"Maafkan keterlambatan saya pak." ucap Gaara saat memasuki ruang makan di istana negara itu.

"Apakah terjadi sesuatu? Aku tidak pernah melihatmu hampir terlambat sebelumnya." tanya pria berambut kuning itu.

"Saya menghadiri acara reuni sekolah dan terjadi sedikit kecelakaan disana." terang Gaara.

"Kecelakaan?" tanya pria itu lagi.

"Salah satu ajudan saya terluka saat melindungi saya dari seorang wanita yang mencoba menyerang saya sehingga tangannya terluka akibat pecahan gelas wine." terang Gaara sopan.

"Bukankah anda tamatan KHS? Bagaimana mungkin disekolah itu ada anak sebar-bar itu." ucap pria berambut coklat itu.

"Anda benar tuan Hyuuga.. Saya juga kaget saat itu. Apalagi yang melakukan penyerangan adalah seorang wanita." ucap Gaara tersenyum.

"Wanita?" ucap pria berambut kuning itu bingung bagaimana ada seorang wanita yang bertindak gegabah.

"Saya rasa anda perlu memperingatkan putri anda untuk tidak berbuat gegabah seperti itu lagi tuan Hyuuga. Beruntung ajudan saya tidak melakukan protocol yang lebih keras kepada putri anda. Jika saja saat itu dia menjalankan protocol pengamanan yang sesungguhnya saya tidak tau apa yang akan terjadi pada putri anda. Tetapi saya cukup salut dengan tunangan nona Hyuuga yang terus membela nona Hyuuga walau dia ternyata cukup ringan tangan." ucap Gaara menatap serius pria bermarga Hyuuga itu.

"Tu.. tunangan Hinata-chan.." ucap wanita berambut merah yang merupakan istri dari presiden itu kaget.

"Maafkan saya pak." ucap Gaara cepat kepada presiden dan istrinya itu yang terlihat sangat kaget.

"Gaara-san, saya harap anda bisa mempertanggung jawabkan kebenaran ucapan itu apalagi kau juga menuduh putri Hyuuga-san." ucap sang presiden menyadari Gaara tengah menyindir putranya

"Tentu saja." ucap Gaara mantap.

"Bagaimana bisa kau mencoreng nama baik putriku semudah itu!" teriak Hiashi naik pitam.

"Tenangkan dirimu Hiashi-san." ucap pak presiden menenangkan.

"Bagaimana bisa aku tenang Minato-san? Bagaimana jika dia sudah menyebarkan berita jelek tentang putriku diluar sana!" teriak Hiashi.

"Kebenaran tetap akan terungkap dan jika benar Gaara hanya mengarang cerita, aku akan memberikan peringatan padanya." ucap Minato tegas.

Walau awalnya suasana menjadi canggung tetapi acara makan malam itu berlangsung dengan lancar, saat keluar dari ruang makan itu Gaara kaget melihat ajudannya yang bersurai pink itu sudah menunggunya bersama Sasuke yang terlihat lelah sepertinya keduanya berdebat cukup alot sebelumnya.

"Baiklah, sampai jumpa dilain kesempatan Gaara." ucap Minato menyalami tangan Gaara sedangkan Hiashi acuh terhadap Gaara.

"Tentu saja pak." ucap Gaara menyalami tangan Minato itu sebelum akhirnya undur diri.

"Ada apa pak?" tanya Sakura ketika membukakan pintu mobil untuk Gaara itu, menyadari Gaara yang enggan bergerak dari posisinya saat sudah berada didepan rumah Gaara.

"Sasuke, turunlah. Ada yang harus aku bicarakan berdua dengan Sakura sebentar." perintah Gaara dingin.

"Kenapa tidak didalam saja pak?" tanya Sasuke bingung.

"Apa aku harus mengulangi ucapanku?" tanya Gaara tajam, spontan Sasuke segera turun. Melihat itu, segera Sakura naik kembali kemobil itu melalui pintu disamping kiri, tempat Sasuke duduk tadi.

