Chapter 18: The Truth is, It's Always True


"Jadi, bagaimana? Kau menikmati pertunjukannya?" tanya Harry pada Ron.

Ron yang sedang berbaring di kasurnya mengangguk singkat. "Well, tidak seburuk yang kukira."

"Kau benar-benar menyaksikannya dari awal sampai akhir?" tanya Harry lagi.

"Tentu saja," Hermione yang baru saja masuk menjawab. Ia membawa piring berisi kukis yang baru saja dipanggangnya bersama Mrs. Weasley. "Setiap kali dia hampir tertidur, aku akan mencubitnya hingga terbangun."

Harry tertawa. Ia kemudian mengambil satu kukis dan mencicipinya, lalu mengacungkan jempol pada Hermione. "It's good, Hermione."

Hermione tersenyum bangga. Ia juga mengambil satu, memberikannya pada Ron dan memaksanya untuk makan. Ia juga memaksa Ron untuk memujinya, tidak peduli jika Ron memang berniat untuk memujinya. Sedang Harry melihat interaksi keduanya dengan senyum yang masih belum luntur di wajahnya. Hal itu membuat Hermione penasaran.

"Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?" tanya Hermione. Ia berhenti sebentar dengan Ron untuk berbicara dengan Harry. "Suasana hatimu terlihat bagus sejak tadi. Apa yang bisa membuatmu sebahagia itu?"

Senyum Harry semakin mengembang, seolah ia sudah lama menantikan pertanyaan itu. "Aku ada kencan dengan Cedric malam ini!" jawabnya dengan wajah berseri-seri.

Hermione dan Ron sama sekali tidak terlihat takjub dan terkesan. Mereka hanya memasang tampang datar.

Ron adalah yang pertama berkomentar. "Apa dia merasa bersalah karena berbohong padamu soal mengerjakam tugas di rumah temannya itu?"

Harry menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau pikir dia hanya akan mengajakku kencan saat dia merasa bersalah? Lagian, aku tidak bertanya apa-apa soal malam itu."

"Kau tidak..." Ron bangkit dari kasurnya, ikut duduk di bawah bersama kedua sahabatnya. "Kau tidak membahas itu dengannya?"

Hermione mengernyit. Ia satu-satunya yang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan kedua lelaki ini. "Memangnya Cedric melakukan apa?"

Ron menghela napas, lupa kalau belum mengirimkan informasi yang ia dapatkan dari Draco pada Hermione. Padahal ini terjadi satu minggu yang lalu. "Cedric mengaku pada Harry bahwa dia akan mengerjakan tugas di rumah temannya. Tapi kemudian Dra... salah seorang temanku mengirimkan foto kalau Cedric ternyata sedang ada di sebuah bar."

Hermione terkejut hingga matanya melebar. Ia berbalik menghadap Harry. Tampak ada kemarahan di wajahnya. "Dia jelas-jelas berbohong padamu, dan kau masih membiarkannya?" ia bertanya dengan suara tinggi. Hermione memang dari dulu menyuruh Harry untuk lebih tegas terhadap Cedric.

"Well, dia dan temannya mungkin lelah belajar dan memutuskan untuk istirahat."

"Dia mengatakan hal yang sama saat kutunjukkan foto itu," adu Ron.

Hermione menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap Harry seperti seorang ibu yang ingin menceramahi anaknya tentang mana yang baik dan mana yang buruk. "Harry Potter," Hermione selalu memulai dengan menyebut namanya, "aku mengerti jika kau tidak mau ada masalah serius di dalam hubunganmu. Tapi, jika kau membiarkan Cedric melakukan apa pun yang dia mau, entah masalah apa yang akan dia bawa padamu."

Harry menundukkan pandangannya. Kalau Hermione sudah bicara dengan nada suara seperti ini, ia sudah tidak bisa lagi menggunakan alasan yang penuh omong kosong. Harry hanya akan terus diam hingga Hermione akhirnya memutuskan untuk berhenti bicara. Namun sepertinya kali ini Hermione tidak akan berhenti secepat itu.

"Kau tahu jika dia berbohong padamu," Hermione melanjutkan, "kau tahu jika dia menyembunyikan sesuatu darimu. Kau selalu memilih untuk tidak mau tahu. Kau tidak mau jika saat kau mengetahui sesuatu, hubungan kalian tidak akan baik-baik saja. Tapi, Harry, apa kau senang dengan hubungan yang seperti ini?"

Pertanyaan Hermione seperti menampar Harry tepat di wajahnya. Ia tidak bisa mengangguk maupun menggeleng, apalagi bersuara. Harry sebenarnya tahu pasti apa jawabannya. Ia hanya tidak mau mengucapkannya. Harry takut untuk mengucapkannya.

