My Love Mentor

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Story By : Yana Kim

Rate : T

WARNING!

Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?

Hyuuga Neji x Uzumaki Karin

.

.

.

.

Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?

.

.

.

Chapter 8

.

.

.

"Apa maksudmu?" Mereka sudah sampai di parkiran Rumah Sakit. Neji berhasil memarkirkan mobilnya pada salah satu slot kosong di tempat parkir yang sepi itu.

"Kalau bukan dia yang menggantikan bajuku saat itu berarti kau kan?! Berarti kau... kau melihat... melihat...Kyaaa!" Karin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya malu.

Neji hanya bisa tergagap tak tahu harus mengatakan apa.

"Itu..."

Lelaki itu kemudian berdeham.

"Tentu saja aku harus melakukannya. Pakaianmu basah semua dan Hinata sudah terlanjur pulang."

"Kau bisa saja memanggil dokter Hinata lagi kan, toh dia itu adikmu. Dia pasti mau untuk datang kembali menggantikan bajuku! Kau mengambil kesempatan saat aku pingsan ya? Dasar mesum kau!" Karin menatap tajam pada pria disampingnya.

"Kau pikir aku punya pilihan saat itu? Hinata sudah pergi. Dan seluruh pakaianmu basah total. Jadi aku harus apa? Membangunkanmu? Membangunkanmu juga pasti tidak ada gunanya karena kau juga akan kesulitan memakai bajumu karena keadaanmu!"

"Apa kau tahu itu merupakan bentuk pelecehan, ha?" Karin terlihat tak mau mendengar alasan Neji.

"Terserah apa katamu. Saat itu aku juga sama paniknya denganmu. Lagi pula tidak ada yang bisa dilihat dari tubuhmu." Neji mendengus dengan sudut bibir yang terangkat dan terkesan meremehkan. Tentu saja di pandangan Karin.

"A-apa kau bilang? Tidak ada yang bisa dilihat?" Karin terbelalak tak percaya.

"Memangnya ada?"

"Dengar ya Hyuga. Diantara teman-temanku dadakulah yang paling berisi dan bagus bentuknya!"

"Oh ya? Kulihat milik teman pirangmu lebih bagus."

Karin kembali ternganga oleh pria yg biasanya tidak banyak bicara itu. Namun tentu saja ia tidak terima dengan perkataan Neji. Milik Ino lebih bagus katanya? Sejak kapan pria itu melihat dada ino? Kalau Karin tidak salah ingat, Neji hanya pernah bertemu kedua sahabatnya itu satu kali. Jadi maksudnya dalam satu kali pertemuan itu Neji hanya fokus pada dada Ino? Emosi Karin kembali tersulut. Ia merasa bahwa dadanya tetap yang terbaik diantara mereka bertiga. Ino dan Sakura juga sudah setuju.

"Dadaku lebih bagus!" Karin memekik. Neji sampai menutup telinganya dengan satu tangan. Untungnya parkiran rumah sakit saat itu tidak terlalu ramai. Bisa-bisa Neji disangka telah menculik anak gadis orang.

"Suaramu!" Nada suara Neji naik setengah oktaf.

"Pokoknya dadaku lebih bagus!"

"Oke oke, dadamu yang terbaik," ujar Neji menahan geramnya. Karin tersenyum menang.

"Jadi tolong hentikan percakapan tidak senonoh ini, baka!" lanjut pria itu.

"Kau mengataiku baka?!"

"Hn. Baka."

"Yang baka itu kau dasar brengsek! Aku akan melaporkan pada nii-sanku kalau kau sudah melecehkanku saat aku terjatuh!" Karin melipat tangannya kesal, sedangkan pria disebelahnya hanya mendengus.

"Silahkan saja. Aku hanya perlu menceritakan yang sebenarnya. Bukannya kau tidak mau Naruto tahu kalau kau jatuh tempo hari? Ah. Aku juga akan menceritakan kejadian semalam sekaligus." Neji mengangkat sudut bibirnya sambil menatap Karin sembari membuka sabut pengamannya.

Mendengar perkataan Neji membuat wanita bersurai merah itu panik. Neji yang hendak membuka pintu mobil itu mengurungkan niatnya saat Karin menarik kerah kemejanya dengan satu tangan hingga membuat Neji menoleh menatap gadis itu.

