My Love Mentor

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : T

WARNING!

Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?

Hyuuga Neji x Uzumaki Karin

.

.

.

.

Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

"Ya Tuhan! Kau sedang mengepel atau membanjiri rumahmu sendiri?!" Neji menggeram melihat pekerjaan Karin. Gadis merah itu hanya memandang sebal pada Neji. Sudah dibangunkan jam enam pagi, sekarang malah disuruh menyapu dan mengepel rumah. Belum lagi pria menyebalkan itu kembali memarahinya karena tidak tahu dimana letak sapu dan tongkat pel.

"Kau tidak memeras kain pelnya?" tanya Neji.

"Itu kan kotor, bagaimana mungkin aku memerasnya?"

"Peras dengan kedua tanganmu. Atau tidak ada sarapan untukmu pagi ini." Karin menganga tak percaya. Ini rumahnya dan juga rumah kakaknya. Tapi kenapa ia merasa jadi seorang pembantu? Dengan rasa jijik yang ditahan, ia memeras kain pel sebelum mengepel ruang tamu rumahnya itu. Sesekali ia melirik pada Neji yang mengawasinya sambil melipat tangan didada. Sok bos sekali.

"Ganti airnya, lalu pel lagi," titahnya lalu berbalik ke dapur.

"Aku tahu!" Karin melangkah membawa ember serta kain pel menuju dapur. Namun karena lantai yang masih sangat basah, Karin terpeleset dengan ember berisi air yang menimpa kaki kanannya.

"Kyaa!" soraknya dan dengan sukses mendaratkan bokongnya dilantai yang basah dengan keras. Pakaiannya basah dari pinggang kebawah. Neji yang terlambat menolongnya hanya memandangnya dengan pandangan kaget. Ia langsung mendekati Karin yang tampak kesakitan.

"Kau baik-baik saja?!" tanyanya khawatir.

"Argh! Pi-pinggangku sakitthh... hiks!" Karin menangis menahan sakit di pinggangnya.

Neji mencoba memapah Karin, namun gadis itu berteriak kesakitan saat kakinya dijejakkan ke lantai.

"Hiks ka-kakiku... hiks... kakiku sakit..." erangnya.

Ternyata, kaki kanan gadis itu juga terkilir. Neji kemudian menggendong Karin ala bridal style meskipun diiringi teriakan Karin karena pinggangnya.

Merasa terlalu jauh membawa gadis itu kekamarnya di lantai atas, Neji membawa gadis itu ke kamar tamu yang menjadi tempat tidur pria itu. Neji membaringkan Karin di kasur disertai tangisan kesakitan Karin. Jujur saja, Neji merasakan panik yang luar biasa. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Keluarganya mengajarkannya untuk menjadi pria yang tenang dalam menghadapi masalah apapun. Tapi entah mengapa ia begitu panik melihat gadis berambut merah itu kesakitan. Karin masih menangis karena sakit di pinggangnya. Neji kemudian menarik nafas mencoba tenang. Sampai sebuah ide muncul di otaknya. Ia kemudian menelepon adik tersayangnya nomor satu, Hyuuga Hinata yang bekerja sebagai dokter ahli otot dan syaraf di salah satu rumah sakit terbesar di Konoha.

Setelah selesai dengan urusan teleponnya, Neji mendatangi Karin yang masih menangis kesakitan memegangi pinggangnya. Neji mendudukkan dirinya di kasur disamping Karin.

"Ssst! Tenanglah... Sebentar lagi dokter akan datang." Si pria Hyuuga mencoba menenangkan.

"S-sakit.. hiks.. sakit sekali..." erang Karin. Tanpa sadar Neji mengelus lembut rambut merah Karin. Sesekali ia mengusap air mata Karin yang mengalir dengan ibu jarinya.

"Sssst... tenang ya... semua akan baik-baik saja." Karin masih menangis, namun tidak lagi merintih kesakitan. Neji masih setia mengelus rambut Karin sampi suara bel berbunyi.

