Chapter 13: What Happened That Night?


Draco melajukan mobilnya dengan mulus di jalan. Ia tidak sedang dalam perjalanan menuju apartemannya. Ia memang sedang dalam perjalanan pulang, tapi pulang menuju rumahnya. Ibunya memintanya untuk pulang hari ini karena malam nanti mereka harus pergi ke sebuah acara makan malam.

Draco sebenarnya tidak terlalu ingin menampakkan diri di sana. Lagi pula, apa yang bisa ia lakukan nanti? Berdiri di samping ayah dan ibunya yang menyapa kolega-kolega mereka. Lalu, Draco akan memasang topeng dengan senyum lebar di wajahnya dan menyapa orang-orang dewasa yang mengenalnya, namun ia tidak mengenal mereka sama sekali. Tetapi Draco tidak menolak. Meskipun harus bertemu dengan puluhan orang yang tak dikenalnya, setidaknya Draco akan bertemu dengan ayah dan ibunya.

Begitu sampai di kediaman Malfoy, Draco langsung menuju taman belakang yang menjadi tempat kesukaan ibunya. Melihat sang ibu duduk sambil membaca sebuah buku, Draco langsung memeluknya dan mencium pipinya.

Narcissa yang tidak menyadari kehadiran putranya terkejut bukan main. Ia langsung balas memeluk Draco dan membalas ciuman Draco dua kali lipat. "Aku memintamu untuk datang, bukan untuk mengagetkanku begini."

Draco balas terkekeh dan kemudian duduk di samping ibunya. "Where's Father?" tanya Draco karena tidak melihat ayahnya sejak ia datang.

"Ada teman lamanya yang kembali ke London. Dia pergi menyapanya sebentar," jawab Narcissa sambil mengelus surai lembut putranya.

Tidak peduli sudah berapa usianya sekarang, Draco tetap menbiarkan ibunya melakukan hal yang—bagi beberapa orang—kekanak-kanakan ini. Baginya tidak pernah seperti itu.

Narcissa pun menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Draco hari ini. Senyumnya terlihat lebih cerah dari biasanya. "Kalau aku tidak salah ingat, kau tidak pernah tersenyum secerah ini sebelum mengenakan pakaian super formal yang kau benci itu. Apa kau mulai menyukai acara formal itu sekarang?"

Draco terkekeh dan menggeleng. "Aku tidak akan pernah menyukainya."

"Kau yakin? Kau sebaiknya lebih sering menemani ayahmu dan aku setiap kali ada acara seperti ini. Mungkin kau akan menyukainya."

"Tidak ada alasan bagiku untuk menyukainya, Mum."

Narcissa menggeleng tidak setuju. "Mungkin kau akan bertemu dengan seorang miss yang luar biasa cantik dan cocok dengan gaun putih."

Draco memutar mata, namun tetap tersenyum. "Is that a joke?"

Narcissa berseru pelan seolah-olah baru teringat akan sesuatu. "Well, seorang gentleman yang menawan, kalau begitu."

"Yang cocok dengan jas putih?"

Narcissa berpikir. "Hm, jas hitam adalah yang terbaik."

Draco kembali tertawa. Sungguh, ia merasa beruntung memiliki wanita semanis Narcissa sebagai ibunya.

Narcissa lagi-lagi menyadari senyum yang tak biasa dari wajah putranya. "Atau kau tidak perlu mencari seseorang karena sudah menemukannya?"

Senyum di wajah Draco tergantikan oleh mata yang berkedip karena terkejut. Ia tidak mengira jika ibunya akan berpikir seperti itu. Draco ingin menyangkal, pada awalnya, tapi ia tahu jika membohongi ibunya adalah percobaan yang sia-sia. "Well, aku memang menemukan seseorang, tapi," Draco mendesah pelan, "aku belum mendapatkannya."

"Kenapa? Kau takut dia menolakmu atau takut jika dia tidak menyukai laki-laki?"

"Well, he likes boys."

"That's great!" balas Narcissa dengan bersemangat.

Draco tersenyum, bersiap membuyarkan kebahagian ibunya. "But, he has a boyfriend."

Seperti dugaan Draco, bahu Narcissa kembali merosot. Tangannya bergerak menggapai jemari Draco. "Tidak pernah mudah, hm?" Tangan kanannya terangkat mengelus pipi Draco. "Lalu, kenapa kau tetap terlihat senang?" tanyanya mengingat senyum lebar Draco.

Draco tidak akan mengatakan bahwa ia benar-benar senang. Tapi memang benar ada rasa senang yang berkeliaran di dalam dirinya. "Setidaknya dia tahu bahwa aku menyukainya. Dan, teman-temannya juga tahu. Yah, meskipun mereka tidak benar-benar mendukungku, tapi mereka juga tidak benar-benar menyukai si pacar ini."

