My Love Mentor

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : T

WARNING!

Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?

Hyuuga Neji x Uzumaki Karin

.

.

.

.

Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?

.

.

.

Chapter 6

.

.

.

Hyuuga Neji memandang datar sahabat Uchihanya yang sedang membukakan pintu untuk Karin. Mereka saat ini ada di parkiran apartmen Sasuke. Karin terlihat malu-malu melihat kegentelan Sasuke dan itu membuatnya tidak suka. Ia pun memasuki mobilnya dan mengklakson satu kali untuk kemudian menjalankan mobilnya. Sasuke membalas klaksonannya dan mengikuti mobil Neji keluar dari area itu. Di pertigaan, mereka berpisah. Sasuke menuju arah Universitas Konoha, sedangkan Neji berhenti sepuluh meter dari pertigaan.

Neji mendapati dirinya memukul stir entah kenapa. Membayangkan Karin akan menyukai Sasuke membuatnya marah. Ia sudah bersahabat dengan Sasuke dan Naruto lebih dari sepuluh tahun. Dan Sasuke adalah playboy dengan pesona yang tak bisa di tampik oleh wanita manapun dengan usia berapapun. Kemungkinan besar Karin akan jatuh dalam jurus maut Sasuke. Setahu Neji, belum ada wanita yang bisa menolak pesona Uchiha Sasuke kecuali seseorang. Apa Karin akan menjadi mangsa Sasuke selanjutnya.

Pemikiran itu membuat Neji memutar mobilnya menuju Universitas Konoha. Ia menjaga jaraknya dari mobil Sasuke tak jauh di depannya. Ketika mobil Sasuke memasuki gerbang, Neji menghentikan mobilnya di depan gerbang. Sekali lagi Sasuke menambah nilai plus dengan membukakan pintu untuk Karin. Dari jarak itu ia bisa melihat keduanya tersenyum dan Sasuke yang mengacak rambut Karin. Lihat? Mereka sudah melakukan skinship.

Neji membuang mukanya dan menjalankan mobilnya, belum ada seratus meter, Sasuke menghubunginya.

"Halo," sahutnya malas.

'Kenapa kau mengikutiku?' Eh? Apa tadi Sasuke melihatnya?

"Aku tidak,"

'Tch!Aku melihat mobilmu jadi jangan mengelak. Apa kau khawatir kalau Karin akan jatuh pada pesonaku, Hyuuga?'

"Sebaiknya kita cepat ke rumah sakit. Naruto butuh kita." Dan Neji mengalihkan pembicaraan kemudian memutuskan sambungan sepihak. Ia yakin sahabatnya itu kini tengah tersenyum mengejeknya.

.

.

.

Neji memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, tak lama kemudian mobil Sasuke berhenti tepat di samping mobilnya. Pria Uchiha itu keluar dari mobilnya sambil mengangkat tangannya menyapa Neji. Keduanya berjalan bersama menuju kamar tempat Naruto di rawat. Di dalam lift, mereka bertemu dengan Hinata. Wanita cantik itu membungkuk pada Sasuke yang di balas anggukkan oleh pria itu.

"Lama tak berjumpa, Sasuke-san."

"Hn. Kau tidak berubah, masih cantik seperti biasa." Hinata tertawa kecil.

"Menggoda wanita setiap saat, kau juga tidak berubah ne, Sasuke-san."

Sasuke mendengus, Neji menyeringai.

"Naruto-san sudah sadar. Tsunade-sama baru mengatakannya padaku."

Kedua pria tampan itu bernafas lega. Neji tersenyum pada adiknya dan mengacak surai indigo Hinata.

"Terimakasih sudah menjaganya selama kami tidak ada." Hinata mengangguk sambil tersenyum.

Lift berhenti di lantai empat dan Hinata keluar setelah pamit pada Neji dan Sasuke.

"Ternyata seranganmu masih tidak mempan pada adikku, Uchiha."

"Hn. Bukan tidak mempan, hanya saja belum mempan, Hyuuga."

"Kalau kau masih berniat mengejarnya sebaiknya berhenti. Dia sudah punya kekasih."

"Tidak janji."

Mereka tiba di kamar Naruto. Terlihat seorang perawat sedang memeriksa infus yang di pakai Naruto.

"Hei." Neji menyapa setelah si perawat selesai dengan pekerjaannya dan keluar dari ruangan.

"Oh. Kalian datang?" sahut suara lemah Naruto.

"Hn, bagaimana kondisimu, Dobe?"

"Entahlah. Karin dimana?"

"Ke kampus. Seseorang memaksanya masuk kuliah hari ini." Sasuke menyindir.

"Dia memang harus masuk hari ini. Tidak lama lagi ujian semester." Neji membela diri.