Hermione masih terus memberikan ceramahnya pada Harry. Tapi Ron yang juga terus diam dari tadi mulai merasakan bahwa suasananya berubah menjadi terlalu serius. Hal ini membuat Harry merasa semakin canggung. Pada akhirnya Ron meminta Hermione untuk melanjutkannya lagi kapan-kapan. Ron kemudian mengubah topik pembicaraan menjadi lebih ringan dan santai.

Saat sudah jam delapan malam, Harry pun pamit. Ia mengatakan bahwa Cedric akan datang untuk menjemputnya. Ia buru-buru keluar sebelum Hermione sempat memberikan ceramah sesi kedua. Ia bahkan tidak sempat berpamitan pada Mrs. Weasley dan keluar dengan terburu-buru.

Di luar, sudah ada mobil (miliknya) yang baru saja berhenti. Ia langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. Harry langsung memberikan satu kecupan pada Cedric begitu masuk ke mobil.

Wajah Harry cerah sekali, ia tersenyum hingga matanya ikut tersenyum. "Jadi, ke mana kita hari ini?" tanyanya bersemangat. "Aku tidak keberatan jika kita hanya berjalan-jalan sebentar di luar dan kemudian langsung pulang. Aku bahkan lebih suka jika kita langsung pulang dan berkencan di rumah." Harry menyikut Cedric dengan senyum jahil di wajahnya.

Di luar keinginan Harry, Cedric tidak bereaksi antusias. Bahkan tersenyum pun tidak. Cedric malah terlihat gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Harry tentu menyadari keanehan di wajah Cedric dan bertanya apa yang ingin dikatakannya.

Cedric berdeham sebelum bicara. Matanya terus saja bergerak, namun tidak mau bertemu pandang dengan Harry. "Er, Harry," Cedric memulai dengan suara yang jelas terdengar gugup, "kurasa kita harus menyimpan kencannya untuk besok..."

Senyum cerah dan wajah bersemangat Harry seketika memudar. Bahunya merosot dan sorot matanya menjadi sedih. Harry sampai tidak tahu harus merespon seperti apa.

"My friend. He, just, er, broke up with his gilrfriend," Cedric mencoba menjelaskan. "Dia... membutuhkan teman-temannya untuk menemaninya sekarang. Dia butuh dihibur. Dan, yah, karena dia benar-benar teman yang dekat denganku, aku tidak bisa membiarkannya mabuk dan menangis terus-menerus."

Dengan rasa penyesalan yang besar, Cedric meraih tangan Harry, menggeggamnya dengan erat. "Please, Harry," mohonnya dengan wajah memelas.

Harry menelan ludah dan berkedip beberapa kali. Ia tidak mau menangis hanya karena hal sepele seperti ini. Tapi Harry juga tidak mau memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. "Tidak bisakah kau hanya mengirimkan pesan padanya? Dia memang temanmu, tapi aku adalah pacarmu."

Cedric menggeleng, tegas dengan jawabannya. "Kau tidak bisa mengatakan bahwa temanku tidak penting Harry. Hanya karena kau tidak mengenalnya, maka kau akan membiarkannya begitu saja?"

"B-bukan itu maksudku," sekarang Harry yang merasa bersalah. Ia menarik napas dalam, menatap Cedric yang begitu memohon. Baiklah, Harry menyerah. Selalu seperti itu. "Hm... kita bisa berkencan kapan-kapan."

Cedric akhirnya tersenyum. Ia mengelus punggung tangan Harry dengan lembut dan memberi kecupan di pipinya. "Thanks," ucapnya dan mengusap rambut hitam Harry. "Kalau begitu biar aku antar kau pulang dulu."

Harry menggeleng. "Tidak, antarkan saja aku ke kantor ibuku, dia masih ada di sana. Dan gedungnya lebih dekat daripada tempatku, jadi kau bisa menemui temanmu lebih cepat."

Cedric mengangguk dan segera mengemudikan mobil. Pandangannya hanya tertuju pada jalan, tidak sekali pun menoleh pada Harry. Karena itulah ia tidak bisa melihat mata Harry yang sudah memerah menahan air matanya.

Cedric menurunkan Harry di depan kantor ibunya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Tapi Harry tidak melangkahkan kakinya pada gedung mewah itu. Harry malah mulai berjalan dengan kakinya yang lemas. Ia menenangkan dirinya. Ia mendongak, menatap langit malam tanpa bintang, berharap jika angin malam akan membuatnya menangis. Percuma. Tidak ada setetes air mata pun yang jatuh.

