Chapter 22: A Total Chaos
"I hate this place." Hermione mencoba menenangkan dirinya. Ia sungguh tidak suka dengan dunia malam seperti ini. Tempat ini berisik, sesak, dan berbau alkohol yang bercampur dengan asap rokok. Kalau bukan karena ingin menangkap basah Cedric, mungkin ia sudah keluar sejak tadi. Bahkan kalau bisa, Hermione tidak akan masuk dari awal.
"C'mon, Hermione," panggil Ron pada kekasihnya tersebut. Ia segera menggandeng tangan Hermione saat gadis itu hampir saja tertinggal di belakangnya. Ia memastikan bahwa Hermione selalu berada di dekatnya.
Ron dan Hermione terus melihat ke sekeliling mereka. Setiap sudut dari pub tersebut tidak mereka lewatkan. Mereka benar-benar sibuk mencari keberadaan Cedric di tempat seramai ini. Tidak terbayangkan oleh Ron dan Hermione akan menemukan Cedric di tengah lantai dansa yang berdesak-desakan itu. Tapi untungnya, ternyata Cedric tidak ada di sana. Ia sedang duduk di sebuah sofa panjang, berkumpul bersama teman-temannya.
Ron dan Hermione langsung pergi mendekatinya. Mereka duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat Cedric duduk. Bahkan bisa dibilang, mereka berada tepat di belakangnya.
Tidak sedetik pun Hermione maupun Ron mengalihkan perhatian mereka dari Cedric. Mereka mencuri dengar pembicaraannya, dan memasang mata setiap kali ada perempuan yang bergabung dengan kelompoknya.
Ron hampir bangkit saat seorang perempuan tiba-tiba datang dan menyapa Cedric. Ia jelas menggodanya, dan Cedric jelas tidak menolaknya. Tapi sebelum Rom benar-benar berdiri, Hermione menahannya. "Apa? Bukankah kau bilang kau setuju untuk membiarkanku menghajarnya?"
"Iya, tapi bukan sekarang," balas Hermione. Ia kembali menunjuk perempuan yang sudah pergi itu. "Kita belum bisa bertindak sekarang. Cedric tidak akan berpikir jika dia salah, karena perempuan itu hanya menyapanya. Kita tunggu sebentar lagi."
Dengan patuh, Ron kembali duduk. Tapi ia tidak bisa membuang raut wajah kesalnya. Setelah Ron kembali duduk, mereka pun kembali menguping pembicaraan Cedric dengan teman-temannya. Mereka menjadi semakin serius karena mendengar nama Harry disebutkan.
"Aku kasihan pada Potter," salah seorang teman Cedric berbicara. Tapi dari wajahnya, ia sama sekali tidak terlihat sedang mengasihani orang. "Kau benar-benar seorang bajingan. Apa kau tidak takut jika dia tahu apa yang kau lakukan di belakangnya?"
Cedric terkekeh. "Tenang saja, dia tidak akan tahu," jawabnya dengan penuh percaya diri. "Dia hanya tahu bahwa aku adalah pacar yang selalu keluar dengan teman-temanku. Dan, tidak peduli seberapa jarangnya aku bertemu dengannya, selama aku masih mau dengannya, maka dia tidak akan memutuskanku."
"That's crazy," balas temannya yang lain, "jika kau memang mau bersenang-senang dengan semua gadis cantik itu, kenapa tidak kau putuskan saja dia? Bukankah berkencan dengannya malah membuatmu memiliki batasan? Kau tidak bisa bermain dengan semua gadis yang kau temui karena kau tidak mau Potter mengetahuinya."
Cedric mengedikkan bahu. "Memang, tapi aku tidak bisa melepaskannya begitu saja." Ia menoleh ke arah temannya dengan cengiran lebar. "Dia memberikan apa yang aku mau, bagaimana mungkin aku melepaskannya? Aku hanya perlu meminta, dan dia dengan bodohnya memberikan semuanya padaku."
