Tidak terasa seminggu sudah berlalu dan Sakura bersiap melaksanakan misinya. Setelah pesawat perbekalan selesai dimuat dan dilakukan upacara singkat, Presiden, beberapa Menteri terkait dan pejabat tinggi Angkatan udara termasuk Gaara sebagai Menteri pertahananpun melepas kepergian team kemanusian itu.

"Semoga misimu berjalan lancar." ucap Minato menjabat tangan Sakura.

"Terima kasih pak. Terima kasih juga karena telah memberi saya kesempatan untuk ikut melakukan misi kemanusian ini." ucap Sakura tetap tersenyum, menjabat tangan pria yang memberikannya misi bunuh diri itu. Hal ini cukup membuat Minato tertegun, bagaimana bisa gadis itu tetap tersenyum padahal sebentar lagi dia akan menuju wilayah konflik yang masih panas.

"Jaga dirimu ok." ucap Pein ketika menjabat tangan Sakura yang berbaris dibarisan pilot pesawat tempur yang akan mengawal pesawat perbekalan itu.

"Pasti pak." ucap Sakura mantap.

"Maaf aku tidak bisa membantumu Sakura." ucap Gaara merasa bersalah karena Sakura mendapat hukuman ini karena protocol penjagaan yang dilakukannya saat diacara reuni sekolah itu.

"Tidak apa-apa pak. Saya harap bapak tetap mengosongkan posisi sebagai ajudan bapak sampai saya kembali." canda Sakura.

"Tentu saja. Kursimu tidak akan diambil siapapun." ucap Gaara menjamin.

"Kenapa kau masih bisa terlihat sebahagia itu?" tanya Sasuke melihat Sakura yang tetap tersenyum menjabat tangannya itu.

"Kenapa tidak? Lalu, aku titipkan posisiku sementara." Ucap Sakura dengan senyumnya.

"Kau benar-benar gila." ucap Sasuke tidak habis pikir.

"Aku memang gila. Bukankah gila adalah nama panggilan yang dulu kalian berikan padaku saat di KHS?" ucap Sakura bercanda.

"Sakura aku.."

"Lupakan saja Sasuke, aku hanya bercanda. Dibuku ini sudah tertulis semua jadwal dan perencanaan sementara. Pastikan pengamana tetap berjalan mulus." ucap Sakura tersenyum, memberikan buku yang biasa ia bawa kemana-mana itu.

"Aku tau. Kembalilah dengan selamat." ucap Sasuke yang terdengar seperti perintah mengacak rambut Sakura.

"Pasti." ucap Sakura kemudian mengeluarkan dog tag-nya, mencium singkat dog tag itu sebelum memasang helm-nya yang merupakan ritual yang biasa Sakura lakukan sebelum melakukan kegiatan apapun dan melangkah pergi dari sana, bersiap menaiki pesawat tempurnya setelah sebelumnya memberikan hormat pada Gaara. Pesawat perbekalanpun lepas landas diikuti pesawat tempur sebanyak 4 pesawat yang mengawal.

"Selamat siang pak. Maaf menganggu waktunya." ucap Sasuke yang mendekati Minato saat pesawat kemanusiaan itu sudah tidak terlihat.

"Aa.. Sasuke.. Ada apa?" tanya Minato yang mengingat Sasuke merupakan sahabat anaknya.

"Kenapa hanya Sakura yang mendapatkan tindakan disiplin itu? Saya juga ada disana dan saya yang mendorong anak anda saat itu." ucap Sasuke berterus terang.

"Aku tidak tau apa hubungan kalian tapi berdasarkan cerita yang aku dapat tidak seperti itu Sasuke." jawab Minato lagi.

"Sasuke hentikan." ucap seorang pria menghentikan Sasuke untuk membuka mulut lebih lagi.

"Tou-san." gumam Sasuke melihat ayahnya yang merupakan jendral kepolisian itu menghentikan perdebatan.

"Bagaimana dengan video rekaman disana?" ucap Sasuke masih tidak mengerti.

"Sasuke." kali ini Gaara yang turun tangan menghentikan anak buahnya itu.

"Tapi pak." Sasuke merasa tidak puas.

"Cukup. Aku masih ada jadwal yang harus dihadiri." ucap Gaara tegas.

