Dua kali ditikam dan rasanya masih sakit seolah itu adalah pertama kalinya. Hinata terjatuh dalam posisi berlutut dan meringis tak berdaya sembari mencengkram bagian dada. Dia banyak berkeringat dan air mata sudah membasahi pipi. Satu-satunya hal baik adalah dia tidak pingsan.
"Hinata!" Sakura menjadi yang pertama menjerit. Seperti yang diduga, Hinata muncul di tempat yang sama. Buru-buru Kiba berlari menghampiri. Dia memeluk Hinata erat seperti yang Sakura lakukan.
Persetan dengan tatapan tanya dari para pejalan kaki. Mereka berdua berfokus hanya pada Hinata yang sedang menjerit keras dan menangis histeris. Mereka memeluknya dalam diam sampai dia berhasil menenangkan diri.
"Aku benar-benar membencinya!" Hinata merasa seperti jiwa dan raganya hancur. Dia terisak keras, entah senang atau marah mengingat dirinya masih hidup setelah menerima rasa sakit luar biasa itu.
Butuh lebih dari sepuluh menit, tapi beruntungnya Hinata berhasil menenangkan diri. "Kau ditikam lagi?" tanya Kiba. Seharusnya tidak usah ditanyakan karena Hinata membuatnya jelas dengan menyentuh dadanya dan wajahnya pucat.
"Aku benar-benar akan gila!" Hinata menjerit frustasi. Sakura menyita perhatiannya dengan membantu menghapus bekas air mata di pipinya.
"Yang penting kau baik-baik saja," katanya. Dia menatap langit, melanjutkan, "kami sudah tiga jam menunggu, ayo pulang." Dia membuat Hinata menghela nafas dan pasrah membiarkan Sakura menggandeng dan membawanya pergi.
"Aku tidak tahu apakah hidupku bisa menjadi lebih gila lagi." Hinata tidak berdaya, dia sampai pada titik menerima semua hal tanpa tenaga untuk berkomentar atau mengeluh. "Bagaimana cara aku menyelesaikan ini bila berbicara saja aku tidak bisa? Aku tidak bisa bertahan di depan Naruto hanya untuk dua menit. Ini membuatku gila."
Hinata memutar knob pintu dan memasuki kamar, terdiam menyadari seseorang berdiri di dalam sana. Itu bukan Sakura dan Kiba, mereka pulang saat jam menunjuk pukul delepan malam.
"Shion," sebut Hinata. Ini gila karena Hinata tidak melihat Shion di dalam cermin tapi samping ranjangnya. Berbeda dari sebelumnya, Shion tidak lagi bersikap seperti patung, dia berbalik menghadapnya.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
BENTENG KELEMAHAN
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Benteng Kelemahan by Authors03
.
.
Chapter 13
.
.
Kepala Hinata sakit seketika, dunianya menjadi semakin gila dan membuatnya tertekan. "Kau benar-benar nyata?" Hinata menghampiri Shion untuk menyentuhnya tapi perempuan itu mengambil langkah mundur menghindari.
Shion mengulurkan tangan membentuk petanda untuk berhenti, memberitahu, "bayanganku akan menghilang bila kau sentuh, tolong jangan melakukannya." Suaranya sangat lembut dan memanjakan telinga, tapi kepala Hinata terlalu stress untuk memuji.
Hinata memejamkan mata dan mengurut alis. Dua menit kemudian, Shion masih berdiri di depannya. "Kau benar-benar nyata, Shion?" ulang Hinata.
"Aku tidak nyata, Hinata. Semua yang kau lihat adalah bayanganku."
Hinata terlalu lelah sampai tidak bisa banyak bereaksi. Dia menghela nafas guna menjernihkan pikiran sebelum memulai pembicaraan, "kau adalah patung sebelumnya dan sekarang bayangan? Apa yang akan terjadi besok? Kau nyata? Bukankah kau sudah mati? Bagaimana bisa orang mati punya bayangan?" Hinata mengingat apa yang terjadi sebelumnya, bergumam, "dua kali aku ditikam Naruto dan duniaku menjadi semakin gila."