"Kau benar. Bisakah kau menyuruh dokter membuka benda ini?" Naruto menunjuk penyangga lehernya.

"Mereka akan membukanya bila memang sudah saatnya, dasar bodoh."

"Diamlah, Sasuke. Kau membuatku tambah sakit saja," sahut Naruto.

"Cepatlah sembuh, kau membuatku kerepotan." Naruto terkekeh tanpa suara.

"Kau sudah bertemu dengan Karin? Bagaimana pendapatmu tentangnya?"

Mendengar itu membuat Neji menajamkan pendengarannya.

"Dia tumbuh jadi gadis yang cantik. Mirip bibi Kushina." Sasuke tersenyum tipis.

"Aku juga teringat ibu bila melihat dia. Aku kira aku sudah mati, aku belum sempat menitipkan Karin padamu."

"Kau tidak akan mati. Tanpa kau bilang pun, aku akan menjaganya."

"Kupegang janjimu, Teme."

Percakapan itu mulai tidak nyaman di telinga Neji. Jadi Naruto memang sudah merestui hubungan Sasuke dan Karin? Bagus sekali. Tanpa sadar helaan nafas berat dan lelah ia keluarkan.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke.

"Tidak ada. Istirahatlah, Naruto."

"Aku sudah cukup istirahat. Apa mereka mengatakan pada kalian kapan aku bisa pulang? Disini tidak enak."

"Jangan cerewet. Sebaiknya kau tidur."

"Tidak mau."

Sasuke mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu. Begitu juga Neji yang duduk berseberangan dengan sofa tempat Sasuke duduk. Sasuke terlihat memainkan ponselnya. Neji hanya melipat tangan dan bersandar memandang ke depan. Sesekali pandangannya terarah pada sahabat pria Uchiha di depannya. Naruto memang bilang kalau dia sudah cukup istirahat, namun kini pria pirang itu sudah terlelap. Apa mungkin suster tadi memberinya obat? Entahlah.

"Oh ya, Hyuuga. Kau punya nomor ponsel Karin kan? Bisa kirimkan padaku?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Untuk apa? Bukannya memori ponselmu sudah penuh dengan nomor para wanitamu?"

Sasuke menyeringai. Dan entah kenapa akhir-akhir ini seringai itu membuatnya naik darah.

"Kau terlihat tidak rela. Kau bilang kalian tidak berpacaran tapi kenapa kau cemburu?"

"Aku tidak cemburu. Seharusnya kau menjawab saja pertanyaanku, Uchiha."

"Dan seharusnya kau juga langsung mengirimkan apa yang ku minta, Hyuuga. Kecuali kau benar-benar cemburu," telak Sasuke.

"Aku sudah punya tunangan, asal kau tahu." Neji mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan nomor ponsel Karin. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa ada rasa tidak rela saat menekan tombol send.

"Wow. Aku benar-benar lupa dengan Shion." Neji hanya mendengus.

"Kenapa kalian menunda pernikahan?"

"Alasan pribadi."

Sasuke menatap Neji yang juga menatapnya.

"Aku punya dugaan."

"Sebaiknya simpan dugaanmu itu kalau tidak di sertai bukti yang mendukung."

Sasuke mengangguk.

"Aku akan membuktikan dugaanku," sambung pria Uchiha itu lagi.

.

.

.

Karin langsung di sambut oleh dua sahabatnya saat keluar dari ruangannya. Jam kuliahnya sudah berakhir dan ia ingin segera menemui kakaknya. Sahabat pink dan pirangnya itu langsung memeluknya erat.

"Hei."

"Kami dengar Naruto-nii kecelakaan. Maaf kami bisa ada di sampingmu," ujar Ino.

"Benar, maafkan kami." Sakura menyambung.

"Tidak apa-apa." Mereka Melepaskan pelukan mereka.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Sakura lagi.

"Dokter bilang sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tapi nii-san belum sadar," jawab Karin.

"Kau akan ke sana kan? Kami ikut ya?" usul Ino.

"Tidak. Kalian kan sebentar lagi masuk." Karin melarang.

"Kami kan bisa bolos."

"Tidak boleh. Sebentar lagi kan ujian semester. Kalian tidak boleh bolos."

"Huuuu... Karin kami sudah berubah sekarang? Jadi Hyuuga itu berhasil?" Karin hanya tersenyum.

"Kalau begitu kami akan menjenguk kakakkmu kalau ada waktu, oke?" Karin mengangguk. Ino dan Sakura pamit karena harus mengikuti mata kuliah sedangkan Karin berjalan menuju gerbang. Mobil yang tadi pagi di naikinya terparkir di dekat gerbang sekolah, Karin tersenyum dan mendekati mobil itu. Sang pemilik mobil pun keluar saat Karin sudah semakin dekat. Sasuke tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya. Karin membalasnya. Pria itu langsung membukakan pintu untuk Karin.

