang yang sudah tahu apa yang biasa ia pesan mengangguk dan pergi memesan makanan untuk mereka. Sementara ia dan Gopal tetap duduk.
Gopal asyik bermain game di ponselnya, Boboiboy sendiri menatap hiruk pikuk kantin yang dipenuhi oleh manusia lapar. Di sebelah kiri, empat sampai lima meja darinya terlihat Yaya dan Ying sedang makan bersama. Entah kenapa saat melihat Yaya sekarang, Boboiboy merasa ingin lebih tahu tentang cewek itu. Terutama mengenai apakah Yaya anak dari Andy Yah atau bukan.
Fang lalu datang setelah sepuluh menit mereka menunggu. Sambil menyantap makan siang, Boboiboy mengajukan pertanyaan pada dua sohib gilanya.
"Lo berdua tau DeStar Group?"
Gopal tampak mengernyit karena merasa asing dengan nama itu. Sedangkan Fang menunjukkan wajah biasa.
"Tau. Abang gue pernah lamar di sana. Tapi gak diterima." jawab Fang. Lalu menyeruput minumannya.
"Loh kenapa?" tanya Gopal. Karena yang mereka tahu, abang Fang adalah sosok jenius yang bisa tembus menjadi lulusan terbaik di universitas ternama di ibukota.
"Susah cuy masuknya. Dia kan termasuk perusahaan gede. Isinya orang-orang berpengaruh semua."
"Wow, iyakah? Gue jadi penasaran." komentar Gopal. Boboiboy menyimak di tempatnya.
Fang memutar mata malas. Cowok itu lalu memajukan tubuhnya dengan raut serius. "Tapi lo tau? Ada yang bilang pemilik DeStar Group ayahnya Yaya."
Deg. Boboiboy bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Sumpah?" tanya Gopal hampir berteriak.
"Sstt. Itu cuma rumor di anak-anak basket waktu kita tahun pertama. Tapi nggak tahu juga sih, temen gue waktu itu ngaku mau deketin Yaya cuma ragu karena takut rumor itu bener." Fang melirik Boboiboy jahil seraya memakan baksonya. "Terus juga dia kan lagi deket sama ehem." Yang dilirik memelotot tajam, menyumpahi Fang agar tersedak bakso segede bola ping pong itu.
Gopal tersenyum penuh makna. "Iya juga ya. Kita melupakan kalo dulu temen tercinta kita ini pernah deket sama ratu sekolah."
"Bacot." semprot Boboiboy.
"Eh tapi kan tiba-tiba musuhan. Kenapa ya gais?" timbal Fang dengan dramatis.
"Eh, ngga kok. Sekarang udah deket lagi. Tapi kayaknya gabakal lama deh, soalnya—AW SAKIT ANJIR!"
Boboiboy tak menghiraukan jeritan histeris Gopal karena kakinya ia injak sekuat tenaga. Ia melanjutkan makannya dengan tenang seolah-olah percakapan itu tak pernah terdengar di telinganya. Tapi tiba-tiba Fang menyeletuk lagi dengan kurang ajar.
"Gue sama Gopal bakal dukung lo kok kalo lo jadian sama Yaya."
"Diem atau gue lempar pake bakso?"
.
.
Boboiboy memarkirkan vespanya di depan Cafe. Lewat jendela, ia bisa melihat ada seseorang yang sedang bercengkrama dengan Tok Aba. Menduga-duga siapa orang itu, Boboiboy segera melepas helmnya dan masuk. Suara kerincingan pintu cafe membuat orang itu dan Tok Aba menoleh padanya.
"Pak Kokoci?"
"Apa kabar, Boboiboy?"
Pria paruh baya itu langsung memeluknya. Boboiboy dengan canggung membalas pelukan singkat itu. Ia memandang Tok Aba penuh tuntutan namun atoknya itu hanya tersenyum.
"Baik. Pak Kokoci sendiri?" tanya Boboiboy balik. Ia ikut duduk di kursi sambil menatap gurunya itu. Pak Kokoci masih sama seperti dulu, beberapa kerutan tercetak di wajahnya karena usia. Tapi wajah ramah itu tak pernah berubah.
"Baik juga. Kelas berapa kamu sekarang? Sebelas?" tebak Pak Kokoci. Boboiboy mengangguk membenarkan. Wajar Pak Kokoci bertanya hal itu, karena mereka sudah lama tidak bertemu. Jika Boboiboy tak salah ingat, terakhir ia bertemu Pak Kokoci adalah saat ia lulus SMP.
"Pak Kokoci, maaf kalau saya jarang menghubungi. Soalnya..."
"Iya, saya mengerti, kok. Karena kamu sudah tak pernah mengalaminya lagi, 'kan?" tanya Pak Kokoci. Boboiboy mengangguk pelan. Selain gurunya, Pak Kokoci jugalah yang membantunya mengatasi trauma. Karena pria paruh baya itu berprofesi sebagai psikolog. Dan dia juga teman dekat sang ayah saat kuliah dulu.
