Fanfic sederhana tentang Neon Nostrade yang sedang bosan di tengah hari hujan. Eh, ternyata ia menemukan Kurapika yang sedang berada di dapur dan memasak mie instan. Kurapika saya ceritakan disini agak sedikit lebih ramah daripada yang biasa kita kenal, biar mulus aja ceritanya hehe... *author lari sebelum dihajar massa* anyway, enjoy the story..!
POV : Neon Nostrade
Hujan sudah turun semenjak pagi. Awan kelabu yang gelap menggantung pekat di langit, menucrahkan air tanpa henti, dengan gemuruh petir yang terdengar sesekali. Taman di depan kamar ini terlihat sangat basah, bunga dan pepohonnan lainnya terlihat mencolok ditengah rinai hujan yang tampak memutih. Terlepas dari semua keindahan itu, jujur ku katakan…. Aku bosan sekali!
.
Sudah dua jam aku mengerjakan pekerjaan meramal ini, kurang lebih sudah ada empat puluh berkas dari kolega Papa yang kukerjakan ramalannya untuk bulan ini. Belum lagi tadi aku juga mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, kepalaku rasanya mau meledak! Aku meninggalkan meja belajarku dan melompar ke kasur dengan tangan terentang. Apa lagi yang bisa kulakukan untuk mengusir kebosanan ini ya? Aku mengambil ponsel dan berniat menghubungi Eliza, sahabatku, untuk memintanya datang kesini. Tapi kalau dipikir pikir, mana mau dia datang jauh jauh dengan menembus hujan deras begini? Aku hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Ah, sudahlah.
.
Saat aku sedang sibuk memikirkan ide, aku mendengar suara dari luar kamar. Aku bangkit dari posisi rebahan dan mendengarkan lebih seksama. Suara seperti ada seseorang yang masuk dan membuka lemari perabotan dari arah dapur. Siapa ya? Mama kan masih berada di Paris sampai minggu depan, Papa juga sedang bekerja. Ada baiknya aku mencari tahu. Aku beranjak bangkit dari kasur dan mengenakan sandal rumah, lalu berjalan keluar dari kamar menuju ke arah dapur.
.
Semakin aku mendekati dapur, suara itu semakin jelas terdengar. Sekarang aku bisa mendengar suara seseorang membuka lemari es dan mencari sesuatu di dalamnya. Apakah ada penyusup, atau perampok dengan modus baru? Tidak bisa dibiarkan! Aku melepas satu sandalku untuk senjata dan berjalan mengendap endap memasuki dapur. Saat aku sampai, pintu kulkas sedang terbuka, dengan siluet seseorang sedang berada di depannya. Aku menunggu beberapa saat dengan posisi tangan yang memegang sandal sudah siaga di atas kepalaku. Pintu kulkas pun tertutup dan aku segera berteriak,
"PENYUSUUUPPP….!" Aku hendak memukul orang di hadapanku yang terlihat segera melindungi kepalanya,
"Nona, tunggu! Ini aku, Kurapika!" serunya, eh? Aku seketika berhenti dan melihatnya lebih jelas. Begitu aku mengenali sosok berambut pirang emas di hadapanku adalah Kurapika, aku tidak jadi memukulnya,
"Oh, ya ampun! Ternyata kamu, Kurapika. Kukira tadi ada penyusup.." kataku, sambil memakai sendalku kembali,
"Untuk apa aku menyusup ke tempat kerjaku sendiri?" tanyanya heran. Kurapika ini adalah anak dari maid-ku, Maiko-san. Dia sangat cerdas dan tampan, sampai bisa memperoleh beasiswa penuh untuk bersekolah di sekolahku. Dia sebenarnya baik dan menyenangkan karena kecerdasannya, tetapi kadang dia sering menyebalkan karena terlalu kaku dan taat aturan. Dia juga adalah wakil ketua OSIS di sekolah dan sering ikut olimpiade. Pokoknya dia hebat deh! Beda dengan aku, yang bisa dapat nilai standar saja sudah bagus.
Kurapika lalu berdiri dan beranjak ke meja dapur. Aku menoleh mengikutinya, di meja dapur sudah ada sebungkus mie instan, beberapa sayuran, telur, serta panci yang siap digunakan di atas kompor.
