My Love Mentor
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T
WARNING!
Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?
Hyuuga Neji x Uzumaki Karin
.
.
.
.
Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?
.
.
.
Chapter 7
.
.
.
"Siapa wanita ini, Sasuke?" tanya Hiashi pada Sasuke setelah pria Uchiha itu berhasil menarik Karin menjauh dari ketua klan paling tua di Jepang itu. Kini Karin duduk bersama Sasuke di depan Hiashi. Shion dan Hinata hanya bisa memandang sweatdrop pada Karin yang masih bersenandung tak jelas dan terkikik sesekali.
"Dia Uzumaki Karin. Adik Naruto."
"Adik Naruto? Apa dia sedang mabuk?"
"Ya, Hiashi-san."
"Aku tidak mabu~k... Wanita hamil tidak boleh mabuk tahu..."
Karin kembali meracau.
"Hamil?" Hiashi memandang Sasuke dan Karin bergantian.
"Sasuke, kenapa kau membawa kekasihmu yang sedang hamil sekaligus sedang mabuk ke rumahku?"
"Sebenarnya dia bukan kekasihku dan dia bukan hamil anakku. Tapi..."
"Aku hamil anak Neji-san, Ayah mertua!"
"APA?!"
Hinata dan Shion tidak bisa menyembunyikan wajah kagetnya mendengar penuturan dari Karin. Hiashi pun demikian, namun ia bisa mengontrol dirinya.
"Shion, Hinata. Sebaiknya kalian bawa dia ke kamar tamu. Dia butuh istirahat."
Kedua wanita itu langsung mengerti. Mereka membawa Karin keluar dari ruangan itu hingga hanya meninggalkan Sasuke dan Hiashi."
"Sasuke, bisa kau jelaskan ini semua?"
"Dia mabuk karena tahu kalau Neji dan Shion akan menikah sebentar lagi. Padahal, dia sudah tidur dengan Neji. Jadi aku membawanya kemari untuk meminta pertanggung jawaban. Aku hanya membantu anda supaya nama keluarga Hyuuga tidak tercemar."
Hiashi terlihat memikirkan sesuatu. Tentu saja memikirkan nasib keluarganya yang akan menanggung malu karena ulah anaknya. Sedangkan Sasuke di seberang meja terlihat mengamati Hiashi dengan sudut bibir yang terangkat.
"Terimakasih, Sasuke. Aku akan—"
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang bergeser. Sosok Neji muncul dengan wajah khawatir. Ia melihat sekeliling ruangan.
"Uchiha, dimana Karin?"
"Jadi memang benar. Apa yang sudah kau lakukan pada adik Naruto padahal kau sudah akan menikah?"
Neji menatap bingung ayahnya. Kemudian beralih pada Sasuke.
"Apa maksud Tou-sama?"
"Kau sudah punya tunangan tapi kau malah tidur dengan perempuan lain? Apa yang akan ku katakan pada keluarga Shion?! Dan perempan itu adik dari sahabatmu sendiri?"
Neji semakin bingung.
"Aku benar-benar tidak mengeri maksud Tou-sama. Uchiha, jelaskan. Kotaru-san bilang kau datang dengan Karin yang sedang mabuk. Dan sekarang ayahku mengatakan hal yang benar-benar tidak aku mengerti."
"Sekarang duduklah." Hiashi kembali berbicara.
"Apa benar kau tidur dengan Uzumaki Karin di apartemen Sasuke?"
Neji langsung menatap Sasuke mencoba meminta penjelasan.
"Aku hanya membawa Karin kemari untuk meminta pertanggungjawabanmu. Kau memang sudah tidur dengannya kan?"
"Memang benar. Tapi aku dan dia—"
"Jadi kau mengakuinya?" tanya Hiashi.
Neji menghela nafas kesal karena sudah salah dalam pemilihan kata-kata.
"Tou-sama, kami hanya—"
"Aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku dulu."
Hiashi pun keluar dari ruangan itu.
"Uchiha, kau..."
.
.
.
"Hooek!"
Miko Shion dan Hinata kini tengah di repotkan oleh Karin.
Gadis merah itu tak henti-hentinya memuntahkan isi perutnya. Untung saja ada pelayan yang dengan sigap membawakan wadah tempat cairan dari mulut Karin. Setelah selesai dengan kegiatannya, Karin malah jatuh tak berdaya. Dia pingsan. Hinata menyuruh pelayan tadi menggantikan baju Karin dengan miliknya. Sementara pelayan itu bekerja, Hinata dan Shion duduk di sofa yang ada di sana.
