The Lucky One

.

AOMINE DAIKI

Dulu ada seorang anak lekaki yang berkenalan denganku. Usiaku 5 tahun ketika kami berkenalan. Aku baru saja pindah ke Tokyo karena Ayahku mendapat tugas menjadi salah satu detektif di Kantor Polisi Metropolitan. Kami tinggal di perumahan yang disediakan oleh kepolisian, sebuah rumah Jepang dengan dua lantai yang sederhana. Karena Ayah sudah bekerja di Kantor Polisi Metropolitan, Ayah juga mendapat mobil dinas sebagai fasilitas.

Aku berkenalan dengannya ketika aku sedang bermain sendirian di tepi sungai. Tidak begitu banyak anak yang bermain di sore hari menjelang malam. Namun, aku menunggu Ayah pulang agar kami berjalan bersama ke rumah. Hari itu Ayah pulang sedikit telat sehingga aku bermain sedikit lebih lama. Di sanalah aku menemukannya. Duduk sendirian tidak jauh dari tempat bermainku. Badannya kecil, kurus dan kulitnya sangat pucat. Surainya berwarna biru muda, seperti langit di awal musim semi. Ketika dia menatapku, kedua matanya berkaca-kaca dan jejak air mata yang mengering mengotori pipinya. Sudut matanya memerah dan dia menyedot ingus.

"Kenapa kau menangis?" tanyaku waktu itu.

Dia menunjuk lututnya yang terluka. Darahnya telah mengering, hanya menyisakan beberapa luka lecet dan lututnya sedikit membengkak. "Aku jatuh saat bermain."

"Kau menangis karena itu? Kau cengeng sekali!"

Dia menangis semakin keras setelah aku mengatakan hal itu. Saat itu aku tidak begitu paham bahwa ada banyak kata-kata yang tidak boleh diucapkan kepada seseorang yang sedang terluka. Biasanya Ibuku hanya mengatakan hal itu dan aku berhenti menangis, tetapi anak lelaki itu menangis semakin keras. Karena tangisannya tidak berhenti, akhirnya aku berjongkok di depannya. "Kau tidak bisa berjalan ya? Aku akan mengantarmu pulang. Dimana rumahmu?" tanyaku.

Tangisnya berhenti untuk sesaat. Dia menatapku dengan kedua bola matanya yang berkilat karena air mata. "Aku tidak boleh ikut dengan orang asing," katanya serak.

Anak yang merepotkan, begitulah pikirku untuk pertama kalinya. "Aku Aomine Daiki. Daiki panggilanku. Siapa namamu?" tanyaku.

Dia sesegukan sebelum menjawab, "Kuroko Tetsuya."

Aku tersenyum. "Karena kita sudah saling kenal, aku bukan orang asing lagi, 'kan? Jadi, aku akan mengantarmu pulang."

Dia mengangguk perlahan. Aku memposisikan punggungku di depannya dan dia mengalungkan kedua lengannya yang kecil di seluruh leherku. Ketika aku mengangkatnya, dia tidak terlalu berat. "Rumahku di perumahan," katanya.

"Aku juga tinggal di sana, tapi aku baru saja pindah dari Okinawa. Kau sudah tinggal di sini lama?" tanyaku.

Tangisannya sudah berhenti. Aku bisa merasakan kepalanya mengangguk untuk menjawab pertanyaanku. Aku mulai berjalan. "Kenapa kakimu bisa terluka?" tanyaku.

"Aku tersandung," jawabnya singkat.

"Dan kau menangis?"

"Karena sakit dan berdarah."

"Aku juga sering jatuh dan berdarah, tapi aku tidak pernah menangis."

"Memangnya kau tidak merasa sakit?"

Aku mendengus. "Tentu saja sakit. Tapi kata Ibuku anak lelaki tidak boleh menangis, tidak boleh cengeng."

Tak lama, kami sampai di depan rumahnya. Dia turun dari punggungku. "Terima kasih Daiki-kun."

.

Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah memimpikan masa kecilku dengan Tetsuya. Rasanya waktu telah berlalu begitu lama sampai aku berpikir mungkin aku yang menciptakan memori itu di otakku sendiri. Saat aku membuka mata, kondisi sekitarku tampak sangat asing. Langit-langit kamar yang asing, dekorasi di sekitarnya yang asing, sampai warna gorden yang aku tidak ingat pernah membelinya.

Samping ranjangku bergerak dan aku menoleh ke samping. Di sebelahku, Akashi telah terjaga. Sebagian rambut merahnya tampak acak-acakan di atas bantal dan sebagian lagi menutupi pipinya. Matanya menatapku.

"Sejak kapan kau sudah bangun?" tanyaku. "Apa kau memandangiku sepanjang waktu?"

Dia mengangkat bahunya. "Entahlah," katanya. Namun, pipinya merona. Dia semakin tampak menawan ketika sedang merona seperti ini.

Sehabis dari Tokyo Skytree, Akashi mengundangku ke mansion-nya. Dan hanya butuh waktu untuk membuka sepatu ketika kami mulai berciuman. Begitu ganas, begitu liar hingga ciuman itu berubah menjadi sesi bercinta yang luar biasa. Aku lupa berapa kali kami bercinta hingga akhirnya kami tidur bersebelahan di ranjang Akashi yang terlalu besar untuk ditempati seorang diri.

Kami berhadapan. Tidak ada yang ingin keluar dari ranjang yang nyaman, selimut yang lembut, dan pemuda tampan yang sedang tidur di sampingku. Siapa yang menyangka bahwa rencanaku mengajaknya berkencan satu hari dan kami berakhir di ranjangnya?

"Kau punya bekas luka," katanya. Dia menyentuh bahu kananku. Luka parut bekas tikaman seorang tersangka ketika dulu aku masih baru menjadi detektif.

"Luka lama," jawabku.

"Karena apa?" tanyanya sambil mengusap lembut luka parut di bahu kananku. Sentuhannya sangat ringan dan rupanya aku sangat menyukainya. Dari awal dia menyentuhku, aku menyukainya. Aku menggenggam tangannya dan aku mengecupnya. Tangannya kecil dan ketika berada dalam genggamanku rasanya sangat kontras. Kulitnya seperti porcelain, sementara kulitku terlalu banyak terbakar matahari.

"Tertusuk pisau."

Akashi membuat ekspresi mengernyit, seolah dia sedang membayangkan rasa sakitnya. Aku sendiri sudah lupa rasa sakitnya, karena sudah terlalu lama luka itu ada. Dia menatapku. Tatapannya begitu membius dan membuatku tidak bisa berpaling. Aku ini seorang Beta, jadi pheromone apapun dari Para Alpha ataupun Omega tidak akan pernah bisa mempengaruhiku. Namun, Akashi memerangkap seluruh tatapanku. Mungkin inilah pesona sesungguhnya, bukan karena dia seorang Alpha, tapi karena dia adalah Akashi Seijuurou.

"Mau bermalaman di sini?" tanyanya setengah berbisik.

Aku tergoda untuk mengiyakan ajakannya, tapi aku masih punya banyak pekerjaan yang menanti untuk dilakukan. Dan lagi, urusanku dengan Biro Pertahanan juga mengenai kasus yang tidak akan pernah kuberikan belum selesai.

"Itu tawaran yang menarik," kataku.

"Tapi..? Selalu ada 'tapi' di balik kata-kata manis yang menggantung."

Aku terkekeh singkat. Akashi selalu bisa menghidupkan suasana dengan selera humornya yang tidak biasa. "Tapi aku masih ada pekerjaan malam ini." Kucium lembut hidungnya yang kecil.

Dengan berat hati aku bangun dari ranjang empuk itu. Akashi ikut bangun bersamaku. "Pergi mengintai tersangka?" tanyanya sambil turun dari ranjang. Dia memunguti pakaian kami yang tergeletak begitu saja di lantai kamar.

"Tidak, hanya masalah administrasi," jawabku. Aku memakai lagi pakaianku dengan cepat. Akashi mengeluarkan kaos putih yang sedikit besar dan celana training abu-abu dari lemari pakaiannya. Kami keluar bersama dari kamarnya.

"Jadi, sampai jumpa?" tanya Akashi di ambang pintu. Aku memakai sepatuku. Setelah selesai, aku menghadapnya.

"Aku pasti menginap nanti," kataku. Aku menariknya mendekat dan kami merasakan napas satu sama lain. Menyentuh makhluk hidup lain setelah sekian lama terasa menyenangkan, terutama karena itu Akashi.

"Sampai jumpa," bisiknya tepat di depan mulutku dan aku menciumnya. Tanpa lidah, hanya ciuman yang sedikit lebih lama dari kecupan.

Setelah itu, aku berjalan keluar dari mansion-nya. Aku tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan.

.

"Sesuatu yang bagus terjadi padamu?" tanya Imayoshi.

"Sekarang tidak lagi. Kenapa kau selalu datang ke sini? Kau benar-benar tidak punya kerjaan ya?" tanyaku, karena lagi-lagi Imayoshi sudah duduk santai sambil menikmati kopi Starbucks (yang dibeli oleh Sakurai setelah Imayoshi memaksanya, aku yakin begitu) dan menyalakan satu linting rokok hingga membuat seluruh ruanganku berbau asap rokok.

"Aku tidak akan terus mendatangimu kalau kau mau bekerja sama," katanya sambil menyesap kopinya. "Kau pikir aku mau mengurusi bocah besar sepertimu?"

"Aku bisa menangani kasus ini," kataku sambil menaruh berkas lama di mejaku untuk dibawa Sakurai.

"Ini bukan tentang bisa atau tidak bisa. Ini tentang skala kasus yang ada dan kau tidak mampu sendirian. Jangan keras kepala Aomine."

Kupingku bisa putus jika Imayoshi terus menceramahiku mengenai hal yang sama berulang kali. Namun, aku juga tahu bahwa dia tidak akan berhenti merongrongku jika aku masih keras kepala. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan, sebagai seorang Inspektur. Namun sebagai Aomine Daiki, aku tidak mau melepaskan kasus itu begitu saja.

"Dengar Imayoshi-san, kau tahu aku sudah memburu kelompok mafia ini sejak lama. Dan akhirnya aku berhasil mendapatkan jaringan imformasinya. Perdagangan senjata, narkoba, sampai perdagangan anak! Reputasi Kepolisian bisa meningkat jika kita berhasil membekuknya. Dan kau ingin menyerahkan kasus besar seperti itu kepada Biro Pertahanan? Yang benar saja!"

Imayoshi menghembuskan napas. Ekspresinya seperti sedang menghadapi anak balita 5 tahun yang lagi-lagi mengompol di futon. Aku tahu tatapan itu, artinya Imayoshi sudah membulatkan tekadnya dan dengan atau tanpa persetujuanku, berkas itu akan berpindah ke tangan Biro Pertahanan. Aku kalah.

"Tapi aku ingin terlibat," kataku akhirnya. "Aku harus termasuk dalam investigasi. Pada dasarnya ini kasusku."

Senyuman Imayoshi mengembang, seolah dia hanya menantikan kapan aku akan mengatakan hal tersebut. Aku merasa semakin kesal. "Tidak ada yang bilang kau dikeluarkan dari kasus, Aomine-kun~. Kau hanya mendapat bantuan dan kau tetap memimpin kasus ini. Aku akan mengenalkanmu dengan tim dari Biro Pertahanan." Dia bangkit dari sofa.

