The Lucky One
.
AKASHI SEIJUUROU
Ketika aku membuka mataku, Aomine sedang tertidur dengan nyenyak di sebelahku. Napasnya teratur dan ekspresinya menjadi lebih rileks. Luka-lukanya masih terlihat menyakitkan, tetapi aku tahu bahwa dia sudah baik-baik saja. Dadanya naik turun dengan teratur dan aku suka melihatnya dari samping ketika dia sedang tertidur. Figurnya yang keras, tajam, dan penuh dengan kerutan itu menghilang ketika dia tertidur. Seolah dia melepaskan semua beban yang dipikulnya dan melupakannya.
Aku tahu bahwa meskipun kami telah bersama, jalan kami di depan tidak akan mudah. Kisah Aomine, luka-lukanya, hanyalah bagian dari seluruh cerita yang belum diceritakannya. Pekerjaannya adalah sesuatu yang mengundang musuh kemanapun dia pergi. Tetsuya dan Haizaki hanyalah sebagian kecil contoh yang terjadi. Aku tahu bahwa kedepannya, akan lebih banyak luka-luka di tubuh Aomine dan aku akan selalu diliputi perasaan cemas. Namun, aku sudah memilihnya. Aku memilih kami berdua dan itu artinya menerima semua lukanya, yang lama, sekarang dan di masa depan.
Aku menggeser tubuhku agar aku dapat memeluknya dengan lebih dekat lagi. Kurasakan pergerakan dadanya yang teratur dengan tanganku sendiri dan aku kembali memejamkan mata. Waktu-waktu seperti ini adalah waktu paling menyenangkan untuk mengamati Aomine. Aku bisa memilikinya untuk diriku sendiri tanpa ada yang menghakimiku, aku bisa memiliki seluruh ekspresinya dan seluruh perasaannya. Aomine bergerak dalam tidurnya dan dia bergumam sesuatu yang tidak jelas. Aku hanya mendengarnya dalam diam dan mata terpejam.
Malam kami sempurna. Aku kembali tertidur sambil mendengarkan suasana yang sepi, detak jam dinding yang statis, dan dengkuran pelan dari Aomine.
Keesokan paginya, kami memulai hari dengan ciuman malas dan sentuhan-sentuhan ringan yang menggelitik. Lalu, karena kami berdua masih memiliki kewajiban sebagai seorang pekerja di Kota Tokyo, maka kami keluar dari kamar dan sarapan bersama. Kami membuat panekuk bersama sama sambil mendengarkan berita NHK yang masih meliput tentang baku tembak di Pelabuhan Tokyo. Kali ini, sang pembawa berita sudah menayangkan beberapa foto dari para pengedar narkoba dan aku melihat foto Haizaki Shogou untuk pertama kalinya.
Dia memiliki rambut hitam lebat yang dipilin dengan cara Africa-America dengan seluruh tubuhnya dipenuhi tato. Bahkan, dia masih tampak menyeramkan dan wajah tertekuk sombong bahkan ketika digiring ke kantor polisi untuk dilakukan interogasi. Aku meminum kopi sambil menonton beritanya.
"Apa kau akan menginterogasinya hari ini?" tanyaku pada Aomine.
Dia mengangguk. "Interogasi dan memasukkannya ke lapas setelah itu. Tapi kau tahulah birokrasi dan hak-hak tersangka. Dia tidak akan mempermudah interogasi."
"Kau sudah menang," kataku.
"Bukti-bukti sudah diamankan dan meskipun dia tidak mengakui, kami pasti akan tetap menetapkannya sebagai tersangka. Hanya saja, orang seperti dia pasti tidak akan bicara tanpa pengacara."
"Itu tidak jadi masalah," kataku.
"Memang. Dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi."
Setelah kami sarapan, kami bersiap-siap untuk berangkat kerja. Aomine akan mengganti perban di pelipisnya sore ini di klinik kantornya dan mungkin beberapa hari lagi jahitannya bisa dilepas. Aku berkata, mungkin aku bisa membantunya untuk merawat lukanya, meskipun aku belum pernah melihat bekas luka jahitan yang masih basah, terutama luka akibat tembakan peluru. Aomine hanya tertawa dan meyakinkan bahwa dia sudah terbiasa merawat luka, jadi aku tidak perlu khawatir.
Kami keluar dari mansion-ku bersama-sama. Setelah berciuman untuk kesekian kalinya, aku berpisah dengan Aomine.
"Sampai jumpa nanti malam," katanya.
Aku menyetir menuju kantorku di pusat kota dengan suara dari radio mengalun lembut. Penyiar radio tersebut memiliki suara yang khas dan enak untuk didengar. Lagu yang disetel juga merupakan lagu pop yang sedang populer. Perjalanan menuju kantorku begitu menyenangkan.
"Pagi Furihata-kun," sapaku ketika memasuki ruanganku.
"Selamat pagi Akashi-san," dia balas menyapa sambil berdiri dari kursinya.
Hari ini aku sudah siap untuk menghadapi berbagai amukan dari CEO-ku yang baik hati, Nash Gold Jr.. Furihata masuk tidak lama setelah aku duduk di depan kursiku. Dia membawa beberapa dokumen yang harus aku kerjakan.
"Apa sesuatu yang baik terjadi pada Anda, Akashi-san?" tanyanya sambil meletakkan tumpukan dokumen itu di mejaku.
Aku membuka inbox e-mail-ku, "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku.
Dia hanya menggeleng kecil. "Karena hari ini Anda terlihat sangat bersemangat dan ceria."
Aku hanya mengangkat bahu. "Entahlah. Kita harus semangat setiap hari, bukan begitu?"
Dia hanya tertawa kecil. "Anda benar. Saya permisi dulu." Setelah itu dia keluar dari ruanganku. Aku mulai mengerjakan beberapa dokumen dan menandatanganinya. Aku mengirim pesan singkat kepada Aomine, tetapi dia tidak langsung membalas. Mungkin dia sedang menginterogasi Haizaki sehingga dia belum bisa membaca pesanku.
Siang itu, aku tidak ada jadwal apapun. Aku tidak memiliki janji dengan Midorima, tidak ada pertemuan klien, bahkan tidak ada meeting dengan Nash Gold Jr.. Aku memnutuskan untuk membeli kopi di café. Biasanya aku minta tolong kepada Furihata, hanya saja sekretarisku sedang mengurusi meeting lain sehingga dia sedang tidak di tempat.
Aku berjalan ke arah basement, tempatku memarkirkan mobilku. Aku tidak punya firasat apapun hari itu. Hari yang berjalan dengan sangat sempurna, hingga aku tidak menyangka bahwa ada bahaya yang mengintaiku dari kegelapan.
Udara di basement sangat pekat, bukan karena udara yang lembab dan berjamur, melainkan karena pheromone seorang Alpha yang sangat kuat menyelimuti seluruh lantai. Aku belum pernah merasakan pheromone yang sekuat ini. Rasa pekat mengaliri seluruh udara, masuk ke dalam paru-paruku dan membuatku goyah. Pheromone yang penuh dengan kuasa dan arogansi, membuat siapapun yang merasakannya tidak berdaya di bawah pengaruhnya. Pheromone-nya sangat berbahaya, karena dominansinya seperti mencuri seluruh udara dari paru-paruku dan menindihnya hingga aku tidak bisa bernapas.
Aku terbatuk-batuk, meskipun aku tidak pingsan. Dengan aura dominansi sebesar ini, dia bisa menumbangkan satu pleton Omega dan menguasai mereka semua. Aku berusaha mengeluarkan pheromone-ku untuk menangkalnya, tapi seluruh dominansinya menguasaiku.
"Wah, wah. Baru kali ini ada yang mampu melawan pheromone-ku."
Suara itu datang dari belakang. Ketika aku melihat siapa pemilik suara tersebut, aku merasa diriku seperti masih berada di alam mimpi. Aku baru saja melihat wajahnya pagi ini bersama dengan Aomine di mansion-ku. Seseorang yang diberitakan belakangan ini karena kriminalitas dan kekejamannya. Wajahnya jauh lebih mengerikan dan tua dibandingan ketika dia berada di foto yang disiarkan di televisi.
"Haizaki Shogou," kataku. Namun, itu tidak mungkin. Menurut berita tadi pagi, Haizaki sudah ditahan di markas besar. Dia sedang dalam proses interogasi. Aomine yang akan menginterogasinya. "Seharusnya kau ada di penjara."
Dia mengeluarkan tawa. Tawa yang bengis dan tajam. Setiap tawanya mengandung sebuah niatan jahat dan ide licik. Kedua telingaku sakit mendengarnya. "Itu yang dia ceritakan padamu setiap malam? Kisah heroiknya saat meringkusku? Kau pikir aku akan mendekam di penjara? Tentu saja tidak!"
Dia berjalan dengan stabil dan pelan ke arahku. Dia sama sekali tidak terburu-buru. Aku dilingkupi pheromone dan ketakutan, bahwa seorang tersangka yang sangat berbahaya berada di basement kantorku dan tidak ada seorang pun yang tampaknya menyadarinya.
"Aku akan menelepon polisi!" seruku berusaha menggertak. "Jangan mendekat!"
Dia hanya mengangkat bahu santai. "Silahkan. Seluruh Tokyo juga sedang memburuku saat ini. Namun, aku punya hal yang lebih penting lagi. Dan aku tidak akan pernah mau masuk penjara tanpa menyeret Aomine ke neraka bersama denganku!"
Aku melawan pheromone-nya dengan pheromone-ku sendiri dan untuk sesaat aku bisa bernapas. Aku bisa bergerak sehingga kugunakan hal itu untuk berlari darinya. Namun, dari setiap sudut aku menemukan empat orang berpakaian serba hitam dengan tatapan mata yang sangar mencegatku. Aku terhenti. Dari balik mobil-mobil yang diparkir, aku melihat satpam yang menjaga basement sudah tergeletak di lantai. Aku tidak melihat darah, tapi kengerian menyelimuti diriku. Seluruh tubuhku seolah menyalakan alarm bahwa saat ini aku berada dalam situasi yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa.