"Naruto sudah sadar," ucap Sasuke begitu ia mendudukkan diri di mobil. Raut ceria tidak bisa di sembunyikan oleh Karin.

"Benarkah?" Sasuke mengangguk.

"Kalau begitu, bisakah Sasuke-nii ngebut supaya kita bisa cepat sampai?"

"Tentu saja." Sasuke menyeringai sambil menyalakan mesin mobilnya. Dan benar saja, mereka sampai di rumah sakit sepuluh menit lebih cepat dari biasa.

.

.

.

Seorang wanita cantik berambut pirang pucat berjalan tergesa di koridor rumah sakit. Miko Shion berjalan cepat dengan wajah panik yang sangat kentara. Mendesah lega saat melihat orang yang di carinya sedang duduk di kursi tempel yang ada di koridor rumah sakit sambil menerima telepon. Ia mempercepat langkahnya mendekati Hyuuga Neji, pria yang di carinya.

"Neji-kun!" panggilnya.

"Shion? Ada apa?" tanya Neji.

"Sebelumnya, bagaimana keadaan Naruto?"

"Sudah baikan. Dia sedang istirahat."

"Syukurlah. Akh! Ada berita penting. Ini sangat gawat." Neji semakin penasaran dengan perkataan tunangannya itu.

"Ayahku... Ayahku tidak mau pernikahan kita ditunda. Dia bilang pada ayahmu kalau pernikahan kita harus segera di laksanakan. Dan tanggalnya sudah di tetapkan."

Rahang Neji terlihat mengeras.

"Sudah di tetapkan? Kapan?" tanyanya.

"Kita menikah... tepat minggu depan!"

"Sial!"

"Bagaimana ini?"

Keduanya tampak tak tenang.

"Wah wah! Jadi kalian akan menikah minggu depan? Selamat." suara berat menginterupsi. Uchiha Sasuke datang bersama Karin di sampingnya. Neji dan Shion tampak kaget. Keduanya langsung menatap Karin seolah menunggu reaksi dan perubahan ekspresi gadis itu. Namun yang bisa mereka lihat adalah wajah datar tanpa ekspresi.

"Aku langsung menemui nii-san ya, Sasuke-nii." Sasuke mengangguk dan Karin langsung memasuki ruang rawat Naruto.

"Kenapa kalian kelihatan tidak senang?"

"Bukan urusanmu, Uchiha."

"Aku hanya memberikan selamat, Hyuuga. Bukannya seharusnya kau berterimakasih?"

"Aku pergi dulu. Kau, jaga Naruto." Neji menghela nafas. "Karin juga," tambahnya.

Ia pun menarik tangan Shion dan membawanya pergi. Meninggalkan Uchiha Sasuke yang tampak tengah merenungkan sesuatu.

.

.

.

Sasuke memasuki ruang rawat Naruto dan mendapati Karin yang di samping ranjang Naruto. Sahabatnya itu masih tidur atau mungkin masih dalam pengaruh obat. Gadis itu menyembunyikan wajahnya pada kedua tangan yang terlipat diatas ranjang.

Sasuke melihat bahu yang bergetar itu.

Karin menangis.

Ia mendekati Karin. Meletakkan tangannya di kedua lengan Karin. Membimbing gadis itu untuk berdiri, kemudian menarik tangan Karin keluar dari ruangan itu.

Sasuke membawa Karin ke atap rumah sakit. Mereka duduk di bangku panjang yang ada di sana. Air mata Karin sudah berhenti.

"Kenapa menangis?" mulai Sasuke.

"Sasuke-nii bilang nii-san sudah sadar, tapi dia masih belum bangun. Makanya aku menangis."

Sasuke mengangkat sudut bibirnya.

"Jangan bohong padaku."

"Aku tidak bohong. Aku—"

"Kau menyukai Neji, iya kan? Dan kau menangis karena kabar pernikahan mereka yang di percepat." Karin tampak kaget. Ia membuang mukanya tak mau melihat Sasuke.

Sasuke memaksa Karin menghadapnya. Menahan pipi gadis itu dengan kedua tangannya.

"Apa aku salah?"

Karin tidak menjawab. Air matanya kembali jatuh dan itu sudah menjadi jawaban yang cukup untuk Sasuke. Pria Uchiha itu memeluk Karin erat. Dan itu malah membuat Karin semakin menangis. Ia sampai sesenggukan. Sasuke hanya bisa mengelus lembut punggung Karin sambil membisikkan kata-kata yang menenangkan.

Setelah Karin cukup tenang, Sasuke melepaskan pelukannya.