"Dia benar-benar hamil anak Neji?" tanya Shion.
"Tidak, Shion. Dia tidak hamil. Aku sudah memastikannya."
" Lalu kenapa Sasuke—"
"Sasuke ingin membatalkan pernikahan kalian. Uchiha itu...! Dia bahkan membuat Karin mabuk begini," Hinata menggeram.
"Tapi, Hinata..."
"Aku akan mengatakan pada Tou-sama yang sebenarnya."
"Hinata, tunggu..."
.
.
.
"Jelaskan padaku, Uchiha!"
"Kenapa kau mengatakan hal yang tidak masuk akal pada ayahku?!"
"Bukannya seharusnya kau berterimakasih? Aku hanya membantu kalian. Kau dan Shion tidak menginginkan pernikahan ini. Apa aku salah?"
Neji tertegun sebentar namun kembali memasang wajah datarnya.
"Keluarga kami sangat menginginkan pernikahan ini. Tapi kau menghancurkan semuanya dan membuat ayahku berpikir aku pria brengsek yang meniduri adik sahabatku!"
"Kalian memang tidur bersama, Hyuuga."
"Sial! Tapi tidak dalam artian negatif yang kau sebut-sebut itu! Hamil? Kau pasti sudah gila."
"Sudahlah, Hyuuga. Semua sudah terjadi." Sasuke masih dengan santainya menyahut.
"Apa yang akan di pikirkan keluarga Shion nantinya brengsek! Keluarga Hyuuga akan—"
Neji tersentak seketika ketika Sasuke menarik kerah bajunya.
"Kenapa sekarang aku merasa muak denganmu dan segala kehyugaanmu itu! Shion sudah mempunya Taruho dan kau mencintai Karin. Kau pikir aku tidak tahu akan hal itu!"
Sasuke melepaskan cengkeramannya dan mendorong Neji menjauh.
"Kau pikir kenapa aku melakukan ini, ha? Karin itu adikku! Dan kau sahabatku! Aku hanya ingin kalian bahagia! Terutama Karin. Aku sudah melakukan bagianku. Sekarang terserah kalian. Terserah padamu. Aku akan membawanya pulang sekarang."
Sasuke berbalik untuk keluar dari ruangan itu.
"Kau pikir ayahku akan membiarkan Karin pulang setelah apa yang kau lakukan?"
Langkah Sasuke terhenti mendengar perkataan Neji.
"Dia akan tetap di sini. Dan demi Tuhan ayahku akan menikahkanku dengannya! Brengsek kau!"
Sasuke menyeringai kemudian tanpa kata pergi meninggalkan rumah sahabatnya itu.
.
.
.
Karin terbangun keesokan paginya dengan pusing parah yang menyerang kepalanya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi. Namun,
"Kemana pintu kamar mandinya?"
Karin akhirnya menyadari kalau kamar ini bukanlah kamarnya. Ia melihat sekeliling memastikan keberadaannya saat itu. Namun ia benar-benar tidak tahu dimana dia berada. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian-kejadian terakhir yang diingatnya. Rumah sakit, apartment Sasuke kemudian...
"Akh! Aku tidak tahu apa yang terjadi!" erangnya.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Ia melihat Shion yang muncul dengan wajah khawatirnya.
"Karin, kau kenapa?" tanyanya.
"Shion? Kau... aku di rumahmu?"
Shion tersenyum. "Kau tidak ingat apapun?"
Karin menggeleng.
"Kau ada di kediaman Hyuuga. Rumah ayahnya Neji."
"Apa?! Bagaimana mungkin aku di sini?" Shion pun menceritakan apa yang terjadi. Karin hanya bisa melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia mabuk? Bagaimana mungkin?
"Shion sungguh aku tidak mengingat apapun tentang hamil ,mabuk dan sebagainya yang kau ceritakan itu. Yang terakhir kuingat adalah aku ada di apartment Sasuke-nii dan... dan aku tidak ingat apapun lagi. Demi Tuhan aku bahkan masih perawan Shion!"
