My Love Mentor
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T
WARNING!
Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?
Hyuuga Neji x Uzumaki Karin
.
.
.
.
Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?
.
.
.
Chapter 5
.
.
.
Karin merasa oksigen tiba-tiba hilang saat Neji duduk di sampingnya. Pria itu tampil menawan dengan setelan jas hitamnya. Yang lebih menawan adalah penampilan calon istrinya. Wanita itu sangat cantik dan bekelas, membuat Karin kini merasa sebagai seorang pemulung. Tidak, dress maroon yang di kenakannya tidak kalah mewah dengan dress ungu milik wanita yang tadi Naruto bilang bernama Shion itu. Namun kenyataan bahwa wanita itu adalah calon istri Nejilah yang membuatnya merasa kecil. Dan Karin tidak tahu kenapa ia merasa seperti itu.
Neji memang baru satu minggu menjadi mentornya. Kebersamaan mereka memang sebentar. Namun sukses membuat Karin merasakan lain di hatinya pada pria itu. Apalagi di tambah kenyataan kalau pria itu pernah merawatnya. Jangan lupa tentang kecupan yang pernah Neji berikan. Karin tak pernah luoa dengan itu semua. Walaupun ia tidak tahu alasan Neji mengecupnya, tapi tetap saja kecupan itu meninggalkan bekas di hati Karin. Mungkin akan lebih sederhana kalau di katakan Karin menyukai Neji. Meskipun Karin masih enggan mengakui itu bahkan pada dirinya sendiri, namun kenapa ia merasa sakit saat tahu Neji sudah akan menikah?
Menguatkan diri, Karin mengangkat wajahnya dan menarik nafas kemudian mengeluarkannya. Ia menampilkan senyumannya, begitu juga dengan Shion yang tersenyum manis padanya.
"Kau adiknya Naruto kan? Aku Miko Shion. Senang bertemu denganmu. " Karin merasa suara Shion lembut sekali, sangat berbeda dengan suara bar-barnya. Wanita itu memang pantas dengan Neji. Dan kenyataan itu kembali membuat Karin merasakan sesak di hatinya.
"Ya, aku Karin. Senang berkenalan denganmu, nee-san."
"Tidak usah kaku begitu. Panggil Shion saja." Karin mengangguk.
"Adikmu cantik, Naruto." Naruto hanya tersenyum bangga sambil mengelus rambut Karin.
Pelayan yang meminta pesanan mereka datang. Naruto memesankan makanan untuk Karin begitu juga Neji yang memesankan untuk Shion.
"Neji-kun cerita banyak tentangmu, Karin."
'Neji-kun, eh?' Karin membatin.
"Tidak banyak." Neji menyahut.
"Benarkah? Pasti yang diceritakan yang jeleknya saja." Karin berusaha untuk akrab dengan Shion. Toh, dia adalah teman kakaknya juga, selain itu, dia sepertinya wanita yang baik.
Neji mendelik pada Karin. "Kau sadar kalau sikapmu memang hanya ada yang jelek saja?" Karin mendengus sebal.
"Kau pasti menderita ya, Karin. Neji-kun itu sangat keras." Kini Neji mendelik pada calon istrinya.
Karin mengangguk dengan semangat. Sepertinya Shion tahu bagaimana penderitaannya.
"Aku pernah merasakannya. Dulu dia juga jadi mentorku. Orang tuaku yang memintanya. Aku hampir mati saat dia menyuruhku bangun jam enam pagi. Padahal biasanya aku bangun jam sembilan." Karin mengangguk lagi.
"Yang dulunya mentormu kini jadi calon suamimu. Kau bisa membalasnya saat kalian sudah menikah nanti." Ucapan Naruto membuat Shion tertawa, namun membuat raut wajah Karin berubah.
"Aku memang sudah merencanakannya. Hahaha!"
"Kapan kalian menikah?" Karin sendiri tidak sadar kenapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Umm. Seharusnya seminggu lagi, tapi kami meminta untuk menundanya. Mungkin sebulan atau tiga minggu lagi."
"Bukannya Neji yang memintanya?" tanya Naruto.
