Chapter 14: What a Coincidence
Harry berdiri cukup lama di depan rak camilan. Rencananya untuk berbelanja sebentar sudah gagal karena ia kesulitan memilih camilan yang diinginkannya. Pada akhirnya, Harry mengambil lima bungkus camilan yang berbeda. Kemudian Harry tidak langsung menuju kasir, ia kembali mengelilingi supermarket sambil mengingat-ingat keperluan apa saja yang sudah habis di rumahnya.
Terlalu sibuk mengingat, Harry sampai tidak sadar jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari tadi. Bahkan saat orang itu mendekat, Harry masih belum menyadari kehadirannya. Barulah ketika orang itu berdiri di sampingnya dan bersuara, Harry menghela napas.
"Wow, what a coincidence," Draco, yang datang entah dari mana, menyapa Harry dengan ceria.
"Oh ya, kebetulan sekali," balas Harry dengan suara datar, "aku bertemu denganmu yang tidak tinggal di sekitar sini. Kau pasti tidak sengaja lewat dan kebetulan masuk ke supermarket yang juga ada aku di dalamnya."
Draco tahu betul jika Harry sedang menyindirnya, tapi hal itulah yang membuat senyum lebar di wajahnya muncul. "Dan kebetulan sekali, aku mau pergi ke tempatmu. Tapi aku berpikir seharusnya tidak datang dengan tangan kosong. Lalu kemudian aku bertemu denganmu di sini."
"Itu artinya kau tidak perlu lagi datang ke tempatku."
Draco menggeleng. "Itu artinya aku harus ke sana bersamamu."
Harry mencoba untuk tidak mengindahkan Draco. Ia bergerak ke rak lainnya, meninggalkan Draco. Tapi ke mana pun Harry pergi, Draco akan mengikutinya. Kemudian Harry mencoba tidak peduli dengan tidak membalas perkataan Draco. Tapi hasilnya lebih parah. Draco menjadi semakin cerewet dan memaksanya untuk membalas perkataannya.
Selama mengutuk Draco di dalam keterdiamannya, Harry lagi-lagi mendapati keanehan di dirinya. Beberapa hari yang lalu, ia mengeluh karena Draco tidak mempedulikannya padahal mengaku menyukainya. Namun, ketika Draco sekarang datang untuk mengganggunya, yang mana artinya Draco datang untuk menemuinya, Harry malah ingin mengusirnya. Kemudian Harry akan marah pada dirinya sendiri. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak peduli pada Draco dan melupakan fakta bahwa Draco dengan sengaja menemuinya karena menyukainya.
Saat Harry sudah keluar dari supermarket—yang masih diikuti oleh Draco, ia menengok ke kanan dan kiri. "Di mana mobilmu?" tanya Harry penasaran. Harry terkejut karena ia bahkan ingat seperti apa mobil Draco. Mengingat Harry sendiri masih kesulitan mencari mobilnya sendiri di lapangan parkir yang sepi, sungguh menyebalkan.
"Apa kau tidak mendengarkanku dari tadi?" Draco balik bertanya. "Kan sudah kubilang, aku sedang lari sore sebelum aku menyadari jika aku berada tidak jauh dari apartemenmu. Makanya aku berpikir untuk mampir, dan sebelum mampir aku mau membawakanmu beberapa camilan."
Saat itulah Harry baru menyadari jika rambut pirang Draco yang biasanya tersisir rapi kini basah karena keringat. Ditambah jaket hitam dan celana jogger pendeknya, Draco benar-benar terlihat seperti baru saja selesai berolahraga. Saat itulah Harry menyadari jika Draco tidak berbohong perihal mereka yang kebetulan bertemu. Meskipun Draco memang berencana untuk pergi ke tempatnya, tapi mereka memang kebetulan bertemu di supermarket.
Harry menggeleng, mengembalikan kesadarannya. "Kau mau mampir ke tempatku?" Anggukan Draco membuat Harry mendengus. "Seolah-olah aku mengizinkan." Harry langsung balik badan dan pergi.
