-seminggu kemudian-
"Akhirnya kau datang." gerutu Sakura menatap gadis yang menghampirinya itu.
"Hehehe.. Jangan cemberut begitu." ucap gadis itu tidak takut sama sekali.
"Ino, hanya karena kau sahabatku bukan berarti aku tidak akan marah." ucap Sakura lagi.
"Oh, ayolah. Aku hanya terlambat 5 menit. Apa kau tau betapa macetnya diluar sana?" ucap Ino lagi.
"Terserahmu saja. Jadi kau mau minta tolong apa?" tanya Sakura to the point.
"Wah, kau masih saja tidak bisa berbasa basi ya?" ucap Ino memaklumi sikap Sakura.
"Jadi?" Sakura masih menunggu jawaban dari Ino.
"Temani aku shopping dan jalan-jalan." ucap Ino menggandeng tangan Sakura.
"Hah? Kau bilang ini hal penting." ucap Sakura lagi.
"Hei, shopping dan jalan-jalan itu penting tau. Apalagi kapan terakhir kali kau membeli baju yang baru? Apa kau tau aku sudah melihatmu memakai baju ini ribuan kali." bela Ino.
"Aku tidak peduli. Lagipula aku jarang keluar dan lebih sering memakai baju kerjaku." ucap Sakura enggan.
"Ayolah.. Ya.. Nanti aku belikan kau topi baru." ucap Ino mencoba melunakkan hati Sakura.
"Hargh.. Baiklah." Sakura akhirnya mengalah dan bangkit dari duduknya.
"Ah, aku juga akan menginap dirumahmu malam ini." ucap Ino cepat.
"Hah? Apa maksdumu?" tanya Sakura kaget.
"Hei, sudah lama aku tidak menginap dirumahmu. Ayolah, lagipula kau besokkan off." ucap Ino cepat.
"Besok aku bekerja Ino." elak Sakura cepat.
"Hei, apa Gaara-dan tidak keterlaluan, kenapa dihari minggu kau masih harus bekerja?" ucap Ino tidak suka.
"Katakan hal itu padanya langsung." ucap Sakura acuh.
"Menyebalkan." gerutu Ino.
"Hargh, aku akan berangkat bekerja besok jam 9 pagi. Kau bisa pulang jika sudah bangun. Tapi jangan lupa untuk mengunci pintu rumahku." nasehat Sakura.
"Hehehe.. Tentu tentu. Bukan masalah." ucap Ino cepat.
"Kau benar-benar seperti anak-anak." ucap Sakura hanya bisa tersenyum tipis.
"Aku lihat belakangan ini moodmu sangat bagus. Apa terjadi sesuatu?" tanya Ino disaat ia sedang memilih beberapa baju untuknya dan untuk Sakura.
"Hal bagus? Hmm.. Tidak ada." jawab Sakura enteng.
"Hmm, kau berbohong. Kau hanya akan tersenyum dan memiliki mood bagus seperti itu jika ada hal baik yang terjadi." ucap Ino tidak percaya.
"Sungguh tidak ada apa-apa." jawab Sakura santai.
"Ah, kau baru kembali dari Indonesia beberapa minggu yang lalu ya. Pantas saja." goda Ino teringat hal itu.
"Apa hubungannya?" tanya Sakura bingung.
"Theo." ucap Ino santai, satu kata berhasil membuat wajah Sakura sedikit memerah.
"Ada apa dengannya?" tanya Sakura pura-pura acuh.
"Hoo.. Kau yakin seacuh itu? Sepertinya hubungan kalian kembali kearah yang bagus." ucap Ino menggoda.
"Kami hanya teman dekat Ino. Aku dan dia tidak akan pernah bisa bersama ingat?" ucap Sakura hambar, merasa sedih mengingat kenyataan itu.
"Mungkin tidak sekarang Sakura. Kalian mungkin punya kesempatan didunia lain atau kehidupan selanjutnya. Bisa saja diri kalian didunia lain saat ini sudah bersama, menikah dan memiliki anak-anak yang lucu." ucap Ino menghibur.
"Entahlah. Aku tidak mau berharap lebih." ucap Sakura santai.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Ino yang dengan cepat mengganti topik.