Shion hanya tersenyum tulus. "Aku tahu. Ini hanya akal-akalan Sasuke saja. Sebaiknya kau mandi. Aku akan mengantarkan pakaianmu. Setelah itu kita sarapan. Siapa tahu setelah mandi dan segar kau bisa mengingat apa yang tak kau ingat. "
Karin menghela nafas dan mengangguk. Shion keluar dari kamar itu seiring dengan Karin yang melangkah menuju kamar mandi. Setelah membuka pakaiannya, ia hanya berdiri dengan shower menyala yang mengguyur tubuhnya. Ia mencoba mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Sedikit bertengkar dengan Neji, kemudian Sasuke menghiburnya diapartemennya, kemudian...
"Oh Tuhan..." Karin akhirnya mengingat perihal ia mabuk. Sasuke membrikannya wine supaya ia bisa dengan tenang menceritakan masalahnya pada Sasuke. Tapi, tidak mungkin kan Sasuke membawanya ke kediaman Hyuuga. Dan berbohong tentang kehamilan? Apa untungnya untuk Sasuke? Mungkin ia harus mendatangi Sasuke. Menanyakan maksud kakak angkatnya itu.
.
.
.
Shion dan Karin berjalan bersama menuju ruang makan. Hyuuga Hiashi beserta kedua anaknya sudah duduk di ruangan tradisional itu. Makanan juga sudah terhidang di sana. Hinata menyambut mereka dengan senyuman manisnya. Tidak seperti Hiashi dan Neji yang duduk tenang dengan wajah datarnya. Sekarang Karin tahu dari mana Neji mendapatkan wajah datar tanpa ekspresi itu.
Dengan canggung, Karin duduk di samping Hinata, sedangkan Shion duduk di samping Neji. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada keluarga Hyuuga atas apa yang telah dilakukannya semalam. Mendengar cerita dari Shion saja ia seperti tidak punya muka lagi untuk bertemu Hyuuga Hiashi.
"Itadakimasu!" Kepala keluarga langsung membuka acara makan pagi kaku khas Hyuuga itu. Karin hanya bisa makan dalam diam. Tidak ada nafsu makan sama sekali. Nmaun ia berusaha makan dengan tenang. Setidaknya untuk menghargai semua orang yang ada di situ. Ia tidak suka situasi kaku ini. Ia tidak pernah makan dengan keadaan layaknya kuburan seperti saat ini.
Tak lama kemudian mereka selesai makan, entah perintah dari mana, dua orang pelayan datang dan membereskan bekas makan mereka. Dan seorang pelayan mengantarkan teh beserta cemilan diatas meja rendah itu.
"Baiklah, kurasa kita memang harus membahasnya sekarang." Entah kenapa Karin merasa kepala keluarga Hyuuga itu menatapnya.
"Nona Uzumaki," Benarkan?
"Mengenai kejadian semalam. Aku sudah membicarakannya dengan anak-anakku. Aku tidak percaya kenapa Uchiha Sasuke merencanakan hal kemarin. Tapi aku yakin kalau ini ada hubungannya dengan rencana pernikahan Neji dan Shion." Neji dan Shion tampak bergerak gelisah. Kemudian saling menatap dengan pandangan yang tidak dapat ditafsirkan oleh Karin.
"Tou-sama. Sebenarnya, maksud Sasuke melakukan ini adalah..." Shion mulai berbicara.
"Maafkan aku Tou-sama. Aku dan Shion tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini."
Bukan hanya Hiashi. Karin dan juga Hinata terlihat kaget dengan pernyataan Neji barusan. Shion hanya bisa menunduk.
"Apa maksud ucapanmu itu Neji?"
"Tou-sama. Sejak awal kami tidak ingin menerima perjodohan ini. Kami tidak saling mencintai. Jadi kami ingin membatalkan pernikahan ini."
"Neji..."
"Aku sudah memiliki kekasih, Tou-sama." Kali ini Shion memberanikan diri. "Aku tidak bisa menikah dengan Neji-kun."
Hiashi menatap Shion dengan pandangan yang sulit diartikan. Marah, kaget, kecewa, semuanya bercampur jadi satu.
"Kenapa kalian tidak mengatakan hal ini dari awal. Apa kalian tahu akalau undangan sudah di sebar? Aku yakin keluargamu juga akan kecewa dengan keputusan kalian ini, Shion. Kalian sungguh sudah mempermalukan kami."
