My Love Mentor

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : T

WARNING!

Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?

Hyuuga Neji x Uzumaki Karin

.

.

.

.

Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?

.

.

.

Chapter 2

.

.

"Tch. Dia masih tidur jam segini?" Hyuuga Neji memandang sesosok tubuh yang ditutupi selimut tebal didepannya. Uzumaki Karin bergulung dengan nyamannya dibalik selimut itu.

SREET!

"Engh..."

Neji melotot tak percaya dengan pemandangan didepaannya. Secepat kilat ia langsung mengambil selimut yang tadi ditariknya dari sosok itu dan kembali menutupnya seperti semula. Semburat merah tak kasat mata tampak di wajah tampan itu. Sedangkan sosok dibalik selimut tengah menyeringai puas saat ini. Langkah pertamanya untuk menggoda sang mentor ternyata berhasil. Ia semakin percaya diri untuk lanjut ke langkah berikutnya. Ia kemudian bangun dan membuka selimutnya sebatas dada.

"Engh? Hyuuga-san? Kenapa kau datang cepat sekali. Ini kan baru jam...?" Karin melihat ke nakas disampingnya dengan wajah mengantuk.

"Ini sudah jam delapan. Kenapa kau tidur dengan penampilan seperti itu?" Neji menggeram.

"Penampilan seperti apa?" tanya Karin dengan polosnya. Ia kemudian membuka selimutnya secara keseluruhan membuat Neji membalikkan badannya.

"Oh. Aku memang sudah terbiasa tidur seperti ini, Hyuuga-san. Lebih nyaman." Karin menyeringai melihat Neji yang kini membelakanginya.

"Tapi kemarin kau tidur dengan piyama. Bukan pakaian dalam seperti ini." Geram Neji sambil berbalik menatap Karin. Kemudian secepat kilat membalikkan badannya lagi membelakangi Karin. Gadis merah itu masih duduk diatas tempat tidurnya dengan pakaian dalam serba hitamnya dan seringai yang terpatri di wajahnya.

Tunggu! Seringai? Hyuuga Neji menyadari sesuatu. Gadis itu menyeringai.

'Hah! Jadi dia mencoba mempermainkan mentornya? Seharusnya aku sadar lebih cepat," batin Neji. Sekali lagi Neji membalikkan badannya. Ia menatap gadis yang sedang duduk dengan posisi menantang itu. 'Lihat siapa yang akan menang!' Neji membatin.

"Kemarin kan aku mabuk. Jadi aku tidak sadar kalau pelayan mengganti bajuku, Hyuuga-san. Tunggu dulu. Kau akan mentorku. Bagaimana kalau aku memanggilmu Hyuuga-sensei?"

Neji berjalan mendekat. Pandangannya fokus pada sepasang ruby yang menatapnya dengan tatapan polos mengggoda. Ia baru sadar kalau batu pemata merah itu ternnyata sangat indah bila tidak dihalangi oleh kaca mata yang selama ini Karin kenakan. 'Apa yang kau pikirkan?' sorak batin Neji. Untung saja Neji kuat iman. Terimakasih pada ajaran keluarga Hyuuga selama ini.

"Sensei? Boleh juga." Neji semakin dekat membuat tatapan polos tadi berubah menjadi takut. Neji dapat melihat kalau gadis yang kini berada dihadapannya mencoba untuk menguatkan dirinya. Neji hampir menertawai tubuh yang gugup hampir gemataran itu.

Neji semakin mendekat. Namun ia sedikit menyesali keputusannya setelah melihat—benar-benar melihat— belahan dada Karin yang menantang itu.

"Apa yang kau lakukan?"Suara Karin bergetartapi Neji tidak memperdulikannya. Ia semakin mendekat hingga jarak mereka tak sampai setengah meter lagi. Karin kini benar-benar takut. Ia meraih selimut yang ada di bawah kakinya untuk menutup tubuhnya, namun Neji menariknya dan membuangnya kebawah tempat tidur.

"Hyuuga-san, apa yang—"

"Hyuuga-san? Bukannya tadi kau bilang akan memangilku dengan sebutan sensei?" Tinggal dua puluh sentimeter lagi. Karin mencoba mendorong tubuh sang mentor, namun Neji malah meraih tangan sang anak didik dengan satu tangannya dan membaringkan gadis itu kemudian menindihnya. Kedua tangan Karin diletakkan di samping kepala gadis itu.

