-10 tahun kemudian-
"Hah.." Seorang gadis yang baru saja turun dari pesawat itu menghela nafasnya berat. Seakan ia enggan kembali ke negara asalnya itu.
"Kenapa kau menghela nafas begitu?" tanya wanita yang datang menjemput gadis itu.
"Aku tidak menyangka pendidikan di Inggris akan selesai secepat ini senpai." Ucap gadis itu membuat kaget wanita disampingnya.
"Apa kau gila Sakura? Aku sudah lebih dulu mencoba pendidikan itu. Yang aku ingat hanya merasa akan segera mati saat itu, akhirnya akupun gugur dan dipulangkan. Tahun ini hanya kau yang bisa bertahan sampai akhir dan terpilih sebagai peserta didik terbaik pada kelulusan di sekolah itu." Ucap wanita itu.
"Aku melakukannya sewajarnya, Conan-senpai." Ucap Sakura santai.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah penyematan jabatan dan pembacaan tugas nanti?" tanya Conan.
"Aku? Hmm.. Aku harus mencari tahu orang seperti apa orang yang akan menjadi bosku kan?" ucap Sakura santai.
"Baiklah, sebelum itu ayo kita makan dulu." ajak Conan menatap jam tangannya.
"Tapi aku harus melapor dulu." ucap Sakura enggan.
"Kau bisa melapor besok. Kenapa harus buru-buru begitu. Kalau sampai Pein memanggilmu aku akan bertanggung jawab." ucap Conan yakin.
"Aku tau kalian punya hubungan khusus tetapi tidak seharusnya senpai menganggapnya enteng begitu." nasehat Sakura.
"Hahahaha.. Memangnya dia bisa apa jika tunangannya sudah memutuskan sesuatu?" ucap Conan bangga.
"Aku menyerah." ucap Sakura hanya bisa pasrah dibawa makan oleh calon istri jendralnya itu.
-besoknya-
"Apakah hari ini kau ada kegiatan diluar kota?" tanya pria paruh baya itu sambil menikmati sarapan pagi bersama keluarganya itu.
"Tidak tou-san. Hari ini aku hanya ada beberapa kegiatan saja." Ucap pria itu menatap pria paruh baya yang dipanggil tou-san itu.
"Kaa-san dengar akhirnya hari ini ada ajudan baru yang ditugaskan bersamamu. Bersikap baiklah padanya Gaara. Lalu.. Berhati-hatilah, hari ini kau akan pulang ke Tokyo kan?" Ucap wanita itu.
"Aku tau kaa-san. Benar kaa-san, setelah urusan disini selesai aku akan kembali ke Tokyo." Ucap Gaara patuh.
"Pak.. Sudah saatnya berangkat." Ucap ajudan Gaara yang menghampirinya.
"Baiklah.. Mohon kerja samanya juga hari ini Sasuke." Ucap Gaara menatap ajudannya itu.
Gaara yang telah menyelesaikan kegiatannya di Prefektur Saitama, akhirnya berangkat kembali ke Tokyo, begitu sampai Gaara langsung menuju pangkalan Angkatan udara.
"Bukankah anak baru itu harusnya mulai bekerja sama hari ini Sasuke?" tanya pria berambut putih itu.
"Aku tidak tau. Lagipula kami dari instansi yang berbeda." Ucap Sasuke dingin, sibuk dengan earpiece-nya.
"Sasuke benar. Kenapa kau malah menanyakannya padanya Suigetsu." Ucap peria berbadan paling besar diantara ajudan yang lain.
"Hanya tebakan saja Juugo." Ucap Suigetsu enggan.
"Kalian tidak perlu menebak. Sebentar lagi kalian akan bertemu dengannya." Ucap Gaara mendengar pembicaraan kecil para ajudannya itu.
"Kalau seperti inikan harusnya Sasuke tau. Bukankah mereka sama-sama prajurit." Ucap Suigetsu marah.
"Sasuke dari Angkatan darat dan ajudan baru ini Angkatan udara. Mereka jelas dari instasi berbeda walau sama-sama tentara." ucap Juugo menggetok kepala Suigetsu.