"Jangan berani-beraninya kau melakukan itu, Neji-san!" Karin berujar dengan nada serius. Tarikan tangan wanita itu membut posisi Neji kini condong ke arah Karin. Jarak wajah keduanya hanya lima sentimeter.

"Aku tidak janji. Lepaskan tanganmu, nona." Kedua íris dengan perbedaan warna yang kontras itu saling bertatapan. Masih dengan tensi yang sama-sama tingi dari keduanya.

"Tidak akan kulepas sampai kau berjanji kau tidak akan mengatakan apapun pada Naruto-nii."

"Kalau aku tetap mengatakannya kau mau apa?"

"Hyuuga Neji!"

"Uzumaki Karin!"

Neji tidak mau kalah. Sebenarnya ia juga tidak mau memberitahukan apa yang terjadi semalam pada sahabat kuningnya. Untuk apa dia menceritakan hal yang juga memalukan dirinya itu. Namun tingkah gadis ini sangat menarik. Membuat Neji ingin berlama-lama dalam suasana yang di lingkupi oleh emosi gadis manis dihadapannya ini.

Mata kelabunya sudah terkunci pada rubby milik Karin yang menatapnya dengan emosi. Pria itu sendiri mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya sejak Karin menarik kerah bajunya. Mata gadis itu indah. Neji mengakuinya. Tidak. Bukan hanya matanya, hidung, pipi bahkan bibir gadis itu sama indahnya. Apalagi pagi ini Karin tidak mengenakan kaca matanya. Wajah gadis itu juga bersih dari sapuan make-up yang biasanya ia pakai. Kilau jernih dari mata serupa permata itu seolah mengunci atensi Neji. Bibir pink yg merekah itu juga seolah memanggil Neji untuk kian mendekat dan menjemputnya dengan bibirnya sendiri.

Cup!

Neji kalah dengan pendiriannya. Satu kecupan mendarat di bibir Karin yang melongo pada detik itu juga. Keputusan yang sangat ia sesali karena satu kecupan itu membuat dirinya hampir hilang kendali. Rasa ingin mengecup kembali gadis itu muncul memenuhi otak dan hatinya yang biasanya teguh dalam segala situasi. Satu kecupan singkat itu rasanya tidak cukup bagi Neji.

"A-apa… apa yang kau lakukan?" Karin tergugu. Tangan kanannya yang semula mencengkeram kerah Neji meluruh begitu saja.

"Menghentikan perdebatan. Turun sekarang."

Neji keluar dari mobil dengan semburat merah di wajah stoic nya itu. Pria Hyuuga itu sudah melangkah sepuluh meter saat kemudian Karin menyusulnya keluar dari mobil dengan wajah yang memerah dan berjalan agak menunduk. Neji melihatnya. Senyum pria itu tertarik. Kali ini dua sudut bibirnya terangkat. Tulus.

.

.

"Hah? Kau serius? Pernikahan mereka batal?" Naruto menatap tak percaya pada apa yang sahabat raven nya katakan.

"Hn."

"Tapi kenapa? Mereja sudah pacaran begitu lama. Sudah bertunangan pula. Aw!" Gerakan antusias Naruto tanpa ia sadari membuat kakinya yang masih di gips itu di landa nyeri. Sasuke sendiri duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

"Shion mencintai asisten pribadinya. Begitu juga Neji mencintai orang lain."

"Neji mencintai orang lain? Siapa ?"

Pertanyaan Naruto mengundang seringai di bibir Sasuke.

"Sebaiknya kau tanyakan langsung pada yang bersangkutan."

"Teme. Kalau kau sudah tahu kenapa tidak kau beritahu langsung, sih?"

"Aku tidak mau ikut campur dalam urusan percintaan si Hyuuga itu. Sebaiknya kau tanyakan padanya. Langsung, Dobe. "

Naruto hanya berdecak dan mengerucutkan bibirnya. Ia sudah merasa bosan di rumah sakit, sementara paramedis memintanya untuk tinggal di gedung steril itu sampai seminggu kedepan. Lelaki pirang itu sudah akan menutup matanya saat sahabatnya yang menjadi topik pembicaraan mereka muncul dari pintu masuk diikuti oleh sang adik.