Tanpa izinku, pintu ruanganku terbuka dan dua orang dari Biro Pertahanan masuk. Mereka tidak memakai seragam kepolisian, tetapi kemeja dan jas seperti detektif pada umumnya. Lencana kepolisian mereka terselip di pinggang.

Dua orang lelaki tinggi besar memasuki ruang kerjaku. Kini, ruangan itu tampak semakin sempit karena diisi oleh 4 lelaki dewasa dengan tinggi di atas rata-rata dan beberapa di antara kami bertubuh besar. "Kiyoshi Teppei dan Nebuya Eikichi," ujar Imayoshi.

Salah satu dari mereka, yang berambut coklat dan berwajah ramah mengulurkan tangannya untuk memberikan kartu namanya padaku. Tertulis 'Kiyoshi Teppei' di tengahnya. "Ini rekanku, Nebuya Eikichi," katanya sambil menunjuk lelaki besar berambut hitam dengan model aneh. Badannya lebih besar lagi dari Kiyoshi dan ototnya menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Persis seperti atlet gulat.

Imayoshi bertepuk tangan satu kali seolah meminta perhatian. "Aku sudah mengenalkan kalian, silahkan kalian lanjutkan investigasi kasus mafia tersebut." Dari nada bicaranya, seolah dia adalah guru TK yang berhasil membuat dua murid yang bertengkar menjadi berbaikan dan makan siang bersama sebagai tanda perdamaian. Lalu, dia membawa kopinya keluar dari ruanganku. Tinggalah aku bertiga dengan anggota Biro Pertahanan.

Setelah Imayoshi pergi dari ruanganku, aku mempersilahkan kedua anggota Biro Pertahanan duduk di sofa yang tersedia dan aku duduk di depan mereka. Ganjil rasanya melihat dua lelaki tinggi besar duduk berhimpitan di sofa yang ukurannya tidak begitu besar. Aku hanya berharap sofa itu tidak patah karena menahan bobot kedua orang tersebut.

"Jadi, kemana Biro Pertahanan selama kepolisian bekerja keras? Sekarang kalian mau mengambil hasil kerja keras kami," ucapku sebagai kata-kata pembuka. Imayoshi sudah pergi, jadi sudah tidak ada alasan untuk tidak mengkritik Biro Pertahanan.

"Apa katamu?" ujar si tubuh pegulat, Nebuya. Namun, gerakannya ditahan oleh lelaki satu lagi, bernama Kiyoshi.

Dia masih menatapku ramah dan senyum masih setia menempel di wajahnya. Dalam satu dua hal, aku merasa Kiyoshi ini mirip dengan Imayoshi. "Kami berterima kasih atas kerja kepolisian, terutama Anda, Inspektur Aomine. Namun, harus Anda ketahui bahwa ada beberapa birokrasi yang berbeda dalam Biro Pertahanan. Percayalah, kami tidak ingin merebut hasil kerja kerasmu."

Kata-kata diplomatis yang dikeluarkannya menandakan dia sudah sering sekali menghadapi situasi semacam ini. Aku bisa menyimpulkan bahwa Kiyoshi Teppei ini adalah Ketua Tim yang ditunjuk untuk kasus ini.

"Jadi, apakah kami bisa melihat perkembangan investigasi Anda, Inspektur?" tanyanya.

Aku menyerah. "Tidak perlu seformal itu denganku," kataku sambil bangkit dari sofa. Mereka berdua mengikutiku. Kami keluar dari ruanganku dan menuju ruang rapat yang kuubah menjadi ruang kerja tim detektifku. Ada Sakurai di sana dan Wakamatsu yang sedang membereskan berkas.

"Timmu sedikit, untuk ukuran kasus yang lumayan besar," komentar Nebuya.

"Dan ternyata Biro Pertahanan hanya mengirim dua orang," balasku.

"Selamat pagi Aomine-san," sapa Sakurai. Wakamatsu membungkuk juga.

"Aku ingin memperkenalkan anggota Biro Pertahanan yang akan ikut membantu dalam mengerjakan kasus ini," kataku. Lalu, satu per satu dari mereka memperkenalkan diri. Setelah perkenalan singkat, kami duduk di kursi yang tersedia dan Sakurai berdiri di depan layar untuk presentasi.

"Sakurai, jelaskan dari awal," ujarku. Sakurai mengangguk.

"Mafia Naga adalah target utama dari kita. Kelompok Mafia ini sudah beroperasi lumayan lama di Jepang, tetapi sebenarnya mereka baru menduduki wilayah Tokyo, sekitar 10 tahun yang lalu. Sistem Mafia Naga ini dibagi menjadi beberapa divisi, tapi berdasarkan sumber dari dalam kelompok tersebut, saat ini kelompok tersebut terbagi menjadi 6 Divisi dengan wilayah masing-masing."

"Siapa sumber kalian di dalam kelompok tersebut?" tanya Kiyoshi. Dia sambil membaca laporan kasus yang selama ini kususun.

"Salah seorang anggota kelas menengah," jawabku. "Dua tahun belakangan ini aku menugaskan Sakurai dan Wakamatsu untuk mengintai transaksi narkoba yang gampang dilumpuhkan. Salah seorang anggota kelompok mereka berhasil kami tangkap dan diinterogasi."

"Darimana kalian tahu dia tidak akan berkhianat? Biasanya para mafia memiliki anggota yang sangat setia," timpal Nebuya.

"Dia bukan anggota inti dari Divisi," jawab Wakamatsu, "dan kami bernegosiasi dengannya untuk membantu kepolisian. Sesungguhnya, di dalam kelompok tersebut tidak seakur kelihatannya. Para Ketua Divisi saling bertengkar satu sama lain untuk menguasai pasar. Kami bermaksud menggunakan celah itu untuk menyerang dan melumpuhkan mereka."

"Tapi itu tidak cukup," komentar Kiyoshi.

Aku mengangguk. "Memang tidak. Mereka saling bertengkar tetapi mereka kompak jika menghabisi musuh luar. Kita tidak boleh membuat mereka mengendus rencana ini. Karena jika sekali gagal, pemimpin mereka bisa menghilang seperti ditelan bumi dan kita tidak akan pernah bisa menangkapnya."

"Siapa target kalian selanjutnya?" tanya Kiyoshi lagi.

Layar di ruang rapat tersebut berubah menjadi foto seorang lelaki usia pertengahan 30 tahun dengan rambut hitam yang dipilin ke belakang dan tato di seluruh tubuh. Wajahnya tampak sangar seperti ingin memakan kami hidup-hidup.

"Haizaki Shougo, usia 37 tahun dan dia adalah Ketua Divisi 5. Wilayah kekuasaannya meliputi Tokyo Barat dan dia ditugaskan untuk mengatur jual-beli narkoba serta mengedarkannya. Jalur narkobanya tidak hanya di Jepang, tapi meliputi seluruh Asia Timur, termasuk Korea Selatan dan Beijing. Dalam satu bulan dia bisa memproduksi narkoba hingga 100 kilogram."

"Itu jumlah yang cukup banyak," kata Nebuya.

"Permintaannya tinggi," ujar Wakamatsu. "Dan narkoba adalah bisnis yang sangat menjanjikan."

"Bagaimana dengan persenjataan? Jika Haizaki mampu menghasilkan gunung emas dalam satu bulan, dia pasti akan dijaga ketat. Bisnisnya pun begitu," ucap Kiyoshi.

"Dia mendapat pasokan senjata illegal dari Hong Kong. Pemimpin Mafia Naga sangat menyayangi Haizaki karena dia ladang uangnya. Pengawalannya ketat dan mereka bekerja dalam kegelapan meskipun bisnis mereka telah merajarela. Jalur persenjataan mereka masih kami selidiki untuk penyergapan."

Aku berbicara, "Dan tujuan kita adalah mengepung transaksi narkobanya 1 bulan dari sekarang. Menurut sumber kami, Haizaki akan bertemu dengan seorang Mafia Hong Kong untuk transaksi narkoba di Pelabuhan Tokyo. Transaksi itu sangat penting karena itu menjadi simbol kerjasama kedua Kelompok Mafia besar tersebut. Sudah pasti ketika transaksi itu dilakukan, penjagaan akan sangat ketat di kedua pihak. Namun, hanya itu celah yang bisa kita gunakan untuk menangkap Haizaki. Bukti-bukti tidak langsung sudah kita kumpulkan, tapi jika kita tidak menangkapnya ketika sedang melakukan transaksi, dia tidak bisa dituntut."

Untuk sesaat, ruangan rapat hening. Aku tahu bahwa rasanya misi ini terkesan mustahil karena kami berlima akan melawan satu divisi besar dari kelompok mafia yang paling berkuasa di Jepang.

Kiyoshi-lah yang memecah keheningan. "Dan si sumber bagaimana? Apa menurutmu dia bisa terus dipercaya sampai hari pengepungan?"

"Kepolisian menawarkan perlindungan saksi dan pengurangan masa tahanan. Pada dasarnya, dia tidak terlibat langsung dengan bisnis narkoba Haizaki, dia lebih seperti pesuruh. Dia setuju untuk membantu dan kepolisian akan melindungi identitasnya serta penghapusan catatan kriminalnya."

"Apa kalian sudah punya rencana?" tanya Nebuya.

"Kami mencoba meminta bantuan SWAT, tapi jika rencana dan strategi belum jelas, mereka belum mau menurunkan orang. Setidaknya, mereka meminta kami menyerahkan perincian seperti lokasi, perkiraan jumlah musuh, serta waktu dan tempat. Namun, Mafia Naga tidak bekerja seperti itu. Mereka baru akan memberikan informasi mengenai jadwal transaksi di dekat hari H."

"Permasalahan berikutnya adalah lokasi transaksi. Kita tahu bahwa mereka akan melakukan transaksi di Pelabuhan Tokyo, dan itu adalah masalahnya."

"Pelabuhan Tokyo sangat luas dan itu merupakan jalur ramai dan sibuk. Jika ada aktivitas transaksi narkoba sebesar 100 kilo, rasanya akan sangat mencolok. Mereka pasti akan mengelabui petugas pelabuhan," ujar Nebuya.

"Kita harus meminta imigrasi dan pelabuhan mendata semua kapal asing terutama dari Hong Kong yang masuk ke perairan Tokyo. Setidaknya, meskipun sedikit, kita bisa mengeliminasi kapal-kapal dan mempersempit pencarian kita," usul Kiyoshi.

Kami mengangguk.

"Yang jelas,"kataku, "jika kita berhasil menangkap Haizaki, maka itu akan menguatkan posisi kita dan kepolisian."

Kiyoshi menepuk tangannya satu kali. "Yang jelas, sekarang kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Dan jangan lupa bersenang-senang selama prosesnya."

.

AKASHI SEIJUUROU

Nash Gold Jr., bosku yang baik hati, sedang memiliki suasana hati yang baik. Kunjungannya ke Singapura beberapa minggu lalu tampaknya berhasil melenyapkan sisa-sisa kemarahannya. Dan itu jelas mempengaruhi suasana hati para bawahannya, contohnya aku. Sakit kepalaku berkurang, Furihata tidak lagi tampak pucat setiap Nash Gold berjalan di depannya, dan tidurku lebih nyenyak. Secara keseluruhan ini merupakan minggu terbaik yang terjadi.