"Tunggu disini sebentar, dokter sudah datang."

Neji keluar dari kamar itu dan kembali bersama seorang wanita cantik dengan mata perak serupa miliknya. Hanya saja, mata Hinata lebih berwarna, yaitu lavender. Hinata dengan sigap memeriksa pinggang Karin serta pergelangan kaki kanannya. Karin kembali mengerang saat Hinata menekan pergelangan kakinya dan memutarnya hingga terdengan bunyi 'krek' serta teriakan Karin. Neji yang melihat Karin meremas seprai mengambil tangan Karin dan menggenggamnya erat.

"Kakinya sudah tidak masalah. Akan sembuh beberapa hari. Tapi pinggangnya sepertinya terkilir cukup parah," ujar suara lembut itu.

"Apa yang harus kita lakukan, Hinata ?" tanya Neji panik.

"Nii-sama tenang saja. Aku akan mengobatinya. Seperti yang kulakukan pada kakinya."

"Lalu kenapa tidak kau lakukan sekarang?" seru Neji.

"Wow. Aku tidak pernah melihat nii-sama sepanik ini. Akan ku lakukan." Hinata tersenyum. Kemudian membuka tasnya dan mengambil sebuah krim berwarna kebiruan.

"Bisa nii-sama bukakan pakaiannya?"

"Apa?!" Neji bersorak membuat Hinata tertawa.

"Sebaiknya nii-sama keluar dulu. Aku akan membuka seluruh pakaiannya."

"Aku mengerti." Neji kemudian keluar dari kamar itu dan menunggu dengan cemas di luar. Lima menit kemudian, Neji mendengar teriakan kesakitan Karin. Bukan sekali, tapi berkali-kali disertai isak tangis yang memohon pada Hinata untuk menghentikan kegiatannya. Namun kemudian ia tidak lagi mendengar suara Karin.

"Selesai."

Neji masuk sedetik setelah kata selesai keluar dari Hinata. Ia mendapati Karin yang hanya mengenakan pakaian tertidur—atau mungkin pingsan— dan Hinata yang terlihat lelah. Pingang Karin terlihat merah dan terdapat bekas tangan Hinata disana.

"Bagaimana keadaannya?"

"Tulang pinggulnya sedikit bergeser. Hanya sedikit dan sekarang sudah tidak apa-apa. Dia pingsan karena kesakitan saat ku pijat." Hinata mengambil sesuatu dari tasnya.

"Aku mendengar jeritannya. Apa kau tidak bisa memberikannya obat bius?" tanya Neji.

"Tidak bisa, obat bius bisa membuat ototnya yang sakit tegang. Tenang saja, dia sudah tidak apa-apa."

"Oleskan ini tiga kali sehari ke sekeliling pinggang dan kakinya. Aku tidak akan memberikan obat penghilang rasa sakit, karena tidak baik untuknya. Aku yakin dia akan sembuh dalam beberapa hari. Alangkah lebih baik kalau dia lebih banyak berbaring dulu. Aku pamit dulu, nii-sama."

"Terimakasih, Hinata." Neji memeluk singkat sang adik.

"Umm. Maafkan aku, nona. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Hinata tersenyum manis pada Karin yang sudah pasti tak melihatnya, kemudian meninggalkan kamar itu diikuti Neji. Pria perak itu mengantarkan sang adik sampai ke mobil.

"Oh ya, nii-sama. Aku lupa." Hinata baru saja menyalakan mobilnya.

"Lupa apa?" tanya Neji.

"Pakaiannya basah. Tempat tidur itu juga sudah basah. Jadi nii-sama harus memindahkannya dan mengganti pakaiannya." Neji memandang tak percaya pada adiknya yang memandangnya jahil. Hinata langsung melesat meninggalkan kediaman Uzumaki dan kakaknya yang terlihat cengo.

