Chapter 17: The (New) Group of Three
"Kau menyebalkan." Harry menatap tajam pada Draco yang berjalan ke arahnya dengan membawa nampan makan siangnya. Tapi Harry tidak bisa menyuruh Draco pergi ke tempat lain karena ia juga tahu bahwa mejanya adalah satu-satunya meja yang sedang kosong. Harry juga tidak mau berteriak mengusir Draco karena tidak mau membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
Draco, dengan senyum lebar di wajahnya, mengambil tempat duduk di samping Harry. "Well, salahmu sendiri karena makan siang sendirian. Percayalah, aku tidak akan mengganggu kalau pacarmu makan siang bersamamu."
Harry menjadi semakin dongkol karena kenyataannya, Cedric memang tidak sedang bersamanya. Tapi ia tetap tidak menendang Draco menjauh. Harry membiarkan Draco mengambil tempat duduk di sampingnya. Harry percaya jika Draco tidak akan berbuat aneh-aneh karena mereka berada di tengah-tengah kantin yang ramai ini.
"Bloody hell."
Harry tersedak mendengar suara itu. Ia terkejut karena tidak menyadari kedatangan Ron dan Hermione. Sekarang kedua sahabatnya itu berada tepat di depannya. Baru saja Harry ingin mencari alasan agar teman-temannya tidak salah paham, keduanya sudah duduk tanpa meminta penjelasan. Seolah-olah tidak ada yang aneh.
"Selera makanku jadi hilang," ucap Ron sambil mendesah. Walaupun mengatakan hal itu, Ron tetap duduk di tempatnya, menikmati makan siangnya dengan lahap lebih dari siapa pun.
Hermione menggeleng-geleng melihat Ron. Ia kemudian beralih menatap Harry dan Draco bergantian. Hermione tidak lupa untuk menatap tajam ke arah Draco. "Aku tahu jika tidak ada tempat kosong lainnya, but, really?"
"Aku tahu sopan santun. Aku tidak akan makan berdiri," balas Draco. Ia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan Hermione. Draco sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh gadis itu.
"Sulit kupercaya kau bicara sopan santun," cibir Harry. Tidak akan semudah itu bagi Harry untuk mengatakan Draco orang yang sopan mengingat apa saja yang terjadi di antara mereka.
Draco hanya mengedikkan bahu. Ia kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.
Sementara itu Harry melirik kedua sahabatnya dengan waspada. Ia takut kalau-kalau Hermione atau Ron mempertanyakan kedekatannya dengan Draco. Tidak tahu saja Harry apa yang direncanakan oleh ketiga orang ini.
Makan siang mereka berlanjut, dan Hermione kemudian bicara pada Ron. "Jangan lupa dengan janjimu," ingatnya.
Ron langsung mengeluh. "Apakah harus?" Ron sudah mulai merengek. "Kau tahu aku tidak suka ke tempat seperti itu. Kenapa sih kau harus mengajakku?"
"Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Harry penasaran. Bukannya Harry mau mengganggu waktu kedua sahabatnya itu, tapi Harry juga bagian dari kelompok ini.
"Ada pertunjukan teater malam ini," jawab Hermione. "Aku hanya mau dia menemaniku. Yang perlu dia lakukan hanyalah duduk. Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu pada sahabatmu ini?"
Harry mengedikkan bahu. Bukannya tidak mau, Harry tahu jika apa pun yang akan dikatakannya tidak akan mengubah Ron. Mana bisa orang seperti Ron duduk diam menyaksikan pertunjukan yang penuh dengan orang-orang pencinta sastra dan seni.
"Apa kau bicara soal A Midsummer Night's Dream yang dipertunjukkan di tengah kota?" tanya Draco penasaran.
Hermione langsung mengangguk dengan bersemangat. Ia cukup terkejut karena Draco bisa mengetahuinya. "Dari mana kau tahu?"