"Bukan, sebenarnya ini keputusan kami bersama. Tapi Neji yang mengutarakannya pada orang tua kami."
"Kenapa kalian menundanya?" Lagi-lagi Karin mengutuk mulutnya yang kelewat lancar.
"Alasan pribadi. Maaf ya, aku tidak bisa memberitahunya. Intinya, sesuatu yang rumit terjadi." Naruto dan Karin mengangguk. Karin sempat melirik Neji yang tidak mengatakan apa-apa. Dan Karin mendapati dirinya penasaran dengan alasan mereka menunda pernikahan.
Pesanan pun datang. Mereka makan dengan diam. Sesekali Karin melirik pada Neji.
.
.
.
Karin memandang kakaknya dengan pandangan sebal. Saat ini ia sedang berada di kamar kakaknya. Naruto terlihat sedang mengemasi barang-barangnya pada sebuah koper kecil. Naruto meliriknya kemudian terkekeh.
"Jangan pasang wajah seperti itu."
"Nii-san tidak bilang kalau akan pergi hari ini." Karin mengira Naruto akan tetap di Jepang setidaknya seminggu. Ternyata pria itu pulang hari ini. Jadi kakaknya pergi secepat ini?
"Maaf, nii-san lupa." Naruto mengancingkan kopernya, kemudian menghampiri Karin yang sedang duduk di tempat tidurnya. Ia ikut duduk di sebelah Karin.
"Pesawatnya take off jam lima sore. Masih ada waktu empat jam lagi sebelum nii-san berangkat ke bandara jam empat nanti. Kau mau kita kemana?" tanya Naruto. Karin menggeleng.
"Kita di rumah saja. "
Ia memeluk kakaknya dari samping.
"Tunggu aku ya nii-san. Aku juga akan membantumu." Naruto mengangguk dan membalas pelukan adiknya itu.
"Kau sudah dewasa sekarang."
"Ku harap, kau tetap seperti ini. Melihatmu, aku jadi teringat ibu." Naruto melepas pelukan adiknya dan menarik hidung Karin pelan.
"Dan melihat nii-san, aku jadi teringat ayah." Keduanya tersenyum.
"Oh ya, nii-san. Apa Neji tidak menjadi mentorku lagi?" Karin bertanya pada kakanya mengingat semalam Neji tidak pulang ke rumah.
"Neji bilang kalau tugasnya sudah selesai. Berarti dia tidak jadi mentormu lagi." Entah kenapa Karin tidak rela kalau Neji berhenti jadi mentornya. Bukannya seharusnya ia senang? Tidak akan ada lagi yang menyiksanya. Tidak akan ada lagi yang menyuruhnya ini dan itu.
"Benarkah?"
Naruto mengangguk.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, Naruto sudah akan bersiap berangkat ke bandara. Namun hujan turun dengan lebatnya. Karin yang ingin ikut mengantar di larang oleh Naruto. Sehingga ia hanya di antar oleh supirnya. Shikamaru, tangan kanan kakaknya itu sudah datang sejak dua puluh menit yang lalu.
"Bukannya kalau hujan deras begini, penerbangan di batalkan?" tanya Karin yang tak rela harus batal mengantar kakaknya.
"Bandara dari sini satu jam perjalanan. Mungkin saja di sana tidak hujan." Naruto menenangkan adiknya.
"Tapi aku ingin mengantar nii-san."
"Tidak perlu, Karin. Libur semester nanti, giliranmu yang mengunjungi nii-san. Oke?"
Karin mengangguk dengan tidak ikhlas.
"Hati-hati. Jaga kesehatan disana." Karin memeluk Naruto.
"Kau juga. Aku berangkat." Naruto mengecup kening adiknya dan ia pun berangkat meninggalkan rumah.
Karin berbaring di kamarnya. Ingin keluar tapi hujan masih deras. Dia baru saja menelepon Ino dan Sakura, menceritakan tentang kedatangan kakaknya dan Neji yang sudah berhenti menjadi mentornya. Kedua orang itu mengucapkan selamat pada Karin karena sudah terbebas dari siksaan Neji. Namun Karin tidak merasa senang. Seharusnya dia senang dan lega karena Neji tidak akan mengganggunya lagi. Ino dan Sakura bahkan mengajaknya ke club besok malam. Namun Karin menolaknya dan hal itu membuat kedua sahabatnya itu heran dengan Karin.
