The Lucky One
And they tell you that you're lucky, but you're so confused
'Cause you don't feel pretty, you just feel used
.
AKASHI SEIJUUROU
Di semua kisah yang pernah aku baca, setiap manusia selalu diciptakan berpasang-pasangan. Di mulai dari kisah Adam dan Hawa, lalu Plato yang bercerita bahwa manusia dulu memiliki dua kepala dan dua pasang kaki dan tangan hingga Zeus memisahkan mereka, semuanya selalu berpasangan. Para Alpha selalu mencari pasangan mereka, orang yang melengkapi tubuh dan jiwa mereka. Para Omega juga selalu mencari belahan jiwa mereka, setengah dari satu untuk melengkapi hidup mereka.
Namun, aku tidak merasa memiliki pasangan di dalam hidup.
Apakah konsep berpikirku yang salah atau aku selama ini mencari hal yang tidak ada? Kata orang mustahil bagi seorang Alpha tidak memiliki pasangan. Kata mereka, Alpha adalah golongan orang paling berkuasa dan mampu menunjuk siapa saja untuk berada di sisinya. Semua orang akan mengorbankan diri mereka agar dapat bersanding dengan seorang Alpha. Beta, Omega, semuanya ingin menjadi pasangan Sang Alpha. Untuk aku sendiri, aku tidak merasa seperti Sang Alpha yang dielu-elukan orang.
"Akashicchi, kenapa menyendiri?"
Pertanyaan dengan nada setengah berteriak itu menyentakku dari lamunan. Aku memalingkan wajah menatap Kise yang berhasil menemukanku menyendiri di balkon penthouse-nya yang super besar. Segelas champagne masih ada di tangan kananku dan hanya kuminum satu teguk. Sedari tadi aku hanya menatap ke arah lampu-lampu kota Tokyo yang berkelap-kelip di malam hari. Semua hingar bingar di lantai dansa terasa sangat jauh saat aku berada di balkon ini.
"Kise, aku hanya sedikit mabuk," ujarku asal. Aku tidak mabuk, tentu saja. Sejak aku menginjakkan kaki di kediaman Kise, hanya seteguk champagne yang masuk ke dalam kerongkonganku.
Kise ikut bersandar di sebelahku. Aku mengamatinya dalam diam. Kise Ryouta, seorang Model dan Aktor terkenal di Jepang yang sudah membintangi berbagai serial televisi maupun live action. Bahkan, beberapa waktu belakangan ini dia juga membintangi beberapa film Holywood sebagai pemeran pembantu. Aku mengenal Kise sejak sekolah dan dia merupakan salah satu teman terlama dan awet yang aku miliki di dalam lingkaran pertemananku yang sempit.
Malam hari ini Kise tampil memukau. Dia memang selalu bersinar dan dia memanfaatkan semua itu agar semua perhatian tertuju padanya. Rambut pirangnya yang lembut dan bergoyang pelan setiap angin membelainya, bulu matanya yang lentik dan panjang hingga membuat semua wanita merasa iri dan iris matanya yang seterang sinar mentari. Matanya selalu berbinar-binar, seperti memantulkan kilatan cahaya kamera. Senyumnya selalu ramah dan professional, sehingga siapapun yang berada di dekatnya tidak merasa gugup karena sedang berada dalam satu lingkup dengan aktor papan atas. Pakaian yang dikenakannya selalu modis dan dirancang oleh perancang busana terkenal. Kise memiliki penata busana pribadi, aku tidak kaget.
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku dan mengernyit, "Kau bahkan tidak berbau alkohol, ssu. Apa kau bosan?" tanyanya.
Aku tergoda untuk mengangguk dan meminta izin pulang. Sudah dua jam aku berada di Pesta Kise dan tidak ada satu pun percakapan yang kulakukan dengan orang lain selain tuan rumah sendiri. Namun, aku tidak mengatakan hal itu. Aku menggigit lidahku sebelum menjawab agar kata-kata yang tidak sepantasnya tidak keluar dari mulutku.
"Aku hanya pening. Aroma di lantai dansa terlalu bercampur aduk," ujarku tidak sepenuhnya bohong. Memang benar, Pesta Kise identik dengan ajang memamerkan aura dominansi. Karena Kise bekerja di dunia intertaiment, kenalannya beragam, dan kebanyakan dari mereka adalah narsistik. Padahal, aku paling tidak tahan jika berurusan dengan para narsistik. Jadilah aroma yang menguar begitu pekat dicampur dengan aroma alkohol. Aku patut mengapresiasi diriku sendiri karena aku bisa menahan diriku untuk tidak muntah.
"Gunakan alasan lain, ssu. Kau sudah menggunakan alasan itu sejak dulu," kata Kise sambil menyeringai. Seringainya membuat wajahnya berlipat kali tampak memikat. Aku mendengus. "Kau harus mau berkenalan dengan mereka. Aku membuat pesta ini khusus untukmu, Akashicchi."
"Jangan berlebihan. Siapapun tahu kau punya banyak uang sampai beberapa tumpuk kau bakar untuk menghangatkan kamar tidurmu."
Kise terbahak. Tawanya renyah sehingga membuat setiap orang yang mendengarnya ingin tertawa juga. Kise memang magnet bagi semua makhluk hidup. "Siapa yang berlebihan? Aku sudah capek-capek menyeretmu bersama Midorimacchi malam hari ini. Setidaknya," dia mengambil champagne dari tangan kananku dan meneguknya hingga habis, "jangan sia-siakan champagne mahal ini." Bibirnya sedikit berkilat setelah meminum champagne.
Aku mengalihkan pandanganku. "Jangan terlalu mabuk, Kise. Nanti jadi skandal," ujarku.
Dia merangkulku. "Kau seperti baru kenal denganku saja, ssu. Apapun yang aku lakukan bisa dimaafkan oleh masyarakat. Kau tahu kenapa?" Dia merendahkan tubuhnya dan bicara pelan di depan telingaku. "Karena aku hebat."
Lalu, dia menarik diri dariku.
Kise Ryouta memang hebat. Sebagai seorang Model, Aktor, dan Alpha. Aura dominansinya kuat dan memukau. Bukan tipe dominansi dimana kau ingin bertekuk lutut, tapi pheromone yang dikeluarkannya tampak membiusmu, membawamu menari dengan irama yang hanya dimiliki oleh Kise hingga akhirnya kau hilang akal dan kelelahan. Pheromone-nya manis seperti madu tapi juga beracun seperti bisa ular.
"Ah! Tunggu di sini Akashicchi, aku ingin menyapa orang sebentar," katanya dan dia menghilang dua detik selanjutnya. Aku tidak keberatan jika dia pergi dari sampingku. Berada dekat dengan Kise dengan pheromone-nya membuatku sedikit tidak nyaman. Ralat, aku memang tidak nyaman dengan semua pheromone yang dikeluarkan oleh orang-orang di sekitarku. Terkadang, aku berharap jika aku terindentifikasi sebagai seorang Beta, sehingga aku tidak harus merasakan hal-hal tidak penting yang seharusnya aku abaikan.
Aku menimbang, jika Kise tidak kembali dalam waktu 10 menit, aku akan pergi diam-diam dari kediamannya dan kembali ke mansion-ku dan tidur. Besok adalah awal minggu dan aku memiliki jadwal segudang rapat dengan Dewan Direksi, termasuk menerima kemarahan yang seharusnya tidak ditujukan kepadaku. Begitulah nasib dari seorang budak korporat. Meskipun jabatanku cukup tinggi, karyawan tetaplah seorang karyawan.
Aku baru saja akan menyelinap pergi, namun Kise sudah menemukanku dan kembali menghampiriku. Senyum manisnya masih setia berada di bibirnya. Dia berjalan percaya diri menemuiku dan setiap dia melangkah, kepala-kepala tertuju padanya. Kise sangat menyukai ketika dirinya adalah pusat perhatian.
"Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang, Akashicchi," katanya sambil tersenyum.
Aku mengerang dalam hati. Kise dan semua kenarsistikannya masih berusaha menjadi mak comblang untukku dan romansa dalam hidupku yang sebenarnya sudah lama mati. Dan, aku akan menolaknya lagi untuk kesekian kalinya. "Aku bilang tidak usah. Aku tidak butuh," ujarku sedikit kesal. Perasaanku ingin minggat meningkat 15 kali.
Namun, kilatan percaya diri itu masih setia berada di kedua bola matanya dan aku tahu bahwa aku tidak akan menyukai hasilnya. Terakhir kali dia berusaha memperkenalkanku dengan 'kenalan'nya, hasilnya menjadi sebuah bencana.
"Kau tidak akan menolak yang ini," kata Kise sedikit bersemangat. Dia bergeser sehingga orang yang berdiri di belakangnya bisa kulihat dengan jelas. "Ini Aomine Daiki, dia temanku di Universitas, tapi sekarang dia seorang Inspektur di Kepolisian Metropolitan."
Badannya tinggi, mungkin lebih tinggi dari Kise, meskipun dari tempatku berdiri tinggi mereka sepantaran. Rambutnya dipotong cepak, surainya berwarna biru kelam, seperti warna air laut di malam hari. Kedua matanya tajam dan berkerut. Dia tampak lebih tua dari usia seharusnya karena kerutan di wajahnya sangat banyak. Bibirnya menekuk ke bawah, seolah dia mengatakan bahwa dia tidak ingin berada di sini juga, sama seperti aku. Kulitnya sawo matang, mungkin karena dia terbiasa bertugas di lapangan dan pakaian yang dikenakannya sederhana. Tidak ada lambang merk terkenal, tapi melihat dari tekstur pakaiannya, jelas bukan murahan.
"Ini Akashicchi," kata Kise memperkenalkanku dengan singkat dan tidak jelas. "Ya sudah, aku akan meninggalkan kalian berdua untuk berkenalan. Ciao!" Setelah mengucapkan hal itu, dengan tidak bertanggung jawabnya dia pergi dan menghilang di lantai dansa. Suasana musik berubah menjadi lebih energik dan ceria. Mungkin karena Kise ikut berdansa, sehingga pheromone-nya memengaruhi seisi lantai dansa menjadi lebih energik.
"Akashi Seijuurou," kataku memperkenalkan diri dengan benar. Aku mengulurkan tanganku dan untuk sesaat aku takut jika dia tidak menyambutnya. Namun, lelaki itu menyambut tanganku dan kami bersalaman kaku seperti mendiskusikan proyek besar.
Genggaman tangannya kuat dan telapak tangannya besar. Ketika kami bersalaman, telapaknya terasa kasar, tapi gesekan itu tidak menyakitiku. "Aomine Daiki."
Perkenalan malam itu sangat singkat dan sangat kaku. Namun, aku tidak akan pernah melupakan pertemuan kami berdua.
.
"Bagaimana kemarin?" Tanya Midorima ketika kami bertemu untuk jadwal Sarapan Siang bersama.
Aku hanya mengaduk-aduk salad di depanku. Masih terbayang hasil rapat tadi pagi dan kepalaku semakin nyeri. "Terima kasih sudah meninggalkanku sendirian di sana," gerutuku dan aku menyuap satu potong tomat ceri ke dalam mulutku. Rasa segar asam pecah dimulutku dan aku mengunyahnya beberapa kali sebelum kutelan.
Dia membenarkan letak kacamatanya sebelum menyentuh makanan di depannya. "Apa boleh buat kalau ada operasi cito, nanodayo. Kau tahu bahwa aku harus mendahulukan pasienku lebih dari apapun."
"Anehnya, kau selalu jadi dokter on call tiap di Pesta Kise dan tiap kali selalu ada operasi cito," ujarku. Dia tidak menjawab. Itu hanyalah sebuah alasan yang kami berdua tahu pasti. Satu-satunya cara keluar dari Pesta Kise hanya jika kau punya operasi cito atau kau mati di tempat.