"Pekerjaanku? Ada apa dengan pekerjaanku?" tanya Sakura balik.
"Apa pekerjaanmu lancar?" tanya Ino lagi.
"Hmm.. Yah begitulah." jawab Sakura seadanya.
"Ada apa? Apa bocah Uchiha itu menganggumu lagi? Atau Gaara-senpai?" tanya Ino memburu, mengalihkan pandangannya dari baju-baju itu.
"Tidak ada yang seperti itu. Hubungan Gaara-san dan aku baik-baik saja. Kami professional, lagipula dia sudah bertunangan dan akan menikah. Lalu Sasuke juga sudah mengetahui semuanya." jawab Sakura.
"Semuanya? Dari mana dia mengetahui yang sebenarnya?" tanya Ino penasaran.
"Itachi-san. Dia tidak akan berani mengobrak abrik kantor kepolisiankan? Tiket satu-satunya adalah Itachi-san." jawab Sakura.
"Syukurlah jika dia sudah tau dan bersikap lebih baik padamu. Aku harap bocah-bocah Uzumaki itu juga mengetahui cerita yang sebenarnya." ucap Ino kembali focus dengan baju-baju itu.
"Kalaupun dia tau aku tidak yakin dia mau menghianati tunangannya itu." ucap Sakura enteng.
"Yah memangnya bisa berharap apa dari mereka." ucap Ino bosan.
"Kau benar." jawab Sakura setuju.
"Tunggu dulu, tadi kau bilang Gaara-san akan menikah?" ucap Ino tersadar.
"Ah, ya.. Dia sudah punya tunangan dan akan segera menikah." ucap Sakura lagi.
"Akhirnya di move on dari kau?" ucap Ino kaget.
"Move on apanya. Jangan mengarang cerita." ucap Sakura menggetok pelan kepala Ino.
"Mengarang cerita apanya. Siapapun yang melihatnya juga tau kalau Gaara-san punya rasa padamu." ucap Ino lagi.
"Aku tidak tau dari mana datangnya itu tapi aku yakin itu hanya perasaanmu saja." elak Sakura.
"Yah, terserahmu jika tidak mau percaya. Jadi siapa tunangannya?" ucap Ino santai.
"Aku tidak akan mengatakannya." ucap Sakura cepat.
"Hei, kau hanya akan membagikan berita itu setengah-setengah padaku? Aku yang sahabatmu ini?" ucap Ino kesal.
"Kau akan segera tau melalui beritakan." elak Sakura.
"Ayolah. Aku ini sahabatmu." ucap Ino merengek.
"Tidak bisa." ucap Sakura cepat.
"Kau pelit!" gerutu Ino.
"Kalau kau penasaran, tanyakan langsung pada Gaara-san." ucap Sakura enggan.
"Kaukan tau dia tidak akan menjawabnya." ucap Ino kesal.
"Kalau begitu lupakanlah dan tunggu saja beritanya keluar." ucap Sakura lagi.
"Kau menyebalkan." ucap Ino kesal karena sangat penasaran.
"Hei, Ino kau mau belanja berapa banyak? Tanganku sampai pegal memegang keranjang belanjaan ini." gerutu Sakura saat menyadari keranjang itu sudah penuh dengan baju-baju.
"Hmm.. Aku rasa ini cukup.. Ayo kita bayar dan pergi ketempat selanjutnya." ucap Ino menarik Sakura kearea kasir.
"Ino, kau menghabiskan 50 ribu yen untuk berbelanja baju saja dan kau masih belum puas?" tanya Sakura heran.
"Hei, aku butuh baju-baju itu begitu juga dengan kau. Aku tidak mau melihatmu memakai baju itu lagi apalagi baju training bulukmu itu. Satu kantong itu milikmu." ucap Ino. Memang baju-baju itu tidak sepenuhnya milik Ino, beberapa adalah baju Sakura yang ia pilihkan.
"Dua puluh ribu yen hanya untuk baju?" ucap Sakura melihat struk belanja yang tertempel ditas belanja itu.
"Itu bukan hal yang berlebihan. Tenanglah." ucap Ino santai.
"Bukan hal yang berlebihan? Hargh.. Aku akan mentransfermu nanti." ucap Sakura tidak enak.