"Kenapa kau keluar sendiri? Dimana Gaara-san?" tanya Juugo melihat Sasuke turun bersama supir. Meninggalkan Sakura dan Gaara didalam mobil itu berdua.

"Ada yang ingin beliau bahas berdua saja dengan Sakura." jawab Sasuke singkat.

"Didalam mobil? Bukankah lebih nyaman diruang kerja beliau saja?" tanya Juugo bingung.

"Aku rasa ini terlalu urgent hingga beliau tidak bisa menunggu." jawab Sasuke.

Sasuke hanya bisa melirik kaca mobil Gaara itu diam-diam. Kaca mobil itu terlalu gelap hingga tidak ada siapapun yang bisa melihat pergerakan didalam mobil itu.

"Apa yang ingin anda bicarakan Gaara-san?" tanya Sakura membuka pembicaraan itu.

"Kejadian hari ini, bersiaplah untuk kemungkinan kau akan dipanggil kepangkalan untuk mendapatkan teguran." ucap Gaara tiba-tiba.

"Saya sudah siap pak. Saya sudah tau posisi saya tidak menguntungkan." jawab Sakura santai.

"Aku akan mencoba menghentikannya tindakan konyol apapun yang akan pasangan gila itu coba lakukan." ucap Gaara yakin.

"Maafkan saya jika ucapan saya ini akan terdengar sombong, tetapi saya harap anda tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan posisi anda. Saya hanya ajudan anda yang ditugaskan selama 4 tahun, saya siap jika harus dipindah tugaskan ketempat lain. Tapi saya tidak akan bisa terima jika sampai anda tertimpa masalah dan diberhentikan karena mencoba melindungi saya pak." jawab Sakura tegas.

"Sakura."

"Saya harap anda bisa memahaminya pak. Terlebih saya tidak ingin ada catatan buruk di track record saya. Hal itu bisa mempersulit saya kedepannya." ucap Sakura lagi.

"Hah.." Mendengar itu Gaara tidak marah. Ia tau ucapan terakhir gadis itu ia lontarkan hanya untuk melindungi orang sekitarnya. Ia tau persis sifat Sakura yang tidak mau menyeret orang lain dalam masalahnya itu.

"Maaf pak, tapi jika sudah tidak ada yang harus kita bahas, sebaiknya anda turun sekarang sebelum ajudan lain mulai curiga terlebih Uchiha itu. Saya sudah tidak punya tenaga hari ini untuk menghadapi mulutnya yang cerewat dan kebiasaan melewati batasnya itu." ucap Sakura melihat Sasuke yang sesekali melirik pintu mobil itu. Menunggu keduanya turun.

"Kalian benar-benar seperti anjing dan kucing." komentar Gaara singkat.

-besoknya-

"Permisi pak." ucap Sakura yang memasuki ruang kerja Gaara itu.

"Sakura? Ada apa?" tanya Gaara mengalihkan pandangannya dari komputernya itu.

"Mengenai keberangkatan saya ke Prancis, sesuai hasil diskusi kemarin jadwal keberangkatan saya sudah ditentukan pak." ucap Sakura.

"Benarkah?" tanya Gaara antusias.

"Un.. Saya akan berangkat pada tahun ajaran baru, ditahun depan." jawab Sakura menyerahkan bukti document yang telah ia print.

"Satu tahun lagi berarti itu seminggu setelah hari terakhir tugasmu bersamaku." ucap Gaara tersenyum puas membaca document itu.

"Lalu untuk jadwal hari ini tidak ada perubahan pak." terang Sakura.

"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Gaara penasaran.

"Tangan saya baik-baik saja pak." ucap Sakura menunjukkan telapak tangan kirinya yang diperban.

"Itu tidak baik-baik saja Sakura. Kau mendapat 32 jahitan." ucap Gaara tidak setuju, ia baru mendengar berita itu pagi ini dari mulut ajudannya yang berbincang saat sarapan pagi.

