-Beberapa hari kemudian-

"Hah.. Gara-gara si idiot Naruto aku jadi pulang terlambat." Gerutu Sasuke yang berjalan pulang setelah selesai ekskul kendo-nya sepulang sekolah. Mereka dimarahi senior setelah Naruto yang terus menganggunya disaat berlatih menyebabkan murkanya para senior mereka karena sebentar lagi ada pertandingan olahraga antar sekolah.

"Hahaha.. Semudah itu?" ucap gerombolan anak-anak dengan seragam yang sama dengan Sasuke keluar dari sebuah gang.

"Apa kau sudah puas sekarang? Kalau dia menganggumu lagi katakan padaku." Ucap pria itu merangkul seorang gadis yang juga tertawa puas itu.

"Un.. Tentu saja." Ucap gadis itu riang.

"Tch.. Dasar hama." Gumam Sasuke mengenali beberapa wajah dalam gerombolan itu.

SRAK

BRUK

Mendengar suara dari gang itu, Sasuke menjadi penasaran dan berjalan mendekat.

"Teme?" panggil seseorang menghentikan langkah kaki Sasuke.

"Apa yang kau lakukan disini Naruto?" tanya Sasuke melihat orang yang memanggilnya itu.

"Hah? Rumahku juga kearah sini." Jawab pria itu.

"Bukankah Hinata mengajakmu makan malam?" ucap Sasuke lagi.

"Aku sedang ingin makan ramen, makanya aku kesini setelah mengantarnya pulang." jawab Naruto.

"Biasanya kau mengajaknya. Ada apa?" tanya Sasuke lagi.

"Katanya dia sedang tidak ingin makan ramen." ucap Naruto santai, mengikuti langkah kaki Sasuke.

"Memangnya siapa yang tidak bosan makan ramen hampir setiap hari." Komentar Sasuke lagi.

"Jangan menghina ramen! Sudahlah.. Ayo makan ramen dulu." Ajak Naruto.

"Tidak.." jawab Sasuke singkat.

"Ayolah, Mikoto baa-chan pasti sudah sangat lelah dan kau masih mau merepotkan kaa-sanmu malam-malam begini?" ucap Naruto ada benarnya.

"Hargh.. Aku telfon kerumah dulu." Ucap Sasuke merogoh sakunya untuk mengabari ibunya dia akan pulang terlambat dan makan diluar bersama Naruto.

-kedai ramen-

"Selamat datang." Sapa pegawai kedai ramen itu.

"Sa.. Sakura-chan?!" ucap Naruto kaget melihat pelayan yang menyapanya itu.

"Aa.. Uzumaki-san.. Meja untuk berapa orang?" tanya Sakura sopan lengkap dengan senyumnya.

"Dua orang." Jawab Naruto lagi.

"Baiklah." Ucap Sakura kemudian menuntun keduanya menuju meja mereka. Setelahnya keduanya langsung memesan ramen mereka.

"Hoo.. Naruto kau datang lagi." Sapa pemilik kedai itu dari arah dapur, memang kedai ramen itu memiliki konsep open kitchen.

"Tentu saja." Jawab Naruto dengan senyumnya.

"Hoo.. Hari ini bersama Sasuke ya." Ucap pemilik kedai itu lagi.

"Paman taukan sangat sulit mengajaknya dan ini menjadi keajaiban aku bisa mengajaknya." Ucap Naruto sambil memamerkan senyumnya.

"Paman, semenjak kapan kau punya pegawai baru?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Aa.. maksudmu Sakura-chan? Dia baru saja mulai bekerja disini 2 minggu. Apa kalian mengenalnya?" tanya pemilik kedai itu lagi.

"Dia teman sekelas kami." Jawab Naruto.

"Silahkan, ramen kalian." Ucap Sakura yang datang membawa nampan berisi 2 mangkok ramen itu.

"Sakura-chan." Sakura yang akan pergi dihentikan oleh Naruto dengan menahan pergelangan tangannya.

