-beberapa bulan kemudian-

"Akhirnya mereka berdua datang." ucap para ajudan yang tengah menunggu Gaara keluar dari rumahnya untuk segara berangkat ke Amerika memenuhi rapat melihat sebuah mobil Knight XV dan mobil Audi RS7 Sportback memasuki gerbang depan.

"Ada apa?" tanya pemilik mobil Knight XV itu menatap para ajudan yang mendadak terdiam itu.

"Wah.. Aku tau kau sangat keren, tapi kalau memakai seragam resmi tentaramu itu kau terlihat semakin keren Sakura-chan." Komentar pria berambut mangkok itu menatap Sakura.

"Hmm? Bukannya semua orang akan terlihat keren dengan seragam Lee-san." Ucap Sakura acuh.

"Tidak-tidak.. Lihat kalian berdua.. Wah.. Wartawan bisa salah focus pada kalian berdua." Komentar Lee menatap Sakura dan Sasuke yang memakai seragam untuk acara resmi tentara itu. Memang hanya Sakura dan Sasuke sebagai ajudan yang akan menemani Gaara hingga kedalam ruang rapat yang memakai seragam, sedangkan yang lain hanya diperintahkan memakai setelan jas hitam saja.

"Sudah.." Gaara yang keluar dari kediamannya itu termenung melihat Sakura. Yang dikatakan Lee benar, Sakura terlihat sangat keren dengan seragamnya.

"Selamat pagi pak." Ucap Sakura menyapa Gaara yang baru keluar dari rumahnya itu.

"Selamat pagi." Ucap Gaara cepat, sedang Sakura dan Sasuke dengan cepat mengambil dua buah tas kulit hitam yang dibawa asisten Gaara itu.

"Acaranya seramai ini?" ucap Lee takjub dengan keramaian digedung itu saat mereka mulai memasuki area pintu masuk gedung.

"Jangan lengah Lee." Ucap Sasuke memperingatkan.

"Aku tau." Ucap Lee cepat.

"Berjagalah di posisi kalian masing-masing. Sasuke, Sakura ayo." Ucap Gaara yang memang memilih untuk hanya membawa dua ajudan terpercayanya saja untuk masuk kedalam mengikuti kegiatannya didalam.

"Aa.. Ya." Ucap Sakura yang pandangannya tertuju pada hal lain. Tetapi dengan cepat Sakura kembali focus dan mengikuti Gaara dari belakang, masing-masing membawa satu tas kulit hitam yang dibawa Gaara dari kediamannya tadi. Sebelum bisa memasuki ruangan itu Sasuke dan Sakura diminta untuk menyerahkan pistol ataupun senjata tajam lain yang mereka bawa.

Pertemuan itupun dimulai dan tibalah giliran Gaara untuk berbicara, ditengah-tengah pembicaraan Sakura menyadari ada yang salah segera memberi kode pada Sasuke yang mencoba melihat sekeliling untuk memastikan dugaan Sakura. Belum selesai Sasuke menyusuri pandangannya, tiba-tiba Sakura berdiri dan segera menarik Gaara bersembunyi dibalik meja besar itu.

DOR!

Seketika ruangan ini berubah gaduh, kepanikan terdengar dimana-mana, ajudan dari seluruh delegasi segera mengamankan perwakilan negara masing-masing. Dalam kegaduhan itu beberapa ajudan tertembak dan beberapa terluka akibat berdesak-desakan keluar dari ruangan itu.

"Gaara-san, disini tidak aman." Ucap Sakura berusaha melihat celah untuk membawa Gaara keluar.

"Akses keluar terlalu crowded." Ucap Sasuke yang tidak bisa melihat jalan keluar karena kegaduhan didepan pintu, jika memaksakan diri mereka malah akan menjadi sasaran empuk.

"Pintu belakang." Ucap Sakura melihat satu pintu yang berada disamping mereka yang tidak didekati siapapun.