"Aku dengar dia baru pulang dari Inggris kemarin untuk pendidikan. Dia juga belum lama ini lulus dari sekolah tentara di amerika dengan persentase yang bisa lulus dari sana hanya 20-25%. Bahkan dia menjadi lulusan terbaik pada tahun itu dengan beberapa penghargaan." Ucap pria dengan model rambut mangkok itu.
"Kau terlalu melebihkan Lee." Ucap Suigetsu tidak percaya.
"Kita sudah sampai." Ucap Sasuke menghentikan pembicaraan itu. Disana Gaara melihat pesawat tempur yang baru saja dipesan datang dan dilakukan uji terbang untuk pesawat itu.
"Aku harap kau bisa membantu prajurit lain untuk lebih cepat memahami cara kerja pesawat itu." Ucap Gaara menatap pilot yang tadi menerbangkan pesawat tempur itu mendekatinya, melepaskan helmnya.
"Saya yakin mereka akan cepat paham pak." Ucap pilot itu.
"Apa aku tidak salah lihat?" ucap Suigetsu saat menyadari yang menerbangkan pesawat tempur itu adalah seorang wanita.
"Mohon kerja samanya, Sakura." Ucap Gaara menjabat tangan gadis bersurai pink itu.
"Sakura.." Sasuke juga tertegun melihat gadis yang terakhir dia lihat meninggalkan sekolah saat kelulusan SMA itu.
"Saya akan segera menyusul setelah berganti baju." Ucap Sakura undur diri.
Sejak saat itu Sakura mulai mengikuti Gaara kemanapun dan tidak jarang harus menginap di kediaman Gaara jika kegiatan mereka terlalu padat. Gaara yang menjabat sebagai menteri pertahanan itu memang tergolong cukup muda untuk bisa menjabat posisi itu tetapi kemampuannya tidak dapat diragukan. Hari inipun beberapa ajudan Gaara terpaksa menginap dikediaman Gaara setelah mereka kembali dari Osaka. Selain itu juga hari ini Gaara mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut ajudan barunya itu.
"Kau lelah?" ucap pria berambut merah itu mengagetkan wanita bersurai pink itu yang tengah melamun didekat kolam renang, memaikan kalungnya.
"Saya hanya mencari udara segar." Jawab gadis itu cepat.
"Santai saja Sakura. Bagaimana kabarmu? Kita belum sempat berbincang banyak setelah pertemuan di pangkalan." tanya Gaara menatap Sakura.
"Seperti yang anda lihat.. Saya baik-baik saja." Ucap Sakura sopan.
"Hentikan Sakura. Jika sedang tidak bertugas jangan sekaku itu. Santai saja." Ucap Gaara meminta.
"Saya tidak bisa." tolak Sakura dingin.
"Sakura.. Apakah kau masih marah padaku karena kejadian itu?" tanya Gaara menatap Sakura.
"Tidak. Bukankah anda yang seharusnya marah pada saya?" ucap Sakura enggan.
"Bukankah aku sudah memintamu melupakannya dulu saat kita bertemu di apartementmu? Sebelum kau menghilang begitu saja." ucap Gaara mengingat kejadian yang terasa seperti baru kemarin itu.
"Baiklah.. Jadi aku harus panggil apa?" tanya Sakura yang enggan berdebat itu tiba-tiba membuat Gaara tertawa lepas.
"Hahaha.. Bagaimana kalau seperti dulu saja?" tawar Gaara.
"Senpai?" tanya Sakura polos.
"Hei.. Kita sudah tidak disekolah." Ucap Gaara protes.
"Gaara-san?" tanya Sakura lagi.
"Begitu lebih baik. Saki" Ucap Gaara tersenyum.
"Jangan panggil saya dengan nama itu." tolak Sakura yang tidak suka dipanggil dengan nama kecil itu.
"Kenapa?" tanya Gaara bingung.
"Hanya satu orang yang boleh memanggil saya dengan nama itu. Jadi saya harap kedepannya anda memanggil saya dengan Sakura saja." ucap Sakura tegas.
"Baiklah.. Aku akan mengingat itu Sakura. Aku baru tau kalau tentara yang melakukan pendidikan diluar negri mendapatkan dog tag dari negara itu juga." Ucap Gaara menatap dog tag yang juga melingkar dileher Sakura itu, mengalihkan topik pembicaraan karena merasa canggung.