"Kamu mau memasak mie instan?" tanyaku,
"Iya. Hari sedang hujan. Aku sedang iseng ingin memakan sesuatu yang hangat dan berkuah. Jadi kuputuskan untutk membuat mie instan.." jawabnya, ia lalu menoleh ke arahku. Jantungku berdebar tanpa diminta saat ditatap oleh mata biru nya yang indah dan tajam itu,
"Apakah Nona sudah makan?" tanyanya,
"Belum sih.." jawabku,
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan membuatkan mie untuk Nona juga.." katanya seraya mengambil satu bungkus mie instan lagi dari lemari,
"Nona mau mie instan rasa apa?" tanyanya,
"Yang sama denganmu saja.." jawabku,
"Baiklah." Ia lalu mengambil sebungkus mie instan rasa kari ayam. Ia lalu kembali ke meja dapur untuk mulai memasak. Oh! Aku dapat ide! Aku bisa membantunya memasak!
Aku menyingkap lengan baju seragamku, mencucu tangan lalu menghampirinya di meja dapur. Ia malah melihatku dengan bingung lalu bilang,
"Nona mau apa?" tanyanya,
"Membantumu memasak." Jawabku,
"Tidak perlu. Nona duduk saja." Balasnya,
"Kurapika, aku bosan! Aku sedang ingin melakukan sesuatu! Ijinkan aku membantumu.." ujarku setengah merajuk. Ia tidak bergeming,
"Tidak. Silahkan Nona duduk di meja dan menunggu dengan tenang." Katanya. Ugh! Kurapika menyebalkan sekali! Padahal jarang jarang aku mau membantu di dapur. Iya sih, aku tidak bisa masak dan kemampuanku dalam memasak itu mengerikan, tapi setidaknya kalau aku membantu, aku bisa belajar sesuatu.
"Percaya lah, Nona akan lebih meembantu dari meja makan disana.." katanya,
"Kamu mengejekku karena aku payah dalam memasak, begitu?" tanyaku,
"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau Nona memaksakan diri memebantuku dan melukai diri sendiri.." jawabnya. Aku masih memberengut dengan wajah cemberut, sementara dia mulai beranjak ke kompor dan menyalakan apinya. Aku yang sudah putus asa, akhirnya menyerah. Aku duduk di meja makan kecil yang biasa digunakan para maid dan pelayan untuk makan.
"Jika Nona ingin membantu, Nona bisa melakukan sesuatu." Katanya,
"Apa?" tanyaku dengan tidak berminat,
"Nona bisa menemaniku diskusi, tentang apapun." Katanya, seraya membuka bungkus mie instan dan memasukkan mie nya ke dalam panci. Ih, Kurapika benar-benar tidak peka. Aku kan sedang bosan dan ingin dihibur, kenapa dia malah menyuruhku untuk berpikir?
"Kamu mau diskusi tentang apa?" tanyaku,
"Hm… apa ya? Nona, aku sering mendengar siswi di kelasku membicarakan soal fashion week di Museum Budaya yang baru. Memangnya apa yang terjadi disana?" tanyanya,
"Oh, itu. Acaranya kacau, karena ada salah satu model yang dilempari. Katanya saat berada id catwalk, dia menunjukkan gesture yang tidak sopan dan membuat Walikota marah, lalu pergi dari acara itu. Makanya acara itu tidak ada beritanya di media, karena memang ditinggalkan begitu saja oleh walikota. Model nya itu siswi SMA Mockingjay, temannya Menchi-senpai…" jawabku,
"Menchi, kabid inventaris OSIS sebelumnya?" tanyanya, sambil memeriksa kematangan mie yang dimasak di panci,
"Iya, dia. Makanya Menchi-senpai jadi banyak dibicarakan teman teman di sekolah karena ulah temannya itu. Bukannya dia sekelas denganmu?" ujarku,
"Tidak. Aku kan kelas 2, dia sudah kelas 3..", balasnya, aku hanya mengangguk. Kurapika lalu bertanya hal lain lagi,
"Menurut Nona, apa hadiah menarik yang bisa jadi ide untuk giveaway Pensi nanti?", tanyanya,
"Banyak. Bisa saja kalian memberikan hadiah barang seperti tumblr, jam tangan, atau tas, atau yang tidak berwujud seperti saldo atau SweetPay. Voucher diskon atau tiket event juga bisa. Memangnya, berapa budget yang disediakan OSIS untuk hadiah giveaway?" tanyaku,
"Tidak besar. Hanya 200 ribu Zenny." Jawabnya, seraya memasukkan bumbu mie instan ke mangkuk dan mulai mengecilkan api di kompor. Aku jadi ikut berpikir mendengar jumlah nominal budget itu. Lumayan kecil juga, tapi kalau hadiahnya lebih ke voucher atau yang tidak berwujud, sepertinya masih bisa. Tapi apa ya?