"Terlalu bahaya. Kita tidak tau apakah mereka juga ada disana apalagi saat ini kita bertangan kosong." Ucap Sasuke menolak.

"Tch.." Sakura tiba-tiba melesat kedepan dan membanting musuh yang mendekati Sasuke dari belakang, melumpuhkan pria itu serta merebut pistol yang dibawa pria itu.

DOR DOR!

"Apa yang kau lakukan?!" ucap Sasuke kaget melihat Sakura yang tiba-tiba menembakkan pistol itu kearah belakang Sasuke.

"Apa kau ingin mati? Kau tidak menyadari keberadaan mereka?" ucap Sakura sarkas, menatap dua orang yang ia tembak tergeletak tidak jauh dari mereka.

"Ayo.. Akses pintu sudah sepi." Ucap Sasuke melihat akses keluar masuk mereka sudah lumayan sepi karena sebagian sudah berhasil keluar sedang Sakura mengambil semua pistol yang dibawa oleh terroris itu dan membagikannya kepada beberapa ajudan yang ada disana agar bisa menjaga Menteri mereka.

"Sasuke aku jaga belakang, kau lindungi Gaara-san dari depan. Ayo bergerak sekarang!" ucap Sakura bangkit dan tetap waspada. Sasuke dengan patuh mengikuti arahan Sakura.

"Sial. Pak menunduk!" Sasuke menyadari pintu keluar gedung masih terlalu ramai dan tertahan terlebih terdengar suara tembakan saling saut menyahut.

"Gaara-san!" Sakura menyadari ada yang mengikuti mereka segera menarik Gaara untuk tiarap, sedang Sasuke segera berbalik melihat kebelakang untuk melindungi Sakura dan melepaskan beberapa tembakan yang berhasil melumpuhkan musuh.

"Anda baik-baik saja pak?" tanya Sasuke menatap Gaara yang merubah posisinya menjadi bersandar ketembok.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?" tanya Gaara memastikan.

"Kami baik-baik saja." Ucap Sakura tersenyum berusaha menenangkan Gaara.

"Berhenti!" teriak seorang pria yang tiba-tiba muncul dibelakang Sakura, mengarahkan sebuah pisau keleher Sakura.

"Tch.." Sasuke yang melihat itu segera berpikir cepat langkah apa yang harus dia lakukan. Kalau dia menembak bisa saja Sakura yang akan terkena tembakan itu.

"Berikan senjatamu!" perintah pria itu pada Sakura.

"Kau yakin mau melakukan ini?" tanya Sakura dengan tetap tenang.

"Jangan banyak bicara atau aku akan menggorok lehermu!" perintah pria itu yang menekan pisau itu keleher Sakura hingga mulai melukai lehernya.

"Hah.. Baiklah.." ucap Sakura yang memberikan pistolnya itu dengan pasrah.

"Apa yang kau lakukan." Gumam Sasuke tidak percaya dengan apa yang Sakura lakukan. Tetapi belum sempat pria itu mengambil pistol itu dari tangan Sakura, tiba-tiba gadis itu bergerak cepat dan melumpuhkan pria itu. Sasuke yang melihat hal itu hanya bisa tertegun dengan kecepatan Sakura, ia bisa bergerak cepat membanting pria yang berbadan dua kali lebih besar dengannya dan dengan cepat menghentikan pergerakan pria itu.

"Sasuke, apa kau membawanya?" tanya Sakura menatap Sasuke.

"Hah.. siapa sangka benda ini benar-benar terpakai." Gumam Sasuke memberikan zip tie yang ia bawa. Sebelumnya Sasuke tidak ingin membawa benda itu, tetapi saat akan berangkat tiba-tiba Sakura menyarankan untuk membawanya untuk berjaga. Sakurapun merakit zip tie itu sedemikian rupa sebelum memasangkannya ke tangan kanan pria itu dan ke kaki kirinya, selain itu Sakura juga menyumpal mulut pria itu dengan sapu tangannya. Mencegah pria itu membunuh dirinya dengan menggigit lidahnya.