"Saya sungguh tidak apa-apa. Dari pada itu bagaimana dengan berita itu pak? Beritanya terlanjur menyebar." ucap Sakura teringat akan berita yang ia tonton tadi pagi saat bersiap-siap berangkat bekerja. Ada yang merekam kejadian itu dan menjualnya kepada wartawan. Saat ini Hinata, Naruto, Gaara, Sasuke dan Sakura menjadi berita utama.

"Tidak apa-apa. Biarkan saja." ucap Gaara bosan.

"Tapi pak." Sakura merasa tidak setuju karena hal itu jelas akan merugikan Gaara yang memang semenjak dilantik menjadi Menteri pertahanan selalu dicari kekurangannya.

"Sakura.. Aku bahkan kemarin berpikir untuk melakukan hal yang lebih buruk. Jadi biarkan saja." ucap Gaara santai.

"Baiklah.. Kalau begitu saya permisi dulu pak." ucap Sakura undur diri.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke melihat Sakura yang memasuki ruangan kerjanya itu.

"Aku baik-baik saja, tapi apa yang kau lakukan diruanganku?" tanya Sakura terdengar lelah.

"Paketmu nyasar keruanganku. Apa Gaara-san mengatakan sesuatu?" tanya Sasuke memberikan sebuah kotak yang lumayan besar itu pada Sakura.

"Dia tidak mengatakan apa-apa dan melarang kau dan aku untuk menanggapi wartawan yang menanyai berita itu. Dia membiarkan bola panas itu berkeliaran." ucap Sakura, duduk dibangkunya sambil mengecheck nama pengirim paket itu.

"Aku bahkan sudah bersiap membunuh mereka berdua jika kau tidak melarangnya." gumam Sasuke.

"Tidak ada yang dibunuh dan membunuh Sasuke." ucap Sakura membuat Sasuke kaget karena gadis itu bisa mendengar gumaman kecilnya padahal ia sedang sibuk dengan paketnya itu.

"Kenapa kau tersenyum begitu?" tanya Sasuke menyadari Sakura tersenyum memandangi jar berisi permen jelly itu.

"Bukan apa-apa. Kalau sudah tidak ada yang ingin kau sampaikan kembalilah keruanganmu." ucap Sakura sembari focus dengan handphonenya.

"Hah.." Sasuke yang melihat itupun merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang, meninggalkan ruangan itu.

"Ada apa Sasuke. Tumben kau menelfon di jam kerja." ucap suara itu dari sebrang telfon.

"Itachi, aku butuh bantuanmu." ucap Sasuke tiba-tiba.

"Kau? Butuh bantuanku? Ada apa?" Tanya Itachi kaget. Adeknya tidak akan pernah meminta tolong apapun padanya sebelumnya.

"Bantu aku mendapatkan berkas diruang kepala kepolisian." ucap Sasuke membuat kaget Itachi.

"Kau mau mati? Tidak mungkin." ucap Itachi menolak keras.

"Kalau begitu.. Serahkan berkas lengkap Haruno Sakura padaku Itachi." ucap Sasuke sukses membuat Itachi hening dan tidak menjawab.

"Untuk apa?" tanya Itachi curiga.

"Jangan tutupi apapun lagi padaku Itachi. Aku sudah dewasa dan aku butuh tau yang sebenarnya. Kalau kau tidak mau memberikannya aku sendiri yang akan membobol ruang kepala kepolisian itu." ancam Sasuke.

"Hargh.. Jangan bertindak bodoh. Jika sampai Danzo mengetahui rencana bodohmu itu dia tidak akan tinggal diam. Baiklah, aku akan memberikannya. Datanglah kerumahku nanti." ucap Itachi mengalah. Sasuke juga ada benarnya, Sasuke sudah dewasa dan sudah bia menilai sendiri.

"Baiklah." ucap Sasuke menutup telfon itu. Saat akan kembali keruangannya Sasuke melihat Sakura yang keluar dari kantornya dan kembali memasuki ruang Gaara, melihat itu Sasuke segera menyusul Sakura mengira sudah waktunya mereka berangkat mengawal Gaara.