Kalian pasti berpikir 'jika tidak mau datang, kenapa harus tetap datang?', tapi kukatakan dengan mudah bahwa menghindari Kise lebih sulit dibandingkan menghindari nasib buruk. Aku pernah mengatakan bahwa Kise Ryouta menyukai pusat perhatian, karena itu dia akan mencari seribu satu cara supaya mendapatkan semua keinginannya. Termasuk datang ke kantorku tanpa penyamaran dan membuat heboh satu gedung. Dia memintaku datang seperti hendak melamarku.
Coba katakan padaku, bagaimana cara aku menolaknya?
"Wajahmu kusut," komentar Midorima.
"Terima kasih," kataku pelan. Salad di depanku terus kuaduk-aduk.
"Rapatmu tidak berjalan lancar?"
Aku mengangkat bahu. "Apa ada cara supaya kepalaku berhenti berdengung karena omelan tidak masuk akal para klien atau atasanku?" tanyaku. Dibandingkan makan salad, aku lebih ingin meneguk caffeine sebanyak 1 liter supaya aku punya cukup dopping adrenalin.
"Wah, kau merendah atau mengeluh? Mendengarnya saja membuatku jijik," ujar Midorima dingin dan tanpa perasaan.
Aku tertawa. "Boleh dong sesekali aku mengeluh."
"Dengan jabatanmu sebagai Executive Officer, rasanya keluhanmu salah tempat."
Aku menyandarkan punggungku ke punggung kursi. "Yah, mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa kuajak bermain Shogi selain kau."
"Bermain Shogi dan mengeluh itu berbeda, nanodayo."
Aku menyuap salad-ku.
Aku, Kise, dan Midorima merupakan teman lama.
Midorima Shintarou berbeda dengan Kise Ryouta. Dia adalah orang paling serius dan obsesif yang pernah aku temui di hidupku. Semua yang ada di dalam hidupnya sudah diperhitungkan dan dijalani sesuai dengan jadwal. Rambut yang dipotong 2 cm di atas alis dan setiap 2 bulan sekali di hari dan waktu yang sama dia akan memotongnya supaya tidak terlalu panjang ataupun pendek. Kacamata segi empat yang bertengger di wajahnya yang runcing, selalu pas terletak di tengah, tidak pernah miring dan lensa dari kacamatanya selalu berkilat. Dia selalu membersihkan lensa tersebut, bahkan setitik debu pun tidak tampak.
Kedua bahunya lebar dan postur tubuhnya selalu berdiri tegak sempurna. Kemeja yang dikenakannya selalu tampak rapi dan tidak ada lipatan karena duduk lama. Kedua tangannya selalu di tapping dengan kuku-kuku yang di manicure dengan sempurna. Pekerjaannya adalah seorang dokter bedah digestif, sehingga menurutnya perawatan tangan dan kuku merupakan salah satu asset penting dalam operasi (meskipun hingga saat ini aku tidak tahu hubungan antara kuku-kukunya dengan ruang operasi).
Midorima juga merupakan seorang Alpha. Pheromone dan aura dominansinya berbeda dengan Kise. Jika Kise mampu membuat semua orang terpana hingga tidak mampu memalingkan diri, Midorima adalah kebalikannya. Dominansinya terlalu dingin dan kaku, membuatmu sulit bernapas dan bergerak. Terlalu banyak aturan dan mengekang. Namun, seperti para Dominant Alpha lainnya, pheromone-nya sulit diabaikan. Aku jarang merasakan aura dominansi dari Midorima, tetapi jika kita sudah terperangkap di dalamnya, rasanya tidak bisa keluar.
"Kata Kise kau tidur dengan seseorang kemarin."
Aku hampir saja melempar wadah salad yang sedang kumakan ke arahnya. "Kau percaya dengan gossip Kise?" tuturku. Aku menunjuk diriku sendiri. "Aku, orang yang bahkan tidak tahan dengan udara di penthouse-nya, tidur dengan seseorang? Itu yang Kise katakan kepadamu?"
Midorima mengangkat bahu. "Tidur dengan orang satu malam dan pernikahan itu dua hal yang berbeda. Kau payah dalam pernikahan, tapi hanya itu saja."
Aku mendengus. Lama-lama acara Sarapan Siang kami ini jadi ajang Midorima untuk menghinaku. Dan dia paling suka menghina pernikahanku yang gagal sebelumnya. Karena dia tidak pernah menang melawanku saat kami bermain Shogi, maka dia selalu berusaha menghina pernikahanku yang gagal. Yah maaf saja, tidak semua orang beruntung bisa memiliki pasangan ideal seperti Midorima dan suaminya serta ketiga anak mereka.
Sungguh persahabatan yang indah!
"Kise hanya memperkenalkanku saja. Dan kami hanya bicara 2 detik sebelum aku memutuskan pergi dari sana. Dan aku jelas tidak tidur dengan siapapun malam itu."
Midorima tampak acuh tak acuh dan jelas dia hanya ingin mempermainkanku saja. Aku menyesal sudah terpancing jebakannya. Akhirnya, untuk beberapa waktu aku kembali memakan salad di depanku dan Midorima memakan fish and chip di depannya.
"Memangnya suamimu tidak marah kau datang ke Pesta Kise? Siapa tahu kau berbau omega lain," komentarku setelah kami diam sekitar 5 menit.
"Kau pikir dia itu anjing yang membaui majikannya apa? Justru dia yang menyuruhku datang karena dia berpikir aku terlalu sibuk bekerja."
Sungguh pemikiran yang aneh dan ajaib dari pasangan Midorima. Namun, pernikahan mereka berjalan lancar sehingga aku tidak bisa berkomentar tanpa membuat Midorima mencela kegagalanku sendiri.
"Kupikir kau akan dikunci di luar rumah dan tidur di kandang anjing kalian," komentarku.
Midorima hanya menatapku dengan tatapan dinginnya tapi tidak membalas komentarku. Dia tahu bahwa aku pun bisa sama menyebalkannya jika aku mau.
Setelah makanan kami habis, kami menyudahi acara Sarapan Siang tersebut. Aku harus kembali ke kantor dan Midorima juga harus kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 ketika kami sepakat keluar dari restoran tempat biasa kami bertemu untuk Sarapan Siang. Saat kami keluar, sudah banyak orang-orang yang memenuhi bangku restoran untuk makan siang. Karena alasan itulah kami berdua lebih memilih untuk Sarapan Siang, agar kami tidak berada di restoran saat jam sibuk.
Tempat kerja kami berbeda arah, tetapi letak restoran favorit kami berada di tengah antara jarak kantorku dan RS tempat Midorima praktek. Itu adalah alasan kedua kami memilih restoran tersebut. Kami berjalan bersama ke parkiran mobil.
"Tapi kau berkenalan dengannya?" Tanya Midorima. Untuk sesaat aku tidak tahu siapa yang dimaksudya, tetapi aku segera sadar bahwa dia membicarakan tentang orang yang dikenalkan oleh Kise padaku di Pestanya.
"Yah, berkenalan tidak ada salahnya kan?" ujarku.
"Oh, jadi kau tertarik dengannya. Baguslah."
"Aku tidak berkata seperti itu. Aku hanya berkata bahwa tidak salah berkenalan dengan orang," ralatku. Namun, aku tahu bahwa aku sedang menggali kuburanku sendiri.
"Responmu yang biasa adalah menggerutu mengenai Kise dan merendahkan semua kenalannya," kata Midorima penuh perhitungan. Aku benci ketika dia sudah mulai menganalisis seperti aku adalah pasiennya. Dan aku jelas bukan pasiennya, dia bahkan bukan seorang psikiater! "Tapi sekarang kau berkata bahwa tidak ada salahnya untuk berkenalan. Itu jelas karena kau tertarik dengannya. Coba pikir, berapa banyak pria yang mampu berkenalan denganmu?"
Lagi-lagi pertanyaan retorik.
"Entahlah. Beberapa, mungkin?"
"Nol. Kau mana pernah berkenalan dengan orang baru, apalagi dari lingungan kerja Kise."
Aku kehabisan kata-kata. Di balik kacamatanya yang super jernih sampai aku tidak yakin itu ada lensanya atau tidak, kilatan kemenangan terpancar dari irisnya. Kilatan yang sama ketika dia menghina gagalnya pernikahanku dan ketika dia tidak mampu membuatku membalas kata-katanya. Dia jarang sekali menang melawanku, jadi setiap matanya berkilat penuh keangkuhan dan kemenangan seperti itu, aku bisa langsung menyadarinya.
"Apa ini efek kau menikahi seorang novelis dengan tema psikologis? Kau jadi pandai berkata-kata," kataku kalah telak.
Midorima tidak pernah tertawa terbahak-bahak, itu bukan sifatnya. Dia akan selalu menjaga ketenangannya, karena itu adalah bagian dari sisi obsesif kompulsifnya. Namun, aku tahu bahwa jika dia merasa senang, aura dominansinya keluar sedikit. Dia tidak menyadarinya, tetapi aku sedari dulu sensitif terhadap pheromone orang-orang di sekitarku. Pheromone dingin nan kaku yang mampu membekukan setiap orang di sekitarnya.
"Kendalikan pheromone-mu. Kau mau membekukan seluruh kota?" kataku.
"Ah maaf. Aku tidak sadar," katanya. Pheromone-nya berkurang sedikit demi sedikit. "Bagaimana kau menyadarinya?" tanyanya.
Aku mengangkat bahu. "Insting, kurasa."
Dia tidak membalas. Kami menuju mobil masing-masing yang di parkir bersebelahan. "Sampai jumpa Akashi."
"Titip salam untuk si kecil dan Kazunari-sensei ya," ujarku sebelum masuk ke mobil. Midorima tidak membalas kata-kataku. Tak berselang lama, mobilnya meluncur keluar dari parkiran restoran dan berbaur bersama ribuan mobil lainnya di jalan raya Tokyo yang super padat. Aku masih berada di dalam mobil, masih belum mau kembali ke kantorku dan menghadapi rapat alot dengan Dewan Direksi ataupun menghadapi amukan bosku, sang CEO.
Ponselku berbunyi dan pesan ada pesan dari sekretarisku, berbunyi: Tuan Nash Gold Jr ingin bertemu dengan Anda, Akashi-san.
Aku tergoda untuk membalas bahwa aku mendadak serangan jantung dan harus menginap di ICCU selama 2 minggu. Namun, Nash Gold Jr tidak akan membiarkanku tenang bahkan ketika aku sudah mati. Jadi, aku men-starter mobil dan meluncur kembali menuju kantorku sambil berharap telingaku tidak tuli setelah mendengar amukan dari Nash Gold Jr, bosku yang paling baik.
.
AOMINE DAIKI
"Hanya satu kali ini sajaaaa! Ya, ya, ya! Aominecchi~!"
Aku menjauhkan ponselku karena suara cempreng milik Kise membuat gendang telingaku berdarah.
"Aku sibuk, Kise. Aku bukan supermodel kaya yang bisa membuat Pesta tiap 2 hari sekali," kataku sambil berusaha menyusun tumpukan berkas di kepolisian yang harus aku tandatangani. Aku merasa sudah mengerjakan semua berkas itu minggu lalu, tapi setiap hari ada tumpukan baru dan aku sudah tidak bisa melihat dasar meja kerjaku lagi di Kantor Polisi ini.
"Tapi kau tidak pernah datang, ssu. Dengar Aominecchi, cara paling ampuh untuk memulihkan diri adalah bertemu dengan orang baru. Masa kau masih terus berdu–"
"Kalau kau bicara omong kosong terus, aku akan mengabaikanmu selamanya. Berhenti membuang waktuku!" potongku dengan sangat kasar.
Kise bisa menjadi sangat brengsek kadang-kadang. Dia hidup di bawah cahaya gemerlapan dunia entertainment dan hiburan. Hidupnya disorot dan dia tidak punya privasi. Dukanya, Sukanya, Kesedihannya, Kemarahannya, dia tidak memiliki itu semua. Di bawah cahaya yang menyorotnya, dia harus terus memainkan peran yang dicintai semua orang. Namun, hal itu terkadang membuatnya bertindak tidak peka. Dia tidak tahu bahwa tidak semua orang bisa hidup menyembunyikan perasaan seperti dia melakukannya.