"Sakura.. Apa yang kau lakukan?" tanya Gaara melihat apa yang Sakura lakukan.

"Kita tidak bisa membawanya. Lalu kalau seperti ini dia tidak bisa kaburkan. Dia dibutuhkan untuk introgasi nanti." Ucap Sakura santai, walau terlihat konyol dan seperti bermain-main, apa yang Sakura lakukan benar.

"Kau terluka." Ucap Gaara menatap leher Sakura.

"Aa.. Sepertinya dia benar-benar berniat membunuhku." Ucap Sakura memegang lehernya.

"Jangan. Nanti bisa infeksi." Ucap Gaara menggunakan sapu tangannya, mengelap noda darah dileher Sakura itu.

"Terimakasih pak." Ucap Sakura lagi.

"Ayo." Ucap Sasuke setelah memastikan kondisi didepan aman.

"Un." Jawab Sakura kembali focus mengamankan Gaara untuk segera keluar dari sana.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat mereka berhenti sejenak, Sakura menepuk pundak Sasuke pelan.

"Aku kehabisan peluru. Kau harus menjaga Gaara-san lebih ketat." Ucap Sakura mengingat Sasukelah satu-satunya yang masih memegang pistol beramunisi.

"Sejak kapan?" tanya Sasuke bingung.

"Sejak pria gila itu mengarahkan pisaunya keleherku. Aku sudah kehabisan peluru disana." Jawab Sakura lagi.

"Pintu keluar sudah dekat, seharusnya kau sudah tidak perlu pistol lagi." Ucap Sasuke.

"Aku juga berencana begitu.. Tapi sepertinya kau harus keluar duluan." Ucap Sakura berlari meninggalkan Sasuke dan Gaara.

"Apa yang kau lakukan!" teriak Sasuke melihat Sakura yang tiba-tiba berlari menghampiri seorang wanita yang terluka tidak jauh dari mereka.

"Pouvez-vous bouger vos jambes, madame?" tanya Sakura setelah sekilas menatap pin negara yang terpasang di jas wanita itu. Ia menyadari wanita itu merupakan delegasi dari Prancis.

"Ça fait un peu mal mais je peux le supporter." Ucap wanita itu mencoba berani.

"Terkilir.. Dia tidak akan bisa bergerak cepat." Gumam Sakura, saat fokusnya pada wanita itu Sakura menyadari ada yang mendekat segera waspada dan mengambil pistol dari tangan ajudan delegasi Prancis yang tewas bersimbah darah itu, menjadikan dirinya tameng untuk wanita itu.

"Sakura segera keluar!" perintah Gaara terdengar dari earpiece yang Sakura kenakan.

"Saya akan segera menyusul." Ucap Sakura melepaskan beberapa tembakan kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa wanita itu keluar.

"Sakura!" Gaara terdengar marah dan khawatir dengan tindakan gegabah Sakura.

"Désolé pour mon impudence, madame." ucap Sakura menggendong wanita itu untuk segera pergi dari sana.

Sakurapun berhasil membawa keluar wanita itu dengan selamat, segera setelah keluar Sakura mengantarkan wanita itu pada team medis yang sudah menunggu, Sakura juga mendapatkan sedikit pengobatan untuk luka dilehernya. Setelah selesai dengan pengobatannya, Sakura menyerahkan pistol yang ia gunakan selama proses evakuasi Gaara tadi pada pihak kepolisian amerika.

"Sakura! Apa yang kau lakukan!" maki Sasuke marah besar saat mereka sudah berkumpul.

"Hentikan Sasuke." Ucap Gaara menghentikan Sasuke yang bersiap meneriaki Sakura lagi, sedang Sakura hanya menatap kosong Sasuke.