"Aku salah ternyata," kata Haizaki yang sudah berjalan mendekat. Jarak antara kami tidak sampai 1 meter. "Rupanya kau juga sama denganku. Ini menarik sekali."
"Apa kau membunuh satpam itu?" tanyaku dengan gemetar. Apa aku akan dibunuh juga di sini?
"Jangan khawatirkan orang lain, Sayang."
Hal terakhir yang aku lihat adalah seringainya yang buas sebelum kepalaku dihantam dengan kuat oleh benda yang sangat keras sehingga terasa mau pecah. Pandanganku memudar dan berbintik-bintik hitam bersamaan dengan tubuhku yang jatuh karena kesadaranku menghilang dan tidak bisa menopang diriku.
Aku melihat Haizaki berlutut di depanku dan berbisik, "Dendamlah pada Aomine Daiki. Dia yang membuatmu menderita, bukan aku."
Dan aku pun kehilangan kesadaran total.
.
Mimpiku terasa aneh dan tidak nyata, seolah aku berkali-kali mati karena tenggelam dan dikubur hidup-hidup. Di dalam mimpi, aku berusaha membebaskan diri dari semua jeratan yang mengekangku, tetapi aku tidak pernah berhasil. Aku terus meronta-ronta dan mencoba berteriak dari dalam liang kubur, tapi mulutku tidak mampu terbuka, seperti kedua bibirku telah dijahit menjadi satu. Aku mengeluarkan teriakan teredam, tetapi tidak ada yang bisa mendengar teriakan seseorang yang dikubur di sedalam 2 meter di bawah tanah.
Kepalaku terasa berdentum-dentum, seolah ada speaker raksasa yang ditempelkan persis di belakang kepalaku. Rasanya begitu nyeri seolah ada yang membelah kepalaku menjadi dua dan terus memukulinya dengan kapak. Aku meronta-ronta dengan begitu kuat hingga tenagaku habis, berharap Aomine akan datang dan menemukanku yang terkubur. Dia pasti datang, karena dia selalu datang. Aku selalu percaya padanya. Hanya saja, di dalam mimpi itu dia tidak datang. Aku terkubur selamanya di dalam kegelapan.
Ketika aku membuka mataku, aku melihat sesosok orang asing yang sedang memunggungiku. Dia sedang merokok dan tampaknya dia sedang berteriak-teriak sendiri. Kepalaku masih terasa seperti mau pecah dan untuk sesaat, aku tidak mampu mengingat mengapa aku tertidur dalam posisi aneh. Ketika aku mencoba menggerakkan kaki dan tanganku, semuanya tidak bisa. Bukan karena aku tidak mampu, tetapi karena ada yang membatasi pergerakan kedua alat gerakku. Barulah aku menyadari bahwa aku sedang diikat.
Tanganku diikat di belakang punggungku dengan sebuah tali tambang kasar dan kedua kakiku diikat dengan simpul yang kuat. Tampaknya simpul tersebut adalah simpul mati. Ketika aku ingin bicara, mulutku tertutup rapat dan aku bisa mencium baru lem dari lakban hitam dengan kuat. Aku kehilangan kemampuan untuk berteriak.
Barulah ketika aku menyadari sekelilingku dan seluruh indraku aktif, aku ingat kenapa aku bisa berada di sini. Aku dicegat di basement kantor saat akan pergi keluar, lalu seseorang memukul bagian belakang kepalaku hingga aku tidak sadarkan diri. Seketika itu, sensasi hantaman kuat terasa begitu nyata di bagian belakang kepalaku. Aku terlonjak dengan kaget hingga terguling dan jatuh. Namun, aku tidak bisa melakukan apapun karena kedua tangan dan kakiku diikat. Aku meronta dengan sekuat tenaga, tetapi aku tidak bisa melarikan diri.
Pergerakanku pastilah begitu heboh karena Haizaki yang sedang sibuk sendiri di ujung ruangan menoleh ke arahku. Ketika melihatku sudah sadar dan dalam kondisi terjatuh, dia menyeringai. Gigi-giginya yang mulai menguning karena rokok terlihat menjijikan dan seluruh wajahnya penuh dengan tindikan. Dia berjalan mendekatiku, sementara aku berusaha duduk dan menjauh darinya. Sayangnya, belakangku tembok besar sehingga aku tidak bisa pergi lebih jauh.
Dia berjongkok tepat di depanku, tatapannya sejajar dengan tatapanku dan aku bisa melihat kilatan kegilaan di wajahnya. Telinga, hidung, bibir, alis, semuanya ditindik oleh Haizaki. Tatonya yang berada di leher terlihat jelas, begitu pula dengan denyutan arterinya yang menggila. Matanya berwarna merah, kurasa jika bukan karena mabuk, pastilah karena dia habis memakai narkoba. Aku tidak pernah bertemu dengan seorang pecandu narkoba, tapi tidak sulit menebak Haizaki. Seluruh tubuhnya berbau rokok dan dia menghembuskan asap rokok di depan wajahku. Aku ingin batuk, tetapi mulutku tidak bisa dibuka.
"Jangan takut." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh rambutku. Aku berjengit secara insting. Dia menikmati reaksiku, seolah sedang mencoba mainan baru. "Aku tidak ada urusan denganmu. Kau hanya tidak beruntung saja. Setelah semua ini selesai, kau bisa membenci Aomine sesukamu. Semua ini terjadi karena dia."
Dia membuka lakban yang membungkam mulutku dengan kasar sehingga seluruh wajahku terasa perih. Ketika dia membukanya, aku langsung merasakan seluruh mulutku dan kebebasan yang kurindukan.
"Kau boleh berteriak, kalau mau. Berteriaklah sekencang-kencangnya hingga Aomine datang ke sini."
Aku belum mengatakan apapun sejak dia melepaskan lakban dari mulutku. Aku tahu jika aku berteriak, itu sama sekali tidak berguna. Aku mengamati sekeliling tempat dia menyekapku. Sebuah ruangan kosong dengan beberapa alat bangunan yang tidak selesai. Ember-ember cat, tangga kayu dan penyangga dan jendela yang terkunci dengan rapat. Aku harus berpikir dengan tenang dan aku tidak boleh panik.
"Apa kau akan membunuhku?" tanyaku pada akhirnya.
Dia menatapku dengan kilatan kegilaan. "Kenapa kau berpikir aku akan membunuhmu? Jika Aomine cepat datang, kau bisa kembali ke pelukannya."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya mengandung bisa beracun yang sangat tajam. Dia berlama-lama mengamatiku dan setiap detik pheromone-nya mengudara, membuatnya beracun dan dia menekanku. Haizaki bermain-main denganku dan ketakutanku. Dia menghibur dirinya dengan kelemahan orang-orang.
Aku teringat cerita Aomine dan mendiang suaminya. Aomine mengatakan Haizaki pasti membunuh Tetsuya dan ketika aku berada di genggaman tangan Haizaki, kurasa itu mungkin benar adanya. Jika dia ingin melihat Aomine menderita, cara terbaik membalasnya adalah menyakiti orang terdekatnya. Tidak butuh menjadi seorang detektif untuk membaca Haizaki, karena dia orang yang paling mudah dibaca.
Dia menyentuh rambutku, wajahku dan dia mengusap bibirku. Kubiarkan dia melakukan semua itu meskipun setiap sentuhan darinya membuatku berjengit. Rasanya seperti disayat pelan-pelan dengan silet tumpul dan berkarat. Jika aku menolaknya, aku tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh Haizaki. Dia bisa melakukan apa saja dengan kilatan gila di matanya.
"Selera Aomine memang selalu bagus," dia berkomentar sambil terus menyentuhku. Tangannya menyusuri tulang pipiku, daguku dan tengkukku. "Dia selalu mendapatkan hal-hal bagus. Tapi kau," ujarnya sambil menelusuri leherku. Seluruh tubuhku merinding dan aku ingin menarik diri. Hanya saja aku menahannya. Aku tidak boleh membuat Haizaki marah. "Kau yang paling special."
Dan aku tidak bisa menahan kejijikanku ketika dia menjilati leherku. Aku mundur secara refleks meskipun punggungku membentur tembok. Kedua tanganku yang diikat di belakang terasa sangat kebas dan sakit. Haizaki tertawa melihat reaksiku. Aku ingin sekali pergi dari sini, tapi aku belum menemukan rencana apapun, sehingga aku harus bertahan seadanya.
"Jangan menyentuhku, brengsek!"
Dan sebuah tamparan nyaring membuatku kembali terjatuh. Pipiku terasa sakit dan panas dan perih dan aku merasakan rasa besi di lidahku. Kepalaku pusing karena membentur lantai dan luka di belakang kepalaku kembali terasa.
"Jangan mengaturku!" bentaknya.
Dia menarikku dengan kasar dan aku kembali duduk bersandar di tembok. Aku masih merasakan wajahku yang panas dan perih karena bekas tamparannya. "Kau memang special dibandingkan yang dulu. Dia mati sebelum aku sempat bersenang-senang dengannya, tapi aku masih bisa bersenang-senang denganmu."
Dia berdiri dan berjalan menjauh. Dia ke ujung ruangan dan mengambil satu botol beling yang berisi alkohol. Dia meneguknya. "Kita bisa bersenang-senang sampai Aomine datang ke sini."
Aku berusaha dengan pelan menggerakkan kedua tanganku. Ikatan simpulnya kuat, tapi aku harus berusaha membebaskan tanganku. Rasanya sangat perih dan sakit, seolah kulitku dikelupas perlahan-lahan. Namun, jika hanya kulitku yang terkelupas, aku masih bisa menahannya. Aku berhenti menggerakkan kedua tanganku ketika dia kembali ke depanku dan berjongkok. Sekarang seluruh tubuhnya berbau alkohol dan juga rokok.
"Aku tidak pernah bertemu dengan Alpha sepertimu. Padahal kau seorang Dominant Alpha, tapi kau lebih menyukai didominasi. Kau membuat malu Para Alpha lainnya!" Dia menghantamkan botol beling itu ke tembok di belakangku hingga pecah berkeping-keping. Aku memejamkan mata ketika pecahan beling tersebut berjatuhan di atas kepalaku.
