-2 minggu kemudian-
"Ohayou.." sapa Naruto bersemangat memasuki kelasnya pagi itu.
"Ohayou Naruto-kun." Sapa Hinata lembut.
"Aa. Ohayou Sakura-chan?" Naruto menatap Sakura yang terlihat lelah.
"O.. Ohayou Naruto." Ucap Sakura tersenyum.
"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sakura cepat.
"Hmm.. Suhu tubuhmu memang normal, tapi kau tidak terlihat baik-baik saja." Komentar Naruto yang menempelkan keningnya kekening Sakura untuk mengecheck suhu tubuhnya.
"Aa.. Aku baik-baik saja." Ucap Sakura cepat menghindar menyadari seisi kelas menatapnya.
"Menyingkirlah dobe, aku mau lewat." Ucap pria berambut raven itu.
"Teme.." Naruto hanya bisa menggerutu sebelum akhirnya menyingkir pergi kebangkunya.
"U.. Uchiha-san.." panggil Sakura menyita perhatian Sasuke yang baru saja duduk dibangkunya.
"Itachi nii yang menyuruhku memberikannya." Ucap Sasuke santai, menyadari Sakura kebingungan dengan bento yang terletak dimeja Sakura itu.
"A.. Arigatou." Jawab Sakura cepat.
-flashback-
"Aku berangkat." ucap Sasuke yang akan pergi ke sekolah.
"Tunggu Sasuke." ucap Itachi menghetikan langkah adiknya itu.
"Ada apa?" tanya Sasuke menatap Itachi bingung.
"Ini.. Berikan pada Sakura." ucap Itachi menyerahkan sebuah kotak makan.
"Bento? Kenapa?" tanya Sasuke curiga.
"Sudah berikan saja, jangan banyak tanya." ucap Itachi menghindar.
"Aku sudah curiga melihat 4 kotak bento pagi ini, terlebih saat mendengar kau minta dibuatkan 2 bento pada kaa-san. Memangnya apa hubunganmu dengan Sakura?" tanya Sasuke curiga.
"Kenapa kalian masih disini?"
"Tou-san.." ucap keduanya kaget.
"Jadi?" Fuugaku menunggu jawaban dari keduanya.
"Aku hanya menanyakan sesuatu pada nii-chan." jawab Sasuke.
"Bukankah bisa nanti? Kau bisa terlambat ke sekolah. Kau juga Itachi." ucap Fuugaku menatap keduanya bergantian.
"Aku berangkat." ucap Sasuke mengalah dan berangkat ke sekolah.
-end flashback-
"Hei.. Bagaimana bisa kau mengenal nii-chanku? Bahkan kau akrab dengan anggota polisi lain." Ucap Sasuke tiba-tiba.
"Bukankah wajar dia dekat dengan anggota polisi mengingat dia seorang pelacur, pasti dia sudah sering ditahan disana." Komentar ketus Karin.
"Aa.. Itu.." Sakura bingung harus berkata apa.
"Kenapa? Apa yang dia katakanya benar?" tanya Sasuke santai.
"Tidak." Ucap Sakura cepat.
"Lalu?" tanya Sasuke lagi.
"Aku mengenalnya kebetulan saat.." Sakura yang bingung harus berkata apa terselamatkan suara pintu kelas yang terbuka.
"Baiklah.. Berhenti bercanda dan ayo kita mulai kelas." Ucap Kakashi yang memasuki kelas itu menyelamatkan Sakura.
-jam istirahat, atap sekolah-
"You're no longer here. Tonight Tonight.. I can't tell anyone yet.. No matter how much I want to give up, there's no way I could give up! 'I want to see you' are the only words that come out of my mouth.. Sweet talk is useless at this point.. It's already dawn I'm glad I got to spend today with you.. But at this rate, I'm sure nothing will change."
Langkah kaki Gaara terhenti saat mendengar suara merdu seorang gadis yang tengah bernanyi dengan santai diatap sekolah itu. Gadis itu dengan santai duduk bersandar di dinding pojok dekat pintu sambil menggoyang-goyangkan kakinya, menikmati bentonya.
"Aku tidak tau kau pandai bernyanyi." Ucap Gaara mengagetkan Sakura. Tetapi ia lebih kaget melihat kondisi gadis itu yang menjadi lebih kurus dari terakhir ia berpapasan dengannya.
"Aa.. Senpai.. Terimakasih atas bantuannya beberapa hari yang lalu." Ucap Sakura tersenyum.
"Tidak masalah." Jawab Gaara tersenyum tipis.
"Aa. Apakah aku mengganggu senpai? Aku akan segera pergi." Ucap Sakura buru-buru merapikan kotak bentonya.
"Santai saja." Ucap Gaara menghentikan Sakura.