"Jangan. Aku tidak mau. Anggap itu upah menemaniku jalan-jalan melepaskan stress hari ini." tolak Ino.
"Tapi Ino.."
"Aku bilang tidak. Terima saja." ucap Ino keras kepala.
"Hargh.. Baiklah." akhirnya Sakura mengalah dan kembali mengikuti langkah Ino memasuki sebuah toko skin care.
"Sakura, skin care yang kemarin apakah cocok?" tanya Ino yang masih sibuk memilih-milih produk kecantikan itu.
"Aku tidak tau. Aku hanya memakai sesuai perintahmu." jawab Sakura asal.
"Hrmm.. Yah, kau terlihat lebih cerah sekarang. Berarti cocok. Apakah stocknya masih ada?" tanya Ino menatap lekat wajah Sakura.
"Masih." jawab Sakura cepat.
"Yah, kau taukan kalau kau itu mudah terbaca." ucap Ino bosan, mulai mengambil beberapa produk.
"Ino, biar yang ini aku saja yang bayar." paksa Sakura.
"Ya sudah." ucap Ino mengalah.
"Aku sudah bilang cukupkan?!" teriak seorang wanita berambut merah dengan seragam karyawan toko itu marah besar.
"Apa kau gila? Kau sadar apa yang kau lakukan sekarang?" tanya gadis lainnya yang berdebat alot.
"Hah.. Kenapa mereka selalu membuat keributan dimana-mana." komentar Ino mengenali siapa gerombolan gadis-gadis itu.
"Biarkan saja. Jangan terlibat dengan mereka." ajak Sakura untuk segera menjauh dari sana.
"Kau tau aku bisa menghancurkan hidupmu dengan sangat mudah?" ucap gadis itu lagi menatap rendah gadis berambut merah itu.
"Kau.. Gara-gara kau aku jadi seperti ini!" teriak gadis berambut merah itu frustasi.
BRUK
"Apa kau tidak malu membuat keributan disini? Kasihanilah ayahmu kalau dia sampai terseret kasus karena sikapmu Hinata." ucap Sakura menahan tangan gadis yang akan menampar wajah gadis berambut merah itu setelah mendorongnya kasar.
"Ha? Lihat siapa yang datang dan mencoba ikut campur. Criminal yang sudah merasa menjadi pahlawan. Apa kau lupa kalau aku bisa kembali mengirimmu ke area peperangan semudaah menjentikkan jari?" ucap Hinata arogan.
"Aku tidak pernah takut pergi kearea peperangan. Aku lebih ngeri melihat kelakuanmu yang tidak sadar diri itu." ucap Sakura dingin.
"Lepaskan tanganku sebelum kau menyesalinya." ucap Hinata marah.
"Ah, maaf ya teman-teman kalian jadi melihat kejadian tidak pantas ini. Padahal aku berencana menunjukkan skincare yang biasa aku gunakan." ucap Ino masih menyorotkan kamera handphonenya itu kearah Hinata.
"Ino?" Sakura bingung melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Eh.. Haruno Sakura? Benar. Ini Haruno Sakura tentara yang terkenal itu. Aku dan Sakura sudah bersahabat sejak SMA." ucap Ino membaca komen yang dituliskan penonton live-nya itu.
"Berani-beraninya kau.." Hinata mencoba merebut handphone Ino itu, lupa kalau tangannya masih ditahan Sakura hingga gadis itu tertarik kebelakang dan hampir terjatuh.
"Jangan cobaa-coba." ucap Sakura dingin.
"Kau akan menerima akibatnya. Lihat saja." ucap Hinata melangkah pergi dari sana.
"Kau baik-baik saja Karin?" tanya Sakura mengulurkan tangannya, membantu Karin berdiri.
"Tidak usah berpura-pura baik seperti itu." ucap Karin tetap menerima uluran tangan itu.
"Aku tidak berpura-pura." jawab Sakura seadanya.
"Sudahlah, ayo Sakura." ajak Ino menarik Sakura pergi dari sana.
"Tu-tunggu." ucap Karin menahan tangan Sakura.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Sakura bingung.
"Aku minta maaf untuk segala perbuatanku sebelumnya." ucap Karin, Sakura cukup bingung mendengar permintaan maaf itu sedangkan Ino terbelalak tidak percaya.