TING! Ponselku berdenting, satu notifikasi dari SweetFood masuk dan menampilkan pesan promo. Aku membuka pesan itu dan membacanya. Oh, lumayan juga. Sepertinya bisa dijadikan hadia giveaway,
"Mungkin kamu bisa coba dengan voucher makanan. Ada beberapa gerai di SweetFood yang sedang promo sampai awal bulan depan, mungkin kamu bisa minta kerja sama dengan mereka untuk bisa memberikan voucher diskon makanan." Kataku,
"Anak anak sekarang sedang rajin mencari prormo dan discount jajanan. Gieveaway atau lomba kalian untuk Pensi mungkin akan menarik lebih banyak peminat jika hadiahnya voucher diskon.." tambahku,
"Begitu kah? Aku tidak terlalu paham tentang promo dan discount seperti itu, tetapi ide itu sepertinya bisa dicoba. Mungkin aku akan coba membahas hal itu dalam rapat besok." Ujarnya,
"Ah, kamu tenang saja! Begitu mereka mendengarnya, aku yakin mereka setuju. Kapan lagi bisa jajan enak dan murah?" balasku. Ia hanya tertawa kecil mendengar nada bicaraku dan mengangguk paham. Ia lalu mematikan kompor dan meniriskan mie untuk kemudian diletakkan dalam mangkuk. Ia membawa kedua mangkuk mie itu ke dispenser dan disiram air panas yang baru untuk kuahnya. Setelah mie itu siap, ia mengambil nampan dan membawakannya ke mejaku.
Kurapika menaruh semangkuk mie instan yang masih hangat itu di hadapanku. Ah, hidangan yang terlihat sangat menggiurkan, dengan telur dan beberapa potong sayuran. Belum lagi aroma nya yang khas, membuatku tak sabar ingin segera memakannya. Setelah ia meletakkan panci dan beberapa perabot lainnya, Kurapika mengambil dua pasang sumpit dan dua sendok, lalu bergabung denganku di meja makan. Ia menyerahkan satu pasang sumpit dan satu sendok untukku,
"Terimakasih. Mari makan!" ujarku, yang langsung melahap mie intan buatan Kurapika. Ia juga langsung makan. Hm.. mie instan yang hangat memang sangat cocok disantap di hari hujan.
Setelah kenyang menyantap mie instan buatan Kurapika, aku menunggunya selesai mencuci semua perabotan dan alat makan yang kami gunakan. AKu mau mengajaknya main catur bersamaku di Perpustakaan,
"Kurapika, ayo main catur di perpustakaan!" ajakku saat ia sudah selesai,
"Maaf, Nona. Aku harus pergi untuk mengajar les matematika hari ini. Mungkin lain kali ya.." katanya menolak,
"Yaahh…" dedahku kecewa,
"Tapi nanti kalau kamu libur, kita masak mie instan sambil mengobrol lagi ya.." kataku,
"Nanti saya akan cari makanan lain yang mudah dibuat. Mie instan tidak boleh dimakan terlalu sering.." balasnya,
"Janji ya, Kurapika? Kamu akan memasak sambil ngobrol denganku lagi." Kataku,
"Iya, Nona. Aku janji.." balasnya,
"Hore..! Aku tunggu lho! Awas saja kalau kamu tidak menepati janji." Kataku, ia mengangguk sambil tersenyum,
"Baiklah, Nona. Sampai jumpa. Ternyata Nona cukup menyenangkan untuk diajak berdiskusi, tidak seperti yang dikira kebanyakan orang.." katanya. Pipiku seketika memana mendengar pujian itu. Jarang lho Kurapika memuji orang, dan aku beruntung bisa mendengar itu langsung darinya.
Aku memandanginya yang berjalan keluar dari pintu dapur menuju ke parkiran belakang. Aku bergerak ke jendela dapur dan melihatnya yang berlalu dengan mengendarai sepeda motor lamanya, tak lupa memakai jas hujan, menembus hujan gerimis. Terimakasih ya, Kurapika. Karena berbincang denganmu, aku jadi tidak merasa bosan lagi. Oh, haruskah aku meminta hujan turun setiap hari, supaya aku bisa terus dekat dengan dia yang selama ini kusukai?
Demikian fanfic sederhana dari saya. Review?