"Benarkah?" tanya Sakura memastikan.
"Ya.. Aku tidak terganggu. Jadi santai saja." Ucap Gaara lagi.
"Arigatou." Ucap Sakura tersenyum.
"Santai saja."
"Ah.. Senpai.. Ini.. Terimakasih." Ucap Sakura memberikan tas kecil itu pada Gaara.
"Aa.. Bukan masalah." Ucap Gaara menerima tas kecil berisi handuk kecil, seragam dan hand bandnya yang ia pinjamkan saat pertama kali bertemu dengan Sakura diatap.
"Hehe.. Maaf aku terlambat mengembalikannya." Ucap Sakura canggung.
"Tidak masalah." Ucap Gaara lagi.
"Nee.. Senpai.." ucap Sakura memecah keheningan.
"Ya?" tanya Gaara.
"Kenapa senpai diatap? Bukankah tidak ada satupun yang boleh berada disini? Lalu sepertinya senpai membuat spot ini terlalu nyaman." tanya Sakura lagi.
"Kalau kau tau tidak boleh berada disini kenapa datang kesini?" tanya Gaara lagi.
"Hmm.. Karena pintunya tidak terkunci." Jawab Sakura polos.
"Bagaimana kalau ada sensei yang melihatmu?" tanya Gaara lagi.
"Aa.. Itu.. Aku akan bilang aku tersesat dan tidak tau tentang peraturan dilarang keatap." Ucap Sakura cepat.
"Hah.. Bukankah aturan itu ada dibuku peraturan yang kau terima sebelum masuk kesekolah ini?" Gaara hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar alasan Sakura.
"Senpai sendiri?" tanya Sakura.
"Aku bisa beralasan menangkap anak-anak sepertimu yang mencuri-curi kesempatan keatap." Ucap Gaara santai.
"Menangkap? Bukankah itu tugas OSIS?' ucap Sakura bingung.
"Benar." Ucap Gaara santai.
"Aa.. Aa.. Maafkan aku senpai." Ucap Sakura menyadari ada ban lengan bertuliskan OSIS dilengan atas seragam Gaara.
"Santai saja. Ini.. simpanlah." Ucap Gaara menyerahkan sebuah kunci.
"Kunci apa ini senpai?" tanya Sakura bingung.
"Kunci atap, gunakan saat kau mau kesini. Ingat selalu kunci setiap kau kesini atau pergi dari sini." Nasehat Gaara, duduk disamping Sakura.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Sakura kaget.
"Ini rahasia." Ucap Gaara tersenyum tipis.
"Arigatou senpai." Ucap Sakura senang.
"Lalu.. Apa kau bisa menyanyikan lagu tadi?" tanya Gaara membuat kaget Sakura melihat pria itu mengeluarkan gitar dari tas yang ia bawa.
"Ya?" ucap Sakura kaget.
"Lagunya bagus." Komentar Gaara.
"Tapi.."
"Aku akan memaafkanmu untuk seragam yang melanggar kode etik itu." Ucap Gaara melirik seragam yang Sakura gunakan hari itu. Hari itu lagi-lagi Sakura memakai seragam sekolah lamanya. Sakura yang memang dasarnya cerdik terkadang memakai cardigan saat guru kiler mengajar dikelasnya sehinggaa ia tidak mendapat hukuman karena melanggar kode etik seragam mengingat cardigan itu merupakan seragam sekolah yang memang digunakan saat musim semi.
"Baiklah." Ucap Sakura mulai bernyanyi lagi.
"Akh! Senpai! Benar dugaanku, kau lagi-lagi bersantai-santai disini!" ucap seorang wanita berambut kuning diikat satu itu.
"Ino.. Kau ini berisik sekali." Ucap Gaara malas.
"Ya ya. Aku berisik. Lalu Sakura-chan apa yang kau lakukan disini? Ini area terlarangkan?" ucap wanita bernama Ino itu.
"Aa.. go.. Gomenasai." Ucap Sakura menyadari ban lengan OSIS yang sama dengan Gaara berada dilengan kiri Ino.
"Berhenti menakut-nakutinya, Ino. Kau disini juga untuk bermalas-malasankan." Ucap Gaara santai.
"Aa.. Apa semudah itu terbaca?" tanya Ino santai.
"Semudah itu." Jawab Gaara.
"Hahaha.. Apa aku membuatmu takut Sakura-chan?" tanya Ino ringan.
"Aa.. Un." Angguk Sakura cepat.
"Ahahahah.. Santai saja.. Ahh.. Aku Yamanaka Ino. Salam kenal." Ucap Ino mengulurkan tangannya.
"Ha.. Haruno Sakura." Ucap Sakura menjabat tangan Ino.
"Aa. Kau ini imut sekali.. Oh ya.. Apakah anak-anak itu masih menganggumu?" tanya Ino lagi.