"Kau tidak salah. Kau punya hak untuk menyukai siapapun."

"Tapi kenapa harus dia, nii-san? Kenapa harus Neji?"

"Jangan bodoh. Hatimu yang memilih Neji." Sasuke mengacak rambut Karin.

"Dia akan menikah. Seminggu lagi. Nii-san dengar sendiri kan?"

Sasuke terkekeh.

"Dan kau menyerah?" tanya Sasuke.

"Aku tidak punya hak untuk berjuang. Dia tidak menginginkanku."

"Dia yang bilang kalau dia tidak menginginkanmu?"

Karin diam.

"Kau bahkan belum menyatakannya kan?"

"Kunyatakan pun tak ada gunanya. Sudah terlambat."

"Tidak ada kata terlambat, dear."

"Ada untuk kasus ini, nii-san."

"Akan ku buktikan kalau dalam kasusmu ini pun, tidak ada kata terlambat."

"Sasuke-nii—"

"Ayo, turun. Naruto mungkin sudah bangun."

.

.

.

"Hai, nii-san." Karin menyapa Naruto yang sedang di ganti kantung infusnya oleh perawat.

"Hai, dear. Aku pasti sudah membuatmu khawatir."

"Ya. Sangat khawatir." Karin mengerucutkan bibirnya. Naruto terkekeh.

" Kenapa wajahmu? Kau habis menangis?" tanya Naruto.

"A-aku—"

"Aku bohong padanya. Kubilang kau belum sadar." Sasuke menyahut, Karin bernafas lega.

"Dasar Teme. Kau bilang mau menjaganya, tapi kau malah membuatnya menangis."

"Hn."

"Cepat sembuh, nii-san." Karin meletakkan telapak tangan Naruto di pipinya. Naruto tersenyum.

"Tenang saja. Aku akan cepat sembuh."

"Oh ya, Dobe. Nanti malam mungkin kami tidak bisa menjagamu. Neji sepertinya ada urusan. Jadi Karin akan pulang bersamaku."

"Ya, tidak apa. Kau pikir aku ini anak lima tahun?"

Malam harinya, Sasuke dan Karin pulang ke apartmen Sasuke. Sasuke dapat melihat raut wajah Karin yang berubah sejak pulang dari rumah sakit. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sedang memikirkan rencana untuk membantu Karin, namun sayangnya satu ide pun belum terpikir di otak pintarnya.

Ia tahu kalau kedua orang itu saling menyukai. Neji dengan segala sikap dingin dan diamnya itu menyimpan perasaan pada Karin yang tsundere. Ah tidak! Keduanya sama-sama tsundere. Dan itu membuat Sasuke semakin pusing untuk memikirkan penyelesaian untuk masalah kedua orang terdekatnya itu.

Mereka baru selesai makan malam. Jangan tanya siapa yang memasak karena kedua orang itu sangat anti dengan dapur alias tidak bisa memasak. Jadi mereka memesan dari restoran. Karin sudah masuk ke kamar tamu lima belas menit yang lalu. Sasuke ingin melihat apakah Karin sudah tidur atau belum.

"Kau masih memikirkan Neji?" tanya Sasuke karena melihat Karin yang terlihat termenung sambil bersandar pada kepala tempat tidur.

"Tidak." Sasuke mengangkat sudut bibirnya. Ia menghampiri Karin dan duduk di atas tempat tidur. Karin pun ikut melipat kakinya dan duduk berhadapan dengan Sasuke sambil memeluk bantal.

"Jangan bohong lagi. Kau mau aku membatalkan pernikahan mereka?"

Karin mengangkat sebelah alisnya.

"Maksud nii-san?"

"Aku bisa menyuruh anak buahku menculik Neji atau Shion pada hari H." Karin menatap horor pada Sasuke.

"Apa-apaan itu? Nii-san jangan lakukan itu." Sasuke terkekeh.

"Jadi? Kau mau aku menyuruh anggotaku membuat kerusuha di gereja sebelum acara pemberkatan?"

"Itu juga tidak usah nii-san. Kenapa kita harus membahas ini?"

"Itu karena kau yang jadi lain sejak dari rumah sakit, dear." Karin memutar matanya bosan.

"Bagaimana kalau kita ganti topik? Apa nii-san tahu siapa pacar Naruto-nii?" tanya Karin. Wajahnya berubah jadi serius bercampur penasaran.

"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Sasuke sambil mencubit pipi Karin gemas.

"Ini sudah dua hari sejak nii-san kecelakaan, tapi tidak ada wanita yang menjenguknya. Apa nii-sanku tidak punya kekasih?"

"Setahuku memang tidak ada." Wajah Karin berubah lemas.