"Hei, apa kepalamu terbentur saat jatuh tadi?" ucap Ino tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Jangan mengejekku. Aku sudah tau semuanya dari Sasuke. Maafkan tindakan bodohku dulu." ucap Karin menjelaskan.
"Sasuke?" tanya Sakura bingung.
"Ya, dia sudah menjelaskan semuanya padaku dan Naruto." ucap Karin.
-flashback-
"Kau datang juga akhirnya." ucap pria berambut kuning itu menatap pria berambut raven itu memasuki ruang kerjanya dikediaman Uzumaki itu.
"Maaf aku terlambat, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan lebih dulu." jawab pria itu.
"Jadi, ada apa kau meminta untuk bertemu Sasuke?" tanya pria berambut kuning itu memulai pembicaraan tanpa bas abasi.
"Kau ingatkan aku pernah bilang untuk melupakan masa lalu itu dan mulai menatap masa sekarang dan masa depan." ucap Sasuke membuka pembicaraan.
"Tunggu dulu, pembicaraan tentang apa ini?" tanya gadis berambut merah itu bingung.
"Aku membicarakan tentang Sakura. Haruno Sakura. Sudah saatnya kalian tahu semuanya yang terjadi saat SMA." ucap Sasuke melemparkan sebuah berkas keatas meja itu.
"Apa ini?" tanya Naruto bingung.
"Itu berkas yang ditutupi pihak sekolah walau OSIS mencoba menguak kebenaranannya. Termasuk kasus yang sebenarnya terjadi tentangnya dan datektif itu." terang Sasuke membiarkan keduanya membaca document itu.
"Kau yakin document itu tidak dirubah?" tanya gadis itu lagi.
"Karin, kau mau bilang Itachi juga ikut campur dalam masalah ini? Dia bukan polisi korup." ucap Sasuke dingin.
"Karin tidak salah. Ada beberapa halaman yang disensor seperti ini. Bagaimana bisa kau langsung percaya?" tanya Naruto lagi.
"Bacalah dan coba ingat lagi semua rentetan kejadiannya. Kenapa disetiap kejadian selalu Sakura pelakunya dan kenapa selalu Hinata korbannya?" ucap Sasuke lagi.
"Bukankah itu karena ia iri pada Hinata?" ucap Karin lagi.
"Disetiap kejadian selalu Hinata yang merengek duluan, mengadu padamu. Coba kau pikir lagi. Bukankah kejadian syal itu terasa aneh? Jelas-jelas disaat itu ia menunjukkannya padamu dan izin kekamar mandi sebentar. Kita sempat berpisah dengannya, diwaktu itu dia bisa melakukan apa saja. Dan lagi menurut kesaksian sensei juga Sakura berada diruang guru saat itu. Jadi tidak mungkin keduanya berpapasan." terang Sasuke.
"Hargh.." Naruto hanya bisa menghela nafas berat, memang sejak awal dia selalu menaruh sedikit rasa curigaa setiap ada kejadian aneh yang menimpa Hinata. Tetapi ia tidak mau ambil pusing dan percaya begitu saja pada ucapan Hinata.
"Aku tetap tidak percaya." ucap Karin menolaka percaya.
"Kalau kau masih marah karena Sakura menumpahkan tinta kedalam tasmu, coba lihat lagi rekaman cctv yang dipasang pihak sekolah setelah kejadian syal itu." ucap Sasuke memberikan handphonenya. Memperlihatkan hasil rekaman cctv kelas mereka.
"Entah aku yang bodoh atau buta, tapi setauku rambut Sakura itu pink. Sebelum kau menuduh itu bisa saja wig, perhatikan cardigannya. Sakura tidak akan mampu membeli cardigan mahal seperti itu dengan uang hasil kerja part timenya." ucap Sasuke.
"Wanita j****g!" maki Karin.
"Jangan marah padanya. Tunanganmu itu memang gila." ucap Sasuke melihat Naruto yang menatap sinis Karin.
"Kau taukan kau masih bisa membatalkan pertunangan kalian? Apa kau yakin masih mau bersamanya setelah ini?!" tanya Karin marah.