"Ti.. Tidak." Jawab Sakura cepat.
"Wah.. Kau sangat buruk dalam berbohong. Katakan padaku kalau mereka menganggumu lagi. Aku akan menghajar mereka." Ucap Ino mengusap kepala Sakura.
"Baik." Jawab Sakura patuh.
"Hei, tidak boleh melakukan kekerasan dan Sakura jangan sepatuh itu." ucap Gaara geleng-geleng kepala.
"Memangnya kenapa? Yang seperti mereka wajar dapat PELAJARAN TAMBAHAN." ucap Ino mantap.
"Wow.." Sakura hanya bisa kagum melihat Ino yang sepercaya diri itu.
"Jangan menambah pekerjaanku, Ino. Dan lagi kau bisa kena skorsing kalau melakukan itu." Ucap Gaara menggerutu.
"Ino, sebaiknya urungkan niatmu itu." ucap Sakura cepat berubah pikiran.
"Hei, kau ini sebenarnya ada dipihak siapa?" tanya Ino mencubit kedua pipi Sakura.
"Sakura, kembalilah ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi." Saran Gaara pada Sakura yang duduk disampingnya itu, berusaha menyelamatkannya dari Ino.
"Aa.. Baiklah. Terimakasih banyak senpai." Ucap Sakura bangkit dari duduknya.
"Kenapa hanya kami yang diusir. Senpai sendiri bagaimana?" tanya Ino menatap Gaara.
"Aku juga akan turun. Jangan banyak complain Ino." Ucap Gaara lelah.
"Humph! Kenapa kau hanya lembut pada Sakura, senpai?" ucap Ino yang spontan mendapat getokan dikepalanya dari Gaara.
"Tidak ada yang seperti itu. Kau saja yang terlalu brandalan." Ucap Gaara santai.
"Hahaha.." Sakura hanya bisa tertawa melihat keduanya.
"Lihat.. Kau merusaknya senpai." Ucap Ino menatap Sakura yang tertawa lepas.
"Aku? Bukankah kau yang aneh?" ucap Gaara santai.
"Hahaha.. Kalian kompak sekali, seperti duo komedi." Ucap Sakura tertawa.
"Sudah tertawanya Sakura, sebentar lagi bell dan kau bisa terkena masalah kalau masih disini." Ucap Ino melangkah pergi dari sana.
"Baik-baik." Ucap Sakura yang menyusul dibelakang diikuti Gaara.
"Sakura." Ucap Gaara menghentikan langkah Sakura, apalagi pria itu menahan tangan Sakura.
"Ya senpai?" tanya Sakura menatap Gaara, pria itu mendekatinya dan memasangkan sebuah kalung pada Sakura. Membuat kaget Sakura.
"Sakura.. Aku harap itu bisa jadi pengingat.. Lalu.. Ini kau simpan saja." Ucap Gaara menatap kalung berbentuk peniti itu, iapun memberikan hand band-nya pada Sakura.
"Senpai.. Ini pasti sangat mahal." Ucap Sakura kaget.
"Simpan saja. Lalu.. Berjanjilah untuk tidak melakukan itu lagi." Ucap Gaara memasangkan hand band itu pada Sakura, menutupi luka sayatan yang mulai sembuh itu.
"Arigatou senpai." Ucap Sakura tersenyum lembut, berbeda dengan senyumnya yang selama ini. Itu benar-benar senyum yang paling tulus yang pernah Sakura tunjukkan pada orang-orang tertentu.
-didepan kelas Sakura-
"Aa.. ternyata kau anak kelas unggulan." Komentar Gaara yang berjalan disamping Sakura bersama Ino, berhenti di depan pintu kelas Sakura.
"Senpai tidak akan ke kelas?" tanya Sakura bingung dengan Gaara yang mengikutinya.
"Aku ada urusan sebentar keruang guru." Jawab Gaara santai.
"Sampai jumpa nanti Sakura-chan." ucap Ino tersenyum.
"Ya." Jawab Sakura kemudian pamit sebelum memasuki kelasnya.
"Hmm?" langkah kaki Gaara terhenti saat menyadari Sakura yang terdiam didekat bangkunya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Sakura menatap kesekeliling ruangan itu tetapi tidak ada yang menanggapi pertanyaan Sakura.
"Gaara senpai?" panggil Naruto mengagetkan Gaara yang focus melihat Sakura.
"Aa.. Kalian." Ucap Gaara melihat Naruto yang datang bersama Sasuke.
"Ada apa senpai kesini? Apakah mengenai rapat OSIS hari ini?" tanya Sasuke lagi.
"Tidak. Aku.."
"SIAPA YANG MELAKUKANNYA!" teriak Sakura mengagetkan semua orang.