.

.

.

Neji kembali ke kamar dan merutuki Hinata yang bahkan tidak menutupi tubuh setengah polos itu dengan selimut. Neji mendekat dan menatap wajah Karin. Mengambil tisu yang ada di atas nakas dan mengusap wajah Karin yang basah oleh air mata. Merasa bersalah karena telah meyuruh Karin mengepel yang mengakibatkan ini semua. Mencoba menahan diri karena tubuh seksi Karin yang hanya berbalut pakaian dalan sewarna rambut gadis itu, Neji mengangkat Karin menuju kamar gadis itu. Setelah membaringkan Karin, Neji membuka lemari besar disana mencari piyama.

Setelah menemukan piyama berwarna ungu lembut, Neji memandang Karin sekali lagi. Saat menggendong gadis itu, Neji dapat merasakan bahwasannya celana dalam gadis itu basah, sedangkan bra yang dikenakan Karin basah karena keringat. Tentu saja Karin berkeringat mengingat apa yang sudah Hinata lakukan padanya.

'Apa yang harus ku lakukan?!' batinya bersorak. Ia menyesal setengah mati karena sudah menyuruh semua pelayan pergi. Seharusnya ia meninggalkan seseorang untuk menghadapi masalah dadakan seperti ini. Dan tadi dengan bodohnnya ia membiarkan Hinata pergi. Padahal Hinata adalah satu-satunya orang yang bisa di mintai tolong saat itu. Ah tidak, adik lemah lembutnya itu memang sengaja menginggalkannya dalam situasi ini. Dasar! Hinata benar-benar berubah sejak berkencan dengan Sabaku merah itu.

Dengan gusar, Neji membuka sebuah laci yang cukup besar didalam lemari Karin. Disana terdapat banyak sekali pakaian dalam dengan berbagai bentuk dan warna. Neji merasakan wajahnya memanas. Ia kemudian mengambil sepasang pakaian dalam berwarna ungu. Merutuk dirinya yang sempat berpikir bahwa benda yang diambilnya itu akan sangat cocok dengan piyama ungu yang tadi diambilnnya.

"Hanya mengganti bajunya. Tidak lebih. Ya..." gumam Neji sambil mendekati Karin. Ia pun mulai melakukan tugasnya secepat yang ia bisa. Menahan dirinya sekuat yang ia bisa. Apa lagi saat melihat tubuh polos Karin yang sangat menggoyahkan iman. Tak ayal, wajah datar itu memerah.

Dengan keringat yang bercucuran di kening, Neji akhirnya selesai mengganti pakaian Karin. Ia memandang lega pada sesosok gadis yang sudah bepakaian lengkap di depannya. Kemudian kembali menjambak rambutnya saat melihat kancing piyama Karin yang salah letaknya. Saking terburu-burunya, ia salah memasukkan kancing itu ke lubang yang tepat.

"Sial!" Ia bergumam sebelum kembali harus membuka kancing piyama Karin dan memperbaiki letakknya.

Ini pertama kalinya ia merasa sepanik ini. Ini pertama kalinya ia merasa segugup ini. Ini pertama kalinya jantungnya berdetak secepat ini. Dan ini pertama kalinya ia begitu khawatir pada seseorang.

.

.

.

Neji meninggalkan Karin dan membereskan semua yang sudah di kacaukan gadis itu. Ruang tamu yang banjir itu juga sudah di bereskan olenya. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan sembilan. Ia pun menghubungi para dosen yang ada pada jadwal Karin hari ini untuk meminta izin. Kemudian pria itu menuju dapur untuk memasak sesuatu.

