"Ada apa Theo?" tanya Sakura yang menyadari Theo terus menatap kearahnya saat keenamnya tengah beristirahat sebentar diruang tamu rumah Liam itu.

"Hei.. Apa kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Theo menatap Sakura bosan.

"Melupakan apa?" tanya Sakura bingung.

"Wah.. Aku tidak tau kau sepelupa ini sekarang. Makanya tidur yang benar." ucap Theo menjentik pelan kening Sakura.

"A.. Sakit.." gerutu Sakura memegang keningnya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Theo menghampiri Sakura yang duduk di sofa untuk satu orang itu dari belakang, meletakkan dagunya diatas kepala Sakura, menatap layar laptop yang berada dipangkuan Sakura itu.

"Aku sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk presentasi ini." ucap Sakura memperlihatkan pekerjaannya pada Theo.

"Hmmm.." gumam Theo hanya menatap Sakura santai.

"Hei.. Hmm apanya.. Bantu aku.." ucap Sakura menarik tangan Theo yang akan pergi.

"Tidak." tolak Theo santai bersiap beranjak pergi.

"Theo pelit." gerutu Sakura kesal.

"Wah.. Seorang Theo menolak membantu Sakura? Itu hal baru." goda Trevor yang mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap laptopnya di sofa yang bersebrangan dengan Sakura.

"Dia menjadi pelit Trevor." ucap Sakura mengadu.

"Aa.. Dia memang pelit Sakura. Aku saja kaget kenapa dulu kalian bisa berpacaran selama 7 tahun." ucap Trevor.

"Hah? Aku tidak pelit!" tolak Theo tegas.

"Wah.. benar-benar tidak masuk akal. Bukankah begitu Sky?" ucap Trevor menatap Sky yang tengah menikmati kopinya sambil memainkan handphonenya.

"Hei.. Jangan tarik aku kedalam masalah kalian." ucap Sky menolak untuk ikut campur.

"Apa kau lupa aku pernah membantumu menyiapkan document untuk tuan Liam?" ucap Theo masih tidak setuju.

"Apa benar?" goda Trevor.

"Hah.. Kau memang menyebalkan Trevor.. Sakura itu tugasmu. Apa kau yakin aku boleh ikut campur?" goda Theo menatap Sakura yang sudah memanyunkan bibirnya itu.

"Itu memang benar.. Tapikan aku setidaknya butuh ide." gerutu Sakura dengan suara kecil.

"Hah.. Masukkan data terbang terakhirmu. Itu akan membuat presetasimu menjadi lebih mudah dipahami." saran Theo.

"Theo.." panggil Sakura saat pria itu beranjak pergi.

"Ya?" Theo yang mendengar namanya dipanggil kemudian berjalan mendekati Sakura.

"Membungkuklah sedikit." pinta Sakura yang berdiri dihapdan Theo itu.

"Kenapa aku harus membungkuk?" tanya Theo curiga. Memang dirinya yang memiliki tinggi 180cm itu terlihat seperti raksasa bagi Sakura yang tingginya hanya 168cm. Melihat Theo yang tidak mau membungkuk membuat Sakura memilih menarik pundak Theo sambil sedikit berjinjit, memaksa pria itu sedikit membungkuk.

"Terima kasih." ucap Sakura setelah memberikan kecupan singkat dipipi pria itu. Spontan membuat kaget Theo.

Pemandangan itu juga mengagetkan ajudan lain, sudah rahasia umum para ajudan Liam diam-diam memandang Sakura special karena selama karir mereka baru kali ini mereka menemukan ajudan perempuan yang mengawal Menteri laki-laki. Biasanya ajudan perempuan hanya ditempatkan untuk istri Menteri atau pejabat lainnya. Trevor yang memang berniat merekam perdebatan Theo dan Sakura untuk bahan olok-oloknya malah mendapat bahan yang lebih bagus sedang Sky yang diam-diam mengambil foto perdebatan keduanya itu sambil meneguk kopinya spontan tersedak dan mengelurkan kopinya dari hidung.

"Wahahahaha.." Trevor yang melihat kelakuan Sky spontan tertawa terbahak-bahak.

"Sialan." ucap Sky yang buru-buru mengambil tisu diatas meja.

"Akh.." sedang Sasuke yang kaget melihat kejadian itu tidak sadar mengisi gelas kopinya terlalu penuh hingga terkena tangannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir.

"Y.. ya." ucap Sasuke cepat.

"Hah.." Theo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya itu.