"Apa yang terjadi?" ucap Naruto yang kaget segera menghampiri Sakura yang wajahnya sudah memerah karena amarahnya.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang melakukannya!" teriak Sakura lagi, memegang alat panahnya yang terbelah dua.
"Sakura tenanglah." Ucap Gaara mencoba menenangkan Sakura yang sekarang sudah menangis memegang alat panahnya itu.
"Kenapa kalian diam saja?" ucap Sasuke dingin, menatap seisi kelas.
"Karena kami tidak tau." Jawab salah seorang murid dikelas itu acuh.
"Aku mati-matian mengumpulkan uang untuk membeli ini." Ucap Sakura terisak.
"Kalau kau semiskin itu kau tidak layak punya hobi semahal itu atau bahkan untuk memiliki hobi." Komentar Karin dingin.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu." Ucap Ino yang ikut menenangkan Sakura.
"Sakura.." Gaara mengusap lembut punggung Sakura, berusaha menangangkan hati gadis itu.
"Se.. Senpai.. Ini tidak adil.. Aku.. Aku.." Sakura hanya bisa menahan tangisnya, menatap Gaara sedih.
"Kalian taukan ini tindakan kejahatan. Aku akan mengusut kasus ini. Uchiha-san, kau ketua kelasnya?" tanya Gaara melihat Sasuke.
"Benar senpai." Jawab Sasuke santai.
"Ikut aku. Kita akan check CCTV ruang kelas ini." Ucap Gaara membuat kaget seisi kelas itu.
"Baik senpai." Jawab Sasuke patuh.
"Siapapun pelakunya akan mendapatkan hukuman berat." Ancam Gaara keluar dari ruangan itu bersama Sakura, Ino, Naruto dan Sasuke.
Tidak butuh waktu lama untuk mengenali identitas para pelaku yang merusak panah milik Sakura. Para pelaku mendapat hukuman membersihkan toilet sekolah selama seminggu penuh.
"Arigatou senpai." Ucap Sakura setelah sidang singkat diruang OSIS itu, walau hukuman sudah dijatuhkan tetapi Sakura tetap merasa tidak adil dengan hukuman itu.
"Hei.. Jangan pasang wajah murung seperti itu. Kau terlihat jelek." Komentar Gaara mengusap kepala Sakura.
"Tapi.." Sakura hanya bisa menahan tangisnya, menatap alat panahnya yang terbelah dua itu.
"Hah.. Sebentar lagi ada pertandingan antar sekolah. Apakah sensei penanggung jawab clubmu sudah memberikan solusinya?" tanya Gaara lagi.
"Aku akan memakai Yumi yang disediakan club sampai bisa membeli yang baru." Ucap Sakura pasrah.
"Hah.. Baiklah… Jangan terlalu sedih ok? Aku yakin kau akan segera bisa membeli yang baru." Hibur Gaara.
"Un.. Arigatou senpai." Ucap Sakura berlalu pergi.
"Baru kali ini aku melihat kau segalak itu dalam siding pelanggaran murid." Komentar seorang pria dibelakang Gaara.
"Bukankah itu hal yang wajar?" bela Gaara.
"Yaa.. Tapi kali ini kau sangat menakutkan. Apakah gadis Haruno itu punya posisi special dihatimu?" goda pria itu lagi.
"Tidak ada hal yang seperti itu Shikamaru." Jawab Gaara lagi.
"Tapi.. Kau melakukan kesalahan dengan mengatakan dia bisa segera membeli Yumi yang baru." Komentar Shikamaru.
"Memangnya kenapa?" tanya Gaara lagi.
"Dia itu tidak punya orang tua. Masuk kesini juga karena beasiswa Kyudo-nya. Kalau sampai perlombaan kali ini dia tidak menang, beasiswa itu bisa dicabut. Lalu kau pikir dia akan punya uang dari mana untuk membeli Yumi berbahan karbon yang di custom khusus seperti itu? Yang aku tau juga dia mengambil 3 part time berbeda." Komentar Shikamaru lagi.
"Apa kau memata-matainya?" tanya Gaara cukup kaget dengan info itu.
"Aku hanya membaca berkasnya tadi, lagipula dia cukup terkenal disekolah ini karena cuma dia yang menerima beasiswa penuh sekolah dan dicap sebagai benalu yang memakan uang sumbangan orang tua mereka." Komentar Shikamaru santai.
"Lalu, kau pikir apa yang bisa kita lakukan untuk menghukum lebih geng itu? Ayahnya merupakan penyumbang tetap sekolah ini. Lagipula, Uzumaki Karin itu sangat menjijikkan." Komentar Gaara pergi dari sana.
"Dan kau baru tau itu?" ucap Shikamaru memandang bosan Gaara.
TBC