"Maafkan saya pak." ucap Sasuke kemudian pergi dari sana mengikuti Gaara.

Misi kemanusiaan itu ternyata memakan waktu lebih lama dari dugaan. Sakura dan team yang awalnya hanya akan mengantarkan perbekalan awalnya sempat dipersulit oleh beberapa pihak, tetapi akhirnya pesawat perbekalan dan 4 pesawat tempur itu mendarat dengan selamat di pangkalan Angkatan udara setelah mereka menyelesaikan misi kemanusiaan mereka selama 2 bulan.

"Selamat datang kembali Sakura." ucap Gaara menjabat tangan gadis bersurai pink itu. Penampilannya tidak banyak berubah selain rambutnya yang bertambah panjang dan sebuah luka dipipinya.

"Terima kasih pak. Senang rasanya bisa kembali." ucap Sakura lagi.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Gaara menunjuk pipi Sakura itu.

"Aa.. Ada sedikit masalah saat disana, tetapi semuanya aman." jawab Sakura, ia yakin Gaara sudah mendapat berita jelasnya saat kejadian itu terjadi. Saat dirinya diserang tentara lawan yang membuatnya mau tidak mau mengangkat senjata bersama tentara negara lain setelah mendapat persetujuan dari negara masing-masing.

"Aku benci mengatakan ini Sakura, tetapi besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat ke Indonesia untuk melakukan kunjungan persahabatan." ucap Gaara memaparkan singkat jadwal besok.

"Tidak apa-apa pak. Saya siap." ucap Sakura siap dengan segala macam tugas yang menghampirinya itu.

Sesuai jadwal, pagi-pagi sekali Gaara sudah sampai dibandara untuk segera terbang ke Indonesia memenuhi undangan Menteri pertahanan disana. Setibanya disana, mereka disambut hangat oleh Liam dan ajudannya. Mereka berbincang banyak di kantor Liam hingga sore.

"Apakah anda berencana langsung kembali?" tanya Liam saat mereka menyelesaikan pertemuan itu.

"Tidak.. Sepertinya saya akan berangkat besok pagi." ucap Gaara menjawab.

"Kalau begitu, apakah anda berkenan untuk melakukan latih tanding?" tanya Liam.

"Latih tanding?" tanya Gaara memastikan ia tidak salah dengar.

"Ya.. Hanya permainan singkat di lapangan paint ball. Bagaimana?" tawar Liam.

"Bagaimana? Apakah kalian mau?" tanya Gaara menatap ajudannya itu.

"Jika anda menginginkannya maka kami siap." ucap Juugo mewakili ajudan lain.

"Bagaimana denganmu Sakura? Kau baru kembali kemarin." ucap Gaara teringat akan Sakura yang mati-matian menahan kantuknya diruang pertemuan tadi.

"Saya tidak apa-apa pak." jawab Sakura cepat, menyadari seorang pria yang memakai dog tag yang sama dengannya itu memperhatikan gelagatnya sedari tadi.

"Sakura." pria itu menghentikan langkah Sakura disaat Gaara dan Liam masih berbincang singkat, menunggu ajudan Liam di area paintball selesai mengamankan lokasi dan memberi tanda siap.

"Theo ada apa?" tanya Sakura menatap pria itu.

"Sakura kau terlihat sangat lelah.. Sebaiknya kau beristirahat saja." saran Theo menyadari Sakura yang terlihat lelah itu.

"Ayolah, jangan seperti ini. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah saja." jawab Sakura.

"Kau tidak baik-baik saja. Aku tau kau sedang menahan rasa sakit dikepalamu." ucap Theo yang ternyata menyadari gelagat Sakura dan sempat melihat Sakura yang limbung.

"Aku sungguh baik-baik saja.. Daripada itu.. Kau terlalu cerobah mengeluarkan dog tagmu." ucap Sakura membantu Theo menyembunyikan kalung itu kedalam kemejanya.

"Hargh.. Sakura.."

"Aku sungguh baik-baik saja." ucap Sakura menolak tawaran Theo untuk beristirahat.