Satu jam berlalu dan Karin sudah sadar dari pingsannya. Ia menatap sekeliling dan menyadari ia terbaring di ranjang yang ada di kamarnya. Ia mengingat apa yang sudah terjadi, ia terpeleset di lantai dan seorang dokter cantik datang menyakiti kakinya kemudian membuka pakaiannya untuk kembali menyakiti pinggangnya. Karin tahu kalau dokter itu memang sedang mengobatinya, tapi metode pengobatannya itu sungguh menyakitkan. Karin berusaha bangkit, namun rasa sakit di pinggangnya membuatnya memekik. Ia kembali membaringkan dirinya. Kemudian berusaha untuk duduk, kali ini berhasil.

Tak lama kemudian, Neji datang dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Pria itu berjalan cepat dan nampak panik.

"Kau tidak apa-apa? Aku mendengar suaramu tadi," tanya Neji sambil meletakkan nampannya di nakas.

"Aku hanya mau berdiri tapi, pinggangku sakit sekali," ujar Karin. Neji mengambil bantal dan meletakkannya dipunggung Karin hingga gadis itu bisa bersandar dengan nyaman.

"Dokter itu kemana?" tanya Karin.

"Hinata sudah pulang satu jam yang lalu." Karin mengangguk.

"Aku belum berterimakasih. Dia sudah mengobatiku dan mengganti pakaianku," ujar Karin tanpa menyadari gestur Neji yang tampak kikuk.

"Aku sudah berterimakasih padanya. Sekarang makanlah."

Neji mengambil mangkuk dan mulai menyuapi Karin. Karin sempat ragu menerima suapan Neji. Memikirkan wajah Neji yang khawatir saat menolongnya tadi bahkan menenangkannya yang tengah menahan rasa sakit. Ia bahkan mengingat usapan lembut Neji di rambutnya berusaha membuatnya tenang. Wajahnya tiba-tiba merona.

"Kenapa?" tanya Neji. Dengan cepat Karin menggeleng. Neji kembali memajukan sendok, kali ini Karin memakan bubur itu. 'Enak,' batin Karin.

"Aku bisa makan sendiri."

"Sudahlah, makan saja."

Neji terus menyuapi Karin hingga bubur itu habis. Karin juga menghabiskan air putihnya.

"Bagaimana perasaanmu?" Neji bertanya.

"Entahlah, pinggangku masih sakit kalau di gerakkan dan di sentuh sedikit saja." Neji mengangguk.

"Hinata juga bilang sebaiknya kau berbaring dulu." Neji kemudian mengambil bantal yang menjadi sandaran Karin. Ia kembali membaringkan gadis itu dengan perlahan.

"Kuliahku bagaimana?" tanya gadis itu.

"Aku sudah meminta izin," jawab Neji sambil memperbaiki letak selimut Karin.

"Pekerjaanku?" tanya Karin lagi.

"Aku juga akan meminta izin untuk itu." Karin mengangguk.

"Hyuuga-san."

"Hn?"

"Kau tidak memberitahu Naruto-nii kan?"

"Ah. Aku hampir lupa. Aku akan menghubunginya sekarang." Karin menahan Neji yang hendak beranjak. Neji kembali mendudukkan diri di ranjang.

"Jangan beritahu Naruto-nii. Nanti dia cemas. Aku tidak mau dia jadi tidak konsentrasi."

"Dia harus tahu keadaanmu, Karin. Kau sedang sakit ."

"Aku tidak mau mengganggu pekerjaannya, Hyuuga-san."

"Aku akan tetap menghubunginya." Neji berdiri.

"Hyuuga-san..." Karin kembali menahan tangan Neji. Pria itu sendiri menajamkan pendengarannya. Dia yang salah dengar atau memang suara memohon Karin yang terdengar manja? Dia jadi salah tingkah.

"Baiklah."

Dia menggenggam tangan Karin yang menahannya dan kembali mendudukkan dirinya. Karin tersentak mendapati tangan kanannya yang di genggam oleh Neji. Neji memandang wajah Karin sebentar, lalu menghela nafas.

"Aku minta maaf," ujar pria itu akhirnya.

"Hm? Untuk apa?" tanya Karin polos.