Draco tidak mungkin diam saja di tempatnya. Harry melangkah, Draco juga melangkah. Begitu sudah berjalan di samping Harry, Draco pun langsung mengambil kantong belanjaan Harry.
Harry baru saja akan protes, sebelum Draco mengangkat tinggi-tinggi belanjaannya. Harry bisa saja menendang dan mengutuk Draco dengan kata-katanya, tapi ia menahan diri. Meskipun kesal, Harry tidak begitu bodoh dengan melarang Draco yang sudah bersedia untuk membawakan barang-barangnya. Sebenci-bencinya Harry pada Draco, ia tidak akan keberatan jika pemuda itu bersedia menjadi pelayannya.
Draco tidak lagi menjadi cerewet di perjalanan mereka menuju apartemen Harry. Mungkin karena Harry tidak lagi mendiamkannya. Harry beberapa kali membalas dan bahkan sesekali menjadi yang pertama bicara. Harry jugalah yang pertama bicara saat mereka sudah sampai di depan gedung apartemennya.
Harry meminta kantong belanjaannya pada Draco dan menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi bicara saja tidak ada gunanya. Harry tidak mendapatkan belajaannya, malahan menjadi gugup saat Draco menyeringai.
"Aku bilang aku akan mampir."
"Tidak boleh."
"Kalau begitu tidak akan kuberikan."
Harry tahu jika mereka akan terus seperti ini jika Draco tak kunjung mendapatkan apa yang dimaunya. Tapi Harry tidak akan pernah membiarkan Draco masuk ke ruang pribadinya. Harry pun mecoba mengambil paksa barangnya dengan bergerak secepat mungkin. Sebuah kesialan bagi Harry, karena Draco lebih dahulu mundur, membuatnya hampir terjatuh ke depan.
Hampir, karena Draco menangkapnya sebelum ia terjatuh. Tentu saja Draco tadi sengaja mundur untuk mendapatkan momen ini. Tangannya pun dengan sengaja memeluk pinggang ramping Harry. Satu-satunya hal yang tidak direncanakan oleh Draco adalah wajah Harry yang mendarat di pundaknya. Ini membuat Draco ingin merentangkan tangannya dan memeluk Harry seerat mungkin.
Sedangkan Harry, langsung menarik diri begitu tersadar akan keterkejutannya. Ia menatap tajam pada Draco yang masih menyeringai. Wajah Harry memerah, entah karena marah atau hal lainnya. Yang jelas, Harry ingin sekali menendang Draco hingga rusuknya patah.
"Bloody hell! Akan kubunuh kau jika berani melakukan itu lagi!" ingat Harry menunjuk Draco tepat di wajahnya.
Draco masih mempertahankan seringainya. Ia memiringkan kepalanya dan bersikap bodoh. "Malakukan apa? Aku mencoba untuk mundur, kau yang datang padaku." Draco maju selangkah, mendekatkan dirinya pada Harry, kemudian berbisik. "Apa kau sebegitu maunya kupeluk?"
Harry tidak tahu ke mana perginya suaranya. Ia bahkan tidak bisa mengangkat tangannya untuk menjauhkan Draco. Harry hanya bisa mendengar suara debaran jantungnya yang selalu berisik setiap kali dekat dengan Draco. Pandangan Harry juga tidak bisa lepas dari netra kelabu yang semakin mendekat. Sepasang manik sewarna samudra yang kelam itu begitu memikat hingga membuatnya tidak menyadari betapa dekatnya mereka sekarang.
Saat merasakan napas hangat Draco menerpa bibirnya, barulah Harry tersadar dari lamunannya. Namun Harry tidak sempat berpikir apa yang harus dilakukannya. Pada akhirnya, saat bibir Draco menyentuh bibirnya, Harry tidak dapat mendorong pemuda itu menjauh. Harry terdiam di tempatnya, membeku karena ciuman tak terduga.