Dan Aomine. Aku tidak tahu seperti apa hubungan kami setelah kami tidur bersama. Apakah kami hanya teman? Teman tidur? Teman tapi seks? Namun, aku tidak menyesali keputusanku tidur bersama dengannya.

Undangan itu terucap dari mulutku secara spontan. Aku hanya membayangkan bagaimana dia merengkuhku dengan kedua tangannya, menyentuh setiap inchi tubuhku dan seperti apa rasanya bersatu dengannya. Dan ketika dia melakukan semua yang kubayangkan, rasanya luar biasa. Setiap sentuhannya mengirimkan impuls yang mengaktifkan pheromone-ku dan tubuhku dengan cepat bereaksi terhadap semua kecupannya. Instingku mengatakan bahwa aku harus meng-klaim lelaki yang mendominasiku saat itu, tetapi aku hanya memeluk erat lehernya setiap kali dia bergerak di dalam diriku. Hingga sekarang aku masih mampu merasakan sensasinya yang tertinggal di dalam diriku. Seolah-olah dia baru saja menyentuhku. Seolah dia masih ada di dekatku sekarang.

"Ekspresimu cerah sekali ya," komentar Midorima ketika kami bertemu untuk Sarapan Siang, seperti biasa.

"Selamat siang juga Midorima," ujarku. Midorima duduk didepanku sambil membuka menu, meskipun aku tahu dia akan selalu memesan menu yang sama setiap kali kami sarapan siang. Hari ini aku tidak berminat memakan salad dan aku lebih memilih memakan daging steak. Midorima tetap memesan fish and chip seperti orang terobsesi.

"Jadi, kemarin itu orang yang Kise kenalkan padamu ya?" Midorima memulai percakapan.

Aku sudah menduga dia akan langsung membahas tentang Aomine. Meskipun Midorima adalah orang yang kaku, tapi sebenarnya dia tidak akan ketinggalan gossip-gossip terbaru. Apalagi setelah dia menikah dengan seorang novelis yang sangat supel dengan semua orang.

"Begitulah," jawabku. Aku memutuskan untuk tidak berbohong atau menutupinya dari Midorima.

"Jadi kalian berkencan?" tanyanya.

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu."

Dia menampilkan ekspresi bingung. "Maksudnya?" tanyanya.

Aku menghela napas sebelum memutuskan untuk bercerita. "Aku tidur dengannya. Hanya itu saja."

Aku dan Midorima adalah sahabat dan dia tahu semua rahasiaku seperti aku tahu semua rahasianya, termasuk seksualitasku yang lebih menyukai didominasi dibandingkan mendominasi seperti Para Alpha lainnya. Jadi, permasalahan seperti ini adalah topik biasa bagi kami.

"Apa setelah itu dia mengatakan sesuatu?" tanya Midorima.

"Aku menawarinya menginap tapi dia menolak. Dia bilang masih ada pekerjaan."

"Kau bilang pekerjaannya polisi," kata Midorima.

Aku mengangguk. "Kise memperkenalkannya sebagai Inspektur. Kurasa Kise tidak mungkin berbohong."

"Tidak, dia tidak akan berbohong. Tidak ada juga orang yang bisa berbohong di depan Kise."

Itu benar. Kise menghabiskan hidupnya untuk hidup di dunia yang gemerlap, artinya menghadapi berbagai jenis kemunafikan dan kebohongan adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki olehnya. Jadi, aku bisa mempercayai hal itu.

"Tapi kurasa kau masih ingin mengatakan sesuatu," ucapku pada Midorima.

Makanan kami datang, tetapi percakapan kami terus berlanjut. "Menurutmu sendiri bagaimana, Akashi?" tanyanya.

Aku mulai memotong daging steak medium di depanku. "Aku tidak mau berharap apapun. Seks dengannya memang hebat, tapi aku tidak mau salah langkah." Aku memasukkan sepotong daging sapi itu ke dalam mulutku dan mengunyahnya.

"Jadi kau mengakui bahwa kau menyukainya."

"Aku bilang seks dengannya hebat," ralatku.

"Sama saja," katanya. "Lalu selanjutnya bagaimana?"

"Dia bilang akan menginap lain kali."

Midorima tidak segera menjawab. Dia dengan tenang menyantap menu makanan didepannya dengan tenang. "Bagus untukmu, kalau begitu." Dia melirikku sekilas dari balik kacamatanya yang simetris.

"Kurasa," jawabku seadanya.

Seks dan hubungan itu dua hal yang berbeda. Seks dengan Aomine memang menyenangkan dan memuaskan bagiku dan aku merasa nyaman dengan apa yang kami miliki saat ini. Bicara lewat telepon, sesekali makan bersama, dan mungkin diselipi beberapa ronde seks. Namun, itu saja yang harus aku fokuskan. Aku tidak berharap apapun dari hubungan antara kami, karena aku adalah orang yang paling tahu mengenai kegagalan suatu hubungan. Aku pernah menyakiti hati seseorang karena keegoisanku dan aku tidak akan melakukannya pada Aomine.

"Bagaimana dengan novel baru Kazunari-sensei?" tanyaku.

"Mengerikan. Deadline untuk bab 10 nya sudah lewat dua hari dan dia sedang kejar target."

"Tidak biasanya sensei terlambat menyelesaikan naskah."

"Siklus heat-nya sedikit bermasalah. Dan lagi, siklusnya selalu bermasalah setiap mendekati deadline. Jadi, sebenarnya ini cerita lama," ceritanya.

"Editornya?"

Midorima mengangkat bahu. "Mau diapakan lagi, dia tidak bisa bekerja karena heat-nya. Jadi, aku memintanya datang seminggu lagi. Sekarang dia sedang bekerja seperti orang gila untuk mengejar deadline."

"Apa menurutmu novel barunya akan diadaptasi menjadi serial televisi lagi?" tanyaku.

"Entahlah. Kazunari tidak ada cerita mengenai kontrak seperti itu. Sepertinya dia masih menikmati keberhasilan serial televisi yang terakhir. Kau tahu dia seperti apa."

Benar. Takao Kazunari, pasangan Midorima, adalah salah satu orang paling ambisius yang pernah aku kenal. Dia adalah seorang jenius dalam bidang literature dan kemampuan menulisnya seperti tulisan dari para dewa. Takao Kazunari memulai karirnya sebagai penulis sesaat setelah dia menyelesaikan kuliah sarjananya dari fakultas psikologis. Tema novel yang dipilihnya adalah thriller-psikologis. Sudah beragam judul novel yang diterbitkan, beberapa diantaranya dijadikan serial televisi ataupun film berdurasi 2,5 jam. Bahkan, novelnya sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Dengan sepak terjang sehebat itu, Takao Kazunari juga menikmati seluruh kepopulerannya. Bagiku, dia sedikit mirip dengan Kise. Mereka berdua adalah orang-orang dengan bakat terhebat di bidang masing-masing. Mereka bersinar dengan cara mereka sendiri. Hal itu juga yang menarik perhatian Midorima, membuatnya jatuh hati dan akhirnya menikahinya.

"Si kecil bagaimana? Apa masih demam?" tanyaku.

"Mereka masih di rumah orangtua Kazunari. Selama heat-nya mana mungkin dia bisa mengurus si kecil. Aku saja sudah kerepotan dengan kedua anak kami yang lain."

"Hubungannya dengan orangtuamu belum membaik juga, sepertinya."

Midorima mendengus sedikit sinis. "Aku sudah tidak mau memikirkan hal itu lagi. Mereka sama-sama keras kepala dan lebih baik menjauhkan mereka sejauh mungkin daripada mereka bertengkar terus." Aku mengangguk. Sesempurna apapun keluarga Midorima terlihat dari luar, setiap keluarga pasti memiliki masalahnya masing-masing.

"Progress-mu sudah sampai mana? Apa kau sudah berhasil mendata daftar tamu undangan untuk Ayahmu?" tanya Midorima, beralih ke topik selanjutnya.

Aku mendengus. "Aniki menyarankan aku memulai dari teman-teman di perusahaannya dulu. Kurasa kau sudah bisa bilang bahwa aku sudah mengalami kemajuan."

"Dan Ayahmu sekarang sedang berada dimana?" tanyanya.

"Dia masih di Kapal Pesiar. Sepertinya di Singapura atau Hong Kong. Tapi Ayah bilang akan kembali saat ulangtahunnya."

Makanan kami sudah hampir habis. Aku mengelap sudut bibirku untuk membersihkan saus yang berceceran. Midorima meneguk minumannya.

"Dan kau akan mengundang Aomine datang?"

Pertanyaan itu tidak kusangka dan aku tidak punya jawabannya. Sejujurnya, aku belum berpikir sampai ke sana. Aku hanya menikmati setiap detik yang bisa kunikmati bersama dengannya. Namun, membawanya ke acara ulangtahun Ayah adalah dua hal yang berbeda. Semua saudaraku ada di sana, lalu Ayah dan semua koleganya. Membawa Aomine sama seperti mengesahkan hubungan tidak jelas di antara kami dan mengumumkannya ke seluruh anggota keluarga.

Aku bergidik saat memikirkannya dan hatiku terasa berat. Aku tidak mau merusak apapun yang sedang terjalin di antara kami, karena aku lebih nyaman dengan ini semua.

"Sepertinya tidak. Aku tidak berpikir itu ide bagus mengundangnya. Lagipula, kami baru berkenalan."

"Dan kau sudah tidur dengannya," kata Midorima mengingatkan.

"Itu berbeda. Aku tidak tidur dengannya dihadapan seluruh keluarga. Tapi mengundangnya akan mengundang perhatian seluruh keluarga. Kau tahu Ayahku, dan Aniki, dan Taiga. Aku tidak mau diolok-olok oleh mereka berdua."

"Taiga juga datang ke Jepang? Bukankah NBA sedang ada jadwal pertandingan?"

"Dia sedang cuti, entahlah. Ayah ingin kami semua hadir. Mungkin karena dia sudah lama tidak melihat anak-anaknya."

Makanan dan minuman kami sudah habis sepenuhnya. Seorang pelayan membawakan bill. Aku mengeluarkan kartu debitku. "Giliranku," kataku pada Midorima dan aku menuju kasir. Midorima ikut bangkit dan berjalan bersamaku. Aku membayar biaya makanan kami berdua dan setelah itu kami berjalan ke arah tempat parkir seperti yang selalu kami lakukan.

"Kalau kau sempat, datanglah nanti ke acara ulangtahun Ayah. Kau dekat dengan keluarga kami, kurasa Ayah akan senang kau datang."

Midorima memberikan seringai mengejek sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Kalau kau memberikanku tontonan menarik saat acara, kurasa aku akan mempertimbangkannya."

Lalu, mobilnya pergi dari tempat parkir.

.

Aomine mampir lagi ke mansion-ku malam hari.

"Apa kau akan menginap?" tanyaku sesaat melepaskan ciuman di antara kami.

Dia menyeringai. "Kau tidak lihat tas besar di sana?" retoriknya sebelum kembali membungkam mulutku. Sejujurnya aku tidak melihat. Pandanganku hanya terfokus pada Aomine yang menyeringai ketika aku membuka pintu mansion.