"Lepaskan aku!" seru Karin. Menatap mata perak sang sensei dengan ketakutan.

"Lepas? Bukannya sejak tadi kau mencoba untuk menggodaku?"

"Aku tida—"

"Aku tergoda sekarang. Lalu apa? Apa yang akan kita lakukan?" Neji mendekatkan wajahnya pada wajah pemilik ruby indah itu. Wajah Neji semakin mendekat. Karin menoleh ke samping karena mengira Neji akan menciumnya. Neji yang kini menyeringai.

"Mandi dan bersiap sekarang. Waktumu sepuluh menit. Huuuft!" Neji berbisik tepat ditelinga Karin. Sebagai penutup, Neji meniup tengkuk Karin membuat gadis itu merinding seketika. Kemudian Neji bangkit dan meninggalkan kamar anak didik nakalnya itu.

Karin menarik nafas dalam-dalam. Gila! Benar-benar gila! Langkah pertama yang dikiranya berhasil malah gagal total. Hyuuga Neji itu benar-benar!

"Sialan! Kenapa jantungku berdegup kencang begini?"

Satu fakta yang Karin simpulkan pagi ini. Hyuuga Neji tidak mempan dengan godaan apapun. Sial!

Sementara itu Hyuuga Neji berjalan menuju meja makan sambil memegangi dada kirinya. Menarik nafas dan mengeluarkannya. Pria dua puluh empat tahun itu duduk dikursi dan meminum segelas air putih dalam sekali teguk. Pelayan berambut hitam bernama Aiko terlihat sedang menyusun makanan di meja makan.

"Hyuuga-sama. Wajah anda merah. Anda baik-baik saja?"

"Ah ya. Aku baik-baik saja. Bisa tolong ambilkan segelas air lagi untukku?"

.

.

.

Karin turun dari kamarnya tepat sepuluh menit. Entah apa yang membuatnya tepat waktu seperti sekarang ini. Ia takut pada Neji? Mungkin saja. Neji menggelengkan kepalanya melihat penampilan Karin. Apa di lemari gadis ini hanya ada rok mini? Memang dia mengenakan kemeja lengan panjang yang agak longgar. Tapi tetap saja rok itu terlalu pendek. Kenapa gadis itu memakai kacamata? Padahal dia lebih cantik bila tidak memakai kaca mata.

'Sial! Apa yang sedang kupikirkan?' batin Neji.

Karin mendudukkan dirinya di kursinya. Memandang takut-takut pada Neji. Neji sendiri merasa canggug karena kejadian tadi. Namun ia tidak mau meruntuhkan imejnya di depan Karin dengan bersikap malu-malu.

"Jangan lagi kau mencoba melakukan hal bodoh seperti tadi."

"Aku tahu," ketus Karin.

"Makanlah."

"Hm." Karin mengambil roti bakar didepannya dan mengoleskannya dengan selai stroberi kesukaannya. Neji mengambil roti bakarnya dan memakannya tanpa mengolesinya dengan selai.

"Kau suka roti tawar?" tanya Karin. Entah kenapa tertarik untuk menanyakannya.

"Ini bukan roti tawar. Aiko-san sudah mengolesinya dengan mentega sebelum memanggangnya."

"Maksudku tanpa selai? Pasti tidak enak."

"Aku tidak terlalu suka makanan manis," sahut Neji lalu meminum kopinya.

"Pantas saja," gumam Karin.

"Apanya yang pantas saja?" tanya Neji.

"Kau tidak pernah bersikap manis." Karin mencoba menatap langsung pada mata perak pria didepannya.

"Jadi kalau kau suka makanan manis maka kau akan suka bersikap manis?"

"Tentu saja. Aku sangat suka makanan manis."

"Lalu apa pergi ke club malam dan merokok adalah contoh sikap yang manis?"

Karin terdiam beberapa detik. "Sialan kau!"

"Mengumpat juga contoh sikap yang manis?"

"Aku selesai. Ayo berangkat." Karin meminum habis susu miliknya dan berjalan keluar.

"Bagaimana dengan tugasmu? Kau sudah mengerjakannya kan?"

"HUWAA! BELUM! Bagaimana ini?!"

"Silahkan ratapi nasibmu di mobil. Kita berangkat."

.

.

.