Karin memandang jam kecil di nakas yang ada di sampingnya. Sudah jam lima sore namun hujan masih turun dengan derasnya. Apa di Narita sudah tidak hujan lagi? Bila ya, berarti kakaknya sudah take off. Karin mengambil ponselnya yang tergeletak di ranjang dan melihat wallpaper yang menunjukkan fotonya dan Naruto di taman bermain kemarin. Entah kenapa ia merasa gelisah sekarang. Ia memikirkan kakaknya dan Neji sekaligus dan dia tidak tahu mengapa. Karena bingung akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi kakaknya, namun tidak aktif. Berarti kakaknya memang sudah berangkat. Kemudian ia beralih pada Neji. Empat kali nada tunggu barulah Neji menjawab. Karin sudah hampir menyemburnya saat Neji menanyakan pertanyaan aneh.
'Karin, jadi kau sudah tahu?'
"Ha?" Karin bingung harus menjawab pertanyaan itu.
'Polisi yang menghubungimu? Atau rumah sakit? Aa. Pelayan yang memberitahu?'
Polisi? Rumah Sakit? Perasaan Karin semakin tak karuan.
"Neji-san apa maksudmu?"
'Kau belum ta—'
"Tahu apa? Ada apa sebenarnya?"
'Aku akan segera kesana. Bersiaplah.'
Neji langsung memutuskan sambungan. Karin semakin bingung. Ia kembali menghubungi Neji namun tidak diangkat. Akhirnya ia turun untuk menanyakan pada pelayan .
Saat Karin turun, para pelayan sedang berkumpul di ruang tamu. Wajah mereka semua tampak cemas. Kenapa ada yang menangis?
"Apa yang terjadi?" tanya Karin pada Aiko. Semua pelayan tampak kaget sekaligus bingung.
Aiko akan membuka mulutnya saat seorang pelayan menahannya.
"Neji-san bilang supaya ti—"
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" Semua pelayan terdiam. Aiko kembali membuka mulutnya dan itu membuat Karin menyesal setengah mati telah bertanya pada mereka.
"Naruto-sama... beliau kecelakaan dalam perjalanan ke bandara." Wajah Karin berubah pucat. Ia menatap Aiko tak percaya.
"Katakan kalau kau bohong, Aiko-san."
Aiko menangis, ia tidak bisa menjawab Karin.
"Katakan kalau kau bohong!" Karin menangis.
"Kalian semua pembohong!" Karin mengacak rambutnya frustasi dan menatap kosong pada para pelayan yang memandang iba padanya. Ia meluruh jatuh ke lantai. Semuanya bingung harus berbuat apa, untungnya Neji datang.
"Bagaimana keadaan Naruto-sama?" tanya mereka.
"Masih kritis." Neji menghampiri Karin.
"Siapa yang kritis? Nii-san sudah berangkat ke Jerman kan? Siapa yang kalian bicarakan!"
"Karin, tenanglah. Naruto akan baik-baik saja." Neji memeluk Karin yang semakin histeris.
"Sebaiknya kalian bubar dulu," ujar Neji pada para pelayan yang langsung dituruti oleh mereka.
"Jangan lagi... hiks... aku tak mau di tinggal lagi! Nii-san satu-satunya yang ku punya. Ku mohon jangan ambil dia lagi! Aku tak mau sendirian! Nii-san... Jangan tinggalkan aku!" Karin menangis tersedu-sedu membuat Neji semakin mengeratkan pelukannya. Tanpa menyadari air matanya yang ikut jatuh mendengar tangisan gadis itu.
Neji membimbing Karin ke kamarnya. Tangisan Karin sudah mereda. Saat ini ia duduk memeluk lututnya diatas ranjang. Memandang kebawah dengan kosong dan sedih. Sesekali air matanya menetes. Neji duduk di pinggir ranjang, membelakangi Karin. Ia sendiri sedang kalut. Ia baru mendapat pesan dari Hinata kalau Naruto belum melewati masa kritisnya. Para dokter masih berusaha di ruang operasi. Untung saja Hinata yang baru selesai bertugas di rumah sakit bersedia mengawasi keadaan Naruto sementara ia menenangkan Karin.