Lalu, ponselnya berbunyi. Ketika dia melihat layarnya, dia menjerit kesenangan seperti orang kerasukan. "AOMINE! KUPIKIR KAU SUDAH LUPA DENGANKU!" dia berteriak lantang. "AKU SUDAH BILANG AKAN BUAT PERHITUNGAN DENGANMU 'KAN!"
Jantungku berdegup kencang. Aomine menelepon Haizaki, artinya dia sudah tahu bahwa aku disekap oleh Haizaki. Kurasa Haizaki menyanderaku karena dia ingin bernegosiasi dengan kepolisian untuk masa tahanan penjara. Atau dia ingin meyanderaku sampai dia bisa kabur ke luar negeri. Yang mana pun, terasa sama saja dibenakku.
"Apa kau mau mendengar suaranya? Omong-omong, tubuhnya sangat manis ya." Dia terbahak sambil menyerahkan ponsel itu ke telingaku.
"Aomine!" seruku dengan segenap perasaanku.
"Akashi! Apa kau baik-baik saja? Apa dia menyentuhmu?" tanya Aomine dari seberang sambungan.
"Aku baik-baik saja! Aku–"
"Waktu habis! Nah, sekarang ayo kita diskusikan keinginanku." Dia kembali bicara dengan Aomine.
Aku bisa membayangkan Aomine bersumpah serampah dan menyebut tiap kutukan untuk membuat Haizaki mati di tempat. Hanya saja, Haizaki berada di atas awan. Dia memegang kuasa.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menghancurkan bisnisku? Akan kubuat nasibnya lebih tragis dari Omegamu dulu!" Dia terbahak-bahak secara sinting.
Ketika dia sedang fokus dengan Aomine di telepon, aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk melepaskan diri dari simpulnya. Mataku melihat pecahan beling yang lumayan besar. Letaknya tidak jauh dari tempatku, sehingga aku mungkin bisa bergeser tanpa menimbulkan kecurigaan. Haizaki masih diambang ekstasi karena dia berhasil menekan Aomine.
Aku menghentikan langkahku ketika dia berbalik menuju diriku. "Aku akan kembali," katanya dan dia keluar dari ruangan kosong itu. Pintu berdebam tertutup. Sekaranglah saatnya aku berusaha menggeser tubuhku sampai tanganku bisa meraih potongan beling tersebut.
Rasanya seperti mengerjakan hal yang mustahil, tetapi aku harus terus mencobanya. Seluruh tanganku menjerit sakit dan perih, tapi aku tidak peduli. Aku meraba-raba semua lantai sampai mendapatkan potongan beling yang kuinginkan.
Tidak sulit kembali ke posisi semula dengan beling yang ada di tanganku. Ujung-ujungnya tajam dan sepertinya mengiris jari-jariku. Namun, itu bukan masalah besar. Aku mulai menyayat tali tambang itu pelan-pelan. Aku harus terus menjaga ketenanganku dan aku tidak boleh panik. Aomine pasti datang. Haizaki ingin bernegosiasi dengannya, jadi kepolisian pasti akan mendengarkannya. Hanya saja, aku juga tidak boleh membiarkan Haizaki mendapatkan semua keinginannya. Dia adalah penjahat tanpa belas kasih di hatinya. Aku harus melakukan apapun yang kubisa untuk keluar dari sini.
Langkah kaki Haizaki yang berat terdengar dengan jelas. Dia tidak berusaha berjalan pelan atau menyembunyikan hawa keberadaannya. Dia kembali masuk ke ruangan tempat dia menyekapku dan dia kembali berjongkok.
"Sampai dimana kita?" tanyanya antusias. "Aku harus mempersiapkan beberapa hal untuk menyambut Aomine." Dia tampak berpikir, lalu menjentikkan jari. "Oh iya. Alpha. Benar, aku tidak pernah bertemu Alpha sepertimu. Aomine pasti sangat hebat sampai kau bertekuk lutut didepannya."
"Aomine sangat hebat sampai dia bisa membuatmu terpojok di gedung terbengkalai dan butuh sandera hanya untuk kabur!" balasku penuh kebencian. Darahku mendidih setiap kali dia datang dan bicara padaku.
Kali ini dia tidak menamparku, meskipun aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima tamparannya. Dia hanya menyeringai semakin seram dan seluruh ototnya berkedut-kedut. Aku telah membuatnya sangat marah.
Dia berjalan semakin dekat dan menekanku ke dinding. Ujung beling yang sedari tadi kugunakan untuk memotong tali tambang dengan pelan-pelan sepertinya menusuk tanganku. Aku tidak melepaskan beling itu dari tanganku dan tanganku terus bekerja dengan pelan.
"Aku sudah pernah tidur dengan semuanya, Beta, Omega, tapi Alpha." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti memberi komentar asam. "Ini akan jadi pengalaman baru bagiku. Aku belum pernah menggagahi seorang Alpha sebelumnya."
Tubuh dan napasnya yang berbau alkohol dan asam dan rokok begitu menyengat sehingga aku mual. Dia menekan seluruh tubuhku ke tembok dan dia membuka paksa kakiku. Salah satu tungkainya masuk ke antara kakiku yang terbuka. Eksistensinya membuatku jijik dan aku ingin menendangnya menjauh. Namun, tubuhku dikuasai olehnya dan aku tidak bisa melakukan apapun. Pheromone-nya memenuhi ruangan dan aku tersiksa setiap menghirup udara yang berisi pheromone-nya.
"Sayang sekali Omega itu sedang hamil saat aku membunuhnya, jadi aku tidak bisa menikmati tubuhnya. Padahal akan lebih seru jika aku menidurinya dulu sebelum kubunuh di depan mata Aomine." Salah satu tangannya meraba pahaku dan terus merambat naik. Kakiku diikat dan aku tidak bisa menendang selangkangannya. "Tapi aku bisa melakukannya denganmu. Aku bisa menidurimu sampai Aomine datang. Apa menurutmu Aomine akan tetap mau bersamamu setelah kita tidur bersama?" tanyanya sambil menjilati telingaku.
Aku mengeluarkan suara tawa yang tidak kuduga. "Kau pikir aku mau tidur dengan Alpha rendahan sepertimu? Pheromone-mu saja tidak ada apa-apanya."
Aku pasti sudah gila. Mungkin karena kepalaku dipukul dan aku ditampar membuat otakku sedikit bergeser. Aku sedang berada di ambang hidup dan mati dan kemungkinan besar Haizaki akan memperkosaku, tapi aku malah menyulut emosinya. Dan jelas saja dia tersulut.
"DIAM BRENGSEK!" Dia membenturkan kepalaku ke tembok belakang dan aku hampir kehilangan kesadaran lagi. Seumur hidup, kepalaku tidak pernah dipukul ataupun dijambak. Aku bahkan tidak pernah dipukul oleh Ayah ataupun kakak-kakakku. Namun, Haizaki melakukan semuanya hanya karena dia seorang pecundang dan penjahat.
Darahku berdesir dengan cepat hingga aku bisa mendengar gemuruhnya di telingaku sendiri. Gerakanku tidak berhenti memotong tali tambang dan aku tidak bisa merasakan apapun dari tanganku. Rasa sakit dan pegal semua menghilang karena adrenalin memudarkannya. Kebencianku meluap bagaikan sungai setelah musim hujan. Membanjiri seluruh tubuhku dan itu memberiku kekuatan untuk melawan Haizaki.
Aku tertawa lagi. Otakku, tubuhku, semuanya sudah tidak sinkron karena aku gegar otak ringan. "Kau pikir hanya karena kondisiku seperti ini, aku tidak bisa melawanmu? Kau bahkan tidak bisa bertahan jika aku mengeluarkan pheromone-ku."
Lagi-lagi, aku ditamparnya. Gesekan antara beling dan tali tambang semakin cepat dan aku hanya berharap tali itu putus sebelum Haizaki memutuskan untuk membunuhku dengan tangannya.
"Peduli setan!" serunya dan dia mulai membuka paksa celana yang kupakai. Ikat pinggangku, lalu kancing dan resleting celanaku. Aku meronta sekuat yang aku bisa, tapi pergerakanku terbatas. Tanganku terus bergerak memotong tali tambang dan aku sudah tidak peduli jika gerakan tanganku di punggung mencurigakan. Aku hanya fokus membebaskan tanganku dan mencegah Haizaki memperkosaku.
Haizaki sendiri tampaknya sudah tidak peduli lagi pada apa yang kulakukan, karena dia membuka celananya sendiri dan aku berusaha menjauh darinya. Ketika dia melihat wajahku yang tampak ketakutan dan terdesak, dia tertawa sinting. Ketika dia baru mau menyentuhku, tali itu terputus dan tanganku bebas. Dengan cepat aku menancapkan pecahan beling itu ke mata kiri Haizaki.
Dia terhuyung mundur sambil meraung kesakitan. Aku mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur. Namun, kakiku masih diikat dan aku berusaha keras memotongnya dengan cepat. Kedua telapak tanganku berdarah, tapi itu bukan masalah besar.
"BAJINGAN! BAJINGAN!" dia melolong seperti hewan yang kesakitan dan terluka. Aku tahu seranganku tidak cukup, karena Haizaki masih berdiri dengan gagah dengan mata kiri yang berdarah. Karena tidak punya waktu, aku melepaskan kedua sepatu yang kupakai dan kulepaskan dengan paksa.
Haizaki menerjangku, tapi aku berguling ke samping sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat kakiku. Jika aku tertangkap olehnya, aku pasti akan langsung dibunuh detik itu juga. Aku tidak boleh sampai tertangkap.
Dia bangun sambil sempoyongan, darah dari matanya memercik kemana-mana dan aku puas melihatnya. Hanya saja, aku juga belum aman. Dengan penuh paksaan, akhirnya tali itu terlepas. Aku berlari keluar dari ruangan kosong tersebut.
Rupanya, aku berada di sebuah rumah berlantai dua yang tampaknya terbengkalai. Koridornya sangat kotor, penuh tanah dan debu. Namun, aku tidak peduli. Aku terus berlari menjauhi Haizaki. Aku tidak punya tujuan dan aku tidak tahu ada berapa anak buah yang dibawa oleh Haizaki. Saat dia menyergapku, dia membawa 4 orang, jadi kemungkinan ada 4 orang atau bisa jadi lebih.