Pukul duabelas tepat mata kuliah Manajemen Perkantoran akan dimulai. Berarti waktunya lima menit lagi. Yang Karin pikirkan saat ini ialah tugasnya. Ini pertama kalinya Karin memikirkan tugasnya sampai seperti ini. Biasanya ia tidak terlalu perduli dengan tugasnya karena Ino an Sakura selalu membantunya. Tapi kali ini jadwal mereka sudah berbeda. Mungkin ini akan berlangsung sampai semester ini berakhir. Karin melihat jam tangannya. Dua menit lagi. Apa ia bolos saja? Tapi Neji pasti melihatnya. Entah bagaimana pria itu bisa tahu apa saja yang dilakukannya. Apa pasrah saja dapat nilai E untuk mata kuliah ini?

Seseorang menghampirinya. Pria culun yang terlihat sangat pintar.

"Uzumaki-san. Kekasihmu menitipkan ini. Katanya tertinggal dimobil." Pria itu menyerahkan paper dengan sampul biru muda.

"Kekasih?"

"Pria berambut coklat panjang di luar. Bukankah itu kekasihmu?"

"Ah. Bukan. Dia temanku. Tapi terimakasih."

"Sama-sama."

Pria itu beranjak meninggalkan Karin dan menduduki bangku depan. Tipikal mahasiswa teladan. Karin memandang paper ditangannya. Ini kan tugas Manajemen Perkantoran. Dan ini atas namanya!

"Hyuuga-san," gumamnya.

"Selamat siang semua."

Dosen berambut putih memasuki ruangan.

"Sebelum kita mulai. Silahkan kumpulkan tugasnya ke depan."

Karin menatap sekali lagi paper yang ada di tangannya. Kemudian maju ke depan untuk mengumpulkannya.

.

.

.

Setelah jam kuliahnya berakhir, Karin langsung berlari mencari mobil silver kakaknya yang kini menjadi mobil dinas Neji. Ia menemukan mobil itu di parkiran dan bergegas mendekati mobil itu. Ia melihat Neji yang sedang serius dengan tabletnya.

Tok tok tok

Karin mengetuk kaca mobil. Neji memgalihkan pandangan dari tabletnya dan melihat Karin yang sedang tersenyum padanya. Neji hanya mendengus dan membukakan pintu agar Karin masuk.

"Terimakasih karena sudah mengerjakan tugasku," ujar Karin setelah mendudukkan dirinya di samping Neji.

"Itu tidak gratis. Kau punya dua hukuman yang belum kau laksanakan, di tambah tugas itu maka ada tiga hukuman yang akan kau laksanakan," ujar Neji dengan nada dingin khasnya. Karin mengangguk dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.

"Akan kulaksanakan dengan senang hati. Ayo, kita bekerja sekarang."

"Yang akan bekerja kan kau. Lagian ini masih jam satu. Kita akan makan siang terlebih dahulu."

"Hai' " jawab Karin semangat. Neji hanya menggelengkan kepalanya dan menjalankan mobilnya.

.

.

.

Tepat jam delapan malam, Karin keluar dari Style Coffe Shop dan Neji sudah menunggunya. Karin langsung naik ke mobil, duduk di sebelah Hyuuga Neji.

"Kau tidak melakukan kesalahan hari ini. Aku tidak yakin," ujar Neji langsung.

"Kau tidak percaya padaku? Aku memang bekerja dengan sangat baik hari ini. Kau tahu, Ayame-san mengajariku cara membuat kopi. Hari ini aku sudah lulus membuat latte!" cerocos Karin dengan semangat.

"Aku tahu." Bibir Neji sedikit tertarik ke atas.

Neji kembali menjalankan mobilnya menuju kediaman Uzumaki. Karin merasa aneh dengan rumahnya yang gelap gulita. Apa para pelayan lupa menyalakan lampu? Bahkan lampu taman juga mati.

Karin turun dari mobil diikuti oleh Neji.

"Kemana para pelayan? Sepi sekali," tanya Karin.

"Semua pelayan mendapatkan cuti. Jadi tidak ada seorang pelayan pun di rumahmu."

Ucapan Neji membuat Karin memandang pria itu dengan pandangan kaget yang tidak dibuat-buat.

"Kenapa mereka semua cuti?" tanya Karin. Perasaannya mulai tidak enak.