"Kita ke rumah sakit sekarang?"
"Tidak!" Karin menjawab sedetik setelah pertanyaan itu keluar dari mulut Neji.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Terakhir kali aku ke rumah sakit, mereka bilang ayah dan ibuku sudah meninggal. Aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Aku tak mau mereka memberi kabar yang sama tentang nii-san." Suara Karin terdengar dingin.
Neji mengerti perasaan Karin. Gadis ini pasti sangat menderita saat ayah dan ibunya meninggal.
"Kau tidak akan mendengar kabar itu lagi. Naruto akan baik-baik saja."
"Kau sendiri yang bilang nii-san masih kritis!"
"Dan bukannya kau seharusnya menemaninya sekarang?!" suara Neji meninggi.
"Aku... aku takut... hiks.. aku takut, Neji-san. Takut sekali." Karin kembali menangis.
Neji kini naik ke tempat tidur dan memeluk Karin dari samping. Menyandarkan kepala gadis itu pada dadanya dan mengelus lembut bahu Karin.
"Tenanglah."
"Bagaimana kalau nii-san.. kalau nii-san..."
"Ssst.. tenanglah. Naruto bukan orang yang lemah. Kau pikir dia mau meninggalkanmu sendirian? Kau itu kesayangannya. Kau mengerti? Sekarang tenanglah, berdoa untuk kesembuhan Naruto. Semua akan baik-baik saja. Aku berjanji."
Ponsel Neji bergetar, ia melepas pelukannya dan menjawab panggilan dari Hinata itu.
"Syukurlah.. Terimakasih, Hinata. Kau bisa pulang sekarang. Aku akan ke sana sekarang. Terimakasih..."
Neji menyimpan ponselnya.
"Naruto sudah melewati masa kritisnya. Sudah ku bilang kan?"
"B-benarkah?" Neji mengangguk, kemudian beranjak menuju lemari besar Karin mengeluarkan sebuah sweater dan mantel yang hangat untuk Karin.
"Pakai ini. Kita ke rumah sakit sekarang." Karin mengangguk dengan ragu. Ia menerima pakaian itu dan langsung mengenakannya. Melapisi t-shirt lengan panjangnya. Mereka segera berangkat ke rumah sakit karena hari sudah beranjak malam mengingat jarak rumah dan rumah sakit yang cukup jauh.
.
.
.
Mereka tiba di rumah sakit dan langsung di sambut oleh Hinata. Ternyata gadis itu belum pulang.
"Sudah ku bilang kau sudah bisa pulang. Kau pasti lelah." Neji mengacak surai indigo adiknya itu.
"Aku rasa lebih baik kalau menunggu sampai nii-sama datang." Hinata beralih pada Karin kemudian tersenyum lembut.
"Dokter Tsunade bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Karin hanya mengangguk kaku.
"Terimakasih."
"Bagaimana dengan Shikamaru?" tanya Neji.
"Dia bahkan sudah sadar. Keluarganya sudah datang. Kalau begitu aku pulang dulu, nii-sama."
Neji mengangguk dan Hinata pun pergi dari tempat itu.
Karin memasuki kamar perawatan Naruto diikuti Neji. Karin hampir saja menangis melihat keadaan kakaknya, namun Neji meremas pelan bahu gadis itu. Perban di dahi dan tangannya, serta gips yang terpasang di kakinya. Belum lagi oksigen dan selang infus yang membuat Naruto tampak lemah. Karin mendekati kakaknya. Menggenggam tangan Naruto dengan lembut. Air matanya akhirnya tumpah lagi.
"Nii-san... jangan tinggalkan aku. Berjanjilah, hm?"
Karin dan Neji di sana sampai pukul sepuluh malam. Dokter menyarankan mereka untuk pulang karena pasien butuh istirahat. Karin sangat enggan beranjak meninggalkan kakaknya, namun perkataan dokter memang ada benarnya. Mereka pun meninggalkan rumah sakit.