Akhirnya kedua Menteri itu melaju menuju arena paintball dan masing-masing memilih masing-masing 8 ajudan terbaik mereka untuk turun ke lapangan. Para ajudan itu dilengkapi body cam dan earpiece agar control room bisa memerhatikan mereka dan memberitahukan jika pertandingan telah usai mengingat mereka memasuki area pain ball out door yang cukup luas. Pertandingan sengit itu pun berlangsung, satu persatu masing-masing anggota gugur. Mereka yang gugur pergi menunggu diruang kendali sembari beristirahat dan menonton pertandingan itu.

"Hanya tinggal 4 orang saja. Kita lihat siapa yang menjadi pemenangnya." ucap Trevor menatap layar yang memperlihatkan body cam dari 4 orang itu.

"Apakah anda percaya diri dengan ajudan anda pak?" tanya Gaara menatap Liam yang duduk disampingnya.

"Tentu saja. Tetapi akupun tidak akan memungkiri kemampun Sakura sangat bagus setara dengan Theo." ucap Liam, mengingat Sakura yang dulu pernah berkunjung ke Indonesia dan adu skill dengan Theo.

"Kenapa body cam milik Sakura gambarnya buram?" tanya Juugo menyadari keanehan itu.

"Sakura? Kau bisa mendengarku? Apa terjadi sesuatu?" ucap Trevor melalui earpiecenya, mencoba menghubungi Sakura tetapi tidak ada jawaban.

"Disana." ucap Juugo menyadari Sakura muncul di body cam Theo.

"Ugh.." Sakura hanya bisa meringis merasa sakit dipunggungnya setelah menabrak seseorang dengan kencang, tetapi berkat reflek cepat orang itu, ia berhasil menahan kepala belakang Sakura agar tidak terbentur keras dengan sebelah tangannya.

"Sakura?" Theo yang berada diatas Sakura kaget melihat gadis itu berlari menabraknya kencang.

"Theo, aku pinjam dulu." Ucap Sakura masih dalam posisi terlentang tertimpa tubuh Theo tiba-tiba meraih pistol paintball cadangannya yang sengaja disimpan Theo dipinggang belakangnya, memakai pistol cadangan itu untuk menembak musuh dibelakang Theo.

"Hargh.." Theo hanya bisa menghela nafas berat melihat aksi Sakura itu, menembak orang yang berada dibelakang Theo dengan posisi itu butuh keakuratan yang tinggi, salah-salah matanya bisa menjadi korban.

"Ok.. Cukup sampai disini." ucap Trevor melalui earpiece saat melihat Theo dan Sakura yang saling mengarahkan pistolnya satu sama lain dengan jarak dekat itu.

"Pertandingannya sudah selesai. Sepertinya imbang." ucap Theo yang kemudian menghela nafas lelah.

"Theo.. Kau berat." Ucap Sakura spontan membuat Theo kaget dan wajahnya memerah, walau ia menggunakan sebelah lengannya untuk menahan berat badannya serta kepala belakang Sakura tapi tetap saja sebagian berat tubuhnya menimpa Sakura.

"Ma.. Maafkan aku. Kau bisa berdiri?" tanya Theo mengulurkan tangannya membantu Sakura berdiri.

"Terima kasih." Ucap Sakura menerima uluran tangan itu.

"Apa yang terjadi Sakura? Kenapa kau tiba-tiba berlari tidak melihat depan?" tanya Theo menyadari kejanggalan itu.

"Aku rasa ada penyusup diantara pemain hari ini." ucap Sakura spontan membuat kaget Theo.

"Apa maksudmu?" tanya Theo bingung.

"Aku.. Ungh.." Sakura yang akan menjelaskan tiba-tiba kepalanya kembali terasa pusing hingga ia hilang keseimbangan dan ditangkap Theo.

"Kau baik-baik saja?" tanya Theo panik, membantu Sakura untuk duduk bersandar ditembok dekat mereka.

"Aku baik-baik saja." jawab Sakura cepat.

"Kau tidak baik-baik saja." ucap Theo mengambil senapan paintball Sakura dari tubuh mungil gadis itu.

"Hah.. Kau selalu berlebihan." gerutu Sakura.

"Aku tidak pernah berlebihan." ucap Theo menolak pendapat Sakura itu tegas.