Keduanya melirik pada Sasuke yang juga melihat kedatangan mereka. Pria bersura raven itu melambai dan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada kedua anak manusia itu. Karin mengerucutkan bibirnya dan membuang mukanya melihat Sasuke. Begitu juga Neji yang hanya mendengus kesal.

"Neji! Ah, sayang kau juga datang? Ada apa dengan wajahmu? Kau marah pada Sasuke?" tanya Naruto pada adik kecilnya itu.

"Tidak ada apa-apa, Nii-san. Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Karin mengambil posisi duduk di sebelah Naruto. Tangannya naik meraih tangan sang kakak yang sudah tak lagi dililit perban. Naruto sendiri menarik tangan Karin ke pipinya. Hal yang dulu sering ia lakukan pada ibunya. Sungguh ia sangat menyayangi adiknya itu.

"Sudah lebih baik. Tinggal kakiku saja. Hehe." Naruto menunjukkan cengirannya. Pria itu kemudian beralih pada Neji.

"Oh ya, Neji. Apa benar pernikahanmu di batalkan?"

Neji melirik kesal pada Sasuke yang masih setia dengan seringai jahilnya.

"Apa Uchiha si tukang gosip ini yang mengatakannya?"

"Ya. Dia mengatakannya karena prihatin padamu, Neji." Naruto menjelaskan.

"Bingo!" Sasuke menjentikkan tangannya. Neji hanya mendecih kesal.

"Katanya kau juga mencintai wanita lain? Siapa?" tanya Naruto lagi. Pria kuning itu tidak menyadari bagaimana wajah sang adik berubah menjadi gugup.

"Kenapa tidak sekalian semua kau ceritakan, Uchiha?" Neji mendelik pada Sasuke.

"Ada hal-hal yang memang harus dilakukan dan dikatakan oleh orang yang bersangkutan secara langsung, Hyuuga. Apa kau akan mengatakannya pada Naruto sekarang?"

Neji terdiam. Tidak bisa membantah sang sahabat. Matanya kini beralih pada Uzumaki Karin. Gadis itu juga kini menatapnya, namun sedetik kemudian mengalihkan pandangannya. Karin menyesali keputusannya karena kini ia menatap pada Sasuke. Ia tidak mau melihat laki-laki itu kembali menjahilinya dengan tatapan menggodanya. Namun ternyata Sasuke tersenyum. Laki-laki itu tersenyum tulus. Bukan seringai jahil ataupun meremehkan yang biasa laki-laki itu berikan pada sahabat-sahabatnya.

Uchiha Sasuke berdiri.

"Karin kau mau ikut denganku keluar sebentar?" Sasuke bangkit dari duduknya dan meraih tangan Karin. Gadis itu berdiri hendak mengikuti langkah kaki panjang Sasuke.

"Uchiha berhenti." Suara tegas Neji menghentikan langkah keduanya.

"Biarkan Karin disini," tambah lelaki Hyuuga itu.

"Kau yakin?" tanya Sasuke.

"Hn." Neji mengangguk.

"Hei ada apa ini? Kenapa suasananya jadi seperti ini?" Naruto bertanya heran.

"Naruto aku—"

"Tunggu. Neji, orang yang kau cintai itu..." Naruto menatap serius pada sahabatnya itu.

"Ya Naruto. Aku mencintai—"

"KAU MENCINTAI SASUKE?! NEJI! Sejak kapan kau orientasi seksualmu berubah?!"

"Baka," / "Baka," / "Baka," ketiga orang yang selain Naruto mengucapkan kata yang sama.

"Aku tidak mencintai Sasuke! Pikiran menjijikkan dari mana itu!?"

"Sasuke tiba-tiba mengajak Karin keluar. Ada yang mau katakan padaku ya ah!—NEJI!" Naruto kemudian berteriak. Tangannya menutup mulutnya dramatis.

"Kau mencintaiku?" tanya Naruto dengan nada berbisik, namun dengan mata yang terbelalak.

Sasuke dan Karin hanya bisa menghela nafas pasrah sementara Neji menggelengkan kepalanya.

"Aku mencintai Karin," ujar Neji kemudian.