"Aa.. Ini hanya kenang-kenangan." Ucap Sakura menatap dog tag-nya itu.
"Kenang-kenangan?" tanya Gaara bingung.
"Yaa.. Ada satu tentara yang aku kenal dan kebetulan bertemu lagi di Inggris kemarin." Ucap Sakura tersenyum mengingat orang itu.
"Aku rasa dia punya tempat special." Ucap Gaara memperhatikan nama di dog tag itu dan juga senyum Sakura yang berbeda dengan senyumnya yang biasa.
"Kurang lebih seperti itu." Ucap Sakura lagi.
"Jadi Sakura.. Apakah kau masih suka bernyanyi?" tanya Gaara tiba-tiba.
"Tidak juga." Jawab Sakura menunduk.
"Hei.. Kau ingat lagu yang kau nyanyikan saat diatap sekolah dulu? Apa kau masih mengingatnya?" tanya Gaara.
"Aa.. Ya.." ucap Sakura canggung.
"Ayo." Ucap Gaara menarik tangan Sakura memasuki ruang tamunya yang dipenuhi ajudannya itu.
"Ga.. Gaara-san." Sakura kaget karena tiba-tiba Gaara menariknya duduk disebuah kursi dan menyerahkan sebuah mic pada Sakura.
"Perhatian semuanya.. Untuk menyambut ajudan baru hari ini. Sakura akan menyanyikan sebuah lagu." Ucap Gaara membuat panik Sakura.
"Tu.. pak.." Sakura cukup kaget tetapi Gaara hanya memberinya sebuah senyum dan mulai memetik gitarnya, seketika keduanya menjadi pusat perhatian. Sakura yang tidak punya pilihan lain akhirnya mulai bernyanyi. Sasuke yang duduk tidak jauh dari Sakura itu awalnya acuh dan tidak peduli, tetapi akhirnya perhatiannya terpusat pada Sakura yang bernyanyi itu.
"Suaramu masih sebagus yang aku ingat." Puji Gaara ketika penampilan Sakura telah selesai.
"Terima kasih pak." Ucap Sakura malu-malu.
"Sakura-chan.. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja? Kenapa kau malah menjadi tentara?" komentar seorang ajudan Gaara yang sangat penasaran mengapa gadis itu memilih menjadi tentara, pekerjaan yang tidak diminati kaum wanita itu.
"Aa.. Dulu.. Aku memiliki seorang teman yang sudah aku anggap seperti nii-chanku sendiri. Dia merupakan seorang polisi bagian criminal. Aku sangat kagum padanya dan dia juga yang mengarahkanku untuk mengambil bidang ini. Jadi aku tertarik dibidang ini." Ucap Sakura tersenyum mengingat kenangan manis itu.
-flashback-
"Saki.." Panggil pria berambut merah itu, membuyarkan lamunan Sakura.
"Ada apa Sasori nii?" tanya Sakura menatap pria itu.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Sasori lagi.
"Ah, kemarin aku dipanggil keruang guru karena belum menyerahkan form rencana masa depanku." jawab Sakura.
"Apa kau tidak punya rencana apa-apa?" tanya Sasori bingung.
"Entahlah. Aku tidak bisa memikirkannya." jawab Sakura enggan.
"Bagaimana dengan Kyudo-mu? Apa kau tidak berencana menjadi atlet professional?" tanya Sasori lagi.
"Aku hanya melakukan itu untuk menghilangkan rasa jenuh." jawab Sakura mengaduk gelas kopi dihadapannya.
"Kau pasti pernah membayangkan sesuatu yang ingin kau lakukan dimasa depankan?" ucap Sasori lagi.
"Nee.. Bagaimana kalau aku jadi polisi saja seperti nii-chan?" ucap Sakura tiba-tiba.
"Polisi? Tidak. Kau tidak boleh jadi polisi." tolak Sasori cepat.
"Heee.. Kenapa?" tanya Sakura bingung.
"Terlalu berbahaya. Pikirkan hal lain. Bagaimana kalau dokter? Kau sangat pintar dan gurumu juga berharap kau mengambil profesi itukan." tawar Sasori lagi.
