Seorang pemuda memandang datar para gadis yang ia sengaja mengundang mereka ke taman kota yang penuh pohon bunga sakura. Ada satu alasan mutlak yang harus segera ia lakukan.

"Aku mengumpulkan kalian kesini, untuk menjawab perasaan kalian."

Ya, ia harus membuat keputusan untuk memilih salah satu dari gadis-gadis di sana yang mencintainya. Sejujurnya, ini sangat berat buatnya.

Semuanya bermula dari kejadian setelah Night Stage. Setelahnya berbagai peristiwa-peristiwa datang yang menurutnya menyebalkan. Tapi bagaimana pun itu semua sudah terjadi. Mau di putar balikkan waktu juga tidak bisa.

Hasilnya? Gadis-gadis di depannya menyatakan cinta kepadanya dalam waktu berdekatan.

Hikawa Naruto melihat satu persatu dari gadis-gadis itu.

-o0o-

Hikawa Sayo dan Hikawa Hina.

Naruto sangat tidak berharap kalau kedua kakak kembarnya malah jatuh cinta kepadanya. Bahkan sampai mereka melakukan hal nekat, yaitu menjebaknya dengan obat perangsang dan melakukan sex bersama-sama kedua kakaknya itu.

Flashback

"Ahh~"

Desahan terdengar di salah satu kamar rumah Hikawa. Disana tiga orang dengan warna rambut yang sama melakukan hal yang seharusnya belum di lakukan di usia mereka saat ini.

"Ahh~ Ahhh~ Ahhhh~"

Gadis yang berambut panjang, Sayo, mendesah sebab benda panjang nan keras menggempur vaginanya. Posisinya yang menungging membuat tubuhnya terhentak-hentak kedepan. Gadis itu meremas sprei dengan erat, menyalurkan rasa nikmat yang ia dapatkan

"Ahh~ Naru." desah Sayo menyebut nama laki-laki yang menggagahinya.

"Ugh.." Naruto terus memaju-mundurkan pinggul sembari meremas pantat kakaknya yang sintal. Ia sangat merasakan bagaimana penisnya di jepit erat oleh vagina Sayo membuatnya keenakkan.

Pemuda itu tak memperdulikan hubungan sedarah ini. Yang ia pikirkan hanya bagaimana cara untuk memuaskan hawa nafsunya.

"Ahhhh~ Ahhh~"

Naruto mempercepat penetrasinya sehingga desahan Sayo semakin keras membuat orang ketiga- gadis surai hijau pendek sebahu terusik dari tidurnya.

"Hnggh... Onee-chan? Naru-chan?"

Hina membuka matanya, gadis itu merasakan ranjang selalu berguncang, apalagi desahan yang ia yakini suara kembarannya. Menengok ke arah kanan, ia bisa melihat kakaknya sedang di genjot dari belakang oleh Naruto.

.

Semua ini berawal dari rasa cinta mereka yang sudah melewati batas. Ketika Naruto sangat di cintai oleh banyak gadis yang rata-rata adalah teman mereka sendiri walau pemuda itu tak menyadarinya, membuat Sayo dan Hina di butakan oleh rasa cemburu.

Mereka tak ingin kehilangan Naruto sehingga mereka berfikiran satu cara yang gila.

Seks

Sayo dan Hina menanggap itu adalah satu-satunya cara agar Naruto tetap di sisi mereka. Kali ini dua gadis Hikawa harus akur dan kompak menjalankan rencana mereka. Kebetulan, Naruto meminta saran tentang konser mereka, Sayo dengan senang hati memberikan pendapatnya, sementara Hina membuat jus jeruk untuk mereka bertiga di dapur. Khususnya untuk Naruto, Hina memasukan beberapa tetes obat yang ia keluarkan dari sakunya. Ia tak perlu khawatir, karena obat itu tidak memiliki bau dan tidak mengubah rasa minuman.

Ketika Naruto meminum jus jeruk yang di bawakan oleh Hina, gelagatnya berubah. Nampak pemuda itu bergerak gelisah, wajahnya memerah hebat, nafasnya memburu- menahan akan sesuatu. Sayo dan Hina khawatir, mereka membawa Naruto ke kamarnya, namun tindakan itu memperparah keadaan sang pemuda.

Ketika sudah dekat ranjang, Naruto mendorong mereka berdua dan berhenti tepat di atas kedua kakaknya. Dia sudah tidak bisa berfikir lagi.

"Naru..."

"Naru-chan..."

Sayo dan Hina awalnya terkejut. Tapi saat rencananya sudah berhasil, mereka tersenyum dalam hati. Ekspresi Sayo dan Hina terlihat pasrah dan mata mereka berkaca-kaca, siap memberikan tubuh mereka kepada Naruto.

Dan begitulah awalnya.

.

Satu hal yang di pikirkan oleh Hina adalah batas gairah Naruto. Entah karena ia terlalu berlebihan memasukan dosis obat perangsang, atau memang nafsu adiknya yang sangat besar. Sudah beberapa ronde yang sudah mereka lakukan, namun nafsu Naruto seperti belum terpuaskan, bahkan dirinya sendiri sampai pingsan karena kelelahan melayani Naruto.

Plaaak Plaakk Plak

Suara benturan dua paha yang saling beradu membuyarkan lamunan Hina.

"Ahhhh~ Yahhh~ Kimochi~"

Memandang kakaknya yang terlihat sangat kenikmatan. Nampak wajahnya yang mendongak dengan lidahnya terjulur keluar dan air liurnya terus menetes ke bawah membuat Hina meneguk ludahnya. Apakah tadi ia seperti itu?

Tanpa sadar, Hina mulai mengelus vaginanya yang penuh sperma Naruto bercampur darah keperawanannya yang sudah pecah. Gadis itu terangsang melihat kegiatan mereka.

"Uuhh~ uhhh~ ahhh~ ahhh" Sayo terus mendesah nikmat menerima setiap tusukan penis Naruto yang selalu mencapai rahimnya.

"Naruuhhh~ Lebihhh~ Cepathh~"

Naruto tentu langsung memberikan apa yang diminta Sayo, mengerakkan lebih cepat dari yang tadi.

"Naruu~ Akuhhh~"

Naruto yang tau kakaknya akan keluar langsung membungkuk, kedua tangannya langsung meremas dada yang tak terlalu besar itu dengan kuat.

Sayo sendiri langsung mengkalungkan tangan kanannya ke kepala Naruto, saat wajah pemuda berada di sampingnya. Lalu Sayo melumat dengan penuh nafsu bibir adiknya.

"Mmhhh~"

Naruto tentu langsung membalas lumatan ganas Sayo, pinggulnya tak henti untuk bergerak malah semakin cepat. Kedua tangannya masih meremas bahkan memlintir puting pink itu dan membuat Sayo mengerang dalam lumatan mereka.

"Mmmhhhh~"

Kedua bibir itu saling melumat dengan agresif, tak ada lumatan pelan. Yang ada lumatan menunjukkan siapa yang paling dominasi, keduanya merasakan akan segera mencapai klimaks. Membuat lumatan itu semakin menjadi lebih buas.

Keduanya dapat merasakan kemaluan mereka berkedut, vagina Sayo yang mulai mencengkram kuat penis Naruto dan penis Naruto sendiri membesar didalam vagina Sayo.

Naruto melepaskan ciuman mereka dan berfokus untuk mencapai klimaks.

"KELUARRR"

"Guhh."

Croot Croot Croot

Dengan hentakan terakhir yang kuat membenamkan penisnya sedalam mungkin di vagina anak pertama keluarga Hikawa, Naruto menumpahkan seluruh spermanya ke rahim kakak pertamanya untuk kesekian kalinya. Dapat Naruto rasakan jepitan kuat dan disiramnya penis dengan cairan cinta Sayo

Hentakan kuat itu membuat tubuh Sayo membungsung kedepan, tubuh mereka sama mengejang saat mencapai klimaks.

Begitu Naruto mencabut penisnya, Sayo langsung ambruk kedepan. Bisa di lihat sperma Naruto bercampur sisa darah meluber dari vagina Sayo sebab tak bisa menampung semuanya.