Karin mengira Neji akan membawanya pulang. Ternyata pria itu menghentikan mobilnya di sebuah apartemen yang tak jauh dari rumah sakit. Karin hanya mengikuti saat Neji membawanya ke salah satu apartemen di gedung itu.
"Ini apartemenmu?" tanya Karin saat mereka baru memasuki ruangan yang mewah itu.
"Tidak. Ini milik temanku dan Naruto. Uchiha Sasuke, kau kenal dia kan?"
"Ya, ku rasa aku pernah mendengar namanya." Karin mencoba mengingat sosok Uchiha Sasuke dalam kepalanya.
"Sama seperti Naruto dia juga mengurusi perusahaan ayahnya di luar negeri." Neji menuju dapur dan mengambil air putih dan meminumnya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Karin.
"Rumahmu dan rumahku jauh dari sini. Kurasa aka lebih efektif kalau kita di sini. Kita bisa lebih cepat ke rumah sakit." Neji memberikan segelas air putih pada Karin yang mengangguk mengerti.
"Aku sudah minta ijin. Dia juga sudah ku beritahu tentang Naruto, dan untuk sementara dia akan mengambil alih pekerjaan Naruto."
Sekali lagi Karin mengangguk.
"Terimakasih."
"Tidurlah, kau bisa pakai kamar Sasuke. Aku di kamar tamu."
"Tapi—"
"Kenapa?"
"Umm. Tidak ada."
Neji memasuki kamar tamu begitu juga dengan Karin yang memasuki kamar utama. Karin membaringkan dirinya di ranjang luas itu namun ia tidak bisa tidur. Ia tidak mengantuk sedikit pun. Berkali-kali ia bergerak gelisah dan mencari posisi nyaman untuknya, namun ia tetap tidak bisa tidur. Akhirnya ia bangkit keluar dari kamar itu dan menyalakan televisi yang ada ruang tamu. Ia duduk di sofa yang panjang disana sambil menonton. Lima belas menit berlalu, rupanya tayangan seputar talkshow artis itu cukup menghiburnya.
"Kenapa kau belum tidur?" Neji muncul dan duduk di sebelah Karin.
"Aku tidak bisa tidur." Karin menyahut sambil melihat Neji. Mata pria itu tampak sayu. Mungkin ia sudah tidur, namun mendengar suara TV yang ia nyalakan.
"Matikan televisinya dan tidur sekarang."
"Sudah kubilang aku tidak bisa tidur."
"Kenapa kau tidak bisa tidur?" tanya Neji.
"Entahlah. Aku masih khawatir dengan Naruto-nii dan—"
"Dokter sudah bilang tidak ada yang perlu di khawatirkan." Neji memotong ucapan Karin.
"Tetap saja. Kau tidak tahu perasaanku, yang sedang sakit ini kan kakakku."
"Aku tahu perasaanmu karena yang sedang sakit adalah sahabatku. Sekarang kembalilah ke kamar."
"Aku tidak nyaman di kamar itu. Mungkin karena bukan kamarku. Aku akan tidur di sofa ini saja. Kau saja yang kembali ke kamar."
Neji terlihat menghela nafas. Ia kembali ke kamarnya. Karin pun membaringkan dirinya di sofa panjang itu. Namun ia kembali bangkit saat Neji datang membawa dua buah bantal serta dua buah selimut. Ia memberikan sebuah bantal serta selimut pada Karin kemudian ia menggeser meja kaca di depan sofa dan membaringkan dirinya di karbet tebal di bawah sofa.
Karin yang sudah membaringkan dirinya di atas sofa melihat ke bawah. Neji sudah memejamkan matanya dan berbaring miring ke arahnya.
"Neji-san."
"Apa lagi?" Neji membuka mata lelahnya dan melihat ke atas.
"Boleh aku pegang tanganmu?" tanya Karin hati-hati.
Neji menghela nafas.
"Turun. Berbaring di sini." Neji menepuk sisi sampingnya.