"Naruto-nii kan tidak jelek. Dia tampan dan cukup pintar. Kenapa tidak ada wanita yang mau dengannya?"

"Bukannya tidak ada yang mau. Naruto memang tidak memikirkan hal itu. Dia hanya fokus pada perusahaan dan kau saja."

Karin menghela nafas.

"Mungkin aku harus mencarikan seorang gadis untuknya." Karin terlihat berpikir. Kemudian kembali menatap Sasuke dengan rasa penasaran.

"Bagaimana denganmu, nii-san? Siapa nama kekasihmu? Apa dia cantik? Apa dia bule?"

Sasuke tertawa.

"Tidak bisa kusebut satu-satu."

Karin membelalakkkan matanya. "Niisan punya banyak kekasih? Sasuke-nii seorang playboy?"

"Begitulah."

"Kenapa seperti itu? Apa tidak bisa satu orang saja?" tanya Karin.

"Belum ada yang pas." Karin mengangguk. "Berarti nii-san punya pengalaman yang banyak soal wanita. Bagaimana nii-san bisa mendapatkan banyak kekasih? Ah tidak-tidak. Nii-san kan memang tampan dan kaya. Pasti banyak yang wanita yang mengantri. Kalau Sakura dan Ino bertemu nii-san mereka pasti langsung tergila-gila."

Sasuke tersenyum. Karin yang cerewet seperti Naruto sudah kembali.

"Tidak semua. Bahkan ada yang sampai saat ini sangat sulit ku dapatkan."

"Benarkah? Ada wanita yang mampu menolak pesonamu?"

"Hn. Tadi pagi aku bertemu dengannya."

"Dimana? Seharian ini nii-san di rumah sakit kan? Apa sekarang dia berkerja di rumah sakit?" Karin terlihat bersemangat.

"Ya. Dia seorang dokter. Mungkin kau mengenalnya."

"Oh Tuhan. Aku jadi sangat penasaran!" Sasuke terkekeh.

"Hyuuga Hinata. Mungkin kau kenal."

"Demi Tuhan! Dokter Hinata adiknya Neji?!"

Sasuke merasakan perasaannya tidak enak.

"Jadi dia yang menolak nii-san? Hahaha adik dari sahabat nii-san sendiri? Hahaha lucu sekali!"

Benar kan? Karin memang benar-benar seperti Naruto.

"Apa tadi saat bertemu kalian berbicara banyak?" tanya Karin.

"Tidak. Hanya saling menyapa."

"Kau harus berjuang, Sasuke-nii. Ppft!" Karin terlihat menahan tawa. Sasuke kemudian mengambil bantal yang di peluk Karin dan menutup wajah Karin dengan bantal itu kemudian mendorongnya hingga terbaring.

"Jangan tertawa lagi dan tidurlah!"

.

.

.

Besoknya, Karin tidak masuk kuliah karena Jiraiya-sensei yang merupakan dosen pada hari itu sedang sakit. Terimakasih pada Sasuke yang entah mendapat informasi dari siapa perihal ini. Ia bisa ke rumah sakit lebih pagi untuk menemani kakaknya. Sasuke hanya mengantarnya ke rumah sakit karena ia ada urusan pada hari itu. Uchiha Itachi kakaknya yang tinggal di Konoha memintanya untuk menggantikan memimpin rapat.

Karin langsung menyapa kakaknya begitu masuk ke ruangan. Naruto terlihat setengah berbaring dengan bagian atas tempat tidur yang diangkat dan bersandarkan bantal.

"Nii-san." Karin mendudukkan diri di kursi.

"Hei. Kau tidak kuliah?" tanya Naruto.

"Dosenku sakit." Naruto mengangguk dan Karin baru menyadari kalau penyangga lehernya sudah di buka.

"Wah. Penjaga lehernya sudah di buka?"

Naruto tersenyum.

"Sudah. Aku sudah bisa makan sekarang. Beberapa alat juga sudah dibuka."

"Syukurlah. Jadi nii-san sudah sarapan?"

"Baru saja. Seorang perawat cantik menyuapiku."

Karin menyipitkan matanya.

"Siapa yang lebih cantik, perawat itu atau aku?"

"Tentu saja adikku lebih cantik." Keduanya tertawa.

Pintu ruangan terbuka. Hyuuga Neji masuk dengan membawa parsel berisi buah-buahan. Karin merasa ia menjadi gugup untuk bertemu dengan Neji. Namun ia menguatkan diri. Ia menatap datar pada Neji yang sedang meletakkan parselnya di meja. Kemudian peria itu menghampirinya untuk duduk di ranjang Naruto.

"Dokter bilang kau sudah bisa makan. Jadi aku membawakan buah-buahan."