"KAU TIDAK BISA KABUR DARIKU! AKU PASTI AKAN MENEMUKANMU!"
Raungannya terdengar sejelas malam. Aku berusaha membuka banyak pintu, tetapi semuanya terkunci. Aku kehabisan opsi. Haizaki dengan cepat menyusulku dan dia bagaikan banteng yang melihat warna merah. Aku kembali berlari sampai ujung koridor dan berharap ada pintu yang terbuka. Pintu terakhir terbuka dan aku segera masuk ke dalam. Rupanya aku masuk ke dalam sebuah kamar mandi. Aku hendak menutup pintu kamar mandi tersebut ketika Haizaki mendobraknya dengan kencang.
"MAU KEMANA KAU?"
Aku sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya senjata yang ada hanyalah pecahan beling, tapi aku ragu kalau aku bisa melukai Haizaki ketika dia mode bertarung dan siaga.
Dengan cepat di meraihku dan mencekik leherku.
Aku berusaha bernapas dengan refleks, tapi cekikan Haizaki begitu kuat. Aku berusaha melepaskannya dari leherku. Aku mencakarnya, menusuk-nusuk tangannya dengan pecahan beling, tapi tidak ada gunanya. Haizaki diliputi kemarahan, sehingga tidak ada satupun yang bisa menghentikannya.
Kesadaranku semakin menipis dengan rasa perih di paru-paruku yang menginginkan udara. Aku merasa paru-paruku seperti diperas hingga tak ada lagi udara yang tersisa. Lama-kelamaan, tenagaku tidak cukup kuat untuk melawan Haizaki.
Aku akan mati, itulah yang kupikirkan. Aku akan mati di tanah asing dan tidak akan ada yang tahu aku di sini.
Aomine, pintaku dalam hati. Dia tidak datang untuk menyelamatkanku. Meskipun dia datang, sepertinya dia terlambat karena Haizaki sudah akan membunuhku lebih dulu.
Apakah ini yang dirasakan oleh Tetsuya diambang kematiannya? Ketika sebuah truk menabrak taksi yang ditumpanginya sehingga dia meninggal di tempat akibat perdarahan. Apakah dia memanggil Aomine untuk menyelamatkannya? Apakah hingga tarikan napas terakhirnya, dia masih mengharapkan suaminya?
Aku pasti sudah diambang kematian karena meskipun aku sedang dicekik hingga hampir mati lemas, aku malah memikirkan lelaki lain yang menjadi korban Haizaki. Kerusakan kolateral yang seharusnya tidak terjadi. Haizaki hanya suka menyiksa orang-orang agar dirinya merasa berkuasa dan hebat. Dia pernah menghancurkan Aomine sebelumnya, dan kali ini aku tidak akan membiarkan Aomine dihancurkan.
Aku bukanlah Tetsuya. Tetsuya mati tanpa sempat memberikan perlawanan. Namun, aku akan memberikan perlawanan. Jika Aomine bisa menang melawannya, menekannya hingga Haizaki tidak punya apa-apa lagi di dunia ini, aku bisa melakukan hal yang sama. Aku sudah berjanji pada Aomine bahwa aku akan menemaninya, aku akan menerimanya. Jika aku mati di tempat ini, maka aku akan melanggar janjiku.
Akashi Seijuurou tidak pernah melanggar janjinya.
Aku seperti mendapat kekuatan. Seperti ada sebuah kekuatan yang tertidur di dalam diriku dan aku mengaktifkannya. Biasanya aku berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan pheromone-ku, menyembunyikannya rapat-rapat karena aku tidak nyaman dengan keberadaannya. Namun, kali ini pheromone itu keluar bersamaan dengan daya hidupku yang hampir habis.
Bagaikan sebuah bendungan yang dibobol, pheromone-ku keluar hingga menyebar luas sekali. Menyerang Haizaki hingga dia melepaskan cekikannya. Dia terbatuk-batuk sambil memegangi kepalanya, semantara aku bernapas sebanyak mungkin setelah cengkramannya lepas.
"A... Apa?" tanyanya sambil meringkuk.
"Sudah kubilang bahwa kau tidak akan sanggup bertahan jika merasakan pheromone-ku." Rasanya seperti ada orang lain yang mengambil alih tubuhku, berbicara dengan suaraku dan mengendalikan tubuhku.
"Aku lebih dominan darimu." Aku menelusuri dan menggores pipinya dengan pecahan beling. Rasanya seperti aku melihat tubuh sendiri dirasuki oleh orang lain. Aku bahkan tidak tahu bahwa aku bisa berbuat hal seperti menyakiti orang dengan kondisi tenang. Entah mengapa, fokusku sangat tajam. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku yang stabil, sementara Haizaki semakin tertekan oleh pheromone-ku. Aku merasa sangat sadar, sekaligus terasa jauh sekali dari tubuhku.
Seolah pheromone-ku memiliki kehendak sendiri dan kini aku membiarkannya mengambil alih tubuhku.
.
AOMINE DAIKI
Aku tidak bisa konsentrasi selama rapat di kantor pusat. Jika bukan karena Kiyoshi yang menahanku dan menjaga akal sehatku, aku pasti sudah pergi seperti orang gila ke tempat Haizaki dan menyelamatkan Akashi. Hanya saja, Kiyoshi lebih bisa berpikir dariku. Jika aku pergi begitu saja, aku pasti akan langsung dibunuh di tempat atau lebih buruk lagi, dia akan menyakiti Akashi.
Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Tidak lagi, setelah Tetsuya.
Mendengar suara Akashi yang cemas dari sambungan telepon membuatku ingin segera angkat kaki dari tempat ini. Semakin lama waktu yang kuhabiskan untuk rapat strategi tidak jelas, semakin aku cemas dengan keselamatan Akashi.
"24 jam pertama adalah waktu krusial penculikan. Dan Haizaki ingin bernegosiasi," kata Nebuya.
Aku hampir menggebrak meja. "Karena itu kita harus cepat menyelamatkan Akashi. Apa lagi yang kalian tunggu? 24 jam itu terus bergerak. Haizaki tidak stabil. Dia bisa melakukan apapun!" aku hampir menjerit kesal di ruang rapat.
"Kita akan segera berangkat, Aomine. Tim SWAT sudah menunggu dan kita membahas mengenai negosiasi Haizaki."
Wakamatsu mendengus muak. "Yang benar saja! Dia meminta kita menghapus catatan kriminalnya dan membiarkannya pergi ke luar negeri? Itu sudah bukan negosiasi namanya!"
"Kita bisa menawarkan pengurangan masa tahanan dan identitas baru," usul Sakurai.
"Tapi semua itu harus berdasarkan Keputusan Jaksa Agung, apalagi Haizaki masihlah seorang tersangka yang belum diadili di pengadilan."
"Mana mungkin Jaksa Agung menyetujuinya? Mafia besar seperti Haizaki sudah pasti akan dihukum penjara tanpa amnesti," kataku frustasi. "Semakin lama kita di sini, semakin tidak stabil kondisi."
Aku terus mengulang-ulang suara Akashi ditelepon. Aku tidak bisa bertahan hidup jika takdir yang sama menghampiri Akashi seperti Tetsuya. Aku tidak akan bisa selamat jika suara Akashi ditelepon adalah saat terakhir aku mendengarnya. Padahal, baru pagi ini kami memulai hari baru untuk sebuah hubungan baru. Untuk sebuah lembaran baru. Aku baru saja berani melangkah menuju masa depan bersama Akashi.
Jangan ambil dia juga, bisikku entah pada siapa. Aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan, Dewa, Budha, atau siapapun. Namun, kali ini aku benar-benar membutuhkan keajaiban dari siapapun agar aku bisa menyelamatkan Akashi.
Akhirnya, kami berangkat dari kantor pusat menuju tempat penyanderaan. Tempat itu berada di luar Tokyo, di sebuah tanah kosong. Ada sebuah bangunan rumah dua lantai. Tim SWAT bersiap mengambil posisi sambil melihat kondisi sekitar.
"Ada 4 orang penjaga di sekitar rumah. Mereka orang yang sama yang menculik Akashi di kantornya," lapor Sakurai.
Mengingat video CCTV basement di kantor Akashi saja sudah membuatku ingin membunuh Haizaki dengan cara yang mengerikan. Salah seorang anak buahnya memukul kepala Akashi hingga dia pingsan. Dan, mereka membawanya masuk ke sebuah van dan pergi dari situ tanpa adanya hambatan. Menurut Sakurai, satpam yang berjaga di basement kantor Akashi pingsan karena pheromone dari Haizaki menekannya.
"Pheromone-nya kuat, tapi dia hanya memusatkan di dalam gedung. Kurasa dia mencegah orang lain masuk. Dia hanya mengundangmu, Aomine-san," jelas Sakurai.
Aku tidak bisa merasakan pheromone-nya, tapi bagi Haizaki dan Para Alpha dan Omega semua itu masuk akal. Itu undangan khusus untukku karena hanya akulah yang diinginkannya.
"Bagaimana dengan 4 orang lainnya? Menurutmu dia menaruh lebih banyak orang di dalam rumah?" tanyaku.
Sakurai menggeleng. "Sulit memastikannya. Namun, dari profil Haizaki, kurasa tukang pukulnya hanya 4 orang saja. Dia lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa diganggu. Jadi, mungkin di dalam rumah itu hanya ada Haizaki dan Akashi-san."
"Satu lagi Sakurai," kataku, "Apa kau bisa merasakan pheromone Akashi?" tanyaku.
Aku berharap Sakurai mengangguk, tapi harapanku runtuh ketika dia menggeleng. "Tapi kurasa Akashi-san pasti masih hidup. Haizaki ingin menggunakannya untuk alat negosiasi. Jika dia tidak memancing kemarahan Haizaki, Akashi-san pasti masih hidup."