"Ya?" tanya Sakura cepat.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Apa maksudmu? Aku baik-baik saja." Jawab Sakura tersenyum berusaha melepaskan lembut pergelangan tangannya dari cengkraman Naruto.

"Kau tidak baik-baik saja." Ucap Naruto mengagetkan Sakura.

"Dobe?" Sasuke hanya bisa melihat sahabatnya itu, ia belum pernah sebelumnya melihat Naruto seserius itu.

"Aku sungguh baik-baik saja." Ucap Sakura meyakinkan dengan senyumnya.

"Hah.. Bukankah kau part time di kombini Sakura-chan? Kenapa sudah berganti?" tanya Naruto mengganti topik.

"Aa.. Aku sudah menyelesaikan shiftku disana." Jawab Sakura santai.

"Kenapa kau harus mengambil jadwal part time sebanyak itu?" tanya Sasuke bingung.

"Aku harus segera membeli Yumi yang baru Naruto dan harganya tidak murah." Jawab Sakura santai.

"Lalu bagaimana dengan latihan club Kyudomu? Bukankah kalian sebentar lagi ada pertandingan?" tanya Naruto lagi.

"Aku akan pakai milik club sementara." jawab Sakura hambar.

"Sakura, ini mungkin tidak banyak. Tapi terimalah." ucap Naruto mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang didalamnya.

"Untuk apa?" tanya Sakura enggan mengambil uang itu.

"Dobe kau.." Sasuke paham apa niat Naruto itu.

"Karin. Aku tau dia sudah keterlaluan. Aku mewakilinya meminta maaf padamu." ucap Naruto memaksa Sakura mengambil uang itu.

"Aku tidak mau menerima ini. Maaf." ucap Sakura tidak suka, meleetakkan amplop berisi uang itu dimeja.

"Sakura.. Pesanan." Ucap pemilik kedai itu memanggil Sakura dari arah dapur, melihat kesempatan itu segera Sakura kabur dari sana.

"Apa yang kau lakukan dobe?" tanya Sasuke curiga.

"Karin sepupuku. Mau tidak mau aku harus menggantikannya bertanggung jawab." Jawab Naruto kemudian focus dengan ramennya.

"Aku tau itu, tapi sudah saatnya sepupumu itu untuk bertanggung jawab sendiri atas kelakuannya. Memangnya mau sampai kapan kau menyelesaikan masalah dengan uang?" ucap Sasuke yang memang bukan kali pertama melihat Naruto membantu menyelesaikan masalah Karin dengan uang.

"Kaukan sudah tau jawabannya." ucap Naruto enggan.

"Uzumaki-san!" panggil Sakura menghentikan langkah kaki Sasuke dan Naruto yang berada didepan kedai ramen yang akan berjalan pulang.

"Aku bilang aku tidak mau menerima ini." ucap Sakura marah, menyerahkan amplop yang dititipkan Naruto kepada pemilik kedai tadi.

"Terima saja. Anggap saja untuk uang tambahan membeli Yumi baru. Pertandinganmukan sebentar lagi, memangnya aku bisa dapat uang membeli Yumi baru dalam waktu singkat dari mana Sakura-chan?" ucap Naruto lagi.

PLAK!

"Aku tidak butuh." ucap Sakura yang kesal mendengar ucapan Naruto tanpa sadar menampar pria itu.

"Apa?" tanya Sasuke bingung ketika gantian mendapat tatapan tajam Sakura.

"Kotak makanmu.. Te.. ugh.." tiba-tiba saja pandangan Sakura mengabur.

"Hei! Kau baik-baik saja?!" tanya Sasuke yang mangkap tubuh Sakura yang akan tumbang.

"Aku baik-baik saja.. Maaf." Ucap Sakura buru-buru menghindar.

"Sakura. Hidungmu.." Sasuke melihat darah yang keluar dari hidung Sakura buru-buru memberikan sapu tangannya.

"Terimakasih." Ucap Sakura walau awalnya ia ragu menggunakan sapu tangan itu.