"Tapi Aominecchi! Kau harus datang. Titik. Kalau kau tidak datang, aku bisa membawa ribuan wartawan ke Kantor Polisi Metropolitan untuk menyeretmu."
"Aku sedang tidak di Tokyo, Kise. Aku sedang di Afganistan."
"Jangan bohong, ssu! Pokoknya malam ini kau harus datang! Kita sudah lama tidak bertemu."
"Masa? Seingatku layar utama Neflix-ku berisi wajahmu dan film barumu. Aku sudah bosan melihatmu."
"Tapi aku tidak melihatmu! Pokoknya nanti kau akan dijemput di mansion. Ciao!"
Lalu, telepon dimatikan secara sepihak oleh si supermodel. Aku kembali mengantongi ponsel tersebut dan mengambil berkas lainnya yang harus ditandatangani. Belum lagi aku harus menghadiri rapat dengan Para Komisaris untuk membahas hal-hal remeh yang sebenarnya bukan tugasku melainkan tugas Departemen Sarana dan Prasarana. Menjadi Inspektur tidak seenak kelihatannya.
Mungkin kalian bertanya bagaimana mungkin aku dan Kise bisa saling mengenal satu sama lain. Kehidupan yang kami jalani sangat berbeda dan seharusnya tidak bersinggungan. Namun, itulah yang terjadi. Kehidupan kami bersinggungan. Jauh sebelum Kise menjadi Aktor papan atas dan juga supermodel, dia adalah teman satu eskul di Universitas ketika aku masih seorang mahasiswa Fakultas Hukum.
Kami berdua sama-sama mahasiswa baru dan baru saja bergabung ke dalam eskul debat. Di masa perploncoan, kami berkenalan dan berteman. Sifat kami berbeda jauh, tapi Kise adalah orang yang hebat. Kemampuan bicaranya lihai dan gesture tubuhnya memukau. Setiap dia bicara dalam sesi debat, semua napas tertahan hanya untuk menatapnya. Bahkan jika yang dia katakan adalah omong kosong, semua kepala akan mengangguk menyetujui pendapatnya.
Kira-kira seperti itulah awal mula pertemananku dengan Kise. Kupikir karena dia sudah sibuk membintangi berbagai serial televisi dan menjadi supermodel, hubungan kami terputus. Namun, Kise memang orang yang tidak bisa ditebak dan seenaknya. Dia memiliki kriteria pertemanan yang hanya bisa ditentukan olehnya. Sesekali kami saling bertukar kabar, bahkan saat aku masuk ke Akademi Kepolisian dan akhirnya menjadi detektif. Dan ketika aku menikah pun, Kise hadir di dalam acara tersebut, dalam penyamaran dan tanpa mengundang berbagai awak media. Dia bisa menjadi orang yang sangat bermurah hati jika mau. Namun, dia jarang bermurah hati. Sisi egoisnya lebih banyak menguasai dirinya.
Entah sudah berapa banyak dokumen yang kubaca sampai mataku berputar-putar. Kupikir dulu menjadi polisi adalah hal yang menyenangkan dan tidak pernah membuat bosan. Menangkap penjahat, menyamar, dan berkelahi adalah 3 hal yang menjadi alasanku menjadi seorang polisi. Namun, semakin tinggi jabatan yang kunaiki, semakin pula banyak tumpukan dokumen yang harus kukerjakan, duduk di belakang meja seperti karyawan pada umumnya dan mati dalam kebosanan.
"Aomine-san," panggil seseorang.
Dari pintu ruang kerjaku, Sakurai sedang berdiri takut-takut seolah dia baru saja keluar dari ruang interogasi yang penuh penyiksaan. "Apa?" tanyaku malas. Aku tidak bisa jika harus menghadapi satu dokumen lagi.
"Komisaris Imayoshi-san ingin bertemu dengan Anda," katanya takut.
"Bilang padanya aku sedang rapat dengan Komisaris lain yang lebih penting darinya. Ah, atau bilang saja aku sedang ada urusan di Paris."
"Mana bisa seperti itu, Aomine-kun."
Suara nyaring milik atasanku, Komisaris Imayoshi, mengudara di ruang kerjaku. Dia sudah berdiri di belakang Sakurai yang tampaknya ingin mati detik itu juga. Dengan seenaknya dia mengusir Sakurai dari ruanganku dan duduk di sofa yang memang disediakan untuk para tamuku. Namun, jelas dia bukan tamu undangan. Aku tidak ingat pernah mengundangnya.
"Cih," dengusku. Aku ingin mengusirnya lagi, tapi aku tahu Imayoshi akan semakin menyebalkan dan susah dihilangkan seperti kerak pada panci kotor.
"Kopi hitam saja tanpa gula dan tanpa creamer."
"Ini bukan café." Aku duduk di kursiku. Banyak hal lain yang lebih penting yang harus diurus selain mengurusi Imayoshi.
"Dan asbak rokok."
"Jangan basa-basi. Kenapa kau datang kemari? Apa Komisaris tidak ada kerjaan lagi selain mengganggu bawahan yang sedang ingin bekerja?" sindirku sengit, berharap dia akan merasa terluka dan pergi dari kantorku. Namun, kita membicarakan Imayoshi di sini. Jika dia segampang itu untuk disakiti, dia tidak akan menjadi Komisaris Polisi di usia yang masih terbilang muda. Dia adalah orang paling tangguh yang pernah aku kenal.
Aku tidak dapat merasakan apapun mengenai pheromone Alpha dan Omega karena aku sendiri seorang Beta, tetapi aku tidak perlu menjadi Alpha untuk mengetahui betapa mengerikan seorang Imayoshi Shoichi. Dia punya bakat menjadi seorang pemimpin, dia tahu caranya mengendalikan para bawahan, tahu caranya bicara pada atasan dan dia tahu kapan harus menunduk serta kapan harus menyerang. Pembawaannya tenang seperti permukaan lumpur isap. Bahkan badai sekalipun tidak mampu membuat permukaan lumpur isap itu bergerak.
Namun seperti lumpur isap, dia akan menelan semua musuhnya hingga tidak bersisa. Ketika kau sudah tenggelam di dalam kemarahan Imayoshi, kau tidak akan bisa mencapai permukaan lagi. Kau akan terseret ke dalam lumpur tanpa dasar. Tenggelam hingga hancur. Imayoshi tidak akan membiarkan lawannya punya kekuatan untuk bangkit lagi setelah dihancurkan. Dia akan selalu memastikan bahwa dia akan menjadi pemenang terakhir.
Aku meraih telepon yang terhubung ke Sakurai dan menyebutkan permintaan Imayoshi. Senyumnya semakin berkembang setiap kata-kata dariku keluar. Lama-lama, senyumnya mampu menyentuh telinganya dan di situlah aku tahu bahwa monster yang sesungguhnya tidak berada di bawah tempat tidur, melainkan berjalan bersama kita dan hidup berdampingan dengan kita.
"Jadi, kau mau menyebutkan alasanmu datang ke sini?" tanyaku.
Semakin cepat dia pergi dari tempatku, semakin bagus prognosisku untuk hidup sampai 80 tahun. Jika dia tidak keluar dari kantorku, aku yakin bahwa aku akan menderita hipertensi dalam jangka waktu dekat.
"Aku mau melihat kinerjamu." Dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah mejaku. "Di antara semua orang, kau adalah orang yang paling rajin dalam menangani suatu kasus. Bahkan, kau menyelesaikan kasus orang lain yang bukan milikmu. Mungkin aku ingin kau bicara pada para murid Akademi tahun ini sebagai motivator."
Dasar brengsek! Aku ingin memaki seperti itu, namun kutahan kuat-kuat supaya aku tidak kelepasan mengumpat pada atasanku dan dikenakan Surat Peringatan. Bukan hal baik jika seorang Inspektur dikenakan SP.
"Jangan main-main Imayoshi-san," kataku.
Dia mengeluarkan tawa yang sangat dingin. Lalu, dia meraih sebuah figura yang selama ini tidak pernah kusentuh ataupun kulihat lagi. Aku meletakkan figura itu terbalik di atas mejaku agar aku tidak harus lagi menatapnya. Aku tidak sanggup membuangnya, tetapi aku pun tidak sanggup untuk menatap foto di dalam figura itu. Jadilah selama bertahun-tahun aku membiarkannya begitu saja di atas mejaku. Supaya aku tidak punya alasan untuk melihatnya.
Dia menatap foto di dalam figura itu. Meskipun sudah bertahun-tahun, aku masih ingat foto di dalamnya. Aku tidak butuh figura untuk membangkitkan memori tersebut. Karena memori itu ada di dalam hatiku.
"Motivasi atau pelarian?"
Kurebut figura itu dari tangannya dan kumasukkan ke dalam laci mejaku. "Kau datang kemari hanya untuk mencari masalah denganku?" tanyaku sengit.
Senyumnya tidak luntur dari wajahnya. "Ekspresimu sangat mengerikan. Pantas para penjahat langsung menyerahkan diri."
Aku harus mengulang-ulang di dalam hati bahwa orang yang sedang mengejek lukaku adalah atasanku, karena aku sudah gatal ingin sekali menghajarnya dan menghapus senyuman congkak tersebut. "Cepat katakan apa maumu," desakku.
Dia menghela napas. "Baiklah." Dia berdiri di depanku. "Aku dihubungi oleh Biro Pertahanan. Kasus yang sedang kau kerjakan, mereka menginginkannya."
Aku menggebrak meja. "Enak saja! Mereka pikir mereka itu siapa? Hanya karena mereka mengurusi masalah terorisme saja, sombongnya selangit!" Aku berseru kesal.
Aku mengerjakan kasusku selama berbulan-bulan, belum lagi pengintaian dari dua tahun yang lalu dan sekarang, setelah setengah jalan, Biro Pertahanan ingin mengambil begitu saja? Aku yang bekerja keras dan mereka yang menerima hasilnya? Dan lagi, di ujung rapat yang akan dipuji-puji itu mereka, bukan aku! Kenapa aku harus menyerahkan hasil jerih payahku?
"Kecilkan suaramu. Satu lantai bisa mendengar teriakanmu," kata Imayoshi tenang.
Aku berdecak. Kantor kami tidak kedap suara, meskipun aku memiliki ruang kerja sendiri. Aku melirik para polisi yang bertugas dari ruanganku via kaca tipis yang membatasi ruangan kami dan aku yakin bahwa mereka mendengar seruanku. Sebentar lagi aku akan jadi bahan gossip kantor.
"Ck, sial." Aku menatap Imayoshi. "Kau tidak bisa bernegosiasi dengan mereka? Intimidasi mereka? Bunuh keluarga mereka?" tanyaku.
"Kau pikir aku ini mafia? Percayalah Aomine, aku sudah mencoba bicara dengan pihak mereka. Namun, kepentingan kita berdua sama."
"Sama? Mereka semata-mata terlalu malas untuk menggarap kasus ini dari awal dan sekarang setelah aku menemukan celah, mereka menginginkannya? Apa kau bertanya dimana mereka saat aku bersusah-susah mengintai dengan timku?"
"Birokrasi mereka lebih pelik dari kita, kau tahu itu. Aku tahu kau tidak akan menyerahkannya semudah itu."
"Memang!" sahutku sengit.
"Tapi mereka lebih memiliki kuasa dari kita. Jika mereka mengambil paksa kasus itu, aku tidak akan bisa melindungimu lagi. Pikirkanlah Aomine. Musuh kita sama dan kita tidak boleh bertengkar dengan satu sama lain."