Teman-temannya tertawa. Mereka mengangkat gelas dan bersulang akan kelicikan Cedric yang begitu mereka dambakan. Beberapa dari mereka memuji betapa beruntung dan bajingannya Cedric dan beberapa lagi berharap jika mereka bisa menjadi seperti Cedric.
Mendengar ini, tangan Ron terkepal erat. Ia sudah siap untuk melontarkan tinjunya ke wajah Cedric. Tapi Hermione masih menggenggam tangannya, memintanya untuk menunggu sebentar lagi.
Saat itulah, seorang perempuan tiba-tiba datang. Ia langsung berjalan menuju Cedric dan mengajaknya berdansa. Tanpa ragu, Cedric menerima tawaran perempuan itu dan berdiri. Tangannya langsung melingkar sempurna di pinggang ramping itu.
Ron sudah tidak tahan lagi. Ia menyingkirkan tangan Hermione. "Kurasa kita sudah cukup lama menunggu." Ia pun berdiri tanpa mempedulikan perkataan Hermione.
Namun sebelum Ron sempat mendekat, sebelum Cedric sampai di lantai dansa, ia sudah mendapatkan bogem mentah tepat di wajahnya. Perempuan yang tadi mengajaknya berdansa berteriak saat Cedric terpukul dan sekarang sudah terkapar di lantai. Semua orang menoleh, terkejut.
Begitu juga Hermione dan Ron. Mereka terkejut karena Cedric mendapatkan pukulan itu bukan dari Ron. Mereka lebih terkejut karena orang yang mendahului Ron adalah Draco. Pemuda Malfoy itu berdiri dengan tangan terkepal. Matanya menatap Cedric nyalang. Semua orang yang berada di sana bisa melihat betapa menyeramkannya wajah yang dibuat Draco sekarang.
"Fuck!" teriak Cedric memegang sisi wajahnya yang barusan dipukul Draco. Ia menatap Draco dengan penuh kemarahan. "What the hell is your problem?!" Cedric segera berdiri, bersiap membalas pukulan Draco padanya.
Baru saja berdiri, Cedric bahkan belum maju untuk menyerang Draco, ia lagi-lagi sudah terdorong kembali ke belakang. Sekarang matanya melebar karena terkejut. Ia tidak bisa langsung mengumpat saat melihat Ron berada di depannya.
Kemudian Cedric juga melihat ke samping Ron dan menemukan Hermione yang berdiri sambil menutup mulutnya. "Ron, Hermione... A-apa yang kalian lakukan di sini?" Cedric kembali berdiri, mencoba berbicara dengan Ron.
Tidak menjawab pertanyaan Cedric, Ron kembali melayangkan pukulannya. Namun sekarang, teman-teman Cedric maju untuk menahannya. Seketika orang-orang yang ada di sana berteriak histeris. Ada beberapa yang mencoba menghentikan, ada beberapa yang lari ketakutan, dan ada beberapa yang bersorak. Dan tidak perlu menunggu waktu lama, keributan besar terjadi.
Ron dan Draco tidak bisa menahan diri mereka. Satu-satunya target mereka adalah Cedric, bukan teman-temannya, tapi mereka tidak bisa menyerang Cedric begitu saja jika teman-temannya menghalangi. Karena itulah mereka menghajar siapa saja yang menawarkan diri untuk dihajar. Tapi setidaknya, Ron dan Draco mendapatkan porsi yang cukup untuk menghajar Cedric sebelum petugas keamanan datang menghentikan mereka.
.
Harry berlari terburu-buru. Ia tidak peduli dengan dinginnya malam ini walau hanya menggunakan sehelai kaos dan terus berlari. Ia akhirnya bisa berhenti setelah sampai di depan sebuah pub. Ia tidak perlu masuk, karena tepat saat Harry tiba, mereka sudah keluar.