"Tapi.." Sasuke hanya bisa merasa frustasi dengan aksi nekat Sakura yang juga melangar kode etik. Seharusnya dia melindungi Gaara, bukan menolong orang lain.

"Pak.. Maafkan saya." Ucap Sakura meminta maaf dan segera membungkuk sedalam-dalamnya.

"Tidak apa-apa Sakura. Aku paham." Ucap Gaara menepuk pelan pundak Sakura, memastikan bahwa semua baik-baik saja.

"Saya siap menerima hukumannya." Ucap Sakura lagi.

"Tidak. Tidak ada yang dihukum. Dengar. Aku tidak mau ada satupun dari kalian yang membahas masalah ini nanti. Ini akan menjadi urusanku nanti." Ucap Gaara tegas.

"Baik pak." Jawab semuanya patuh.

"Sakura!" panggil seseorang yang berlari memeluk gadis itu.

"Theo." Ucap Sakura mengenal pria yang memeluknya erat itu.

"Are you okay?" tanya pria bernama Theo itu melepaskan pelukannya. (tulisan di bolt percakapan menggunakan Bahasa inggris)

"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Apakah kau terluka?" tanya Sakura menatap Theo khawatir.

"Aku baik-baik saja." Ucap pria itu tersenyum.

"Kau tidak baik-baik saja!" ucap Sakura menyadari lengan baju pria itu robek.

"Aku hanya terserempet peluru saja. Bukan hal besar." Ucap Theo menenangkan.

"Tunggu dulu.. Kenapa kau disini? Bagaimana dengan Menteri mu?" ucap Sakura menyadari hal tersebut.

"Beliau mengizinkanku untuk bertemu sebentar denganmu." Ucap Theo menenangkan.

"Bagaimana kabar beliau?" tanya Sakura seakan sudah kenal dekat dengan Menteri yang dijaga oleh Theo.

"Tanyakanlah langsung pada beliau." ucap Theo tersenyum melihat bosnya menghampirinya itu.

"Selamat malam pak. Sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Sakura ramah, memberi hormat pada pria itu yang diantar oleh ajudan terpercayanya yang lain.

"Ya dan kau terlihat semakin keren saja. Kau bahkan membuat Theo berlari mengejarmu meninggalkan pos jaganya. Itu hal yang sangat langka. Biasanya aku selalu dipantau bagai elang olehnya, bukan begitu Trevor?" ucap pria paruh baya itu menatap ajudannya itu.

"Benar pak. Saya tidak pernah melihat Theo segelisah ini sebelumnya." goda Trevor.

"I.. Itu tidak benar pak. Trevor." ucap Theo yang mukanya sudah memerah dan segera menatap tajam Trevor.

"Kau tidak perlu merahasiakannya dariku. Aku tau sejarah kalian berdua." goda pria itu lagi.

"Bagaimana kabarmu Sakura?" tanya Trevor memberikan pelukan ringan pada Sakura.

"Aku baik-baik saja." ucap Sakura tersenyum.

"Lihat.. Dengan luka itu kau masih bisa bilang tidak apa-apa." komentar Theo.

"Bukankah kalian berdua sama saja." ucap Trevor. Disaat ketiganya bercanda ringan, Menteri pertahanan mereka sedikit bercengkrama ringan.

"Selamat malam pak Liam." ucap Gaara menyalami tangan pria berusia 50 tahun itu.

"Selamat malam. Sangat disayangkan kita bertemu seperti ini." ucap Liam menjabat tangan Gaara.

"Masih ada kesempatan untuk kita duduk dan berbincang dilain waktu pak." ucap Gaara berbasa-basi

"Benar.. Saya harap kedepannya kita bisa duduk dan membahas kerja sama antar negara kita." ucap Liam ramah.

"Tentu. Saya sangat menantikan momen itu." ucap Gaara tersenyum.

"Pak.." Theo melihat jam tangannya dan tersadar mereka sudah banyak menghabiskan waktu disana.