"...!."

Penis Naruto masih tegak menandakan masih bernafsu untuk bercinta lagi. Instingnya berteriak untuk melihat ke samping. Benar saja, di sana Hina sedang menikmati masturbasinya sendiri sambil menutup mata.

Srek

Hina langsung membuka matanya dan menghentikan kegiatannya. Ia terkejut melihat Naruto sudah ada di dekatnya.

"E-eh? Naru-chan?"

"..."

Naruto tak menjawabnya, tapi Hina bisa melihat iris lime Naruto bersinar di balik bayang rambutnya. Adiknya nampak membuka kedua pahanya dan mengatur posisi penis besarnya di depan vaginanya.

Mata Hina melebar. "Tungg-"

Sleb

"-ngaaahh."

Terlambat, Naruto langsung memasukkannya kedalam satu hentakan membuat Hina mendongak. Ia merasakan liang kewanitaannya sangat sesak dan penuh oleh penis Naruto.

Mengerakkan pinggulnya secara perlahan, dan Naruto dapat merasakan nikmatnya jepitan dinding vagina Hina. "Sshhh.." Darah Naruto terasa mendesir saat penisnya di pijat-pijat oleh dinding vagina Hina.

"Ahh~ Ahh~ Naru-chanhh~ Ahh~"

Desahan demi desahan mulai keluar dari mulut Hina, dia benar merasa keenakan merasakan seks walau sudah berkali-kali melakukannya. Tangannya meremas bantal untuk menyalurkan rasa nikmatnya.

Naruto sedikit meningkatkan ritme goyangannya.

"Aah~hmmpphh~~"

Membungkam desahan Hina, Naruto langsung mencium bibirnya. Lidah Naruto mulai keluar, menjilati lembut bibir kakaknya. Hina mulai ikut mengeluarkan lidahnya, untuk mendapatkan ciuman yang lebih. Naruto menyambutnya dengan lembut, kedua lidah saling beradu.

"Mmmmhhh~ mmmhhh~"

Tangan Naruto mulai melakukan aksinya, meremas lembut payudara Hina yang lebih besar dari Sayo. Membuat kakak keduanya mengerang pelan, matanya yang terpejam dengan rapat pertanda dia benar benar terbuai.

"Mmmmm~puaaahhhhhh~~~" kedua bibir saling menjauh beberapa centi, benang saliva menjadi jembatan penghubung.

"Ahhh~ Ahhh~"

Naruto mulai menjilati leher putih Hina, memberikan kissmark dan membuatnya terus mendesah nikmat, tanganya memilin puting Hina agar lebih terangsang. Lambat laun Naruto menurunkan jilatanya menuju payudara kanan, memainkan pucuk dada itu dengan lidahnya.

"Aaahhh~ Uhhh~"

Hina semakin mendesah keras, pikirannya terasa kosong karena kenikmatan luar biasa yang dirasakan seluruh tubuhnya. Terutama pada vaginanya, rasa nikmat yang paling besar bersumber dari sana.

Naruto mulai mengulum lembut puting berwarna pink milik Hina, pinggulnya terus bergerak dengan tempo sedang namun teratur.

Hina terus mendesah dengan nikmat merasakan sensasi tersebut, kedua tanganya meremas rambut Naruto untuk menyalurkan kenikmatan yang dia rasakan.

Entah beberapa menit Hina merasakan dirinya sebentar lagi akan keluar, gempuran stabil yang dilakukan Naruto memberikan kenikmatan yang luar biasa.

"Aahhhh~ keluuaarrrrr~" tubuh Hina bergetar keatas kala gelombang nikmatnya datang, namum Naruto masih mengerakan pinggulnya dengan tempo cepat untuk mencapai puncaknya. Ranjang ikut bergoyang mengikuti permainan panas mereka.

"Ugh."

Erang Naruto tak dapat di tahan. Ia membenamkan penisnya sedalam mungkin, menyeprotkan spermanya dengan banyak di rahim Hina. Naruto yang telah mendapatkan klimaksnya masih menggenjot beberapa kali.

"Aaaaahhhh~" Hina tak dapat menahan klimaksnya kembali. Mengalami multiple klimaks membuat tubuhnya sangat lemas.

Penis Naruto masih tertancap di vagina Hina yang di sela-sela penyatuan mereka sedikit ada cairan spermanya yang keluar, namun gesturenya seolah tak ada niat untuk mencabutnya.

Merasa belum puas, Naruto mengubah posisi Hina menyamping ke arah kanan, sedangkan kaki kiri gadis itu ia letakkan di pundak kanannya.

Adapun Hina hanya bisa pasrah apapun yang di lakukan oleh Naruto karena tubuhnya sangat lemas. Ia cuma bisa melihat kembarannya, Sayo sedang tertidur karena kelelahan.

"Oohhh~ bergerak lagi~"

Naruto langsung mengerakan pinggulnya dengan tempo sedang, membuat keduanya dilanda kenikmatan bercinta. Hina dan Naruto terus mendesah keenakan, Anak kedua keluarga Hikawa itu melampiaskan semua rasa nikmat disekujur tubuhnya dengan meremas sprei dan bantal.

"Aahhh~aahhh~kimochiiii~~"

Pikiran Hina mulai terasa kosong kerena kenikmatan yang dia dapatkan, begitu pula dengan Naruto yang kenikmatan dengan jepitan dinding vagina kakaknya. Tangan kiri yang menanggur merambat ke vagina, menyentuh klirotis membuat tubuh Hina melengkung karena dilanda kenikmatan.

Plaakk plaakk plaakk

Suara benturan keras dua paha yang bertubrukan menghiasi kegiatan dua sejoli kakak beradik itu.

Beberapa menit kemudian, Naruto menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Vagina Hina mulai menjepit erat penis Naruto yang bergerak didalam, begitu pula penis Naruto yang mulai membesar karena klimaksnya sebentar lagi akan datang.

"!!!"

"Aahhh~aahhh~ Akuuuhhh~"

Desahan keras Hina bagaikan sumber tenaga Naruto untuk semakin mengoyangkan pinggulnya, dirinya tak bisa berhenti untuk tidak mengoyang dengan cepat saat merasakan penisnya semakin di jepit dengan kuat oleh dinding vagina Hina membuatnya siap menumpahkan kembali sperma miliknya.

Dengan hentakan kuat, Naruto menancapkan penisnya sedalam-dalamnya ke vagina Hina.

Crot Crot Crot

"KKYYAAAHHH~ KELUARRH~~" desah panjang Hina, tubuhnya melengkung merasakan klimaksnya datang bersamaan semburan sperma kesekian kali ke dalam rahimnya. Kedua tanganya meremas bantal dengan kuat, tubuhnya bergetar beberapa kali serta wajahnya mendongak dengan lidah terjulur ke luar.

"Cairan Naru-chan~ Rasanya~ Panaashh~"

Sudah terlalu lelah dengan kegiatan seks mereka di tambah rasa hangat yang memenuhi rahimnya membuat Hina kembali pingsan.

Naruto mengeluarkan penisnya yang sudah lemas. Nampak lelehan sperma mengalir dari vagina Hina yang tak mampu menampungnya.

Bruk

Naruto ambruk kesamping sehingga berada di tengah-tengah kakak-kakaknya. Sepertinya ini sudah mencapai batasnya. Ia terlentang menatap langit-langit kamarnya.

"Kenapa? Mereka sampai berbuat seperti ini?" gumamnya pelan.

Tatapan kosongnya menatap kiri dan kanan dimana Hina dan Sayo yang pingsan berada di sebelahnya. Kesadarannya kembali ketika sudah mengeluarkan klimas terakhirnya.

Ia tidaklah bodoh untuk mengetahui apa yang di campurkan ke dalam minumannya, obat perangsang. Begitu merasakannya, ia berusaha melawannya. Tapi, akal sehatnya kalah dengan hawa nafsunya yang terus membesar. Pada akhirnya, ia melampiaskan semuanya kepada kedua kakaknya yang seperti siap menerimanya.