Aku tahu itu sebenarnya. Namun, aku tidak tahan dengan Biro Pertahanan yang terkadang terlalu memandang rendah polisi seperti kami. Memang, jabatan mereka lebih tinggi, tugas mereka lebih sulit dan tanggung jawab mereka besar. Namun, kami juga sama. Kami punya tanggung jawab yang harus dilaksanakan.
"Kau tahu kenapa aku menyetujui mereka mengambil kasus itu darimu?" Tanya Imayoshi.
Aku tidak mau tahu jawabannya, meskipun aku tahu apa jawabannya. Aku hanya ingin dia diam dan membiarkanku melampiaskan kemarahanku. Namun, bukan Imayoshi jika dia tidak berhasil menghancurkan seseorang. Dia akan berusaha menghancurkanku untuk memegang kelemahanku. Namun, kelemahanku sudah tidak ada lagi.
"Supaya kau berhenti balas dendam sendirian."
.
Aku jelas tidak bersemangat pergi ke Pesta Kise. Pertemuanku dengan Imayoshi, kasusku yang seenaknya diberikan kepada Biro Pertahanan, dan lagi Imayoshi yang sukses menghancurkanku di akhir pertemuan kami, itu semua membuatku ingin mati saja di suatu tempat yang sepi. Namun sesuai janji, sopir Kise sudah tiba dan menungguku di depan mansion tempatku tinggal. Aku tidak mau menyenangkan Kise, tapi aku tidak mau membuat si sopir malang mendapat amukan Kise karena tidak menjemputku. Jadi, aku mengambil baju asal dan memakainya. Aku hanya berencana menongolkan wajah satu detik di hadapan Kise dan kemudian pulang diam-diam.
Kise memang orang nyentrik, bahkan selera mobilnya saja unik. Namun, setidaknya dia tidak menjemputku dengan mobil yang aneh-aneh karena aku masih punya reputasi sebagai Inspektur yang harus kujaga. Si sopir membungkuk ketika aku berjalan ke arahnya dan dia membukakan pintu belakang mobil. Aku duduk dengan nyaman di dalam mobil seharga ratusan juta dollar dan menikmati pemadangan Kota Tokyo yang begitu mencekik.
Tidak ada suara degungan mesin ataupun gesekan ban mobil dengan aspal. Rasanya seperti kita melayang di jalan tol. Aku bisa sedikit menikmati kemewahan yang ditawarkan Kise. Aku memejamkan mata dan membiarkan musik Pop yang sedang populer di Jepang berputar. Di dalam mobil yang nyaman tersebut, rasanya aku bisa memutar balik waktu kembali ke masa hidupku biasa-biasa saja tapi aku cukup bahagia. Aku punya segala yang aku impikan. Aku tidak membutuhkan apapun lagi. Tapi tentu saja bukan hidup namanya jika kau tidak menderita.
Mobil berhenti di sebuah gedung mansion super mewah yang merupakan tempat tinggal berbagai selebritas dan juga para pengusaha kaya (atau simpanan mereka). Ini bukan pertama kali aku diundang ke kediaman Kise, tapi berkali-kali pun aku tetap terpukau oleh keindahan dan kemewahan yang disajikan oleh arsitektur gedung tersebut.
Selera Kise memang tidak jauh dari kepribadiannya. Dia memilih tempat tinggal yang mencolok, dikelilingi oleh energi positif dan kekayaan yang membuat semua iri sekaligus terpesona. Sopir tersebut mengantarku sampai ke depan lift dan aku menuju penthouse milik Kise.
Pesta telah dimulai sejak beberapa jam yang lalu. Aku memang berbohong pada Kise supaya aku tidak dijemput lebih awal. Suara musik yang berdentum-dentum menyambut panca inderaku. Aroma alkohol yang menyengat dan seruan orang-orang mengudara. Beberapa orang sudah tampak teler dan mabuk, tapi tubuh mereka masih bergoyang mengikuti irama lagu. Semua ini tampak familiar, seperti satu klub malam dipindahkan ke ruangan ini. Aku bahkan tidak pernah melihat penthouse ini sepi dengan perabotan normal pada umumnya. Mungkin Kise sengaja membeli penthouse ini hanya untuk berpesta.
Aku tidak melihat si tuan rumah dimanapun. Seorang pelayan menawarkan segelas champagne dan aku mengambil satu. Semua alkohol milik Kise adalah alkohol mahal yang tidak akan pernah aku beli untuk diriku sendiri, apalagi ditawarkan kepada banyak orang. Jadi, mumpung aku bisa mendapat champagne mahal secara gratis, aku akan menikmatinya.
Banyak wajah yang sering kulihat di televisi ataupun Netflix. Selebritas ini dan itu dan beberapa di antaranya aku tidak melihat para selebritas dengan pasangan mereka. Aku mengabaikan apa yang aku lihat. Aku menuju sebuah bar yang ada di sisi ruangan dengan seorang bartender yang sibuk mengelap gelas. Hanya ada beberapa orang yang sedang asyik minum atau mengobrol dalam suara rendah di bar tersebut.
"Aku mau minuman paling keras," kataku. Aku menaruh gelas champagne kosong di meja depanku yang langsung diambil oleh bartender tersebut. "Dan aku mau bir murah seandainya aku tidak suka minumanmu," tambahku.
Bartender itu hanya tersenyum. Mungkin itulah salah satu syarat menjadi bartender, yaitu mampu tersenyum dalam kondisi apapun meskipun para pelanggannya meminta hal-hal aneh. Seandainya aku punya kesabaran sebesar bartender di depanku, aku pasti bisa menghadapi Imayoshi dan membungkamnya supaya dia tidak bisa lagi menyeringai seperti setan di depanku. Dan aku pasti bisa menghadapi Biro Pertahanan karena sudah seenaknya mengambil kasusku.
Aku sedang sibuk menonton bartender meracik minumanku sebelum leherku dirangkul dengan kuat dari belakang. Lidahku hampir putus karena tergigit.
"AOMINECCHI! Kau datang akhirnya, ssu~!" suara Kise tepat di telinga kiriku. Dia masih merangkul leherku dan tidak melepaskannya.
"Kau memaksaku datang," gerutuku.
Kise berbau parfum mahal dan alkohol. Wajahnya rupawan dan sebuah senyum seterang lampu bohlam menghiasi wajahnya. Rambut pirangnya disisir menyamping, menampilkan rahangnya yang lancip dan bibirnya yang tipis. Telinga kirinya ditindik dan dia memakai anting perak. Kise jauh lebih memukau jika dilihat secara langsung dibandingkan aku melihatnya di layar televisiku.
"Aominecchi, aku ingin mengenalkan seseorang," katanya sambil menarik lenganku. Minumanku baru saja jadi dan bartender tersebut langsung menyimpannya. Dia tahu tidak boleh mengusik tuan rumah meskipun aku sangat ingin meneguk minuman keras tersebut.
"Minumanku baru jadi," kataku berusaha melepaskan diri.
"Nanti aku akan minta bartender membuatkan minuman itu sampai kau mabuk, ssu. Tapi sekarang kau harus ikut aku." Dia masih setengah menyeretku. Kami tidak ke lantai dansa (terima kasih, Tuhan), dan kami terus menuju balkon yang menampilkan pemandangan Kota Tokyo yang megah dan tidak pernah tidur. Lampu-lampu dari gedung-gedung tinggi dan pencakar langit menerangi malam di Tokyo. Langit tampak bersinar terang karena cahaya dari Kota Tokyo, dan aku bisa melihat pelabuhan di kejauhan. Aku paham mengapa Kise menginginkan penthouse ini, karena pemadangan yang disuguhkan ketika malam begitu menakjubkan, apalagi di pagi hari.
Kise berhenti berjalan ketika kami sampai di ujung balkon. Awalnya aku tidak melihat siapa yang diajak bicara oleh Kise, tetapi dia segera menyingkir dari depanku dan aku melihatnya untuk pertama kali.
"Ini Aomine Daiki, dia temanku di Universitas, tapi sekarang dia seorang Inspektur Detektif di Kepolisian Metropolitan."
Seorang lelaki yang tidak begitu tinggi. Tingginya hanya mencapai daguku. Rambutnya sedikit berantakan karena terkena angin malam, tetapi surainya berwarna merah seperti darah segar yang baru menetes dari tubuh seseorang. Meskipun rambutnya berantakan karena angin malam, hal itu tidak mengurangi keindahan wajahnya. Wajahnya kecil, rahangnya tajam, dan air mukanya keras. Tatapan matanya tajam, seperti seekor serigala yang tengah berada di tengah hujan salju. Di bawah penerangan balkon, kulitnya tampak sangat pucat, hampir seperti tidak ada darah dalam tubuhnya. Seolah darahnya telah berkumpul mewarnai rambut dan iris matanya. Tubuhnya tidak terlalu kurus, semuanya dalam proporsi yang pas. Dia memakai kemeja santai dan celana panjang hitam. Yang membuatku sulit berkonsentrasi adalah lehernya yang super jenjang sampai beberapa otot leher terlihat ketika dia mendongak melihatku.
Ekspresinya suram, seperti dia sudah bosan atau seperti Kise sudah melakukan hal ini ribuan kali kepadanya. Percayalah, meskipun kami baru pertama kali bertemu, aku tahu perasaannya.
"Ini Akashicchi." Hanya itu perkenalan dari Kise. "Ya sudah, aku akan meninggalkan kalian berdua untuk berkenalan. Ciao!" Dan dengan tidak bertanggung jawab, dia meninggalkan kami berdua sendirian. Dua orang asing dengan eskpresi suram dan hendak pergi secepatnya ditinggalkan berdua saja.
Aku sudah hampir pergi tanpa mengatakan apapun, tetapi lelaki itu mengulurkan tangannya. "Akashi Seijuurou," katanya. Suaranya dalam dan jernih. Seperti suara air terjun yang kita dengar dari dalam air.
Setelah banyak pertimbangan, aku memutuskan untuk menyambut uluran tangannya, demi sopan santun. "Aomine Daiki."
"Aku tidak tahu Kise punya kenalan di Kepolisian," katanya setelah kami melepaskan jabat tangan formal dan kaku itu.
Aku mengangkat bahu. "Kenalan Kise banyak. Kau sepertinya bukan selebritas."
Dia menggeleng. "Aku hanya karyawan biasa."
Aku tidak tahu dia hanya merendah atau berbohong, karena aku bisa menilai dari pakaian yang dikenakannya, jelas itu bukan barang murah. Jam tangannya saja aku bisa memperkirakan harganya jutaan yen. Namun, aku tidak berkomentar apapun.
"Seperti kubilang, kenalan Kise banyak."
Dia mengangguk. Kami kehabisan bahan obrolan. Aku tidak tahu mengapa Kise mau memperkenalkan kami berdua dan meninggalkan kami begitu saja. Yang jelas, Kise adalah mak comblang terburuk yang pernah kutemui. Dan jelas ini semua tanpa sepersetujuan kami berdua.
Aku mengamati lagi wajahnya yang tampak tidak nyaman, seolah mencari alasan untuk pergi. Aku mendekatkan diri supaya suaraku lebih terdengar. "Mau keluar dari tempat ini?"
.
Akashi tidak menolak ketika aku mengajaknya keluar dari penthouse Kise. Ketika kami berdua pergi, Kise sedang asyik di lantai dansa dikelilingi berbagai orang. Dia bahkan tidak sadar ada tamunya yang menyelinap keluar. Setelah kami turun dari lift dan keluar dari gedung super mewah itu, aku berjalan di sampingnya. Untuk sesaat, kami tidak bicara satu sama lain.
"Dimana kau mengenal Kise?" akhirnya aku bertanya untuk memecah keheningan.
"Kami satu sekolah dulu. Kau tahu Kise, dia tidak akan melepaskan orang-orang yang bisa menghiburnya, jadi disinilah aku."