"Terimakasih. Sasuke bilang kau ada urusan semalam. Ada masalah?" tanya Naruto.

"Bukan masalah. Hanya bertemu dengan orang tua Shion. Pernikahan kami di percepat." Karin merasa telinga dan hatinya risih mendengar perkataan Neji.

"Benarkah? Kapan? Bukannya bagus? Aku heran kenapa kau sempat meminta menunda pernikahanmu."

"Ya, begitulah. Senin depan."

"Kalau begitu, mana undangannya?"

"Entahlah. Bukan aku yang mengurus. Mungkin besok atau lusa."

Naruto mengangguk.

"Sasuke mana?" tanya Neji.

"Oh ya. Mana si Teme?"

"Sasuke-nii menggantikan kakaknya rapat."

Kedua pria itu mengangguk.

"Oh! Perawat tadi memberiku obat. Aku jadi mengantuk sekarang," ujar Naruto.

"Kalau begitu tidurlah nii-san." Karin bangkit dan memperbaiki letak tempat tidur Naruto hingga pria kesayangannya itu bisa berbaring dengan nyaman. Dan benar saja, Naruto langsung memejamkan matanya dan tak lama kemudian deru nafas yang teratur menandakan pria itu telah tertidur.

Karin mencium kening kakaknya, kemudian beranjak menuju sofa. Neji mengikuti. Mereka duduk di sofa yang saling berseberangan. Yang memisahkan mereka hanya meja kaca dengan parsel buah di atasnya. Suasana canggung seketika. Keduanya diam. Karin mengambil ponselnya dan sibuk dengan benda itu sedangkan Neji menatap gadis itu dengan pandangan datar andalanannya.

"Kau tidak kuliah?" Neji menginterupsi keheningan yang sudah berjalan lima menit itu.

Karin mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah wajah Hyuuga Neji.

"Jiraiya-sensei sakit. Dia tidak datang hari ini."

Neji mengangguk. Hening lagi.

"Umm. Selamat... atas pernikahanmu." Kini Karin yang memulai.

"Bukannya lebih baik kau mengucapkannya minggu depan?"

"Aa. Baiklah. Ku tarik kata-kataku."

Hening lagi.

"Kau jadi lebih banyak diam," ujar Neji.

"Aku?" Karin menunjuk dirinya. Neji mengangguk.

"Entahlah. Aku merasa biasa saja."

"Kau tidak biasanya diam seperti ini. Kau dan Naruto sama. Tipe orang cerewet dan tidak bisa diam. Kalian hanya diam kalau sedang sakit dan kalau sedang ada masalah. Jadi kau ada masalah?"

Karin ingin mendecih. Apa pria ini tidak tahu kalau sumber masalahnnya itu dia?

"Tidak ada."

"Bagaimana hubunganmu dengan Sasuke?" Karin mengernyit heran.

"Hubungan?"

Pintu terbuka dan menampilkan wajah tampan Sasuke yang berbalut jas kerja dan terlihat menenteng sesuatu.

"Hyuuga, kau di sini?"

"Hn."

"Sasuke-nii, rapatnya sudah selesai?"

"Hn."

Oh Tuhan kenapa Karin harus terjebak dengan dua pria dengan kosa kata andalan yang sama?

Sasuke kemudia mendudukkan diri tepat di samping Karin. Ia menyerahkan bungkusan plastik yang di bawanya pada Karin.

"Es krim."

"Wah. Terimakasih, Sasuke-nii."

"Kau mau es krim, Hyuuga?"

Neji mendecih.

"Tidak."

Karin membuka es krim rasa stroberi. Kemudian mulai memakannya.

"Kalian yakin tidak mau?" tawarnya pada kedua pria itu.

"Berikan padaku." Sasuke menarik tangan kanan Karin dan menggigit kecil eskrim itu. Kemudian Karin kembali menikmati eskrimnya. Neji melihat adegan itu dengan ekspresi datarnya. Tidak ada yang menyadarinya kecuali Sasuke. Pria tampan kebanggan Uchiha itu menyeringai melihat tangan Neji yang terkepal kuat.

Sasuke kemudian mengambil tisu dan mengusap lembut sudut bibir Karin. Gadis itu baru saja selesai dengan es krimnya. Setelah itu, Sasuke mengambil tangkai bekas eskrim Karin dan membuangnya ke tong sampah yang ada di samping sofanya. Kemudian mengambil tisu lagi untuk melap tangan Karin.

"Terimakasih, Sasuke-nii." Karin tersenyum manis. Sasuke membalasnya sambi membelai lembut rambut merah Karin.