Aku mengangguk. Benar juga, Akashi bukanlah tipe orang yang suka menyulut pertengkaran ataupun bersumbu pendek. Dia adalah orang yang memiliki perhitungan dalam setiap langkahnya. Meskipun dalam kondisi terdesak, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak akan bertindak gegabah. Akashi pernah mengatakan bahwa dia tidak suka menggunakan pheromone-nya, jadi masuk akal jika Sakurai tidak bisa merasakannya.
Aku kembali ke van untuk mengambil pistol dan memakai rompi anti peluru.
"Jangan gegabah," kata Kiyoshi.
Aku mengangguk.
"Aku tahu ini masalah dendam pribadi kalian, tapi ada seorang warga biasa yang jadi sandera. Berdasarkan profil kita, Haizaki bisa melakukan tindakan ekstrem. Kau harus terus waspada jika ingin menyelamatkannya," ceramah Kiyoshi.
"Aku tahu," jawabku.
Kini, setelah undangan dari Haizaki terlampau jelas, pikiranku sejernih embun di pagi hari. Aku harus fokus pada tugasku. Jika aku hanya cemas dan bertindak gegabah, Akashi bisa terluka dan bahkan bisa meninggal. Aku harus bisa melumpuhkan Haizaki dan menyelamatkan Akashi. Aku memasang earpiece dan Kiyoshi mengangguk.
"Kami akan melumpuhkan keempat orang di depan," kata Nebuya.
Aku baru mau melangkah ketika keanehan itu terjadi. Keempat orang tukang pukul tersebut mendadak terjatuh begitu saja. Senjata mereka terlepas dari tangan mereka dan mereka bagaikan boneka yang terputus dari tali.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
Kiyoshi memberi kode pada Tim SWAT untuk mengecek kondisi, tapi ketika mereka melangkah dalam jarak tertentu, mereka seperti melawan sesuatu dan mereka berguguran jatuh juga.
"Apa yang terjadi?" tanyaku lagi, lebih mendesak. Aku tidak butuh fenomena paranormal ketika aku sedang diburu waktu.
"Ada pheromone lain," kata Sakurai. "Sepertinya milik Akashi-san. Hanya saja, lingkup pheromone-nya lebih luas dari jangkauan Haizaki dan sepertinya dominansi Haizaki kalah," ujarnya.
"Kirim Para Beta untuk mengevakuasi SWAT dan meringkus 4 tukang pukul," kata Kiyoshi. Instruksinya jelas dan Para Beta di SWAT mulai bergerak untuk membereskan fenomena aneh tersebut.
"Aomine, sekarang saatnya."
Aku mengangguk. Aku melangkah mantap menuju rumah berlantai dua tersebut. Aku seorang Beta, sehingga aku tidak bisa merasakan pheromone. Namun, pheromone Akashi begitu kuat sehingga setiap langkah kakiku terasa bergerak di atas lumpur. Udara lebih pekat dan menyesakkan. Pheromone yang begitu besar ini tidak mungkin bisa dikeluarkannya setiap saat. Seolah udara pun bergetar karena pheromone-nya.
Pintu depan tidak dikunci dan aku memasukinya. Tidak ada sambutan, tidak ada tembakan terdengar. Tidak ada tumpukan tubuh atau potongan tubuh manusia. Tidak ada siapapun. Namun, dari aula lantai 1 terdengar suara kegaduhan di lantai 2, sehingga aku mengambil pistol dan bergerak ke lantai dua.
Aku berjalan menyusuri koridor yang kotor dan terdapat berbagai jejak kaki. Aku memasuki ruangan pertama yang terbuka, yang ternyata tidak ada siapapun. Namun, aku rasa di tempat inilah Akashi disekap. Masih ada bekas tali tambang yang dipotong, pecahan beling, dan tetesan darah. Seluruh tubuhku bergolak dalam sensasi panik dan takut. Ada sepasang sepatu Akashi yang tergeletak begitu saja. Bau rokok, alkohol semua bercampur menjadi satu.
Aku kembali berjalan ketika mendengar suara samar-samar dari ujung koridor.
"Bagaimana Aomine?" tanya Kiyoshi dari luar gedung melalui earpiece-ku.
"Aman," ujarku singkat. Semua pintu yang lain terkunci. Semakin aku dekat ke ujung lorong, udara semakin pekat dan aku bisa merasakan sebuah kuasa absolut. Dominansi yang tidak bisa dikalahkan, seperti gunung yang terus berdiri tegar meskipun ditimpa badai dan angin.
Pintu tersebut sedikit terbuka dan aku menendangnya dengan pistol teracung. Namun, aku tidak pernah membayangkan apa yang akan aku lihat. Akashi berdiri dengan tegap, ceceran darah di sekitarnya dan tangan kanannya memegang potongan beling yang juga meneteskan darah. Haizaki berada di lantai kamar mandi. Seluruh tubuhnya penuh dengan darah dan aku tahu bahwa Akashi menusuknya berkali-kali hingga Haizaki kehilangan kesadaran.
"Akashi," panggilku.
Dia menoleh ke arahku. Di saat itulah aku baru benar-benar bisa membaca pheromone miliknya.
Pheromone yang selalu disembunyikannya di balik kegelapan, terkumpul semua selama bertahun-tahun dan seolah menunggu dengan sabar seperti serigala menanti hewan buruan. Pheromone yang tidak dipoles, kasar, asli dan tidak dapat ditundukkan dengan apapun. Pheromone yang sepertinya punya kuasa yang mengendalikan Akashi dalam kondisi terdesaknya. Seperti mekanisme pertahanan dirinya. Pheromone yang menuntut darah dan korban, yang membuatmu meringkuk ketakutan di sudut ruangan dan ingin berpaling.
Aku menatap lagi keseluruhan tubuhnya. Wajahnya memar, darah kering di pelipis. Di lehernya terdapat beberapa memar yang sering kulihat dalam kasus pencekikan. Kedua tangannya berdarah dan kedua pergelangan tangannya terluka dan kulitnya terkelupas hingga berwarna merah. Kakinya tidak memakai alas sepatu dan terdapat beberapa sayatan dan cakaran. Celana panjang Akashi terbuka sedikit dan ikat pinggangnya telah terlepas.
Aku menurunkan pistolku dan berjalan ke arahnya.
Akashi masih hidup, masih bernapas, tetapi dia seperti orang lain. Ekspresi wajahnya kosong, dan pheromone-nya keluar tanpa bisa dibendung.
"Kau datang," bisiknya serak. Aku merasa kesadaran Akashi sudah di ambang batas. Jadi, aku menangkapnya ke dalam pelukanku ketika dia akhirnya kehilangan kesadaran. Pecahan beling itu terjatuh dengan nyaring ke lantai kamar mandi, sementara Akashi pingsan di pelukanku.
"Aku butuh tim medis," kataku.
Tak berselang lama, Kiyoshi dan yang lain memasuki rumah dan menemukan kami di kamar mandi. Setelah Kiyoshi mengecek, Haizaki sudah tidak bernapas lagi dan dinyatakan meninggal oleh tim medis. Akashi mengalami gegar otak ringan dan juga luka-luka trauma. Kami membawanya dengan brakar ke luar gedung.
Kiyoshi menepuk bahuku dan aku mengangguk. Aku ikut masuk ke dalam ambulans untuk menemani Akashi. Para tim medis mulai memasang IV line dan memasang nasal canul agar Akashi bisa bernapas lebih lancar. Mereka membersihkan luka di belakang kepalanya dan memasang perban. Luka-luka di tangannya juga dibebat tekan oleh perban. Untuk memarnya, tidak bisa diapa-apakan.
Tak berselang lama, kami sampai di IGD RS terdekat. Akashi segera dimasukkan ke Red Zone untuk dilakukan tindakan lebih lanjut. Seorang dokter umum menghampiriku dan memberitahu kondisinya.
"Kami akan melakukan CT-Scan di kepalanya untuk melihat apakah ada perdarahan atau tidak, mengingat pasien mengalami benturan yang keras di kepalanya. Lalu, kami akan melakukan Rontgen untuk lehernya untuk melihat tulang-tulangnya. Tolong tanda tangan di sini dan di sini."
Aku hanya menggangguk saja dan menandatangani semuanya.
"Maaf, apakah Anda keluarga pasien? Suaminya?" tanya seorang perawat.
Aku menggeleng. "Aku kekasihnya," kataku.
"Kami akan melakukan yang terbaik. Anda bisa menunggu di ruang tunggu hingga kami panggil nanti."
Aku masih ingin lebih lama berada di Red Zone, tapi aku sudah diusir. Akhirnya, aku duduk di ruang tunggu bersama dengan kelaurga pasien lainnya. Kiyoshi datang tidak lama setelah itu, bersama timku yang lain.
"Bagaimana?" tanya Kiyoshi.
"Katanya akan di CT-Scan dan di Rontgen lehernya. Lalu aku tidak boleh menunggunya." Aku melepas rompi anti peluru dan duduk bersandar.
"Dia akan baik-baik saja," kata Wakamatsu.
Aku mengusap wajahku. "Bagaimana Haizaki?" tanyaku akhirnya.
"Dia tewas akibat 10 luka tusukan di tubuhnya. Akashi tidak akan dituntut apapun karena itu merupakan perlindungan diri. Kau lihat bagaimana celana Haizaki terbuka? Dia berniat memperkosa Akashi," ujar Nebuya.
Tanganku terkepal dan aku merasa puas akhirnya Haizaki mati. Namun, rasanya terlalu cepat dia mati. Aku ingin dia menderita, tapi keselamatan Akashi lebih penting. Aku harus memprioritaskan perhatianku. Akashi membutuhkanku saat ini dan aku tidak boleh pergi dari sisinya.
"Kau tidak apa?" tanya Kiyoshi.
Aku mengangguk. "Aku akan di sini sampai dia sadar. Kalian kembalilah lebih dulu ke kantor pusat."
Wakamatsu membawa rompi anti peluruku. Mereka akhirnya pamit dari RS dan tinggallah aku sendirian.
Waktu berjalan dengan sangat lambat dan aku tidak pernah mengalami perlambatan waktu hingga selama ini. Tidak ada tanda-tanda dari Red Zone atau Akashi secara ajaib keluar dengan sehat. Aku hanya memimpikan semua itu. Kurasa aku terlalu lelah hingga tertidur di bangku ruang tunggu. Ketika aku membuka mata, seorang perawat perempuan sedang menatapku.
