Chapter 21: What's the Plan?
"Oh, Harry dear," Lily menyambut kedatangan Harry di ruangan kantornya. Ia memeluk putra semata wayangnya itu dan membawanya duduk di sofa. Ia mengajak Harry untuk makan siang (padahal ini sudah sore) bersamanya, tapi Harry mengatakan bahwa ia akan menunggu untuk makan malam nanti.
Harry pada akhirnya hanya duduk di kantor ibunya sambil bermain ponsel karena Lily harus mengurus beberapa hal. Setelah pekerjaannya selesai, barulah Lily kembali duduk bersama Harry. Mereka mengobrol untuk waktu yang lama. Semuanya terasa menyenangkan, hingga Harry tiba-tiba mulai terlihat gugup.
"Er, Mum," panggil Harry, "bisakah aku bertanya sesuatu?"
Lily menyisir rambut hitam Harry dengan jarinya. "Tentu saja."
Harry memberanikan diri untuk bicara. "Apakah perpisahan selalu menjadi jalan terbaik?"
Harry merasakan jantungnya ingin meledak saat melihat raut wajah ibunya. Harry belum pernah membawa topik soal perpisahan di depan kedua orangtuanya yang sudah bercerai. Harry berpikir, jika ia menyinggungnya, ia akan mengingatkan kedua orangtuanya tentang masa lalu mereka, entah itu bahagia ada sedih. Harry pun menunggu jawaban ibunya dengan gugup.
Lily tidak langsung menjawab. Ia tersenyum dan tangannya yang tadi berada di rambut Harry kini berpindah ke pipinya. "Tidak, perpisahan bukan jawaban dari segalanya," jawabnya dengan lembut. "Selama masih bisa diteruskan, maka sebaiknya diteruskan. Tapi, tidak jika kau hanya ingin sekadar meneruskannya."
Harry memasang raut wajah bingung sebagai balasan.
"Perselisihan dalam sebuah hubungan adalah hal yang wajar," Lily melanjutkan, "bahkan bisa dibilang, tidak ada hubungan tanpa perselisihan. Dan, kedua pihak tidak boleh langsung memutuskan untuk berpisah begitu saja. Mereka harus berbicara, memikirkan penyelesaian dari permasalahan mereka, dan barulah melajutkan hubungan.
"Tapi ini bukan soal mempertahankannya. Beberapa orang hanya ingin menyelesaikan masalah untuk melanjutkan hubungan, tidak lebih. Dan itu salah. Sebuah hubungan tidak bisa dibiarkan berlanjut hanya karena kau ingin meneruskannya. Apa alasan sesungguhnya kau ingin melanjutkan hubungan ini, itulah yang paling penting." Lily berpindah menggenggam tangan Harry. Mata hijaunya menatap Harry begitu lembut.
"Sayangnya, ayahmu dan aku tidak menemukan alasan itu," Lily kembali bersuara. Kini suaranya menjadi lebih pelan. "Kami sudah berkali-kali duduk dan dan berbicara dengan tenang, mencoba mencari solusi. Namun alasan untuk terus bersama tidak pernah kami temukan. Saat itulah, kami menemukan bahwa satu-satunya jalan yang tersisa hanyalah berpisah."
Harry terdiam. Dia belum pernah mendengar ibunya membicarakan hal ini sebelumnya. Dan Harry ingin mendengar semuanya.
"Suatu saat kau akan berada di tempat yang sama denganku," Lily kembali bicara, "tempat di mana kau akan bertanya-tanya, apa sebaiknya kau akhiri saja? Atau, haruskah kau teruskan? Saat itu, dengarkan apa kata hatimu, bukan keinginanmu semata. Di mana letak kebahagian yang kau dambakan, itulah yang kau cari."
Harry menarik napas dalam dan menghembuskannya. Harry menatap ibunya dengan dada yang terasa sesak. "Aku sedang berada di tempat itu sekarang."
Lily sedikit terkejut dan menegakkan tubuhnya. Ia menggenggam tangan Harry makin erat, mengelusnya dengan lembut.
"Sebenarnya," Harry melanjutkan, "aku sudah lama berada di tempat itu. Aku tidak tahu, apakah aku ingin berpisah atau tidak. Aku tidak pernah bisa mendengar suara hatiku, hanya keinginanku. Keinginan untuk melanjutkan hubunganku dengan dia. Memang agak menyiksa, tapi aku selalu berpikir, jika aku bisa melepaskan keegoisanku maka rasa sakit itu perlahan akan menghilang. Dan aku akan bisa tetap bersama dengannya."