"Aku hanya Ugh.. Pelan-pelan." ucap Sakura yang dibantu Theo melepaskan body cam dan helm pelindungnya itu.

"Sakura? Apa yang terjadi? Apa kau terkena peluru paintball?" tanya Theo khawatir mengecheck kondisi Sakura.

"Aku tidak terkena tembakan." jawab Sakura.

"Lalu… Sakura.. Apa ini?" tanya Theo saat lengan baju Sakura tidak sengaja tertarik saat Theo membantu Sakura melepaskan tas pinggang pistol paintballnya itu memperlihatkan lengan tangan gadis itu yang penuh memar.

"Seperti yang aku bilang tadi.. Ada yang berpura-pura menjadi peserta. Dia membawa pistol dan mengincarmu makanya aku berlari mencarimu." terang Sakura.

"Kenapa kau tidak cepat memberitahukan pada Trevor?" tanya Theo bingung.

"Earpiece dan body camku rusak saat bertarung jarak dekat tadi." ucap Sakura menunjukkan earpiecenya yang hancur dan lensa body cam-nya yang retak.

"Sakura.. Kapan terakhir kali kau tidur dengan benar?" tanya Theo tiba-tiba, menatap dalam mata Sakura.

"Aku selalu istirahat dengan benar." elak Sakura.

"Kapan terakhir kali Sakura?" tanya Theo lagi.

"3.."

"3 hari yang lalu?" tanya Theo memastikan.

"Tahun.." ucap Sakura menunduk.

"3 tahun yang lalu?!" ucap Theo kaget sedang Sakura hanya menutup kupingnya tidak mau mendengar ceramah Theo.

"Sakura kau bisa merusak tubuhmu dan mati jika begitu." ucap Theo marah besar.

"Aku tidak punya pilihan lain Theo.. Ditambah ketika melakukan misi kemanusiaan itu aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri kengerian disana dan aku tidak bisa melupakannya" ucap Sakura tertunduk.

"Sakura.. Kenapa kau tidak menghubungiku? Kalau 3 tahun yang lalu itu berarti saat hubungan kita selesai dulu? Sudah selama itu?" ucap Theo sedih mendengar hal itu.

"Aku tidak mau merepotkanmu." ucap Sakura enggan menatap mata Theo.

"Hah.. Ayo.. Aku akan menceramahimu nanti. Sekarang kita keluar dulu." ucap Theo membantu Sakura berdiri.

"Terima.. Ugh.." Saat akan berdiri Sakura merasakan rasa sakit luar biasa dipergelangan kakinya.

"Kenapa?" tanya Theo kaget saat Sakura kehilangan keseimbangannya.

"Aku rasa.. Kakiku.." Sakura yang berdiri dengan bertumpu hanya pada sebelah kakinya hanya bisa terdiam merasa bodoh. Jika kondisinya fatal dia harus kerumah sakit dan berhenti bekerja sementara waktu dan dia membenci hal itu.

"Jangan pasang wajah itu." ucap Theo menyadari wajah kesal dan sedih Sakura.

"Tapi.." Sakura benar-benar kesal dengan dirinya saat ini.

"Duduklah.. Aku periksa sebentar." ucap Theo membantu Sakura kembali duduk, membuka sepatu gadis itu.

"Hargh.. Aku benar-benar terlihat konyol." ucap Sakura melihat lengannya yang lebam ditambah kakinya yang cedera.

"Ini tidak konyol. Ini bisa terjadi pada siapapun.. Akupun juga mendapat memar dari pengawalan kemarin. Pak Liam itu sangat terkenal tau." ucap Theo yang sedang mengecheck kaki Sakura.

"Benarkah?" tanya Sakura tidak yakin.

"Sudah percaya?" tanya Theo memperlihatkan memar dilengan bagian dalam tangannya itu. Ternyata tangan pria itu juga penuh luka lecet kecil dibeberapa bagian serta lebam.

"Apa kau yakin itu karena ketenaran pak Liam bukan karena wajah dan penampilanmu?" ucap Sakura ragu.

"Kau cemburu?" ucap Theo kaget mendengar Sakura.

"Ti.. Tidak." elak Sakura cepat.

"Kau cemburu." ucap Theo melihat wajah Sakura yang sudah memerah.