Dia terlihat berbeda hari ini. Aku tidak tahu mengapa, tapi dia terlihat jauh lebih memikat. Kemejanya berwarna putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Jasnya berwarna biru tua dan dia memakai mantel yang lumayan tebal. Ketika aku memeluk pinggangnya untuk merapatkan kedua tubuh kami, aku meraba sesuatu di pinggangnya, sebuah lencana kepolisian. Baru kali ini aku merasa dia benar-benar seorang polisi.

Dia membuka sepatunya dengan terburu-buru dan aku menariknya masuk ke dalam kamarku, tempat biasa kami bercinta. Namun karena dia sudah akan menginap, maka aku tidak harus terburu-buru. Seluruh malam ini akan menjadi milik kami berdua. Mantelnya dilepas sembarangan. Dia membuka kaos yang kupakai dan aku membuka kemejanya. Hampir saja aku merobek kemejanya. Dia tertawa di antara ciuman kami. Ketika di atas ranjang, dia menindihku dan tubuh tanpa busana kami berdua menyalurkan kehangatan bagi satu sama lain.

Sesi seks kami sehebat sebelumnya dan aku harus mengatakan bahwa aku tidak pernah mengalami seks sehebat yang kulakukan dengan Aomine. Bukan karena aku lebih memilih untuk didominasi, tapi Aomine bisa membimbingku. Tidak banyak Alpha dengan seksualitas sepertiku, yang memilih untuk didominasi dan kebanyakan orang selalu merendahkanku dan memandangku sebelah mata jika mereka tahu mengenai hal itu. Namun, Aomine tidak.

Dia tidak membuatku merasa kecil ketika aku berada di dalam rengkuhannya, dia tidak membuatku merasa aneh ketika dia menguasaiku. Setiap kami bercinta, dia mampu mengeluarkan sisi dominansiku dan membuatku ingin meng-klaim kepemilikannya. Seks seperti itulah yang selama ini aku cari dan Aomine selalu memberikannya padaku. Aomine tidak pernah menyadari bahwa setiap kami bersetubuh, pheromone-ku keluar tanpa aku bisa mengontrolnya. Dia tidak bisa merasakannya, tidak bisa mengecapnya barang satu kali pun. Dia tidak menunjukkan reaksi apapun ketika seluruh pheromone itu menyelimuti tubuhnya.

Dan ketika kami selesai bercinta, Aomine selalu membawaku ke dalam pelukannya dan kami bermalas-malasan. Mendengarkan suara denting jam yang statis, suara napas kami berdua dan otakku mengembara pada percakapanku dengan Midorima. Jika aku mengajaknya sekarang, mungkin dia akan setuju, tapi juga ada kemungkinan dia akan menolak.

Kami tidak pernah bicara apapun mengenai apa yang kami inginkan di antara kami. Kami saling bertemu, bercinta dan saling mengisi kekosongan satu sama lain. Aku tidak menanyakan hal itu. Aku tidak memintanya datang ke pesta ulangtahun Ayahku. Aku menanyakan pertanyaan lain padanya.

"Apa kau pernah penasaran dengan pheromone?" tanyaku.

Aomine yang sedang memejamkan mata kembali membuka matanya dan menatapku. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya.

"Aku hidup dengan merasakan seluruh pheromone dari orang-orang di sekitarku. Aku tidak mengatakan hal itu luar biasa, tapi bagi sebagian orang itu sangat mempersulit hidup mereka. Aku jadi ingin tahu seperti apa rasanya tidak dapat merasakan pheromone."

Aomine menatapku lama sebelum menjawab. "Sejujurnya, aku pernah penasaran. Dulu sekali, ketika masih remaja. Aku bertanya-tanya betapa beruntungnya orang-orang yang terlahir sebagai Alpha maupun Omega. Mereka memiliki kelebihan yang tidak dapat dimiliki semua orang. Mereka seperti hidup di dunia yang berbeda dengan kami, Para Beta. Tapi semakin bertambah dewasa, aku merasa kami sama."

Aku mengamatinya ketika dia bicara. "Apa kau merasa penasaran terhadapku?" tanyaku.

"Pheromone-mu?" Dia menatap langit-langit kamarku seolah sedang berpikir. Aku mengamati sosoknya dari samping. Rahangnya yang tegas dan janggut tipisnya yang sudah dicukur. Aku mengusapnya secara insting. "Aku penasaran," katanya lugas. "Tapi kurasa kau tidak harus mempermasalahkan hal itu. Meskipun aku tidak bisa merasakan pheromone atau pun terpengaruh olehnya, aku bekerja dengan Para Alpha dan Omega dalam waktu lama. Aku bisa membaca pheromone mereka."

Aku memperbaiki posisiku dan menatapnya penuh minat. "Membaca? Seperti kau membaca buku?" tanyaku.

Aomine tertawa. "Sulit dijelaskan. Tidak ada teori yang mempelajarinya. Aku hanya melakukannya begitu saja."

"Bagaimana pheromone-ku? Apa kau bisa membacanya?" tanyaku.

Dia menatapku dengan iris biru tuanya yang setenang permukaan air laut di malam surut. Aku bisa tenggelam selamanya dalam iris obsidian itu dan aku tidak akan keberatan sama sekali. Mungkin, aku tidak sadar jika aku telah tenggelam di dalamnya.

"Kau… ingin melanjutkan ronde seks kita." Dan dia mencium seluruh mulutku.

Aku tertawa di dalam ciumannya. Kupukul tangannya main-main. "Itu yang kau baca dari pheromone-ku? Seks?"

"Memangnya kau tidak mau?" dia bertanya sambil menciumi seluruh leherku. Kalau ada yang aku pahami dari Aomine sejak kami tidur bersama, yaitu dia sangat menyukai leherku. Dia menciumi seluruh leherku tanpa meninggalkan bekas, menjilatinya dan menciuminya lagi, seperti seorang anak kecil yang mendapat sebuah permen.

Tentu saja aku menyambutnya. Sisa malam itu kami habiskan untuk saling menggoda satu sama lain.

.

"Apa kau tahu tentang Beta?"

Chihiro menatapku. Jari-jarinya yang sedang mengetik di laptop terhenti dan irisnya yang sewarna abu itu tampak seperti menghakimiku.

"Kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?" tanyanya.

"Aku hanya penasaran."

Aku mendatanginya di Kantor Kejaksaan karena Chihiro bilang ingin bertemu dan membahas mengenai tamu undangan. Padahal aku sudah mengirimkan detailnya lewat LINE, tapi seperti anak sulung pada umumnya, dia suka menyuruh-nyuruh. Perlu diingat, aku adalah putra bungsu dari keluarga Akashi. Jarak usia kami yang jauh membuatku tidak mampu melawannya seperti aku melawan Taiga.

"Kau penasaran tentang Para Beta?" ulangnya dengan hati-hati dan penuh perhitungan.

Aku mengangguk, meskipun aku menjaga ekspresiku. Insting milik Chihiro setajam mata elang ketika dia mengendus sesuatu yang mencurigakan. Aku tidak boleh terlihat mencurigakan karena dia bisa langsung mengetahui apa yang kusembunyikan.

"Apa mereka punya kemampuan khusus?" tanyaku.

Chihiro memandangku seolah aku baru saja bertanya mengenai apakah ayam bisa menyelam dan hidup di dalam air. Meskipun eskpresinya tampak tidak berubah, tapi aku tahu pasti bahwa dia sedang bingung sekaligus merasa konyol dengan pertanyaanku.

"Jelaskan pertanyaanmu," katanya.

Aku bingung cara menjelaskannya bagaimana. Bagaimana caraku mengatakan bahwa aku bertemu dengan seorang Beta yang katanya mampu membaca pheromone? Apakah itu masuk akal?

Sebelum aku menemui Chihiro, di pagi hari setelah Aomine pulang dari mansion-ku, aku mencari-cari mengenai Beta di internet. Dari mulai artikel, blog-blog, hingga paper penelitian. Namun, hasilnya nihil. Tidak banyak penelitian ataupun artikel mengenai Para Beta. Mereka adalah manusia pada umumnya, memenuhi 60% populasi di dunia tanpa pheromone. Tidak ada yang spesial dari mereka, begitu kata para bloger di internet.

"Apakah mereka sama spesialnya dengan kita? Para Alpha dan Omega mampu mengeluarkan pheromone dan menjadikan kita lebih dominan. Namun, Beta berada di dalam piramida kehidupan. Jika mereka tidak penting, tidak mungkin mereka berada di dalam piramida tersebut," aku mencoba menjelaskan semasuk akal mungkin kepada Chihiro.

"Siapa yang mengatakan kita lebih dominan dari Para Beta?" Chihiro bertanya. Entahlah, aku tidak begitu yakin dia bertanya atau tidak, karena salah satu sifat Chihiro adalah memutar balik pertanyaan. "Menurutmu pheromone menjadikan kita lebih dominan? Berkuasa?"

"Menurutmu tidak?"

"Menurutku, itu menjadikan kita lebih mendekati sifat primodial binatang. Siklus rut, heat, semua itu apa tampak asing bagimu? Apa yang kau rasakan ketika kau dalam siklus rut?" tanya Chihiro.

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Aku paham ke arah mana percakapan ini berlangsung, bahwa kami, Alpha, memiliki darah primodial yang terkadang menuntut untuk dipuaskan. Aku tidak bisa mengatakan apa yang kurasakan ketika aku sedang mengalami siklus rut, tapi yang selalu ada tuntutan yang ingin dipuaskan. Dan tuntutan itu berbahaya. Tidak semua orang bisa mengendalikannya. Kebanyakan Alpha tersesat dalam siklus rut mereka dan sisi primodial mereka akhirnya mengambil alih pikiran mereka.

"Kita berdua tahu jawabannya," jawabku singkat. Chihiro mengangguk.

"Menurutku, mereka adalah stabilitas untuk kita," kata Chihiro.

"Kau menikah dengan seorang Beta, apa yang kau rasakan?" tanyaku. "Apa kau… merasa stabil?"

Chihiro memandangku seperti saat dia mengajariku menyetir mobil ketika usiaku 16 tahun. "Kenapa kau berputar-putar seperti itu? Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?"

Aku menghembuskan napas. Aku harus menyusun pertanyaanku agar tampak netral dan murni seperti pertanyaan karena rasa penasaran biasa. "Ada seseorang yang katanya bisa membaca pheromone."

"Siapa?"

"Kenalanku. Rekan kerja. Dia bilang seperti itu padaku."

Alis Chihiro naik satu millimeter yang menandakan dia tertarik pada topik yang sedang kubahas. "Apa kau percaya padanya?" tanyanya.

Aku memikirkan Aomine dan aku tidak memikirkan kemungkinan dia berbohong. Apakah Aomine berkata jujur? Atau itu hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku?

"Aku tidak tahu. Kurasa bisa saja itu kebohongan. Aku tidak pernah tahu seorang Beta bisa terpengaruh pheromone."

Namun, Chihiro malah terkekeh singkat. Kupikir pada awalnya dia akan menyetujuiku, tapi dia malah memberikan reaksi yang berbeda.

"Ada banyak yang tidak kita ketahui tentang Beta," kata Chihiro, "hanya karena mereka tidak sespesial kita, bukan berarti mereka tidak spesial."

"Sekarang aku merasa kau berputar-putar," kataku jujur.