Aku tertawa singkat. "Memang. Kita seperti badut pribadinya saja. Sampai dia bosan." Kami berjalan tidak jelas. Jalan raya sudah mulai sepi, tetapi mobil-mobil masih memenuhi jalanan. Di malam hari seperti ini sudah banyak restoran dan café yang tutup. Yang buka biasanya hanya bar-bar kecil tempat pelarian para karyawan yang tertekan sepulang kerja.
"Apa kau satu fakultas dengan Kise? Tadi dia bilang kau teman kuliahnya."
"Ah, aku di fakultas hukum, sementara Kise di fakultas komunikasi. Kami satu eskul. Makanya kami saling kenal."
"Eskul apa?" tanyanya. Pipinya sedikit merona merah akibat udara yang lumayan dingin di penghujung musim panas ini.
"Eskul debat."
Lalu, hening kembali.
Maksudku, wajar jika kita kehabisan bahan cerita dengan orang yang baru dikenal, bukan? Aku baru mengenai Akashi Seijuurou selama 3 menit dalam hidupku dan tidak mungkin aku sudah bercerita mengenai Biro Pertahanan yang mengambil kasusku dan atasanku yang menyebalkan. Dan lagi, Akashi tampaknya bukan tipe orang yang mudah terbuka dan banyak bercerita kepada orang baru.
"Aku akan pulang," kata Akashi.
"Apa kau memakai sopir?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Aku akan naik taksi saja. Stasiun kereta lumayan jauh dari sini."
"Aku akan menemanimu sampai mendapat taksi," kataku. "Sudah malam bahaya sendirian di luar."
Dia menatapku dengan kilatan tidak suka. "Aku sudah biasa. Lagipula ini masih daerah ramai."
"Kau tidak pernah tahu kapan musibah akan menimpamu. Ada baiknya aku menunggu sampai taksimu datang."
Akashi tampak ingin berdebat, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kami berdiri dalam diam sementara tidak ada taksi yang lewat. Surai merahnya berkibar lembut setiap angin musim panas akhir membelainya. Rambutnya panjang, tetapi setiap kali angin berhembus, leher jenjang itu terekspos bebas.
Aku tidak punya fetish terhadap leher, tapi yang jelas aku sulit berkonsentrasi setiap melihat leher itu. Leher putih, jenjang dan otot yang menonjol. Dengan cepat aku mengenyahkan pikiran kotor seperti itu dan memandang langit tanpa bintang dan bulan. Rasanya seperti aku berselingkuh dengan pikiranku sendiri dan itu tidak baik. Jika ini adalah keinginan Kise, maka dia sudah sukses mengobrak-abrik ketenanganku di malam hari ini.
Ketika sebuah taksi akhirnya mendekat, aku memberanikan diri. "Ayo kita bertukar nomor telepon."
Akashi menatapku dengan pandangan bingung dan terkejut. Mungkin dia berpikir aku adalah lelaki paling lancang karena sudah berani meminta nomor teleponnya. Aku sendiri terkejut karena aku masih bisa tertarik pada orang lain setelah bertahun-tahun aku menutup seluruh diriku dari dunia luar dan perasaan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Ketika taksi sudah berhenti di depan Akashi, dia belum merespon apapun dan aku harus meralat kalimatku agar aku tidak malu. Lagipula, aku tidak tahu apakah Akashi masih mau bertemu denganku lagi setelah ini. Namun, dia merentangkan tangan kanannya seperti hendak meminta sesuatu. Aku menatapnya bingung.
"Ponselmu," katanya singkat.
Dengan sedikit gugup, aku mengambil ponselku dan menyerahkannya. Dia mengetikkan nomor ponselnya dan setelah itu dia mengembalikan ponselku. Barulah dia membuka pintu taksi. Sebelum dia masuk, dia berkata, "Sampai jumpa Aomine Daiki."
Dan di saat itu aku tahu bahwa dia menantikan pertemuan kami selanjutnya.
.
AKASHI SEIJUUROU
"Woah, apa akan terjadi hujan uang hari ini?" komentar Taiga yang tidak masuk akal membuatku mengangkat pandangan dari ponselku.
"Apa kau sudah gila sepenuhnya?" tanyaku.
Taiga duduk di depanku. "Kau yang sudah gila Sei. Sejak kapan kau tersenyum ketika melihat ponselmu?" Dia mengambil nasi setinggi Gunung Fuji dan lauk pauk yang mampu mengenyangkan 10 ribu penduduk di Afrika sana.
"Jangan berisik pagi-pagi, Taiga. Dan tumben kau pulang ke rumah di hari biasa."
Aku menoleh untuk melihat kakak laki-laki pertamaku, Akashi Chihiro. Dia tidak tampak seperti keturunan Akashi lainnya yang memiliki rambut semerah darah. Rambutnya senada dengan abu bekas kebakaran hutan, begitu pula dengan kedua iris matanya, sekosong pemakaman. Hal itu dikarenakan dia merupakan anak Ayah kami dari istri pertamanya. Setelah Ibu Chihiro meninggal dunia, Ayah kami menikah dengan Ibuku dan melahirkan Taiga dan aku. Namun, mungkin sudah kutukan di keluarga Akashi, bahwa semua istri Ayah meninggal. Kini, di keluarga Akashi hanya ada 4 orang lelaki tanpa seorang wanita.
Taiga sudah memakan makanannya, sementara aku hanya menyeduh kopi hitam dengan cream yang banyak. Aku sudah mual dan kenyang menatap Taiga makan, rasanya seperti menonton mukbang secara live. Chihiro mengambil jus jeruk dan meneguknya dengan berirama. Dia tidak mengambil makanan apapun dari meja makan.
"Karena Ulangtahun Ayah sudah dekat. Bukankah tahun ini mau diadakan gathering beserta teman-teman lamanya?" tanyaku.
"Aku tidak paham. Kenapa semakin tua, keinginan orang semakin aneh," kata Taiga dengan mulut penuh makanan. Aku melempar serbet ke wajahnya.
"Jorok," kataku.
"Gathering itu membuat sakit kepala saja," gerutu Chihiro. Kakak tiriku itu jarang menggerutu dan biasanya dia orang yang sabar dan tidak peduli. Namun, karena tahun ini Ayah meminta hal aneh untuk ulangtahunnya, mau tidak mau dia jadi terlibat.
"Menurutmu Ayah akan…" kalimat Taiga terpotong karena Chihiro memukul kepalanya dengan sendok teh. "Sakit! Aku bahkan belum bicara apapun!"
"Aku tahu apa yang mau kau bicarakan. Kau dan semua takhayul-mu."
Aku setuju dengan Chihiro. Meskipun Taiga lahir 2 tahun lebih dulu dariku, tapi aku tidak merasa dia seperti kakakku. Dia masih sering dimarahi oleh Chihiro dan masih sibuk meminta pendapatku. Rasanya aku merangkap sebagai adik sekaligus kakak di rumah ini.
"Di duniaku takhayul itu membawa kemenangan tahu!" gerutu Taiga.
Taiga adalah seorang pemain basket professional. Bakat basketnya paling menonjol di antara semua anak Ayah dan dia paling rajin mengasahnya. Ketika dia SMA, seorang pelatih di Amerika Serikat merekrut Taiga untuk bersekolah di Amerika Serikat dan setelah lulus dia langsung bergabung dengan tim NBA. Taiga sudah mengubah kewarganegaraannya sebagai warga Amerika Serikat dan saat ini dia adalah pemain tim inti dari tim basketnya. Pertandingan basketnya sering disiarkan di Fox Channel dan aku sering menontonnya. Namun, dia datang ke Jepang karena Ayah kami akan berulangtahun.
Di antara kami bertiga, tubuh Taiga memang paling besar dan paling tinggi. Dari dulu dia bertumbuh dengan cepat dan dengan olahraga basket yang didalaminya (sekaligus pekerjaannya), tubuhnya semakin besar saja. Aku rasa jika dia menindihku dengan tubuh besar itu aku bisa langsung mati kehabisan napas. Otot-ototnya menonjol, terutama otot tangan dan kakinya. Dengan tubuh sebesar itu, nafsu makannya juga sangat banyak.
"Ya ya," kata Chihiro tidak peduli.
Kakak pertamaku, Chihiro, memiliki ciri khas sendiri. Dia tinggi dengan tubuh yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kurus. Wajahnya selalu tanpa ekspresi, sehingga aku kesulitan membaca apa yang dipikirkannya. Namun, kurasa itu juga menjadi nilai tambahan karena profesinya sebagai seorang jaksa. Dia datar dan tanpa ekspresi, tetapi dia bisa menyerang para lawannya dari tempat-tempat tidak terduga. Beberapa kali aku mengikuti persidangannya yang dibuka untuk umum dan harus kuakui bahwa aku sangat terkesan dengan bakat yang dimilikinya.
Dia mampu membuat pengacara lawan tidak berkutik, bukti yang ditunjukkan olehnya konkret dan dia menuntut secara adil. Kekuatannya berada di dalam pembawaannya yang tenang dan tidak gampang tersulut oleh pengacara. Wibawanya dijunjung tinggi dan nilai-nilai keadilan merupakan landasannya dalam bekerja. Melihat Chihiro dalam balutan toga jaksa membuatnya bersinar paling terang di antara semua orang di dalam ruang sidang.
"Kau sendiri bagaimana?" Tanya Chihiro. Dia menatapku. "Pekerjaanmu lancar?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Seperti biasa. Nash Gold marah-marah dan aku jadi patung di ruang kerjanya."
"Sesuai dengan gajimu yang besar kan," kata Chihiro sambil menyeringai tipis. Dia memang kaku dan tanpa ekspresi, tapi dia tahu caranya menjahili adik-adiknya. Karena, kami sudah hidup bersama dalam jangka waktu yang lama. Kami dekat sebagai saudara. Sesama orang yang menyandang nama Akashi, sesama orang yang telah kehilangan Ibu.
"Gajiku habis membayar psikiater," ujarku menanggapi candaannya.
"Oh, kau bisa memakai lelucon itu di kata sambutan nanti Sei," kata Taiga.
Aku mendengus, "Ulangtahun nanti harus tentang Ayah, jangan membahas gajiku dan pekerjaanku. Bodoh."
"Kau salah bertanya. Harusnya kau tanya apa Seijuurou punya pacar atau tidak. Dari tadi dia senyum-senyum seperti orang gila saat melihat ponselnya," kata Taiga memanas-manasi kakak kami.
Chihiro mengangkat alisnya singkat, namun aku tahu bahwa dia tertarik dengan tawaran Taiga. Aku akan membunuh Taiga setelah ini. "Wah, ini berita yang menarik."
"Aku tidak punya pacar!" Dan aku meneguk kopiku.
Taiga terbahak melihat reaksiku. "Dia malu! Sei punya pacar!" serunya kencang. Sekarang aku benar-benar akan membunuhnya.
"Sudah aku harus berangkat kerja. Aku bukan pemain basket yang punya uang miliaran." Lalu aku pergi dari meja makan keluarga kami. Aku mengambil tas kerjaku dan berjalan keluar dari ruang makan.
"Jangan lupa nanti kita harus membahas gedung dan undangan untuk Ulangtahun Ayah!" seru Chihiro ketika aku berjalan menjauh.
"Aku tahu. Infokan lagi saja di grup."
Dan aku keluar dari rumah keluarga Akashi. Rumah keluarga itu kini ditempati oleh Chihiro dan keluarganya, serta Ayah. Namun, istrinya sudah pergi bekerja lebih dulu dan anak-anaknya semua bersekolah di sekolah asrama. Ayah kami sedang keliling dunia dengan Kapal Pesiar sejak beliau pensiun. Taiga yang tinggal di Amerika Serikat jelas jarang pulang karena kesibukannya sebagai bintang atlet basket, sementara aku memilih tinggal di mansion yang lebih dekat di pusat kota dan juga kantorku. Terkadang aku memang sering pulang di Sabtu dan Minggu untuk menemani Ayah.