"Karena itu ada hubungannya, Hinata," ungkap Shion.
Hinata menatapnya cukup lama sebelum merespon, "apa maksudmu?" Hinata meragukan Shion sungguh ada di depannya tapi lagi-lagi dia melangkah mundur ketika dirinya mendekat.
"Jika kau menyentuhku, kau harus ditikam sekali lagi agar kita bisa bertemu." Kata-kata menggerikan itu membuat Hinata menarik tangannya dan menciptakan lebih banyak jarak.
"Apa maksudmu?" Hinata menyadari Shion punya banyak hal untuk dikatakan.
Shion bukan punya banyak, tapi memang memiliki banyak untuk dikatakan. Akhirnya kesempatan itu ada, dia berharap Hinata tidak mengacau karena rasa penasarannya. "Pedang yang Naruto gunakan untuk menikammu adalah hadiah dariku. Saat membuat pedang itu, aku memasukkan kekuatanku dan menggunakannya untuk menghubungkan kami dan agar Naruto bisa memanggilku setiap kali ingin bertemu. Karena itu, bayanganku muncul setelah dia menikammu menggunakan pedang itu."
Hinata mengangkat jari dan mengambil nafas tapi mulutnya kembali tertutup membatalkan semua kata-kata yang hendak keluar. Satu menit tenggelam dalam pikiran, dia melanjutkan, "maksudmu, Naruto membunuh aku menggunakan pedang yang kau berikan sebagai kado?" Hinata menatap tak percaya, tidak menyangka Naruto bisa bersikap seiblis itu. "Kedua, kau adalah hantu? Kau benar-benar telah mati yang artinya di depanku sekarang adalah hantu?"
Mengabaikan ocehan Hinata, Shion menjelaskan, "Aku terpaksa menarikmu memasuki dunia itu karena kita tidak bisa terhubung. Ketika Naruto menikammu, kekuatanku menyangkut pada tubuhmu dan aku bisa menggunakannya untuk muncul."
Kejujuran itu menggerikan, Hinata dibuat tak percaya dengan telinganya sendiri. "Maksudmu, kau adalah alasan mengapa aku muncul di sana? Kau melakukannya saat tahu Naruto akan membunuhku?"
"Maafkan aku." Seolah-olah belum cukup memecahkan kewarasan Hinata, Shion tak ragu mengatakan lebih banyak kebenaran menggerikan, "Aku melihat semuanya. Pertama kali kau bertemu Naruto dan apa yang terjadi di antara kalian. Aku melihat semuanya dan tidak ada yang bisa aku katakan selain maaf."
Hinata melonggo, lidahnya kelu kesulitan merangkai kata-kata. "Maksudku, kau sudah mati." Semakin binggung Hinata, dia butuh lebih banyak penjelasan. "Kau sudah mati tapi kau mengaku bisa melihat semua yang terjadi. Lebih buruk, semua kesialanku adalah ulahmu."
"Aku telah mati tapi jiwaku gentayangan di dunia dan aku tidak melakukannya untuk menyakitimu tapi aku berharap aku bisa pergi dengan tenang." Shion mengatup bibir sejenak, penyesalan terpancar dari raut wajahnya kala menyadari gejolak amarah Hinata. "Aku tidak punya banyak waktu. Aku perlu kau untuk tenang agar aku bisa menjelaskan apa yang terjadi."
"Aku sangat tenang!" pekik Hinata sepenuh hati, jauh dari kata tenang. Cuma orang gila yang bisa tenang dalam keadaan tak normal ini, pikirnya.
Shuon tidak merespon, diam menjaga kontak mata sampai Hinata memejamkan mata dan menghembus nafas panjang. "Oke, aku tenang sekarang," kata Hinata setelah tidak ada lagi amarah. Dia berpindah duduk ke pinggir ranjang, menatap Shion berdiri di depannya. "Tolong beritahu aku, sebenarnya apa yang terjadi."