"Kupikir kau adalah anak paling jenius di antara kita semua. Rupanya kau masih juga kebingungan."

"Terima kasih untuk pujiannya. Itu sangat berarti," gerutuku. Chihiro hanya menyeringai. "Jadi, sekarang bisa tolong jelaskan saja padaku? Apa menurutmu dia berbohong padaku? Atau itu memungkinkan? Apa Sakura-san bisa membaca pheromone juga?" tanyaku.

Chihiro menikah dengan seorang wanita Beta dengan usia pernikahan 20 tahun. Mereka memiliki 2 orang anak lelaki yang keduanya saat ini bersekolah di sekolah asrama di Tokyo. Sakura, istrinya, adalah seorang psikiater. Di antara ketiga anak Ayah, kehidupan pernikahan Chihiro adalah sebuah keberhasilan yang signifikan dibandingkan dengan pernikahanku yang hancur berantakan atau hubungan Taiga dan para model yang putus-sambung.

"Dia seorang psikiater, tidak perlu membaca pheromone untuk mengetahui jiwa seseorang," kata Chihiro.

"Tapi menurutmu dia bisa membaca pheromone? Jadi itu benar? Apa semua Beta bisa melakukannya?" tanyaku lagi.

"Kau tanyakan saja langsung pada Sakura," kata Chihiro, "kalau kau sepenasaran itu. Penjelasannya akan lebih masuk akal dibandingkan jika aku yang menjelaskan."

Kalimat itu menggelitikku, karena Chihiro pasti tahu sesuatu. Dia mungkin pernah melihat Sakura melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka telah menikah selama 20 tahun, tidur di ranjang yang sama, berbagi suka dan duka.

"Jadi itu benar," simpulku. Chihiro hanya mengangkat bahunya. Namun, jawaban yang aku inginkan sudah kudapatkan. "Apa dia bisa membaca pheromone-mu?" tanyaku lagi.

Semua ini sangat baru untukku. Aku hidup berdampingan dengan Beta tetapi aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Kurasa aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sehingga banyak sekali yang aku lewatkan di dalam hidup.

"Itu tidak sekeren kedengarannya," kata Chihiro. Jadi Sakura pernah membaca pheromone milik Chihiro. Aku menjadi semakin penasaran. Namun, aku tahu bahwa Chihiro sudah tidak punya jawaban lagi dari semua pertanyaanku. Yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku hanyalah Para Beta yang bersangkutan.

"Kurasa aku cukup paham sekarang," kataku. Aku berdiri setelah tidak ada hal lain yang ingin kutanyakan. Lagipula, aku di sini karena Chihiro seenaknya menyuruhku datang. Kebetulan saja ada hal yang ingin kutanyakan kepadanya sehingga jam berkunjungku lebih lama dari seharusnya. "Titip salam untuk Sakura-san."

"Jadi sekarang kau berpacaran dengan seorang Beta ya," kata Chihiro. Langkahku terhenti ketika ingin membuka pintu ruangannya.

"Jangan bicara seenaknya," kataku.

Aku bisa mendengar Chihiro tertawa meremehkan dari belakang. Aku tidak bisa menipu instingnya yang terbiasa melihat di balik kebohongan para penjahat yang di sidang. "Bicara seperti itu tidak membantu, kau tahu. Aku selalu tahu."

"Apa kau selalu mengatakan hal itu di persidangan? Norak sekali."

Chihiro tidak menanggapi ejekanku. Dia malah mencecarku lebih jauh. "Apa kau akan membawanya saat acara Ayah?" tanyanya.

"Aku tidak paham apa yang kau bicarakan."

Chihiro mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Terserah kau. Aku menantikan acara Ayah."

Aku segera keluar dari ruangannya, karena jika aku masih berada di sana aku pasti menjadi bulan-bulanan Chihiro.

.

AOMINE DAIKI

Satsuki sudah berada di dalam mansion-ku bahkan sebelum aku bangun tidur. Beberapa minggu belakangan ini aku memang lebih sering menginap di tempat Akashi tanpa memberitahu siapapun. Hubungan kami berdua berjalan lancar dan seks dengan Akashi sangat hebat. Aku tahu dia puas denganku dan untuk itu aku merasa bangga dengan diriku sendiri.

"Aku tidak akan menjawab apapun karena aku punya hak untuk tetap diam," kataku sebelum dia mulai membuka mulut. "Para tersangka punya hak untuk diam dan ditemani pengacara, jadi aku juga akan memakai hak diamku."

"Aku bahkan belum mengatakan apapun," kata Satsuki.

Aku tidak peduli. Jika dia mulai bicara, dia tidak akan berhenti. Jika dia tidak berhenti, aku tidak bisa mengabaikannya. Aku akan dipaksa menjawab pertanyaannya sampai aku tidak bisa mengelak. Sebenarnya, aku tidak suka berahasia. Aku dan Satsuki sudah berteman sedari kami kecil. Bahkan, kami juga menghabiskan masa kecil bersama Tetsuya. Dia selalu ada di sisiku, dalam suka dan duka, termasuk ketika aku menikah dengan Tetsuya dan juga kematiannya. Satsuki selalu ada, sehingga tidak masuk akal jika aku menyimpan rahasia darinya.

Namun, aku dan Akashi itu berbeda. Kami tidak bisa disebut kekasih, tidak bisa juga disebut teman biasa. Kami tidur bersama, saling memanjakan satu sama lain, tetapi hanya itu saja kegiatan di antara kami. Tidak pernah terucap dari bibir Akashi mengenai kejelasan hubungan kami, karena itu aku juga tidak akan mengucapkannya. Jika hubungan ini membuat Akashi nyaman, maka aku tidak keberatan untuk mengikutinya. Selama kami bisa memuaskan satu sama lain, aku akan menahan lidahku. Tidak akan keluar satu kata pun dari mulutku.

"Aku tidak akan bertanya jika kau tidak nyaman, Dai-chan," katanya lembut. "Aku sudah menyiapkan semua hal yang akan kita bawa. Kita akan mengunjungi Tetsu-kun, kan?" dia tersenyum.

Aku mengangguk. Benar juga, hari ini adalah hari peringatan kematian dari suamiku, Tetsuya. Aku tidak akan pernah melupakan hari paling kelam di hidupku, ketika tubuhnya yang berlumuran darah kutemukan tidak bernyawa di sebuah taksi berwarna kuning di jalan tol Tokyo.

Kata para polisi patroli yang mengamankan TKP, itu merupakan murni kecelakaan. Sebuah truk yang sedang melaju kencang mengalami rem blong dan menghantam taksi yang ditumpangi Tetsuya. Dan, karena kepolisian kekurangan bahan bukti untuk membuktikan bahwa itu merupakan percobaan pembunuhan, maka kasus ditutup. Saat itu aku masih menjadi seorang detektif dan Imayoshi adalah Inspekturku. Sekeras apapun aku protes, sekeras apapun aku mencari barang bukti, semuanya sia-sia. Namun, aku tahu bahwa itu bukanlah sebuah kecelakaan.

Saat itu aku sedang menyelidiki mengenai Mafia Naga dan aku bersinggungan dengan seorang Ketua Divisinya, Haizaki Shougo. Aku benar-benar mempersulit Haizaki dan bisnisnya, sehingga dia membalas dendam dengan mengatur pembunuhan Tetsuya. Ketika aku mengatakan hal itu pada Imayoshi, dia menyuruhku cuti selama 2 minggu untuk menenangkan pikiranku.

Mana bisa aku hidup dengan tenang setelah kematian Tetsuya. Tetsuya adalah alasanku untuk terus hidup dan semangat bekerja. Di kala itu, dia sedang mengandung bayi kami sehingga aku kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Karena itu sekarang ketika ada kesempatan untuk menangkap Haizaki, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku telah menunggu begitu lama dan bersabar dengan setiap kebencian mengalir di dalam darahku sampai waktu itu tiba. Aku bisa menanti sebentar lagi jika aku bisa menangkap penjahat seperti Haizaki. Aku yakin Tetsuya juga menginginkan hal yang sama.

Ketika aku sadar dari lamunanku, aku sudah selesai mandi. Air hangat yang kupakai untuk mandi membuat seluruh kulitku lembab. Aku memakai kemeja hitam dan celana jeans untuk kunjungan ke Pemakaman. Satsuka sudah tampil rapi dengan gaun berwarna hitam dan rambutnya yang sewarna dengan kelopak sakura di sanggul rapi. Wajahnya dirias menggunakan riasan tipis. Dia tampak cantik hari ini.

"Ayo," ajaknya. Aku pergi bersama Satsuki.

Jalanan sedikit ramai di hari libur. Mobilku berjalan lebih pelan dari seharusnya, tetapi kami tidak terburu-buru. Orang yang sudah meninggal tidak akan pergi kemana-mana dan akan terus berada di tempat yang sama selamanya. Setidaknya, aku tahu kemana harus melangkah untuk menemuinya. Setidaknya, aku tahu bahwa Tetsuya akan tetap di tempat yang sama bersama dengan bayi yang belum dilahirkannya.

Kami sampai ke Pemakaman ketika hari sudah menjelang agak siang. Cuaca sudah kelabu dan angin musim gugur berhembus kencang. Kami berdua merapatkan mantel sambil berjalan masuk lebih jauh menuju pusara milik Tetsuya. Kami berjalan hati-hati dan aku membantu Satsuki yang berjalan lebih pelan.

"Kenapa kau memakai sepatu hak tinggi? Sudah tahu tanah di sini tidak rata," protesku sambil menggenggam tangannya karena dia hampir jatuh.

"Ini namanya fashion," katanya sambil berusaha berjalan.

"Kau saja kesusahan berdiri. Aku tidak mengerti kenapa kau suka menyiksa diri sendiri," gerutuku. Namun, aku tidak melepaskan genggamanku. Jika Satsuki jatuh di sini akan sangat merepotkan dan juga pekerjaanku akan menjadi semakin banyak.

"Kau cerewet sekali! Kau tidak mungkin paham hal-hal seperti ini! Fashion ada untuk membuat manusia menjadi menarik."

"Siapa yang akan tertarik padamu di sini? Leluhur atau arwah gentayangan?" sindirku.

Dia meninju bahuku. Tinjunya kuat sampai aku mengaduh kesakitan. "Jangan bicara yang tidak-tidak di sini, Bodoh! Nanti kualat! Kenapa kau tidak paham juga?"

Kami saling mengomel sampai akhirnya aku sampai di pusara Tetsuya. Bulan ini bukanlah bulan ziarah, sehingga tidak banyak yang berkunjung ke Pemakaman. Lagipula tidak banyak orang yang mau kedinginan di tanah yang gersang seperti pemakaman.

"Diam," desis Satsuki. Aku mendengus. Dia mulai menyalakan dupa dan mengeluarkan bunga krisan yang sudah disiapkannya. Aku membantu menata bunga krisan tersebut. Bunga yang cantik dan indah, kelopaknya berwarna biru langit, persis seperti surai Tetsuya. Namun, secantik apapun bunga yang aku berikan tidak akan bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Lagipula, Tetsuya dan bayi kami sudah dikremasi, sehingga pusara dihadapan kami hanyalah simbolik, seperti pusara keluarga.