Naruto bernafas lega. "Ternyata kau masih menyukai perempuan. Syukurlah. Tu-tunggu! Kau mencintai Karin? Kau mencintai adikku?!"

"Hn." Neji memandang Karin dengan tatapan yang bisa membuat Sasuke muntah.

"Aku tidak tahan melihatmu, Hyuuga." Sasuke mengelus singkat kepala Karin kemudian keluar dari ruangan itu sambil menggelengkan kepala.

"Tunggu, tunggu! Sejak kapan kau menyukai Karin?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu."

"Jadi kau membatalkan pernikahanmu karena Karin?"

Neji menggeleng.

"Alasan kami membatalkan pernikahan ini adalah karena sejak awal kami tidak saling mencintai. Shion sudah lama menyukai Taruho. Namun ia terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya. Tapi memang tidak bisa ku pungkiri kalau aku menggunakan adikmu sebagai alasan agar dapat memudahkan rencana kami. Pada akhirnya ayahku setuju untuk membatalkan perjodohan itu."

Naruto kini mengalihkan atensinya pada sang adik yang sedari tadi terdiam menatap Neji.

"Apa Karin juga mencintaimu?" tanya pria itu. Karin kini menoleh pada Naruto. Pria itu menatap sang adik dengan wajah serius yang jarang ia perlihatkan.

"Karin. Apa kau mencintai Neji?"

"Nii-san, aku..." Wajah memerah Karin sudah cukup untuk menjadi jawaban. Naruto hanya tersenyum lembut pada sang adik.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau menjawab sekarang. Kemarilah." Karin kemudian mendekat pada sang kakak. Naruto sekali lagi meraih tangan Karin dan meletakkannya dipipinya.

"Aku tidak masalah kau mencintai siapapun, dear. Walaupun aku tidak menyangka kau mencintai salah satu dari sahabatku. Aku hanya ingin kau bahagia." Pria kuning itu tersenyum lembut.

"Nii-san." Karin menatap Naruto dengan mata yang berkaca.

"Jadi kau tidak masalah aku mencintai Karin?" tanya Neji kemudian.

"Kalau Karin juga mencintaimu, aku bisa apa? Lagipula aku yang memintamu untuk menjadi mentor adikku dan karena itulah ini semua bisa terjadi. Bukan begitu? Yah, walaupun aku merasa ini terlalu cepat. Tapi mau bagaimana lagi? Selain itu, kau tidak terlalu buruk."

Neji hanya mendengus. Namun siapapun bisa melihat bagaimana bahu pria itu terlihat lebih rileks dari sebelumnya.

"Terimakasih, Naruto."

"Tapi Neji. Bagaimana dengan ayahmu? Aku tidak mau ya adikku harus dipaksa mengikuti tradisi dan aturan kolot keluarga kalian!"

Seringa jahil muncul di wajah Neji.

"Untuk itu kau tidak perlu khawatir Naruto. Kemarin saat bertemu ayahku, adikmu sudah berhasil melakukan gebrakan untuk merubah tradisi keluarga kami."

Karin membelalakkan matanya.

"Apa maksudmu?"

"Dia mencium pipi ayahku."

"Hyuuga Neji!" Karin hampir berteriak di rumah sakit yang tenang itu. Gadis itu berjalan mendekat Neji untuk menutup mulut pria yang lebih tinggi darinya itu. Sebelum pria itu menceritakan lebih lanjut tentang kejadian semalam. Walaupun usahanya tidak berhasil karena kedua tangannya sudah ditahan oleh pria itu.

"HAH? Mencium pipi paman Hiashi?!"

"Ya begitulah. Nah, izinkan aku membawa adikmu. Beristirahatlah, Naruto. Sekali lagi terimakasih."

Neji kemudian menarik tangan Karin meninggalkan ruangan itu. Naruto yang kini sendirian hanya menghela nafas. Senyum tipis muncul di wajah tampannya.

"Tou-san, Kaa-san. Karin kita sudah besar ternyata."

.

.

.

"Sudah kubilang jangan mengatakan apapun pada Naruto-nii tentang kejadian semalam!" Karin akhirnya mengeluarkan omelannya saat mereka sudah tiba dimobil pria itu. Ia susah payah menahan dirinya untuk tidak meneriakai pria itu sepanjang jalan menuju parkiran karena rumah sakit saat itu lumayan ramai pengunjung. Ia tidak mau karena teriakannya orang yang hampir sehat akan kembali drop.