"Kalau saja aku tidak menyuruhmu mengepel, mungkin kau tidak akan terluka seperti ini."

Karin sendiri menatap lama pada Neji.

"Benar juga. Kalau aku sudah sembuh nanti, aku akan menghajarmu!" Neji terkekeh mendengar penuturan Karin. Gadis itu sempat terpesona pada manisnya tawa Neji itu.

"Cepatlah sembuh, lalu hajar aku sepuasmu." Karin melepas genggaman tangannya dari Neji lalu menyodorkan kelingkingnya.

"Janji?"

"Hn. Aku janji." Neji pun membalas kelingking Karin membuat si gadis tersenyum manis. Mau tak mau, Neji ikut tersenyum. Jalinan janji kelingking itu terlepas saat Neji melihat jam tangannya.

"Sudah jam sebelas. Apa obatnya sudah bisa di oleskan?" tanya Neji entah pada siapa.

"Ada apa?" tanya Karin.

"Hinata memberikan krim untuk di oleskan di kaki dan sekeliling pinggangmu tiga kali sehari."

Karin melirik jam mungilnya

"Kurasa sudah bisa."

"Kau bisa mengolesnya?" tanya Neji.

"Dipinggang kurasa bisa, tapi di kaki aku tidak bisa menjamin." Neji menganggukkan kepalanya. Ia kembali mendudukkan Karin dengan bantal sebagai sandaran.

Ia mengambil krim yang ternyata ada di nakas samping tempa tidur Karin dan mulai mengolesi krim itu pada pergelangan kaki kanan Karin yang sakit. Sesekali Karin meringis, padahal Neji melakukannya dengan perlahan.

Setelah selesai, ia memberikan krim itu pada Karin. Gadis merah itu mengangkat bajunya sebatas perut dan mulai mengolesi pinggangnya bagian depan. Saat akan mengolesi bagian belakang, Karin mengerang sakit karena gerakan tangannya membuat pinggangnya ikut bergerak. Yang sempat memalingkan mukanya karena Karin mengangkat bajunya langsung mendekati Karin.

"Angkat bajumu."

Karin pun mengangkat bajunya, kemudian Neji mulai mengolesi pinggang bagian belakang Karin dengan lembut meskipun gadis itu sesekali meringis. Memandang wajah Neji yang begitu dekat dengannya. Harum pria itu pun merasuk ke penciuman Karin karena posisi leher Neji yang begitu dekat.

"Sudah selesai." Neji meletakkan kembali krim itu ke tempatnya. Lalu membaringkan Karin. Memperbaiki letak bantal dan selimut gadis itu hingga ia merasa nyaman.

"Istirahatlah."

"Hmm."

Cup!

Karin membelalak saat menyadari bahwa Hyuuga Neji baru saja mengecup keningnya. Apa ia salah lihat? Apa ia perlu mengambil kaca matanya yang tergeletak di nakas? Hyuuga Neji... mencium keningnya?

"Eh?" hanya itu yang keluar dari mulut Karin.

"Permintaan maaf," ujar Neji lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang memerah. Sesampainya diluar, ia menyadari kebodohannya yang lepas kendali dan mengecup kening gadis itu. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya? 'Aku pasti sudah gila,' Neji membatin.

Sementara itu, Karin akhirnya sadar dari kekagetannya. Senyum terpatri di wajahnya yang kini merona merah. Tangannya kemudian menjangkau keningnya dimana bibir Neji menyentuhnya.

.

.

.

Hari sudah beranjak malam saat Karin terbangun dari tidurnya. Ia merasa pinggangnya sudah jauh lebih baik saat ini, bisa dibilang hampir sembuh. Terbukti dengan semakin mudahnya saat ia mencoba untuk duduk. Namun saat ia mencoba berdiri, ia kembali merasakan di pergelangan kakinya. Ini pasti karena menopang berat tubuhnya. Gadis itu kembali mendudukkan dirinya. Ia kemudian memanggil Neji.