Aku dan Satsuki mendadak diam, karena Satsuki mulai mengatupkan kedua tangannya dan memejamkan mata. Kurasa dia mulai mengomel panjang lebar mengenai kelakuanku selama ini dan jika aku jadi Tetsuya, kupingku pasti sudah panas mendengarnya. Namun, sedari dulu Tetsuya selalu menjadi pendengar yang baik untuk Satsuki. Jadi, dia pasti tidak keberatan.

Tak berselang lama Satsuki membuka matanya. Di tahun-tahun awal kematian Tetsuya, Satsuki tidak bisa menahan air matanya dan selalu menangis. Namun, 10 tahun telah berlalu dan kami berdua sudah mulai pulih dan tegar. Matanya sudah tidak berkaca-kaca lagi. Dia tidak lagi menyedot ingus seperti anak hilang di mall. Dia bisa tersenyum cerah dan mengomel padaku setelah ini.

"Aku akan menunggu di depan," kata Satsuki. Aku mengangguk.

Satsuki selalu berdoa duluan, lalu dia akan meninggalkanku sendiri di depan pusara Tetsuya. Waktu abadi bagi Tetsuya, tetapi waktu terasa sangat singkat bagiku. Satsuki sedikit kesusahan saat turun, tetapi ketika aku menawarkan bantuan, dia menolak. Ini adalah waktu-waktu yang harus kuhabiskan sendiri. Hanya aku, perasaanku, kesedihanku, dan seluruh kebencianku.

"Tetsu," kataku. Suaraku serak dan aku merindukan panggilan itu. Kini, tidak akan ada yang menyahut setiap aku memanggil nama itu. "Kupikir akan semakin mudah, tapi rupanya tidak. Tapi aku sudah tidak menginginkan kematian lagi. Sekarang, kami akan menangkap Haizaki dan dia akan diadili untuk semua dosa-dosanya. Aku akan melakukannya untukmu dan anak kita. Kali ini aku akan berhasil. Kau bisa mengandalkanku."

Biasanya tidak banyak yang bisa kuceritakan pada Tetsuya. Selama ini isi monologku hanya berkisar dengan putus asa dan betapa aku ingin mati untuk menyusulnya. Namun, kali ini seperti ada beban yang sedikit diangkat dari pundakku. Entah mengapa, bicara dengan Tetsuya tidak menyiksa seperti sebelumnya.

"Aku berkenalan dengan seseorang di Pesta Kise. Namanya Akashi Seijuurou dan dia seorang Alpha. Alpha yang sedikit unik, karena pheromone-nya tidak seperti Alpha lain yang biasa kubaca. Perawakannya sedikit mirip denganmu, dengan kulit pucat, rambut acak-acakan yang tidak akan pernah rapi berapa kalipun disisir. Kami cocok untuk satu sama lain. Kau tidak akan marah 'kan?"

Tidak ada yang menjawab. Bagaimana Tetsuya akan marah padaku? Dia sudah berubah menjadi abu, sudah hanyut di laut dan sudah kembali kepada alam. Tetsuya adalah setiap pijakan tanah tempatku berdiri, udara yang kuhirup dan hujan yang turun membasahi bumi. Jiwanya telah pergi ke alam orang mati dan tubuhnya kembali melebur bersama bumi.

"Sifatnya sangat berbeda denganmu, tapi aku bisa menerimanya. Pheromone-nya suram sekali ketika kubaca, tapi kurasa karena setiap manusia selalu menyembunyikan banyak rahasia. Aku belum menceritakan tentangmu, karena aku tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya. Kadang aku ingin bercerita mengenaimu, memperkenalkan kalian berdua. Apa kau akan cemburu jika aku membawanya? Apa kau akan bisa menyukainya? Itulah yang selalu aku pikirkan ketika berada bersamanya."

Aku menyentuh pusara yang dingin. Seperti tubuh Tetsuya dan bayi kami di kamar jenazah ketika mereka sudah dimandikan dan akan bersiap dilakukan upacara kematian. Dingin sepeti benda tanpa jiwa, kaku seperti batu yang tidak bergeming dihempaskan oleh badai sedahsyat apapun.

"Aku akan datang lagi," kataku dan kukecup pusara yang dingin itu. Sebelum Tetsuya dan bayi kami dimasukkan ke dalam alat kremasi, aku mengecup keningnya untuk terakhir kali. Dan itulah yang selalu kulakukan setiap aku datang berziarah. Sangat menyedihkan karena satu-satunya penanda bahwa Tetsuya pernah hidup hanyalah pusara dingin dan kejam ini.

Satsuki sudah menunggu di dalam mobilku sambil menyalakan pemanas. Dia sedang menatap ponselnya dan ketika aku masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, dia tersenyum. Aku balas tersenyum singkat.

"Makan di tempat biasa?" tanyaku.

Dia mengangguk.

Restoran tempat kami makan biasa adalah restoran sushi sederhana tetapi menunya luar biasa enak. Kami duduk di tempat biasa kami duduk dan seorang pelayan mendatangi kami, meskipun kami selalu memesan menu yang sama.

"Ah dingin," kata Satsuki.

"Tapi kau memesan es krim untuk dessert."

"Es krim itu mutlak."

Aku hanya mendengus dan memutuskan untuk tidak membahasnya. Berdebat dengan Satsuki sangat menguras tenaga, sehingga aku sudah belajar untuk tidak menanggapinya. Di saat seperti ini aku ingin sekali merokok, tetapi aku telah berhenti merokok sejak lama. Alasannya karena Tetsuya hamil dan rokok tidak bagus untuk kandungannya (serta kesehatan seluruh keluarga, lebih tepatnya).

"Apa yang kau ceritakan pada Tetsu-kun?" tanya Satsuki.

Aku hanya menatapnya bingung sebelum memutuskan untuk menjawab asal-asalan. "Kubilang kau semakin cerewet, semakin tua dan semakin gemuk. Selera fashion-mu juga dipertanyakan."

Tungkaiku ditendang dengan keras oleh ujung sepatu hak tingginya yang lancip. Satsuki masih tersenyum dengan manis. Tulang keringku serasa patah. "Sakit," gerutuku.

"Kalau begitu jangan bicara bohong di Pemakaman, Bodoh! Kau ini ingin sekali dikutuk ya?"

Aku berdecak. "Mana ada kutukan seperti itu. Kau terlalu banyak bekerja dengan para orang tua."

Satsuki bekerja sebagai salah satu perawat di sebuah Panti Jompo sekaligus Rumah Sakit Lansia di daerah Tokyo. Sifatnya sangat cocok dengan para orangtua yang seenaknya dan merepotkan. Dia sudah dua kali mendapat penghargaan sebagai Karyawan Terbaik.

"Kau lebih susah diatur daripada mereka," kata Satsuki.

"Aku juga tidak mau diurus olehmu."

Satsuki tertawa sinis. "Harus kuingatkan siapa yang menggantikanmu baju saat kau demam sampai 40 derajat? Saat kau muntah-muntah dan vertigomu kambuh sampai kau tidak bisa membuka mata?" Dia melotot. "Kau pasti sudah mati di pinggir jalan kalau hidup sendiri."

"Terima kasih Ibu," kataku.

"Aku bukan Ibumu!" salak Satsuki.

Makanan kami datang, dua platter sushi yang beraneka ragam. Kami mengambil dua piring kecil. Percakapan kami berlanjut selama makan.

"Siapa namanya?" tanya Satsuki.

"Apa? Siapa?" tanyaku tidak mengerti.

"Alpha yang kau kencani. Siapa namanya?" tanyanya lagi. Aku hampir menjatuhkan sumpitku. Dia memutar bola matanya bosan. "Kau lupa aku seorang Alpha juga ya. Tahu tidak bahwa belakangan ini kau selalu diselimuti pheromone? Aku kira kau mengganti parfum-mu menjadi pheromone Alpha."

Aku tidak tahu. Dalam pembelaanku, aku selalu lupa bahwa Satsuki itu seorang Alpha. Dia tidak pernah menunjukkan dominansinya selama ini. Selama ini, kami bermain bersama dengan melupakan hal-hal tidak penting seperti itu. Namun, Satsuki sebenarnya mampu merasakan pheromone lebih baik dari kebanyakan orang. Itu adalah insting alaminya.

Dan pembelaanku yang lain, aku sendiri tidak tahu bahwa seluruh tubuhku memancarkan pheromone Alpha. Aku tidak mungkin tahu, karena aku tidak merasakannya secara langsung. Kurasa Akashi tanpa sadar melepaskan pheromone-nya setiap kami menghabiskan waktu bersama. Pheromone yang menempel di tubuhku sendiri tidak mungkin bisa aku baca. Setidaknya itu menjelaskan perlakuan aneh para rekan kerjaku di kantor dan tatapan aneh mereka. Sakurai bahkan berpura-pura batuk sepuluh kali hingga menutup hidungnya dengan sapu tangan. Dia berdalih bahwa dia sedang flu.

"Apa dia sangat posesif? Pheromone-nya sangat melekat dan terasa kental di tubuhmu," ujar Satsuki lagi.

Aku sendiri tidak tahu menjawabnya dengan apa. Aku tidak bisa merasakannya, jadi aku hanya diam. Namun, ada bagian dari diriku yang sedikit bersemangat karena Akashi meninggalkan sesuatu yang hanya dia miliki di tubuhku.

"Kami tidak berkencan," kataku.

"Tapi kau pasti tidur dengannya. Tidak mungki pheromone-nya akan menempel sekuat itu jika kau tidak tidur dengannya," kata Satsuki dengan senyum yang lebih lebar dari jalan tol.

"Kau tidak tahu itu."

"Oh, aku selalu tahu." Dia menatapku dengan bersemangat. "Kenapa kau tidak mengundangnya ke mansion? Apa kau selalu menginap di tempatnya, karena itu kau tidak pulang?"

"Kau hanya penasaran dan ingin mengganggunya saja, karena itu aku tidak mengajaknya ke mansion."

Satsuki berdecak. "Kau terlalu banyak berpikir dan berprasangka. Aku tidak seperti itu. Aku senang kau mengenal orang baru." Dia tersenyum.

"Aku tidak akan mengkhianati Tetsu."

Satsuki mengaduk-aduk wasabi. "Aku tidak yakin Tetsu-kun akan merasa terkhianati. Pada dasarnya, orang yang sudah meninggal tidak bisa merasakan apapun. Kau juga tidur dengannya bukan ketika masih menikah. Itu hal normal bagi manusia seperti kita."

Wah, bekerja di Panti Jompo membuat Satsuki menjadi sangat bijak. Kadang-kadang.

"Bukan seperti itu. Tetsu meninggal karena pekerjaanku. Aku tidak mau hal sama terjadi padanya. Pekerjaanku ini membuatku banyak punya musuh."

"Apa kau sudah bertanya padanya?" tanya Satsuki. "Kalau dia keberatan, kau bisa gunakan itu alasan untuk mundur. Tapi kalau kau tidak pernah bertanya padanya, kau tidak akan pernah tahu apa yang diinginkannya."

Apa yang diinginkan Akashi? Dia tidak pernah mengutarakannya padaku. Aku selalu berasumsi bahwa dia tidak menginginkan apapun kecuali hanya kehadiranku saja. Aku terlalu takut untuk melangkah lebih jauh dari batas aman yang tanpa sadar dibuat oleh kami berdua. Jika kami melangkah lebih jauh, masa depan sudah tidak terlihat dan itu menakutkan. Kami seperti bermain di bibir laut tanpa berani mengambil risiko ombak pasang yang akan menyeret kami berdua.