Ciuman pertamanya dulu di curi oleh Hina, dan sekarang ia melepas status perjakanya dengan menghilangkan keperawanan kedua kakaknya. Walau secara lebih detail, ia melakukannya terlebih dahulu dengan Sayo.

Naruto sudah kehabisan tenaga. Ia tak perduli kamarnya penuh dengan bau sperma dan cairan cinta kedua kakaknya. Ia terlalu lelah. Matanya menutup perlahan, ingin menuju ke alam mimpi.

'Apa yang harus kukatakan kepada kalian? Tou-san? Kaa-san?'

Flashback end

Setelah kejadian itu, Naruto berusaha menghindari kedua kakaknya, tak tahu harus apa untuk menghadapi mereka. Sedangkan untuk Sayo dan Hina, mereka sangat murung dan terkadang menangis dalam diam di dalam kamar. Mereka berfikir kalau Naruto membenci mereka karena keegoisan mereka sendiri.

Orang-orang terdekat mereka jelas sangat bingung dengan perubahan sikap tiga bersaudara itu di depan publik. Apa yang terjadi pada mereka?

Kabar itu sudah terdengar di telinga Miku. Idol itu memutuskan untuk pulang, mencari tahu penyebab hubungan mereka merenggang. Ia mengumpulkan semua anaknya berserta menghubungi Haru- suaminya sehingga pertemuan keluarga terjadi di ruang tamu.

Suasana canggung dan tegang menyelimuti ruangan itu. Sayo, Hina dan Naruto duduk di sofa sementara Miku dan Haru melalui laptop duduk bersebrangan dengan anak-anak mereka. Miku menanyakan apa yang terjadi kepada anak-anaknya, namun mereka tidak mau menjawab. Tapi ketika Haru menekankan mereka dari video call, akhirnya terungkap semuanya.

Naruto ingin bicara, tapi Sayo dan Hina langsung memotong ucapannya. Mereka mengaku semuanya. Tentang perasaan mereka kepada Naruto hingga sampai menjebak Naruto melakukan seks dengan mereka.

Miku menutup mulutnya, terkejut dengan semua perkataan itu. Haru hanya bersikap datar, mungkin bagi Sayo, Hina dan Naruto, itu adalah perasaan kecewa sebagai orang tua.

Tiga bersaudara itu melihat Miku mendekati mereka. Mereka bersiap menerima semua konsekuensinya. Namun bukanlah sebuah pukulan atau apapun, Miku malah memeluk SayoHina.

"Sayo-chan, Hina-chan. Sebenarnya dulu aku juga punya perasaan kepada Haru- bukan, Onii-chan. Jadi ibu mengerti tentang yang kalian rasakan."

Mata Sayo, Hina, dan Naruto melebar mendengar fakta tersebut. Jadi, ayah dan ibu mereka adalah kakak beradik?

"Perasaan kalian terhadap Naru-chan itu hak kalian, Aku dan Onii-chan tidak melarangnya. Tapi, bukan berarti harus memaksa Naru-chan terus bersama dengan kalian sampai seperti ini. Pikirkan perasaannya, mengerti?"

Air mata jatuh dari dua pasang iris mata hijau mint milik Sayo dan Hina. Dua saudari itu menangis di pelukan ibunya. Mereka menyesal terlalu memaksakan egois mereka sendiri.

"Mama..."

"Okaa-chan..."

Miku mengelus surai rambut mereka dengan lembut. Ia memandang Haru yang menangguk padanya. Ia memutuskan membawa keduanya ke ruangan lain untuk menenangkan putri kembarnya sekaligus meninggalkan putra bungsunya bersama suaminya.

"Naruto..." Haru bisa melihat jelas tatapan putranya yang penuh rasa bersalah.

"Tou-san. Aku-" Naruto membungkam mulutnya ketika tangan Haru menyuruhnya untuk tidak melanjutkan kata-katanya.

"Kau tidak perlu merasa bersalah. Itu sudah jadi kemauan mereka sendiri, jadi tak perlu memikirkannya. Sejujurnya aku tidak menyangka kalau Sayo dan Hina akan melakukan cara nekat seperti itu. Berbeda dengan Miku maupun Nenek kalian. Hah~ Hubungan seperti ini, seperti sudah tradisi saja."

Naruto bisa melihat ayahnya memegang kepalanya. Tapi ia cuma diam saja, tak ingin menyela.

"Naruto... Aku menerima Miku- Imouto karena sikapnya yang tidak ingin menyerah membuatku luluh padanya. Tapi, itu berbeda denganmu. Bila kau ingin menerima mereka ataupun menolak mereka, itu semua tergantung perasaanmu. Apapun keputusanmu, mereka pasti mengerti. Aku dan Miku juga akan mendukung pilihanmu. Pikirkan baik-baik."

Semua orang tahu kalau hubungan sedarah itu adalah hal yang sangat tabu.

Tapi, hubungan tersebut sudah terjadi sejak dulu di keluarga Hikawa? itu membuatnya tidak habis pikir.

Ia bertekad akan menghentikan hubungan tersebut.

"Aku mengerti, Tou-san."

Para wanita Hikawa kembali setelah beberapa saat. Kemudian, Sayo dan Hina dengan jujur mengungkapkan semua rasa di hati mereka yang di lihat oleh orang tua mereka sendiri.

"Naru, perasaanku ini bukanlah lagi rasa sesama saudara, tetapi rasa suka wanita kepada pria yang ia cintai. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku."

"Naru-chan, aku tidak perduli apapun dengan ikatan sedarah. Yang ku inginkan hanya ingin bersamamu. Aku sangat mencintaimu, walau aku harus melawan Onee-chan."

Naruto yang menerima ungkapan dari kedua kakaknya hanya berekspresi datar saja, tidak merasa malu seperti kebanyakan orang.

"Jujur saja, aku kecewa terhadap apa yang kalian lakukan waktu itu." desisnya sangat dingin.

Naruto bisa melihat Sayo dan Hina tersentak dan sedih atas perkataannya, namun ia tidak perduli. Ia berdiri, berjalan hingga sejajar dengan ketiga perempuan di sana.

Ia berhenti sesaat, mengucapkan beberapa kalimat membuat SayoHina melebarkan matanya. Ia mencium pipi Miku dulu sebelum pergi dari ruangan.

"Namun, kalau itu memang perasaan tulus kalian, cobalah buat aku untuk mencintai kalian sebagai pasangan. Dan bila itu berhasil, aku pastikan ini sebagai akhir dari tradisi hubungan sedarah keluarga Hikawa."

Kedua gadis itu masih ada harapan.

-o0o-

Toyama Kasumi

Sempat Naruto melupakannya, gadis yang dulu ingin di ajarkan menyanyi saat mereka yang masih kecil bertemu di sebuah padang rumput yang luas, bersama dengan adiknya, Toyama Asuka. Satu hal yang berkesan baginya, gadis itu mensupport dirinya di saat ia kehilangan suaranya di konser Popipa waktu itu. Ia masih merasa bersalah sampai sekarang.

Naruto kembali lagi ke tempat pertama mereka bertemu setelah Kasumi mengajaknya.

Flashback

"Ah, sudah lama tidak kemari."

Kasumi memandang padang rumput yang sudah lama ia rindukan. Naruto yang di belakangnya hanya diam.

"Ayo, An-chan."

Kasumi menarik tangan Naruto dan menjatuhkan tubuhnya, membuat pemuda Hikawa itu juga ikut jatuh. Sekarang mereka berdua tiduran di atas rumput.

"Lihat! Ada banyak bintang!" seru Kasumi menunjuk ke atas.

Di langit malam, sebuah fenomena galaxy antariksa terpampang di sana. Jutaan bintang berkumpul disana mengeluarkan sinar cahaya sehingga menghasilkan pemandangan yang menakjubkan.

"..." Meski tidak bersuara, tapi raut wajah Naruto menyiratkan ia kagum dengan fenomena langit.

"Ne... An-chan."

Naruto menengok ke kanan, melihat Kasumi yang masih memandang langit.

