Imai Lisa
Sejauh yang Naruto ingat, teman kakaknya satu ini selalu mendekati dan terkadang menggoda dirinya di saat mereka bertemu sejak konser Roselia di dub waktu itu. Entah apa alasannya, ia tak tahu. Tapi ia sudah terbiasa, jadi bukan masalah.
Namun ada satu kejadian yang Naruto tak suka atas perilaku Lisa.
Flashback
"Kamarmu wangi sekali, Imai-senpai."
"Arigatou..." Lisa senang dengan pujian itu. Saat Naruto asik melihat-lihat kamarnya, Lisa di belakang Naruto diam-diam mengunci kamarnya. Tak sampai di situ, Lisa bahkan membuka kancing seragam miliknya sehingga BH yang menutupi Oppai besarnya terlihat.
"Aduh..." keluh Naruto ketika tubuhnya mendadak di dorong hingga ia tergeletak di atas kasur Lisa. Ia yang ingin bertanya apa yang terjadi, langsung terkejut melihat penampilan Lisa yang bisa menggoyahkan imannya. Gadis itu berada tepat di atas Naruto.
"Darling... Saat aku melihatmu bersama dengan bandmu, aku merasa iri karena ingin seperti itu. Argonavis sungguh sangat hebat bisa berkembang sampai sejauh ini. Aku kagum padamu, dan tanpa sadar terus memerhatikan dirimu berharap aku bisa menirunya untuk Roselia, tapi ternyata itu tidak bisa, terlalu sulit buatku. Ketika Yukina menantangmu, aku mulai sadar... kalau kami tidak bisa menang melawanmu."
Naruto terdiam ketika iris mata Lisa mulai berkaca-kaca.
"Nee... Kumohon. Tolong mengalah di duel tersebut demi kebaikan semuanya termasuk Sayo. Bila kau memenuhinya, aku.. aku... " Lisa mengambil salah satu tangan Naruto, mengarahkannya ke Oppai kirinya membuat Naruto tersentak. "Aku akan melakukan apapun yang Darling inginkan dan memberikan semuanya untukmu..." Lisa menggigit bibir bawahnya ketika ingin mengucap kalimat selanjutnya.
"...termasuk keperawananku."
Sunyi... tak ada suara apapun setelah gadis surai coklat tersebut mengatakan itu. Tak lama, pelan-pelan tapi pasti Lisa mendekatkan wajahnya. Matanya memandang bibir tipis dari adik Sayo.
Lisa menutup mata saat bibirnya tinggal beberapa centi dari bibir Naruto.
3 cm...
2 cm...
1 cm...
"Minggir!"
Lisa terkaget saat suara Naruto sangat dingin di telinganya. Tanpa sadar tubuhnya merespon untuk menyingkir dari atas tubuh Naruto.
Lisa melihat Naruto bangun dan melangkah menuju ke arah pintu keluar membuatnya sadar.
"Tunggu, Darling!"
Panggilan dari Lisa membuat Naruto berhenti. Namun tubuhnya menegang ketika sepasang iris lime menyala menatap tajam dirinya hingga membuat Lisa takut.
"Mengalah katamu? Jangan bercanda! Apa hanya sebatas itu saja tekadmu sehingga kau melakukan ini, Lisa?" Naruto dalam emosi sehingga ia memanggil langsung nama Lisa tanpa imbuhan. "Kupikir kau seperti Sayo Nee-chan dan Ako. Mereka berkata kalau akan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk melawanku. Tapi kau memilih merayuku agar bisa menang? itu sama saja menodai tekad dari mereka! Kau menyedihkan."
Setelah itu, Naruto langsung pergi keluar begitu saja tanpa melihat Lisa yang jatuh terduduk lemas.
.
Sejak saat itu, Lisa memutuskan untuk latihan kembali setelah memikirkan perkataan Naruto. Tanpa terasa, hari Roselia vs Argonavis telah tiba. Kebetulan, mereka mendapat giliran untuk tampil pertama berdasarkan undian. Saat di panggung, tentu saja menyanyikan lagu andalan mereka yaitu Louder. Penonton bertepuk tangan meriah setelah lagunya selesai.
Dan kali ini giliran Argonavis, tapi sebelum naik ke panggung...
"Rokka, apa kau gugup?"
"Se-sedikit, Naruto-senpai. Aku takut kalau aku mengacaukannya ."
"Tenang saja. Percayalah pada dirimu."
"Ha-haik! Aku mengerti."
Bukannya dia adalah adalah temannya Ako? sejak kapan mereka akrab begitu? Lalu dimana Sasuke-san?
Apa mungkin Sasuke-san di ganti oleh dia?
Pertanyaan langsung memenuhi kepala Lisa, bahkan Roselia yang melihatnya.
"Yosh. Oi kalian! sekarang kita janken. siapa yang kalah, dia yang akan bayar traktir Yakiniku setelah ini. Berani?"
"Heh? kau meremehkanku?"
"Siapa takut!"
"Mendokusei... Tapi aku tidak mau kalah!"
"Baiklah. Satu... Dua..."
""JAN! KEN! PON!""
"Sialan..!!"
"Nampaknya kesialan menimpamu, Kiba."
"Bersiaplah dompetmu di kuras habis."
"Kasian sekali..."
"A-ano..."
"Kau juga boleh ikut setelah ini, Rokka."