"Hyuuga-san...!" suaranya cukup kuat. Namun karena mungkin Neji ada di dapur ataupun di luar rumah, tidak ada tanggapan.

"Hyuuga-san...!" Karin semakin mengeraskan suaranya, namun tetap tidak ada tanggapan.

"Hyuuga Neji...!" Suara cemprengnya pun keluar seiring dengan Neji yang muncul.

"Ada apa?" tanya Neji. Terlihat pria itu mengenakan apron.

"Kau dari mana saja? Suaraku hampir habis memanggilmu!"

"Memangnya ada apa?"

"Aku mau ke toilet! Tapi tidak bisa berjalan!"

"Tch! Suaramu menunjukkan kalau kau sudah sembuh." Neji kemudian memapah Karin menuju kamar mandi. Ia mendudukkan gadis itu di closet.

"Kau tidak perlu bantuan?"

"Tidak. Keluarlah. Aku akan memanggilmu kalau aku sudah selesai."

"Hn."

Neji pun keluar dan mengamati kamar Karin. Dia belum pernah mengamati kamar ini dengan seksama. Bahkan setelah dua kali ia keluar masuk kamar ini. Kamar itu didominasi warna putih dan ungu lembut. Sangat khas wanita. Terdapat fotonya dan Naruto yang cukup besar di dinding lalu disampingnya ada foto gadis itu dan Naruto beserta kedua orang tuanya. Neji mendekat melihat foto itu. Karin yang sepertinya masih SD itu sangat imut dan manis. Tanpa sadar Neji menarik bibirnya membentuk senyuman.

"Hyuuga-san...!" Panggilan Karin membuatnya berbalik dan masuk ke kamar mandi membantu Karin untuk keluar dan kembali membaringkan gadis itu di ranjang.

"Bagaimana pinggangmu?" tanya Neji.

"Sudah baikan. Tapi kakiku masih sakit bila di jejakkan."

"Hn. Istirahatlah, sebentar lagi aku akan membawakan makan malam." Karin mengangguk.

"Kau sedang memasak ya?" tanya Karin.

"Hn." Tiba-tiba Karin terkekeh.

"Kenapa?" tanya Neji.

"Kau lucu sekali memakai apron itu? Apa tidak ada yang lebih imut lagi?" Neji meneliti apron dengan gambar hello kity berwarna pink itu. Ia hanya menemukan apron ini di dapur.

"Ck! Lebih baik kau oleskan obatmu dari pada mengomentari hal yang tidak perlu." Neji membuka apronnya dengan kasar dan berjalan keluar diiringi tawa geli Karin.

.

.

.

Keesokan harinya, Karin bangun dan merasa bahwa pinggangnya sudah benar-benar sembuh. Apa ini karena krim itu atau karena pijatan dokter cantik kemarin? Karin merasa berterimakasih pada dokter itu. Ia pun merasa kalau ia sudah bisa masuk kuliah meskipun ia tidak menjamin apakah ia bisa bekerja di cafe dengan baik nantinya. Kakinya juga sudah tidak sakit lagi dan ia juga bisa berjalan dengan baik. Namun sesekali rasa nyeri di kakinya muncul. Sepertinya ia harus meminta Neji untuk menghubungi pihak cafe.

Karin melirik jam di nakas yang menunjukkan angka enam lewat tiga puluh. Bangkit dari tempat tidurnya, Karin melangkah ke kamar mandi. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu Neji kalau ia sudah sembuh.

Tapi, tunggu!

Langkah Karin yang sudah dekat dengan kamar mandi terhenti.

"Kalau aku bilang aku sudah sembuh, dia pasti akan menyiksaku lagi!" ujar gadis itu pada dirinya sendiri. Kemudian mengangguk membenarkan pemikirannya itu. Ia membayangkan Neji yang dengan bossynya menyuruhnya melakukan ini itu.