"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Sasuke lagi.

"Aku baik-baik saja. Uchiha-san aku akan mengembalikan sapu tanganmu besok." Ucap Sakura buru-buru kembali ke dalam kedai.

-apartement Sakura-

"Hah… Aku lelah." Ucap Sakura saat memasuki apartement kecilnya itu, iapun berjalan lemas menuju kamarnya.

"Baru pulang?"

"?!" Sakura yang awalnya sudah menurunkan kewaspadaannya kembali waspada melihat siapa yang berada dikamarnya.

"Apa kau tau tidak baik untuk pulang jam segini?" ucap pria itu.

-kediaman Uchiha-

"Sasuke? Kenapa kau diam saja didepan pintu? Lalu tidak biasanya kau masuk tidak bersuara." Tegur Itachi menyadarkan adiknya yang termenung didepan pintu keluar rumah.

"Nii chan.."

"Sasuke? Hei! Kau terluka?!" ucap Itachi menyadari noda darah diseragam Sasuke.

"Tidak.. Ini bukan darahku.." ucap Sasuke menyadari seragamnya yang terkena noda darah Sakura tadi.

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Itachi panik.

"Tidak apa-apa." Elak Sasuke menyerahkan kotak bento titipan Itachi untuk Sakura pagi tadi dan bergegas pergi kekamarnya.

"Tumben dia tidak menyerang dengan pertanyaan lagi." ucap Itachi menerima kotak bento itu bingung.

-besoknya, sekolah-

"Ohayou.." sapa Naruto bersemangat pagi itu memasuki kelas.

"Ohayou Naruto-kun." Jawab Hinata tersenyum ramah mendekati Naruto.

"Minggir dobe." Ucap Sasuke yang jalannya terhalang.

"Tch.. Kau ini memang.. Sakura-chan?" Pandangan Naruto teralih pada Sakura yang tertidur dimejanya.

"Dia sudah begitu sejak tadi. Biarkan saja. Dia kelihatan sangat lelah tadi." Komentar Tenten yang ditatap Sasuke dan Naruto.

"Apa mungkin dia bekerja paruh waktu terlalu keras lagi?" tanya Naruto iba.

"Hentikan, kau sudah cukup menyinggung perasaannya kemarin. Beruntung dia hanya menamparmu ringan." ucap Sasuke menghentikan Naruto.

"Naruto-kun? Kenapa pipimu agak bengkak?" tanya Hinata menyadari hal tersebut.

"Aku tidak sengaja menabrak pintu kemarin." elak Naruto.

"Kau bohong. Aku dengar Sasuke bilang Sakura menamparmu. Apa yang terjadi?" tanya Hinata lagi.

"Aku tidak apa-apa. Lagipula itu kesalahanku." elak Naruto.

"Hei kau! Berani-beraninya kau melakukan itu!" Ucap Karin menarik rambut Sakura

"Ittai.." gumam Sakura pelan.

"Hentikan, apakah hukuman dari OSIS belum cukup? Lagipula si dobe itu begitu karena berusaha menyelesaikan masalahmu." Ucap Sasuke menatap tajam Karin, berhasil membuat gadis itu menghentikan aksinya.

"Aa.. Apakah aku menghalangimu?" ucap Sakura lemas, menyadari posisi kursinya yang terlalu mundur menghalangi jalan Naruto menuju kursinya mengingat meja mereka berdua berdempetan.

"Sakura-chan?! Apa yang terjadi denganmu?!" ucap Naruto melihat wajah Sakura yang lebam.

"Aku baik-baik saja. Hanya tersandung saat bekerja kemarin." Jawab Sakura dengan wajah pucatnya itu.

"Kau tidak baik-baik saja." Ucap Sasuke marah.

"Aku baik-baik saja." Ucap Sakura menatap Sasuke penuh arti.

"Tch." Sasuke hanya bisa membuang muka mendapat tatapan itu dari Sakura, tatapan yang memintanya untuk diam dan jangan ikut campur.