"Mereka membutuhkannya," jawab Neji dengan kekaleman yang membuat Karin gerah.

"Jadi, bagaimana dengan tugas-tugas mereka?" tanya Karin lagi.

"Kau sudah tahu jawabannya bukan. Mulai sekarang, kau harus membiasakan dirimu."

"Hyuuga-san, kau..."

"Bukannya siang tadi kau bilang akan melakukannya dengan senang hati?"

"Aku bisa gila!" Karin memijat pelipisnya yang kini berdenyut hebat. Ia masuk kedalam rumah dan mencari-cari sakelar lampu. Sial! Ia bahkan tidak tahu letaknya. Ia memang tidak pernah tahu. Ia hanya tahu letak sakelar lampu di kamarnya.

"Sebelah kanan lemari hias," ujar Neji yang entah sejak kapan ada dibelakangnya. Beruntung karena lemari hias yang berkilauan akibat barang-barang berbahan kaca didalamnya. Karin langsung menyalakan lampu diruang tamu itu. Neji sendiri menyalakan lampu di dapur dan ruangan lainnya. Pria itu kini terlihat sedang minum di dapur. Karin mendatanginya.

"Hyuuga-san. Aku tidak akan sanggup kalau mengerjakan semua pekerjaan pelayan seorang diri. Kau sendiri menyuruhku bekerja paruh waktu. Aku tidak akan sempat. Belum lagi tugas kuliahku," ujar Karin. Neji hanya memandangnya datar.

"Itulah gunanya seseorang mengatur waktu. Kau masuk kuliah jam sembilan. Jadi kau harus bangun lebih awal untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tenang saja, aku akan membantumu, sedikit."

"Sedikit?" tanya Karin tak percaya.

"Karena kau sudah makan malam di cafe. Sekarang kau bisa mengerjakan tugasmu dan tidur."

"Kau tidur disini, kan?" tanya Karin.

"Ya, aku di kamar tamu." Neji meninggalkan Karin menuju kamarnya.

"Hyuuga Neji," gumam Karin.

Dengan langkah yang sengaja dihentak, Karin menaiki tangga menuju kamarnya. Melepas kaca mata kebanggaannya, Karin memasuki kamar mandi dan keluar duapuluh menit kemudian. Ponsel yang ada di nakas berdering, Karin langsung mengangkatnya.

"Ya, Ino," sahutnya lemas.

'Apa rencanamu gagal? Suaramu terdengar aneh.'

"Ya, gagal. Gagal total, Ino. Dia sama sekali tidak tergoda. Aku bersumpah tidak akan menggodanya lagi." Karin menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

'Maafkan aku. Kupikir itu akan berhasil,' Ino merasa bersalah.

"Tidak, Ino. Kau sudah berusaha membantuku. Aku mau istirahat. Sudah dulu ya."

'Ya, kau tahu, kami merindukanmu.'

"Aku juga merindukanmu dan Sakura."

Telepon ditutup. Karin meletakkan ponselnya kembali di nakas. Kemudian berbaring untuk menunggu waktunya bertemu mimpi.

.

.

.

Sreet!

Karin merasakan selimut yang menutupi tubuhnya tertarik hingga ia yang hanya mengenakan tanktop serta celana piyama merasakan dinginnya AC kamarnya. Ia sudah menduga ini adalah ulah si Hyuuga sialan yang sudah membuatnya stress akhir-akhir ini. Dengan mata yang masih sangat berat, Karin bangun dan dari tidurnya dan memandang jam imut yang ada dinakas, kemudian memandang pria jahat yang ada di depannya.

"Hyuuga-san, ini masih jam enam pagi. Jam enam pagi. Kenapa kau harus membangunkanku sepagi ini?" tanya Karin.

"Mulai hari ini kau harus bangun jam enam pagi agar sempat melakukan segala pekerjaan rumah tangga," ujar Neji. Mata yang tadinya masih mengantuk sontak terbuka lebar.

"Apa?!"

"Bangun sekarang. Kau bisa mulai dengan membereskan tempat tidurmu, lalu memasak. Setelah itu mandi dan kita sarapan. Setelah sarapan kau mencuci piring dan kita berangkat."

"Kau sudah gila!"

"Bangkit dari tempat tidurmu sekarang kalau kau tidak ingin terlambat." Neji membalikkan tubuhnya meninggalkan Karin yang masih termangu akibat mendengar deretan pekerjaan yang harus dilakukannya pagi itu juga.