Lily merasakan sakit yang sangat mendalam di hatinya. Ia mengerti, sangat mengerti. Ia pernah merasakannya. Lily kembali mengelus pipi Harry. "Maaf, Harry," ucapnya, "karena membuatmu melihat bagaimana kami berpisah. Aku sudah berusaha. Kami sudah berusaha. Hanya saja, tidak semua hal dapat dipertahankan."
Harry tersenyum dengan lembut dan menggeleng pelan. Ia tidak mau membuat ibunya merasa bersalah karena dirinya. "Kau tidak perlu meminta maaf, Mum. Aku malah ingin berterima kasih." Tangan Harry bergerak menyentuh tangan Lily yang masih mengelus wajahnya. "Memang, perpisahan kalian membuatku berpikir bahwa semua hal bisa ditangani selama aku mau mengalah. Hubunganku akan bertahan lama dengan kekasihku jika aku menuruti perkataannya. Tapi, jika kau tidak mengatakan apa-apa hari ini, aku hanya akan terus berada dalam hubungan satu arah ini. Aku lega karena sudah bicara denganmu, Mum."
Lily membalas tatapan lembut anaknya. "Aku juga senang karena kau mau membicarakan masalahmu denganku, Harry."
.
"That bastard is a piece of shit!" Ron memukul meja dengan tinjunya. Wajahnya sampai berubah merah karena marah. Ia sepertinya sudah siap untuk memukul semua orang yang membuatnya kesal.
Hermione yang duduk di samping Ron memintanya untuk memelankan suara. Hermione sama sekali tidak menyuruh Ron untuk tenang karena ia sendiri tidak bisa tenang. Hermione kembali bicara pada Draco yang berada di depan mereka. "Lalu, apa Harry mengatakan apa yang akan dia lakukan terhadap Cedric?"
Draco menghela napas dan menggeleng. "Dia tidak mau membicarakannya," jawab Draco. "Seperti yang sudah kubilang, Harry juga merasa bersalah. Cedric mencium seseorang tapi dia melakukan hal yang lebih bersamaku."
"Tapi kita sebenarnya tidak tahu apa-apa," balas Hermione segera. "Kau dan Harry memang bisa dibilang selingkuh. Kalian bahkan melakukannya sebelum Harry melihat Cedric bersama gadis itu. Tapi, bagaimana jika ini bukanlah pertama kalinya Cedric bermain dengan orang lain di belakang Harry?"
Draco mengernyit. Ia memiringkan kepala memikirkan perkataan Hermione.
"Itu hanya dugaan lama kami," Ron menambahkan. "Kurasa itu sekitar delapan bulan yang lalu. "Aku dan Hermione tidak sengaja bertemu Cedric di taman hiburan dan dia bersama seorang gadis. Saat kami menghampirinya, dia mengatakan bahwa perempuan itu adalah sepupunya. Dan, yah, kami tidak bisa menahan diri untuk tidak mencurigainya."
"Lalu, apa perempuan itu benar-benar sepupunya?"
Ron mengedikkan bahu. "Entahlah. Tapi Harry bilang itu memang benar. Cedric pernah menunjukkan foto gadis itu padanya dan mengatakan bahwa mereka adalah sepupu."
Draco terdiam. Ia memikirkan perkataan Ron barusan. Namun kemudian ia teringat akan kelasnya yang akan segera dimulai. Ia mengecek jam tangannya dan menemukan bahwa ternyata kelasnya akan dimulai dalam beberapa menit lagi.
"Oh sial," umpatnya dan segera mengemas barang-barangnya. "Aku harus pergi sekarang. Ah, kumohon, jangan membicarakannya masalah ini dengan Harry, terutama tentang Diggory. Biarkan dia yang menceritakannya duluan kepada kalian."
Hermione dan Ron mengangguk. Mereka melihat kepergian Draco yang begitu buru-buru seolah ia sudah terlambat masuk ke kelasnya. Setelah Draco pergi, keheningan panjang menyambut mereka.
"Jadi, bagaimana sekarang?" Adalah Ron yang pertama kali bersuara. Ia menatap Hermione yang menghela napasnya. "Kau pasti tidak akan setuju jika aku langsung pergi menemui Cedric dan menghajarnya, kan?"
Hermione mengedikkan bahu. "Well, aku memang tidak setuju. Tapi jika ada kesempatan, Ron, kau bisa menghajarnya sepuasmu."
Ron cukup senang mendengarnya. Setidaknya ia mendapat dukungan dari Hermione kalau-kalau Harry malah marah padanya.
"Bagaimana jika kita tangkap basah Cedric?" Hermione memberi saran. "Jika kita melihat dengan mata kepala kita sendiri saat Cedric mencium seseorang, kau punya alasan jelas untuk menghajarnya langsung di tempat."