"Ingat saat An-chan menyanyikan 'kira-kira hikaru' di sini? itu sangat indah. Seperti bintang yang paling terang di antara yang lain membuat aku dan A-chan sampai terpesona."

Kasumi melihat Naruto yang tertegun.

"Kau tahu, An-chan? Rasa sakit yang sebenarnya adalah mengecewakan semua orang di saat semuanya berharap banyak pada bintang. Kemudian cahaya bintang itu meredup dan sinarnya menghilang di telan cahaya bintang yang lain. Tapi..."

Kasumi memotong jarak di antara mereka berdua.

"Bintang itu tidak menghilang sepenuhnya. Ia tetap berada di sana, menunggu saat untuk bersinar lagi. Dan saat bintang itu kembali bercahaya, dia tak akan jatuh untuk kedua kalinya."

Tak ada jarak lagi di antara dua insan itu. Kasumi memegang kepala Naruto sehingga jidat mereka saling menyentuh.

"Semua orang bisa menjadi bintang, tetapi tidak semua bintang bisa bercahaya terang. Namun bagiku, hanya ada satu bintang untukku walau apapun yang terjadi dengan bintang itu."

Iris mata ungu gelap bertemu dengan iris mata hijau lime. Senyuman manis tercipta di wajah ayu Kasumi, ia mengucapkan beberapa kata membuat Naruto melebarkan matanya

"Tak perduli berapa bintang yang ada di langit, aku hanya memandang bintang yang sama. Dan bintang itu adalah dirimu, seseorang yang ku cintai, An-chan."

-o0o-

Ichigaya Arisa

Ia tahu kalau gadis berperan sebagai Keyboardis di Popipa sangat menyukai bonsai. Apalagi di saat ia menunjukkan bonsai paling langka dan termahal, langsung kegirangan dia saat melihatnya. Selain itu, dari mulutnya sendiri kalau Arisa menyukai orang yang lebih pintar darinya. Padahal ada Shikamaru, tapi dia malah berkata:

"Hah!? Kenapa aku harus menyukai orang yang punya pasangan!? Yang menolongku waktu wisata musim panas itu kau! Yang lebih pintar dariku itu kau! Yang di jodohkan bersamaku itu kau juga! Kau yang membuatku penasaran. Kau yang menciptakan perasaan ini di hatiku. Kau membuatku merasakan sesuatu hal yang belum pernah ku rasakan. Semuanya salahmu! jadi bertanggungjawablah!"

Naruto Sweatdrop. Kenapa ia di salahkan semua? Perjodohan itu kan yang melakukannya kan ayah mereka sewaktu masih satu band. Memang semua balik ke keputusan dari Naruto dan Arisa. Tapi satu hal yang menyedihkan, kalau perjodohan itu adalah wasiat terakhir dari ayahnya Arisa yang sudah tiada, Ichigaya Utsonomiya.

Flashback

Arisa duduk terdiam. Ia menyembunyikan kepalanya di balik lututnya yang ia tekuk. Ia takut dengan kegelapan hutan malam di sekitarnya, apalagi bunyi hewan nokturnal memperseram keadaan. Andai ia tidak ceroboh dan langsung lari, mungkin ia tidak akan tersesat seperti ini.

Gadis itu menangis. Bagaimana kalau ia tidak bisa pulang? Bagaimana ia-

"Arisa!"

Arisa mendongak, di sana pemuda surai hijau seperti senpainya nampak ngos-ngosan sambil membawa senter. Baju olahraganya sangat kotor di beberapa bagian.

"Naruto, hiks."

Naruto langsung berlutut setelah di dekat Arisa. Pemuda itu sangat khawatir saat Arisa tanpa alasan langsung lari meninggalkan kelompoknya yang beranggotakan dirinya, Arisa, Kasumi, Tsugumi dan Ran.

"Ada apa denganmu? Kami semua sangat khawatir karena kau tiba-tiba lari begitu saja."

"Itu..." Arisa tak mungkin jujur menjawabnya. Ia merasa perasaannya tak menentu berada di dekat Naruto.

Naruto tersenyum saja, mungkin Arisa tidak mau menceritakannya. "Baiklah, aku tidak memaksamu untuk menjawabnya." Pemuda itu dengan fokus mengelap air mata Arisa, tanpa tahu kalau wajah Arisa merona.

Setelah selesai, Naruto berdiri "Ayo kita kembali." ujarnya mengulurkan telapak tangannya.

Arisa memandang sebentar, ia memegang tangan Naruto.

"Itai."

Baru ingin bangkit, gadis itu jatuh kembali. Ternyata pergelangan kaki kiri Arisa memerah dan membengkak. Mata Naruto melebar.

"Arisa, apa sebelumnya kamu terjatuh?"

"U-um." Arisa mengangguk.

Naruto berdecak pelan. Sial, di saat begini ia tidak membawa kotak p3k. Pemuda itu berjongkok membelakangi Arisa.

"Tidak ada pilihan. Arisa, naiklah ke punggungku."

Arisa terkejut. Apa Naruto ingin menggendongnya? Itu memalukan tahu!. "Aku tidak ma-"

"Arisa!"

Gadis Twintail itu tersentak ketika Naruto memotong bantahannya. Ia bisa melihat tatapan Naruto yang serius, seolah tidak ingin mendengar apapun darinya.

"Ba-baik."

Dengan ragu-ragu, Arisa mengalungkan lengannya di leher Naruto dan naik ke punggung pemuda itu, sehingga Naruto langsung mengangkatnya dan mulai berjalan meninggalkan lokasi.

Arisa bisa merasakan hangatnya punggung Naruto yang kokoh.

"Kenapa kau sebegitunya mencariku?"

"Huh? Apa yang kau katakan? Bukankah sudah jelas..." Naruto fokus menatap kedepan. Ia melanjutkan "...sebagai teman, aku akan selalu melindungimu, Arisa." ucapnya sedikit menengok kebelakang disertai senyuman tipisnya.

Deg

Arisa merasakan jantungnya berdetak kencang. Perasaannya berdebar-debar begitu senyuman Naruto terasa sangat keren di matanya.

Wajahnya merona hebat, Arisa merasa sangat malu dan langsung menyembunyikan wajahnya di punggung Naruto.

Naruto hanya menaikkan alisnya melihat sikap Arisa yang aneh. Ia memutuskan untuk mengabaikannya dan berfokus melihat jalan di depan.

Seandainya kalau Naruto lebih teliti lagi, pasti ia akan melihat telinga Arisa yang memerah.

'Naruto no Baka!' ucap Arisa dalam hati.

Flashback End

"Dengar ya, aku melakukannya karena tidak ingin kalah oleh yang lain. Ma-makanya, jadilah milikku, Naruto."

Arisa mengucapkannya di halaman rumahnya tanpa tahu kalau nenek Arisa mengupingnya.

-o0o-

Yamabuki Saaya

Bukan hanya Arisa saja yang di jodohkan, Saaya juga jadi korban perjodohan yang di lakukan ayah mereka sewaktu masih dalam band.

Semua berawal dari rasa ingin tahu akan pengalaman baru, itulah yang Naruto suka. Mempelajari resep roti Yamabuki bersama-sama dengan Saaya karena permintaannya sendiri, sering bersama saat Poppin'Party berkumpul, hingga tanpa sadar hubungan mereka semakin dekat.

Flashback

Di bagian dapur toko Yamabuki, nampak dua insan berbeda gender berada di sana. Naruto yang memakai atribut khas koki menangkat nampan yang di keluarkan dari oven. Terlihat roti Choco Cornet yang baru matang mengeluarkan aroma khasnya.

Pemuda itu dengan hati-hati menaruhnya di atas meja makan dekat gadis surai coklat diikat ponytail dan bermata biru yang sedang duduk.

"Kelihatannya enak." celetuk Saaya memandang roti yang di buat Naruto.

Naruto yang sedang melepas apronnya hanya mendengus. "Apa yang kau katakan, Saaya? Kau yang mengajariku resepnya, jadi rasanya sama saja dengan yang biasa kalian buat."

Saaya tertawa kecil. "Benar juga."