.

.

.

Neji yang baru selesai mandi memandang horor pada dapur kediaman Uzumaki yang lebih parah bila hanya dibandingkan dengan kapal pecah. Sayuran yang tidak tahu lagi seperti apa bentuknya berserakan di meja kompor dan wastafel. Jangan lupakan minyak goreng yang mengalir dari meja kompor ke lantai. Lalu, benda hitam apa yang ada di wajan yang sudah tergeletak tak berdaya di wastafel. Neji memandang si pelaku yang sedang berkutat dengan wajan lain diatas kompor.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan nada geram. Karin tersentak kaget kemudian menoleh pada sang mentor yang memandang semua kekacauan yang telah diperbuatnya,

"Me... masak?" jawabnya dengan keraguan.

"Apa yang kau masak?" tanya Neji lagi.

"Awalnya aku ingin menggoreng telur, tapi mungkin apinya yang terlalu besar atau wajannya yang terlalu tipis. Aku menghanguskannya." Karin meringis.

Neji menghela nafas. "Lalu?"

"Kemudian aku bermaksud menggoreng ikan, tapi minyaknya melompat kemana-mana. Jadi aku mengawasinya dari jauh sambil memotong sayur, tapi saat aku melihatnya lagi, ternyata sudah hangus," terang Karin.

"Jadi apa yang sedang kau masak ini?" Neji mendekati Karin untuk melihat apa yang tengah di masak oleh Karin.

"Apa ini?"

"Nasi goreng?" jawab Karin disertai keraguan.

"Ya, nasi goreng berkuah minyak. Berapa liter minyak goreng yang kau masukkan?!"

"Kau sendiri yang menyuruhku memasak. Kau bahkan tidak menanyakan apa aku bisa memasak atau tidak!" Karin membela diri.

"Semua perempuan harusnya bisa memasak!" bentak Neji sambil membanting wajan kedua itu diwastafel. Karin menjadi takut.

Kemudian Neji mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Menghela nafas panjang.

"Bereskan semua kekacauan ini. Lalu mandi."

"Ba-baik."

Karin mulai membereskan semua hasil karyanya. Neji memandang Karin sebentar, menghela nafas sekali lagi, Neji ikut membantu Karin membereskan dapur yang sudah hancur itu. Karin memandang diam pada Neji yang tengah mengumpulkan sayuran gagal yang berserakan kedalam plastik. Butuh waktu duapuluh menit untuk membereskannya seperti semula. Wajan pertama yang sudah gosong parah terpaksa dibuang. Setelah semuanya beres, Karin kembali ke kamanrya untuk mandi dan bersiap-siap. Sepuluh menit kemudian Karin muncul dengan penampilan andalannya. Namun dengan wajah lemasnya. Sangat tidak sesuai antara rok mini serta kemeja ungu lengan panjang dengan wajah penuh penyesalan itu.

Karin berjalan ke dapur untuk memanggil Neji agar mereka berangkat. Namun ia melihat pria itu sedang berkutat dengan sesuatu yang Karin tidak tahu karena Neji membelakanginya.

"Hyuuga-san," panggilnya. Neji berbalik dengan dua buah piring yang di atasnya terdapat sandwich masing-masing dua potong. Neji meletakkan piring itu diatas meja yang ternyata sudah ada dua gelas susu.

"Duduklah," titah Neji.

Karin mendudukkan dirinya dibangkunya yang biasa. Ia memandang takjub pada sandwich didepannya.

"Kau yang membuatnya?" tanya Karin.

"Tidak. Tiba-tiba saja sandwich dan susu itu sudah ada di meja," sahut Neji.

Karin mengerucutkan bibirnya. "Aku tadi melihatmu membuatnya."

"Sudah tahu kenapa bertanya. Cepat makan."

Karin pun memakan sarapan buatan Neji yang ternyata sangat enak untuk ukuran buatan pria. Jujur, Karin sangat menikmati sarapannya pagi ini.

'Jadi pria ini bisa memasak? Manis juga.' Karin membatin.

"Aku yang akan memasak mulai besok. Jangan lagi mendekati dapur. Besok pagi, kau membereskan rumah dan halaman. Kau mengerti?"

'Tidak jadi manis!' gerutu Karin dalam hati.