Karin ragu sebentar, kemudian turun dan membawa bantal serta selimutnya. Ia membaringkan dirinya di samping Neji menghadap pria itu. Neji memberikan tangannya kanannya, Karin menyambutnya dan menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian Karin tertidur dan tidak menyadari kalau Neji membalas genggaman tangan Karin dan mengelusnya lembut.
.
.
.
Saat Karin bangun pagi harinya, Neji sudah tidak ada di sampingnya. Namun ia mendengar sayup-sayup suara Neji yang sedang berbicara dengan seseorang. Ia pun bangkit dan membereskan bantal serta selimutnya. Ia meletakkan benda itu di atas sofa kemudian berjalan menuju dapur tempat suara itu berada. Ia mendapati Neji yang sedang memasak dan seorang pria berambut dark blue yang duduk di meja makan sambil meminum segelas kopi. Pria itu menyadari kedatangan Karin. Pria tampan itu menyeringai.
"Kau sudah bangun?" sapanya. Neji pun berbalik dari kompor dan melihat Karin.
"Dia Uchiha Sasuke, pemilik apartmen ini."
Karin membungkukkan badannya singkat.
"Kau kenal aku?" tanya Sasuke.
"Kurasa aku pernah melihatmu."
"Mungkin kau sudah lupa. Dulu aku sering bermain ke rumah kalian. Waktu itu bibi dan paman masih hidup dan kau masih kecil."
Karin mengangguk. Neji selesai dengan masakannya dan menyajikan tiga piring pasta di atas meja.
"Kita sarapan."
"Aku mau cuci muka dulu," ujar Karin.
"Ada sikat gigi baru di kamarku. Nanti kau bisa sekalian mandi di sana."
"Terimakasih, Sasuke-san."
Karin beranjak dari dapur meninggalkan dua pria tampan itu.
"Jadi kau memang tidak berpacaran dengannya?" tanya Sasuke pada Neji.
"Tidak."
"Jadi kenapa kalian tidur bersama di ruang tamu?" tanya Sasuke lagi.
"Tidak bisakah kau membahas hal lain, Uchiha?"
"Aku hanya penasaran, Hyuuga. Aku meminjamkan apartmenku untuk membuat kalian merasa nyaman. Sudah ku bilang kalian bebas menggunakan semua ruangannya. Tapi kalian malah tidur di karpet ruang tamu."
"Aku juga penasaran kenapa kau datang sekarang. Bukannya kau harus mengurus perusahaanmu dan juga milik Naruto?"
"Aku hanya khawatir dengan Naruto. Kau yakin tidak berpacaran dengannya?"
"Sudah ku bilang jangan bahas itu lagi."
Sasuke mengangkat bahu. Karin datang dan ketiganya memulai sarapan.
Neji dan Sasuke sudah menghabiskan makanannya saat bel berbunyi. Neji bangkit dan membuka pintu. Seorang pria datang dengan dua paper bag besar. Neji menerimanya dan kembali masuk ke dalam.
"Siapa?" tanya Sasuke.
"Ko. Dia datang membawa barang-barang dan pakaian Karin."
"Barang-barang apa? Pakaian saja kan sudah cukup." Karin bertanya. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Tas dan bukumu. Kau harus ke kampus," sahut Neji.
"Tidak bisakah aku izin untuk hari ini?" tanyanya dengan penuh harap.
"Tidak."
"Aku ingin menjaga nii-san."
"Ada aku dan Sasuke yang menjaga kakakmu. Sebentar lagi kau ujian semester. Aku akan mengabarimu kalau Naruto sudah sadar."
Karin hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Neji memang suka seenaknya. Ia sungguh kesal. Padahal Neji kan sudah bukan mentornya lagi.
"Bersiaplah sekarang. Aku akan mengantarmu."
"Aku tidak mau. Sasuke-san, kau mau mengantarku kan?" Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya saat Karin menatapnya.
"Dia baru sampai sejam yang lalu, jangan seenaknya menyuruh orang."
"Tak masalah. Aku akan mengantarmu." Karin tersenyum menang.
Ia beranjak dari meja makan sambil menjulurkan lidahnya pada Neji.
Sasuke tersenyum tipis melihat interaksi kedua orang itu.
.
.
.