Kali ini Neji membuang muka. Dan itu pun tak lepas dari atensi Sasuke. Tiba-tiba Neji menarik tangan kiri Karin hingga gadis itu berdiri. Ia berjalan berniat membawa Karin keluar dari ruangan itu. Namun Sasuke dengan sigap menarik tangan kanan Karin.

"Mau kemana?" tanya Sasuke.

"Bukan urusanmu," Neji menyahut.

"Tapi kita mau kemana?" kini Karin yang bertanya.

"Ikut saja. Ada yang perlu kita bicarakan. Uchiha, lepaskan tanganmu."

Sasuke melepaskan tangannya dan membiarkan kedua orang itu pergi.

.

.

.

Karin hanya diam saat Neji mebawanya ke taman rumah sakit. Neji mendudukkannya dengan sedikit kasar ke bangku taman di bawah pohon akasia.

"Kenapa membawaku kemari?" tanya Karin heran.

"Apa hubunganmu dengan Uchiha Sasuke?"

"Hubungan apa? Kami tidak ada hubungan apa-apa."

"Bagus. Ku peringatkan, jangan pernah kau mencoba menerima pernyataan cinta dari Sasuke." Karin semakin bingung.

"Apa maksudmu?"

"Karin dengar, Sasuke itu seorang playboy. Dia mendekati semua wanita dan kemudian meninggalkannya. Dia itu brengsek. Dia bukan pria yang baik."

"Jangan sembarangan menghinanya. Jadi maksudmu pria yang baik itu seperti apa? Sepertimu?" Karin merasa marah karena Neji menghina Sasuke. Ia berdiri dan menatap Neji tajam.

"Dia memang playboy. Dia mengakuinya, mengakui kebrengsekannya. Keburukannya terbuka. Dia jujur dengan semua itu dan toh tetap banyak wanita yang mendekatinya. Tidak sepertimu yang mempermainkan hati seorang gadis kemudian meninggalkannya untuk menikah dengan gadis lain!" Karin menambahi dengan emosi yang sudah sampai di kepala.

"Aku tidak mempermainkan hati seseorang!" Neji membela diri.

"Kau mempermainkanku, brengsek!"

"Kau menjadi mentorku membantuku untuk menjadi lebih baik. Kau membantuku waktu aku sakit. Kau... kau menciumku, bahkan saat aku tertidur. Aku menyukaimu tapi kau malah sudah bertunangan bahkan akan menikah sebentar lagi!"

"Kau... apa?"

"Seharusnya nii-san tidak memintamu jadi mentorku. Atau lebih baik, aku tidak pernah mengenalmu. Berbahagialah dengan Shion." Karin meninggalkan Neji yang terpaku di tempat itu.

.

.

.

Karin berlari ke parkiran kemudian. Menangis di samping mobil Sasuke. Kemudian ia mengambil ponselnya di saku celana dan menghubungi Sasuke.

Sasuke datang tak lama kemudian. Pria itu membimbing Karin untuk masuk ke mobilnya. Ia pun membawa Karin pergi dari sana.

Karin masih menangis sampai mereka tiba di apartemen Sasuke. Sesampainya di sana, Sasuke langsung memeluk Karin. Karin membalasnya dengan erat.

"Sudahlah. Jangan menangis lagi." Sasuke mecoba menenangkan. Cukup lama hingga Karin bisa lebih tenang.

"Ada apa, hm?" Karin diam. Tidak mau menceritakan apa yang terjadi padanya.

Sasuke menghela nafas. "Baiklah. Kita butuh sesuatu untuk membuatmu bicara." Sasuke beranjak menuju dapur dan membuka lemari teratas.

Ia mengeluarkan semua botol wine kebanggaannya dari sana. Ia meletakkan botol-botol itu di depan Karin dan membukanya. Mengambil gelas kemudian menuangkan cairan merah itu ke dalam gelas.

"Minum."

Karin langsung mengambil gelas itu dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Sasuke dengan setia menuangkan kembali minuman beralkohol itu untuk di minum oleh Karin. Tiga botol habis sudah. Karin terlihat sudah mabuk dan mulai meracau tidak jelas. Ia bahkan sudah membuang jauh kaca matanya.

Sasuke menyeringai. Rencananya berhasil.

"Jadi, kau sudah mengatakan kalau kau menyukai Neji?" tanya Sasuke menanggapi racauan Karin.

"Ya! Tapi apa gunanya? Hik... Dia akan menikah sebentar lagi. Dasar lelaki brengsek!" Sasuke tersenyum. Karin sangat lucu saat mabuk. Karin kemudian mengambil botol ke empat dan meminumnya lagsung dari botolnya.

"Dia memang lelaki brengsek. Kenapa kau tidak meminta pertanggung jawaban?" tanya Sasuke.

"Hik Untuk ...apa?"

"Kau lupa? Kalian kan sudah tidur bersama."