Harry terus berjalan tanpa arah hingga rasa sakit di dadanya mulai merasa reda. Saat sudah mulai merasa baikan, Harry memutuskan untuk naik taksi dan pulang. Ia akan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, tertidur, dan berharap terbangun melupakan seluruh rasa kecewanya malam ini.

Selama di dalam taksi, Harry hanya menyandarkan kepalanya pada jendela. Matanya terus terarah ke luar dan tidak memikirkan apa pun. Setidaknya hingga Harry tidak sengaja melihat orang yang sangat dikenalnya.

Tubuh Harry tegak begitu taksi yang ditumpanginya melewati sebuah klub yang cukup ramai. Alasan Harry terperanjat adalah, karena ia melihat Cedric berjalan ke sana. Bukan hanya karena senyum lebar di wajahnya yang membuat Harry terkejut, tapi karena seorang gadis di sampingnya. Bukan seorang teman yang patah hati, tapi seorang gadis cantik yang tertawa riang. Harry juga yakin, walau hanya melihat sekilas, tapi lengan Cedric melingkar di pinggang gadis itu.

"Maaf," Harry bicara pada supir taksi, "bisakah kita berbalik? Aku ingin turun di dekat klub yang baru saja kita lewati."

Supir taksi itu mengangguk dan segera mengambil jalan berbalik. Sekejap, mereka sudah berada di depan klub tersebut.

Begitu Harry turun dan berdiri di depan tempat hiburan malam itu, jantungnya berdebar kencang. Tangannya entah kenapa gemetar, ia entah kenapa takut.

"Kau tahu jika dia berbohong padamu, kau tahu jika dia menyembunyikan sesuatu darimu."

Perkataan Hermione kembali terulang di kepala Harry. Tentu saja ia tahu jika Cedric berbohong padanya. Tapi, apa yang dia sembunyikan? Harry selalu memiliki satu jawaban di kepalanya. Ia tahu jika apa yang dipikirkannya suatu hari nanti akan ia lihat sendiri. Tapi, setidaknya biarkan Harry berharap bahwa ia salah.

Perut Harry terasa melilit. Ia hampir berpikir untuk berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini. Tapi Harry tahu jika dia tidak punya alasan untuk berbalik. Ia tidak bisa kabur dan berpura-pura lagi. Ia sudah terlalu lama menutup mata.

Klub ini begitu ramai hingga Harry kesulitan untuk berjalan. Ditambah dengan musik yang kencang dan orang-orang yang menari dengan gila. Mustahil rasanya bagi Harry untuk menemukan Cedric. Tapi Harry tidak menyerah dan terus melangkahkan kakinya, mencari keberadaan kekasihnya.

Mungkin sudah hampir setengah jam Harry berkeliling. Saat ia hampir memutuskan untuk menyerah, disitulah Harry menemukan orang yang dicarinya. Untuk melihat bahwa orang itu benar-benar Cedric saja sudah membuat Harry lemas, apalagi saat melihat bahwa Cedric sedang berciuman dengan gadis yang berada di dalam pelukannya.

Dari segala kemungkinan, dan Harry menemukan mereka saat sedang berciuman. Untuk melihat Cedric memeluk perempuan itu saja sudah membuat dada Harry sesak. Dan sekarang Harry diperlihatkan pada kekasihnya yang berciuman mesra dengan seorang gadis.

Harry tidak bisa bertahan lebih lama di sana. Ia berlari keluar dari kerumunan dan pergi sejauh mungkin. Harry tidak peduli ia akan pergi ke mana. Harry hanya terus, terus, terus, terus, terus berlari hingga kakinya lemas dan ia terjatuh. Harry bersyukur bahwa ia terjatuh di tempat yang tidak rami. Setidaknya tidak akan ada orang yang dengan baik hati membantunya berdiri lalu bertanya apa yang terjadi padanya. Harry membenci hal itu. Ia tidak mau bicara.

Harry segera berdiri di tempatnya. Ia menepuk-nepuk celananya yang kotor karena tanah. Harry juga memperbaiki letak kacamatanya yang bergeser. Ia mendengus. Benar-benar lucu. Air matanya tetap tidak mau keluar. Dadanya terasa remuk, tapi matanya tetap tidak terasa perih. Harry bahkan tidak bisa memaksa dirinya untuk menangis.

Saat ia mencoba untuk kembali berjalan dan mencari taksi, Harry menemukan sesuatu. Mobil hitam mewah terpakir tidak jauh dari hapannya. Mobil yang akhir-akhir ini selalu ia sadari lebih dahulu dari mobilnya sendiri. Harry menarik napas dalam, dengan tubuh yang sudah lemas, Harry berjalan mendekati pemuda itu.

.

.

TBC

.

.

.