"Lupakan itu.. Apakah kakiku patah? Retak?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Tidak.. Ini hanya terkilir ringan saja. Kau tetap bisa bekerja. Aku yakin setelah diperban dengan baik, besok kau sudah bisa berlarian seperti anak ayam lagi." ucap Theo tersenyum.

"Sungguh?" tanya Sakura memastikan.

"Apakah aku pernah berbohong padamu? Aku tidak akan pernah berbohong padamu Sakura." ucap Theo sambil mencubit ringan hidung Sakura.

"Th.. Theo.." Sakura kaget tiba-tiba Theo berjongkok memunggunginya, bersiap menggendong belakang Sakura.

"Ayo naik.. Kau tidak mau memperparah kakimukan? Atau kau mau aku gendong depan seperti princess Disney?" goda Theo.

"Tidak! Kau menyebalkan." gerutu Sakura yang dengan patuh mendekati Theo, melingkarkan tangannya keleher Theo dari belakang membiarkan Theo menggendongnya

"Tunggu dulu.. Sakura.. Siapa yang kau tembak tadi diakhir?" tanya Theo teringat saat Sasuke yang menyingkirkan Sky, dia menggunakan moment itu juga untuk menyingkirkan Sasuke diam-diam.

"Ah.. Dia kabur.. Padahal aku sudah memastikan menembak kakinya." ucap Sakura menyadari orang yang ia tembak kabur.

"Maksudmu dia orang yang berusaha menembakku dengan pistol asli?" ucap Theo kaget.

"Kalau dia kabur pasti begitukan." jawab Sakura enteng.

"Hargh.. Ini akan menambah daftar pekerjaanku." ucap Theo lelah.

"Tunggu dulu Theo.. Jangan langsung keluar.. Ayo kearah sana!" ucap Sakura memegang kedua pipi Theo, mengarahkan pandangan Theo kearah yang ia mau.

"Hah? Kemana?" tanya Theo bingung.

"Pistol paintballku tertinggal disana saat adu tinju tadi." ucap Sakura menunjuk-nunjuk arah yang ia mau.

"Sakura, panitia bisa mengambilnya nanti." ucap Theo enggan.

"Tidak.. Ayo ambil sekarang!" tolak Sakura keras kepala.

"Hei.. Berhenti bergerak-gerak atau kau bisa jatuh." ucap Theo kesal.

"Ayolah.. Itu pistol paintball yang paling aku sayang." ucap Sakura merengek.

"Hei.. Itukan sudah jadi milikku. Aku hanya meminjamkannya untuk hari ini." ucap Theo tidak setuju.

"Humph! Walau begitu itu tetap milikku dulunya. Ayolah Theo.. Atau turunkan aku, aku bisa pergi mengambilnya sendiri." ancam Sakura.

"Memangnya kau akan memberikanku apa jika aku menuruti kemauanmu?" tanya Theo melirik Sakura yang berada dipunggungnya.

"Akan aku beri hadiah." ucap Sakura cepat.

"Hah.. Baiklah." Theopun mengalah dan pergi kearah yang Sakura mau untuk mengambil pistol paintball itu.

"Kau baik-baik saja Theo?" tanya Sakura setelah mereka mengambil pistol paintball itu, menyebabkan mereka harus berjalan jauh untuk bisa menuju pintu keluar.

"Aku baik-baik saja." jawab Theo cepat.

"Theo.."

"Hmm?"

"Kau masih memakai parfum yang aku pilihkan?" ucap Sakura yang bisa mencium aroma parfum Theo itu.

"Ke-Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu." ucap Theo yang telinganya sudah memerah dan panas mendengar pertanyaan Sakura ditambah ia samar-samar merasakan hembusan nafas Sakura dilehernya.

"Apakah pacarmu tidak akan marah jika dia tau?" ucap Sakura meletakkan dagunya kebahu kanan Theo.

"Aku tidak punya pacar Sakura." ucap Theo tegas.

"Hmm.. Lalu jika sudah punya apakah kau akan mengganti wangi parfummu sesuai keinginannya?" tanya Sakura lagi.

"Tidak. Lagipula aku belum ada keinginan mencari penggantimu." jawab Theo lagi.