Kedua mobil itu berpisah di pertigaan. Neji ke arah rumah sakit, sedangkan Sasuke beserta Karin menuju Universitas tempat Karin menuntut ilmu. Karin memang kesal pada Neji dan merasa menang saat Sasuke mau mengantarnya. Namun tetap saja, berada dengan seorang pria yang baru di temui rasanya aneh. Karin merasa canggung dengan keberadaan Uchiha Sasuke di sampingnya. Karin memang sepertinya pernah mendengar nama itu dan pria ini memang adalah sahabat kakaknya. Tapi tetap saja!
Karin berdeham untuk memecah kesunyian. Ia tidak bisa tahan dengan kondisi awkward seperti ini. Dan sepertinya Uchiha Sasuke adalah pria yang setipe dengan Neji aka tidak banya bicara.
"Sasuke-san."
"Hn?" Lihat kan? Caranya menyahut sama seperti Neji.
"Sudah berapa lama berteman dengan Naruto-nii?"
"Sejak kami berdua lahir kami sudah sering bersama. "
Karin menganga tak percaya.
"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"
"Sepertinya kau benar-benar lupa padaku. Aku sering bermain ke rumah kalian. Sesekali kau juga ikut bermain dengan kami. Lalu saat lulus SMP, keluargaku pindah ke luar negeri."
"Aku sangat down waktu ayah dan ibu meninggal. Jadi, ada bagian dari memoriku yang aku lupakan. Maaf."
Sasuke mengangguk mengerti.
"Tidak apa. Aku minta maaf karena waktu kejadian itu, aku dan keluargaku ada di luar negeri. Aku tidak bisa menjagamu." Sasuke mengelus lembut rambut Karin membuat gadis itu merona sekaligus kaget.
"K-kenapa harus minta maaf?" tanyanya malu.
"Kau tahu, aku selalu iri dengan Naruto yang punya seorang adik yang cantik dan lucu sepertimu."
Karin lagi-lagi merona.
"Aku selalu menuntut orang tuaku untuk memberikanku seorang adik. Aku sampai menangis. Lalu Naruto bilang kalau aku tidak usah khawatir karena adiknya adalah adikku juga. Kau adalah adik kami berdua." Sasuke tersenyum tipis saat menceritakannya.
Karin tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Ia terharu dengan cerita Sasuke. Jadi selama ini dia punya dua orang kakak? Ia tersenyum senang. Ia bahkan tidak menyadari kalau mobil Sasuke sudah berhenti di depan gerbang kampus. Dengan gentlenya Sasuke turun dan membukakan pintu untuk Karin. Dan itu mengundang pandangan memuja dari para mahasiswi yang kebetulan ada di sana.
"Kau pulang jam berapa? Aku akan menjemputmu."
"Jam satu siang." Sasuke mengangguk. " Aku pergi." Sasuke beranjak dari tempat itu.
"Terimakasih, Sasuke-nii." Sasuke yang baru dua langkah berjalan berhenti kemudian kembali berdiri di hadapan Karin. Ia tersenyum saat Karin memanggilnya dengan panggilan itu. Ia mengacak rambut Karin.
"Aku benar-benar punya adik sekarang."
"Dan aku punya dua kakak sekarang. " Keduanya saling tersenyum kemudian berbalik serempak.
Sasuke memasuki mobilnya dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di dasbor. Ia meletakkan ponsel itu di telinganya. Ia sedang menghubungi seseorang dan saat telepon di seberang di angkat, Uchiha tampan itu menyeringai.
'Halo,' terdengar suara berat di seberang.
"Kenapa kau mengikutiku?"
'Aku tidak.'
"Tch!Aku melihat mobilmu jadi jangan mengelak. Apa kau khawatir kalau Karin akan jatuh pada pesonaku, Hyuuga?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Lagi-lagi telaaat!
Gomenasai reader-san semuanya...
Saya sudah berusaha sebisa mungkin tapi terkadang ada aja yang menghalangi..
Hehehe.
Makasih banget udah setia nungguin fic saya ini ya para reader tercinta...
Saya emang udah rencanai mau nambahin abang sasu..
Semoga suka ya...
Love
Yana Kim ^_^