Sebenarnya, Karin sudah tidak masalah dengan jadwal kuliahnya juga kerja paruh waktunya. Namun lain dengan pekerjaan rumah. Dia kira Karin pembantu? Apa ini saatnya untuk balas dendam?

Seringai muncul di wajah Karin. Gadis itu kemudian kembali membaringkan dirinya di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia kemudian mengambil ponselnya. Ia ingat semalam Neji menyimpan nomornya di ponsel Karin agar Karin lebih mudah memanggilnya.

Kemudian gadis itu menghubungi Neji. Belum mengucapkan sepatah kata pun, Neji sudah menyahut.

'Kau sudah bangun?Aku segera naik.'

Tak lama kemudian, Neji masuk ke kamarnya. Pria itu sudah tampil rapi dan wangi. Karin sempat terpesona, namun hanya sebentar karena ia kembali teringat akan misinya.

"Aku mau mandi," ujar Karin lansung.

"Aku mengerti." Neji melangkah ke kamar mandi. Karin memandang heran, memikirkan siapa sebenarnya yang mau mandi? Kenapa malah pria itu yang masuk ke kamar mandinya?

Lima menit kemudian, Neji kembali dengan lengan kemejanya yang digulung ke siku. Pria itu menghampiri Karin dan menggendongnya menuju kamar mandi. Karin sempat terpana melihat bathtub yang sudah berisi air yang Karin kira adalah air hangat. Neji mendudukkan Karin di kursi yang Karin tidak ingat kapan ada di kamar mandinya. Apa Neji yang menaruhnya? Tapi kapan?

"Kau bisa sendiri kan?" tanya Neji.

Karin mengangguk.

"Jangan buka bajumu dulu. Tunggu sebentar." Neji keluar dan kembali lagi dengan jubah mandi tebal berwarna putih milik Karin. Pria itu menggantungkan jubah itu di gantungan yang ada di sana.

"Panggil aku kalau sudah selesai." Sekali lagi Karin mengangguk. Merasa hangat dengan semua perlakuan Neji padanya dan merasa bersalah karena sudah membohongi pria itu. Pria itu akhirnya benar-benar keluar dan Karin pun mandi.

Neji membereskan tempat tidur selagi Karin mandi. Kemudian pria itu membuka lemari dan memilih baju untuk Karin pakai hari itu dan meletakkannya di ranjang.

Tak lama kemudian Karin memanggil namanya. Ia pun masuk ke kamar mandi dan menggendong Karin yang sudah memakai jubahnya dan membungkus rambutnya dengan handuk. Neji mendudukkan Karin di ranjang. Karin memandang heran pada pakaian yang ada di sana. Lalu wajahnya memerah. Benar-benar merah!

"K-kau yang memilih pakaianku?" tanyanya dengan perlahan dan hati-hati.

"Hn," sahut Neji dengan datar hingga Karin menatap mata pria itu dengan wajah meronanya.

"Ter-termasuk ini?" Karin menunjuk sepasang pakaian dalam berwarna biru muda. Kini ganti Neji yang memerah. Ia sendiri baru menyadari betapa lancar dan tanpa bebannya ia saat memilih pakaian gadis itu termasuk pakaian dalamnya. Ini pasti karena ia sudah pernah melakukannya sebelumnya.

'Sial!' batinnya.

"Aku hanya membantumu. Kau bisa pakai bajumu sendiri kan? Hubungi aku kalau sudah selesai. Aku akan memasak dulu." Neji langsung melesat meninggalkan Karin yang menunduk malu.

.

.

.

Neji merasakan ponsel di sakunya bergetar. Ia melihat nama Karin disana. Ia tidak mengangkatnya, namun meninggalkan kegiatannya yang sedang membuat susu menuju kamar Karin.