Hinata dan Karin hanya bisa diam. Tidak tahu apa yang harus mereka katakan.
"Kami juga akan mengatakan hal ini pada orangtuaku, Tou-sama. Kami benar-benar minta maaf."
Hiashi hanya bisa menghela nafas. "Terserah pada kalian. Aku harap orang tua Shion mau menerima keputusan kalian ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kalian yang memutuskan. "
"Terimakasih, Tou-sama." Shion dan Neji menjawab bersamaan. Keduanya kemudian saling bertatapan dan tersenyum.
"Tapi.." Hiashi berujar lagi.
"Apa hubungan semua ini dengan rencana Sasuke kamarin sore?" Pertanyaan ini kini membuat gugup Karin dan juga Neji. Kini Neji menatap Karin.
"Aku menyukai Karin. Mungkin Sasuke ingin pernikahan ini batal sehingga aku bisa bersama Karin." Hiashi mengangguk, Karin terbelalak.
"Sebenarnya aku jadi pusing karena memikirkan masalah anak muda seperi kalian. Dan kau nona Uzumaki." Karin dengan takut menatap Hiashi.
"Kau menyukai Neji?"
"A-aku... Aku..." Karin bergantian menatap Neji dan Shion.
"Sudahlah. Hal itu sudah bukan menjadi urusanku. Aku akan istirahat sekarang. Dan kalian, selesaikan masalah kalian. Neji akan mengantarmu pulang. Sampaikan salamku pada kakakmu." Hiashi beranjak dari ruang makan tradisional itu.
Kini keempat orang itu ada di gerbang kediaman Hyuuga. Shion dan Hinata mengantarkan kepergian Neji yang mengantarkan Karin.
"Maafkan aku karena sudah menyusahkan kalian semua. Aku sungguh-sungguh minta maaf."
"Sudahlah, Karin. Aku sebenarnya sangat berterimakasih pada Sasuke karena sudah merencanakan hal gila itu. Karena kalau tidak, aku pasti tidak akan berani mengatakan yang sebenarnya pada Tou-sama," kata Shion.
"Terimakasih banyak. Aku akan mengembalikan bajumu." Karin mencoba tersenyum.
"Itu baju Hinata sebenarnya," sahut Shion.
"Ah, terimakasih dokter. Aku juga belum sempat berterimakasih padamu tempo hari. Kau sudah mengobatiku dan menggantikan bajuku. Aku akan segera mengambalikan bajumu ini." Karin membungkukkan badannya sekali.
Hinata tertawa. "Santai saja Karin. Panggil aku Hinata saja. Sudah tugasku sebagai dokter untuk mengobati yang sakit. Dan masalah mengganti bajumu. Itu bukan aku. "
Karin mengerutkan dahinya heran. Neji tampak kikuk.
"Sudahlah cepatlah naik. Kita harus ke rumah sakit."
"Ah. Iya. Aku pergi dulu. Terimakasih banyak."
Karin dan Neji menaiki mobil dan berlalu meninggalkan kediaman Hyuuga.
Di perjalanan keduanya terdiam. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Neji hanya fokus ke jalanan sedangkan Karin hanya memainkan jarinya. Hingga ditengah jalan ada seseorang yang menyebrang sembarangan hingga membuat Neji hampir menabraknya. Pria itu menginjak rem kuat-kuat hingga Karin yang tidak memakai sabuk pengaman terlempat ke depan dan kepalanya terbentur dasbor mobil.
"Aw!"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Neji khawatir.
"Sakit sekali tahu!" Erang Karin sambil menatap tajam Neji dan memegang jidatnya.
"Siapa suruh tidak memakai seatbelt?!" bentak Neji.
"Aku tadi tidak fokus sampai lupa memakai sabuk pengaman!" Karin balas membentak.
"Siapa suruh kau tidak fokus."
"Bagaimana aku bisa fokus memikirkan ucapan Hinata tadi!"
"Apa maksudmu?" Mereka sudah sampai di parkiran Rumah Sakit.
"Kalau bukan dia yang menggantikan bajuku saat itu berarti kau kan?!Berarti kau... kau melihat... melihat...Kyaaa!" Karin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya malu.
Neji hanya bisa tergagap tak tahu harus mengatakan apa.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ummm.
Ga tahu mau bilang apa.
Intinya saya sudah kembali.
Hehe
\