"Aku tau setelah ini kau pasti akan meminta foto dan video itu." bisik Trevor kepada Theo yang hanya bisa terdiam karena Trevor menebak dengan benar.

"Kalian sepertinya sedang bersenang-senang." ucap Liam memasuki ruangan itu.

"Aa.. Pak.." ucap semuanya menatap Liam dan Gaara yang memasuki ruangan itu.

"Tuan Gaara akan menginap disini malam ini. Kalian bisa pulang." ucap Liam memberitahu.

"Kalian juga beristirahatlah. Biar ajudan yang lain menggantikan." ucap Gaara pada Sakura, Sasuke dan Juugo. Gaara memang membawa ajudannya yang lain.

"Apakah kami boleh bersantai dirumah Theo dulu pak? Lagipula ini baru jam 6 sore, jarang sekali kami pulang secepat ini." tanya Trevor semangat.

"Pergilah. Tapi ingat besok pagi jangan terlambat." ucap Liam mempersilahkan.

"Hei. Aku tidak pernah setuju untuk hal itu." tolak Theo.

"Ayo bbq-an." ajak Trevor bahagia.

"Pak.." Theo menatap Liam berharap Liam menarik ucapannya.

"Hanya sekali-sekali Theo." ucap Liam santai.

"Hah.. Baiklah." ucap Theo mengalah.

-kediaman Theo-

"Hah.. Kau tau alat panggangnya dimanakan Trevor." ucap Theo saat mereka bersiap bbq-an dirumah Theo itu.

"Tentu saja." ucap Trevor dengan senang hati pergi mengambil alat panggang Theo yang tersimpan di garasi rumahnya dibantu Juugo.

"Theo.. Aku boleh masuk keruanganmu?" tanya Sakura menatap pintu menuju ruang kerja sekaligus ruang koleksi penghargaan Theo selama menjadi tentara itu.

"Memangnya kau mau melihat apa?" tanya Theo mengikuti Sakura dari belakang.

"Aku yakin kau pasti punya koleksi baru." ucap Sakura tersenyum jahil.

"Hei.. Penghargaan dan koleksiku bukan untuk mainan." ucap Theo memperingatkan Sakura saat mereka memasuki ruangan itu.

"Wah.. Akhirnya kau memajangnya." ucap Sakura melihat tulisan 'ranger' di dinding ruangan itu.

"Tentu saja." ucap Theo tersenyum.

"Hei.. Ini baru." ucap Sakura melihat koleksi topi milik Theo.

"Ya.. Aku baru membelinya saat kunjungan ke Rusia beberapa waktu yang lalu." jawab Theo jujur.

"Hrmm.." Sakura yang berusaha meraih topi dari rak pajangan itu limbung kebelakang dan untung saja Theo berdiri dibelakang gadis itu, mencegahnya jatuh.

"Sakura, kau bisa terluka. Kakimu saja masih diperban begitu. Biar aku ambilkan." ucap Theo yang berdiri dibelakang gadis itu untuk membantunya mengambil topi itu.

"Terima kasih." ucap Sakura menerima topi itu dari Theo yang masih berdiri dibelakangnya.

"Bukan masalah." ucap Theo bersandar dipinggir meja kerjanya itu, diam-diam mengagumi Sakura yang asik memainkan topi itu.

"Wah.. sepertinya aku juga akan mulai mengoleksi topi sepertimu." ucap Sakura menghampiri Theo, memasangkan topi itu kekepala Theo.

"Untuk apa?" tanya Theo menatap Sakura bingung.

"Sepertinya menyenangkan atau aku mengoleksi senjata saja?" ucap Sakura melirik lemari senjata Theo.

"Kalau itu aku tidak akan izinkan." ucap Theo tegas.

"Hee.. Kenapa? Aku juga sudah punya beberapa dirumah." ucap Sakura kecewa.

"Jangan Sakura.. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan." ucap Theo menasehati dengan pelan, Theo berjalan menuju kursi kerjanya itu. Duduk disana karena ia tau pembahasan ini akan panjang.

"Aku selalu mengunci ruang kerjaku kok." ucap Sakura masih bersikeras, mengikuti Theo. Berharap pria itu akan berubah pikiran.

"Entahlah Sakura, terakhir kali kau bilang semuanya terkendali aku mendapat kabar kau terluka." ucap Theo ragu.

"Itukan tidak ada hubungannya dengan mengoleksi senjata." gerutu Sakura.

"Bukankah dari sana aku bisa menarik kesimpulan kalau kau ini masih ceroboh?" ucap Theo lagi.