"Keluarga Akashi Seijuurou-san?" tanyanya.
Aku segera bangkit berdiri. Kesadaranku kembali dengan cepat. Jantungku berdebar kencang. "Apa apa?" tanyaku.
Perawat itu tersenyum tipis. "Hasil CT-Scan sudah keluar dan Akashi-san sudah bisa dikunjungi."
Aku nyaris melompat dan menabrak si perawat. Dengan tergesa, aku memasuki Red Zone dan menemui dokter yang bertugas. Dia menjelaskan hasil CT-Scan kepala. "Ada perdarahan kecil di sini, tapi bukan masalah besar. Tidak butuh di operasi. Akashi-san mungkin hanya butuh rawat inap satu minggu. Nantinya darah ini akan meresap kembali ke dalam pembuluh darahnya. Dan lagi, hasil dari Rontgen lehernya tidak menunjukkan adanya keretakan atau patah. Suaranya mungkin akan serak selama 2 minggu, tapi bisa kembali nomal."
Dia tersenyum dan aku tidak pernah begitu lega hingga ingin memeluknya. "Akashi-san sudah bisa dijenguk. Kondisinya sudah stabil dan mungkin 2 jam lagi kami akan pindahkan ke ruang perawatan biasa."
"Terima kasih sensei," kataku sebelum menuju ranjang Akashi.
Selang infus terpasang di lengan kirinya, lalu luka robek di kepalanya sudah dijahit dan di perban. Masker oksigen NRBM melingkari hidung dan mulutnya, tapi aku masih bisa menatapnya dengan jelas. Memar-memar di lehernya masih terlihat mengerikan.
"Hei," katanya serak.
Aku menggenggam tangannya dan duduk di ranjangnya. Kuusap kepalanya dan aku berusaha tersenyum. Hatiku terasa sangat perih melihat kondisinya seperti ini, di IGD dalam kondisi kritis. Namun, dia hidup.
"Hai," kataku. "Apa yang kau rasakan sekarang?" tanyaku.
"Pegal. Aku butuh spa sepulang dari sini."
Aku tertawa mendengar jawabannya. Akashi tahu caranya agar aku tidak terlalu tegang, tidak terlalu khawatir. "Kita akan pergi ke resort setelah ini," ujarku.
Dia tersenyum. "Aku baik-baik saja," katanya lagi. "Kau datang menyelamatkanku."
Sebenarnya, Akashi-lah yang menyelamatkan dirinya sendiri. Dia melawan Haizaki seorang diri, menggunakan seluruh insting bertahan hidupnya untuk menyerang. Dia jauh lebih kuat dan tegar dari yang kubayangkan.
Aku ingin mengatakan bahwa ini hanya sebagian kecil dari efek kolateral pekerjaanku. Aku ingin Akashi tetap aman, tidak tersentuh dan bahagia. Namun, jika bersama denganku, itu semua harus kami dapatkan dengan susah payah. Berapa lama lagi Akashi tahan hingga akhirnya dia hancur? Aku tidak mau melihatnya hancur. Aku ingin menjaganya, mencintainya, dan melindunginya.
"Aomine," panggilnya. "Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Jawabanku masih tetap sama. Aku akan terus memilihmu dan aku tidak akan mundur. Kita akan menjalaninya bersama, ingat?" Genggaman tangannya semakin kuat.
Benar. Kenapa aku sempat ragu? Keyakinan Akashi kuat dan aku tidak boleh sedetik pun meragukannya. Kami akan menjalaninya bersama, akan saling menguatkan dan saling menjaga satu sama lain.
Kucium punggung tangannya. "Bersama."
SELESAI
A/N: Akhirnya selesai juga. Kritik, saran, komentar, semuanya diterima tanpa syarat dan ketentuan
Salam,
Sigung-chan
EPILOG
MUSIM PANAS
Dua tahun adalah usia hubungan kami. Musim panas datang bersamaan dengan angin musim semi yang mulai terasa seperti panggangan oven. AC di kamar kami hampir menyala sepanjang malam dan setiap hari aku selalu membuka seluruh jendela di rumah kami agar udara segar masuk. Setiap dua hari sekali, Daiki selalu pulang ke rumah dengan membawa semangka. Aku sampai bosan memakan semangka, tapi aku juga butuh sari-sarinya yang segar.
"AH, Panas!" keluh Daiki ketika dia baru saja selesai dari halaman rumah kami. Keringatnya menetes deras dan bajunya basah kuyup. Pisau di tangannya masih berlumuran tanah.
"Salah sendiri," kataku, "sudah kukatakan harusnya kau kerjakan sedari musim semi. Sekarang rumputnya sudah tumbuh terlalu tinggi kan."
Daiki mendengus. Dia menaruh pisau itu di kitchen sink dan mencucinya. Lalu, dia mengambil bir dingin di dalam kulkas. "Siapa orang yang menyiangi rumput di musim semi? Kenapa kita tidak sewa orang saja? Punggungku bisa patah lama-lama," gerutunya.
"Aku tidak menyuruhmu setiap hari. Hanya saja, kalau di musim panas–"
"Bisa mengundang banyak serangga. Iya, terima kasih pelajarannya, sensei."
Aku memukul lengannya pelan. "Kalau sudah tahu, jangan banyak protes."
"Hari liburku yang berharga dan kau menjadikanku tukang kebun," katanya.
"Ini disebut dengan kegiatan produktif, Daiki."
"Aku menghabiskan waktu dua jam berkutat di bawah sinar matahari. Kau harus bertanggung jawab, Sei!"
Dan dia memeluk pinggangku. Aku menciumnya. Mulutnya terasa asin karena keringat, tapi aku suka mengecap rasanya. Dia berbau matahari dan rumput segar dan tanah. Paduan yang memabukkan. Tubuhnya basah oleh keringat, tapi aku merasa itulah daya tariknya.
Daiki mengangkatku. "Aku mau bayaran di muka," ujarnya sambil menyeringai. Aku digendongnya sampai ke ranjang kami. Apapun yang dia inginkan, akan selalu aku berikan.
.
PUSARA TETSUYA
Sejak kami mulai hidup bersama, kami sepakat untuk membeli sebuah rumah. Hidup di mansion atau pindah ke salah satu mansion terkesan tidak efektif. Dari mansion-ku, tempat kerja Daiki jauh dan dari mansion Daiki, tempat kerjaku jauh. Akhirnya, setelah Daiki makan malam bersama dengan Ayahku dan keluarga Chihiro, mereka menyarankan kami membeli sebuah rumah di dareah perumahan.
Rumah itu berlantai dua, tetapi saat ini lantai dua hanya kami gunakan sebagai gudang saja. Pada dasarnya kami tinggal di lantai 1. Rencananya, lantai dua yang berisi 3 kamar itu mau kami gunakan untuk menjadi ruang kerja dan perpustakaan kecil. Hanya saja, uang kami sudah habis untuk membeli rumah dan perabotan, sehingga rencana itu masih menunggu.
Aku tidak akan pernah menyangka bahwa kehidupanku bisa berubah sedemikian rupa hanya karena berkenalan dengan seseorang. Seseorang yang kukenal di Pesta Kise. Jika aku harus mengulang waktu, kurasa aku bisa tahan menghadapi Kise dan semua pestanya hanya untuk bertemu dengan Daiki. Aku tidak menyesali apapun.
Malam itu AC berdengung kencang, tetapi aku memakai selimut karena Daiki tidak henti-hentinya bercinta hingga akhirnya aku memutuskan tidak perlu memakai baju tidur malam hari ini. Aku bisa merasakan napas Daiki yang teratur, tetapi dia belum tertidur.
"Ada apa?" tanyaku. "Apa yang kau pikirkan?"
Sebagai jawaban, dia malah memelukku dengan erat. Aku balas memeluknya meskipun aku masih sangat bingung. "Daiki?" tanyaku lagi.
"Sei," panggilnya. "Besok maukah kau bertemu dengan Tetsu?"
Aku terdiam dalam pelukannya. Dua tahun kami menjalin hubungan, baru kali ini Daiki akan membawaku menuju pusara mendiang suaminya. Selama ini dia selalu pergi sendirian dan aku terlalu sungkan jika minta ikut. Kali ini, dia memintaku untuk ikut.
Aku mengangguk dalam pelukannya. "Tentu saja aku mau."
Keesokan harinya kami pergi ke Pemakaman Umum. Pusara Tetsuya berada di tengah lahan pemakaman, meskipun tidak terlalu atas. Daiki mulai membersihkan pusaranya dan aku membantunya. Lalu, kami menyalakan dupa. Cuaca terik tidak menghalangi kami berziarah.
"Tetsu, ini Akashi Seijuurou," kata Daiki. "Kami bersama sekarang. Aku sudah tidak sendirian lagi."
Aku membiarkan Daiki bermonolog sendirian, sementara aku menatap pusara itu. Pusara berwarna abu-abu marmer dengan ukiran nama Tetsuya. Aku teringat kisah mereka, tentang Tetsuya yang meninggal dan bayi mereka karena Haizaki. Kini, pusara itu terasa hangat karena sinar matahari yang menyiraminya sepanjang hari.
Aku sudah membalaskan dendammu. Haizaki tidak akan menyakiti Daiki lagi.
"Senang bertemu denganmu," kataku.
Tidak banyak yang bisa kukatakan di depan pusara Tetsuya. Setelah tidak ada lagi yang ingin kami ucapkan, kami pulang.
"Terima kasih Sei," kata Daiki.
Aku tersenyum. "Tidak masalah. Aku senang kau akhirnya memperkenalkan kami."
"Aku merasa kalimatmu salah tapi aku tidak tahu dimana letak kesalahannya," katanya.
Aku tertawa. "Jangan dipikirkan." Mobilnya meluncur dengan lancar di jalanan. "Bayi laki-laki kalian, hendak kalian beri nama siapa?" tanyaku.
Daiki masih berkonsentrasi menyetir mobil, tetapi dia menjawab pertanyaanku. "Itsuki."