Jam pelajaran itu berlangsung dan Sakura hanya bisa mengikuti kelas dipagi saja, setelahnya dia kembali tertidur hingga kelas berakhir. Bahkan hingga semua bersiap pulang Sakura masih tidak mau bangun.

"Hei.. Sudah saatnya pulang." Ucap Sasuke yang bersiap pulang membangunkan Sakura.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.

"Sakura." Sasuke mencoba mengguncang pelan tubuh Sakura, tetapi gadis itu tiba-tiba terjatuh dari kursinya.

"Sakura-chan?!" ucap Naruto kaget melihat Sakura yang tiba-tiba terjatuh kelantai, dari hidung Sakurapun mengalir darah.

"E.. Eh?" Sasuke cukup kaget dan belum berhasil memproses semuanya.

"Minggir!" ucap seorang pria berambut merah itu menghampiri Sakura, menggendong gadis itu pergi dari sana.

"I.. Itukan ketua OSIS." Ucap siswa perempuan kaget melihat ketua OSIS mereka masuk dan langsung menggendong Sakura pergi.

"Bahkan dia menggoda ketua OSIS yang dingin itu? Aku penasaran berapa banyak uang yang ia hasilkan." Komentar pedas Karin.

"Hei.. Berhenti berbicara omong kosong atau aku akan merobek mulutmu." Ucap gadis berambut kuning yang kebetulan lewat dan melihat kejadian itu.

"I.. Ino-chan.. Ucapanmu sangat kasar." Ucap Hinata kaget.

"Diamlah perempuan gila." Balas Ino dingin, buru-buru menyusul Gaara.

"Hei. Apa maksud ucapanmu itu?" ucap Sasuke menarik tangan Ino, menghentikan gadis itu yang akan segera pergi menyusul Gaara.

"Hei Uchiha. Aku kira kau pintar. Tapi sampai akhir kau tidak menyadari apa yang dilakukan j*lang gila itu dibelakangmu dan Naruto." Sindir Ino, menghentakkan tangannya agak bisa terlepas dari Sasuke.

"Tarik ucapanmu." Ucap Naruto ikut marah mendengar penghinaan terhadap Hinata itu.

"Lebih baik aku mati dari pada menarik ucapanku yang benar itu." Ucap Ino melangkah pergi dari sana.

Anggota kepolisianpun datang ke sekolah untuk membawa Sakura yang ternyata dalam keadaan kritis. Hal itu cukup mengguncang sekolah mengingat Sakura adalah murid terpintar yang menerima beasiswa penuh dari sekolah serta beberapa kali mendapat banpak dari pemerintah karena prestasinya diajang Nasional dan Internasional. Hal itu juga membuat bingung dan gossip baru, karena ambulance yang dipanggil dikawal ketat pihak kepolisian. Kamar rawat Sakura di rumah sakitpun dijaga ketat.

"Siapa yang melakukannya!" teriak Sasori frustasi didepan ruang operasi itu, menunggu Sakura keluar.

"Nii-chan.."

"Sasuke?! Kenapa kau disini?" tanya Itachi kaget melihat adiknya itu.

"Dia.. Bagaimana kondisinya?" tanya Sasuke cepat.

"Dia masih harus menjalani operasi. Tulang rusuknya yang patah menekan organ dalamnya." Terang Itachi.

"Ini salahku. Seharusnya aku mengatakannya padamu." Ucap Sasuke menyesal.

"Apa maksudmu?" tanya Itachi bingung.

"Kemarin saat aku pulang dengan seragam bernoda darah.. Itu darah Sakura. Aku sudah curiga ada yang tidak beres tapi aku malah memilih diam." Terang Sasuke menyesal.

"ARGH!" mendengar itu Sasori naik pitam, meninju dinding didisana dan hal itu cukup mengagetkan Sasuke yang mengenal Sasori sebagai orang yang selalu berpikir tenang.