"Ayolah Theo.. Aku akan berhati-hati dan lagi hanya karena aku terjatuh saat melakukan pengawalan bukan berarti aku ceroboh. Semua orang bisa terjatuh." elak Sakura sembari duduk menyamping dipangkuan Theo itu.

"Hah.. Baiklah jika kau ingin tapi ingat untuk selalu mengunci ruangan dan lemari pajangan itu pastikan tidak mudah dipecahkan dan dibobol. Aku akan kirimkan list material yang cocok." nasehat Theo.

"Terima kasih." ucap Sakura senang. Anehnya walau hubungan mereka sekarang hanya sebatas teman Sakura tetap meminta pendapat dan pandangan Theo jika ia ingin melakukan sesuatu dan tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Theo, walau dia akan berdebat dulu sebelum akhirnya menuruti Theo.

"Tapi aku tetap lebih setuju jika kau mengoleksi topi saja, bukankah koleksi topiku yang diam-diam kau bawa sudah banyak." ucap Theo mengusap kepala Sakura.

"Hei.. Kau membuatku terdengar seperti pencuri." ucap Sakura protes.

"Dan aku tidak masalah selama itu kau." ucap Theo menatap Sakura lembut.

"Kalau ada yang salah dengar bisa-bisa aku dikira benar-benar pernah merampok tentara yang sedang naik daun ini." ucap Sakura mencubit kedua pipi Theo.

"Naik daun?" ucap Theo menatap Sakura.

"Walau sudah lama tapi Bahasa indonesiaku masih bagus. Apa kau tidak bisa mendengar jerit-jerit wanita yang melihatmu saat pengawalan tadi?" goda Sakura.

"Aku tidak peduli pada mereka." ucap Theo tegas.

"Mereka bisa sedih jika mendengar itu." komentar Sakura.

"Dan lagi aku tidak peduli Sakura. Aku hanya peduli pada satu wanita dan aku cukup senang ternyata wanita itu masih memperhatikanku walau sekarang dengan cara yang berbeda." ucap Theo tersenyum menatap Sakura.

"Aa.." Sakura yang mendengar itu tanpa terasa air matanya mengalir.

"Ada apa Sakura? Apakah kepalamu sakit atau kakimu sakit lagi?" tanya Theo cemas, menggenggam tangan Sakura lembut.

"Tidak." ucap Sakura menggeleng.

"Lalu?" Theo menjadi cemas melihat Sakura yang menangis.

"Aku sudah jahat sekali padamu dan kau masih tetap sebaik ini." ucap Sakura menunduk.

"Hei.. Jangan berpikir seperti itu. Kau tidak salah Sakura. Apa yang kau lakukan itu benar." ucap Theo meyakinkan Sakura, memegang lembut pipi Sakura, menghapus air matanya.

"Maafkan aku Theo." ucap Sakura menangis.

"Stt.. Hentikan Sakura.. Kau tidak salah. Negara mana yang akan rela melepas prajurit terbaiknya untuk menikah dengan warga negara asing semudah itu. Jika kita memaksakannya kau hanya akan dikira sebagai mata-mata yang memanfaatkan prajurit lain." ucap Theo sedih melihat gadis itu menangis, Theo menggenggam erat tetapi tetap lembut tangan Sakura itu.

"Ugh.. Seharusnya aku bisa berbesar hati untuk melepasnya." ucap Sakura.

"Tidak.. Jangan berkata seperti itu. Akupun tidak akan membiarkanmu melepaskan impianmu Sakura. Kita bisa bertemu dan saling mengenal juga karena kita memilih jalan ini. Tidak apa-apa.. Mungkin dikehidupan ini kita hanya bisa sebagai sahabat tapi aku selalu berdoa.. Jika kehidupan selanjutnya itu benar-benar ada, aku berharap bisa terlahir dan bertemu kembali denganmu sebagai prajurit yang membela negara yang sama." ucap Theo menatap lembut Sakura, memberikannya senyuman lembut yang hanya ia berikan pada Sakura seorang. Mendengar ucapan Theo tangis Sakura pecah, ia sudah tidak bisa menahan rasa rindu dan penyesalannya pada pria itu, pria yang selalu memberikan segala yang terbaik untuknya tetapi semuanya harus berakhir karena karir keduanya. Sakura memeluk erat Theo, enggan melepas pria itu begitupula dengan Theo, ia rindu akan pelukan hangat gadis itu.

"Theo.."