"Aku juga sudah bilang kalau aku tidak janji." Neji berujar tenang sambil memasang sabuk pengamannya.

"Aku melakukan semua hal memalukan itu tanpa sadar. Kalau tidak mana mungkin aku mempemalukan diriku sendiri di rumah orang lain!"

"Hn, aku tahu. Pakai sabuk pengamanmu." Naji mulai meyalakan mesin mobilnya.

"Tidak mau! Aku masih kesal padamu!" Karin melipat tangannya kesal dan membuang mukanya kearah jendela di sampingnya. Neji hanya bisa menarik sudut bibirnya. Sungguh ia sangat gemas dengan gadis di sebelahnya ini. Ingin rasanya Neji mencubit pipi Karin yang kini menggembung karena kesal padanya.

Pria itu kemudian membuka sabuk pengamannya. Tubuhnya condong kearah Karin untuk menarik sabuk pengaman milik Karin disisi kiri gadis itu. Posisi Neji kini berada tepat di depan wajah Karin. Gadis itu kaget karena tidak menyangka Neji akan menarik sabuk pengamannya. Ia refleks menoleh hingga mengakibatkan ia tanpa sengaja mencium pipi si sulung Hyuuga itu.

Neji juga sama kagetnya, ia menoleh pada Karin hingga wajah mereka saling bertatapan. Iris peraknya menatap intens pada permata rubby Karin yang terbelalak karena kaget dengan aksinya sendiri.

"Kali ini kau melakukannya dengan sadar kan?" tanya pria itu.

"A-apa?" Karin tergagap.

"Mencium pipiku."

"A-aku.. aku tidak sengaja. Sumpah!"

"Tidak sengaja?"

Karin mengangguk dengan wajah seriusnya yang kembali mengundang senyuman tipis dari Neji.

Klek! / Cup!

Neji berhasil memasangkan sabuk pengaman Karin. Bersamaan dengan berhasilnya ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Karin sebelum pria itu menjauhkan wajahnya.

"Kalau aku memang sengaja."

Karin menatap tak percaya pada pria yang kini memasang sabuk pengamannya sendiri dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.

"Neji, kau..!" Karin memegang pipinya yang baru saja dikecup oleh Neji.

"Hn. Kenapa?"

"Kau mencium pipiku, baka!"

"Baka? Hei sopanlah sedikit. Aku ini lebih tua lima tahun darimu." Neji masih fokus pada jalanan di depannya.

"Karena kau lebih tua kau jadi bisa seenaknya mencium pipiku?"

"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh mencium pipi kekasihku?"

"A-apa?"

"Apanya yang apa?"

"Siapa yang kekasihmu?!" Karin memekik kesal namun tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah total.

"Oh jadi kau tidak mau?"

"Iya, aku tidak mau!"

Neji menyeringai.

"Kau yakin?"

"Yakin!"

"Padahal kalau aku jadi kekasihmu, kau akan mendapatkan banyak keuntungan loh."

"Keuntungan apa?" Karin terlihat antusias. Ia bahkan tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di kampus tempat gadis itu menuntut ilmu. Neji mengambil paper bag dari bangku belakang dan memberikannya pada Karin.

"Ganti bajumu di mobil. Ini baju beserta tas dan bukumu. Kau ada kelas jam 1 kan?"

Karin melihat sekeliling dan sadar bahwa mereka sudah ada di kampus.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

"Kau kan tidak mau jadi kekasihku. Cepat ganti bajumu, kau bisa terlambat." Neji kemudian keluar dari mobilnya untuk memberikan ruang pada Karin.

"Neji!"

.

.

.

Karin melalui tiga mata kuliah hari itu dengan gusar. Kenapa? Tentu saja karena Neji. Pria yang sejak pagi tadi berubah jadi cerewet itu kini membuatnya galau. Ini memang salahnya karena mengatakan dengan yakin kalau ia tidak mau jadi kekasih Neji. Padahal ia sendiri yang menyukai pria itu dan menangis saat tahu pernikahan Neji dan Shion di percepat. Setelah Karin keluar dari mobil untuk berganti baju, pria itu secepat kilat langsung meninggalkannya.