"Ah.. Sasuke kau dari mana saja?" tanya Gaara yang memang tengah merapikan document yang akan dia bawa dibantu Sakura.

"Maaf pak, barusan saya menerima telfon." ucap Sasuke ikut membantu merapikan berkas yang akan Gaara bawa. Saat ketiganya tengah sibuk tiba-tiba saja 3 telfon di meja Gaara berbunyi.

TRING TRING~

"Hallo.. Ya benar.. Tunggu dulu, apa alasannya? Siapa yang memerintahkan!" Gaara yang awalnya tenang tiba-tiba saja marah dan membanting telfon itu

"Pak.. Tenangkan diri anda." ucap Sakura berusaha menenangkan Gaara.

"Tindakan disiplin? Apa-apaan ini!" maki Gaara marah besar. Tepat saat itu tiba-tiba saja handphone Sakura berbunyi.

"Pak saya izin mengangkat telfon." ucap Sakura bersiap undur diri untuk menjawab telfon itu.

"Jawab disini. Speaker." ucap Gaara seakan tau siapa yang menghubungi Sakura.

"Ba.. Baik." ucap Sakura yang awalnya ragu tapi akhirnya menuruti kemauan Gaara, menjawab telfon dari jendral tentara Angkatan udara itu disana.

"Selamat siang pak." ucap Sakura menjawab telfon itu.

"Selamat siang, dimana posisimu sekarang Haruno?" tanya sang jendral bertanya.

"Saya akan bersiap mengawal pak Menteri menuju kegiatan hari ini di Osaka, pak." jawab Sakura merasa ada yang salah.

"Haruno, seminggu lagi kau akan ditugaskan mengawal pesawat perbekalan yang akan melakukan misi kemanusian." ucap jendral itu.

"Misi kemanusiaan? Bukankah sudah ada team yang dibentuk untuk melakukan pengawalan pak?" tanya Sakura bingung. Dirapatnya terakhir kali, dia ingat bahwa namanya tidak ada didaftar nama orang yang akan mengawal pesawat perbekalan mengingat pekerjaannya sebagai aspri Gaara yang tidak akan bisa meninggalkan posisinya.

"Rencana berubah. Lagipula ini mandat langsung dari presiden. Beliau bilang kemampuanmu dibutuhkan." ucap jendral itu.

"Apakah saya harus melapor sekarang ke pangkalan?" tanya Sakura lagi.

"Tidak.. Datanglah besok untuk penjelasan singkat sebelum jadwal pengawalanmu dimulai. Misimu ini akan berlangsung paling tidak selama 1 bulan, bisa juga lebih." ucap jendral itu.

"Baik pak, saya mengerti." ucap Sakura menerima misi itu.

"Kau pikir besok dia tidak ada jadwal! Aku sudah bilang tidak bisakan!" teriak Gaara merebut handphone Sakura.

"Maaf pak, tapi saya juga tidak bisa menolaknya." ucap jendral itu.

"Pein, aku akan mengurus ini. Dia tidak akan melakukan misi itu." ucap Gaara mematikan telfon itu.

"Pak, saya mohon izin untuk meninggalkan posisi saya sementara hingga misi saya selesai." ucap Sakura tetap tenang.

"Tidak. Kau tetap disini! Aku akan hubungi presiden!" ucap Gaara marah besar.

"Pak, saya mohon hentikan. Saya tidak mau membuat anda dalam masalah. Lagipula ini sudah keputusan pak presiden." ucap Sakura menenangkan Gaara.

"Sakura itu misi berbahaya." ucap Sasuke lagi mengingat konflik disana masih sangat panas.

"Bukankah kita tentara dilatih untuk itu." ucap Sakura tersenyum.

"Sakura, kau yakin?" tanya Gaara masih mencoba membatalkan niat Sakura.

"Saya yakin pak. Tidak apa-apa. Saya akan segera kembali." ucap Sakura yakin.

TBC