"Itu sudah berlalu. Aku tidak bisa membatalkan hal itu hanya karena hal sepele seperti ini." elak Naruto.
"Sudah berlalu? Hal sepele? Apa kau tau hal apa saja yang harus aku lalui karenanya?!" teriak Karin merasa tidak adil.
"Kau menyalahkanku? Bukankah sebelum itu aku sudah berkali-kali menasehatimu untuk tidak mengikuti semua keinginannya? Sudah berapa banyak masalah yang kau timbulkan dan aku yang harus menyelesaikannya?" tanya Naruto kesal.
"Hei dobe, hentikan. Kau keterlaluan." ucap Sasuke menghentikan perdebatan itu.
"Keterlaluan? Hei, kau juga melihatnyakan? Bagaimana aku terus-terusan menyelesaikan masalah yang ia timbulkan karena tidak bisa mengambil keputusan yang benar." ucap Naruto kesal.
"Bukankah kau dan aku sama saja. Kita sama-sama mengambil keputusan sepihak yang akhirnya menyakiti pihak lain tanpa mendengarkan cerita lengkapnya." ucap Sasuke mengingatkan.
"Kalian benar-benar gila. Hanya karena cctv dan document yang entah apa ini kalian langsung berubah?" elak Naruto lagi.
"Terserah kau saja. Tapi pastikanlah kau tidak akan menyesal nantinya." saran Sasuke.
"Sasuke benar." ucap Karin setuju.
"Aku masih harus mencerna semuanya dan mengambil keputusan yang benar agar tidak tersandung dua kali kan." ucap Naruto melirik Sasuke.
"Lakukan sesukamu." ucap Sasuke paham arti lirikan sahabatnya itu.
-end flashback-
"Aku tidak tau apa yang ia katakan padamu. Tetapi aku sudah memaafkanmu sejak lama." ucap Sakura santai.
"Apa kau bodoh? Kenapa semudah itu?" tanya Karin kaget.
"Aku malas berdebat dan tenggelam dalam rasa dendam. Lagipula kenapa aku harus repot-repot memikirkan hal yang tidak pernah aku lakukan. Aku tidak peduli jika kalian semua menuduhku macam-macam karena aku punya beberapa orang yang akan selalu mendengarkan ceritaku terlebih dahulu sebelum menghakimiku. Kalaupun aku salah, selalu ada yang menasehatiku dengan baik." ucap Sakura santai, melirik Ino. memberikan senyum tipis pada gadis itu.
"Dasar gadis gila." komentar Ino lirih.
"Aku sungguh meminta maaf atas kebodohanku dan terima kasih karena sudah membantuku tadi." ucap Karin mengulurkan tangannya.
"Bukan masalah. Semua orang punya masa lalu. Sekarang kau hanya harus melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan dimasa lalu itu." komentar Sakura menjabat tangan Karin sebelum akhirnya berlalu pergi bersama Ino untuk lanjut menemani gadis itu berbelanja.
"Kau keren sekali. Kalau aku jadi kau pasti aku sudah menjambaknya dulu sebelum menerima maafnya." komentar Ino sembari berbelanja di supermarket mall itu sebelum pulang.
"Aku hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan." jawab Sakura.
"Hal yang seharusnya dilakukan atau hal yang akan dilakukan Theo?" goda Ino.
"Kenapa malah membawa-bawanya?" tanya Sakura risih.
"Aku tau dia akan selalu punya tempat special dihatimu itu." komentar Ino santai.
"Ino, kau masih live?" tanya Sakura tiba-tiba.
"Masih, tapi tenang saja livenya aku mute." ucap Ino menunjukkan.
"Tapi kau menyiarkan keributan tadi." ucap Sakura pusing.
"Memangnya kenapa?" tanya Ino santai.
"Lihat?" tanya Sakura menunjukkan layar handphonenya yang berdering itu.
"Ah, maafkan aku." ucap Ino hanya bisa tertawa.
"Hargh.. Aku kesana dulu." ucap Sakura yang pergi menyingkir ketempat sepi untuk menerima panggilan itu.
"Semangat." ucap Ino yang kemudian kembali sibuk memilih skincare sembari menyapa fans onlinenya itu.
TBC