Menjadi kekasih pria itu? Tentu saja Karin mau. Hanya saja ia terlalu malu untuk mengakui langsung di depan Neji. Apalagi setelah pria itu menggodanya dengan mencium pipinya siang tadi. Saking malunya ia mengeluarkan kata-kata itu tanpa berpikir. Sifat tsundere yang ia sendiri lupa dari mana ia mewariskannya.

Jam sudah menunjukkan puluk empat sore. Karin keluar dari kelas terakhirnya hari itu. Ia berjalan lunglai menuju parkiran. Dalam hati bertanya-tanya apakah pria itu menjemputnya atau tidak karena saat berpisah tadi, pria itu tidak mengatakan apapun.

"Karin!" Karin menoleh pada suara yang memanggilnya. Ino dan Sakura melambai tak jauh darinya. Sepertinya mereka juga baru selesai dengan kelas terakhir mereka.

"Aku sempat mengira itu bukan kau karena pakaianmu. Kau tampil sangat alim sekarang, hm?" tanya Ino.

Karin memandang pada pakaian yang tadi Neji berikan. Sebuah dress selutut berwarna putih yang di balut dengan cardigan coklat berbahan rajut. Tipe pakaian yang akhir-akhir ini ia kenakan dan ia tidak tau dari mana rasa nyaman itu muncul saat mengenakan pakaian yang Neji bawakan atau sarankan. Karin hanya tersenyum.

"Sakura, lihat senyuman gadis ini." Ino berujar pada Sakura.

"Auramu benar-benar berubah Karin. Kau terlihat manis sekali." Sakura ikut tersenyum.

"Apa kau mengejekku?"

Senyuman Sakura semakin lebar. Gadis pink itu menggeleng dan melihat pada pakaiannya dan Ino yang seksi.

"Sepertinya aku juga harus mengubah diriku menjadi lebih baik. Sepertimu." Ino mengangguk mendengar perkataan Sakura.

Karin menatap pada kedua sahabatnya itu. Apa ini artinya Neji berhasil merubah tiga orang sekaligus? Laki-laki itu memang luar bisa.

"Eh bukannya itu mobil lelaki yang jadi mentormu?"

Ketiga gadis itu melihat pada sebuah mobil yang berhenti tepat didepan mereka.

Hyuuga Neji keluar dengan setelan jas hitam yang terlihat sangat pas di tubuh jangkung pria itu. Karin dapat melihat bagaimana kedua sahabatnya menatap kagum pada Neji. Lelaki Hyuuga itu memang terlihat lebih tampan dari biasanya. Pria itu hanya mengangguk pada Ino dan Sakura sebelum menarik tangan Karin untuk masuk kedalam mobil tanpa sepatah kata pun. Neji membukakan pintu untuk Karin. Hal yang sebelumnya tidak pernah lelaki itu lakukan.

"Aku pergi dulu Ino, Sakura." Kedua sahabatnya itu mengangguk dan melambaikan tangan mereka melihat Karin akhirnya masuk diikuti oleh Neji.

"Aura mereka berdua..." Ino berujar saat Mobil itu hilang di balik gerbang besar kampus mereka.

"Benar. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka." Sakura menambahkan.

"Tapi entah kenapa aku senang melihat Karin bersama pria itu."

"Kau juga merasa begitu?"

Kedua gadis dengan warna rambut berbeda itu mengangguk kemudian cekikikan.

.

.

.

Diam menghiasi kendaraan itu sampai sepuluh menit perjalanan mereka. Dari jalan yang mereka lalui Karin tahu bahwa Neji mengajaknya ke Style Coffe Shop. Pastinya untuk melakukan pekerjaan paruh waktunya yang sudah lima hari ia tinggalkan. Karin tidak suka suasana diam dan canggung ini. Atau hanya dia yang merasa canggung? Pria itu tetap tenang dengan pandangan yang fokus ke depan. Gadis itu kemudian berdeham.

"Tumben sekali kau terlihat rapi." Neji menoleh sekilas pada Karin.

"Memangnya selama ini aku berpakaian tidak rapi?"

Karin mendelik.

"Tapi kau tidak pernah memakai jas dan dasi lengkap seperti ini."

Neji melihat pada pakaiannya.

