BoBoiBoy milik Animonsta Studio
-setting buka puasa hari pertama-
o
o
Kedai ditutup pada pukul 5.30 karena persediaan langsung habis. Ternyata, keramaian pagi tadi bukanlah apa-apanya. Menjelang waktu berbuka, semakin banyak orang lagi yang berkunjung.
Boboiboy bahkan harus berpecah untuk membagi tugas karena kewalahan. Permintaan pesan antar pun tidak kalah banyak. Dua pecahan tercepat mengambil pilihan mengantar pesanan, Halilintar dan Taufan. Untunglah mereka cukup bisa diandalkan. Halilintar yang ternyata tetap sabar ketika mencari alamat yang terkadang kurang jelas letak pastinya, dan Taufan yang tidak main-main sehingga semua pesanan sampai satu jam sebelum waktu berbuka puasa tiba.
Sekarang, tujuh Boboiboy sudah berkumpul di meja makan. Semuanya tampak lesu menunggu adzan maghrib yang tinggal lima belas menit lagi menurut jadwal yang beredar.
Tok Aba tersenyum melihat cucunya yang tampak benar-benar kehabisan energi. Beliau pun terbesit ide untuk membuat mereka berhenti menghitung waktu agar tidak terasa lama.
"Nah, Boboiboy," panggilnya. Tujuh wajah yang tadinya fokus menatap makanan dan es cokelat di atas meja beralih menatapnya. "Kalian tahu apa yang harus didahulukan ketika waktu berbuka tiba?"
"Segera membatalkan puasa!" Gempa menjawab semangat.
Solar mengangguk mendukung pendapat itu. "Benar, disunnahkan berbuka dengan yang manis. Seperti kurma ini," lanjutnya kemudian, dengan menunjuk sepiring kurma di tengah-tengah meja.
"Yang lain?" Tok Aba menatap lima orang lainnya.
"Erm ... makan?" Taufan mencoba ikut menjawab, dan langsung disambut anggukan Blaze.
"Benar kata Taufan, Tok!" tambah Blaze, mendukung pendapat Taufan.
"Ice, Duri, Halilintar? Kalian punya jawaban berbeda?" Tok Aba menatap tiga orang lagi yang belum bersuara.
Duri balas menatap Tok Aba dengan sorot ingin tahu. "Memangnya ada yang harus didahulukan selain makan, Tok? Kata Umi kalau nggak langsung makan nanti setan makan duluan," katanya dengan polos.
"Mungkin ... setelah membatalkan puasa kita salat dulu. Salat kan yang utama," ujar Ice setelah bersusah payah melawan kantuk dan mulai berpikir.
" ... berdoa?" Halilintar menyuarakan jawabannya ragu-ragu. Tidak seperti karakternya yang biasa.
"Jadi, jawabannya apa, Tok?" Gempa bersuara lagi. Dia jadi penasaran setelah mendengar banyak jawaban berbeda.
"Kalian benar." Tok Aba tersenyum menatap semua wajah serupa di depannya.
"Jadi, kami makan untuk membatalkan puasa, langsung salat, lalu kami juga harus berdoa?"
"Begini, Solar. Dan juga semuanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda; Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika ia berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi."
Solar mengangkat tangannya, meminta izin bertanya. Tok Aba mempersilakan.
"Soal doa orang terzhalimi, apa termasuk doa dari orang-orang yang banyak berdosa juga?"
Tok Aba mengangguk mantap. "Termasuk doa orang-orang berdosa. Begitulah kasih sayang Allah. Pemilik cinta yang Maha Luas dan tidak tertandingi. Meski hamba-Nya sudah sangat jauh, ketika hamba itu memanggil-Nya, Allah akan datang. Allah tidak melihat apakah dia banyak dosa atau tidak, jika orang itu mengingat Allah, maka Allah pun mengingat dia pula."
"Manggil aja?"
"Ya."
"Kalau memohon ampun, berarti pasti diampuni?" Solar menunduk. Lensa kacamatanya tampak berembun. Suaranya bahkan sedikit berat dan juga serak.
"Apa kalian tahu kalau satu kali ucapan istigfar yang tulus dari hati, akan mampu membuat seluruh dosa terampuni?"
"Benar begitu, Tok?"
Tok Aba mengangguk. "Insyaa Allah. Kalau kita bersungguh-sungguh, ampunan Allah itu sangat luas."
Kali ini tangis Solar benar-benar pecah. Sebenarnya, mendengar nama Allah saja sesuatu dalam dadanya langsung terasa ada yang berbeda. Seperti ada yang menggelitik mengingatkannya akan betapa banyaknya dosa, lalu merasa bersalah karena membawa dirinya menjauhi sang Pencipta, kemudian diikuti rasa tenang yang entah bagaimana caranya menyelusup tanpa disadari.
Kenyataannya, apa yang Solar rasakan ini pun dirasakan enam pecahannya yang lain. Halilintar, Gempa, dan Ice yang menangis dalam diam, terlihat dari beberapa kali ketiganya mengusap pipi mereka dengan cepat. Taufan, Blaze, serta Duri tidak malu-malu mengeluarkan isakkan tangis mereka seperti Solar.
Suasana di meja makan terasa campur aduk. Tok Aba pun tidak mampu menahan air matanya sendiri. Tidak menyangka cucunya itu memiliki hati yang begitu lembut.
"Astagfirullah ...," ucap ketujuh pecahan Boboiboy dengan menunduk penuh sesal.
"Allaahu akbar. Allaahu akbar!"
"Alhamdulillah ...," ucap semuanya serentak.
Kedelapan anggota keluarga itu mulai berdoa bersama untuk berbuka puasa. Setelah minum dan memakan masing-masing tiga buah kurma, mereka terdiam. Menunduk dalam-dalam dan berdoa.