"Benar juga. Baiklah.. Sampai jumpa dilain kesempatan tuan Gaara, Sakura." ucap Liam menjabat tangan Gaara dan menepuk pelan pundak Sakura.

"Jaga dirimu baik-baik ok? Aku akan menghubungimu jika sudah senggang." ucap Theo membawa Sakura kedalam pelukan hangat.

"Tentu." Ucap Sakura tersenyum, melepaskan Theo yang harus segera kembali menjaga menterinya.

"Sampai jumpa lagi Sakura." ucap Trevor yang juga memberikan pelukan ringan pada Sakura sebelum akhirnya mereka pergi dari sana

"Siapa?" tanya Juugo mewakili teman-temannya yang lain.

"Aa.. Theo sahabatku dulu saat pelatihan di Amerika dan Inggris. Aku mengenal Trevor saat berlibur ke Indonesia." Terang Sakura.

"Aku rasa lebih dari sahabat." Goda Lee.

"Jadi dia yang namanya Theo." Gumam Gaara teringat akan dog tag Sakura. Biasanya dog tag ada dua dimana keduanya berisi informasi pemilik dog tag, jika tentara gugur maka satu dog tag akan dibawa sebagai alat bantu identifikasi dan satunya lagi dibiarkan terpasang pada tentara yang gugur. Tidak jarang menjadi kenangan untuk keluarga jika tentara yang gugur dimedan perang tidak bisa dibawa pulang. Sedangkan milik Sakura satu berisi info tentang dirinya dan satunya pria bernama Theo.

"Kasihan sekali tentara itu tidak tau masa lalumu dan berpacaran dengan orang sepertimu. Apa tentara itu sebodoh itu sampai tidak mengcross check kehidupan pacarnya sebelum menjadi tentara?" Ucap Sasuke sarkas.

"Sakura hentikan!" ucap Gaara menyadari Sakura yang dengan cepat mencengkram kerah baju Sasuke, bersiap memberikannya bogem mentah jika saja Juugo tidak dengan cepat menahan tubuh Sakura.

"Sakura.." Juugo yang menahan tubuh Sakura tetap bisa merasakan kekuatan besar dari tubuh kecil itu.

"Jangan memancingku Uchiha, kalau kau mau menghinaku silahkan tapi janagan pernah menghina teman-temanku terutama Theo. Jangan coba-coba." Ucap Sakura dingin, sukses membuat semua yang mendengarnya merinding ketakutan.

"Aa.. Madame Felice Apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap Gaara dengan bahasa prancisnya menatap wanita yang tadi ditolong oleh Sakura yang dikawal oleh ajudannya itu menghampiri Gaara dan ajudannya. (Percakapan dengan nona Felice di bolt menggunakan Bahasa prancis)

"Aku sangat berterima kasih dengan apa yang ajudanmu lakukan. Kau melatihnya dengan sangat baik, walaupun yang ia lakukan justru malah membahayakan nyawamu." Ucap Felice menatap Sakura yang berdiri tegap disamping Gaara.

"Tidak apa-apa Madame. Jika disaat itu aku berada diposisinya aku juga akan melakukan hal yang sama." Ucap Gaara menjabat tangan wanita itu.

"Sakura benar?" ucap Felice menggenggam lembut tangan Sakuraa.

"Benar madame." Ucap Sakura mantap.

"Aku sangat berterimakasih atas apa yang kau lakukan. Aku juga mendengar cukup banyak pujian tentangmu, terutama dari Menteri Indonesia. Jika kalian berkenan, apakah besok kalian bisa datang ke gedung duta prancis?" tanya Felice, meminta persetujuan dari Gaara.

"Tentu saja madame." Jawab Gaara mengangguk.

"Baiklah.. Aku akan menunggu kedatangan kalian besok." Ucap wanita itu berlalu pergi bersama ajudannya.