"Nama yang indah," komentarku. Dia mengangguk.
.
PERNIKAHAN?
Hubungan kami sudah berjalan selama 5 tahun. 5 tahun penuh warna, penuh suka dan duka, serta pertengkaran-pertengkaran dan permintaan maaf yang mesra. 5 tahun yang awalnya tidak kubayangkan akan berhasil.
"Apa rencanamu kedepannya?" tanya Midorima.
"Kami bahagia seperti ini. Apa lagi yang kubutuhkan?" retorikku.
"Apa pernikahan tidak pernah dibicarakan di antara kalian?" tanyanya lagi. Aku tertegun. "5 tahun adalah waktu yang lama dan stabil. Namun, ini hanya pendapatku."
Pernikahan ya?
Kalimat itu bahkan tidak keluar dari otakku hingga aku selesai Sarapan Siang bersama Midorima, di tengah meeting, dan bahkan ketika aku pulang dengan mode setengah auto pilot sampai ke rumah kami.
Bukankah kami sudah seperti pasangan yang menikah pada umumnya? Memiliki rumah, tidur di ranjang yang sama, dan saling melengkapi satu sama lain. Sejujurnya, aku beberapa kali memikirkan tentang pernikahan dengan Daiki di kala senggang. Namun, aku takut dengan pernikahan. Pernikahanku gagal karena kebohonganku sendiri dan aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Aku tidak mau hubungan kami berakhir karena tindakan gegabahku. Aku ingin kami berdua baik-baik saja.
Bagaimana dengan Daiki sendiri? Apakah dia menginginkan pernikahan?
Topik itu tidak pernah muncul di dalam percakapan kami. Tidak pernah ada kode-kode, tidak pernah ada kata yang keluar. Pertanyaan sederhana dari Midorima membuatku berpikir kesana kemari.
Malam itu, setelah Daiki pulang, kami makan malam bersama, tetapi topik pernikahan tidak keluar dari mulutku. Berkali-kali aku ingin mengangkat topik itu, tapi aku mengurungkan niat. Sekelebat gagalnya pernikahanku praktis membuat nyaliku ciut. Hingga Daiki mandi dan kami tidur di atas ranjang, topik itu terkunci di mulutku.
"Selamat tidur," kata Daiki sambil mematikan lampu tidur dan mencium pipiku. Dia segera bergelung ke dalam selimut dan mendengkur. Aku menutup novel yang kubaca dan mematikan lampu di nakasku dan ikut tidur. Namun, aku tidak kunjung tidur. Topik pernikahan itu tetap menggantung bagaikan sebuah racun yang hampir menetes membasahi tanah.
Akankah Daiki kabur dari hidupku jika aku ingin menikah dengannya? Bukankah apa yang kami miliki ini cukup? Apakah aku ini egois dan serakah? Kenapa aku selalu menginginkan hal yang lebih?
Malam hari itu akhirnya aku bermimpi. Aku menikah dengan Daiki dan satu hari kemudian kami bercerai. Aku terbangun dengan keringat bercucuran. Ketika aku mengambil ponsel yang kuletakkan di nakas tempat tidur, waktu masih menunjukkan pukul 2 pagi. Dengkuran Daiki yang stabil menenangkanku. Kami masih bersama, kami masih memiliki satu sama lain. Aku melingkarkan kedua tanganku ke pinggang Daiki dan aku akhirnya tidur sambil memeluknya.
Sudah kuduga, pernikahan adalah hal yang buruk.
.
MAKAN MALAM
"Apa yang sebenarnya kau takutkan? Aku sendiri malah heran kenapa kalian tidak juga menikah."
Aku menatap Chihiro yang sedang asyik memotong daging domba di depannya. Istrinya, Sakura, ikut makan malam bersama dengan kami.
"Kau lupa dengan pernikahanku sebelumnya? Apa harus kuingatkan?"
Chihiro mendengus. "Pernikahanmu sebelumnya itu gagal karena kau tukang bohong. Kau memaksakan kehendakmu. Aku tidak melihat alasan kenapa kau tidak menikah dengan Aomine sampai sekarang," komentarnya pedas.
"Aku takut gagal," ujarku jujur.
Sakura tersenyum. Dia memang wanita menawan dan penuh pengertian. "Takut itu wajar. Namun kalau kau belum melangkah maju, kau tidak akan pernah tahu sebatas apa ketakutan akan mengekangmu. Kurasa akan lebih bijak kalau kalian melangkah bersama menuju masa depan."
Cara bicara seorang psikiater memang beda. Dia bicara dengan lembut, penuh dengan logika, tapi juga tidak menapiskan pendapat yang ada. Dia mendengarkan dengan baik dan aku merasa alasanku untuk tidak menikah juga masuk akal. Namun dari cara bicaranya, Sakura juga seolah memberikan opsi lain yang lebih baik untuk kuambil.
"Aomine-kun lelaki yang baik. Apa kau sudah pernah menanyakan atau berdiskusi mengenai pernikahan dengannya?" tanya Sakura lagi.
Bicara dengan Sakura selama 5 menit lebih membuahkan hasil dibandingkan berdiskusi selama 1 jam dengan Chihiro yang selalu memojokkanku dan berkomentar dengan pedas.
"Midorima menanyakan hal yang sama juga," kataku.
"Itu artinya keputusan ada padamu," komentar Chihiro. Padahal aku menginginkan pendapat dari Sakura. "Dan artinya semua orang juga setuju pada alasan bodohmu mengenai pernikahan."
"Terima kasih atas sarannya," gerutuku pada komentar Chihiro yang terlalu pedas. Untung saja Sakura adalah wanita yang netral dan berakal budi, sehingga dia melanjutkan kalimat dari suaminya dengan bahasa yang lebih halus dan tidak menghakimi.
"Kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi, Sei-kun. Kurasa jika Aomine-kun benar-benar ingin bersama denganmu juga, dia pasti mau mendiskusikan hal itu bersama."
.
DISKUSI BERSAMA
Kata-kata dari Sakura menjadi pedomanku untuk bicara mengenai pernikahan dengan Daiki. Jika aku terus bertanya-tanya dan ketakutan sendiri, aku tidak akan pernah mengurai masalah ini. Aku hanya akan kebingungan dan tersesat sendiri. Daiki adalah partner-ku, sehingga kami seharusnya bisa saling berbagi pendapat dan mendiskusikan masalah yang tidak bisa kami pecahkan sendiri.
Setelah Daiki pulang, aku membiarkannya mandi terlebih dahulu dan kami makan malam bersama. Namun, rasa daging sapi teriyaki yang dimasak oleh Daiki terasa seperti pasir di mulutku karena aku sedang memikirkan hal lain. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya mengangkat topik pernikahan yang selama ini tidak pernah kami bahas.
Aku mengamatinya makan dengan lahap. Setelah kami mulai hidup bersama, aku semakin tahu bahwa Daiki adalah orang yang lumayan jago memasak, terutama karena dia memiliki sahabat masa kecil, Momoi Satsuki, yang sangat tidak berbakat memasak. Dia menatapku yang belum menyentuh daging sapi itu setelah mulutku selesai mengunyah.
"Apa kau tidak suka menunya?" tanyanya.
Aku menggeleng. "Aku hanya kepikiran sesuatu," ujarku. Inilah saatnya. Aku tidak bisa menunda lagi. Topik pernikahan yang sudah membuatku resah hingga bermimpi buruk harus dibahas sekarang.
Aku menatap Daiki. "Apa pendapatmu tentang pernikahan, Daiki?"
Pertanyaan itu keluar dari mulutku, pada akhirnya. Setelah berbulan-bulan terasa pahit dan beracun di dalam mulutku karena tidak bisa terucap, kini semuanya terucap. Tetesan racun itu akhirnya jatuh melubangi batu. Aku menatap Daiki sambil menggigit lidahku sendiri. Aku menantikan reaksi macam apa yang akan dilakukannya.
Dia meletakkan sumpitnya dan menatapku. Aku tahu bahwa diskusi ini tidak akan selesai dalam waktu 5 menit. "Aku tidak keberatan mengenai pernikahan. Sebelum aku bertemu denganmu, aku juga sudah pernah menikah. Kau juga, bukan?"
Aku mengangguk. Jawaban netral dari Daiki membuat jantungku bertalu-talu. "Tapi nasib pernikahan kita berbeda. Pernikahanku gagal karena kesalahanku. Kegagalan itu kadang masih menghantuiku sampai sekarang."
Daiki berkata lamat-lamat, seolah dia mengunyah sesuatu yang keras di dalam mulutnya. "Maksudmu, kau takut bahwa kita akan mengalami kegagalan?" tanyanya langsung.
Aku mengangguk lagi, meskipun seluruh punggungku terasa dingin. Seolah ada hujan es yang membasahi punggungku dan membekukannya. "Aku tidak mau kehilanganmu karena kesalahanku. Hubungan ini sangat penting untukku. Kau penting."
Aku tidak sadar bahwa aku hampir mematahkan sumpit yang kupegang karena aku mengepalkan tanganku. Ketika Daiki memegang lembut kepalan tanganku, barulah aku sadar bahwa aku sedang dalam mode ketakutan. Genggamanku pada sumpit mengendur.
"Aku tidak ingin membebanimu dengan hal-hal yang membuatmu takut. Aku tidak menuntut apapun darimu, Sei. Kau bebas menjadi diri sendiri saat bersamaku. Kita akan menerima satu sama lain, ingat?" Daiki tersenyum. Senyuman yang mampu menghancurkan semua keraguanku.
Benar, aku bukan lagi Akashi Seijuurou yang berusia 20 tahunan. Dulu, aku belum bisa menerima diriku sendiri dan seksualitasku. Aku menyangkalnya dan terus berbohong. Kebohongan itu akhirnya menyakiti aku dan pasanganku. Namun, aku telah belajar menerima diriku sendiri, merengkuhnya dan mencintainya. Kegagalan pernikahan itu membuka mataku dengan lebar, bahwa aku tidak bisa memaksakan diriku menjadi orang lain. Aku tidak lagi takut menjadi diriku dan jika orang tidak bisa menerima diriku, maka aku tidak punya kewajiban untuk membuatnya berubah pikiran.