"Aku tidak mau, lagipula aku tidak punya uang sebanyak itu. Pendidikan dokter tidak murah." jawab Sakura santai.
"Hargh.. Kenapa polisi Sakura?" tanya Sasori mencoba mencari tau alasannya.
"Karena aku ingin menjadi seperti nii-chan. Menolong orang-orang, selain itu juga tidak dipungut biaya apapun." jawab Sakura polos.
"Lupakan soal biaya, bukankah dokter juga menolong banyak orang?" ucap Sasori lagi.
"Kalau menjadi dokter aku hanya bisa menunggu saja, aku tidak bisa mencegahnya." ucap Sakura.
"Hei, itu penghinaan terhadap profesi dokter. Dokterkan juga bisa melakukan penelitian yang berguna untuk banyak orang." ucap Sasori menjentik kening Sakura.
"Aku tidak ingin ada yang sepertiku lagi nii-chan." ucap Sakura sambil memegang keningnya yang terasa perih.
"Nee.. Sakura, daripada menjadi polisi.. Bagaimana kalau kau menjadi tentara Angkatan udara saja?" ucap Sasori tiba-tiba.
"Kenapa tentara?" tanya Sakura bingung.
"Aku tidak ingin nantinya kau menjadi atasanku dikantor polisi dengan otak cemerlangmu itu aku yakin kau bisa menjadi atasanku dalam waktu singkat dan aku tidak mau itu. Lagipula menjadi pilot wanita yang menerbangkan pesawat tempur sangat keren." ucap Sasori.
"Hmm.. Nii-chan berbohong." ucap Sakura curiga.
"Aku tidak berbohong Sakura. Aku ingin kau mengejar dan mencapai suatu cita-cita yang lebih baik dariku. Lagipula, serahkan hal-hal seperti ini padaku. Aku tidak ingin kau mengambil jalan itu karena terikat masa lalumu. Kau punya potensi lebih, percayalah padaku." ucap Sasori lagi.
"Hah.. Tapi aku tidak tau apa-apa untuk menjadi tentara, lagipula bukankah persiapanku sudah sangat terlambat?" ucap Sakura lagi.
"Kalau soal itu, serahkan padaku. Tapi Sakura, ini hanya saranku saja. Kau bisa memilih jalan lain dan tidak perlu memikirkan biayanya. Akukan sudah bilang akan mengurus masalah itu, sedangkan kau focus saja belajar." ucap Sasori tersenyum.
"Aku tidak mau masuk dengan cara kotor seperti itu. Lalu nii-chan tidak punya kewajiban mengurus biaya hidupku. Aku tidak mau merepotkan lebih banyak lagi. Selain itu pikirkanlah perasaan Shizune-nee." ucap Sakura mengeluarkan form rencana masa depan itu dari dalam tasnya dan mengisinya.
"Memangnya aku akan membiarkanmu masuk dengan cara kotor? Aku hanya akan mengenalkanmu kepada orang yang bisa melatihmu secara fisik, psikologis, mental, dan akademis untuk persiapan tesnya. Kalau kau gagal ditesnya kau harus mempunya cadangan cita-cita Sakura." ucap Sasori mengacak rambut Sakura.
"Kalau aku gagal, aku akan bekerja part time saja seumur hidup." jawab Sakura santai, mengisi form itu dengan dokter sebagai pilihan keduanya.
"Hei, cita-cita macam apa itu! Pikirkan profesi lain!" ucap Sasori marah.
"K-kyudo, Aku akan serius dengan kyudo-ku." jawab Sakura cepat.
"Itu sudah akan sangat terlambat mengingata kau saja sudah malas-malasan sekaraang." ucap Sasori dingin.
"Ugh.. Bisnis, aku akan kuliah bisnis dan mengambil sertifikasi serta magang." jawab Sakura yang sudah tidak tahan ditatap tajam Sasori.
"Hah.. Aku akan menantikan masa dimana kau menjadi pilot pesawat tempur wanita saja." ucap Sasori mengusap kepala Sakura.
"Kan belum tentu aku lulus." jawab Sakura pesimis.