"Wah. Ada Choco Cornet."

Keduanya kompak melihat dua orang dewasa serta dua anak kecil berumur 6 tahun masuk ke dapur.

"Ara~ kupikir apa yang membuat harum sampai kedepan, ternyata Choco Cornet yang baru matang." ujar wanita dewasa itu adalah ibunya Saaya.

Sementara laki-laki dewasa mulai mendekat "Boleh kami coba rasanya?"

Naruto mengangguk. "Silahkan."

Keluarga Yamabuki kecuali Saaya mengambil Roti yang di buat Naruto. Ekspedisi mereka nampak menikmati rasanya.

"Oishi..." ucap anak kecil perempuan bernama Sana.

"Oh! rasanya persis dengan buatan kita. Kerja bagus, Shounen." Kali ini Ayahnya Saaya, Koushi memuji Naruto.

"Hmph, ku akui kau memang hebat." ucapnya seperti tak mengakuinya dari anak kecil laki-laki bernama Jun.

Dan terakhir ibunya Saaya, Chihiro baru saja menghabiskan rotinya. Ia memandang Saaya beserta Naruto secara bergantian.

"Ada apa, Kaa-san?"

Senyuman tercipta di wajah Chihiro ketika putri sulungnya bertanya. "Naruto-kun, menikahlah dengan Saaya."

Blush

"Uhuk-uhuk."

Dan itulah awal di mana semuanya mulai berjalan, dan sedikit mulai terungkap apa yang terjadi.

Waktu demi waktu, akhirnya jembatan penyeberangan jalan jadi saksi ungkapan Saaya.

"Aku tahu kalau peluangku sangat kecil, tapi setidaknya aku ingin berkata kalau aku berharap jadi pasanganmu, Naruto-san."

-o0o-

Mitake Ran

Salah satu teman masa kecilnya. Pertama bertemu dengannya saat umur 4 tahun, bersama dengan Ichika Baa-san yang saat itu bertamu ke rumahnya. Gadis itu dulunya pemalu, tapi lambat laun Ran terbuka kepadanya. Banyak hal-hal terjadi di antara mereka sampai sekarang ini.

Dibawah daun-daun jingga yang berjatuhan di musim semi. Ran berkata jujur kepadanya dengan senyuman manisnya.

"Na-chan, aku sudah tahu semuanya. Apapun keputusan yang kau buat, itu yang terbaik. Namun, aku masih belum menyerah, itulah cintaku padamu."

-o0o-

Hazawa Tsugumi

Teman masa kecilnya yang lain. Naruto kagum dengan sifat tenangnya menyelesaikan semua masalah seperti festival gabungan Haneoka dan Hanasakigawa. Ia mengira kalau hubungannya yang akrab hanya sebatas teman dan partner Hazawa Coffee, tapi itu salah besar. Dia membuat pernyataan di depan para penonton konser Argonavis yang mengejutkan semua orang.

"Di sini, di budokan ini. Aku, Hazawa Tsugumi, sangat mencintai orang yang bernama Hikawa Naruto-kun. Ran-chan, sesuai keinginanmu, kita akan bersaing mulai saat ini."

"Itulah yang kutunggu, Tsugumi!"

Naruto hanya melongo saja ketika ia jadi bahan pembicaraan mereka.

-o0o-

Maruyama Aya

Gadis surai merah muda yang kikuk. Itu penilaian dari lubuk hatinya saat melihatnya pertama kali di apartemen miliknya. Di mulai duet bersama di Festival gabungan sekolah Hanajo dan Haneoka yang menghebohkan para murid.

Suatu hari, Aya mengajaknya ke tempat kunjungan di pinggir kota. Pemandangan kota begitu menakjubkan.

Di bawah cahaya rembulan malam, Aya mengucapkannya pada saat mereka menari bersama.

"Terkadang, aku ingin menyerah pada segala hal yang kuhadapi. Tapi berkat dirimu, aku ingin berubah. Maka kali ini, aku tak ingin menyerah untuk bersamamu, sebab aku mencintaimu, Naruto-kun."

-o0o-

Shirasagi Chisato

Awalnya interaksinya dengan Chisato-senpai hanya sebatas teman hubungan dari Hina Nee-chan. Segalanya berubah ketika Shikamaru memaksanya untuk menjadi model pengganti dan berpasangan dengan gadis surai kuning itu. Setelahnya, banyak tawaran pekerjaan di terima oleh Naruto.

Naruto dan Chisato akhirnya menjadi partner. Suatu hari, tempat syuting mengalami kecelakaan. Semua orang panik. Semua terasa begitu cepat, ia mungkin hanya mengingat beban yang berat di punggungnya, untuk melindungi Chisato yang ada di bawahnya.

"Naruto-kun, kenapa?"

"Heh, apakah perlu alasan seorang pria untuk melindungi wanita dari bahaya?" ujarnya mengabaikan rasa sakit. Ia merasakan darah mengalir dari dahinya dan menetes ke pipi Chisato. "Gomen, darahku merusak kecantikanmu, Chisato-senpai."

Mata Chisato melebar. Dia rela melindunginya seperti ini.

"Naruto!"

Mereka berdua bisa mendengar kalau ada teriakan Shikamaru di luar sana. Tak lama kemudian, mereka bisa melihat kalau puing-puing seperti papan Clapper board mulai di singkirkan satu-satu sehingga mereka bebas.

Naruto menengok ke Shikaku dan Shikamaru yang terkejut dengan keadaannya.

"Sisanya, aku serah-"

Bruk

Naruto pingsan duluan di sebelah Chisato.

"Naruto-kun!"

"Naruto!"

Begitu Naruto sadar, ia sudah berada di rumah sakit. Ia merasakan tangannya di pegang oleh Chisato-senpai yang tertidur. Naruto menggoyang-goyangkan badan Chisato membuat gadis itu terbangun. Mata gadis itu melebar dan dia langsung memeluknya sembari menangis.

Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi erat. Walau di beberapa keadaan, sifat Chisato-senpai menjadi posesif seperti kedua kakaknya.

"Aku awalnya tidak tahu mengapa mereka sangat ingin bersamamu. Tapi akhirnya aku mengerti di saat kita bersama. Kau orang yang hebat, dan sangat keren seperti waktu kau menyelamatkanku. Tidak hanya itu, caramu itu membuat semua orang ingin mengikutimu. Aku juga ingin melakukannya, tapi bukan sesaat saja, melainkan untuk selamanya. Aku mencintaimu dari hatiku yang terdalam, Naruto-kun."

-o0o-

Minato Yukina

Bisa di bilang, semua yang berhubungan dengan Yukina mengubah semua hidup Naruto. Pertemuan pertama yang langsung jadi bermusuhan, Yukina tidak menyukainya karena dirinya mirip dengan ayahnya di atas panggung. Naruto bersama bandnya terus berkembang pesat membuat Yukina iri. Sampai dimana Yukina dengan lantang menantangnya untuk berduel antara Roselia melawan Argonavis. Naruto menerimanya dengan dingin.

Itu awal petaka bagi Roselia, mereka kalah telak melawan Naruto dkk. Parahnya lagi, gitaris Argonavis saat itu bukanlah Sasuke, tapi Asahi Rokka, teman Ako sekaligus staff galaxy.

Roselia coba bangkit kembali dengan manggung di SMS, tapi hasilnya merosot jauh. Suara mereka seperti kosong, tidak ada rasa sama sekali, semua penonton tidak ingin mendengarnya dan pergi sehingga di sana tidak ada siapapun.

Perpecahan mulai tercipta.

Flashback.

Yukina tidak bisa berfikir jernih dan menyalahkan semuanya. Sayo membantahnya, tapi Yukina malah menghardik Sayo.

"Berkat adikmu yang sialan itu, Roselia menjadi berantakan seperti ini, Sayo!"

"A-apa? Jadi kau menyalahkan Naru dengan yang kita alami!?" Emosi Sayo memuncak ketika Adiknya di salahkan oleh Yukina.