Bagaimana Harry harus menjelaskan ciuman yang satu ini? Harry ingat betul bagaimana cara Draco menciumnya di malam mereka mecicipi tubuh masing-masing. Harry juga tidak lupa dengan ciuman panas mereka di toilet. Semua ciuman itu sangat menuntut dan membuat Harry hilang akal. Namun kali ini berbeda. Tidak ada lumatan-lumatan yang kemudian berubah menjadi gigitan kecil. Tidak ada keinginan lebih selain berciuman. Tidak ada paksaan. Draco bahkan menyudahi ciuman mereka sebelum Harry sempat mendorongnya.
"Baiklah," Draco yang pertama bicara, "aku tidak akan keras kepala. Aku menyerah untuk mampir—setidaknya untuk hari ini. Yang barusan sudah lebih dari cukup." Draco menyerahkan belanjaan Harry, kemudian pamit, dan berbalik pergi.
Harry masih terdiam di tempatnya. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh bibirnya dengan lembut. Hingga kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Harry tidak mau menerima kenyataan bahwa wajahnya memanas sekarang. Ia tidak mau mengakui bahwa perutnya terasa geli karena bahagia. Harry pun langsung berlari, tidak menunggu lift dan naik tangga hingga lantai empat. Harry bertekad untuk melupakan rasa manis dari ciumannya dengan Draco. Meskipun Harry tahu jika ia tidak akan pernah bisa melupakannya begitu saja.
.
"Harry dear, kau mau sepotong kue lagi?"
Harry menoleh ke arah Mrs. Weasley yang masuk ke kamar Ron. Harry tersenyum dengan sopan dan menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku masih kenyang," jawabnya.
Mrs. Weasley mengangguk dengan wajah ramahnya. Ia sekali lagi mengingatkan Harry untuk tidak segan-segan dan meminta camilan tambahan jika lapar. Barulah kemudian Mrs. Weasley beranjak dari pintu.
Begitu Mrs. Weasley pergi, putra bungsunya datang. Ron langsung menghempaskan dirinya ke atas kasur, di samping Harry. "Apa kau akan menginap?" tanyanya pada Harry.
Harry mengedikkan bahu. "Jika ibumu tidak keberatan."
"Oh, dia bahkan tidak keberatan jika kau tinggal di sini selamanya," balas Ron sambil mengambil bantalnya dan berbaring. "Tidurlah di sini. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Tentang apa?"
"Hermione," jawab Ron segera, "aku tidak mengerti dia."
Kalau tidak mengenal Ron, Harry sudah bertanya apa yang salah dengan Hermione. Tapi Ron adalah sahabatnya. Harry yakin seratus persen jika Hermione bukanlah permasalahnnya sekarang. Ron lah yang terlalu bodoh dan menganggapnya sebagai masalah.
"Bukankah wajar jika aku sangat ingin mencium orang yang kusuka?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Ron membuat Harry terkejut. Tubuhnya tersentak hingga membuat ponsel yang dipegangnya terlepas. Harry tidak tahu apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Ron, tapi itu membuat Harry teringat pada Draco.
"Apa maksudmu?" Harry balik bertanya. Ia menyembunyikan kegugupannya.
"Ya, kau tahu sendiri," Ron menjelaskan, "saat kau menyukai seseorang, kau pasti ingin menciumnya, memeluknya, menyentuhnya, dan lain sebagainya. Lalu, jika ada kesempatan, untuk apa melarikan diri? Bukankah wajar jika kita mengambil kesempatan itu?"
Harry makin gugup. Dadanya berdebar kencang ketika mengingat malam pertamanya bersama Draco. Draco menyukainya, dan Harry memberikannya kesempatan.
Terus diam karena teringat Draco, sesuatu terlintas di benak Harry. Ia berseru dan memukul kaki Ron yang berada di atas kakinya. "Kau selingkuh dari Hermione?"