Yang pertama dilihat Harry adalah Ron, Hermione, dan betapa mengejutkannya, Draco. Ada bekas luka di wajah Ron dan Draco yang membuat ngilu walau cuma dilihat. Tapi itu tidak seberapa. Di belakang mereka bertiga, menyusul sekelompok laki-laki yang sama babak belurnya. Tapi orang yang ada di tengah, Cedric benar-benar terlihat kacau. Dia terlihat seperti baru saja keluar dari arena tinju.
Semua mata tertuju pada Harry. Tapi Ron, Hermione, dan Draco, tidak menatapnya terlalu lama. Mereka tahu jika yang dilihat oleh Harry adalah Cedric. Mereka pun memilih untuk duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari sana.
Sementara itu, Harry berjalan mendekati Cedric yang berjalan di bantu oleh teman-temannya. Meskipun Harry hanya melihat Cedric tapi bukan berarti ia tidak melihat wajah dari teman-temannya. Semuanya mengalihkan pandangan mereka dari Harry dengan canggung.
Harry menoleh ke arah teman-temannya dan Draco yang masih duduk di bangku tidak jauh dari tempatnya. Ia pun kembali menoleh pada Cedric. Harry menghela napasnya. "Ayo kita bicara," ucapnya dan langsung menuntun Cedric untuk pergi dari tempat ini. Harry tidak perlu bingung harus bicara di mana. Cedric membawa mobilnya, maka Harry akan membawanya ke sana. Harry juga meminta pada teman-teman Cedric untuk memberi mereka waktu untuk berbicara dan meminta mereka untuk tidak pergi duluan.
Sedangkan Draco tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Harry yang kini menuntun Cedric masuk ke mobil. Kemudian Draco beralih pada Hermione dan Ron yang berada di sampingnya. Ia mendengus, membuat Ron dan Hermione menoleh. "Apa wajahku begitu bersih hingga tidak ada yang peduli padaku?"
Hermione yang awalnya mengkhawatirkan luka-luka di wajah Ron memutar mata akan perkataan Draco. Ia tidak sedang dalam mood untuk menanggapi ledekan Draco. Hermione pun memasang raut wajah tegas, bersiap mengomeli Draco. "Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyanya sambil bersedekap dada.
"Apa kau membuntuti Cedric? Atau malah membututi kami?" Ron menambahkan.
Draco berdecak kesal. Sudah ia duga. Kedua orang ini pasti akan menuduhnya yang tidak-tidak. "Aku kebetulan ada di sini. Kalian bisa tanya pada Blaise dan Theodore."
Hermione menggeleng, tidak percaya semudah itu. "Lalu mana mereka?"
"Sudah pergi," jawab Draco. "Well, aku juga seharusnya sudah pergi. Kami sebenarnya mau lanjut bersenang-senang di tempat berikutnya. Tapi tepat sebelum aku pergi, aku melihat bajingan itu di sini. Jadi, aku menyuruh mereka untuk pergi duluan."
"Dan kau mendengar apa yang dikatan Cedric," sahut Hermione pelan.
Draco mengangkat alis dan mengangguk ringan. "Dan aku melihatnya menyentuh perempuan itu."
"Dan kau mendahuluiku menghajarnya."
"Exactly." Draco cukup bangga untuk yang satu itu.
Hermione tertawa kecil saat Ron dan Draco membandingkan pukulan mereka. Tentang siapa yang paling banyak mengenai Cedric. Mereka tidak mau kalah, ini soal harga diri lelaki. Kemudian Hermione menoleh ke belakang, melihat ke arah mobil Harry.
"Don't worry," Ron berucap sambil menggenggam tangan Hermione. "He's an idiot, but he's not that dumb."
Hermione menghela napas. Tentu saja ia tahu jika Harry akan menangani semuanya. Tapi tetap saja Hermione merasa cemas. Namun saat ini, Hermione hanya bisa menyerahkan pada Harry apa yang harus dilakukannya.