"Di wilayah kami, terdapat dua jenis penyihir dan aku adalah salah satu dari mereka. Kekuatanku adalah aku bisa memberi jiwaku untuk menyelamatkan seseorang di ambang kematian. Kau pasti telah menebak, tentu aku harus relakan nyawaku sebagai gantinya."
Ekpresi wajah Hinata berubah datar. Shion melanjutkan, "kau di ambang kematian setahun yang lalu dan aku memberikan jiwaku untuk menyelamatkanmu. Namun, ada harga yang harus kau bayar. Kau berjanji untuk menghibur Naruto dan membuatnya kembali ceria tapi kau tidak melakukan apa pun. Karena itu mimpi burukmu bertambah buruk. Kau bisa sebut itu adalah hukuman atas janji yang kau ingkari."
Hinata menyangkal, "aku seratus persen yakin tidak membuat janji apa pun denganmu."
"Kau melakukannya. Di alam bawah sadarmu." Jawaban itu membuat Hinata meradang.
Dia berdiri dan menjerit, "aku bahkan tidak sadar waktu itu! Seperti katamu, aku hampir mati, aku tak sadarkan diri. Aku tidak tahu apa pun. Itu adalah kau yang membuat janji dan memaksa aku."
"Kau melakukannya, tapi tidak ingat." Shion tetap tenang, tidak terpancing oleh emosi Hinata. "Dan itu adalah masalahnya. Karena kau tidak ingat."
Hinata menekan kepalanya yang serasa seperti menggeluarkan uap panas. Otaknya seolah akan meledak dibuat penjelasan Shion. "Jadi, maksudmu adalah aku hanya bisa lepas dari semua kegilaan ini setelah berhasil membuat Naruto melupakanmu dan merelakanmu." Sekali anggukan dari Shion seolah menarik keluar jiwa Hinata. Sangat stress sampai Hinata merasa seperti akan memuntahkan darah.
"Kau harus melakukannya," kata Shion merebut perhatian Hinata kembali. "Kau mungkin tidak bisa melihatku tapi jiwaku tersesat selama kau mengabaikan perjanjian kita. Satu-satunya cara untuk mengakhiri mimpi burukmu adalah penuhi janji yang telah kita buat."
Hinata menyerah. Membujuk Naruto? Dia tersenyum miris, mempertanyakan, "kau mengaku melihat semuanya, saat dia membunuh dan membenci aku. Sekarang beritahu aku bagaimana cara aku bisa membujuk dia? Bahkan apakah kau tahu rasanya dibenci di saat kau bahkan tak melakukan apa pun! Kau tahu sakit rasanya ditikam? Dia memutar pedang itu untuk menyakiti aku lebih banyak lagi. Dia gila! Dia tidak bisa dibujuk."
Shion meremas tangannya di depan perut. Dia tersenyum kecut dan terkesan tak acuh saat memberitahu, "maafkan aku. Kau boleh berpikir aku egois dan kejam karena memasukkanmu dalam masalah yang bukan urusanmu tapi bagaimana pun aku telah menyelamatkanmu. Aku menyelamatkan hidupmu, membuat teman-teman dan keluargamu jauh dari kata berduka. Tidakkah kau berpikir aku pantas mendapatkan sesuatu dari itu ...?"
TO BE CONTINUE ...
Hi, guys
Semoga kalian suka bab ini juga yaa
Oh iya untuk kamu yg banyak ninggalin komentar, terima kasih banyak. Aku sangat senang ada temannya ngehehe.
Kemudian, aku ada dua lagi cerita baru dan aku benar2 ga sabar mau publish. Kalau pembaca lamaku masih ada, mereka pasti tahu betapa gila aku nulis, pernah rutin up tiga cerita sekaligus tp aku pengen jalan perlahan kali ini
Lope you guyss