"Tapi kalau kau tidak yakin sebaiknya jangan," ujar Satsuki. "Kalau dari gelagatmu, sepertinya kau belum bercerita padanya tentang Tetsu-kun. Kalau kau belum selesai dengan masa lalumu, sebaiknya jangan. Nanti malah dia yang terluka."

Lagi-lagi kata Satsuki ada benarnya. Sepenuhnya benar. Aku masih punya masa lalu yang belum selesai, dendam yang harus kutuntaskan, dan janji yang harus aku tepati. Aku yakin Akashi juga memiliki cerita yang belum dia ungkapkan padaku. Kami berdua masih menyimpan rahasia dari satu sama lain. Kami belum siap untuk terbuka, menunjukkan luka dan menerima luka.

"Kami tidak mau terburu-buru," kataku. "Ini… rumit."

Satsuki mengangguk. Perasaan manusia memang hal paling aneh dan paling kompleks yang pernah ada. Hati manusia bersifat seperti air, gampang sekali berubah, sekeras apapun kita meyakinkan diri bahwa kita tidak mungkin berubah. Aku tidak tahu masa lalu Akashi seperti apa, siapa saja teman kencannya sebelum dia bertemu denganku? Kenapa pheromone-nya terlihat sangat suram? Aku tidak mendapat penjelasan. Begitupula yang terjadi denganku. Aku tidak menceritakan apapun pada Akashi. Tentang Tetsuya, tentang pernikahan kami, tentang dendam dan kebencianku.

Setelah itu, kami kembali makan dalam diam. Topik mengenai Akashi dan Tetsuya tidak lagi muncul dalam percakapan lainnya.

.

"Apa aku boleh ke tempat tinggalmu?" tanya Akashi.

Aku menatapnya. Dia sedang menatapku juga. Hari ini kami kembali makan siang bersama di sebuah restoran jepang dengan menu yang lumayan modern dan internasional.

"Kau mau ke tempatku?" tanyaku. Dia mengangguk. "Kenapa?"

Akashi hanya mengangkat bahunya. "Selama ini kita selalu ke tempatku. Aku penasaran dengan tempat tinggalmu."

"Oh." Hanya itu responku. Bagaimana seharusnya aku meresponnya.

Mata Akashi menyipit. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan? Misalnya pasangan atau keluargamu? Aku bukan sedang berselingkuh dengan suami orang 'kan?" tanyanya menyelidik.

Aku menggeleng. Jika aku memang punya suami dan anak yang masih hidup, sudah jelas hidupku tidak akan bersinggungan dengan Akashi. "Tentu saja tidak," ujarku.

Dia tersenyum. "Jadi? Apa kau masih tinggal dengan orangtuamu? Kau tidak enak dengan mereka?"

Aku menggeleng. "Ayah dan Ibuku tinggal di Okinawa," ujarku. Akashi mengangguk lagi. Lalu, dia menatapku. Dia menunggu jawabanku. Aku tahu aku harus memberikan jawaban. Sebenarnya aku tidak punya alasan untuk menolaknya datang ke mansion. Aku tidak menyembunyikan apapun di sana. Akhirnya aku mengangguk. Akashi tersenyum semakin cerah.

Dan, pertemuan berikutnya aku mengajak Akashi datang ke mansion-ku. Unit mansion yang kutempati tidak semewah milik Akashi, tetapi cukup besar untuk ditinggal sendiri dan cukup luas untuk ditempati keluarga kecil. Unit-ku berada di lantai 15 dengan pemandangan menghadap Pelabuhan Tokyo.

"Silahkan," kataku sambil membuka pintu unit-ku dan mempersilahkan Akashi masuk. Dia melepaskan sepatunya dan aku menyiapkan sandal.

"Permisi," katanya dan kami masuk ke dalam. Akashi membuka mantelnya dan aku meletakkan mantel kami berdua di gantungan belakang pintu. Akashi menatap sekelilingnya seperti inspektur kebersihan mansion. Matanya berbinar-binar dan aku mengikutinya dari belakang. Punggungnya tampak lebih kecil jika dilihat dari belakang, tetapi dia berdiri tegak dan posturnya sempurna, seperti patung dewa yunani yang dipahat oleh seniman.

"Ruang tamumu luas," komentar Akashi.

Itu benar. Mansion Akashi memiliki ruang tamu yang lebih sempit, tetapi sebenarnya luas. Ruang tamunya terkesan sempit karena dia memiliki rak buku yang besar di salah satu sudut ruang tamu dan sebagian digunakan untuk area membaca. Buku-buku yang dimiliki Akashi beraneka ragam. Selain itu, Akashi adalah seorang kolektor, sehingga terdapat pula rak-rak untuk memajang aneka koleksinya, seperti Boneka Matryoskha, Topeng Tengu, Piring dan Guci dari China, dan sebagainya. Sementara ruang tamuku tidak memiliki rak-rak seperti itu. Hanya terdapat sofa, meja kecil yang berisi vas bunga dan televisi.

"Apa kau sudah puas mengamati?" tanyaku. Aku masih tidak tahu kenapa Akashi mendadak ingin mendatangi mansion-ku. Aku duduk di dekatnya dan kami hanya duduk bersampingan di sofa. Dia menyenderkan tubuhnya sampai menempel di tubuhku. Aku mengalungkan tanganku dan memeluknya.

Aneh rasanya mendapati orang lain di ruangan ini selain Satsuki. Sejak aku pindah ke mansion ini tidak ada satu pun orang yang pernah datang. Satsuki datang untuk mengecek keadaanku, memastikan aku belum bunuh diri atau terbunuh karena hal bodoh. Selain itu, mansion ini adalah saksi bisu seluruh kesedihanku dan pelarianku.

Aku memejamkan mata dan merasakan Akashi yang berada di pelukanku. Dia begitu hidup, begitu nyata dan begitu hangat. Aku bisa merasakan napasnya yang teratur, hembusan hidungnya yang hangat dan rambutnya yang halus meggelitik daguku.

Di mansion ini tidak ada sisa-sisa keberadaan Tetsuya ataupun bayi yang belum dilahirkannya. Aku meninggalkan semuanya di gudang rumah orangtuaku di Okinawa atau menyumbangkannya. Aku tidak bisa tahan dengan semua kenangan yang menyakitkan, bahwa dia direnggut dariku begitu saja.

"Aomine."

Aku tersentak dan Akashi sudah menatapku. "Kenapa?"

Dia mengubah posisinya dan duduk dipangkuanku. Lebih tepatnya, dia mendudukiku seperti pose bayi koala yang digendong ibunya. Dia mengamatiku dan menyentuh seluruh wajahku dengan kedua tangannya. Aku menikmati setiap sentuhannya.

"Kau bersemangat," ujarku.

Akashi mengangguk. "Kita berada di tempatmu. Tentu saja aku senang," katanya. Lalu, dia menciumku. Ciuman yang menuntut, penuh dominansi, tetapi juga manis dan terkesan manja. Ciuman yang tampak seperti dirinya. Ciuman yang kusukai.

Perlahan-lahan, dia mulai menyentuhku dengan lembut. Setiap sentuhannya, setiap ciumannya, dia seperti menyentuh salah satu barang anti yang pecah belah. Aku tidak melakukan apapun. Aku mengikuti semua ritme yang dia berikan kepadaku. Dia seperti memanjakanku dengan setiap sentuhannya.

"Kau santai saja," bisik Akashi. Tangannya membuka seluruh baju yang dikenakannya, membuat seluruh pakaian itu jatuh ke lantai ruang tamuku. Lalu, dia membuka pakaianku. Tangannya tidak berhenti memanjakanku. Semua tempat yang bisa disentuh olehnya, dimanjakan olehnya. Aku sampai memejamkan mata merasakan seluruh sensasi yang ditawarkan oleh Akashi. Dia begitu lihai dan hebat, seolah kami bukan hanya bercinta, tetapi dia sedang menghiburku. Seolah dia tahu bahwa ada luka yang tidak terlihat dan dia berusaha menjilatnya hingga sembuh.

Ketika aku membuka mataku, aku melihat langit-langit ruang tamuku yang berpencahayaan remang. Akashi tampak begitu indah di depanku. Tubuhnya telanjang, keringat menetes dari tubuhnya, rambutnya yang bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya, dan ekspresi wajahnya yang begitu menggoda sampai aku tidak mungkin bisa menahan diriku.

Ketika kami selesai, Akashi masih memelukku. Detak jantungnya terasa sangat nyata di dadaku. Dia bergerak sedikit dan kami bertatapan. Kedua irisnya menatapku tepat di kedua mataku seolah dia sedang membaca buku.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

"Jauh lebih baik," jawabku. "Terima kasih."

Dia tersenyum. "Syukurlah."

Aku jadi merasa tidak enak kepadanya. "Maaf," kataku. Aku tidak tahu kenapa aku harus meminta maaf. Aku terhanyut dalam melankolisku sendiri dan Akashi menghiburku di rumahku sendiri. Rasanya aku seperti tuan rumah kurang ajar yang meminta tamunya memasak untuknya.

"Tidak perlu minta maaf," katanya sambil terkekeh singkat. "Memangnya kau berbuat salah?"

Dia turun dari pangkuanku dan duduk di sampingku lagi. Kami bertatapan. "Aku tidak tahu," katanya.

"Kalau begitu tidak ada yang harus dimaafkan," ujarnya. Kurasa dia benar. Ini adalah waktu-waktu berharga di antara kami berdua, sehingga aku harus memfokuskan diriku untuknya, bukannya memikirkan hal-hal yang tidak bisa diulang. Dia bangkit dan menarikku berdiri. "Ayo kita mandi," katanya.

Lagi-lagi, aku hanya mengikutinya.

.

AKASHI SEIJUUROU

Aku tahu sesaat setelah aku memasuki mansion Aomine. Aku tahu dari gerak-geriknya yang mendadak melankolis, seperti pria yang merasa bersalah dan tersesat. Tidak butuh menjadi seorang detektif untuk mengetahuinya. Rumah seseorang adalah cerminan hati dari pemiliknya. Dan aku tahu bahwa hati Aomine sekosong tempat yang ditempatinya. Aku tahu tempat kosong itu, karena aku pun pernah mengalaminya.

Aomine menyeduhkan teh gandum untuk kami berdua, sementara aku melihat-lihat sekeliling tempatnya. Tidak ada satu pun foto yang dipajang, tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain yang pernah tinggal di sini. Kosong, lapang, dan dingin. Itulah isi hati Aomine yang sesungguhnya.

"Kalau kau bosan, kau bisa menyalakan televisi," kata Aomine. Selain menyeduh teh gandum, Aomine juga memasak ramen untuk kami berdua.

"Dimana remote televisinya?" tanyaku.

"Biasanya ada di meja, kalau tidak ada coba cari di laci-laci meja televisi. Aku sering lupa menaruh dimana," katanya.