Bertemu dengan Daiki membuatku merasa semakin yakin dengan diriku. Daiki bisa membuatku kembali cinta pada diriku sendiri sekaligus mencintai dirinya. Aku mampu menerima diriku dan Daiki tidak menuntut apapun dariku. Baginya, hanya aku yang dibutuhkannya. Bagiku, hanya dia yang kubutuhkan.
Daiki memberikanku defisini dari mencintai dan dicintai.
"Kau benar," kataku akhirnya. Semua beban berat itu terangkat begitu saja dari pundakku. Aku tidak lagi ragu-ragu. Aku sudah tahu apa yang kuinginkan. Dan aku menginginkan semuanya bersama dengan Daiki.
.
UKURAN CINCIN
Kami sering sekali menautkan kedua tangan kami. Telapak tangan Daiki jauh lebih besar dariku, meskipun ukurannya tidak terlalu berbeda jauh. Meksipun kami jauh, aku selalu bisa merasakan sisa-sisa sentuhan Daiki di tanganku. Bagaimana telapak tangannya yang kasar mengusapku, bagaimana jari-jarinya yang panjang memanjakanku, dan bagaimana semuanya terasa pas ketika kelima jari kami saling bertaut. Aku tidak butuh ingatan untuk melukiskan Daiki dan sentuhannya.
"Bagaimana Tuan?" tanya salah satu petugas toko di salah satu toko emas di Tokyo.
Aku masih mengamati tanganku sendiri dan akhirnya aku menatapnya. "Aku ingin ukuran cincin yang sedikit lebih besar dari jari manisku."
Dengan senyuman ramah, dia mengangguk. "Tolong tunggu sebentar Tuan."
Dia membuka etalase kaca yang berisikan berbagai jenis perhiasan. Kalung, emas, cincin, anting, semuanya beraneka ragam serta berkilauan ditimpa sinar lampu di toko tersebut. Aku mengamati perhiasan lain yang tampak mewah sebelum akhirnya si petugas toko membawa beberapa sampel cincin yang sesuai dengan ukuran yang kuminta.
Ada beberapa jenis cincin yang disodorkannya. Emas putih polos, emas kuning dengan mata berlian di tengahnya, emas putih dengan mata berlian juga, hingga emas kuning polos. Aku membayangkan Daiki memakai salah satu cincin tersebut di jari manisnya dan aku tidak bisa mencegah dadaku yang berdegup kencang. Pasti akan terasa sangat cocok dan akan serasi dengan cincinku sendiri.
"Apa kau punya rekomendasi dari keempat ini?" tanyaku lagi.
Si petugas toko lagi-lagi mengangguk dengan ramah. "Jika Anda mencari yang sederhana, Anda bisa menggunakan cincin tanpa mata berlian. Namun, jika Anda menginginkan sesuatu yang lebih mewah, bisa Anda berikan yang memiliki mata berlian."
Aku tidak tahu apakah Daiki suka yang sederhana atau yang mewah. Menurutku, Daiki cocok memakai cincin jenis apapun. Kalau aku tidak harus mengkhawatirkan soal uang, sudah pasti akan kubeli keempatnya dan kupasangkan satu per satu di jari Daiki. Hanya saja, aku adalah orang yang realistis sehingga opsi seperti itu tidak masuk akal.
Akhirnya aku membeli sebuah cincin emas kuning polosan tanpa mata berlian di tengahnya.
.
MEMINTA IZIN
Udara di musim semi yang lembut tidak begitu dingin. Hari ini aku sengaja cuti setengah hari dari kantor karena aku akan mendatangi sebuah tempat terlebih dahulu. Cincin yang kubeli beberapa minggu yang lalu terasa semakin berat dan menuntut untuk dikeluarkan dari persembunyian. Sejak aku membelinya, aku menaruhnya di dalam mobilku (karena Daiki tidak pernah naik mobilku untuk berangkat kerja).
Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir pemakaman. Waktu bermekarannya Bunga Sakura sudah lewat, sehingga kini yang tersisa hanyalah daun-daun rindang berwarna hijau muda yang cerah dan sisa-sisa kelopak bunga yang berjatuhan di jalanan. Aku turun dari mobilku dan merapatkan mantel yang kukenakan.
Aku sudah hapal dimana letak pusara Tetsuya, sehingga aku berjalan secara otomatis ke pusaranya. Di sana, daun-daun dan kelopak Sakura berguguran dan mengotori pusara orang-orang yang dimakamkan di sana. Aku berjongkok dan membersihkannya sebisaku. Setelah itu, aku menyalakan dupa.
Aku sudah mengulang-ulang apa yang akan kukatakan di depan pusara Tetsuya, tetapi setelah aku berdiri di sini, aku bingung memulai pembicaraan ini. Aku menarik napas dan menghembuskannya.
"Tetsuya, aku ingin meminta izin darimu," aku mendengar diriku sendiri bicara. "Aku akan melamar Daiki. Aku akan memintanya menikah denganku."
Angin musim semi berhembus dengan lembut. Langit sedang cerah, warnanya persis seperti warna surai Tetsuya yang kulihat di dalam foto milik Daiki. Seolah Tetsuya sedang berada di atasku dan mengawasi gerak gerikku. Mungkin dia sedang menimbang apakah sebaiknya aku diizinkan atau disambar petir di siang bolong.
"Aku akan membahagiakannya. Aku akan menemaninya. Aku tidak akan membiarkannya sendirian."
Pusara itu tidak berubah wujud menjadi sosok hantu atau pun monster. Pusara itu tetap berdiam pada tempatnya, abadi tanpa waktu yang menghancurkannya. Tidak ada juga guntur atau petir dan kilat yang menyambarku. Langit masih terang dan cerah. Anginnya berdesau lembut. Sebuah kelopak Sakura jatuh ke tanganku.
Mohon jaga dia.
"Aku pasti akan menjaganya."
.
MASA DEPAN KAMI BERDUA
Aku mengatakan bahwa aku akan memasak hari itu. Daiki menyetujuinya. Namun, sejujurnya aku sangat gugup hingga mau mati rasanya. Berkali-kali aku melihat sekeliling rumah. Aku menaruh beberapa lilin elektrik untuk menambah kesan romantis pada makan malam kali ini. Meja makan sudah kuatur sedemikian rupa sehingga tampak lebih elegan dari biasanya. Aku memakai jas terbaikku. Kotak cincin di saku kemejaku terasa berat, seolah aku sedang membawa air raksa sebesar 10 kilogram.
Aku berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil berpikir dengan cemas. Kadang keinginan untuk membatalkan hari ini sangat kuat dan aku bisa menyulapnya menjadi biasa saja. Namun, aku juga ingin mengukuhkan hubungan kami menjadi lebih kuat lagi sehingga aku memantapkan niatku.
Aku akan melamar Daiki malam hari ini.
Suara mobil Daiki terdengar memasuki garasi rumah kami. Entah karena gugup atau karena sudah terbiasa, suara aktivitasnya terdengar lebih keras dari biasanya. Suara dia membuka pintu mobil lalu menutupnya. Suara mobil dikunci. Suara langkah kakinya yang stabil dan berat saat berjalan dari garasi ke pintu depan rumah kami.
Suara pintu dibuka.
Sampai sini, jantungku sudah akan loncat ke kerongkongan.
"Sei? Kenapa gelap sekali?" tanyanya bingung.
"Aku di Ruang Makan," ujarku.
Aku berdiri bagaikan butler yang menunggu majikannya di Ruang Makan. Lilin-lilin elektrik sudah kunyalakan, dua piring makan malam kami kutata sedemikian rupa hingga terkesan elegan. Kalau aku tidak gugup setengah mati, mungkin aku akan berbangga diri dan puas melihat hasil karyaku.
"Kau membuat semua ini?" tanyanya sambil duduk di salah satu kursi. Aku mengangguk. Aku menduduki kursi di seberangnya.
Dia melonggarkan dasinya dan menatapku dengan bingung dan tampak berpikir. "Apa aku melupakan sesuatu? Apa ini Hari Jadi kita? Atau ulangtahunmu?" tanyanya bingung.
Aku menggeleng. "Tidak, aku ingin mencoba hal yang baru," kataku sambil memberikan makanannya.
Lalu, kami makan malam bersama. Daiki menceritakan kesehariannya di kantor, tentang Komisaris Imayoshi yang selalu mengganggunya, tentang Sakurai dan Wakamatsu yang kadang tidak kompak tetapi sangat bisa diandalkan, dan tentang pekerjaannya yang terus menerus dan rapat yang tidak henti-hentinya. Dia bertanya mengenai keseharianku.
Aku menceritakannya. Tentang klien yang seenaknya, tentang meeting dengan Dewan Direksi yang sombong dan juga seenaknya, tentang Nash Gold Jr. yang tidak pernah melewati harinya tanpa berteriak dan mengamuk. Tentang Sarapan Siangku dengan Midorima dan perkembangan kehidupan pernikahan mereka, tentang buku Kazunari-sensei yang baru saja rilis dan menjadi best seller di 20 negara.
Akhirnya kami selesai makan.
"Daiki," panggilku. Aku tidak bisa lagi terus berceloteh lebih lama, sementara cincin emas di sakuku terasa semakin berat dan seperti timah panas. Daiki menatapku sambil mengelap sisa-sisa saos dari mulutnya. Mulutku sendiri terasa seperti abu bekas pembakaran.
"Aku tahu bahwa selama ini aku selalu punya keraguan. Kegagalan pernikahanku dan itu membuatku takut untuk melangkah lebih jauh ke masa depan. Namun, bertemu denganmu membuatku tidak takut lagi. Kau membuatku berani untuk melangkah maju."
Aku bangkit dari kursiku dan kukeluarkan kotak cincin itu dari sakuku. Tanganku bergetar hebat dan aku takut mengacaukan momen ini.
"Sei," katanya pelan. Aku tahu dia terkejut. Ekspresinya memandangku dengan lekat. Aku tidak berpaling darinya.
Aku berlutut di depan Daiki. "Aku ingin memulai masa depan bersama denganmu. Aomine Daiki, maukah kau menikah denganku?"