"Hn. Tadi aku ada pekerjaan."

Tidak seperti tadi siang yang banyak bicara, pria itu malah seperti kembali ke sifat aslinya. Karin tidak tahu harus menanyakan apa lagi. Ia memutar otaknya dan memikirkan apa lagi yang kira-kira bisaia tanyakan untuk memecah kesunyian. Dalam hati merutuk kenapa kali ini perjalanan mereka terasa lama. Gadis itu mengingat percakapan mereka siang tadi, sebelum kemudian berdeham lagi.

"Soal yang kau katakan siang tadi."

"Memangnya aku mengatakan apa?"

Apa laki-laki benar-benar tidak ingat? Bukannya dia orang yang jenius? Secepat itu lupa?

"Tentang... tentang keuntungan yang bisa kudapatkan kalau aku menjadi kekasihmu." Karin mengatakannya dengan malu-malu.

"Maaf saja. Tawaran sudah tidak berlaku."

"A-apa?! Mana mungkin bisa begitu!" Karin memandang tak percaya.

"Kenapa tidak mungkin?" Akhirnya mereka sampai. Neji membuka sabuk pengamannya.

"Kau tidak mengatakan terkait batas waktu!" Karin mengikuti Neji membuka sabuk pengamannya.

"Aku yang membuat penawaran itu. Semuanya terserah padaku." Neji kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk coffe shop miliknya itu. Karin turun dari mobil dan mengikuti langkah panjang Neji.

"Tidak bisa begitu!"

"Tentu saja bisa." Neji berhenti di depan pintu masuk berbahan kaca itu.

"Tidak bisa!" Karin juga berhenti tepat di depan Neji.

"Kenapa? Kau sebegitu inginnya jadi kekasihku?"

"Iya!" Karin menjawabnya terlalu cepat. Tidak menyadari bahwa sedari tadi Neji tengah mempermainkannya. Pria itu akhirnya menyeringai. Karin tersadar. Wajah gadis itu hampir semerah rambutnya.

"Err. Maksudku... aku... eh?" Karin terdiam saat Neji meraih kedua tangan gadis itu.

"Jadi... kau mau jadi kekasihku atau tidak?" tanya Neji. Wajah Karin kian panas.

"Aku.. aku mau." Karin akhirnya menjawab dengan wajah memerahnya. Jawaban yang membuat Neji menampilkan senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan. Karin sampai terpesona pada senyuman pria berambut coklat itu.

"Kalau begitu, selamat datang di kencan pertama kita."

"Apa? Kencan pertama?"

Neji membuka pintu coffe shop itu hingga suara lonceng tanda pelanggan masuk berdenting. Ruangan coffe shop yang biasa ramai itu kosong melompong. Tidak ada seorangpun disana. Diantara semua meja yang tersusun rapi itu ada sebuah meja ditengah ruangan yang tampak berbeda sendiri. Meja itu ditutupi oleh taplak meja berwarna merah dengan lilin dan juga mawar merah dalam vas kecil sebagai hiasan. Sebuah bucket mawar merah juga dengan ada di sana. Neji menarik Karin menuju meja tersebut. Pria itu memberikan bucket bunga diatas meja pada Karin yang masih terdiam karena kaget akan apa yang Neji siapkan. Gadis Uzumaki itu hanya bisa menerima bunga itu dalam diam. Neji kemudian menggeser kursi agar Karin bisa duduk.

"Neji-san, kau menyiapkan ini semua?" Karin akhirnya bertanya setelah mengumpulkan semua kesadarannya. Bunga di tangannya tampak sangat cantik dan juga wangi.

"Hn. Kau menyukainya?" tanya Neji. Pria itu masih berdiri di belakang Karin.

Karin mengangguk. "Terimakasih. Jadi karena ini kau tampil rapi?" Gadis itu mencium aroma wangi dari bunga di tangannya.

"Hn."

Neji kemudian mengelus surai merah Karin dari belakang sebelum beranjak kedapur dan sesaat kemudian kembali dengan sebotol wine dan dua buah gelas di tangannya.

"Ini masih terlalu cepat untuk makan malam, jadi aku membawa ini dulu." Neji kemudian duduk lalu menuangkan wine itu pada dua gelas dan mendekatkannya pada Karin.