"Ya. Kau selalu memperhatikannya. Karena itu, kalau kau ingin tetap berada di Roselia, jangan berhubungan apapun lagi dengannya."

Tentu saja Sayo murka mendengarnya. Ia membereskan semua peralatannya.

"Baik! Aku akan keluar dari Roselia sekarang. Naru adalah sebagian hidupku, kau tidak berhak mengaturnya. Aku kecewa denganmu, Minato-san."

BRAK

Pintu langsung di banting oleh Sayo yang pergi dari sana.

"Tahu apa kau tentang Naru-nii, Yukina-san?" Yukina dan Lisa tersentak kaget saat Ako berbicara datar. "Naru-nii adalah kakak yang sangat hebat buatku. Bahkan terkadang Naru-nii memberiku saran hingga sampai tahap ini demi Roselia. Tapi apa yang kudapatkan? Menyalahkan orang lain karena tidak kemampuan kita?"

"!"

"A-ako?"

Dengan berderai air mata, Ako berteriak keras "INI BUKANLAH ROSELIA YANG KUKENAL! HARUSNYA KITA MENGEVALUASI KEMAMPUAN SATU SAMA LAIN, BUKAN SALING MENYALAHKAN! SEMUA BERUBAH KETIKA KAU MENANTANG NARU-NII. KALAU KAU TIDAK MELAKUKANNYA, TIDAK AKAN TERJADI SEPERTI INI! AKU JUGA KELUAR DARI ROSELIA!"

"Tu-tunggu, Ako!"

Lisa mencoba memanggilnya, tapi Ako tidak perduli. Ia menyusul Sayo keluar dari ruangan.

"Ako benar."

Yukina dan Lisa menegang ketika Rinko menunduk.

"Roselia saat ini bukanlah untuk tampil di Future World Fest, tapi hanya untuk mengungguli Argonavis. Aku belum lama mengenal Naruto-san, tapi dia orang yang sangat baik. Ia tidak akan mungkin melakukan hal jahat."

"Tu-tunggu, Rinko!"

Lisa memegang tangan Rinko, namun langsung di lepas begitu saja. Sebelum keluar dari sana, tatapan Rinko sangat dingin, yang baru pertama kali dilihat oleh dua orang di sana.

"Terima kasih untuk semuanya. Selamat tinggal, Roselia. Dan selamat tinggal juga, Future World Fest."

Keadaan jadi hening begitu Rinko meninggalkan ruangan yang tersisa dua orang.

Yukina jatuh terduduk, ia menangis. Roselia hancur.

"Hiks... Hiks..."

Lisa ingin memenangkan Yukina dengan memegang tubuhnya, tetapi tangannya di tepis begitu saja.

"Pergi!"

"Hu-huh?"

"AKU BILANG PERGI!! AKU INGIN SENDIRI! IMPIANKU MUSNAH!! PERGILAH DARI HADAPANKU, LISA! KAU TIDAK BERGUNA!"

Kata-kata tajam nan menusuk begitu menyakitkan yang Yukina ucapkan di telinga Lisa. Gadis itu tersentak 'Begitu ya... Selama ini aku hanya di anggap sebatas itu saja.'

Air mata mulai mengalir dari kelopak mata Lisa. "Hiks.. Kalau itu maumu, aku akan pergi." Ia berjalan mengarah keluar. Ia berhenti sesaat, berharap Yukina akan memanggilnya kembali. Akan tetapi, harapannya menguap ketika Yukina hanya diam menunduk tanpa melihatnya.

Lisa pergi dari sana.

.

Kabar Roselia telah bubar jelas mengejutkan semua orang di dua sekolah termasuk band-band lain seperti Afterglow. Mereka menduga-duga kalau ini ada hubungannya dengan kekalahan Roselia melawan Argonavis.

Keadaan mantan member Roselia berbeda-beda. Sayo dan Rinko masih tetap seperti biasanya walau sempat canggung di awal. Ako menikmati musik bersama dengan Rokka dan Asuka. Lisa mencari kegiatan baru yang menarik untuknya, dengan teman-teman barunya.

Yukina? sekarang dia hanya sendirian. Ia tampak tak perduli Lisa yang sudah mengabaikannya. Gadis itu mencari anggota baru dengan cara sebelumnya, bernyanyi secara solo.

Tapi hasilnya sama saja. Tak ada yang mendengar suaranya. Semua penonton pergi meninggalkannya. Yukina tidak di terima di studio manapun.

Tatapan mata Yukina terasa kosong. Putus asa, depresi, dan merasa tak ada lagi tujuannya di dunia ini. Tidak kuat menahan beban yang di hatinya, Yukina ingin bunuh diri dengan lompat dari pinggir jembatan penyeberangan rel kereta. Tapi, seseorang mencegahnya.

"TIDAK! LEPASKAN AKU! AKU INGIN BEBAS!"

"KAU PIKIR DENGAN SEPERTI INI AKAN MENYELESAIKAN SEMUANYA!? HENTIKAN PERBUATAN BODOHMU!"

Naruto terus memeluk Yukina yang memberontak. Ia sudah mendengar kabar Roselia bubar. Ia mengikutinya karena melihat gadis ini bersikap aneh. Tapi itu diluar dugaannya kalau senpainya akan mencoba bunuh diri.

Setelah tahu siapa yang menghentikannya, Yukina malah menjadi-jadi.

"KENAPA KAU MENYELAMATKANKU!? BUKANKAH INI YANG KAU INGINKAN? KEHANCURAN DARI ROSELIA! HARUSNYA KAU SENANG BUKAN!?" Perlawanan Yukina melemah, dan ia mulai menangis. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Naruto. Pemuda itu langsung mengangkatnya ke tengah jembatan.

"Lalu kenapa?" suara Yukina terdengar parau.

Naruto mendekap Yukina di dadanya yang tak lagi memberontak. "Bodoh! Aku tidak berpikiran seperti itu. Aku menerima tantanganmu karena ingin menyadarkanmu kalau musik bukanlah jalan keegoisanmu saja."

Tak ada jawaban, namun Naruto merasakan bajunya di cengkram erat Yukina. Ia berujar dengan lembut. "Aku tidak ingin dirimu melakukan kesalahan yang sama seperti ayahmu dulu."

Kaget ayahnya di bicarakan, Yukina mendongak. Air matanya terus mengalir dari iris emasnya. "Apa yang kau katakan?"

Pemuda itu mengelap air mata yang mengalir di wajah Yukina. Naruto membeberkan semua rahasia di masa lalu dengan bukti foto serta catatan dari Ayahnya. Yukina sangat terkejut dengan cerita tersebut. Ayah mereka, beserta Arisa dan Saaya dulunya adalah teman satu band. Suatu hari, Ayah Yukina dengan egoisnya menerima tawaran dari brand musik besar tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan teman-temannya demi tampil di Future World Fest.

Hasilnya? berantakan. Mereka tidak mampu menahan tekanan demi tekanan dari perusahaan tersebut. Diperparah kalau band di tolak mentah-mentah oleh Future World Fest, karena ketidakmampuan mereka. Sejak saat itu, tak ada lagi rasa percaya sesama teman band. Pada akhirnya, band itu bubar.

Setelah bercerita, Naruto membawa Yukina dalam gendongannya menuju ke rumahnya, disana sudah ada orangtua Yukina yang khawatir kepada gadis surai perak itu.

Yukina to the point menanyakan kebenaran cerita Naruto kepada Ayahnya. Pria surai hitam tersebut langsung menjawab tegas kalau itu memang faktanya. Itulah alasannya dulu melarang Yukina untuk menyanyi, takut bernasib sama dengannya.

Flashback end.

Masih teringat jelas di kepalanya saat Yukina menanyakan tentang ayahnya di taman.

"Apa kau membenci Tou-san ku setelah semua yang dia lakukan kepada Tou-sanmu?"

"Tidak. Itu semua hanya masa lalu. Apa yang mereka alami membuatku menyadari satu hal."

Yukina penasaran. "Apa itu?"

Naruto menangkat lengannya ke arah bulan seperti memegangnya. "Mau sehebat apapun orang itu, ia tidak bisa menanggung semuanya sendirian. Ia masih membutuhkan orang lain di sampingnya."