"Begitukah?" gumam Sakura.

"Tidak sampai aku tau kau sudah bahagia." ucap Theo yang kemudian tidak ditanggapi Sakura, penasaran Theopun melirik kearah pundak kanannya dan melihat Sakura sudah tertidur. "Hargh.. Aku bisa gila." gerutu Theo semakin merasakan hembusan nafas Sakura dilehernya karena gadis itu tertidur.

"Aku pikir kalian berniat menginap disini." ucap Trevor yang tengah memainkan kotak P3K ditangannya melihat Theo yang memasuki ruang komando itu.

"Dia bersikeras mengambil pistol paintballku yang ia jatuhkan." terang Theo.

"Ada apa dengannya?" tanya Sasuke melihat Sakura yang tertidur dipunggung Theo itu.

"Kakinya terkilir saat berkelahi dengan penyusup itu dan dia kelelahan." jawab Theo santai, menurunkan Sakura di sofa ruangan itu.

"Aa.. Tentang penyusup itu.. Aku rasa dia benar-benar tau arena paintball ini dengan baik. Dia tau dimana titik buta kamera cctv. Aku hanya bisa menemukan satu rekaman saat ia berlari kabur. Sepertinya ia terlalu panik dan tidak ingat lagi soal cctv. Saat ini Sky dan Juugo mengawal tuan Liam dan tuan Gaara yang sedang mendengarkan laporan dari ajudan yang berjaga disekeliling yang memeriksa sekeliling. Mudah-mudahan saja mereka dapat suatu petunjuk." ucap Trevor yang mengecheck kamera cctv setelah mendapat laporan penyusup itu dari Theo.

"Bukankah ada kemungkinan orang dalam juga terlibat." ucap Sasuke serius.

"Bisa saja. Karena area ini sudah clear sebelum kita datang." ucap Theo, mengambil kotak P3K dari tangan Trevor dan dengan perlahan mulai membebat kaki kiri Sakura yang mulai membengkak itu.

"Theo benar." jawab Sasuke setuju.

"Selamat pagi putri tidur." ucap Theo menatap Sakura yang mengucek pelan matanya.

"Aa.. Maafkan aku menyusahkanmu Theo." ucap Sakura menatap Theo yang sedang bersimpuh membebat kakinya agar tidak semakin bengkak itu.

"Tidak apa-apa." ucap Theo tersenyum setelah selesai membebat kaki gadis itu, duduk disampingnya.

"Kau masih ahli melakukannya." ucap Sakura yang melihat hasil bebat Theo yang rapi dan terasa nyaman.

"Aku jadi ahli karena ada seseorang yang selalu ceroboh." ucap Theo menyindir.

"Hei.. Aku tidak sesering itu terluka." komentar Sakura kesal memukul-mukul kecil lengan Theo.

"Ayo bersiap.. Kita akan pergi sekarang." ucap Sky yang memasuki ruangan itu.

"Apakah pelakunya sudah ketemu?" tanya Trevor saat mereka bersiap pergi.

"Belum. Sakura, aku butuh body cam mu. Aku harus menyerahkan video penyerangan itu sebagai barang bukti." ucap Sky meminta body cam Sakura.

"Ini." ucap Theo menyerahkan body cam Sakura.

"Ayo.. Aku akan selesaikan ini dimobil." ucap Sky meminta mereka bergegas karena masih ada kegiatan lain.

"Kau bisa berjalan?" tanya Sasuke memegang tangan Sakura, membantunya berdiri.

"Aku baik-baik saja." jawab Sakura mencoba menggerakkan kakinya.

"Hei.. Jangan langsung berjalan seperti itu. Gunakan sepatumu. Nanti perbannya bisa kotor." ucap Theo menggetok kepala Sakura.

"Hee.. Akan susah memakai sepatu dengan bebat ini." keluh Sakura.

"Angkat kakimu." ucap Theo yang berlutut dihadapan Sakura, membersihkan sedikit telapak kaki Sakura kemudian membantu Sakura memakai sepatunya yang talinya sudah dilonggarkan oleh Theo.

"Terima kasih Theo." ucap Sakura dengan senyumnya itu.

"Bukan masalah." ucap Theo tersenyum.

TBC