"Aku yakin kau bisa! 'Maaf Sakura, aku tidak ingin kau menjadi polisi dan terlibat dengan lingkungan berbahaya ini. Disini kau tidak bisa membedakan siapa teman dan lawanmu. Aku ingin kau hidup lebih terjamin.' Jangan pesimis begitu." Ucap Sasori menasehati.
-end flashback-
"Kenapa tidak bergabung dikepolisian saja kalau begitu?" ucap ajudan lainnya.
"Aku sudah mencurahkan seluruh fokusku kesini, jadi kenapa harus repot-repot memikirkan hal lain. Kalaupun gagal aku akan banting stir menjadi dokter." Ucap Sakura membuat semua orang tidak puas dengan jawabannya itu.
"Sasuke sendiri bagaimana? Bukankah kau bisa dengan gampang masuk kepolisian? Kenapa banting stir" tanya ajudan itu menatap Sasuke yang menikmati jus ditangannya.
"Karena menghindari ucapan yang seperti itu." Ucap Sasuke santai.
"Hei kenapa suasananya jadi canggung begini." Ucap pria itu.
"Bukankah kau yang membuatnya menjadi canggung Lee?" komentar ajudan lainnya.
"Ba-Bagaimana dengan bapak sendiri? Bukankah dulunya anda adalah pemain baseball handal? Kenapa tiba-tiba malah terjun kedunia politik?" tanya Lee mengganti pembicaraan.
"Hmm.. Aku hanya ingin saja." Ucap Gaara santai.
"Bukankah karena cedera terakhir anda?" tanya Lee lagi.
"Benar juga. Disaat itu anda sedang naik daun dan akan dikontrak team luar negeri." Ucap pria berbadan besar itu.
"Banyak factor lain Juugo-san. Lagipula dari awal ayahku melarangku menjadikan baseball sebagai tujuan utama jadi aku hanya mengikutinya saja." Ucap Gaara santai.
"Sakura-chan? Kau baik-baik saja?" tanya Lee melihat Sakura yang tiba-tiba berdiri.
"Aku mau mengambil jus lagi." Ucap Sakura yang menunjukkan gelasnya yang sudah kosong. Iapun berlalu pergi untuk mengambil jus di meja makan.
"Baru sekarang kau merasa bersalah?" tanya pria berambut raven yang berdiri dibelakang Sakura.
"Hentikan. Kau tidak tau apapun." Ucap Sakura dingin.
"Apa kau bercanda? Bahkan aku sudah membaca semua berkas kasus yang melibatkanmu. Bukankah aneh hampir semuanya terkait denganmu? Lalu aku tidak tau bagaimana caramu bisa membuat kasus-kasus itu tidak terikat padamu. Kau selalu berakhir sebagai saksi kunci saja." ucap Sasuke meremehkan.
"Bicaralah denganku lagi setelah kau membaca berkas yang disimpan diruang paling dalam kantor kepolisian atau minimal mencari tau dari 2 generasi Uchiha diatasmu yang sudah lebih lama menjadi polisi." Ucap Sakura berlalu pergi.
"Apa-apaan dia.. Kantor paling dalam kepolisian?" gumam Sasuke pada dirinya sendiri. Memperhatikan Sakura yang duduk didepan piano.
"Kau bisa memaikan piano Sakura-chan?" tanya Lee melihat Sakura yang dengan iseng menekan tuts piano itu.
"Aa.. Sedikit." Ucap Sakura canggung.
"Apa kau bercanda?" ucap Gaara menatap Sakura.
"Pak.." Sakura hanya memberi kode gelengan kecil.
"Mainkanlah sebuah lagu Sakura." Ucap Gaara yang dengan sengaja mengacuhkan kode kecil Sakura.
"Baiklah." Sakura akhirnya pasrah dan mulai menekan tuts piano itu, memainkan sebuah lagu. Itulah rencana awalnya hingga akhirnya Sakura malah banyak memainkan lagu untuk mengiringi teman-temannya bernyanyi.
"Sakura.." Gaara menatap Sakura yang baru saja selesai memainkan lagu lainnya, Sakura yang paham segera bangkit dari duduknya dan menyusul Gaara keluar.
TBC