"Pak.. Saya akan menerima hukumannya nanti saat di Tokyo. Anda tidak perku menutupi kesalahan saya hari ini." Ucap Sakura mantap.

"Aku akan membahas ini nanti setelah sampai di Tokyo Sakura, sekarang lupakan saja kejadian tadi. Tapi aku harap kedepannya kau tidak melakukan hal ini lagi." Ucap Gaara berusaha menenangkan Sakura karena memang pada dasarnya yang Sakura lakukan adalah kesalahan fatal dan dia bisa mendapatkan hukuman besar.

"Hah.." Sasuke melihat itu sedikit banyaknya dia mulai merasa bersalah.

"Sasuke." Gaara menatap Sasuke memintanya untuk meminta maaf pada Sakura dan menghentikan aksi marah-marahnya itu.

"Maafkan ucapanku barusan." Ucap Sasuke meminta maaf dengan acuh, tipikal Uchiha.

"Berhenti mengusikku Uchiha. Kali ini aku membiarkanmu karena ada Gaara-san dan yang lain." Ucap Sakura dingin.

"Ayo kembali ke hotel, aku sangat lelah." Ucap Gaara meregangkan tubuhnya itu.

"Baik pak." Jawab semuanya patuh. Setelah menyelesaikan prosedur yang dibutuhkan, akhirnya Gaara dan ajudannya bisa kembali ke hotel. Selama diperjalanan tidak ada yang bisa membuka mulut mereka. Semuanya merasa lelah dengan kejadian hari ini.

"Baiklah. Besok pagi kita akan memenuhi pertemuan dengan pihak amerika jam 9 pagi setelahnya kita akan memenuhi janji dengan pihak prancis. Aku harap tidak ada yang terlambat." Ucap Gaara sebelum mereka berpisah menuju kamar masing-masing setelah sebelumnya membagi jadwal pengawalan pada kamar Gaara.

"Baik pak." Ucap semuanya patuh.

"Kalian berdua beristirahat saja." Saran Lee menatap Sasuke dan Sakura yang sedang memastikan lagi jadwal jaga mereka.

"Lee benar. Kalianlah yang paling lelah hari ini." Ucap pria berbadan besar itu.

"Apa dia masih punya hak beristirahat Juugo-san? Bukankah dia yang hampir membunuh menteri kita dengan aksi noraknya." Komentar ajudan lain yang merasa kesal.

"Hentikan Suigetsu. Apa yang Sakura lakukan merupakan tindakan manusiawi. Tidak ada diantara kita diajarkan untuk meninggalkan korban dimedan perang." Ucap Juugo menghentikan perdebatan itu.

"Hentikan. Aku akan ikut berjaga sesuai jadwal sebelumnya. Aku akan berjaga pertama bersama Sasuke. Lalu Suigetsu-san, jangan lupa siapa yang menjadi ketua team disini." Ucap Sakura menghentikan perdebatan itu, menatap tajam Suigetsu.

"Tapi Sakura." Juugo merasa keberatan terlebih setelah melihat berapa lelah gadis itu.

"Aku tidak apa-apa." Ucap Sakura meyakinkan.

"Kalian beristirahatlah." Saran Sasuke yang dengan patuh diikuti semuanya, meninggalkan Sasuke dan Sakura yang berjaga didepan pintu kamar Gaara.