"Sasuke.. Kedapannya jika hal seperti ini terjadi lagi tolong katakan padaku." Pinta Itachi membuat bingung Sasuke. Kenapa Itachi seputus asa itu melindungi gadis pink itu.

"Do-Dokter.. bagaimana?" tanya Temari melihat dokter yang keluar dari ruang operasi itu.

"Operasinya berjalan lancar dan sebentar lagi dia akan dipindah kekamarnya. Ah.. Apa aku bisa bicara dengan kalian diruanganku?" tanya dokter itu.

"Tentu Tsunade-sensei." Ucap ketiganya patuh mengikuti Tsunade keruangannya.

"Sasuke, tunggulan diruang rawat Sakura ok?" ucap Sasuke menepuk pundak Sasuke yang hanya bisa mengangguk patuh.

"Apa yang sebenarnya kau tutupi Sakura." Ucap Sasuke manatap wajah terlelap Sakura diruang rawatnya itu. Sasuke bisa melihat beberapa luka lecet ditangan Sakura.

"Sasuke, pulanglah.." saran Itachi melihat adiknya itu keluar dari ruang rawat Sakura.

"Bagaimana denganmu?" tanya Sasuke lagi.

"Aku masih harus berada disini sampai tim penjaga datang." Ucap Itachi.

"Nii-chan.. Sebenarnya apa hubungan kalian berdua? Kenapa kalian bertiga sangat menjaganya terlebih Sasori nii." Tanya Sasuke bingung.

"Sasuke.. Kita bahas itu lain kali ya, tapi aku mohon padamu untuk tidak menceritakan posisi Sakura saat ini pada siapapun. Berjanjilah padaku." Ucap Itachi serius.

"Baiklah." Ucap Sasuke patuh.

"SASUKE! ITACHI! Aa.. Kami-sama.."

"Kaa-san?!" ucap keduanya kaget melihat Mikoto memeluk keduanya erat.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Mikoto panik.

"Kami baik-baik saja kaa-san." Ucap Itachi menenangkan.

"Apa yang terjadi?" tanya Fugaku pada anaknya itu, meminta penjelasan.

"Haruno.. Sakura." Ucap Itachi singkat langsung membuat Fugaku paham.

"Kami-sama.. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Mikoto cemas.

"Dia baik-baik saja kaa-san.. Tidak perlu cemas." Ucap Itachi menenangkan. Hal ini semakin membuat Sasuke bingung, bagaimana bisa keluarganya mencemaskan gadis asing itu.

"Mikoto.. Bawalah Sasuke pulang. Aku akan disini sebentar." Ucap Fugaku yang langsung dipatuhi Mikoto dan Sasuke.

"Hargh.." Itachi merasa kepalanya pusing.

"Apa yang terjadi?" tanya Fugaku setelah memastikan istri dan anaknya pergi dari sana.

"Tou-san.. Sepertinya bajingan itu kembali. Dokter menemukan beberapa bekas jarum baru dilengannya lalu juga ada beberapa racun dan obat-obat terlarang ditemukan didarahnya." Terang Itachi miris.

"Kalau begitu.. Kali ini jangan sampai lolos lagi." Ucap Fugaku tegas.

"Kami tau." Ucap Itachi menatap kedua rekannya yang berada tidak jauh dari mereka.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Fugaku menatap Sasori yang terlihat sangat hancur.

"Tidak terlalu bagus. Dia merasa gagal menjaganya padahal dia sudah berjanji pada Sakura untuk melindungi dan memastikan tidak akan ada hal menakutkan yang akan terjadi lagi padanya." Terang Itachi menatap Sasori yang memasuki ruang rawat Sakura. Sasori terus berada disamping gadis itu, menganggam erat tangannya untuk menguatkan Sakura.

"Senpai.. Kami sudah menemukan CCTV didekat sana." Ucap Temari menghampri Itachi.

"Baiklah. Besok pagi kita akan kesekolah dan membawa mereka semua." Ucap Itachi dingin.

TBC