Aku mengangguk. Remote tersebut tidak ada di meja, sehingga pilihannya adalah mencari di dalam laci meja televisi. Aku membuka satu per satu laci tersebut. Kebanyakan hanya berisi kertas-kertas seperti surat-surat tagihan ataupun kertas-kertas Koran yang sudah tidak dibaca. Ada pula majalah-majalah dewasa edisi lama. Aku tidak tahu kenapa Aomine tidak menaruhnya di sampah kertas dan kurasa itu bukan masalahku. Aku hampir mengatakan bahwa aku tidak menemukan remote tersebut sampai aku membuka laci terakhir.

Di laci itu memang terdapat sebuah remote hitam yang kuyakini adalah remote televisi. Namun, aku malah mengambil sebuah benda lain yang ada di dalamnya. Itu merupakan sebuah figura foto yang berukuran 8R. Ada Aomine yang berfoto dengan baju dinas polisinya. Dia tampak sangat gagah dengan baju dinasnya yang berwarna biru muda. Lencana pangkatnya tersampir rapi. Dia masih terlihat sangat muda, kemungkinan foto itu diambil saat dia masih baru bertugas di kepolisian.

Lalu, mataku beralih ke orang yang berpose bersamanya. Seorang lelaki kecil dengan kulit sepucat salju, surai biru muda lembut yang senada dengan langit di musim semi. Lelaki itu berwajah sangat manis dan senyumannya lembut. Aomine tersenyum dengan bahagia. Lengannya melingkar di pinggang pasangannya. Mereka tampak sangat muda dan bahagia. Aku bahkan bisa melihat kebahagiaan terpancar dari kedua mata Aomine, meskipun dalam bentuk foto mati yang tidak hidup.

Air muka yang berbeda ketika kami pertama bertemu. Saat kami bertemu untuk pertama kalinya, ekspresinya keruh dan jenuh. Matanya tidak menampilkan apapun. Namun, Aomine yang aku temui adalah versi yang lebih tua, yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, yang sudah melewati berbagai kejadian di hidupnya. Tentu saja dia pasti pernah melewati fase masa muda yang bahagia dan pasangan yang serasi.

Hatiku seperti dicubit.

"Apa ketemu?" tanyanya. Aku tersentak. Foto itu masih kupegang dan Aomine sudah kembali dari dapur sambil membawa dua mangkuk ramen dan dua gelas teh gandum hangat. Wangi bumbu ramen menggelitik hidungku, tetapi perutku tampak bergolak.

Kurasa dia sadar mengenai apa yang aku temukan di dalam laci. Satu-satunya foto yang ada di mansion ini dan terkubur tanpa pernah tersentuh oleh matahari. Dia berjalan ke arahku. Aku memegang remote dan figura. Kuperhatikan perubahan ekspresinya ketika dia mengetahui bahwa aku memegang sebuah sisa perasaannya. Sisa dari masa lalunya. Ekspresi yang tidak pernah aku temui tetapi sangat aku kenali.

"Maaf," kataku. "Aku tidak bermaksud apa-apa." Kutaruh lagi figura itu ke tempatnya.

"Tidak apa-apa," kata Aomine. Kami duduk bersama di sofa. "Aku memang menyuruhmu mencari, jadi kau tidak akan tahu apa yang kau temukan."

Aku tidak berkata apapun. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku ingin bisa menghiburnya, tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus mulai memakan ramen atau berkomentar mengenai foto tersebut? Namun, figura itu disembunyikan karena suatu alasan. Apakah bijak jika aku mengungkitnya?

"Kau tampak sangat muda saat memakai pakaian dinas," ujarku. "Kenapa aku tidak pernah melihatmu memakainya?" tanyaku.

Aomine mendengus. Kupikir dia tidak akan menjawab, rupanya dia menjawab. "Aku baru menjadi polisi, mungkin baru 3 tahun. Foto itu diambil setelah aku lulus ujian detektif."

Aku mengangguk. Aku ingin bertanya lebih jauh tapi aku takut melangkahi batas-batas privasinya. Batas-batas tak kasat mata itu membuat hubungan kami menyenangkan, tetapi juga mengekang banyak hal. Batas-batas itu menciptakan tembok tinggi besar antara aku dan Aomine, sehingga aku tidak bisa menembus hatinya.

Aku tahu bahwa kami berdua sama-sama takut melangkah untuk mengambil risiko, tetapi apakah risiko itu sepadan? Masa lalu adalah masa lalu bagiku, tapi apakah Aomine berpikir hal yang sama? Apakah aku bisa mendobrak tembok tebal di antara kami? Karena jika aku ingin lebih mengenalnya, jika aku ingin menerima semua lukanya, maka aku pun harus menunjukkan hal yang sama. Aku harus memperlihatkan lukaku, kegagalanku, dan semua kepedihanku.

Hubunganku pernah gagal karena aku tidak mampu melakukan hal itu, tetapi aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Akhirnya aku memutuskan untuk melangkah maju. Aku memutuskan untuk memperlihatkan lukaku.

"Aku pernah menikah," kataku. "Dulu, ketika aku masih muda. Saat usiaku 25 tahun, Ayahku memperkenalkanku kepada salah satu anak dari koleganya. Seorang Omega. Saat itu, aku masih belum bisa menerima seksualitasku sehingga kupikir menikah dengan seorang Omega akan membantuku menyelesaikan masalah. Kupikir dia adalah penyelesaian masalahku. Tapi aku salah besar. Menikahinya malah memperburuk suasana pernikahanku."

Aku tidak berani menatap Aomine ketika aku mulai bercerita. Kisah kegagalan pernikahanku ini menurut Ayah adalah aib besar di keluarga Akashi, karena menantunya adalah anak dari kolega kerjanya. Kisah itu tidak akan pernah terlepas dari salah satu hal yang mampu membuat Ayahku malu.

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Aomine.

"Kami hanya bertahan 3 tahun. Itu saja sudah menjadi suatu keajaiban. Aku tidur dengannya, berusaha melewati siklus rut dan heat bersama, tapi semakin lama kami malah semakin tersiksa. Aku menyakiti diriku dan berusaha menghukum diriku karena seksualitasku, tapi aku juga menyakitinya. Aku menghancurkan ekspektasi pernikahan darinya. Aku merenggut itu semua. Kau bisa bilang bahwa aku brengsek dan jahat."

Aomine menatapku. "Kau berusaha memperbaiki sesuatu yang tidak rusak," katanya.

Aku mengangguk. "Aku baru menyadari bahwa seksualitasku bukanlah sesuatu yang rusak dan harus diperbaiki. Aku tidak bisa memperbaikinya, karena tidak ada yang rusak. Aku hanya bisa menerimanya. Itulah pelajaran berharga yang bisa kupetik dari pernikahanku sebelumnya."

"Dan mantanmu bagaimana?"

"Sekarang dia sudah menikah lagi. Pernikahannya sekarang sudah bahagia. Dia sudah mendapat kisah yang sepantasnya diterima."

Aomine tersenyum tipis dan samar. Kurasa senyum itu sebagai simbol prihatin atau simbol lega bahwa aku tidak merusak hidup seseorang lebih lama lagi. "Kenapa kau menceritakan ini padaku?" tanyanya pelan.

Aku menatapnya. "Karena aku ingin kau tahu siapa aku. Siapa aku sebelum bertemu denganmu dan siapa aku saat kita bertemu. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Aku tidak mau jika hubungan ini akhirnya menyakitimu, karena itu aku menerima diriku apa adanya. Aku akan jujur sedari awal."

Aomine tidak mengatakan apapun. Aku tidak tahu apakah aku sudah melewati batas tidak kasat mata itu. Apakah aku sudah mendobrak tembok penghalang atau aku malah membuatnya semakin jauh dariku? Apapun itu, aku akan menerima semuanya.

"Aomine, aku ingin kita menegaskan hubungan kita. Aku ingin…" Aku berhenti sejenak karena suaraku mendadak hilang dan tercekat. "Aku ingin menjalin hubungan denganmu. Bukan hanya sekedar seks, tapi hubungan dimana kita menerima satu sama lain, menerima luka dan menunjukkannya. Aku ingin hubungan yang tidak berlandaskan kebohongan."

Aku menanti reaksi dari Aomine, tetapi apapun yang tergambar di walah Aomine sama sekali tidak mampu kubaca. Aku terlalu larut dalam ketakutanku sendiri sehingga aku menghancurkan apapun yang tersisa dari hubungan kami. Aku tidak menghancurkan apapun selain hatiku sendiri, setidaknya itulah yang aku bisikkan kepada diriku sendiri untuk menguatkan diri.

"Bukan kebohongan jika kau tidak pernah menceritakannya," kata Aomine.

"Berdasarkan pengalamanku, hasilnya sama buruknya dengan berbohong."

Aku memberanikan diri menatapnya lagi. Perutku melilit dan aku merasa udara ditarik secara paksa dari paru-paruku. Aku bernapas pendek-pendek dan penantian itu seperti menunggu jatuhan dari hukuman mati. Aku tidak menyukai hening yang menghampiri kami berdua.

"Akashi, aku paham apa yang kau inginkan," kata Aomine. "Aku berterima kasih atas perasaanmu. Namun, aku tidak tahu apakah saat ini aku menginginkan hal yang sama."

Itulah jawaban dari Aomine. Penolakannya yang lembut tetapi menancap sangat kuat di jantungku. Jika kata-kata bisa membunuh, maka aku sudah pasti mati di tempat itu. Kepalaku terasa kosong setelah penolakan itu dan aku merasa mati rasa. Aku tidak dapat berkonsentrasi pada kalimat yang diucapkan oleh Aomine selanjutnya karena aku mati-matian bersikap sewajarnya. Aku tidak ingin terlihat rapuh dan menyedihkan hingga harus dikasihani.

"Aku paham," ujarku. Aku mencoba tersenyum tetapi aku tidak yakin bahwa senyumku tidak terlihat menyedihkan. "Terima kasih atas jawabanmu."

Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Semuanya terasa menyesakkan dan aku harus keluar supaya aku tidak mati karena tercekik. Aku bangun dan membereskan barang-barangku.

"Akashi, tunggu."

"Aku paham," kataku lagi. "Aku memang terlalu terburu-buru."

Aomine menahan tanganku. "Akashi, dengarkan aku."

Aku tidak mau mendengar apapun darinya. Aku hanya ingin keluar dari mansion-nya dan menyendiri sampai aku lelah karena sakit hati. Aku tidak menyalahkan Aomine atas jawabannya, karena setiap manusia berhak memiliki jawaban masing-masing. Namun, aku hanya ingin sendiri. Nantinya aku pasti akan baik-baik saja. "Aku baru ingat aku ada meeting besok pagi. Aku harus pulang sekarang."

Aku berusaha melepaskan tangannya tanpa menyentaknya. Aku berjalan keluar dari ruang tamunya.

"Kau sama sekali tidak mendengarku, Akashi." Dia mengikutiku dari belakang. "Masih ada yang harus kulakukan. Aku harus menyelesaikan suatu urusan baru aku bisa melangkah maju. Aku telah menantikan hal itu sejak lama."

"Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku Aomine." Aku selesai memakai sepatu. "Selamat tinggal."

Dan aku keluar dari pintu depannya.

Setelah itu, aku hanya mengingat bagaimana aku menangis di kamarku sendiri sampai akhirnya aku tertidur karena lelah. Hubunganku berakhir bahkan sebelum kami sempat memulai apapun.

.