Mobilku sudah terparkir rapi di depan rumah dan seorang sopir sudah siap di depan pintu mobil. Aku tidak memakai sopir untuk pergi kerja, tetapi aku meminta bantuan sopir untuk memanaskan mobil dan membawanya ke depan rumah sehingga aku tidak lagi repot mengeluarkannya dari garasi.
"Terima kasih," ujarku. Lalu, aku mengendarai mobilku menuju jalan raya dan ke kantor.
Sebenarnya, sejak pertama kali aku bertemu dengan Aomine Daiki, di penghujung hari dia meminta nomorku. Dan untuk pertama kalinya, aku memberikan nomorku kepada orang asing. Saat itu aku hanya merasa bertemu dengannya tidak seburuk yang kubayangkan. Dia tidak seperti kenalan Kise yang pernah kutemui. Dia tidak agresif, tidak narsistik, dan tidak berusaha menjadikan dirinya lebih hebat dariku, serta aku tidak sekalipun merasakan pheromone-nya. Biasanya, Para Alpha ataupun Omega itu berusaha memikatku dengan pheromone mereka dan aku sudah terlalu pusing karena dominansi mereka. Namun, Aomine berbeda.
Dia canggung, kaku, tapi juga dia memperlakukanku dengan baik. Dia diam ketika tidak ada topik pembicaraan dan tidak bertanya aneh-aneh mengenai diriku. Dia menjawab pertanyaanku seadanya dengan tidak berlebihan atau membuat dirinya menonjol. Dia menemaniku sampai aku mendapat taksi tapi juga tidak menginvasi privasiku. Dengan riwayatku yang penuh dengan musibah karena masalah laki-laki, Aomine adalah lelaki pertama yang mampu membuatku nyaman dalam jangka waktu kurang dari 1 hari. Jadi, ketika dia meminta nomor telepon, aku tidak punya alasan untuk menolak.
Sejak kami berjumpa di Pesta Kise, dia mengirim pesan beberapa kali. Pesan-pesannya singkat dan remeh, tetapi aku tidak merasa hal itu mengganggu. Malahan, aku bisa mengalihkan pikiranku dari bosku yang hobi marah-marah dengan membayangkan pesannya. Aomine Daiki, seorang Inspektur Kepolisian dari Kepolisian Metropolitan.
Aku sampai di kantorku 45 menit setelah melaju di jalan tol sebelum macet karena jam sibuk. Sekretarisku yang mejanya berada di depan ruanganku sudah datang lebih dulu dariku dan dia menyapaku. "Selamat pagi Akashi-san."
"Pagi Furihata-kun."
Lalu, aku masuk ke dalam Ruang Kerjaku. Di depan pintu kayu tertulis nama lengkap dan jabatanku. Meskipun tampak keren, tetapi sebenarnya pekerjaanku memiliki tingkat stress yang lebih banyak, belum lagi jika Nash Gold mulai menuntut ini itu. Bosku memang orang yang sangat perfeksionis, tapi dia juga sangat mengintimidasi. Rapat-rapat bersamanya itu terasa seperti neraka dan waktu seolah berhenti berputar. Aku selalu meneguk dua shot kopi pahit sebelum rapat dimulai supaya aku terus terjaga.
Ruanganku berada di lantai 35 dengan jendela besar yang menghadap ke arah kota Tokyo dan Tokyo Skytree. Pemandangannya tidak sebagus di penthouse Kise, tetapi menurutku hal ini cukup untuk membantuku melepas penat. Namun jika bisa, aku lebih memilih melepas penat di sebuah cottage di tengah hutan pinus sambil mendengar suara sungai deras dan burung pipit. Hidup seperti itu pasti lebih enak dan tanpa beban. Sayangnya, aku hidup di negara kapitalis dan butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Setelah aku menaruh tas kerjaku, setumpuk dokumen telah tersusun rapi di atas meja kerjaku. Furihata juga sudah menyalakan komputerku dan aku tinggal membuka e-mail untuk membaca berbagai pesan yang masuk. Perjanjian kerjasama, tanda tangan kontrak, laporan notulensi rapat, dan sebagainya. Furihata sudah menjadi sekretarisku selama 5 tahun terakhir dan aku bisa mengatakan bahwa dia bekerja dengan efisien. Pada awal-awal penempatannya, dia melakukan beberapa kesalahan keccil, tapi pada dasarnya dia orang yang teliti. Dia menaruh tumpukan dokumen sesuai dengan tingkat kepentingannya, jadi aku bisa langsung bekerja tanpa memilih-milih terlebih dahulu. Karena itu dia masih bertahan sampai sekarang menjadi sekretarisku.
Sebuah pesan baru masuk ke dalam ponselku dan aku membuka LINE. Di LINE, aku memiliki sebuah grup yang hanya berisikan aku, Chihiro, dan Taiga. Grup itu sengaja kami buat supaya informasi gampang disebarkan di antara kami. Kadang Taiga memakai grup itu untuk mengabarkan tim basketnya yang akan bertanding sehingga kami sempat menonton di Fox Sport. Atau kadang Chihiro mengirimkan berbagai dokumen penting (yang sangat penting dan sangat rahasia) karena dia selalu lupa menyimpan di laptop. Atau kadang Taiga hanya mengirimi kami meme-meme di internet dan menunggu reaksi aku dan Chihiro.
Kadang grup itu juga digunakan untuk rapat darurat atau curhat. Misalnya ketika Taiga menjalani hubungan dengan seorang model dan hubungan mereka putus-sambung, sudah jelas aku dan Chihiro meledeknya habis-habisan. Atau ketika Taiga mengingatkanku mengenai hari ulangtahun pernikahanku yang hancur berantakan dan aku mengiriminya stiker jari tengah sebagai balasannya.
Sekarang, grup LINE tersebut berfungsi untuk rapat mengenai rencana ulangtahun Ayah kami yang akan diadakan bulan November nanti. Chihiro mengirimkan beberapa rekomendasi gedung serbaguna yang bisa digunakan untuk acara ulang tahun. Taiga bertugas mengurusi catering selama acara dan aku bertugas untuk mengurus undangan dan penyebarannya. Itu artinya aku harus mendata semua teman-teman Ayah dan memastikan beberapa hal; pertama apakah mereka bersedia datang, kedua apakah mereka sedang berada di Jepang, ketiga apakah mereka akan membawa pasangan saat datang, dan keempat apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal sehingga harus diwakilkan (percayalah, aku harus bertanya hal itu, karena itu permintaan Ayah).
Aku tidak bilang tugas yang lain lebih mudah dariku karena kami memiliki kesulitan masing-masing. Namun, jelas perhatianku terpecah belah dengan tugas mengerikan ini. Artinya aku harus mendata satu-satu dan menelepon mereka satu per satu. Membayangkan energi yang akan terkuras saja aku sudah lemas.
Chihiro mengirimkan lima gedung serbaguna yang masih dalam rentang budget yang kami targetkan. Taiga sudah mulai memilih catering apa saja dan dia berencana survey untuk mencicipi berbagai paket masakan mereka (tapi aku tahu itu alasannya supaya bisa makan lebih banyak). Dan aku belum ada progress apapun. Bulan September sudah hampir berakhir, yang artinya sisa kurang dari 2 bulan untuk mendata para tamu undangan. Aku sendiri bingung harus memulai dari mana.
Akhirnya aku menutup grup LINE tersebut dan mengerjakan pekerjaanku yang tidak habis. Aku merasa telah bekerja selama 2 jam, punggungku sudah sakit dan perutku sudah keroncongan. Midorima tidak bisa ikut Sarapan Siang hari ini karena dia masih ada jadwal operasi dan poli, sehingga aku mau tidak mau mencari makan sendiri. Namun ketika aku hendak memutuskan makan, ponselku berbunyi. Pesan dari Aomine.
[Apa kau mau makan siang bersamaku?]
Sebuah pesan yang tidak aku sangka, tapi aku menantikannya. Menbaca pesannya seolah mengangkat beban yang ada di pundakku. Kami memang sering bertukar pesan, tapi sejak di Pesta Kise kami belum bertemu muka lagi. Dia tidak pernah mengajak bertemu dan aku terlalu segan mengajaknya. Namun, akhirnya dia mengajakku untuk makan siang bersama. Artinya aku akan bertemu lagi dengannya.
[Apa kau sedang sibuk?]
Dia mengirim pesan lagi.
Dengan cepat aku mengetik balasan. [Aku baru selesai dengan pekerjaanku. Ada ide makan siang dimana?]
[Aku sedang di dekat pusat kota. Apa kantormu di dekat situ?]
[10 menit berjalan kaki dari kantorku.]
[Ada restoran china yang baru di buka. Apa kau mau coba makan di sana?]
[Aku akan tiba 15 menit lagi.]
[Aku akan menunggu di dalam restoran sambil melihat-lihat menu.]
Aku bisa saja menjerit kesenangan detik itu juga, tapi Furihata masuk ke dalam ruanganku. "Akashi-san, mengenai–"
"Maaf Furihata-kun, janji-janji temu dibatalkan saja dulu ya. Aku ada janji yang lebih mendesak," ujarku memotong kata-katanya.
"Eh? Bagaimana dengan makan–"
"Aku tidak perlu makan siang. Aku akan makan di luar bersama… klien. Pokoknya, janji-janji batalkan saja semuanya."
"EEH? Tunggu Akashi-san! Apa yang harus saya katakan?"
Aku memakai jasku dan mengambil ponsel serta dompet dari tas kerjaku. "Katakan aku ada meeting penting dengan CEO, tidak bisa diganggu gugat. Sampai nanti Furihata-kun." Dan aku keluar dari ruang kerjaku.
"Tapi Tuan Nash Gold sedang di Singapura!" seru Furihata dari belakang. Sudah jelas aku mengabaikannya.
.
Pusat kota terasa jauh lebih dekat ketika aku berjalan, atau mungkin aku yang melangkah dengan cepat. Aku bahkan nyaris berlari dan menabrak para pejalan kaki lainnya. Suhu sudah mulai sejuk, sehingga berjalan kaki dengan memakasi jas sekalipun tidak terasa lembab dan panas. Pusat kota memang selalu ramai dan selalu menjadi destinasi wisata para turis lokal maupun mancanegara. Tadi Aomine sudah mengirimkan lokasi restoran china yang dimaksud dan aku berjalan ke arah restoran tersebut.
Tipikal restoran baru buka, masih banyak karangan bunga di depan pintu masuk dan beragam promo yang ditawarkan. Aku melangkah masuk ke dalam restoran tersebut sambil mengatur napasku. Ini adalah pertemuan kedua kami di luar Pesta Kise, tetapi ini juga menjadi pertemuanku dengan lelaki asing setelah bertahun-tahun aku tidak pernah menanggapi semua yang merayuku. Jadi, aku sedikit gugup dan perutku melilit. Aku takut bahwa apapun yang terjalin antara aku dan Aomine bisa rusak begitu saja. Dan aku tidak mau merusaknya sebelum semuanya dimulai.
Aku pikir aku akan sulit mencari Aomine, tapi rupanya tidak sesulit itu. Aku bisa menangkap siluetnya yang besar dalam sekali lihat. Dia duduk membelakangiku. Dari belakang, tampaknya persis seperti yang aku bayangkan. Pundak lebar dan tegap, serta surai biru tua yang menenangkan seperti laut di malam hari. Aku melangkah ke depannya.
"Maaf, apa kau lama menunggu?" tanyaku sambil duduk di depannya.
"Akashi," katanya menyapaku.
Wajahnya persis seperti terakhir kali aku bertemu dengannya, hanya saja saat ini sudah banyak janggut-janggut tipis di sekitar dagunya. Dia tersenyum tipis ketika menyapaku dan kerutan di wajahnya menghilang.
Kupikir dia akan memakai seragam polisi, tetapi rupanya dia memakai kemeja biru tua dan celana kain hitam. Jas hitamnya disampirkan di punggung kursi.