Membuka kamar Karin, ia melihat Karin memandangnya tajam. Ada apa ini? Neji membatin. Padahal Karin sudah tampil cantik dengan dress biru muda selutut serta cardigan blue jeans. Gadis itu juga sudah menyapukan makeup tipis ke wajahnya serta lipgloss peach. Rambut merahnya yang basah juga sudah disisir.

"Ada apa dengan wajahmu itu?" Neji melipat tangannya di dada.

"Baju apa yang kau pilihkan ini?"

"Memangnya kenapa? Ini pakaian paling layak yang ada di lemarimu."

"Apa maksudmu? Memangnya selama ini pakaianku tidak layak?" Karin menatap kesal pada Neji.

"Kau berpakaian layaknya wanita malam. Semuanya serba ketat dan hampir tiap hari kau memakai rok mini. Apa mahasiswi berpakaian seperti itu? Jangan lupakan high heels dan makeup tebal yang selalu kau gunakan." terang Neji.

"Tch! Sekarang kau jadi pengamat fashion? Memangnya seperti apa pakaian yang layak untuk mahasiswi menurutmu Hyuuga?" tanya Karin menyindir.

Neji membuka lemari besar disamping lemari pakaian Karin. Lama Neji menatap lemari berisi puluhan pasang sepatu itu. Ia mengambil flatshoes berwarna putih.

"Lihat? Kau bahkan tidak bisa menja—!" Karin tercekat saat Neji berlutut dan memasangkan sepatunya. Kemudian Neji menarik tangannya dan membuatnya berdiri. Mundur dua langkah dan mengamati Karin dari atas sampai ke bawah sambil melipat tangannya.

"Seperti ini. Tidak ketat, tidak terbuka... dan cantik."

"Eh?"

.

.

.

Haloooooha...
Apa kabar nih semuanya?

Ga bosannya saya ngucapin makasih banyak buat buat review yang udah reader tinggalkan.

Chap tiga udah up!

Semoga suka dan ga mengecewakan.
Harap abaikan analisis medis yang saya buat. Semuanya hanya fiktif belaka! Hehehe

Laras4TI : saling tertarik dan terdorong. Hahaha makasih reviewnya ya...

zhaErza : halooo kak... ini udah up! makasih udah suka dan sempetin review. Salam sayang kak...

Moku-Chan : halooo senpai... chap 3 udah up nih.. makasih buat reviewnya ya senpai.. duh itu si typo teteeep aja ngikut. Ga mau di tinggal dianya.. hehe salam hangat!

Syalala Lala : Lala haiii... makasih buat reviewnya imouto! Abang Neji mah cuek-cuek gitu tetep aja baik.. hehe ini udah up ya La. Semangat juga buat kamu...

Hikarishe : udah nggak sabar? Haha makasih udah setia nungguin fic ini. Saya juga udah jatuh cintrong ama si eneng merah. Ama kang Neji juga... ini udah up! tetep review kan? Hehe

Uchiha Cullen738 : makasih udah di bilang keren.. #kedipcantik. Kayaknya emang si kakak cantik yang duluan jatuh ama si abang. Tapi kita liat kedepan yah.. haha ini udas up. thankyou reviewnya...

balay67 : makasih...! ini udah up... ^_^

Guest: makasih reviewnya...! umm itachi karin ? bakal saya pikirin... hehehe..

yui : ini udah up yui...! sayangnya saya buat orang yang rajin. Hehe kadang ada aja roh kemalasan #ceileh... makasih sekali lagi.

LF : Hai hai... makasih reviewnya ya. Aduuh saya manggilya apa nih? Ini udah up! hehe

Maria Yeremia Watzon : scary combination? Hahaha ini udah up maria-san. Makasih reviewnya yah..

Lovely sasuhina : makasih udah suka ya... haha Neji siapa ya? Kita tanya dia aja yuk... hehe

Makasih sekali lagi buat yang udah review... Buat silent reader juga terimakasih banyak..

Yana Kim ^_^