Narcissa tidak bisa menahan kekehannya. "Apa kau sedang terjebak di dalam sebuah drama?"

Draco mengedikkan bahu. "Kuharap seperti itu. Karena, jika aku adalah tokoh utamanya, kemungkinan besar aku akan mendapatkan happily ever after."

Narcissa kembali tertawa. "Aku selalu menginginkan yang terbaik untukmu dan mendukung apa pun yang membuatmu bahagia. Tapi ingatlah untuk tidak kelewatan. Merebut hati seseorang yang punya pacar bukanlah hal yang mudah. Jika terjadi sesuatu yang buruk, kau akan langsung dianggap sebagai perusak hubungan."

Draco mengangguk. Ini bukanlah pertama kalinya ia mendengar saran yang sama. Hermione dan Ron juga mengkhawatirkan hal yang sama. Dan bukan hanya namanya, tapi nama Harry juga akan menjadi buruk apabila ia membuat kesalahan. Draco benar-bemar harus berpikir matang-matang untuk membuka mata Harry dan menunjukkan betapa tidak bergunanya mempertahankan hubungannya dengan Cedric.

.

"Kau sepertinya sibuk akhir-akhir ini."

Draco menoleh ke arah Blaise yang menghampirinya. Ia baru saja akan keluar dari kelas, tapi pertanyaan Blaise menahannya. "Menurutmu begitu?"

Blaise mengangguk singkat. "Aku bahkan tidak melihatmu di klub belakangan ini. Para gadis merindukanmu."

Draco tersenyum tipis. Kalau diingat-ingat, memang sudah lama Draco tidak berkumpul dengan teman-temannya. Ia terlalu menyibukkan diri mencari kesempatan untuk tidak sengaja bertemu dengan Harry. Tapi Draco tidak merasa disayangkan. Ia senang bertemu Harry seorang daripada harus bertemu dengan belasan orang yang bahkan tidak ia ingat siapa namanya.

"Kau ada urusan lagi hari ini? Yang lain benar-benar ingin kau bergabung," tanya Blaise saat mereka berjalan bersama keluar dari kelas.

Draco mengingat jadwalnya hari ini. Kelasnya sudah berakhir, dan Harry sedang tidak berada di London untuk tugas kuliahnya. Draco mungkin tidak keberatan untuk berkumpul dengan teman-temannya, sekadar mengobrol dan minum bersama.

Baru saja Draco ingin menyetujui ajakan Blaise, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk, dan Draco hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nama Ron Weasley tidak pernah terpikirkan olehnya akan muncul di layar ponselnya. Draco pun segera membaca pesannya.

Aku dan Hermione ada di parkiran belakang fakultasmu. Kita perlu bicara.

"Ah, Blaise," ucap Draco setelah menyimpan kembali ponselnya, "aku tidak bisa ikut denganmu. Aku harus pergi sekarang. Bye!" Dan ia pergi begitu saja meninggalkan Blaise yang tidak sempat bertanya.

Draco, dengan sedikit berlari, langsung pergi menuju parkiran. Begitu sampai, Draco menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Hermione dan Ron. Salah satu mobil membuka kaca jendelanya, dan wajah Hermione muncul. Draco langsung pergi menuju mobil tersebut. Ia langsung disuruh masuk oleh Ron dan Hermione lalu duduk di kursi belakang.

"Jadi," mulai Draco begitu ia sudah duduk, "untuk apa kalian memanggilku? Yah, aku punya dugaan kalau ini tentang Harry."

"Bagus jika kau tahu." Hermione membalikkan badannya untuk menghadap Draco.

"Aku akan memulai," ucap Ron. Ia menatap Draco dengan serius. "Melihat betapa beraninya kau mendekati Harry hingga menghampirinya setiap hari, apakah itu karena Harry tahu jika kau menyukainya?"

Draco mengangguk. Anggukan kecil itu membuat Hernione dan Ron terkejut. Mereka sudah menduganya, tapi tidak menduga akan terkejut.

"Dia tahu? Bagaimana mungkin?" tanya Hermione tidak percaya.

Draco mengusap tengkuknya dan bergerak gelisah. Ia tidak bisa menjaga raut wajahnya agar terlihat tenang. Draco tahu jika ia tidak bisa menyimpan rahasia ini selamanya. Tapi bukan berarti ia ingin mengatakannya secepat ini.

Draco berpikir cepat, mencari kata-kata yang tidak akan menyinggung kejadian malam itu, namun juga tidak mengarang cerita. "Well, kami kebetulan bertemu di sebuah pub. Aku tidak memaksanya minum, aku bersumpah dia sudah mabuk bahkan sebelum aku menyadari kehadirannya. Dan..." Draco menghindari tatapan intens Hermione dan Ron padanya. "Dan ini-itu terjadi begitu saja. Aku tidak benar-benar mengatakan bahwa aku menyukainya. Aku hanya bilang bahwa aku akan mendapatkannya."