"Tidur hik... bersama? Ah! Diapartmen Sasuke-nii. Ya. Kami memang tidur bersama! Hahaha hik.. kami tidur bersama~~" Karin bersenandung aneh.

"Ya. Dan kau harus meminta pertanggung jawaban atas itu. Mungkin saja kan, kau sudah hamil saat ini." Sasuke kembali mengatakan hal yang tidak masuk akal. Karin terlihat kaget kemudian memegangi perutnya.

"Hamil~?Apakah ada bayi hik.. di sini?" tanyanya. Sasuke ingin tertawa, tapi rencananya bisa gagal nanti. Sungguh adiknya ini lucu sekali.

"Mungkin saja. Jadi bagaimana kalau kita pergi dan menuntut pertanggung jawaban padanya?"

Karin menatap Sasuke dengan mata sayunya.

"Bayiku mungkin tidak memiliki ayah. Hik, jadi kita harus menemui Hyuuga brengsek itu." Karin bangkit dari duduknya.

Sasuke tersenyum. "Tentu saja." Ia membantu Karin yang agak limbung untuk berdiri. Mereka berjalan keluar apartmen. Tak lupa ia membawa sebotol wine untuk Karin. Sesampainya di mobil, Sasuke mendudukkan Karin dan memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. Kemudian memberikan botol wine yang sudah di buka untuk Karin. Karin meminumnya sambil bersenandung dengan suara falsnya.

Sasuke hanya bisa tersenyum menatap Karin. Merasa bersalah memang karena memberikan alkohol yang berlebihan pada Karin di siang bolong. Kalau Naruto tahu ia pasti sudah di hajar. Apalagi kalau Neji tahu.

Sasuke menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian mereka sampai ke sebuah rumah dengan aksen tradisional yang sangat kental.

"Karin, ingat. Kita akan menemui ayah Neji. Ayah Neji." Karin menatap Sasuke. Minumannya sudah habis.

"Ayah Neji. Hik.. kakek dari bayiku?"

"Ya."

"Ya ya ya~. Tapi tunggu dulu..."

"Apa?" tanya Sasuke.

"Kau... siapa?"

Doeng!

Urat di dahi Sasuke tampak berkedut.

"Kau tanya... aku siapa? Aku Sasuke. Sasuke-nii."

"Oh. Sasuke-nii." Karin mengangguk dengan ekspresi polosnya. Sasuke hanya bisa menghela nafas.

Di gerbang kayu yang unik itu seorang penjaga menghampiri mobilnya.

"Ah. Uchiha-sama. Lama tak berjumpa."

Sasuke menganggukkan kepalanya.

"Hiashi-san ada?"

"Ya, beliau ada di ruang minum teh bersama Hinata-sama dan Shion-sama."

"Tolong telepon Neji sekarang. Katakan kalau Sasuke ada di rumahnya sekarang bersama dengan Karin," ujar Sasuke.

Sasuke memasukkan mobilnye ke kompleks rumah kolot itu.

Ia membantu Karin keluar dan menuntuk gadis itu memasuki ruangan minum teh yang ada di dekat dojo keluarga Hyuuga. Sasuke sudah hafal dengan wilayah ini. Para pelayan menatap heran pada sahabat tuan muda mereka yang membawa seorang gadis aneh. Sesampainya di sana, Sasuke mengetuk pintu. Sebelumnya ia membisikkan pada Karin kalau pria bersurai panjang yang mirip dengan Neji adalah ayahnya. Suara berat dari dalam menyuruhnya masuk. Sasuke kemudian membuka pintu geser itu dan masuk bersama dengan Karin. Di sana terdapat Hinata dan Shion beserta target mereka, Hyuuga Hiashi. Hinata dan Shion tampak kaget melihat Karin yang kelihatan aneh.

"Aa. Sasuke." Hiashi menyapa Sasuke.

"Siapa dia?" tanya pria paruh baya itu lagi.

"Ayah mertua!" Karin bersorak sambil menghampiri Hiashi yang duduk bersila. Setelah dekat, ia memeluk leher Hiashi dari samping membuat pria itu kaget bukan main.

Cup!

Hinata dan Shion terbelalak kaget. Sasuke hanya bisa menganga melihat Karin yang berani melakukan hal itu. Mencium pipi Hiashi? Demi Tuhan! Ini tidak ada dalam rencana!

.

.

.

TBC

.

.

.

Mic cek one two. Hai hai hai semuanya...

Chap 6 up nih! Dan mungkin chap depan bakalan end.

Semoga ga mengecewakan ya dan maaf kalau Sasuke sangat OOC di sini. Yaah.. walaupun semua tokoh di sini OOC, harap maklum aja ya reader semuanya.