"Tidak apa-apa Sakura.. Tenanglah. Aku akan selalu ada untukmu." ucap Theo mengusap pelan punggung Sakura, berusaha menenangkannya dan membiarkan Sakura menangis.

"Hah.." Sasuke yang terdiam didepan pintu menyaksikan hal itu tiba-tiba dikagetkan dengan tepukan pelan dipundaknya.

"Biarkan mereka melepas rindu. Dunia ini terlalu kejam untuk keduanya." ucap Trevor menepuk pundak Sasuke.

"Aa.. Ya.. Apakah mereka selalu sedekat itu?" tanya Sasuke.

"Ya.. Keduanya dipertemukan dengan cara yang lucu, jatuh cinta dengan indah dan harus merelakan semuanya dengan berlapang dada." terang Trevor yang mengetahui perjalanan cinta keduanya.

"Siapapun yang melihatnya bisa mengetahui hal itu." ucap Sasuke setuju.

"Ayo.. Biarkan mereka. Sakura sangat butuh pelukan itu, sebaiknya kau membantu kami saja diluar. Aku yakin Theo menyadari keberadaanmu sedari tadi." ucap Trevor yang mengenal Theo yang sangat peka dengan sekelilingnya itu.

"Ya.." ucap Sasuke yang juga menyadari Theo sebelumnya sempat melirik dirinya yang berdiri didekat pintu yang sedikit terbuka itu.

"Sudah lebih tenang?" tanya Theo menatap Sakura yang bersandar didadanya itu

"Umm.. Wajahku pasti sangat jelek saat ini." ucap Sakura cemberut menatap Theo.

"Apa kau bercanda? Wajah secantik ini?" goda Theo menatap lembut Sakura, merapikan rambut gadis itu.

"Kau hanya mencoba menghiburku." ucap Sakura tidak percaya.

"Kau akan selamanya cantik dimataku." ucap Theo sambil mengambil sesuatu dilaci meja kerjanya itu.

"Wah, sekarang kau sudah bisa menggombal. Apakah ini ajaran Trevor?" tanya Sakura kaget.

"Mungkin aku terlalu lama berteman dengannya hingga mulai mengikuti sifatnya itu." ucap Theo membuka bungkus permen yang ia ambil dari laci mejanya itu.

"Hmm? Semenjak kapan kau suka makan permen jelly?" tanya Sakura yang membiarkan Theo menyuapinya permen itu.

"Aku baru membelinya kemarin saat tau kau akan berkunjung kesini karena aku tau kau sangat suka permen jelly ketimbang permen mint." komentar Theo meletakkan bungkus permen itu diatas mejanya.

"Permen jelly tidak bisa membuat mataku tetap melek saat mulai mengantuk Theo, tapi aku tidak mau makan permen kopi sepertimu. Si pria tampan dan cool yang selalu setia dengan permen kopinya." goda Sakura.

"Kau mengejekku?" ucap Theo menggelitik ringan pinggang Sakura.

"Theo geli.." protes Sakura.

"Makanya jangan suka mengejekku." ucap Theo gemas, berhenti menggelitik Sakura karena takut gadis itu tersedak permennya. Sakura menatap dalam mata Theo tanpa sadar menghilangkan jarak diantara keduanya. Theo tidak melawan ataupun menjauh, ia balas mencium lembut bibir Sakura.

"Ma-maafkan aku." ucap Sakura yang tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan.

"Manis." komentar Theo yang sejujurnya ia sedari tadi mati-matian menahan dirinya karena takut Sakura tidak suka.

"Aa-apa?! Te-tentu saja manis, akukan makan permen." ucap Sakura yang wajahnya sudah memerah, memukul kecil dada Theo.

"Sakura.. Kedepannya cobalah untuk berhenti mengigit bibirmu jika kau cemas." nasehat Theo, menyentuh lembut bibir Sakura yang memang masih meninggalkan beberapa luka akibat Sakura yang jika merasa cemas akan melakukan kebiasaan buruk mengigit bibirnya itu.

"Itu akan sulit." canda Sakura.

"Setidaknya cobalah untuk menghentikannya demi aku ok?" pinta Theo.

"Baiklah." jawab Sakura mengalah.

"Hah.. Aku harus bagaimana tanpamu Sakura." ucap Theo menyembunyikan wajahnya dileher Sakura, memeluk gadis itu erat.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura kaget melihat Theo yang mendadak manja itu.

"Aku baik-baik saja. Berkatmu." jawab Theo masih menyembunyikan wajahnya itu.

TBC