"Atok tinggal dulu, ya?" Tok Aba pamit sebentar setelah membuatkan minum, ia seakan mengerti cucunya butuh ruang untuk berkonsultasi. Boboiboy tak mengucapkan apa-apa. Dalam hati ia sebenarnya sudah menduga Tok Aba akan menghubungi Pak Kokoci sesuai yang dikatakannya tempo hari. Dan Boboiboy tidak kesal sedikitpun karena dia 'butuh' untuk meluapkan perasaannya pada sang psikolog.
"Awalnya, saya merasa sudah lepas dari trauma itu. Tapi saat kemah..." Boboiboy berhenti karena mendadak jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Boboiboy sangat membenci bagian ini karena ia harus mengingat lagi bagaimana trauma itu muncul.
"Bagaimana kalau kita bahas tentang sekolahmu? Apa yang ingin kamu tekuni, Boboiboy?" tanya Pak Kokoci mengganti topik lain. Itu adalah upaya agar dirinya merasa tenang dulu. Boboiboy akhirnya menyetujuinya karena ia belum sanggup bercerita.
Sama seperti dulu, Pak Kokoci mendengarkan ceritanya dengan khidmat. Boboiboy tak memandangnya sebagai guru atau psikolog yang membantunya menghilangkan trauma, tapi lebih kepada teman curhat. Pak Kokoci pun menganggapnya sama. Jadi ia tak merasa sungkan untuk bercerita bebas.
Itulah yang ia lakukan sejak usia 5 tahun hingga dirinya beranjak remaja jika tanda-tanda itu muncul. Ia akan segera menghubungi Pak Kokoci, mengadukan semua keluh kesah padanya agar perasaannya lebih baik. Tok Aba tentu ikut merangkulnya, namun karena rentang usia mereka begitu jauh membuat Boboiboy tak bisa sepenuhnya membuatnya lebih baik. Dan Pak Kokoci, selalu berhasil melakukannya hingga ia tenang kembali.
"Jadi kamu sedang ikut olimpiade?" tanya Pak Kokoci.
Boboiboy mengangguk. Pak Kokoci tersenyum padanya, seperti bangga mendengar hal itu.
"Bagus. Jangan sia-siakan kecerdasanmu, Boboiboy." ujarnya.
"Memangnya saya cerdas, Pak?" tanya Boboiboy, membuat Pak Kokoci tertawa geli.
"Jelas. Kamu nggak sadar memangnya?" balas Pak Kokoci. Boboiboy menggeleng. "Kamu tahu? Saat kamu umur 4 tahun, kamu sudah tertarik dengan perkalian."
Boboiboy tak mengingatnya. Sadar remaja di depannya tampak kebingungan, Pak Kokoci menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu cerdas, Boboiboy. Seperti ayahmu."
Ayah, ya?
Boboiboy tersenyum tipis. Setidaknya ada sesosok sang ayah dalam dirinya meski ia tak bisa merasakannya langsung.
"Kalau kamu bisa menekuni bidang yang kamu sukai, saya yakin kamu akan seperti Amato." ungkap Pak Kokoci.
Boboiboy terdiam. Ia tak yakin akan bisa sehebat ayahnya. Tapi Boboiboy tak membantah ucapan Pak Kokoci.
"Soal Ayah, Pak Kokoci tahu tentang insiden kebakaran itu?"
Pertanyaan Boboiboy membuat Pak Kokoci tampak terkejut sampai membatalkan niat untuk menyesap kopinya.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?" tanya Pak Kokoci kaget. Topik itu adalah topik terlarang untuk Boboiboy. Karena bisa memancing traumanya muncul kembali.
"Saya hanya penasaran. Karena saya benar-benar melupakannya." balas Boboiboy. Sengaja tak membeberkan langsung tentang secarik kertas yang ia temukan. Ia menghindari tatapan Pak Kokoci yang seperti sedang mempelajarinya. Boboiboy paham kenapa teman ayahnya itu terkejut. Karena pasca kejadian itu, tak ada yang berani mengungkitnya lagi padanya.
"Boboiboy. Kamu yakin bakal baik-baik saja?" tanya Pak Kokoci. Raut wajahnya terlihat serius menatap anak mendiang temannya.
"Saya yakin, Pak." ucap Boboiboy. Meski ia tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya ketika telinganya mendengarkan seluruh kronologi itu. Boboiboy tak peduli. Ia akan mengambil semua resiko itu.
Asalkan ia mengetahui kebenarannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tbc
a/n:
mau up 2 chapter tpi ga sanggup:(
kalo diinget-inget, gue apdet sebulan sekali ya? beberapa ada yg lewat dikit malah wkwkwk apa 2 minggu sekali aja ya apdetnya? gimana guys? setuju gak? tapi liat waktu dlu deng:p
gue gatau cerita ini bakal tersampaikan dengan jelas atau ngga. yang pasti alur ini udah gue atur sebaik mungkin, ga kayak ff sebelumnya yang asal2an gue tulis :"(
oke itu aja dari gue. moga kalian ga bosen ya? kirim love banyak2 untuk readers tercinta!