"Ibu dan ayahku akan pergi menyaksikannya malam ini."
"Dan kau tidak mau ikut karena itu membosankan!" Ron menunjuk Draco. Ia mencoba mendapatkan sekutu untuk melawan Hermione.
"Tidak, sama sekali tidak." Jawaban Draco seketika membuat Ron kesal dan membuat Hermione tersenyum penuh kemanangan. "Aku cukup menikmati pertunjukan yang satu itu, jika kita bicara soal Shakespeare. Aku hanya sedang punya setumpuk tugas yang harus dikumpulkan besok, makanya aku tidak bisa ikut."
"Jadi kau cukup suka menyaksikan drama?" tanya Hermione penasaran. Ia tidak merasa jika Draco punya aura seperti itu. Draco lebih seperti seseorang yang akan langsung tertidur bahkan sebelum pertunjukan dimulai. Yah, itu sih sebenarnya Ron.
"Drama, musikal, opera, aku cukup sering menyaksikannya. Mum selalu mengajakku setiap kali Father tidak bisa menemaninya," jelas Draco.
"Dan itu bukanlah hal yang buruk, kan?" Hermione meminta persetujuan Draco. Dan saat Draco mengangguk, ia bertepuk tangan kepada dirinya sendiri. Sekarang Hermione kembali menghadap Ron.
Sementara itu Ron menatap Draco dengan jengkel. "Kau benar-benar memperburuk nasibku."
Draco terkekeh pelan. "Setidaknya A Midsummer Night's Dream adalah komedi."
"Tapi tetap saja," Ron hampir berteriak frustrasi, "aku lebih memilih untuk duduk di bioskop dan menonton film aksi yang menegangkan."
"Kita pernah berkencan ke bioskop sebelumnya," Hermione menyela. "Dan kau tertidur begitu filmnya dimulai."
"Kebetulan film yang kita nonton itu membosankan."
Hermione mencubit lengan Ron karena kesal. Pacarnya ini benar-benar yang paling pandai untuk membuatnya jengkel.
"Bersyukurlah karena dia tidak membawamu berkencan di perpustakaan atau toko buku," ucap Draco pada Ron. Mengingat betapa bencinya Ron pada belajar, mungkin kencan di perpustakaan dan toko buku akan seperti sebuah neraka baginya.
Ron mendengus. Ia tidak bisa menahan senyum ngerinya. "Dia sudah pernah membawaku mengelilingi London dan mengunjungi semua toko buku yang diinginkannya." Ron merinding mengingat hari di mana kemalangan menghampirinya. "Bahkan ketika aku mengatakan padanya bahwa aku lapar, dia malah membawaku ke book cafe! Iya, aku akui jika makanan di sana enak, tapi ada buku di mana-mana!"
Hermione benar-benar ingin menenggelamkan Ron ke tumpukan buku. Ia terus saja mencubit Ron yang mencoba menghindarinya. Sementara Draco hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Ehem!"
Hermione, Ron, dan Draco menoleh serempak ke arah Harry. Mereka memandang bingung pada Harry yang memandang mereka dengan kening yang berkerut. Mereka diam membiarkan Harry berbicara.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" ia bertanya pada dirinya snediri dan tiga orang di hadapannya. Harry sampai bingung harus bilang apa. "Kenapa aku merasa seperti orang asing di sini? Aku sempat berpikir jika aku salah tempat dan hampir saja pindah."
"Jangan berlebihan. Memangnya kami terlihat akrab?" tanya Hermione yang tidak setuju dengan perkataan Harry.
"Sangat! Kalian sudah seperti orang yang kenal lima tahun!" balas Harry.
"Bukan lima tahun," ralat Ron. "Jika kau menghitung sejak awal kita bertemu di sekolah menengah, itu artinya..." Ron mencoba mengingat-ingat dan menghitung dengan jarinya.
"Aah, sudahlah," balas Harry malas. Ia benar-benar merasa terasingkan barusan.