Besoknya sesuai jadwal, jam 8 Gaara dan ajudannya sudah berangkat menuju gedung pertemuan yang ditentukan pihak amerika. Hari itu mereka menjadwalkan sedikit pidato tentang kejadian kemarin serta melakukan penghormatan kepada para korban. Beberapa ajudan yang mengawal Menteri dari masing-masing negara memang ada yang gugur. Selain itu disaat itu juga pemerintah amerika memberikan penghargaan kepada seluruh ajudan yang mengawal para Menteri dengan selamat dan beberapa penghargaan khusus karena sudah berkontribusi besar dalam menghentikan terjadinya korban yang lebih banyak. Salah satu yang menerima penghargaan itu adalah Sakura dan Sasuke yang memang mengarahkan para ajudan para Menteri itu agar mereka semua bisa keluar dengan selamat, serta Gaara yang dengan cepat menyusun taktik untuk membantu proses evakuasi disana. Sakura juga mendapat satu lagi penghargaan khusus karena berhasil menyerahkan salah satu pelaku untuk dilakukan introgasi. Sedangkan di gedung duta prancis, Sakura mendapatkan penghargaan khusus karena sudah menyelamatkan Menteri mereka, mengingat ajudan dari prancis merupakan salah satu korban yang gugur dalam tugasnya hari itu. Setelah selesai dari acara itu, akhirnya Gaara dan ajudannya kembali ke Tokyo.

"Terimakasih untuk hari ini. Sekarang kalian sudah bisa beristirahat." Ucap Gaara setelah mereka makan malam dikediaman Gaara. Memang untuk hari itu Gaara memerintahkan semua ajudannya untuk menginap saja karena memang hari ini mereka sudah sangat kelelahan didalam pesawat dan besok jadwal mereka cukup padat.

"Hah.." Sasuke yang belum mengantuk memilih melangkahkan kakinya menuju area kolam renang untuk mencari udara segar. Langkah kaki Sasuke terhenti saat melihat gadis bersurai pink yang duduk bersandar disalah satu pilar disana.

"Sasuke?! Mau apa lagi kau?" Ucap Sakura yang segera menjauhkan pistolnya dari kepala Sasuke dan menjauh dari Sasuke yang ia tindih dengan lutut dan bobot badannya itu.

"Hah.. Salahku mendekatimu tiba-tiba." Ucap Sasuke menyadari kesalahannya mendekati prajurit terbaik itu.

"Lagipula kenapa kau melakukan itu?" tanya Sakura bingung sembari menyimpan kembali pistolnya itu dipinggang belakangnya, tersembunyi dibalik kemeja yang ia kenakan.

"Kau bisa masuk angin jika tidur disini." Ucap Sasuke memperingati.

"Hentikan omong kosong itu dan katakan apa yang kau mau." ucap Sakura masih teringat akan kejadian saat di amerika.

"Aku tidak butuh apapun darimu. Aku hanya teringat sesuatu." ucap Sasuke enggan tetapi dia ingat Sakura besok akan dipanggil ke pangkalan karena perbuatannya untuk mendengarkan hukumannya.

"Kalau begitu berhenti menggangguku." Ucap Sakura tidak peduli.

"Mereka tidak akan menghukummu berat setelah penghargaan yang kau terima itu." Ucap Sasuke sarkas.

"Tidak ada yang tau." Ucap Sakura lagi.

"Apa kau pernah mendapat hukuman sebelumnya?" tanya Sasuke penasaran.

"Pertanyaan konyol apa itu? Tentu saja pernah." Ucap Sakura santai. Hal ini cukup membuat kaget Sasuke, ia sudah membaca berkas milik Sakura sebelumnya. Gadis itu merupakan lulusan terbaik yang bahkan disekolahkan ke Amerika dan Inggris oleh Menteri pertahanan sebelumnya karena kemampuannya yang luar biasa.

"Kau? Si anak emas? Dihukum?" ucap Sasuke tidak yakin.

"Anak emas apanya. Sudahlah.. Aku lelah." Ucap Sakura kemudian berlalu pergi dari sana.

"Kalau dia sewaspada itu saat tidur, kapan dia benar-benar beristirahat?" gumam Sasuke yang menemukan kejanggalan itu. Sakura terlalu waspada dengan sekelilingnya, saat di Amerika kemarinpun ia yakin Sakura sengaja menjadikan dirinya target untuk musuh agar bisa menangkap salah satunya hidup-hidup terlebih Sakura sengaja berdiri dan menjauh beberapa langkah padahal ia sedang berbicara dengan Gaara.

TBC