"Ha? Kenapa kau malah berpikir seperti itu?" Ron langsung bangkit dan melemparkan bantalnya, tepat mengenai wajah Harry. "Kenapa kau bisa menuduhku selingkuh? Padahal kau sendiri..." Ron berhenti saat menyadari jika ia hampir mengatakan sesuatu yang salah. Ia buru-buru mencari kata-kata lain. "K-kau sendiri tidak tahu aku sedang membicarakan apa."
"Ah, ya. Aku memang tidak benar-benar mengerti kau sedang membicarakan apa."
Ron diam-diam menghela napas lega. Ia kemudian kembali pada pembicaraan mereka. "Aku hanya bilang jika wajar untuk mencium orang yang kau suka saat ada kesempatan. Bukan berarti aku punya seseorang yang kusuka selain Hermione."
Harry mengangguk-angguk. Benar juga, Ron tidak sedang membicarakan orang lain, dia bicara secara garis besar. Karena Ron sudah terlanjur kesal padanya dan tidak melanjutkan obrolan mereka, Harry memilih untuk bermain dengan ponselnya.
Baik Ron dan Harry tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama. Hingga Ron tiba-tiba bertanya. "Harry, di mana Cedric sekarang?"
Kening Harry berkerut. Ron jarang sekali bertanya tentang Cedric, malahan biasanya tidak peduli. "Dia bilang sih ada tugas kelompok, jadi dia sedang di rumah temannya."
Ron menggigit bibir bawahnya, ragu dengan apa yang akan ia katakan berikutnya. Ron kemudian kembali bertanya. "Apa kau yakin? Ini sudah tengah malam dan dia masih mengerjakan tugasnya?"
Harry mengangguk sebagai balasan. Anggukan singkat itu membuat Ron merasa kesal. Ia kemudian menunjukkan sebuah foto di ponselnya. "Dia sedang ada di sebuah pub, apa kau yakin?"
Harry melihat dekat-dekat foto itu, memastikan bahwa itu benar-benar kekasihnya. Saat sudah yakin betul bahwa itu Cedric, Harry memberikan pendapatnya. "Dia dan teman-temannya mungkin lelah karena belajar terlalu lama. Mereka butuh sedikit hiburan."
Raut wajah Ron semakin kesal. Ia tidak memercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Harry. "Atau dia bisa saja berbohong padamu. Dia tidak pernah mengerjakan tugasnya, dan hanya bersenang-senang dengan teman-temannya."
Harry mengedikkan bahu dan mengalihkan perhatiannya dari foto tersebut. "Jika dia bilang dia keluar untuk mengerjakan tugasnya, maka aku percaya padanya. Aku tidak bisa menuduhnya begitu saja dan membuat hubungan kami menjadi tidak nyaman."
Ron menghela napas dengan keras, sengaja agar Harry mendengarnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya setelah mengambil kembali bantalnya.
"Ah, tapi," Harry kembali menoleh, "dari mana kau mendapatkan foto itu?"
"Eh?" Ron bertingkah bodoh. Matanya melirik ke sana kemari, tapi tidak mau menatap Harry. "Ah, aah, itu... Salah seorang temanku yang ada di sana melihatnya."
"Lalu kenapa dia mengirimkannya kepadamu?"
"Er, itu... Well, itu hanya," Ron berpikir keras, "Kebetulan dia penggemar Cedric. Dia bertanya padaku apakah laki-laki yang dilihatnya benar-benar Cedric atau bukan."
"Dia penggemar Cedric?" Harry kembali bertanya.
Ron mengangguk. "Temanku ini tidak pernah melewatkan pertandingannya."
Harry berseru pelan. Ia kemudian tidak lagi peduli. Harry kembali sibuk dengan ponselnya. Sayang sekali Harry melewatkan wajah penuh kelegaan Ron. Hanya jika Harry tahu siapa yang sebenarnya mengirimkan foto itu pada Ron.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Minggu ini masih banyakan interaksi Draco sama ronmione ya... Oke oke, minggu depan bakal penuh sama ke-uwu-an drarry :) so, tungguin ya~
See you!
Virgo