"Memangnya kenapa?" tanya Draco. "Kau tidak mau aku mengobrol dengan teman-temanmu?"
"Yah, tidak ada masalah sih," Harry semakin merasa bingung. Apa yang terjadi di antara mereka bertiga? Mereka mengobrol seolah-olah sudah melupakan bahwa mereka sempat menjadi musuh di masa sekolah dulu.
Hermione yang menyadari kebingung Harry mencoba membuatnya berhenti memikirkannya. Dia juga tidak bisa membiarkan Harry mengira bahwa ia dan Ron sudah mengetahui tentang perasaan Draco padanya. Hermione kembali membawa Harry dalam obrolan mereka agar tidak lagi merasa terasingkan.
Saat asyik mengobrol, ponsel Harry berdering. Ia mengangkat panggilan teleponnya dengan riang. Semua orang di meja itu langsung terdiam. Bukan hanya karena mereka ingin membiarkan Harry menelepon, tapi juga karena orang yang ditelepon Harry.
Jelas bahwa Harry sedang berbicara dengan Cedric meskipun ia tidak menyebutkan namanya. Draco langsung diam, seketika merasa marah. Ia lebih marah lagi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Draco sadar diri bahwa ia tidak punya hak untuk marah. Harry adalah kekasih Cedric, bukan kekasihnya.
Sementara Ron dan Hermione terdiam karena canggung. Mereka diam-diam melirik Draco yang siap meledak kapan saja. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa mereka akan mendukung Draco untuk mendapatkan Harry. Tidak akan pernah. Tapi sekarang mereka merasa seperti sedang membantu menyembunyikan hubungan terlarang Harry dengan Draco dari Cedric. Mereka tidak merasa bersalah pada Cedric. Harry lah yang mereka tipu sekarang.
Sementara itu, Harry, meskipun suaranya terdengar ceria dan senyum mengembang di wajahnya, dadanya berdebar kencang hingga hampir meledak. Harry begitu gugup hingga tangannya bergerak gelisah. Sama seperti Ron dan Hermione, ia juga merasa seperti sedang menyembunyikan perselingkuhannya dari pacarnya.
Akhirnya panggilan telepon itu berakhir. Harry kemudian mengemas barang-barangnya. "Aku akan menemui Cedric, jadi..."
Hermione dan Ron mengangguk. Mereka tidak perlu bertanya lagi. Lagi pula, sudah biasa jika Cedric tidak mau bergabung dengan mereka. Entah apa alasannya, tapi Cedric tidak merasa begitu nyaman saat bersama dengan Ron dan Hermione.
Sedangkan Draco hanya diam. Ia tidak mengatakan apa-apa bahkan setelah Harry pergi. Ia hanya terus memperhatikan punggung Harry yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Kemudian ia tidak sengaja menoleh menatap Hermione dan Ron. Ia terkejut karena mereka menatapnya terus.
"Kau membiarkannya pergi?" tanya Ron.
"Lalu kau ingin aku menahannya?"
Ron menggeleng. Tentu saja tidak.
Draco menghela napas tipis. "Kalian yang memintaku untuk tidak kelewatan. Dan, aku memang tidak bisa melakukan apa pun."
Hermione berdeham, mencoba menghilangkan suasana canggung di antara mereka. "Well, kau benar, tidak ada alasan bagimu untuk mencegah Harry pergi," ucapnya dan kemudian beralih pada Ron. "Dan juga tidak ada alasan bagimu untuk menghindari pertunjukan malam ini, Ronald."
Ron kembali melayangkan protesnya. Ia terus mengatakan betapa bencinya ia pada pertunjukan drama itu. Sedangkan Hermione terus menolak alasannya dan tetap memutuskan bahwa Ron akan pergi dengannya malam ini. Draco? Dia menikmati hiburan kecil di depannya.
.
.
TBC
.
.
.