"Begitupun denganku. Tanpa Sasuke, Menma, Kiba dan Shikamaru, aku tidak akan sampai sejauh ini. Mereka telah banyak membantuku. Karena itulah, akan ku lakukan apapun untuk mempertahankan ikatan ini."

"Sesulit apapun rintangan yang ada di depan, teruslah bersama dengan teman-temanmu. Percayalah kalau rintangan itu akan bisa di lewati bersama-sama juga. Itulah yang selalu Tou-san ajarkan kepada kami."

Yukina terpesona dengan kata-kata Naruto.

"Minato-san, bukankah kau selama ini sudah mempunyai seseorang yang selalu mendampingimu bukan?"

Deg

Jantung Yukina serasa berhenti.

Seseorang yang selalu di sampingnya. Yang dulu menerima apa adanya, tapi ia sendiri seperti tak memperdulikannya. Namun saat ini, ia mengerti apa arti rasa sakit karena kehilangan teman masa kecilnya akibat perbuatannya sendiri.

'Lisa...'

Ia menyesal, dan ingin meminta maaf padanya.

"Naruto..."

Naruto menengok ke arah Yukina yang memanggil namanya. Remaja itu melihat tekad Yukina yang mulai menyala kembali.

"Ya?"

Gadis itu mengepalkan tangannya. "Aku... ingin memulai lagi dari awal. Aku membutuhkan Roselia, aku membutuhkan teman-temanku. Karena itu, kumohon bantu aku!" ujarnya dengan membungkuk 90 derajat, menghasilkan senyuman terpatri di wajah Naruto.

Dimulailah Yukina mencoba mengembalikan Roselia. Tentu saja itu membutuhkan perjuangan yang berat. Tidak mudah membujuk mantan member Roselia. Yukina tidak menyerah, terus dan terus mencoba selama berhari-hari. Pada akhirnya Ako, Rinko dan Lisa pun luluh, dan setuju untuk bergabung lagi dengan Yukina.

Tapi untuk Sayo, jauh lebih sulit membujuknya karena gadis itu sangat membenci Yukina karena menghina Naruto tepat di depannya waktu itu.

Namun pada akhirnya Sayo luluh ketika Naruto berkata untuk memberikan kesempatan kedua pada Yukina.

Kabar Roselia kembali terbentuk membuat semua orang senang.

Jalan Roselia di mulai lagi dengan tampil dari panggung ke panggung lainnya, sampai di awal musim dingin, dimana mereka dapat tawaran yang sangat tidak di duga.

"Roselia. Aku secara resmi mengundang kalian ke konser perdana Argonavis kami 'Band Party' di Budokan. Apakah kalian menerimanya?"

Yukina, Lisa, Rinko, Ako dan Sayo terkejut ketika Naruto mengundang mereka ikut berpartisipasi dalam konser Argonavis di budokan bersama Poppin'Party, Afterglow, Pasupare, dan Hello, Happy World. Mereka senang bukan main, dan langsung menerimanya.

Sayo terharu mendengarnya. Ia bangga dengan pencapaian Naruto.

Konser Argonavispun sukses besar, popularitas band-band di sana semakin terkenal termasuk Roselia sendiri.

Waktu terus berjalan, Yukina sudah bukan orang yang sama, gadis itu sudah jauh berubah. Di saat yang sama, perasaan hati Yukina tumbuh ketika berada di dekat Naruto. Semakin lama, perasaannya semakin besar. Yukina tahu, ia sudah jatuh cinta kepada Naruto. Tapi ia menyimpannya untuk sementara.

Tanpa sadar, kontes mencari tiga band terbaik untuk tampil di Future World Fest akan segera tiba. Kali ini Naruto yang sebelumnya di paksa untuk ikut oleh Sayo dan Yukina menantang Roselia untuk berduel di kontes tersebut. Yukina tentu saja menerimanya. Tak seperti sebelumnya, persaingan ini hanya untuk bersenang-senang di antara Roselia dan Argonavis.

Kontes itu di mulai, puluhan band profesional mengeluarkan kemampuan terbaik mereka di sini termasuk Roselia dan Argonavis, di depan orang-orang terdekat yang hadir.

Setelahnya, pengumuman hasil dari konset itu keluar, mengejutkan semua orang. Juara pertama di menangkan oleh Roselia, kedua band perempuan, Magnolie, dan yang ketiga, Argonavis.

Masing-masing band pemenang disuruh untuk naik ke panggung. Di sisi Roselia, perasaan mereka tak menentu. Senang, karena menjadi juara dan tampil di Future World Fest. Namun mereka juga merasa ada yang tak beres dengan Argonavis.

Firasat itu semakin kuat ketika hanya satu anggota dari Argonavis yang naik ke panggung, Namikaze Menma memberikan pidatonya.

"Sebagai perwakilan Argonavis, kami sangat bangga bisa tampil di Future World Fest. Tentu saja kami ingin merayakannya malam ini, tapi itu tak mungkin terjadi, karena..."

Jantung member Roselia, terutama Sayo seperti berhenti berdetak setelah Menma meneruskan ucapannya.

"...Vokalis sekaligus Leader kami, Hikawa Naruto jatuh pingsan dan sekarang di bawa ke rumah sakit."

.

Tak perlu menunggu berlama-lama setalah Kontes, Roselia langsung pergi ke rumah sakit yang di maksud Menma. Disana sudah banyak orang-orang terdekat menunggu kabar keadaan Naruto seperti Popipa, Afterglow, Pasupare, Hello, Happy World, grup dj Peaky P-key dan Happy Around.

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, pria itu mengatakan kalau Naruto mengalami demam dan kelelahan, itulah penyebabnya sampai jatuh pingsan.

Semua shock.Jadi selama ikut kontes, Naruto sudah dalam kondisi itu sebelumnya. Pantas suaranya tidak seperti biasanya. Terkecuali member Argonavis. Sasuke menjelaskan kalau awalnya mereka melarang Naruto untuk tampil, dan Argonavis akan mundur dari kontes. Tapi Naruto dengan keras kepalanya akan tetap maju dan memohon kepada mereka. Melihanya seperti itu membuat Sasuke serta teman-temannya tidak punya pilihan lagi selain menuruti permintaannya.

Gadis-gadis di sana tersentuh dengan tekad Naruto.

Roselia termenung. Seandainya kalau Naruto dalam kondisi baik-baik saja, Argonavis pasti yang akan jadi juara.

Mereka berbondong-bondong masuk setelah di izinkan dokter. Disana terlihat Naruto berada di ranjang, memasang wajah tersenyum. Tangannya terpasang selang yang mengalirkan infus.

Keadaan di ruangan itu menjadi ramai. Ada yang nampak memarahi Naruto karena terlalu ceroboh membuat mereka khawatir, lalu ada yang bikin hiburan seadanya, bahkan ada yang sempat-sempatnya pamer keromantisan membuat Kiba ingin menghajar Shikamaru, untung saja di cegah oleh Menma dan Sasuke. Tampak senyum bahagia terpancar di wajah mereka.

Besoknya, Naruto sudah diizinkan untuk pulang. Kebetulan ada Roselia yang Lisa ingin tahu kenapa Naruto begitu memaksakan dirinya untuk ikut kontes. Naruto menjawabnya dengan simple, tapi jawaban itu membuat mata member Roselia melebar.

"Itu diluar perkiraanku kalau aku akan tampil di Future World Fest bersama kalian. Sejujurnya, aku tidak perduli dengan hasil kontesnya. Aku sengaja mengikutinya karena aku yakin kalian akan mengerahkan segalanya."

"Bagiku, melihat Roselia yang kembali dan jauh lebih kuat, itu sudah membuatku sangat senang."

Ako kemudian bertanya.

"Naru-nii, apa tujuan Argonavis?"

Naruto tersenyum, ia menepuk kepala gadis itu. "Pada awalnya Argonavis di buat hanya untuk mengikuti Night Stage, tidak lebih. Tapi setelah melalui berbagai hal, tujuan itu berubah. Mereka yang tadinya hanya ingin membantuku, malah menikmatinya dan ingin terus bermain musik."