Draco pun sebenarnya juga cemas. Ia bahkan ingin sekali berdiri dan pergi menuju mobil itu. Masuk dengan paksa dan mendengarkan pembicaraan mereka. Draco pun terus bolak-balik mengalihkan pandangannya dari mobil Harry yang masih belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa orang yang ada di dalam akan keluar.
Hingga kemudian ponsel Draco berdering. Ron dan Hermione menoleh padanya yang kini berbicara di teleponnya. "Yes, Father."
Ron dan Hermione terkejut mendengar orang yang di sapa Draco di seberang teleponnya. Mereka pun langsung membungkam mulut tanpa ada alasan khusus.
"Kau ingin aku pulang malam ini?" Draco mengonfirmasi perkataan ayahnya. "Father, kau tidak berpikir untuk mengajakku makan malam kan? Ini sudah lewat waktunya makan malam." Draco diam membiarkan ayahnya bicara.
Draco menyahut singkat terhadap perkataan ayahnya. Ternyata bukan bukan acara makan malam. Ayahnya memang hanya ingin ia pulang sekarang karena ibunya (dan Draco yakin jika ayahnya juga) sangat merindukannya dan ingin segera bertemu. Sekalian, untuk penebusan karena Draco tidak jadi datang saat sarapan pagi itu. Dan kalau dipikir-pikir, Draco juga belum sempat memberikan kue itu pada ibunya.
Draco akhirnya mengiyakan perkataan ayahnya. "Baiklah, tapi jangan terkejut saat melihat wajahku nanti," tambahnya sambil tertawa di akhir kalimatnya. Draco tidak mempedulikan kebingungan ayahnya atas apa yang ia katakan. Dan setelah satu dua kalimat terakhir, panggilan itu berakhir.
Draco pun menoleh pada Ron dan Hermione yang masih terdiam. "Well, kurasa kalian mendengarnya. Aku harus pergi sekarang." Ia segera berdiri dan pergi setelah sebelumnya menepuk pundak Ron. Draco tertawa puas karena Ron mengaduh kesakitan karena pundaknya terkena pukulan saat perkelahian tadi.
Ron dan Hermione pun ditinggal berdua. Mereka masih duduk di bangku itu, menunggu hingga Harry datang. Setelah kira-kira lima menit, akhirnya Harry muncul. Cedric berada di belakangnya dan kembali berkumpul dengan teman-temannya. Cedric pun kemudian pergi bersama teman-temannya.
Hermione dan Ron tetap duduk di bangku mereka. Keduanya menatap Harry yang sekarang sudah berada di depan mereka. Keduanya menunggu hingga Harry bicara duluan.
Harry pun tahu, dialah yang seharusnya bicara duluan. Tapi Harry tidak mau terburu-buru, ia akan berbasa-basi terlebih dahulu. "Di mana dia?" tanya Harry.
Ron maupun Hermione tidak bertanya balik tentang siapa dia yang dimaksud Harry. Tentu saja Harry bicara tentang Draco.
"Ayahnya menelepon dan menyuruhnya pulang," jawab Hermione. Ia hanya menjawab singkat dan kembali diam, menunggu Harry bicara.
Harry menghela napas. "Ron, sebaiknya kau menginap di tempatku. Mrs. Weasley akan mengamuk jika melihatmu pulang seperti ini."
Ron dan Hermione berdiri, tapi keduanya masih diam. Mereka masih menatap Harry, menunggunya bicara.
Harry pun tidak punya pilihan untuk mengangguk. "Dan aku akan menceritakan semuanya pada kalian. Tapi," Harry mengangkat jari telunjuknya, "kalian juga harus bicara padaku."
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Sekali-kali Lucius jadi bapak yang sweet gak papa lah... Kasian Draco kalau harus berantem mulu sama bapaknya -3-
Btw, thank you buat yang udah mampir dan selalu nungguin cerita ini~ BIG THANKS EVERYONE! So, jumpa lagi di chapter berikutnya~
See you!
Virgo