"Menurutku ini juga masih terlalu siang untuk meminum wine, Neji-san." Karin tersenyum namun menerima wine yang Neji berikan dan meminumnya sedikit.

"Ini sudah sore." Karin tertawa kecil.

"Aku bisa mabuk bahkan sebelum makan malam."

Neji menyeringai.

"Aku tahu toleransi alkoholmu tinggi. Butuh tiga botol wine untuk membuatmu mabuk." Wajah Karin memerah. Ia teringat pada kejadian saat ia datang dan membuat rusuh di kediaman Hyuuga. Karin kemudian meneguk habis wine dalam gelasnya.

"Tapi bukan berarti kau harus meminum semuanya sekaligus, sayang." Neji mengambil gelas dari tangan Karin

Wajah Karin kembali memerah. Apa Neji baru saja memanggilnya sayang?

"Kau jadi berbeda." Karin berujar setelah mengontrol rasa panas yang entah kenapa hanya berpusat di wajahnya.

"Berbeda?" Neji meminum sedikit winenya.

"Kau jadi banyak bicara. Seperti bukan dirimu."

"Benarkah?"

Karin mengangguk.

"Kau tahu, aku hanya banyak bicara pada orang-orang tertentu."

"Orang-orang tertentu?" tanya Karin.

Kali ini Neji yang mengangguk. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan mendekat pada Karin. Ia mengkungkung gadis itu dengan satu tangannya berada pada punggung kursi yang gadis itu duduki dan tangan satunya lagi bertopang pada meja. Karin pun menoleh pada pria di sampingnya. Neji menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan Karin.

"Keluargaku, sahabat-sahabatku dan juga..." Neji menjeda kalimatnya dan menghadiahi Karin dengan kecupan dibibir gadis itu.

"Kekasihku."

Sepertinya Neji berencana membuat wajah Karin memerah sepanjang hari itu. Mata keduanya masih saling bertatapan.

"N-neji-san,"

"Hn?" kedua tangan Neji kini berada dipipi Karin. Pria itu kemudian memberikan satu kecupan lagi di tempat yang sama. Kali ini ia menempelkan bibirnya sedikit lebih lama sebelum kemudian menarik dirinya.

"Maaf. Seharusnya aku menahan diri—" Neji beranjak hendak kembali ke kursinya ketika Karin menarik tangan lelaki itu. Lebih tepatnya Karin menarik ujung jas yang di kenakan Neji. Karin sendiri sudah berdiri dari duduknya.

"Lakukan dengan benar," ujar gadis itu.

"Hn?"

Karin kemudian semakin mendekatkan dirinya pada Neji. Satu tangannya menarik kerah jas Neji dan satu tangannya sudah melingkari leher kokoh sang kekasih.

"Cium aku dengan benar, baka!"

Karin menempelkan bibirnya pada bibir Neji, kemudian mulai melumat bibir atas dan bawah pria itu bergantian. Neji terdiam untuk sesaat, sebelum kemudian tersenyum dan meraih pinggang kekasih merahnya dan mempedalam ciuman mereka. Ciuman yang berlangsung cukup lama sampai akhirnya Karin melepaskan tautan mereka karena kehabisan nafas.

"Hah... hah... Aku sudah kehabisan nafas, kenapa kau masih baik-baik saja?" tanya Karin terengah pada Neji yang masih tampak tenang. Neji mengusap bibir Karin yang bengkak dan basah dengan ibu jarinya.

"Kau ingat tawaran tentang keuntungan yang kau dapat kalau menjadi kekasihku?" Karin mengangguk.

"Ini salah satunya. Aku pencium yang hebat."

"Apa itu bisa disebut keuntungan?"

"Tentu saja. Silahkan ambil oksigen sebanyak yang kau bisa. Karena aku belum selesai."

Neji pun kembali menjemput bibir Karin dengan bibirnya. Membawa gadis itu dalam ciuman yang panjang dan dalam. Melupakan semua masalah yang terjadi dan melupakan makan malam mereka.

.

.

.

END

.

.

.

Anyeong yereobun.

Yana disini. Saya hanya merasa harus menyelesaikan semua fict yang masih menggantung.

Mohon bantuannya.

Yana Kim ^_^

.

.

.