Ia tak sengaja menatap teman-temannya yang sudah menunggu dirinya. "Dan sekarang kami ingin mewujudkan satu impian."

"Impian?"

Naruto berjalan duluan sebelum berhenti dan menengok ke belakang untuk menjawab pertanyaan Rinko.

"Membuat Argonavis berada di puncak dan mengenalkan musik Jepang kepada seluruh dunia, itulah impian kami yang sesungguhnya."

"Sampai bertemu di Future World Fes, Roselia." lanjutnya langsung berlari menghampiri grupnya.

Mencapai puncak...

Membuat seluruh dunia mendengar lagu Jepang...

Roselia terdiam. Mereka tidak menyangka kalau impian Naruto bersama Argonavis akan setinggi itu.

Begitupun Sayo menatap punggung Naruto, ia merasakan ada tekad yang begitu kuat dari Naruto. Ia tersenyum. Kalau begini, rasanya tidak mungkin untuk melampauinya. Adik laki-lakinya terlalu jauh untuk ia gapai.

'Berbeda dengan aku yang ingin melampaui Hina. Kali ini, aku akan selalu berada di belakang, untuk mendukungmu. Sebagai gantinya, raihlah tujuanmu itu bersama Argonavis, Naru.'

.

Pada tahun baru, acara puncak genre musik band, Future World Fest telah datang. Di belakang panggung, nampak Argonavis dan Roselia memakai kostum dan motif yang sama persis, warna biru dan putih. Itu sudah di diskusikan bersama.

(Roselia sama di movienya, kalau Argonavis bayangin aja versi laki-laki.)

Roselia tampil duluan membawa tiga lagu.

Louder, lagu andalan Roselia di ciptakan ayahnya dan di sempurnakan Yukina.

Neo Aspect, lagu yang di tulis Yukina mencurahkan perasaannya ketika sendirian, pertama ia menyanyikannya di konser Argonavis.

Dan lagu baru Roselia di tulis oleh semua member nya, Song I Am.

Semua penonton kagum dengan perubahan Roselia.

Kedua band Magnolie. Mereka juga cukup bagus.

Dan terakhir Argonavis. Para pemuda itu selalu membuat kejutan.

Pertama lagu berjudul Niwaka Ame Nimo Makezu yang Naruto nyanyikan berserta pemutaran MV pertama mereka di layar LCD besar di belakang.

Kedua lagu King, lagu yang dinyanyikan saat melawan Roselia.

Dan yang terakhir inilah tidak disangka-sangka oleh semua orang. Panggung tiba-tiba gelap. Saat di nyalakan kembali, ternyata Menma yang seharusnya ada di sana di gantikan oleh... seorang pria dewasa.

Tentu saja itu membuat penonton bingung, memikirkan kenapa bassist nya di ganti. Namun berbeda dengan Roselia, mereka sangat terkejut, bahkan tangan sampai menutup mulut mereka sendiri. Yukina.. ia menangis.

Ayahnya...

Berada di panggung impiannya...

"Baiklah, karena ini adalah lagu terakhir. Maka lagu ini adalah lagu terbaru kami."

Roselia bisa melihat kalau Naruto meletakkan gitarnya tak jauh di belakang dan memasang sebuah topeng di samping wajahnya. Member yang lain juga ikut meniru Naruto, terkecuali ayahnya Yukina, karena sudah ada topeng di sebelah wajahnya juga.

"Dramaturgy"

(Bayangkan duet Naruto dan Ayahnya Yukina sama seperti Akito dan Touya di proseka)

.

Dibelakang Panggung

"Hiks Hiks... Tou-san."

"Tenanglah, Yukina."

Mereka tersenyum ketika Pria dewasa itu menenangkan Yukina dengan mengelus punggungnya. Ayahnya Yukina lantas menengok ke arah Naruto.

"Terimakasih atas semuanya, Naruto."

Naruto menggeleng. "Aku hanya memenuhi permintaan dari Tou-san dan Koushi-san."

Iris emas Ayah Yukina melebar sesaat. Senyuman terpatri di wajahnya. Begitu ya, padahal ia menghancurkan semuanya, tapi mereka masih perduli padanya.

"Aku akan menemui mereka nanti."

Pria itu melihat Yukina yang sudah tenang. "Yukina, sewaktu masih dalam band, kami telah membuat sebuah perjanjian."

"Perjanjian?"

"Ya, janji di mana kalau kalian yaitu kamu, Saaya, Arisa akan kami jodohkan dengan Naruto."

"APA!?"

Semuanya terkejut ketika mendengar perkataan itu. Perjodohan? Member Roselia kecuali Sayo yang murung dan Argonavis memandang Naruto di mana pemuda itu berkeringat dingin.

"Woi! Aku tak pernah mendengar kalau kau sudah di jodohkan."

"Bajingan! Sudah di jodohkan sama Kokoro, sekarang kau di jodohkan lagi sama tiga gadis lagi. Aku juga ingin, bangsat!"

"Benarkah itu, Menma!? Naruto di jodohkan juga sama gadis sultan itu?"

"Ya."

"Mint Sialan!"

"Hn."

"Grroookk"

Teman-teman Naruto langsung mengeroyoknya, walau cuma Menma dan Kiba yang heboh sendiri sedangkan Sasuke kalem saja dan Shikamaru sudah tertidur di kursi yang ia jejerkan, entah kapan ia melakukannya.

Ayah Yukina malah menaikkan alisnya. 'Haru menjodohkan seorang gadis lagi selain ini?'

Ako mencak-mencak. "Curang..." ucapnya mengembungkan pipinya.

Rinko entah kenapa senyumannya di paksakan, seperti tak suka dengan itu. 'Kenapa dengan diriku?'

Lisa menatap Naruto dengan sedih. Sebenarnya ia juga suka dengan Naruto. Tapi kalau begini...

'Darling..'

Sayo menunduk saja, tapi kalau di perhatikan, tangannya terlihat mengepal.

"Tou-san. Aku punya permintaan." Yukina menatap ayahnya yang menangguk padanya.

"Katakan."

.

"Oi, Lepaskan!"

Naruto berusaha untuk melepaskan kuncian dari Menma dan Kiba yang iri padanya.

"Naruto..."

Orang-orang disana terdiam ketika Yukina mendekati Naruto karena penampilan gadis marga Minato itu berubah sebab rambut surai peraknya yang dulunya sepinggang, sekarang di potong menjadi pendek sebahu.

"Minato-san, rambutmu..."

Yukina telah di depan Naruto. Menma dan Kiba melepaskan kunciannya dan agak menjauh dari mereka.

"Tou-san sudah menceritakan semuanya. Jadi, bagaimana menurutmu?"

Naruto menggaruk pipinya, ia merasa agak gugup dan bingung. "Sejujurnya, aku belum kepikiran tentang itu. Karena itu, aku meminta waktu untuk memutuskannya."

Senyuman manis tercipta di bibir Yukina. "Begitu ya. Aku ingin mengatakan sesuatu, Naruto."

"Apa itu?"

Tidak menjawab, Yukina lebih mendekat lagi membuat firasat member Roselia tidak enak.

Benar saja, Yukina langsung mendorong Naruto ke lantai. Gadis itu berada di atas tubuh Naruto dan memegang kedua pipi remaja Hikawa itu.

"Aku mencintaimu, Naruto."

Cup

Tanpa basa-basi, Yukina mencium bibir Naruto membuat yang bersangkutan terdiam membeku.

"KYYYAAAA!"

Sontak saja member Roselia berteriak heboh ketika Yukina melakukan hal yang tak terpikirkan. Mereka langsung mendekati dan mencoba memisahkan mereka karena cemburu, walau mereka tidak menyadarinya.

Sedangkan member Argonavis serta Ayahnya Yukina hanya melongo saja melihat kejadian tersebut.

"Benar-benar bajingan yang beruntung."

Semua setuju dengan perkataan Sasuke.


Next Chapter karena masih ada lagi.