"Apa kau sudah memesan makan?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Aku baru melihat-lihat menunya. Kau bisa melihat menunya di sini," dia menunjukkan sebuah barcode di atas meja. Aku mengambil ponselku dan men-scan barcode tersebut. Sebuah layar web restoran tersebut tampil di layar ponselku dan beragam jenis menu. Aku memesan mie goreng dan ocha dingin, sementara Aomine memesan wonton pedas dan lemon tea.
"Jadi kau bekerja di gedung-gedung mewah itu ya," komentar Aomine setelah kami memesan pesanan kami.
Aku mendengus. "Jangan salah, pajak gedungnya mahal. Hanya terlihat keren di luar."
"Tetap saja gedung-gedung mewah."
"Kau sendiri sedang apa di pusat kota? Menangkap penjahat? Mengintai tersangka?" tanyaku.
Dia terbahak. Tawanya lepas dan tidak ditahan. Ketika dia tertawa, eskpresinya begitu hidup dan cerah, semua kerutannya mengikuti garis wajahnya dan membuatnya tampak riang. "Kau terlalu banyak menonton drama." Dia mendekatkan diri ke arahku. "Kalau aku sedang mengintai, kenapa aku malah mengajakmu makan siang bersama?" tanyanya.
Aku mengangkat bahu, "Mungkin trik pengintaianmu. Aku sering menonton di film mata-mata mereka pura-pura berkencan untuk membantu penyamaran."
Kalimat dariku mengundang seringai di wajah Aomine yang membuat wajahku sendiri panas dingin. "Oh, jadi menurutmu kita sedang berkencan, eh? Tapi aku sakit hati karena kau bilang ini hanya pura-pura."
Aku jarang merasa gugup dalam pertemuan pertama, apalagi kehabisan kata-kata karena diriku sendiri. Rasanya aku bisa menggali lubang untuk menyembunyikan diri karena aku begitu malu setelah Aomine mengucapkan hal itu. Namun, aku harus menjaga harga diriku dengan tetap tenang. Aku tidak boleh terlihat gugup atau panik, nanti Aomine mengira aku orang aneh.
"Aku warga negara yang baik. Jadi, aku pasti membantu investigasi kepolisian jika diperlukan," balasku.
Lagi-lagi, kalimatku membuat senyum di bibirnya bertambah lebar. "Jadi kau mau jadi teman kencanku jika aku melakukan pengintaian? Aku sanggup mengintai setiap hari kalau begitu."
Dan setiap balasan yang keluar dari mulutnya mampu membuatku gugup dan wajahku terasa panas. Apakah ini yang dikatakan orang-orang sebagai flirting? Sensasi perut melilit dan kesenangan sendiri jika kalimat-kalimat kita mampu mengubah eskpresi lawan bicara kita. Apakah Aomine juga merasakan apa yang aku rasakan, atau hanya aku yang merasa gugup? Dia tampak natural ketika bicara.
"Tapi serius, kau sedang dalam pengintaian? Atau sedang ingin membekuk tersangka?" tanyaku lagi.
Aomine menggeleng. Senyumnya tidak hilang dari wajahnya. "Aku sedang ada urusan di sekitar sini. Tapi tenang saja, bukan pengintaian. Kalau aku mau mengintai aku pasti mengajakmu berkencan."
Aku hanya mendengus mendengar kalimat terakhirnya yang terlalu dibuat-buat. Bukan berarti aku tidak senang mendengarnya, hanya saja aku masih belum terbiasa dengan semua ini.
"Apa kau biasa makan di luar saat jam makan siang? Atau ini spesial saja?" tanya Aomine.
"Aku bilang ingin membantu investigasi kepolisian pada atasanku. Dia bilang silahkan, jadilah warga negara yang baik. Begitu."
"Aku tersanjung. Ternyata aku bertemu dengan warna negara yang sangat taat aturan dan kooperatif." Dia bertepuk tangan heboh. Aku tidak bisa menahan senyumku karena tingkahnya.
Makanan kami datang tak lama setelah itu. Wangi rempah-rempah dan bumbu china mengudara. Mie gorengku dan wonton milik Aomine. "Selamat makan," ujar kami bersamaan. Dan kami mulai memakan menu masing-masing. Ocha dingin memang paling cocok diminum dengan menu makanan apapun. Rasanya seperti menetralisir semua yang masuk ke dalam lambungku.
Kami berjalan bersama setelah selesai makan.
"Tidak masalah jika tidak kembali ke kantormu di gedung mewah itu?" tanya Aomine dengan nada ringan.
"Aku sudah bilang bahwa aku sedang membantu investigasi kepolisian."
"Wow, kau sangat berdedikasi. Sebagai seorang polisi, aku tersanjung."
Aomine tidak berjalan lebih dulu dariku, dia menyamai langkah kakiku. Aku tahu bahwa karena kakiku yang pendek, maka langkahku tidak begitu lebar dan cepat. Midorima sering mengeluh ketika kami berjalan bersama karena dia harus berhenti beberapa langkah untuk menungguku. Taiga apa lagi, dia menunggu sambil menghinaku. Jadi, aku senang jika ada seseorang yang menyamai langkahnya denganku. Sesuai dengan tempoku.
"Aku akan mengantarmu sampai ke depan kantormu," kata Aomine.
"Apa ini bagian dari tugas kepolisian? Mengantar warga sampai selamat ke tujuan masing-masing?" tanyaku dengan nada bercanda.
"Hanya untuk warga tertentu," ujarnya. Perutku lagi-lagi bergolak dalam sensasi asing yang tidak memualkan.
"Apa setelah ini kau akan ke kembali ke kantor atau kau masih ada 'urusan' di pusat kota?" tanyaku sambil seolah memberi tanda kutip saat aku mengucapkan kata 'urusan'.
Aomine tertawa. "'Urusan'ku adalah mengantar seorang warga sampai selamat ke tempat kerjanya. Setelah itu, tugasku selesai." Dia mengikutiku mengutip 'urusan' ketika bicara. Aku tertawa singkat.
Akhirnya, perjalanan singkat tapi berkesan itu selesai. Aku sudah sampai di depan gedung kantorku. "Terima kasih sudah mengantar warga sepertiku sampai dengan selamat sampai tujuan," kataku.
"Sama-sama Tuan," ujarnya dengan nada ringan.
Aku belum mau berpisah dengannya karena pertemuan kami sangat singkat, tetapi aku sudah berada dalam lingkungan kerja dan semua orang mengenalku. Kurasa, aku berjalan bersama seseorang saja sudah bisa menjadi gossip. Aku mampu merasakan beberapa pasang mata menatap kami berdua. Perhatian yang tidak begitu kuinginkan dan membuatku tidak nyaman. Dan nampaknya Aomine menyadari hal itu.
"Ya sudah, aku akan kembali bekerja juga," katanya. Aku mengangguk.
"Sampai jumpa," kataku sebelum berbalik untuk masuk ke lobi gedung. Namun, gerakanku terhenti karena ada yang memegang lengan kananku. Aku berbalik dan Aomine sedang memegang sikuku. Aku menatapnya. "Aomine, ada apa?" tanyaku.
Dia menatapku dan tatapannya berubah. Tidak jenaka, tidak ceria. Ada determinasi di dalamnya dan irisnya berkilat dengan gugup. Perutku kembali melilit ketika melihatnya. "Apa kau punya acara di hari Minggu nanti?"
.
AOMINE DAIKI
"KAU SAKIT YA! APA KAU SEKARAT, DAI-CHAN?"
Jeritan membahana itu bergema di seluruh dinding mansion-ku. Satsuki menjatuhkan dua keresek berisi belanjaan yang baru dibelinya di pasar tadi pagi dan beberapa isinya terguling di lantai, seperti apel dan seledri.
"Jangan berteriak pagi-pagi Satsuki," keluhku sambil membantunya memunguti belanjaan yang terjatuh.
Dia mencengkram kedua bahuku dan membuat ekspresi seolah telah melihat hantu yang sangat mengerikan. "Katakan, apa kau menderita kanker? Aku tahu suatu hari nanti kau akan mati karena gaya hidupmu yang tidak sehat itu! Tapi aku tidak menyangka secepat ini kau akan mati!" Lalu Satsuki memelukku erat seperti aku akan pergi ke luar negeri dalam waktu lama.
"Aku tidak sekarat Satsuki," kataku sambil melepaskan pelukannya. "Berhentilah bersikap berlebihan." Aku menaruh belanjaan Satsuki di meja makan. Satsuki mengusap sudut matanya yang berair. Apa dia benar-benar berpikir aku sekarat? "Kerasukan apa kau sampai berpikir seperti itu?" tanyaku.
"Soalnya ini hari Minggu dan kau sudah berpakaian rapi," katanya sambil menunjuk pakaianku.
Aku mendengus. "Memangnya aku tidak boleh berpakaian rapi?"
"Terakhir kali kau berpakaian rapi di pemakaman Tetsu-kun. Jadi, pasti ada yang sekarat!" seru Satsuki keras kepala.
Dengan gemas, aku menyentil dahinya dan dia mengaduh kesakitan. Tenang, aku tidak sekejam itu sampai membuat dahinya merah atau luka. Itu hanya kebiasaan kami sedari kecil sebagai sahabat. "Sakit bodoh!"
"Makanya jangan aneh-aneh. Tidak ada yang ke pemakanan dan tidak ada yang sekarat. Aku hanya akan jalan saja," jelasku.
"Jalan? Kenapa kau masih harus mengintai padahal kau sudah jadi Inspektur. Berhenti memanjakan bawahanmu," oceh Satsuki.
"Kau ini cerewet. Sudahlah, aku mau pergi dulu." Aku melewati Satsuki yang berdiri di depanku. Aku melirik jam tanganku, masih ada waktu 20 menit sampai waktu janjian dengan Akashi.
"Kau mau jalan dengan siapa? Kemana?" tanya Satsuki beruntun. "Apa kau punya pacar baru?"
"Memangnya salah kalau jalan di hari Minggu?" tanyaku balik.
"Kau melihat jam tanganmu, itu artinya kau punya janji dengan seseorang." Mata Satsuki menjadi berbinar-binar seperti anak anjing yang diberi tulang. "Apa dia tampan? Omega? Beta? Kalian bertemu dimana?"
"Berisik Satsuki!"
Dan sebelum dia sempat bertanya lebih aneh lagi, aku sudah menutup pintu unit mansion-ku. Udara sudah memasuki musim gugur di awal Oktober dan sudah banyak orang yang mengganti model pakaian mereka saat di luar. Aku memakai mantel yang tidak terlalu tebal untuk menghalau angin awal musim gugur, meskipun aku memakai sweater berwarna biru tua di dalamnya.
Meskipun aku adalah orang yang mengajak Akashi untuk bertemu, tapi sebenarnya aku gugup setengah mati. Terakhir kali aku pergi berkencan dengan seseorang sudah hampir 10 tahun yang lalu, bersama dengan mendiang suamiku di awal-awal pernikahan kami. Setelah kematiannya, aku tidak pernah lagi bertemu apalagi pergi berdua dengan orang lain. Setelah kematiannya, hidupku hanya berputar-putar di pekerjaanku sampai aku tidak ingat lagi kehidupanku yang dulu seperti apa.
Aku menggeleng, berusaha mengusir sisi melankolis yang tidak masuk akal. Aku tidak melakukan kesalahan, aku juga bukan sedang berselingkuh. Aku tidak akan pernah melupakan tragedi yang menimpa pernikahanku, tapi aku dan Akashi hanya berteman. Ralat, bahkan kami hanya pantas disebut sebagai kenalan. Aku hanya menghabiskan waktu di hari Minggu bersama seorang teman saja. Dan bukankah hal tersebut normal?
Akashi sudah berdiri menungguku di tempat janjian kami di pusat kota. Dia berdiri di bawah jam besar yang menunjukkan waktu akurat sambil menatap ke kejauhan. Dia memakai kemeja kasual seperti saat kami bertemu di Pesta Kise. Rambutnya yang berwarna merah tampak semakin bersinar ketika ditimpa sinar matahari. Figur sampungnya sangat sempurna, dengan rahang tajam dan lehernya yang jenjang. Jika dia berdiam diri begitu saja, dia tampak seperti patung porcelain.