"Eh? apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Satte, ayo semuanya."
Lisa memandang Argonavis yang naik ke panggung. Ia sangat iri... kenapa bisa saling terbuka begitu mudahnya.
.
Left side right side
Ha wo mukidashite pappappa
Jamakusai ne
Left side right side
Ha wo tsukidashite pappappa
HAHA, YOU ARE KING
YOU ARE KING
"WAAHHH! ARGONAVIS!"
"SUGOI!"
Penonton berteriak heboh setelah Naruto dkk menyelesaikan lagunya, melebihi apa yang mereka lakukan kepada Roselia. Kedua band telah selesai menampilkan kemampuannya.
Ketika Sasuke yang ternyata sebagai pembawa acara tersebut menyuruh para penonton untuk vote band kesukaan mereka. Dan hasinya...
Argonavis mendapatkan 791 suara, sementara Roselia cuma 209 suara saja.
Dan itu membuat Roselia terdiam membisu. Mereka kalah telak, dan tentu membuat mental gadis-gadis itu terguncang termasuk Lisa walau ia sudah menduganya.
.
"AKU BILANG PERGI! AKU INGIN SENDIRI! IMPIANKU MUSNAH! PERGILAH DARI HADAPANKU, LISA! KAU TIDAK BERGUNA!"
Kata-kata itu... yang paling menyakitkan bagi Lisa dengar, apalagi yang mengatakannya adalah teman masa kecilnya membuat hatinya sangat sakit.
Mungkin Yukina benar. Ia yang ingin membantunya, namun malah menjadi beban untuknya. Karena itu, ia akan menjauh dan memutuskan hubungannya dengan Yukina, demi kebaikan dia.
Lisa tidaklah bodoh untuk mengartikan tatapan orang-orang sekitar yang heran karena apa yang terjadi terhadapnya dan Yukina belakangan ini. Ia sudah memutuskan untuk memulai kegiatan yang baru bersama dengan teman-teman barunya juga.
Namun pada suatu ketika, Lisa terus menghindar dari Yukina, alasannya gadis itu selalu mencarinya bahkan sampai menunggu di depan rumahnya. Maka dari itu, Ia bolos sekolah sampai waktu yang belum di tentukan dan berharap kalau itu akan berakhir.
Ternyata tidak...
Yukina selalu menunggu di depan rumahnya...
Setiap hari...
Dari pagi sampai malam...
Sampai pada suatu hari saat hujan deras, Yukina tetap berdiri, menunggu dirinya keluar tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah sembari memanggil namanya. Lisa hanya diam melihat dari dibalik jendela.
Deg
Lisa sangat terkejut saat Yukina tiba-tiba berlutut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung keluar dan menghampiri gadis surai perak itu.
"Yukina!"
Ia mensejajarkan dirinya dan Yukina dengan berlutut juga.
"Gomen..."
Lisa tersentak. Ia mengigit bibir bawahnya. Ia tahu apa yang di maksudnya.
"Bukankah kau tidak membutuhkanku lagi?" bisiknya parau.
"Kau salah." ujar cepat Yukina. Gadis itu menunduk "Sejak saat itu, aku merasa hancur berkeping-keping. Semua orang pergi, tak mau mendengarkan nyanyian ku lagi. Aku bahkan ingin mengakhiri hidupku."
Lisa terkejut dengan cerita Yukina.
"Tapi Naruto menolongku. Dari itu aku sadar, kalau aku tidak bisa melakukan semuanya sendirian." Yukina memegang kedua tangan Lisa. Ia mendongak sehingga terlihat Yukina menangis. "Kumohon berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku ingin kita memulai lagi Roselia bersama semuanya."
Pertahanan Lisa runtuh, ia menangis juga. "Yukina no baka!" Lisa langsung memeluk Yukina.
"Tentu saja aku mau"
"Lisa..." Yukina membalas pelukannya.
Hari itu, dua sahabat telah berbaikan.
.
Beberapa bulan telah berlalu, Lisa akhirnya mengenal Naruto lebih dalam. Bisa dibilang, Naruto adalah tipe idamannya.
Bakatnya dalam musik...
Sikapnya yang baik...
Bahkan dia bisa memasak sama seperti waktu itu, di saat ia membuat kue cookie bersamanya. Ia ingin menembaknya, membuat pemuda itu menjadi miliknya.
Namun sayang, bukan hanya dirinya yang menyukai Naruto, tapi ada banyak gadis yang memiliki rasa yang sama dengannya, termasuk Yukina.
Ia memutuskan untuk menyerah, demi kebahagiaan Yukina. Tapi...
"Aku tahu kau juga menyukai Naruto, Lisa. Tapi aku ingin kau jujur dengan perasaanmu."
Perkataan itulah yang membuat Lisa tergerak hatinya. Maka, saat Valentine tiba. Ia mengucapkan rasa cintanya kepada Naruto.
"Darling- tidak, Naruto-kun. Aku... Aku sangat mencintaimu! Walaupun aku harus menjadi yang kedua."
Saat itulah, Lisa mencium Naruto yang terkejut di depan teman-temannya di studio CiRCLE.
'Mau jadi yang kedua, ketiga atau berapapun, aku tidak perduli. Bila di hatimu ada sedikit ruang untukku, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku mencintaimu, Naruto-kun.'