"Baik." Pada akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan perintah Neji. Toh dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karin memilih diam dan meminum susunya yang hampir habis. Setelah meletakkan gelasnya, Karin merasakan tangan kanannya yang di tarik oleh Neji.

"Apa yang—"

"Kau terkena minyak?" tanya Neji melihat punggung tangan Karin yang memerah. Neji bangkit dari kursinya dan mendekati Karin, kemudian menggulung lengan kemeja Karin dan mendapati bercak merah yang sama di kulit putih Karin. Neji melakukan hal yang sama pada lengan kiri Karin. Dan bercak merah yang sama terdapat di sana, bahkan ada yang cukup lebar.

"Bagaimana caramu menggoreng ikan tadi? Kau meletakkan ikannya di wajan atau kau melemparnya ke wajan?" tanya Neji.

"M-melemparnya," jawab Karin gugup karena wajah Neji yang cukup dekat.

"Dasar bodoh. Dimana kotak P3K?" tanya Neji.

"Umm. Aku tidak tahu," jawab gadis itu.

"Ya Tuhan, sebenarnya rumah siapa ini?" Neji kemudian membuka setiap lemari yang ada di dapur itu dan menemukan kotak P3K disalah satunya. Pria Hyuuga itu menarik kursinya dan mendekatkannya pada Karin kemudian duduk. Neji mengeluarkan krim untuk luka bakar dari dalam kotak lalu menarik tangan Karin dan mulai mengolesi krim putih itu ke seluruh bercak merah ditangan Karin dengan lembut. Karin hanya meringis sesekali. Gadis itu memandang Neji yang tengah serius dengan kegiatannya. Tanpa sadar sebuah senyum terukir di bibirnya.

'Dia manis sekali. Kali ini aku tidak akan menarik kata-kataku,' batinnya. Selesai dengan pekerjaannya mengolesi krim itu pada tangan Karin, Neji memperbaiki lengan kemeja Karin yang tadi sempat di gulungnya.

"Biarkan terbuka dulu sampai obatnya meresap," ujar pria itu sambil berdiri.

"Terimakasih." Karin tersenyum tulus. Benar-benar tulus hingga Neji bisa merasakannya. Pria itu balas tersenyum tipis.

"Hn. Ayo berangkat."

"Piringnya."

"Aku hampir lupa." Neji kemudian mengambil dua buah piring serat gelas bekas mereka kemudian mencucinnya. Karin hanya memandang takjub pada Neji. Pria ini benar-benar calon suami idaman.

"Selesai. Kita berangkat." Neji telah selesai mengeringkan tangannya.

Karin menggangguk dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Halooo... Chap 2 up! Makasih buat reviewnya ya. Terimakasih juga buat para crackpair lovers. Hahaha... Semoga kalian suka dengan chapter ini ya.

Bales review dulu deh.

Syalala Lala : Lala kangeeen...! #peyukerat. Makasih buat reviewnya ya dan makasih juga udah suka. Ini udah up! Salam sayang!

Laras4ti : Haloo Laras... makasih buat reviewnya ya. Ini udah lanjut.

Skrup : makasih udah suka. Haha saya juga suka yang crack. Thanks for review.

Praha : neji siapa ya? haha kita liat aja ntar. Kalau pai lain kita liat entar aja ya... makasih buat reviewnya. Salam kenal!

Hikarishe : saya juga suka neji karin. Makasih reviewnya. Ini udah lanjut.

Moku-chan : ini beneran senpai review ? #liatreviewsekalilagi. Beneran? Kyaaa! Senangnya dan ga nyangka senpai review fict aqu. Makasih ya senpai buat reviewnya.

Balay67 : bagus ya? makasih...! ^_^ ini udah lanjut, makasih buat reviewnya.

Silverqueen98 : ini udah lanjut. Mision failed haha. Makasih udah review.

zhaErza : senpai makasih udah sudi baca n review fict aqu... haha senangnya... udah gitu fict aqu dibilang keren lagi. Aku juga Karin cent btw. Ini udah lanjut senpai.

Anna : makasih udah suka anna... ini udah lanjut. Nunggu lama ya? hehe

Emigo : sama donk. Ini udah lanjut, makasih udah suka ya.

Yui : ini udah lanjut... thanks for review yui-san.

Sekali lagi makasih buat reviewnya...

Salam hangat

Yana Kim ^_^