Lalu, kepalanya berputar dan kami bertatapan. Eskpresinya terangkat sedikit ketika melihatku. Senyum tipis terukir di wajahnya dan dia melambai. Aku berjalan mendekatinya. "Maaf aku terlambat," kataku.
Dia menggeleng. "Aku yang terlalu cepat."
Aku mengusap belakang kepalaku karena canggung dan merasa tidak enak. "Apa kau menunggu lama?"
Dia menggeleng lagi. "Aku baru saja sampai."
Rencana hari itu sederhana. Aku pergi bersamanya menuju Tokyo Skytree dan Sumida Aquarium. Kami akan melihat-lihat penguin, ubur-ubur dan juga penyu. Lalu, kami akan menghabiskan waktu di Tokyo Skytree dan melihat pemandangan dari atas. Tolong jangan menghakimi betapa datar dan biasanya acara hari ini. Ketika aku mengajaknya bertemu di hari Minggu, aku tidak berpikir matang. Aku hanya bergerak melalui insting. Dan seharusnya tadi aku meminta saran Satsuki terlebih dahulu sebelum meninggalkannya sendirian di mansion.
Namun, jika Satsuki tahu tentang rencanaku hari ini, dia pasti akan lebih heboh lagi. Jika reaksinya tadi sudah membuatku pusing, maka bisa dibayangkan seperti apa reaksinya jika dia sudah tahu duluan.
Sumida Aquarium terletak di lantai 5 dan 6 di Tokyo Skytree. Sejujurnya, tempat wisata itu tidak terlalu besar dan variasi dari hewan laut yang ada tidak terlalu banyak. Aquarium ini menonjol karena display ubur-ubur yang berwarna-warni sesuai dengan penerangan, penguin dan juga penyu mereka. Di hari libur seperti ini, Sumida Aquarium ramai dikunjungi oleh orang, terutama para keluarga.
Antrian di depan kami ada 3 keluarga dengan anak-anak yang masih balita dan di belakang pun para keluarga tersebut masih mengantre. Suara tawa dari anak-anak serta orangtua mereka seperti beresonansi di seluruh ruangan. Pernah ada waktu dimana telingaku selalu sakit setiap mendengar suara tawa anak-anak.
"Akashi-kun?"
Akashi berbalik, begitu pula denganku. Di belakang kami ada keluarga yang sedang mengantre. Namun, yang mencolok perhatian adalah seorang lelaki yang setinggi diriku dengan air wajah kaku dan warna rambut yang sehijau hutan amazon.
"Kazunari-sensei," ujar Akashi, "dan Midorima."
"Duh, jangan terlalu kaku seperti itu," ujar seorang lelaki. Dia setinggi Akashi, memiliki rambut sehitam malam dan wajah yang ramah. Di sebelah kanan dan kirinya ada dua orang anak kecil yang memiliki rambut hijau gelap dan wajah yang mirip dengannya.
"Tidak menyangka ya bisa bertemu dengan Akashi-kun di sini, ya kan Shin-chan?" ujar orang berambut hitam itu sambil menatap lelaki tinggi di sebelahnya.
"Jangan memanggilku seperti itu," jawabnya kaku.
"Aku juga tidak," kata Akashi. Lalu, kedua pasang mata dari pasangan tersebut melirik bergantian antara aku dan Akashi. "Ah, ini Aomine Daiki," kata Akashi memperkenalkanku. Lalu dia mengenalkanku juga kepada kedua orang tersebut. "Kazunari-sensei," katanya sambil menujuk lelaki yang berambut hitam, "dan Midorima." Yang bernama Midorima pastilah lelaki tinggi tersebut.
"Pada dasarnya kami semua bernama Midorima," ujar Kazunari dengan ringan. Dia menepuk ringan bahu suaminya yang kaku seperti tiang listrik. "Midorima nama keluarganya. Shin-chan panggilannya."
"Jangan bicara yang tidak-tidak," kata si Kepala Keluarga Midorima. Dia membenarkan kacamatanya yang sangat simetris tersebut. Kesepuluh jarinya diperban. Apakah dia terluka, entahlah.
"Akhirnya kau membawa seseorang, eh?" Kazunari melangkah dan merangkul Akashi dengan sedikit akrab. "Kata Shin-chan kau jatuh cinta."
"Aku tidak bilang begitu!" bantah Midorima.
Aku mempertahankan air wajahku supaya tetap datar, seolah-olah ini bukan masalahku. Akashi tampaknya menanggapi hal itu dengan tenang. Dia hanya tertawa ringan, seolah candaan itu sudah biasa di antara mereka.
"Sesekali menikmati hiburan di Tokyo tidak ada salahnya," kata Akashi. Dia berkata penuh perhitungan dan diplomatis.
"Benar juga," kata Kazunari. Antrian semakin maju ke depan. "Ya sudah, kami tidak akan mengganggu kencan kalian berdua. Shin-chan merengek ingin melihat penguin," tambahnya sambil mengedipkan mata dengan jenaka.
"Aku tidak merengek. Berhentilah bicara omong kosong," kata Midorima.
"Sampai nanti," kata Akashi sambil menepuk-nepuk kepala kedua anak kecil tersebut. Mereka melambai riang pada Akashi dengan cara yang akrab.
Lalu, kami berpisah. Kami memasuki Aquarium dan penerangan berubah menjadi lebih lembut. "Maaf yang tadi," kata Akashi.
"Soal apa?" tanyaku.
"Yang tadi…?" ujar Akashi tidak yakin.
"Tentang Midorima dan Midorima?" tanyaku.
Akashi tertawa. "Iya, tentang Midorima dan Midorima. Karena kau tahu, mereka semua bernama Midorima."
Di dalam Aquarium sudah mulai penuh dengan orang. "Midorima temanku semasa sekolah dan suaminya seorang penulis."
"Ah, karena itu kau memanggilnya sensei," simpulku.
Akashi mengangguk. "Mungkin kau pernah membaca karyanya?" tanya Akashi.
Aku mengingat namanya. "Kazunari ya. Midorima kazunari… sepertinya tidak."
"Nama yang digunakan ketika menulis adalah Takao."
Aku menjentikkan jari. "Ah aku tahu! Dia penulis thriller-psikologis itu kan! Wah, aku membaca beberapa bukunya. Sayang sekali aku tidak meminta tanda tangannya."
"Tidak banyak yang tahu sosok aslinya. Dia tidak pernah tampil di depan umum dalam jumpa fans."
"Aku memang pernah dengar kalau dia memang tidak pernah tampil di hadapan publik. Tapi rupanya dia tidak seperti bayanganku."
Akashi menatapku. "Seperti apa?"
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Karena dia tidak pernah menyukai sorotan publik, kurasa aku membayangkan seseorang yang pemalu dan sering menyendiri. Tapi dia ternyata tidak seperti itu. Kurasa kita tidak bisa menebak seseorang hanya karena perhatian publik atau tidak."
Akashi tetawa kecil. "Percayalah, saat pertama kali bertemu dengannya, aku juga memikirkan hal yang sama denganmu."
Kami mengitari Aquarium. Yang menjadi titik penjualan dari Sumida Aquarium adalah kolam penguin. Ratusan penguin berenang seolah mereka berada di rumah. Namun, sebenarnya mereka jutaan kilometer jaraknya dari rumah. Untuk sesaat aku terpukau dengan para penguin, tetapi aku lebih terpukau melihat Akashi.
Tatapannya berbinar dalam cara yang polos dan penuh rasa ingin tahu. Kilatan irisnya yang sewarna darah memantulkan sinar dari lampu yang berwarna sejuk, membuatnya tampak seperti kaleidoskop. Bibirnya terbuka sedikit ketika dia mengamati para penguin tersebut berenang. Dari samping, tulang pipinya tinggi dan kokoh. Untuk sesaat aku bertanya-tanya sendiri, apakah dia seorang Alpha, Beta, atau Omega?
Dia tampak memenuhi seluruh kriteria. Dia mampu menguasai ruangan dan mengendalikan suasana seperti Para Alpha, dia mampu bertindak tenang dan penuh perhitungan seperti Para Beta, dan di saat yang bersamaan, dia tampak sangat memukau seperti Para Omega. Karena aku terlahir sebagai seorang Beta, aku tidak mampu mendeteksi pheromone-nya. Namun, aku sudah bekerja bersama dengan Para Alpha dan Beta sehingga aku bisa membaca mereka dari profilnya. Akashi adalah pengecualian.
Setelah kami puas berkeliling di Aquarium, kami naik ke Tokyo Skytree sebagai pelengkap. Lebih banyak lagi orang yang sedang berada di Tokyo Skytree. Pemandangan Kota Tokyo dilihat dari berbagai sudut memang tampak mengagumkan. Aku telah hidup di kota ini lebih dari 20 tahun dan kota ini selalu mengejutkanku dalam berbagai hal yang tidak aku sangka. Dan diantara kejutannya, ada Akashi Seijuurou.
"Apa aku boleh bertanya satu hal?" tanyaku. Akashi memalingkan wajahnya dari kaca besar dan menatapku. Dia mengangguk. "Apa statusmu?"
"Status… apa kau menanyaiku apakah aku sudah menikah atau belum? Atau ada yang menantiku di rumah?"
Aku tertawa. "Aku sekarang punya dua pertanyaan."
Dia ikut tertawa. "Oke, jadi status apa yang kau maksud?" tanyanya.
Aku sebenarnya bingung bagaimana cara menanyakannya. Pertanyaan seperti itu seperti tidak penting tapi membuat penasaran. Kebanyakan dari mereka dengan bangga menunjukkan kepada dunia siapa mereka. Namun, Akashi bukan bagian dari mereka.
"Kau tahu, seperti–"
"Kau ingin tahu apakah aku Alpha atau Beta atau Omega. Benar?" potong Akashi.
Untuk sesaat aku menahan napas. Ekspresi Akashi tidak terbaca, sehingga aku tidak tahu apakah aku menyinggungnya atau tidak. Namun, dia tertawa singkat dan napasku yang sedari tadi tertahan bisa berhembus lagi. "Wajahmu tidak cocok dengan kebingungan seperti itu," kata Akashi.
"Kupikir kau tersinggung," jawabku jujur.
Dia menggeleng. "Tentu saja tidak." Dia menatapku, "menurutmu bagaimana?" tanyanya.
"Kupikir aku bertanya karena aku tidak tahu."
Dia memiringkan kepalanya, sedikit tindakan jenaka yang ingin mengerjaiku. "Kalau aku mengatakan bahwa aku Alpha, apa kau akan percaya?"
"Kenapa aku harus tidak percaya?"
"Kebanyakan orang tidak percaya," jawabnya.
"Kebanyakan orang bodoh."
Dia tertawa. Tawanya lepas tapi tidak berlebihan.
"Oke, sekarang pertanyaan kedua," kataku.
Dia menaikkan alisnya sedikit, seolah mengingat apa pertanyaannya. Lalu, dia menjentikkan jarinya. "Kebetulan sekali aku tidak menikah dan tidak ada yang menantiku di rumah."
Aku terbahak. Mungkin otakku sedang tidak berada di tempatnya atau mungkin aku saja yang sudah gila, karena mendengarnya mengatakan hal itu bukan saja membuatku lega setengah mati tapi juga rasanya itu tampak seperti undangan. Lihat, aku sudah gila kan?
Akashi mendekat ke arahku dan bicara di telingaku. "Mau berkunjung?"
.
A/N: Di Jepang Apartment itu ditujukan untuk bangunan dengan harga sewa lebih murah. Mansion adalah istilah untuk apartment dengan harga sewa yang lebih tinggi dan juga fasilitas lebih banyak dan tempat yang lebih luas dari apartment.
Salam,
Sigung-chan