Ron terkekeh-kekeh mendengar saran Hermione. Oh, betapa ia menyukai hal itu. Pertama, ia bisa membenarkan perbuatannya dan Cedric tidak bisa mengelak. Kedua, Harry tidak punya alasan untuk membela Cedric dan membuat alasan. Betapa Ron berharap ia bisa menangkap basah Cedric secepatnya.
Sebuah ide terlintas di benak Ron. Ia teringat dengan foto Cedric yang berada di sebuah bar yang dikirimkan oleh Draco sebelumnya. Cedric sangat suka bersenang-senang bersama teman-temannya, dan Harry melihat Cedric berciuman di sebuah pub.
"Bagaimana jika kita ikuti dia?" Ron bertanya pada Hermione. "Kau tahu kan, Cedric sangat suka pergi ke pub. Dia pasti bertemu gadis-gadis itu di sana. Jadi, kita ikuti ke mana dia pergi, dan saat dia mulai mendekati seseorang, kita tangkap basah dia."
Hermione memutar mata. "Klasik dan bodoh," begitulah balasan Hermione. Ia segera menyela Ron sebelum pacarnya itu sempat protes. "Memangnya kau siapa? Harry yang pacarnya saja bahkan tidak tahu ke mana Cedric akan pergi. Dan kau mau mengikutinya? mengikutinya ke mana?"
Ron terdiam. Benar. Ia tidak bisa begitu saja mengikuti Cedric setiap malam. Anggap saja Ron mengawasi Cedric malam ini, siapa yang bisa menjamin kalau Cedric akan keluar malam ini?
Di tengah kebingungan mereka, Hermione akhirnya menemukan jawabannya. "Ron, apa kau mengenal teman-teman Cedric?"
Ron mengangguk agak ragu. "Well, hanya beberapa. Dan aku pun tidak begitu akrab dengan mereka. Jujur saja, aku tidak terlalu suka dengan mereka."
Hermione menjentikkan jarinya. "Itu dia! Kau bisa berbasa-basi dengan temannya. Tanya-tanya mereka kapan akan pergi ke ke bar atau ke mana lah dan tanya-tanya apa Cedric juga akan ikut."
Kening Ron berkerut mendengar perkataan Hermione. "Itu... rencana yang buruk." Ron mengatakan apa yang dipikirkannya. Rencana Hermione barusan tidak jauh berbeda dengan rencananya. Klasik dan bodoh.
Sebelum keduanya memulai untuk kembali berdebat tentang rencana yang lebih baik, ponsel Ron berbunyi. Sebuah notifikasi singkat yang menandakan adanya pesan masuk. Ron pun mengambil ponselnya, sekalian mau menghentikan sejenak Hermione yang bersikeras dengan rencana briliannya.
Betapa Ron terkejut melihat nama si pengirim pesan. Ron tidak sering melihat nama orang itu di ponselnya karena mereka memang jarang berbicara. Tapi Ron tahu jika orang itu adalah salah satu teman akrab Cedric. Dan yang membuat Ron lebih terkejut adalah isi pesannya.
Ron memperlihatkan pesan itu pada Hermione. Mata gadis itu juga melebar karena terkejut sekaligus bingung. Pesan itu berisi ajakan untuk bersenang-senang malam ini dan dia menuliskan nama tempat yang akan mereka datangi sekaligus waktunya.
Di saat Hermione dan Ron masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, pesan itu tiba-tiba menghilang. Si pengirim menghapus pesannya. Detik berikutnya, ada pesan baru darinya. Ia mengatakan bahwa ia salah mengirim pesan kepada Ron dan meminta maaf.
Hermione mendengus. Sebuah senyum mengembang di wajahnya. "Dia sepertinya mau mengirim pesan itu kepada teman-temannya, dan tidak sengaja mengirimkannya padamu." Senyum di wajahnya semakin mengembang. "Ini dia! Cedric pasti juga ada di sana!"
Ron akhirnya ikut berseru dan juga ikut menjadi bersemangat. "Bagus. Kalau begitu ayo kita pergi ke tempat itu malam ini."
Hermione mengangguk setuju.
"Ah, apa kita perlu mengajak Draco... maksudku, Malfoy. Apa perlu kita mengajaknya juga?" tanya Ron.
Hermione berpikir. Ia membayangkan apa saja yang akan terjadi jika Draco ada di sana. Pukulan Ron saja sudah bisa untuk membuat sekujur tubuh Cedric memar, jika ditambah Draco, mungkin Cedric akan berakhir dibawa ke rumah sakit.
Hermione pun menggeleng dengan kuat. "Tidak. Kita berdua saja sudah cukup."
Ron mengangguk. Tak apa jika Draco tidak ikut. Yang jelas, ia bisa mendaratkan tinjunya di wajah Cedric.
.
.
TBC
.
.
.