"Apa ini-itu yang terjadi?" pertanyaan Hermione membuat Draco keringat dingin. Reaksi aneh Draco membuat Hermione manatapnya penuh selidik.

"Jika kau tidak jujur pada kami, Malfoy," Ron ikut bersuara, "kami tidak akan lagi bekerjasama denganmu."

Draco ingin sekali membuka pintu dan kabur secepat yang ia bisa. Hermione dan Ron terus mendesaknya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak peduli penjelasan apa yang diberikan Draco, keduanya masih merasa kurang. Mereka seolah tahu bahwa Draco dengan sengaja menyembunyikan rahasia besar dari mereka. Kegigihan Hermione dan Ron dalam mengulik informasi membuat Draco jengah.

"Okay then!" Draco menghentikan Hermione dan Ron yang mengoceh. Ia mendesah sebelum melanjutkan. "I slept with him. We were fucking all night."

Jawaban singkat Draco cukup untuk membuat Hermione dan Ron kehilangan kesadaran mereka.

"Gosh," Ron yang pertama bersuara. "Keluarlah sebentar agar aku bisa menghajarmu."

Draco tahu ini akan terjadi. Ia mengaku telah tidur dengan sahabat mereka, yang jelas-jelas punya pacar. Draco menahan Ron untuk tidak menyeretnya keluar dari mobil. "Tahan, jangan hajar aku seenaknya. Malam itu kami berdua mabuk. Dan perlu kutegaskan bahwa Harry lah yang melemparkan dirinya padaku."

"Kau menyalahkan Harry sekarang?" Hermione hampir saja menjangkau rambut pirang Draco untuk menariknya hingga copot.

Draco bergerak cepat menghindari tangan Hermione. Ia mencoba menenangkan kedua monster yang ingin membunuhnya itu. Draco mulai menjelaskan setiap detail bagaimana ia dan Harry bisa berakhir seperti itu. Ia juga berkali-kali menegaskan bahwa ia hanya menyediakan kayu bakar, Harry lah yang menyalakan apinya.

Baik Ron maupun Hermione masih belum bisa memercayai apa yang mereka dengar. Mereka tahu jika Harry bukanlah anak kecil yang polos. Harry tetaplah seorang laki-laki dengan sebuah keinginan. Tapi mereka tidak akan seterkejut ini jika Harry dan Draco melakukanya saat mereka sedang tidak berada dalam hubungan. Masalahnya adalah, Harry memiliki seorang pacar.

"Aku menyukainya," Draco kembali melanjutkan, "dan ingin menyentuhnya sejak lama sekali. Bagaimana aku bisa menahan diri?"

Hermione tidak bisa mengembalikan kemarahan yang sebelumnya datang. Jika ia memarahi Draco, itu artinya ia juga harus memarahi Harry. Tapi Hermione tidak akan pernah membawa pembicaraan ini ke depan Harry.

"Aku mengerti itu," Ron tiba-tiba membalas. Ia mengangguk setuju pada Draco.

Sementara itu Hermione tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ron. Ia malah berpikir jika Ron sedang membicarakan orang yang dia suka, alias membicarakan perempuan lain. Hermione tidak lagi menahan tangannya untuk memukul Ron. Ia juga mencubit Ron berkali-kali, tidak memedulikan protes dari Ron.

"Kau kenapa sih?" Ron berusaha untuk menghentikan Hermione, tapi gadis itu tidak sedetik pun mau mengistirahatkan tangannya.

"Apa-apaan maksudmu?" Hermione membalas. "Apa kau mencium orang lain saat punya kesempatan? Apa karena itu kau selalu ke klub sendirian? Kau mau mencium perempuan lain di belakangku?"

Ron membalas setiap pertanyaan konyol Hermione yang hanya membuatnya harus menjelaskan lebih banyak lagi. Ia kesulitan menjelaskan karena Hermione masih belum berhenti memukulnya. Mereka berdua seketika lupa akan kehadiran Draco. Saat Draco mulai tertawa akan kekonyolan mereka, saat itulah keduanya baru berhenti bertengkar.

Draco menghentikan tawanya. Ia tersenyum geli. Tidak pernah sekali pun Draco berharap jika ia akan dibuat tertawa oleh Hermione mau pun Ron. Namun sekarang ia sampai kesulitan menghentikan tawanya. Draco memang berpikir jika tidak perlu baginya mendekati Hermione dan Ron untuk mendapatkan Harry. Tapi, sepertinya tidak begitu buruk jika Draco sungguh-sungguh ingin berteman dengan mereka berdua.

.

.

TBC

.

.

.